Home

source: thegamefanatics.com

DIGAMBARKAN memiliki tubuh yang pendek dan berwarna kuning, nyaris gundul, bersuara cempreng, tak jelas jenis kelaminnya, terlihat mirip satu sama lain, berbahasa asing dengan susunan suku kata acak dan hanya bisa dipahami oleh sesamanya saja, terlalu ekspresif, serta kerap bertingkah jail dan konyol, para Minions sukses menjadi ikon baru yang digemari di seluruh dunia sejak kemunculan perdananya tiga tahun silam dalam “Despicable Me”.

Mulai Rabu (3/7) lalu, para Minions yang merupakan kaki tangan mantan penjahat supernyentrik Gru (suara oleh Steve Carell) kembali disambut dalam “Despicable Me 2”. Kehadiran mereka sedemikian dinantikan setelah sejumlah trailer, film singkat, dan media promosi lainnya yang ditampilkan selama satu semester terakhir, sukses mengocok perut penontonnya dan berhasil membangun excitement lintas usia. Bahkan “Despicable Me 2” bisa disebut sebagai panggungnya para Minions lewat alur cerita yang tetap melibatkan tokoh-tokoh lama dari film pertamanya.

Dalam “Despicable Me 2”, Gru berusaha untuk beralih profesi dari pengangguran menjadi calon pengusaha selai dan jelai. Ia juga terus berusaha menunjukkan kemampuannya menjadi ayah tunggal yang baik bagi tiga putri adopsinya; Margo yang mulai puber, Edith yang makin tomboi dan terobsesi menjadi ninja, serta si bungsu Agnes yang tetap imut, lucu, serta menggemaskan. Di sisi lain, masalah pertama yang dihadapinya dalam film ini adalah kelakuan Jillian, sang tetangga resek yang bolak-balik mencoba untuk menjodohkannya dengan beragam wanita yang tak kalah ajaibnya. Hingga suatu hari, Gru diculik dengan cara yang dramatis oleh Lucy Wilde, agen Anti-Villain’s League (AVL) atau Liga Anti-Penjahat.

source: aceshowbiz.com

Sesuai tagline film ini: “When the world needed a hero, they called a villain”, Gru diringkus sebagai mantan penjahat yang ingin direkrut AVL untuk mengatasi sebuah aksi kejahatan super yang terjadi di ujung bumi, namun tawaran ini ditanggapi dingin. Hanya saja, masalah yang dialami Gru tak melulu datang dari luar dirinya saja. Setelah menolak tawaran untuk menjadi agen penyelamat dunia di bawah komando AVL, Gru alami konflik batin tentang eksistensinya. Pertimbangan tersebut yang akhirnya membuat Gru bersedia kembali beraksi, serta bermitra dengan Lucy.

Dalam perkembangan cerita, upaya investigasi yang dilakukan duo Gru-Lucy memperkenalkan penonton dengan sejumlah setting, tokoh, dan rentetan masalah baru. Beberapa highlight­-nya adalah kegusaran Gru sebagai seorang ayah berpandangan konvensional, ketika Margo mulai merasakan cinta monyet dengan Antonio. Maupun ketika Gru jatuh cinta. Lewat transisi yang terlalu gamblang, semua itu mengarahkan Gru-Lucy untuk bertemu dengan inti tugas mereka yang sebenarnya, lengkap dengan sejumlah twist maupun retwist.

Seperti yang dijanjikan oleh sang sutradara, Pierre Coffin dan Chris Renaud, kemunculan para Minions dalam “Despicable Me 2” mampu mencuri panggung utama dan melampaui popularitas para tokoh manusia. Penonton dengan gampangnya dibuat terpingkal-pingkal dengan tingkah laku para “Tuyul Kuning” penggemar es krim tersebut, yang terselip rapi di antara adegan-adegan utama. Termasuk ketika mereka dikombinasikan dengan plesetan lagu-lagu pop dari era tahun 70 dan 90-an, sebagai combo kelucuan yang bisa dinikmati oleh generasi muda dan pendahulunya di ruang bioskop. Sementara itu, dari porsi peran, para Minions memiliki posisi yang sama pentingnya dengan Gru maupun Lucy (dalam segmen investigasi), meskipun hanya sebagai objek cerita.

Sementara itu, meskipun pergeseran fokus ceritanya terasa agak kasar, namun hal itu tak terlalu mengganggu. Simply because it’s fun to watch. Apalagi ketika penonton disuguhkan dengan scoring yang pas besutan Pharrell Williams, membuat “Despicable Me 2” terdengar tak terlalu kekanak-kanakan sekaligus sok dewasa.

Terakhir, rekayasa visual dalam “Despicable Me 2” disuguhkan dengan sangat baik oleh Illumination Entertainment, bagian dari Universal Pictures. Jadi, sangat direkomendasikan untuk menonton kelakuan para Minions ini dalam format 3D yang tersaji sampai credit-titles-nya.

[]

About these ads

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s