Kenapa Kita Selalu Keliru Membaca Ejaan Tionghoa?

PERTANYAAN: Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat membaca tulisan “Sichuan” atau “Shandong”? Bagaimana kamu melafalkannya? Pernahkah penasaran, kalau tertulis “Sichuan” dan “Shandong” kenapa kok sering terdengar seperti “se-cuan” dan “shan-tung”?


Kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang versi terbarunya memuat 127 ribuan entri berupa kata dan frasa dan dirilis pertengahan tahun lalu.

Dalam bahasa Tionghoa, kamus umum terbesarnya adalah 中華字海 (Zhonghua Zihai) yang secara harfiah berarti “Lautan Aksara Tionghoa”. Dinamakan demikian karena Zhonghua Zihai memuat 85 ribuan entri berupa aksara saja.

Berbeda dengan bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa lain yang menggunakan alfabet (kata adalah susunan huruf), setiap aksara bahasa Tionghoa mewakili satu kata dan memiliki bentuknya masing-masing. Komposisi goresannya tidak ada yang sama persis, dan dilafalkan sebagai satu suku kata tunggal. Mau tidak mau, harus hafal bentuk, bunyi, serta maknanya.

Coba tolong dibaca… 😂😂😂

Dengan ini, tentu akan sulit bagi seseorang penutur bahasa lain untuk membunyikan aksara Tionghoa yang ditemuinya. Sehingga diperlukan semacam sistem transliterasi, yakni ketika lafal sebuah aksara Tionghoa ditulis ulang menggunakan alfabet.

Misalnya begini.

  • Tulisan Tionghoa untuk tata krama/sopan santun adalah . Masing-masing bunyinya adalah “li” dan “mao“. Sebagai pelafal bahasa Indonesia, kita menuliskan bunyi kedua aksara tersebut sebagai “li” dan “mao” pula. Lain halnya dengan orang Amerika Serikat, yang barangkali akan menuliskannya sebagai “lee” dan “maw“.
  • Tulisan Tionghoa untuk bunga anggrek adalah . Masing-masing bunyinya adalah “lan” dan “hua“. Akan tetapi, khusus untuk aksara kedua, masih sering kita temui orang-orang yang menuliskannya sebagai “hwa” maupun “hoa“. Hal ini juga yang terjadi pada tulisan “Tionghoa“, menyebabkan banyak orang awam melafalkannya sebagai “ti-yong-ho-wa” alih-alih “tyong-hua“. Kerasa baunya bedanya, kan?

Upaya untuk menyusun sistem transliterasi aksara Tionghoa dengan alfabet latin sudah dimulai sejak awal 1600-an. Begitu pula di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Kala itu, warga Tionghoa yang mendapatkan pendidikan ala Belanda menggunakan ejaan Van Ophuijsen dalam melakukan alih aksara, terutama dalam menuliskan nama. Maka muncullah “Oen” (文) yang dibaca “un” atau terkadang “wen”; “Lie” (李) yang dibaca “li”, bukan “li-e”; “Tjen” (珍) yang dibaca “cen”; “Jong” (楊) yang dibaca “yong”; “Soe” (蘇) yang dibaca “su”; dan sebagainya.

Setelah jurang linguistik ini mulai teratasi, tantangan selanjutnya adalah standarisasi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk membuat tulisan Tionghoa lebih mudah dibaca (oleh penutur bahasa lain) dan dipelajari, orang Amerika Serikat tentu akan kebingungan membaca ejaan Van Ophuijsen. Begitu pun sebaliknya.

Dari sekitar lima sistem transliterasi modern Hanzi (aksara Tionghoa) ke abjad Romawi yang dihasilkan, dua di antaranya digunakan secara global sampai sekarang. Salah satunya–拼音 (Pinyin)–disahkan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok selaku si empunya bahasa sebagai sistem resmi, sekaligus menjadi standar internasional dialek Mandarin.

Sementara sistem yang satu lagi–Wade-Giles–masih bertahan di Taiwan, dan secara parsial di Singapura dan Malaysia. Untuk yang ini, bisa kita kesampingkan dulu ya… ntar tanyain aja lagi.


Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas. Kenapa “Sichuan” dibaca “se-cuan”, dan “Shandong” dibaca “shan-tung”? Kok bisa berubah? Ya beginilah sistem Pinyin, ketika abjad Romawi tidak bisa kita bunyikan seperti dalam mengeja bahasa Indonesia.

Tertulis Dibaca
bi pi
pi phi
di ti
ti thi
ge ke
ke khe
ji ci
qi chi
xi si
zhi che(h)
chi che
shi she(h)
zi ce(h)
ci ce
si se
yan yen

Tabel di atas adalah daftar sederhana untuk ejaan Pinyin yang sering bikin salah baca, serta bisa disesuaikan dengan huruf vokal yang mengikutinya. Kalau ada yang keliru atau kurang, mohon ditambahkan atau dikoreksi ya.

Contohnya seperti ini.

Beijing (北京) → pei-cing
Guangzhou (廣州) → kuang-chou
Yajiada (雅加達) → ya-cia-ta → Jakarta
Sishui (泗水) → se-shui → Surabaya
Sanmalinda (三馬林達) → san-ma-lin-ta → Samarinda
Malibaban (麻里巴板) → ma-li-pa-pan → Balikpapan
Shidouazuo (詩都阿佐) → she-tou-a-cuo → Sidoarjo
Xuexiao (學校) → syue-siao → sekolah
Daxue (大學) → ta-syue → universitas
Qiche (汽車) → chi-che → mobil
Gangbi (鋼筆) → kang-pi → pena
Jiankang (健康) → cien-khang → sehat
Hongbao (紅包) → hong-pao → angpau
Yanjing (眼睛) → yen-cing → mata
Yanjing (眼鏡) → yen-cing → kacamata
Anjing (安靜) → an-cing → tenang
Bokong (撥空) → po-khong → menyediakan waktu

…dan jujur saja, sebagai seseorang yang ndak terlalu bisa ngomong Tionghoa, bagian paling susah adalah “zhi, chi, shi, zi, ci, si” yang bikin lidah keblibet dan bonus muncrat 💩💩💩 Belum lagi soal intonasi atau nada bicara tiap kata. Ujung-ujungnya ya pakai bahasa Inggris juga, agak merasa gagal sebagai seorang keturunan Cina. 😛😛😛

[]

Kartini

APAKAH ‘Kartini’ memang film untuk semua umur?” Pertanyaan itu yang muncul sesaat setelah lampu ruangan studio dihidupkan, Rabu petang lalu.

Tentu tidak ada salahnya bila “Kartini” sekadar dinikmati sebagai sebuah hiburan, atau dijadikan tambahan media pembelajaran sejarah bagi anak-anak. Untuk keperluan tersebut, Hanung Bramantyo dan serombongan orang yang terlibat dalam produksi film ini boleh dibilang cukup sukses. Tinggal nanti dibuktikan dengan total angka penonton sepanjang penayangan. Akan tetapi “Kartini” jelas bukan sekadar itu. Banyak refleksi penting yang tersisa dari film ini, memengaruhi sikap dan opini para penontonnya. Terutama mengenai kemanusiaan melampaui gender. Masih ada ruang untuk terus melakukan penajaman, bukan penggiringan.

Mengisahkan tentang sosok Raden Adjeng Kartini dari sudut pandang yang cukup berbeda dari buku-buku pelajaran dan sumber umum lainnya, film ini enggak cuma mengisahkan tentang sesosok pahlawan nasional wanita asal Jepara. “Kartini” adalah sebuah jendela, sumber konsepsi kemanusiaan yang saking dalamnya sampai-sampai tidak kelar didiskusikan maupun diperdebatkan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kembali ke pertanyaan pembuka tulisan ini, beragam pendapat dan pemikiran langsung berkelebatan dalam pikiran saya sekelarnya menonton “Kartini”.

  • Bagaimana seharusnya perempuan memandang diri sendiri dalam posisinya dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Bagaimana sebaiknya perempuan diperlakukan oleh orang lain, laki-laki maupun sesama perempuan, dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Apakah konsep “Keutamaan Perempuan” (female privileges) yang berjalan saat ini sudah tepat, atau malah rentan disalahgunakan?
  • Bagaimana sebaiknya meninjau konsep “kodrat” pada perempuan? Apa prinsip yang ideal untuk menyusun lingkup batasan mengenai kodrat hidup perempuan?
  • Terlepas kepada tuhan, perempuan sama seperti manusia lainnya yang mesti mempertanggungjawabkan kiprah hidupnya kepada masyarakat. Bagaimana sebaiknya perempuan menyikapi kekakuan maupun perubahan yang terjadi di masyarakat?

Setiap poin di atas memiliki persoalan turuannya masing-masing, yang tentu saja akan dimaknai secara berbeda oleh setiap penonton dari berbagai kalangan usia… yang belum tentu dapat dijawab dengan tepat oleh setiap orang.

Silakan dibayangkan. Ada anak-anak perempuan yang bisa bertanya kepada ibunya, mengapa Kartini dan para saudarinya harus melakukan mlaku dhodok dengan baik dan benar hanya untuk menghadap dan berbicara dengan ayahnya sendiri? Bertanya pula tentang pingitan, pengurungan dalam kamar.

Silakan dibayangkan. Ada remaja-remaja perempuan yang bisa  bertanya kepada ibunya, mengapa di film tersebut ada perempuan yang sudah menikah di usia 12 tahun, dan punya anak di usia 14 tahun? Sementara mereka, di usia yang sama, tengah menjalani kehidupan sebagai siswi sekolah menengah. Diasuh sebagai seorang putri, bukan mengasuh bayi-bayi.

Bisa juga muncul pertanyaan “Memangnya anak cewek boleh enggak menikah ya?” Setelah melihat adegan ketika Kartini (Dian Sastrowardoyo), Roekmini (Acha Septriasa), dan Kardinah (Ayushita) bersenda gurau dan menyatakan dengan gamblang: “Aku ndak mau menikah.” Meski kemudian diikuti dengan alasan tambahan: “Kalau bukan laki-laki yang kucintai, dan kalau sudah punya istri.

Mencoba untuk tidak seksis, anak dan remaja laki-laki pun tentu bisa punya pertanyaan-pertanyaannya sendiri atas apa yang mereka saksikan di layar bioskop. Justru dengan momen inilah, para laki-laki belia tersebut bisa diajarkan tentang posisi antara kedua gender; bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak berlebihan (secara positif maupun negatif); menyadari peran antara keduanya dalam struktur sosial; mengapa pernikahan itu begitu penting bagi masyarakat maupun si perempuan itu sendiri, termasuk mengapa ada orang-orang yang memilih untuk tidak menikah dan bagaimana sikap kita menghadapi pilihan pribadi tersebut.

Anda juga bisa memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan tentang menjalani sebuah hubungan pacaran kepada mereka. Termasuk soal bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap aktivitas berciuman, berpelukan, bahkan yang lebih daripada itu 😅  But I’m serious. You can see the dots, can’t you? Dalam film ini, para priayi digambarkan lumrah beristri tiga dan empat, dan masih menjadi impian sebagian laki-laki untuk bisa seperti itu.

Diperlukan kebijaksanaan, kedewasaan, dan pemahaman yang baik untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan tepat, yang orang dewasa sekalipun seringkali masih kebingungan dibuatnya.

Sesungguhnya, ini menunjukkan begitu kuatnya “Kartini” sebagai sebuah karya. Tak sekadar untuk diiyakan atau ditolak, melainkan untuk dibahas dan menghasilkan kesepahaman yang apik bagi kemanusiaan.

Source: wanitaindonesia.co.id

Di sisi lain, kembali sebagai sebuah judul yang diproduksi sedemikian serius dan intens, “Kartini” adalah film yang serius dan menghibur. Serius, karena didasarkan pada sesuatu yang faktual dan memiliki efek signifikan bagi bangsa Indonesia. Menghibur, karena porsi drama, humor, tidak membosankan, dan kekuatan lakon setiap pemainnya benar-benar terkomposisi sempurna. Namun tetap dengan sejumlah hal-hal remeh yang mengganggu di sana sini. Salah satunya adalah, logat nJawani yang kurang pas. Terdengar lucu (that kind of “lucu”) dan aneh. Hahaha!

Dalam “Kartini”, ada banyak pelakon yang saya favoritkan lewat penampilan mereka. Sesuai peringkat, dimulai dari Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Nova Eliza, Djenar Maesa Ayu, dan Deddy Sutomo. Di luar mereka, sosok Si Mbok yang sepertinya adalah seorang natural entertainer dan Pak Atmo.

Dalam “Kartini” juga, salah satu adegan yang cukup membekas adalah pengajian K.H. Sholeh Darat.

Beberapa hari sebelum menonton filmnya, saya sempat membaca catatan tentang interaksi antara Kartini dan Kiai Sholeh (meskipun tetap perlu dipastikan keabsahannya), dan efeknya sangat luar biasa. Ketika adegan tersebut mulai berputar di layar, tanpa sadar saya menyaksikannya dengan berbinar-binar. Tidak menyangka bagian cerita itu juga ditampilkan, dan menjadi salah satu titik kuat dalam film. ~~~ ah, mungkin subjektifnya saya saja.

Selain plot dan kekuatan cerita, ditambah dengan aspek-aspek produksinya, “Kartini” boleh dibilang merupakan salah satu film yang lebih seru diperbincangkan aftertase-nya. Benar-benar menjadi jendela yang dibuka, dan menunjukkan banyak hal menarik baru. Menyisakan pilihan untuk melangkah lebih jauh atau tidak pada masing-masing pribadi penontonnya.

[]

Paganisme Tradisional Tionghoa & Kearifan Lokal Nusantara

SELAIN peristiwa Bani Israil melebur perhiasan emas lalu dijadikan berhala anak lembu betina~~~ setelah dibawa Nabi Musa menyeberangi Laut Merah menghindari kejaran Firaun, tampaknya bangsa Tionghoa sudah default sebagai salah satu pelaku animisme paling fleksibel dalam peradaban dunia sampai saat ini. Paling luwes, dan paling sinkretis dalam perspektif budaya. Di mana pun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Ada kepercayaan tradisional tentang Dewa Bumi sebagai danyang teritorial. Semacam penjaga atau penguasa lokasi setempat. Bukan penunggu, karena derajatnya tidak sama dengan hantu. Tiap kali ngapa-ngapain, harus diberi tahu dan dikasih jatah. Seperti ketika ingin membangun rumah, pindah kediaman, membuka toko atau tempat usaha, sampai penjaga makam, dan sebagainya.

Dewa Bumi ini populer dengan banyak nama. Kerap dianggap berbeda dengan Fu De Zheng Shen (福德正神) atau Hok Tek Ceng Sin dalam dialek Hokkian, Toapekong (大伯公), maupun Tudigong (土地公) yang secara harfiah merujuk pada sesosok kakek. Padahal sama saja.

Salah satu ciri khasnya adalah altar yang tidak menggunakan meja, melainkan menapak tanah. Sangat mudah dikenali di rumah, toko, atau restoran milik warga Tionghoa.

Salah satu altar Dewa Bumi di sekitar kawasan Petak Sembilan, tepat di pinggir jalan samping sebuah gang.

Dibawa “merantau” ke Indonesia, figur Dewa Bumi pun akhirnya digeser. Tidak berganti, melainkan disejajarkan. Sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari yang awalnya digelari Dewa Bumi Lima Arah Lima Jalan (五方五路土地公), akhirnya mulai bisa dipanggil “Datuk”. Sajennya pun lebih me-Nusantara berupa kopi hitam, dan rokok kretek. Di Cina sana mana pake yang begituan.

Nah, lagi-lagi karena kearifan lokal, segelas kopi hitam, rokok kretek, dan/atau segelas air kembang selalu dipersiapkan setiap Kamis malam. Kenapa malam Jumat? Kemungkinan besar sejalan dengan kepercayaan khas di Indonesia yang sudah lebih dulu ada. Bagi keluarga yang memiliki altar Dewa Bumi, sesajen tersebut akan ditempatkan dalam nampan dan diletakkan di depannya. Apabila tidak punya, nampan cukup diletakkan di tengah atau salah satu sudut ruang tamu.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi, air kembang tadi kemudian disiramkan di depan rumah. Entah apa maksudnya, ataukah hanya kebiasaan yang telah turun temurun saja. Di sisi lain, masih di Samarinda, kadang ditemukan kembang serupa sengaja dihamburkan di persimpangan jalan, terutama daerah padat kendaraan dan rawan kecelakaan.

Seperti ini. Barangkali bisa disebut bentuk paganisme dengan kearifan lokal. Setidaknya yang terjadi, dan terus dilakukan dalam lingkungan keluarga saya maupun orang-orang Tionghoa di Samarinda.

Dari salah satu contoh ini, sinkretisme religius budaya Tionghoa terlihat begitu cair. Ketika ritual yang dibawa dari tanah nenek moyang berubah bentuk, dilokalkan. Kebiasaan menyiapkan air kembang bungkus pada malam-malam tertentu jelas merupakan peniruan, dan akhirnya terus dilakukan warga Tionghoa dengan logika sederhana; “kayaknya bener juga ya…” atau “sudah dilakukan dari dulu-dulu, jangan sembarangan nanti kualat!”

Punya penjelasan tentang kebiasaan malam Jumat seperti ini, boleh dibagi di kolom komentar ya. I would love to know it!

Apakah sinkretisme ini hanya terjadi di Indonesia? Kayaknya tidak. Ada satu Mandir atau kuil Hindu India di Singapura yang bahkan menyediakan hiolo atau tempat menancapkan hio di depan pintu utamanya. Seperti yang sempat saya lihat pada 2008 lalu. Warga Tionghoa setempat pun bisa melakukan penghormatan dengan gaya yang sama seperti di kelenteng. Yakni dengan cara “Cung-Cung-Cep” atau “Acung-Acung-Tancep”.

Dewanya dewa Hindu, ritualnya gaya Cina. Beda rupa, tapi mungkin maksudnya sama.

Begitulah budaya religius Tionghoa, selalu bisa merasuk dengan kearifan lokal di mana berada.

[]

“Dari Hong Kong!”

ENTAH apa korelasinya, yang pasti celetukan ini sudah sangat akrab dilontarkan orang Indonesia dalam obrolan santai saat ingin menampik sesuatu dengan nada jenaka. Salah satu contohnya, lumayan ampuh ketika menolak permintaan (baca: dipalak) teman untuk makan-makan.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI HONG KONG!

Muncul pertanyaan. Kenapa mesti pakai Hong Kong? Apakah kebetulan si penemu ungkapan ini punya kesan khusus dengan kota tersebut, atau gara-gara namanya yang unik dan mudah diucapkan? Lagipula agak enggak enak juga ya, misalnya diganti dengan nama kota dari kawasan Skandinavia atau sekitarnya.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI LLANFAIRPWLLGWYNGYLLGOGERYCHWYRNDROBWLLLLANTYSILIOGOGOGOCH!

Tapi bukan cuma namanya doang sih yang gampang nempel di kepala, Hong Kong sendiri kayaknya memang seberkesan itu. Karena secara pribadi, setidaknya ada tiga hal tentang Hong Kong yang lekat dalam pikiran dan pengin dialami sendiri. Kapan-kapan, kalau ada kesempatan.

  1. Dialek

Pertama kali “berkenalan” dengan Hong Kong justru lewat musik pop dan film saat masih kecil, lalu pelan-pelan menyadari ternyata bahasa yang digunakan terdengar berbeda dengan Mandarin. Ada ciri khas yang mudah dikenali. Kurang lebih seperti logat Ngapak, atau gaya Suroboyan gitulah.

Selain itu, karena sangat menggemari film-film Stephen Chow yang konyol dan absurd, akhirnya membuat dialek Guangdong identik dengan humor. Gampang bikin mau ketawa, walaupun enggak paham artinya. 😅

Kalau begini, sudah kebayang bakal happy banget bisa mendengar dan merasakan dialek Guangdong secara langsung. Dari warung kopi lokal tempat sarapan pagi, di mal-mal setempat, di kelenteng-kelenteng, bahkan cukup dengan berjalan kaki di kawasan Tsim Sha Tsui Promenade yang terkenal itu. Suasana seperti ini tentu enggak bisa didapatkan di Indonesia, sebab mayoritas warga Tionghoa di beberapa kota Sumatera dan Kalimantan berasal dari sub suku berbeda; Hokkien, Khe/Hakka, dan Tiochiu. Bahasa serta logatnya tentu tidak sama.

Tsim Sha Tsui Promenade. Source: ShutterStock
Tsim Sha Tsui Promenade. Source: Shutter Stock
  1. Masakan

Enggak cuma bahasa, cara lain untuk discover Hong Kong like a local tentu lewat masakan-masakannya. Apalagi gaya sajiannya juga tidak terlalu asing untuk lidah kita: ada aneka tumisan, gorengan dengan minyak sewajan (deep fried), kukusan, olahan mi dan nasi, serta Charsiew/chashao alias babi panggangnya.

Dari beberapa pilihan di atas, pengin banget cobain Mi Sapi dari Kedai Kau Kee; Mi Babi Sun Kee yang terkenal karena pakai keju; dan Siu Mei Fan alias nasi campur babi panggang yang populer di Hong Kong. Meskipun, ada makanan apa aja ya sudah pasti mangap. Namanya juga doyan makan. 😂

Dari cerita teman yang ke Hong Kong akhir tahun lalu, Kedai Kau Kee memang terkenal sebagai salah satu destinasi kuliner di sana. Saking ramenya, barisan antrean panjang mengular di depan pintu. Setelah masuk pun, pengunjung benar-benar harus tangkas menentukan pilihan menu yang ingin disantap. Termasuk hanya menerima pembayaran dengan pecahan tidak terlalu besar, katanya.

Tentu saja yang mesti dicoba adalah Mi Sapi andalannya. Dari cerita teman saat itu, potongan daging sapi yang disajikan memang khusus dari bagian berlemak, yang biasanya dari area perut dan lebih cocok dipanggang atau dibuat steak. Tetapi yang ini enggak bikin enek, katanya. Mungkin memang pakai resep dan bumbu rahasia.

Mi Sapi Kau Kee. Source: TripAdvisor
Mi Sapi Kau Kee. Source: Trip Advisor

Lain lagi dengan Mi Babi pakai keju Sun Kee. Sudah bisa ketebak ya, yang namanya mi babi cenderung lezat. Setidaknya dari pengalaman selama ini. Bakal makin gurih kalau ditambahkan keju, tapi tetap dengan cita rasa Asia. Makanya penasaran banget dengan menu satu ini. Googling-googling, lokasinya pun masih di seputaran Tsim Sha Tsui.

Sedangkan Siu Mei Fan juga merupakan menu yang paling sederhana. Practically hanya terdiri dari tiga komponen utama: nasi putih, babi panggang, dan sawi. Ada variasi berupa tambahan bahan-bahan lain, tergantung makannya di mana. Saking umumnya menu ini, kita bisa melihatnya di film-film Hong Kong, khususnya ketika adegan polisi atau siapa pun membeli makanan berkotak styrofoam dan disantap dengan sendok plastik.

Oh ya, pernah nonton film “食神” atau Dewa Masakan yang dibintangi Stephen Chow? Di situ, Stephen Chow memenangkan kompetisi masak dengan menu semodel Siu Mei Fan ini. Isinya ya tetap nasi putih, babi panggang dan bumbu kecapnya, beberapa potong batang sawi, dan ada tambahannya telur mata sapi dengan bagian kuning setengah matang. Dalam film itu, Siu Mei Fan ini dinamakan “黯然銷魂飯” yang kurang lebih bisa diartikan sebagai “Nasi Duka Nestapa”! Di Hong Kong, menu ini umum dijual lho. Makanya mau coba banget!

Kurang lebih begini tampilan
Kurang lebih begini tampilan “Nasi Duka Nestapa”, lucu dan menggoda, kan? Coba bandingkan dengan versi di filmnya. Source: Hexacoto
  1. Apresiasi Budaya Modern

Berbeda dengan dua poin sebelumnya, yang ini bikin pengin “mengalami” Hong Kong dari sudut pandang lainnya. Dari beberapa tempat, ada Hong Kong Museum of Art yang harus didatangi, dan pasti bakalan betah berlama-lama di sana. Pasalnya, tercatat ada sekitar 15 ribuan karya yang ditampilkan di sana.

Sebagai salah satu wajah Asia di mata dunia, pengin lihat bagaimana aksen budaya dan tradisi lokal dipadukan dengan sentuhan seni modern. Selalu menarik melihat kolaborasi, atau fusion antara dua kutub budaya yang berbeda tapi menghasilkan keindahan. Komponennya pun banyak, dominasi warna dan rupa, bentuk khas, sampai aroma.

Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk

Besar kemungkinan, di sana akan menampilkan karya seni modern dan tradisional konservatif secara merata. Bakalan puas-puasin di Hong Kong Museum of Art. Padahal, apabila boleh dibilang, seluruh Hong Kong sendiri pun merupakan bentuk seni. Ada arsitektur, ada kuliner, ada musik, sampai seni sosial dari para warganya.

Kemudian, sepulangnya dari sana, bisa benar-benar bilang… “DARI HONG KONG!” 😀

[]

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK

5 Kekeliruan Jurnalisme tentang Tahun Baru Imlek & Capgomeh

ADA satu pepatah Tionghoa yang cocok dengan kondisi ini; “三人成虎.” Ketika sebuah ketidaktahuan atau kekeliruan akhirnya dianggap sebagai kebenaran, setelah terus menerus disampaikan dari/oleh/kepada banyak orang. Termasuk mengenai Tahun Baru Imlek dan Capgomeh, sampai sekarang.

Dalam konteks ini, jurnalisme populer di Indonesia punya andil cukup signifikan menyebarkan informasi yang kerap keliru. Diawali dengan minimnya pengetahuan dasar para pewarta, seringkali diwarnai asumsi dan generalisasi, lalu pemilihan narasumber “yang penting orang Cina” atau mengandalkan ketokohannya semata demi menghasilkan materi tematik rutin tahunan. Sederhananya, sang wartawan tidak sadar bahwa informasi yang disampaikan narasumber belum tentu tepat. Setelah jadi artikel atau tayangan liputan, kekeliruan itu pun menyebar menjadi wawasan baru bagi masyarakat luas. Termasuk warga Tionghoa sendiri. 😅

Berikut lima pemicu kekeliruan yang selalu ditampilkan di media massa.

  1. Liputan ke Vihara

2824_28
Source: Epaper Kaltim Post edisi 28 Januari 2017.

Para wartawan akan mendatangi vihara untuk meliput persiapan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek. Mengenai ini, ada beberapa hal yang seyogianya dipahami:

  • Vihara adalah tempat ibadah agama Buddha.
  • Agama Buddha berasal dari India, dan akhirnya terbagi dalam beberapa mazhab. Salah satu mazhabnya–Mahayana–berkembang dan menjadi identik dengan Tiongkok. Sampai banyak yang mengira bahwa Buddhisme berasal dari sana.
  • Hanya beberapa sub mazhab Mahayana yang melakukan akulturasi dengan budaya Tionghoa.
  • Tidak semua vihara di Indonesia bermazhab Mahayana, maupun pecahannya.
  • Tidak semua vihara di Indonesia ikut merayakan Tahun Baru Imlek sebagai bagian dari aktivitas spiritualnya. Jadi, jangan heran apabila melihat vihara yang adem ayem tanpa persiapan apa-apa.
  • Vihara berbeda dengan kelenteng, meskipun ada banyak kelenteng yang memiliki sebutan berawalan “vihara” (ulasannya bakal ditulis terpisah deh… kalau ingat). Kelenteng lebih kepada panteon, tempat pemujaan dan persembahyangan kepada dewata Tionghoa. Karena akulturasi dan karakteristik budaya, banyak warga Tionghoa yang memperlakukan vihara Mahayana seperti panteon. Toapekong (大伯公) itu bukan kelenteng, melainkan sebutan untuk Dewa Bumi.
  1. Hari Raya Agama Khonghucu

Ada batas yang rancu antara “budaya tradisional” dan “kepercayaan tradisional” Tionghoa. Dalam hal ini, Tahun Baru Imlek bisa disebut sebagai hari raya budaya sekaligus hari raya keagamaan, tergantung sudut pandang yang digunakan.

  • Pada dasarnya, Tahun Baru Imlek adalah momen permulaan penanggalan agraria. Itu sebabnya Imlek (陰曆) juga kerap disebut sebagai Nongli (農曆), atau penanggalan pertanian dengan tahun baru sebagai penanda dimulainya musim semi. Siklus tanam yang baru. Karena itu juga, Tahun Baru Imlek juga dinamakan dengan (春節) atau Festival Musim Semi.
  • Sebagai hari raya budaya, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan oleh semua warga Tionghoa tanpa dibatasi agama yang dianutnya. Dalam hal ini, merayakan berarti ikut bergembira ria, berkumpul bersama keluarga, saling berkunjung, dan mengadakan jamuan di rumah. Di luar beragam persembahyangan.
  • Sejak awal, ragam ritual yang melekat pada perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari kepercayaan tradisional Tionghoa, dan perkembangannya (animisme purba, munculnya ajaran Tao, munculnya ajaran Khonghucu awal, masuknya ajaran Buddha Mahayana, terjadinya akulturasi agama).
  • Tetap saja, Tahun Baru Imlek bukan termasuk salah satu dari hari raya agama Buddha (Vesak, Asadha, Kathina, Magha Puja). Di Wikipedia juga sudah ada artikel kronologinya, kok. Sehingga para wartawan semestinya tidak susah mencari referensi.
  • Setelah menjadi agama resmi keenam, majelis agama Khonghucu pun kembali mengangkat Tahun Baru Imlek sebagai hari raya keagamaan utama. Sebagai salah satu pembedanya adalah penggunaan istilah Kongzili (孔子曆) yang berarti “Penanggalan Kongzi/Khonghucu” dimulai dari tahun lahir Nabi Kongzi.
  • Selain itu, Tahun Baru Imlek juga dianggap sebagai hari lahir Buddha Maitreya (彌勒佛) atau yang lebih dikenal sebagai Buddha Tertawa. Meskipun disebut Buddha, namun figur ini berbeda dengan Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai pembawa Buddhisme dari India. Buddha Maitreya pun hanya menjadi figur sentral bagi aliran Maitreyanisme dan Ikuandaoisme, sebagai pecahan dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok. Sehingga bagi para umat kedua aliran tersebut, Tahun Baru Imlek juga mereka maknai sebagai momen religius.
  1. Liputan ke Kelenteng atau Vihara di Hari Pertama Tahun Baru Imlek

Bisa jadi lantaran asumsi bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya “agama Tionghoa”, banyak wartawan yang berburu bahan berita ke vihara atau kelenteng di hari pertama perayaan. Pagi-pagi sekali. Dianggap sama seperti Salat Id pada 1 Syawal bakda subuh; misa malam Natal pada 24 Desember malam; misa Natal pada 25 Desember pagi; peringatan Detik-detik Vesak; Melasti sebelum Nyepi, dan sebagainya. Padahal, tidak ada persembahyangan atau ritual khusus Tahun Baru Imlek secara bersama-sama.

  • Tahun Baru Imlek merupakan hari raya keagamaan resmi bagi umat Khonghucu. Tempat ibadahnya bernama Li Tang (禮堂) yang berarti aula kebaktian. Persembahyangan yang formal pasti hanya dilakukan di sana. Ada pun upacara peringatan hari lahir Buddha Maitreya oleh umat aliran tersebut dilakukan di lokasi dan waktu yang terpisah.
  • Sedangkan sembahyang di kelenteng-kelenteng dilakukan oleh warga Tionghoa secara sporadis, bukan berjemaah, dan sebenarnya sama saja seperti kegiatan setiap hari. Akan tetapi jumlah pengunjungnya saja yang lebih banyak. Sebab persembahyangan utama yang mesti dilakukan pada Tahun Baru Imlek adalah kepada leluhur, dan cukup dilakukan pada altar di rumah masing-masing.
  • Di sisi lain, tidak sedikit juga warga Tionghoa yang sengaja bersembahyang di kelenteng pada Tahun Baru Imlek. Kegiatan ini tidak terorganisasi secara khusus, sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri, serta tidak ada ritual khusus. Tak ada bedanya dengan urutan persembahyangan di hari-hari lainnya.
  • Kegiatan utama pada hari pertama Tahun Baru Imlek tentu saja saling berkunjung dalam lingkar keluarga sendiri. Di hari kedua barulah mengunjungi teman dan lingkar pergaulan sosial lain secara luas.
  1. Memilih Narasumber Tokoh Agama Selain Khonghucu

Saat ingin melakukan wawancara, silakan sesuaikan narasumber dengan tajuk yang akan dikemukakan.

  • Saat bertanya kepada pemuka agama Khonghucu, dia pasti akan menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya agama, bukan perayaan budaya.
  • Saat bertanya kepada tokoh aliran Maitreya, dia pasti akan memberikan semacam pesan-pesan moral dan penyegaran rohani agar menjalani tahun baru dengan keinsafan, penuh welas asih kepada semua makhluk, dan diisi dengan perbuatan bajik.
  • Saat bertanya kepada pengurus kelenteng, dia pasti akan menjawab sebisanya. Menjelaskan tentang mitos, legenda, dan makna di balik semua simbol khas dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Saat bertanya kepada tokoh Tionghoa yang bukan penganut Khonghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, maupun Buddhisme Mahayana, dia pasti akan menunjukkan bahwa Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul bersama keluarga tanpa batasan agama.
  • Saat bertanya kepada ahli Fengshui dan Shio, dia pasti akan menjabarkan tentang peruntungan masing-masing lambang astrologi Tionghoa.
  • Saat bertanya kepada kaum muda Tionghoa, ehm… jawabannya ya gitu
  • Saat bertanya kepada generasi kekinian Tionghoa, bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan mengaku tidak lagi merayakan Tahun Baru Imlek. Ini salah satunya. Hahaha!
  1. Capgomeh = Ajang Cari Jodoh

natgeo
Source: Nationalgeographic.co.id. Pewarta National Geographic Indonesia pun “terikut” para narasumbernya dengan menyebut Capgomeh sebagai Malam Mencari Jodoh. Hahaha!

Di berbagai kota Indonesia, Capgomeh seringkali terkesan lebih meriah ketimbang Tahun Baru Imlek. Disebut juga sebagai penutup perayaan. Capgomeh tahun ini berlangsung Sabtu malam nanti.

  • Pada awalnya, belum ada ketentuan yang menentukan bahwa Tahun Baru Imlek dirayakan sepanjang 15 hari.
  • Nama asli Capgomeh adalah Festival Yuanxiao (元宵節), bermula dari salah satu kisah legenda tentang seorang dayang istana bernama Yuanxiao. Capgomeh (十五暝) sendiri kurang lebih diartikan sebagai malam ke-15. Kebetulan saat purnama pertama di tahun baru.
  • Terkait dengan legenda tersebut, Capgomeh juga disebut dengan Festival Lampion. Semua orang turun ke jalan, membuat keramaian, pesta kembang api dan petasan. Meriah! Itu sebabnya Capgomeh akhirnya juga dianggap sebagai bagian terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan di malam hari.
  • Secara khusus, tidak ada persembahyangan atau ritual tertentu dalam melewati malam Capgomeh. Pengurus kelenteng atau Li Tang bisa menyelenggarakan ibadah bersama maupun tidak. Pun bukan dikategorikan sebagai hari raya, melainkan lebih kepada aktivitas sosial kemasyarakatan.
  • Karena keramaian, dan semua orang turun ke jalan, peluang seseorang untuk berinteraksi sosial dengan orang lain makin besar. Tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang ditaksir.
  • Di Indonesia sendiri, banyak kota yang hanya memiliki satu kelenteng. Perayaan Capgomeh pada masa Orde Baru hanya dipusatkan di sana, sehingga meningkatkan kemungkinan para warga Tionghoa kota tersebut untuk saling berkumpul di lokasi yang sama. Selanjutnya, just do the math 🙂

Kurang lebih demikian, lima itu dulu ya. Mudah-mudahan bermanfaat, serta makin banyak konten berita Tahun Baru Imlek dan hal-hal terkaitnya yang lebih tepat di tahun depan.

Oh ya, Selamat Capgomeh!

[]

Tabu dalam Budaya Tionghoa: Sebuah Perspektif

  • JANGAN potong kuku malam-malam, bisa mengundang hantu datang.
  • Jangan menikah dengan seseorang yang selisih usianya tiga atau enam tahun, bisa berujung pada kesialan. Sebaliknya, menikahlah dengan yang selisih usianya dua atau empat tahun agar lebih beruntung dan bahagia.
  • Angka-angka yang dianggap bagus adalah 3, 6, 7, 8, 9, juga kombinasi 18 dan 168. Sedangkan angka yang melambangkan keburukan adalah 4.
  • Jangan melewati garis pintu utama saat menyapu tempat usaha. Sampah atau debu yang disapu dalam ruangan, disekop di dalam. Sedangkan saat Tahun Baru Imlek, tidak boleh menyapu sama sekali.
  • Saat makan buah pir jangan dibagi ke orang lain.
  • Jangan memberi hadiah jam dinding atau jam besar, terutama saat peresmian atau pembukaan tempat usaha.
  • Jangan menangis di Tahun Baru Imlek.
  • Jangan bersiul atau bertetabuhan di malam hari.
  • Jangan membaca buku apabila sedang menjaga toko atau tempat usaha.
  • Jangan makan tidak bersih, atau menyisakan butiran nasi di piring, karena akan membuat si pelaku bakal bersuamikan pria dengan wajah berbopeng-bopeng.
  • Jangan melayat dengan mengenakan busana merah.
  • Jangan datang ke acara-acara bahagia (pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya) dengan busana warna putih atau hitam.
  • Jangan bicara sembarangan, dan ketuk buku jari tiga kali pada meja kayu agar ucapan itu tidak jadi kenyataan. Bisa juga diiringi ucapan “1… 2… 3…” diulang dua-tiga kali dalam bahasa Tionghoa.

Selain hal-hal di atas, masih ada banyak tabu atau pemali lain yang dipercayai warga Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Beberapa di antaranya bahkan cukup populer, sampai-sampai pelaksanaannya diikuti lebih banyak orang. Poin terakhir misalnya, ucapan “yi… er… san…” diganti dengan “choy…” entah apa lah artinya. 😀

Lahir dan tumbuh sebagai seorang Tionghoa di Samarinda–meskipun bukan dalam keluarga yang totok, pemali-pemali seperti di atas sudah diekspose sejak dini dalam kehidupan sehari-hari.

Berbarengan dengan tradisi mitos, etiket kesopanan, dan nilai-nilai sejenis, pemali-pemali tersebut dipegang teguh dan terus dijalankan oleh para tetua konservatif dengan giat. Semuanya diturunkan kepada generasi yang lebih muda, diiringi doktrin bahwa mereka harus ikut melakoninya sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung sekaligus pendidikan karakter. Dalam hal ini, nyaris tidak ada ruang untuk berbantah-bantahan atau berdiskusi. Sebab sikap mempertanyakan, mengkritik, atau menolak melakukannya bakal dianggap sebagai bentuk kekurangajaran. Belum lagi ditambahi ancaman nasib buruk, kesialan, maupun kualat. Sesuatu yang akan dibilang “ya… percaya enggak percaya lah.

Keadaan ini mungkin agak berbeda dibanding yang berlangsung di kota-kota besar pulau Jawa. Sebagian besar warga Tionghoanya relatif lebih sering bersentuhan dengan pola pikir modern, mau menafikan kekakuan demi efisiensi serta efektivitas hidup, atau dalam istilah lain; sibuk dan enggak punya banyak waktu untuk ngurusin yang gitu-gitu.

Bagaimana sebaiknya kita memandang perkara ini? Apakah dengan tetap mempercayai dan menjalankannya, atau malah meninggalkannya?


Saat ini, ada jurang besar antara kaum tua dan muda dalam menyikapi khazanah budaya tersebut. Selalu kita dengar, ketika kaum tua mengeluhkan sikap para anak muda yang mbalelo, kurang sopan santun, minim hormat, dan tidak mengindahkan nilai-nilai (yang dipercaya) sakral.

Padahal, ada alur komunikasi dan reasoning yang terputus, sehingga kedua pihak tidak akan nyambung. Tidak terjadi transfer budaya yang semestinya kaya akan diskusi dan apresiasi berujung kesepahaman atau saling menghormati, melainkan doktrinasi dengan kata sakti: “harus”, “pokoknya”, dan “tidak boleh.”

Di sisi lain, kaum tua yang menjadi pelaku khazanah budaya tersebut juga merupakan “korban indoktrinasi” sebelumnya. Jadi, mereka sudah telanjur memegang teguh semuanya tanpa dibarengi pemahaman tentang anggapan, sugesti, stigma dan prasangka, kebijaksanaan dan filosofi dalam adat. Diperparah dengan ketidakcakapan berkomunikasi, termasuk dalam menjelaskan sesuatu pada kaum muda. Jawaban pamungkas untuk semua pertanyaan adalah: “dari sananya ya begitu, dari zaman engkongmu sudah seperti itu.” Jawaban nanggung dan tidak memuaskan rasa keingintahuan. Apalagi kalau ditambah celetukan “sudah, jangan banyak tanya.

Jarak budaya makin jauh.

Salah satu contohnya, wanita Tionghoa yang baru melahirkan tidak boleh keramas sampai 40 hari setelah persalinan. Bagi tetua yang kolot, pantangan ini sama sekali tidak boleh dilanggar. Padahal, selalu ada alasan dan penyebab dari segala sesuatu, dan siapa saja berhak mempertanyakan alasannya tanpa bermaksud untuk bersikap dramatis.

Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau:

Apakah membasahi rambut juga termasuk keramas? Apabila rambut kena percikan air, disebut keramas?
Bagaimana dengan keramas menggunakan air hangat, dan dilakukan di siang hari yang cuacanya gerah?
Apakah keramas di sini dilakukan sendiri? Bagaimana jika keramas seperti di salon, dan bukan dalam kondisi sekaligus mandi?

Khusus untuk pantangan ini, satu-satunya alasan yang saya reka sendiri adalah, wanita yang baru melahirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Saat mandi sendiri apalagi dengan air sejuk, takutnya bisa jatuh atau pingsan di kamar mandi. Di sisi lain, air dingin yang menyentuh kepala bisa menyebabkan kurang enak badan alias masuk angin. Juga mempertimbangkan kualitas pelayanan kesehatan persalinan puluhan tahun silam. Fair enough, right?

Kalau pengin kreatif, soal mitos dilarang keramas ini bisa dijadikan model activation dalam peluncuran produk dry shampoo atau sampo kering. Minta afirmasi dari tetua untuk menetapkan batasan soal “keramas yang pantang”. Tak mustahil, produk ini dapat dilirik kaum ibu muda yang baru melahirkan tapi sudah sangat gerah dengan rambut bau tak tercuci selama beberapa hari.

Contoh lain, yang agak absurd. Setelah pergi melayat, seseorang dilarang menjenguk orang sakit, bayi yang baru dilahirkan, mendatangi acara pernikahan, mendatangi peresmian tempat usaha atau rumah baru, mendatangi pesta ulang tahun, melakukan kunjungan silaturahmi saat Tahun Baru Imlek, serta berkunjung ke tempat ibadah (terbatas pada kelenteng maupun vihara aliran Mahayana).

Alasan yang lazim soal pantangan ini adalah anggapan adanya aura negatif, kesialan, duka yang melekat pada tubuh orang tersebut. Cara menguranginya dengan membasuh diri menggunakan air kembang sebelum masuk rumah, atau tidak datang ke acara sama sekali. Masuk akal? Tidak, dan terkesan nyeremin. Orang pun takut dan enggan untuk melanggarnya. Di sisi lain, si empunya acara pasti tersinggung berat kalau dikunjungi orang yang habis melayat. Sebab sama artinya sengaja menularkan kesialan. Secara umum, bahkan sangat dilarang untuk mengucapkan kata-kata bernuansa buruk (mati, tewas, hilang, habis, putus, pecah, rusak, dan sejenisnya) dalam setiap acara bahagia.

Terus, apa alasan paling logis soal ini? Bagi saya, adalah ketidaknyamanan sosial. Perubahan emosi yang terlalu drastis bisa memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi seseorang. Setelah bersedih-sedih saat melayat (kecuali kalau sedihnya cuma basa basi sosial doang), kemudian malah harus tertawa-tawa di acara orang lain. Sebab kemurungan itu jelas terlihat di wajah. Sehingga, lebih baik menenangkan diri. Hanya saja, saat pantangan ini dibakukan entah berapa ratus tahun lalu, tidak ada yang menyadari bahwa manusia terus berevolusi dalam berperasaan. Perkabungan tidak lagi berlangsung dalam waktu berbulan-bulan. Setelah melayat tidak bisa datang ke pesta ulang tahun? Ya enggak masalah, ke mal aja, jalan-jalan di sana. Beres perkara.

Kalau ketidaknyambungan ini dibiarkan terus, siapa yang jadi korban? Semuanya. Para orang tua akan lebih sering makan hati, memperbesar potensi alami gangguan kesehatan karena perasaan; para anak muda akan makin jauh dari kesempatan pengalaman hidup yang seru dan jarang-jarang dilakukan, serta cenderung terbiasa dengan perspektif yang dangkal; serta nilai-nilai budaya yang sejatinya unik dan menyenangkan terlupakan, punah.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa terdekat.

Kaum muda identik dengan kepraktisan, pemikiran yang kekinian, tapi tetap punya rasa penasaran, dan mudah digoyang tren. Okelah, dalam penerapan khazanah budaya yang dimaksud di atas, mereka cenderung merasa ribet dengan segala pernik-perniknya, serta dianggap kuno. Namun tetap ada celah untuk setidaknya dibicarakan dalam kemasan yang lebih gaul dan terkini.

Saat ada sekelompok anak muda yang tertarik dan pengin melakukannya reramean, lalu berhasil menciptakan hype baru, maka akan mengundang makin banyak anak muda yang ingin merasakan sensasi terlibat dalam–sebut saja–festival budaya.

Sisi baiknya, selalu ada hipster alamiah dalam setiap golongan. Pasti ada tetua yang berpikiran modern, moderat dalam berpendapat, luwes dalam bergaul dengan siapa saja, dan fleksibel dengan kondisi zaman. Dengan mudah ia menjadi sosok yang disukai kalangan usia lain, nilai-nilai budaya yang pernah ia akrabi kala muda pun bisa dibagikan layaknya topik pembicaraan gaul di kafe keren. Pun ada kaum muda yang tertarik menempatkan diri di posisi para leluhurnya dulu. Bukan untuk memuja-muja masa lalu, melainkan untuk memperkaya wawasan diri, bahkan bisa menumbuhkan ketertarikan orang muda lain untuk “mencicipi”. Lihat saja beberapa program jelajah-jelajah dalam kota, ke kawasan yang biasanya hanya dipenuhi orang-orang tua.

Sebaliknya, tidak sedikit juga ada anak muda yang kadung terindoktrinasi, bertindak jauh lebih kuno ketimbang sekelilingnya, totok parah melebihi zaman. Usia doang yang muda, gaya hidup kelihatannya gaul, pendidikan lumayan tinggi, namun dalam urusan menjalani hidup malah purbakala, dan sok iye banget. Mau ngapa-ngapain harus lihat tanggal dan hari baik, jam bagus, serta menggunakan warna tertentu. Duh, halo…

Khusus buat anak muda yang bersikap seperti ini, titip catatan deh, biarlah cuma cinta yang seringkali tidak pakai logika, jangan sampai menyebar ke hal-hal lainnya. Bila enggak ketemu alasan kuat untuk melakukan sesuatu, coba dikira-kira sendiri. Kalau sudah dibikin-bikin jatuhnya tetap enggak jelas dan tak nyaman, bersikaplah layaknya orang modern.

Juga buat anak muda Tionghoa masa kini, ndak usah sok-sokan melakukan ini dan itu atas nama budaya leluhur kalau nulis dan ngucap nama Cina sendiri aja belum bisa.

[]

Sebutan Dalam Silsilah Keluarga Tionghoa

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, pokoknya jangan sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit juga generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Salah satu contohnya di-tweet teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Saya tidak menganggap fenomena ini sebagai sebuah ancaman, atau kemunduran, melainkan murni karena ketidaktahuan dan putusnya transfer informasi lintas generasi. Lumrah, namun tetap bisa diantisipasi.

Diawali dengan adanya kesenjangan budaya antara tradisi totok di rumah versus pendidikan gaya modern Belanda hingga beberapa dekade silam. Eh, malah keterusan sampai era Orde Baru.

Selebihnya, enggak sedikit pula yang beranggapan bahwa tradisi Tionghoa itu kuno, dan membosankan. Padahal, sebenarnya seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu bergambar sama.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Samarinda, dan beberapa kota lain di Indonesia dari berbagai sub suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja.

Bagan di atas masih jauh dari lengkap, dan bisa saja ada panggilan-panggilan lain yang belum termuat. Kalau ada yang tahu, boleh dibagi ya. Terima kasih.

Bagaimanapun juga, tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, asal jangan sampai lupa dengan keluarga.

Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Tulisan ini juga di-post di Linimasa.

Cek Toko Sebelah

BARU banget kelar menonton film ini, dan masih kagum dengan betapa subtle-nya cara Ernest Prakasa mengangkat salah satu drama paling mendasar, paling klise, sekaligus paling basi dalam kehidupan keluarga Tionghoa Indonesia menjadi tontonan yang pas dan proporsional, mudah dipahami secara inklusif.

Menyusul “Ngenest: The Movie” yang berangkat dari topik sejenis, gaya dan sudut pandang yang disuguhkan Ernest–sebagai sutradara, penulis cerita, sekaligus pemeran utama–dalam “Cek Toko Sebelah” betul-betul konsisten. Ia berhasil memadukan ide dan konsep dari dua perspektif berbeda saat memproduksi film ini: sebagai Tionghoa Indonesia dan non-Tionghoa Indonesia.

Kenapa sih harus banget ada kata “Indonesia” dalam pernyataan di atas? Soalnya, drama yang disajikan dalam “Cek Toko Sebelah” sangat Indonesia.

Tidak ada masyarakat Tionghoa mana pun di Asia Tenggara yang paham benar tentang tahun 1998, selain di Indonesia; termasuk kaitan khusus antara tahun 1998 dan toko, bukan sebagai alat untuk bermata pencarian, melainkan sebagai bagian dari identitas.

Detail-detail seperti itu memang terlampau sederhana, atau bahkan sah-sah saja jika sekadar disebut sebagai gimmick pelengkap cerita. Akan tetapi, justru menjadi simpul-simpul cerita yang membuat “Cek Toko Sebelah” relevan bagi siapa saja.

Berbeda dengan “Ngenest: The Movie” yang bercerita tentang seorang Tionghoa muda memandang ketionghoaannya (walaupun ujung ceritanya, ehm, agak non-mainstream dari perspektif Tionghoa Indonesia luar pulau Jawa), “Cek Toko Sebelah” lebih spesifik pada isu-isu internal keluarga, terlebih yang ada di luar Jakarta.

Gambaran singkatnya seperti ini. Ketika para orang tua Tionghoa mengelola toko dengan susah payah dan tekun sedemikian rupa, lalu menyekolahkan anak-anaknya ke luar daerah bahkan luar negeri dengan harta dan status ekonomi yang berhasil dibangun, kemudian beberapa di antaranya berharap agar anak-anak mereka bisa kembali ke kota asal dan meneruskan usaha. Ekspektasi versus realitas hidup.

Ragam drama yang diangkat Ernest dalam “Cek Toko Sebelah”, bisa dibilang adalah salah satu varian paling aman dari konflik di atas. Aman, lantaran happy ending. Konflik keluarga berakhir dengan kebahagiaan dan penerimaan, yang sebenarnya identik dengan film-film Hong Kong khusus suasana Tahun Baru Imlek. Hehehe… dan Ernest seolah kembali menyampaikan positive subliminal message tentang pernikahan lintas etnik kepada seluruh Tionghoa Indonesia. Hal netral yang masih agak janggal bagi Tionghoa Indonesia, dibanding di negara-negara Asia Tenggara lainnya. 😀

Untuk itu, saya rekomendasikan film ini sebagai tontonan keluarga Tionghoa Indonesia. Bukan untuk memengaruhi atau mengubah pendapat, tapi lebih untuk membuka paradigma sosiokultural yang berlangsung hingga sekarang.

Foto: gadis.co.id
Foto: gadis.co.id

Oke, kini melangkah ke komponen-komponen lainnya.

“Cek Toko Sebelah” merupakan film komedi dengan kadar yang pas. Penampilan para komedian tunggal tidak overwhelm, pun dengan kelakar-kelakar yang membumi dan tidak eksklusif. Begitu pun dengan cameocameo yang dilibatkan, yang mampu mengekskalasikan lelucon dengan sangat segar dan efektif. Salah satunya pada bagian “Emang jalan ini punya bapak loe?!”

Seperti biasanya, penampilan Adinia Wirasti bikin makin tambah nge-fans. Ayu, sosok yang diperankannya, boleh jadi adalah lakon paling bijaksana dalam film ini. Baik ketika berinteraksi dengan Yohan (Dion Wiyoko), maupun tokoh lainnya. Outshining!

Di sisi lain–thanks to Ernest’sChineseness” –ada humor-humor tertentu yang ngena banget pada para penonton Tionghoa. Seperti pada sosok Ko Afu/Afuk (Chew Kin Wah, yang kelihatan banget berusaha menyamarkan ciri khas Chinese Malaysian-nya). Termasuk juga judul “Cek Toko Sebelah” itu sendiri, yang pada dasarnya enggak punya hubungan langsung dengan fondasi plot.

Intinya, dengan menonton “Cek Toko Sebelah”, 31 Desember 2016 saya terasa menyenangkan.

Selamat tahun baru! 🙂

[]

君の名は。| Your Name

SEBAGAI bukan penggemar anime maupun Dorama Jepang, “君の名は。”/”Your Name” ternyata bisa meninggalkan kesan yang manis, sekaligus magis. Demikian setidaknya yang saya rasakan saat dan setelah menontonnya Sabtu siang kemarin.

Manis, lantaran plot dan alur yang ringan tapi ndak kacangan, relatif sederhana untuk diikuti tanpa perlu berpikir terlampau keras, interpretasi pada aspek-aspek fantasi yang tidak berlebihan, akrab dengan aktivitas keseharian, penuh romansa ala remaja, tak ubahnya membaca cerpen di majalah remaja sebelum tidur siang (aktivitas yang populer setidaknya sampai awal tahun 2000-an), dan nuansa kawaii khas komik-komik serial cantik. Dari adegan pembuka yang “begitu” :p sampai ke ending-nya.

Ada dua tokoh utama: Mitsuha dan Taki. Keduanya masih sama-sama pelajar SMA, tapi berbeda kota. Langsung bisa kebayang gambarannya, kan? Mirip FTV! Tapi percayalah, “Your Name” lebih daripada itu 😀

Magis, tidak hanya karena beberapa detail pelengkap kisah, melainkan artistic deliverance yang dapat dirasakan ketika menontonnya.

Jalan cerita “Your Name” sarat dengan konsep-konsep dan filosofi ajaran Shinto maupun animisme Jepang, tapi tidak berjejal. Tersaji rapi, dan terpilin indah dengan unsur dramanya. Dikisahkan, Mitsuha adalah salah satu fujo (巫女) atau gadis keturunan penjaga kuil.

Kesan magis tersebut kian kuat dengan lagu-lagu soundtrack, dan teks terjemahan liriknya yang ikut ditampilkan di layar bioskop.

Source: wall.alphacoders.com
Source: wall.alphacoders.com

Mitsuha dan Taki, dua remaja yang terpisah ruang dan waktu.

Apa yang saling menghubungkan mereka? Simpul takdir. “Musubi (結び),” kata nenek Mitsuha, saat menjelaskan makna tentang ritual menganyam simpul tali dalam tradisi spiritual Jepang.

Musubi memisahkan; mempertemukan; memisahkan kembali; serta mempertemukan kembali Mitshua dan Taki lewat bintang jatuh sebagai pertanda. Bukan pertemuan biasa, tetapi lewat pertukaran jiwa (body-swapping). Mitsuha dalam Taki, dan begitupun sebaliknya.

Body-swapping memang bukan merupakan tema baru, apalagi dalam doramaBut, this one with a huge twist. Selain itu Makoto Shinkai, sang sutradara mampu menampilkan tema tersebut dengan sangat cerdik, namun tetap menarik bagi segmen penontonnya. Lucu, menggemaskan, dan bikin trenyuh. Banyak adegannya yang bikin “nyesss…

Semuanya menjadi bagian-bagian penting dari perkembangan cerita, disampaikan dengan storytelling yang baik, dan ditunjang dengan “penggambaran” animasi yang luar biasa keren. Untuk itu, biarlah anime ini cukup dikenal sebagai anime, tidak perlu diadopsi jadi film sungguhan.

Daripada bikin drop.

“Your Name” pada dasarnya bisa dinikmati secara luas, baik oleh penggemar anime ataupun bukan. Akan tetapi, tentu ada excitement level dan fokus perhatian berbeda di antara keduanya, sehingga memunculkan beragam kemungkinan dan ekspektasi. Tidak menutup kemungkinan ada non-otaku yang “menyerah” untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Terutama sejak bagian awal menuju pertengahan cerita. Salah satu teman saya misalnya, (barusan di Path) mengaku keluar di tengah-tengah durasi lantaran berada di crowd yang salah ketika ia berusaha untuk tetap mengikuti jalannya kisah. Padahal, revelation moments yang muncul belakangan benar-benar terasa mengagumkan. 🙂

[]

Ini Kisah Tiga Dara

BARU menonton film ini Sabtu sore lalu, di bioskop yang sama tempat menyaksikan “Tiga Dara” hasil restorasi. Itu sebabnya, sebelum mulai, muncul kilasan beberapa adegan, dialog, maupun lagu dan tarian dari karya rilisan 1956 yang konon tidak disukai oleh Usmar Ismail, sutradaranya sendiri itu.

Enggak sengaja mbatin: “film ini bakal semenyenangkan ‘Tiga Dara’, enggak ya?” Meskipun kemudian sadar jika pembandingan tersebut agaknya kurang adil, dan enggak perlu. Langkah amannya, tentu saja dengan berhenti berekspektasi. Duduk anteng, kalem, dan bersiap melihat apa yang bakal lewat.

Bagian-bagian paling awal dari “Ini Kisah Tiga Dara” terasa tidak terlampau berkesan. Entah mengapa, koreografi lagu pertama dengan setting taksi di tengah kemacetan dan taman yang ramai dengan rupa-rupa warga selatan Jakarta itu terasa tanggung dan canggung. Masih lagu pertama dan adegan pembuka, barangkali. Jadi berasanya biasa-biasa saja. Ketika penontonnya (baca: saya) masih belum rileks untuk menikmati film musikal. Ditambah lagi belum ada proper introduction atas ketiga tokoh utamanya: Gendhis (Shanty), Ella (Tara Basro), dan Bebe (Tatyana Akman).

Sayangnya, atmosfir ini bertahan sampai beberapa puluh menit berikutnya, sampai setting-nya hampir pindah kota. Sampai gubahan baru lagu “Tiga Dara” mulai menceriakan suasana. Tidak menyentuh soal cerita sama sekali.

Saat lagu dan koreografi belum mampu mencuri perhatian dan kesenangan penonton atas film ini, lalu dimunculkanlah keindahan alam timur Indonesia sebagai element of surprise selanjutnya. Ekspresi kekaguman seperti “wow!” dan sebagainya terdengar jelas waktu layar menampilkan pergantian latar, dari Jakarta menjadi Maumere. Efek ini sukses menarik hati, khususnya bagi para Jakartans sendiri. Lantaran gambar lanskap alam yang ditampilkan sebenarnya merupakan pemandangan sehari-hari bagi orang-orang pesisir.

Secara pribadi, ketertarikan atas film ini mulai muncul setelah dipicu lagu dan koreografi “Pasar Geliting”. Sebuah langkah berani dan memikat hati memberdayakan local talents untuk ikut menari. Kendati hanya figuran, dan dengan gerakan yang kadang kurang seragam, berasa tulus dan lucu dalam makna sebenarnya.

Mulai rileks nontonnya.

Source: fimela.com

Nah, element of surprise selanjutnya benar-benar mengejutkan, bahkan boleh dibilang menjadi semacam “entrance moment” untuk tokoh Bebe, dan Erick (Richard Kyle). Dari bagian ini, wajar jika banyak penonton yang mulai terkesan dengan keberanian Nia Dinata, sang sutradara dalam mengokohkan karakter si bungsu dari tiga dara. Apalagi berhasil dibawakan dengan maksimal oleh Tatyana dan Richard.

Makin rileks nontonnya.

Hingga akhirnya, film ini mulai terasa menyenangkan sebagai sebuah tontonan bagi saya justru gara-gara satu hal sepele: sebuah celetukan dari Oma (Titiek Puspa).

Entah apakah karena selera humor saya yang receh, atau line tersebut memang sungguh brilian, yang pasti “janidul” dilontarkan Titiek Puspa dengan sangat pas, dan berhasil membuat saya tergelak. Dari poin ini, ihwal kekuatan dan karakteristik cerita bergeser jadi nomor ke sekian untuk diperhatikan. Sudah bisa dibawa rileks aja, kecuali kalau plotnya bapuk banget.

…dan ternyata benar. Jalan ceritanya cukup sederhana untuk dikritisi, juga dengan konflik dan problem yang enggak jauh-jauh dari kisah “Tiga Dara” versi aslinya. Intinya adalah seorang nenek ngebet cucunya segera menikah, menyerempet ke persoalan cinta segitiga.

Secara umum, beberapa hal menarik dari “Ini Kisah Tiga Dara” adalah penampilan para pemain, lagu dan koreografi, serta muatan sisipannya.

Mengenai para pemain, tak terbantahkan bahwa Shanty benar-benar tampil memukau sebagai si sulung, maupun sebagai artis yang “turun gunung” ke layar lebar setelah sekian lama. Chemistry yang ia ciptakan bersama tokoh-tokoh lain, seperti dengan dua dara yang lain, Oma, ayahnya (Ray Sahetapy), Yudha (Rio Dewanto), bahkan dengan para figuran terasa genuineEffortlessy enjoyable.

Selanjutnya, spotlight mengarah ke Tatyana. Wajah baru hasil audisi yang ternyata memang tepat untuk menggambarkan sosok Bebe, si bungsu lincah, spontan, badung, berani, outspoken, tapi lucu menggemaskan dengan rambut ikalnya yang khas.

Dalam “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai debut, tidak susah untuk membayangkan penampilan kedua dan ketiga Tatyana di judul-judul film berikutnya, walaupun image-nya telanjur melekat sebagai gadis cantik yang manja.

Bagaimana dengan Titiek Puspa, penampil paling senior dalam film ini? Bagi saya, terlihat banget beliau tidak berakting, atau memodifikasi apa pun dari tindakan dan sikapnya untuk tujuan berakting. Titiek Puspa just being Titiek Puspa, Hahaha…  Dengan celetukannya yang campur aduk antara bahasa Jawa dan bahasa Belanda, suara khasnya, dan gayanya. Seolah-olah Oma dari tiga dara memang adalah sang Titiek Puspa. Segengges apa pun beliau, Titiek Puspa tetaplah seorang Titiek Puspa… and she’s a living legend!

Berikutnya, saya lebih setuju untuk menyebut “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai film dengan bonus lagu dan tarian, ketimbang film musikal. Tidak sedikit lagu dan koreografinya yang keren dan berkenan di hati, hanya saja ada lebih banyak yang berlalu begitu saja. Ya… Paling-paling ini cuma persoalan selera.

Fokus terakhir adalah pesan yang disisipkan, dari awal sampai pengujung cerita. Bukan sekadar pesan moral, tentunya, melainkan lebih kepada seruan-seruan ala aktivis humanisme. Ada banyak sekali. Mulai soal pandangan konservatif atas gender dan perlakuannya, kritis atas itu dan mengenai pernikahan sebagai atribut sosial, sampai mengenai cara wanita memandang dirinya sendiri. Untuk topik yang terakhir, anehnya, penyampaiannya justru dilekatkan pada figur Bebe, si bungsu yang baru berusia 19 tahun. Bukan tanpa alasan mengapa salah satu karakter Bebe yang saya sebut di atas adalah “outspoken” (…dan sikap itu ditunjukkan tak hanya saat berperan sebagai Bebe. Seperti yang diceritakan seorang teman, kala Tatyana bete terhadap wartawan dalam sesi pemotretan hanya gara-gara urusan pakaian. Padahal saat itu, Tatyana terlihat luar biasa menawan!)

Pertanyaannya, apakah semua pesan tersebut berhasil tersampaikan dengan baik dan tidak bias, serta bisa diterima secara umum? 🙂

Terlepas dari semua hal di atas, ada satu lagi komponen yang cukup berkesan dalam “Ini Kisah Tiga Dara”: penampilan dan busana. Nyaris tidak ada satu momen pun dalam film ini, saat para tokohnya tampil membosankan. Paduan riasan (termasuk tata rambut) dan busana yang dikenakan selalu menyegarkan.

Semuanya berhasil menjadikan “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai tontonan yang menyenangkan.

[]

Bicara soal pernikahan sebagai atribut sosial, barangkali kamu tertarik baca tulisan lama ini: Marriage vs. Social Insecurity.

Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti. 🙂

Rudy Habibie

KUALITAS penampilan yang konsisten, atau pengulangan yang membosankan. Di antara dua hal tersebut, Reza Rahadian boleh dibilang makin meng-Habibie dalam “Rudy Habibie”.

Ya. Agaknya sulit untuk tidak memulai pembahasan tentang film garapan Hanung Bramantyo ini tanpa menyorot Reza. Sampai-sampai tidak akan berlebihan kiranya jika Reza sudah telanjur diidentikkan dengan Habibie; menjadi aktor pertama sekaligus semacam benchmark bagi penampil lainnya.

Memerankan Habibie muda yang baru datang ke Aachen, Jerman untuk menjadi mahasiswa teknik, para penonton (terlebih yang sudah menyaksikan “Habibie & Ainun”) bisa melihat bahkan merasakan makin luwesnya Reza memerankan sosok presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut. Dengan sentuhan dramatis khasnya, tentu saja.

Source: Kapanlagi

Sebagai Rudy–panggilan nama lakon sepanjang film, untuk memisahkan sosoknya dengan figur Bacharuddin Jusuf Habibie–punca kekuatan penampilan Reza kali ini adalah gaya bicara, intonasi, bahkan vokal. Disusul dengan mimik dan ekspresi wajah. Itu sebabnya, ada banyak adegan saat penampilan Reza bisa dinikmati secara a la carte, terpisah dari konflik cerita yang tengah berlangsung maupun komponen-komponen teknis lain. Tak ketinggalan, dialog-dialog dalam bahasa Jerman dan Belanda yang dilontarkan Rudy sepanjang film bisa jadi sumber ketakjuban tersendiri.

Selain Reza, sebagian besar pelakon dalam “Rudy Habibie” juga tampil efisien dan proporsional. Seperti yang ditunjukkan Donny Damara (ayah Rudy), Bastian Bintang Simbolon (Rudy kecil), Chelsea Islan (Illona) yang terasa agak kurang halus beradegan di awal-awal kemunculannya, Indah Permatasari (Ayu) yang cantik banget di situ, termasuk Ernest Prakasa (Keng Kie), Cornelio Sunny (Panca), dan Dian Nitami (ibu Rudy). Hanya saja, perubahan karakter yang diperankan Dian Nitami terlalu drastis dan menjadi agak disayangkan lantaran tidak ajek. Dari sosok ibu yang penuh kasih sayang dan hangat, menjadi sangat defensif serta dingin. Selebihnya, “Rudy Habibie” ternyata jadi semacam ajang comeback Paundrakarna setelah sekian lama absen dari dunia hiburan.

Terlepas dari penampilan para pemain, ada beberapa bagian cerita “Rudy Habibie” yang terkesan scattered. Dimunculkan secara simultan, namun tak semuanya tertuntaskan di akhir durasi. Sehingga menyisakan kesan kurang lengkap dan jadinya terasa enggak penting-penting amat bagi ruang persepsi para penonton. Terutama terkait geliat Rudy sebagai mahasiswa Indonesia yang aktif bersuara, gejolak politik di Indonesia, serta drama keluarga. Justru kalah berkesan dibanding adegan-adegan remeh dengan klimaks yang jelas. Seperti adegan di rumah keluarga Neuefiend, atau tantangan di kafe.

Soal bumbu drama romansa, lain lagi ceritanya. Porsinya hampir sama banyak dengan letupan-letupan cerita mengenai nasionalisme, kejeniusan kaum muda Indonesia, dan semangat dalam mewujudkan visi. Tokoh Rudy ternyata bisa tidak konsisten dan clueless juga. Akan tetapi, siapa yang butuh peduli dengan semua itu sih, ketika lebih gampang dibuai dengan romantisnya para lakon saat beradu chemistry. Lagipula, sebagai prequel dari “Habibie & Ainun” sekaligus sequel dari “Habibie & Ainun 3” (yang sedikit teaser-nya ditampilkan di mid-credits), tentu urusan cinta-cintaan lah yang ditonjolkan lebih utama.

[]