Merayakan Akal Sehat

DALAM tradisi agama Samawi, konon, kejahatan pertama manusia di muka bumi ini adalah pembunuhan. Yakni ketika Qabil/Cain/Qayin/قابيل/הֶבֶל menewaskan saudaranya sendiri, Habil/Abel/Hevel/هابيل/קַיִן. Kejahatan ini dilatarbelakangi rasa iri, cemburu, dan ketidakpuasan.

Qabil dicap sebagai manusia tak bermoral setelah membunuh saudaranya sendiri. Tindakannya dikutuk Tuhan dan otomatis berupa dosa; di luar perintah-Nya, menyebabkan kematian atas orang lain, putusnya keturunan, serta menimbulkan kesedihan pada orang-orang yang ditinggalkan korban.

Source: Biblestudytools.com

Setelah peristiwa tersebut, seolah termaktub ketentuan bahwa manusia tidak boleh membunuh sesamanya. Ketentuan ini seakan terus dibakukan sampai beberapa milenium kemudian, dan masih berkisar pada urusan perintah ilahiah. Salah satunya adalah pengalaman Nabi Musa, lewat turunnya “Sepuluh Perintah Allah”. Plot berbeda dialami para nabi lainnya.

Dalam tradisi Buddhisme, kejahatan pertama manusia setelah berlangsungnya sejumlah tahap evolusi fisik dan mental adalah pencurian. Alasannya adalah keserakahan dan kemalasan. Sebelumnya pun, sudah ada indikasi bahwa komunitas mula-mula ketika itu mulai menyadari munculnya perasaan tidak menyenangkan, dan mereka menganggap aktivitas pemicunya sebagai kejahatan.

Tidak disebut siapa nama pelakunya. Sebab ada dalil yang mengisyaratkan bahwa pada masa itu manusia belum kenal konsep nama sebagai pembeda satu individu dengan yang lainnya. Satu hal yang pasti, mereka telah jadi sebuah populasi.

Korban pencurian alami kesusahan, termasuk sakit hati. Lantaran hasil kerja keras mengumpulkan makanan, amblas begitu saja. Efek dominonya, korban benci pada pelaku. Kebencian itu bisa saja dilampiaskan dalam bentuk dendam, atau malah tindakan balasan. Lagi-lagi menghasilkan kejahatan lewat pikiran, ucapan, maupun perbuatan. Aksi saling balas itu bisa menjadi lingkaran setan, yang makin lama kian berkembang, seiring tumbuhnya kreativitas. Kejahatan dan tindakan amoral pun bertambah jenisnya, bersemboyan: “pokoknya dia harus menderita!”

Dua kisah menyangkut moralitas di atas bersumber dari ajaran agama. Keduanya memang memiliki karakteristik yang berbeda (Samawi/non-Samawi). Namun tetap bisa disimpulkan bahwa agama adalah formulasi paling gampang untuk menanamkan nilai-nilai kemoralan. Bahkan sejak lebih dari 2.000 tahun silam. Dampaknya, banyak yang beranggapan bahwa ajaran agama adalah satu-satunya jalan terbaik untuk menghasilkan manusia bermoral. Mereka menyebut agama adalah sumber tunggal pedoman moralitas, menetapkan batasan atas sifat-sifat manusiawi yang merusak. Aturan agama menjadi aturan moralitas lengkap dengan konsep rewards and punishments-nya (dosa dan pahala), serta tidak ada moralitas di luar agama.

Pelanggarnya dijuluki manusia tidak bermoral, dihujat sesamanya, mendapatkan dosa, dan bakal diganjar neraka. Sebaliknya, orang-orang yang taat dengan aturan agama disebut memiliki kualitas moral yang baik, dielu-elukan, dilimpahi pahala, serta dijanjikan masuk surga. Penjelasan seperti inilah yang selalu kita dapatkan sejak kecil hingga sekarang (tapi kalau pengalaman Anda berbeda, selamat! Berarti lingkungan Anda mendukung untuk menumbuhkan sikap kritis).

Efek sampingnya, sebagai formulasi paling gampang untuk mengajarkan nilai-nilai kemoralan, aturan agama kerap dijejalkan begitu saja. Dengan embel-embel “pokoknya”, semua umat beragama diajarkan untuk “tidak boleh begini” dan “tidak boleh begitu”. Penyampaian tentang nilai-nilai moralitas berupa indoktrinasi. Tanpa peluang untuk mempertanyakan, tanpa kesempatan untuk memahami latar belakang, atau tanpa ruang untuk mencari penjelasan. Biar lebih paham, dan bisa dijalankan lebih alamiah tanpa paksaan.

Ironis. Toh, walaupun sudah beragama sejak lahir, masih banyak yang bertindak amoral. Korupsi, menyebar fitnah dan dusta, menganiaya, dan sejenisnya. Amaran dalam agama cuma dianggap formalitas belaka.

Jika demikian, apakah sudah saatnya kita lebih banyak membicarakan soal moral lewat pendekatan akal sehat?

Sebagai contoh, dengan akal sehat, mantan Menteri Agama SDA mungkin akan berpikir berulang kali sebelum menyelewengkan dana penyelenggaraan ibadah haji. Dengan mengingat esensi dari perjalanan ibadah haji itu sendiri, dengan mengingat betapa susahnya perjuangan para calon jemaah haji mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menunaikan ibadah impian, juga dengan mengingat banyaknya calon jemaah haji yang sudah cukup tua untuk lancar beribadah di Tanah Suci, barangkali SDA bisa iba setengah mati dan mengurungkan niatnya yang kurang terpuji. Realitasnya, berbanding terbalik. Padahal kurang apa? SDA adalah Menteri Agama. Berasal dari organisasi politik yang lekat dengan simbolisme dan visi-misi religius pula. Tapi nampaknya lupa kalau perbuatan buruk yang ia lakukan berpeluang mengantarkannya ke neraka.

Sederhananya, hubungan antara moralitas dan akal sehat, barangkali paling pas diwakili dengan kalimat ini.

Perlakukanlah orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Kalimat di atas dikenal sebagai The Golden Rule atau peraturan emas mengenai hubungan antarmanusia. Sudah terpikirkan sejak lebih dari 3 ribu tahun lalu, gampang dipahami, tapi benar-benar memerlukan kesungguhan hati untuk dijalani.

Anda tidak perlu beragama tertentu, atau memiliki kadar ketaatan khusus untuk bisa setuju dengan maknanya. Bahkan oleh mereka yang agnostik bahkan ateis sekalipun. Di samping itu, hampir semua agama besar di dunia juga memiliki quote-nya yang senada. Ini lantaran nilai yang terkandung dalam kalimat tersebut bersifat universal, atau bahkan bisa dianggap sebagai alasan paling masuk akal untuk bersikap bermoral. Kalau digampar itu sakit, ya jangan asal gampar orang lain. Kalau ditipu bikin hati panas, ya jangan menipu orang lain. Kalau diselingkuhi itu bikin sakit hati, ya jangan bikin pasangan sakit hati dengan selingkuh dong. Begitu seterusnya.

Kenapa kita tidak boleh membunuh?
Karena itu dosa, dibenci Tuhan, dilarang agama, nanti masuk neraka.
Karena tidak ada yang mau disakiti, apalagi sampai dibuat mati.

Kenapa kita tidak boleh mencuri?
Karena itu dosa, dibenci Tuhan, dilarang agama, nanti masuk neraka.
Karena kita tidak berhak atas barang yang bukan milik kita. Memangnya kamu mau, barang yang sudah kamu peroleh susah payah, diambil diam-diam sama orang lain?

Kenapa kita tidak boleh berbohong?
Karena itu dosa, dibenci Tuhan, dilarang agama, nanti masuk neraka.
Karena kalau dibohongi itu bikin kita benci sama orang lain, dan sakitnya tuh di sini.” (menunjuk ke dada).

Ilustrasi di atas menunjukkan dua jenis pendekatan untuk menanamkan tentang moralitas. Ada yang saklek dan merasa cukup hanya dengan menggunakan jawaban jenis pertama, plus embel-embel “pokoknya ndak boleh” tanpa peduli soal alasan larangan. Ada yang lebih suka menggunakan rasionalitas sosial lewat jawaban kedua. Ada pula yang memilih gabungan keduanya.

Tapi tetap saja, lebih baik melakukan sesuatu karena paham, ketimbang hanya gara-gara takut atau hitung-hitungan. Enggak lucu dong, kalau nanti diledek: “Ogah berbuat jahat gara-gara takut dosa, berarti berbuat baik cuma ngincer pahala? Pamrih dong.” Atau ledekan versi selanjutnya: “Giliran sudah telanjur berbuat jahat aja, setan disalahin.

Apa pun pendekatan yang Anda gunakan, selama tujuan akhirnya baik, sebenarnya ya enggak masalah. Tapi lebih efektif mana? Biar akal sehat Anda yang menjawabnya.

[]

Tulisan lama, reposted.

Advertisements

Aren’t we all?

SUDAH tiga tahun lebih, saya dan enam teman lainnya menulis secara gotong royong di Linimasa.com, sebuah blog keroyokan… dan salah satu sumber kebahagiaan kami adalah komentar para pembaca.

Ucapan terima kasih atau apresiasi, cerita yang turut dibagi, pernyataan tidak setuju sampai luapan emosi, atau sekadar sapaan yang kemudian berubah menjadi percakapan. Semua itu menunjukkan perhatian, kedekatan, bahkan keakraban. Batas atau label penulis dan pembaca menjadi luluh. Aku dan kami berubah menjadi kita.

Itu sebabnya, kolom “Komentar Pembaca” di sisi kanan atas laman Linimasa.com selalu menjadi hal kedua yang saya cek setelah judul tulisan terbaru di sebelahnya.

Dalam tulisan sepekan lalu, ada satu komentar yang menarik perhatian saya.

Am I?” Demikian saya membatin setelah membaca pertanyaan di atas.

Sayang, keduanya merupakan sikap yang cenderung negatif bagi yang bersangkutan. Sehingga apabila memang demikian, saya harus segera mengikisnya. Meskipun bakal membutuhkan waktu sangat lama untuk dapat berubah sepenuhnya.

Apakah saya seorang overthinker? Mungkin saja… dan sejujurnya, menjadi seorang overthinker atau seseorang yang selalu berpikir berlebihan itu sangat melelahkan. Namun sebagai sebuah kebiasaan, sebuah program mental yang seakan berjalan otomatis setelah sekian lama, akan sangat susah mengubahnya.

Apa tanda-tandanya? Ehm… entahlah, apakah sejumlah hal berikut ini juga terjadi pada Anda atau tidak.

    • Khawatir
      Kekhawatiran ini bukan sesuatu yang kosong, melainkan khawatir bakal menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di masa mendatang. Sebagai respons atas kekhawatiran itu, pikiran pun mulai bekerja mempersiapkan segala skenario yang mungkin terjadi, sepaket dengan cara-cara menghadapinya. Termasuk khawatir mengulang kesalahan yang sama di masa depan, jadinya ekstra berhati-hati. Ini capek banget.
    • Ragu
      Sikap ini berkaitan erat dengan kekhawatiran. Lantaran khawatir, lalu kebanyakan mikir, akhirnya bertemu banyak alternatif, ujung-ujungnya ragu. Lantaran ragu, lalu kebanyakan mikir, akhirnya tidak melakukan apa-apa. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Masih mending kalau kekhawatiran dan keraguannya hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi kalau juga terbawa dalam profesi dan pekerjaan, sudah tidak profesional namanya. Ada pihak yang dirugikan selain diri sendiri.
    • Baper (Duh!)
      Ini bahaya banget sih! Ketika semuanya dimasukkan ke dalam hati secara diam-diam oleh pikiran bawah sadar kita. Kita tidak bisa menyadari hal ini, selain dengan ditunjukkan orang lain. Itu pun kalau kita mau terima. Agak kontradiktif dengan apa yang kita percayai dan kita anggap sedang terjadi saat ini.

Komposisi ketiganya itu bikin stres dan susah tidur. Percayalah!

Mengapa saya menjadi seorang overthinker? Pasti selalu ada sebab dari sebuah akibat. Saya pun belum tahu pasti apa yang menyebabkannya.

Saya bisa hanyut dan tenggelam dalam sebuah pemikiran dengan mudahnya, terlebih untuk hal-hal yang dianggap penting dan berdampak besar dalam kehidupan saya, keluarga, maupun orang-orang tertentu. Hanyut dan tenggelam di sini berarti benar-benar terpisah dari apa pun, memikirkan semuanya dari A sampai seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dari 1 sampai tak terhingga. Walaupun tentu saja hal yang tengah dipikirkan kala itu belum kejadian sama sekali. Hahahaha! Goblok sekali! 🤣

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat saya pegang teguh, bahwa hidup ini tidak cuma  tentang saya. Selalu ada orang lain dengan beragam kondisinya. Pemikiran ini yang seringkali berujung pada pertanyaan:

Bagaimana jika apa yang kulakukan ini merugikan atau menyusahkan orang lain? Ini juga termasuk kekhawatiran, lho

To be fair, siapa sih yang mau dibikin susah? Ketika saya tidak suka dibuat susah, apakah adil bagi saya untuk menyusahkan orang lain? Terutama untuk hal-hal yang sekiranya bisa saya kerjakan, tangani, atau hadapi sendiri… and to be honest, setiap orang pasti punya batas kekuatannya masing-masing. Saat beban sudah sedemikian beratnya, pada akhirnya pasti akan minta bantuan juga. Hanya saja, ada yang benar-benar kesusahan sehingga perlu bantuan, tak sedikit pula yang barangkali cuma kaget dan panik, atau malas repot saja.

Nah, demi mengantisipasi hal-hal seperti inilah seseorang bisa menjadi begitu overthinking. Dari yang niat awalnya adalah memikirkan sesuatu secara menyeluruh supaya tidak kaget dan siap, malah berujung pada berpikir yang tidak-tidak.

Tidak ada yang mau jadi seorang overthinker secara sengaja kok, tetapi kejeblos saja. Lalu keterusan.

Sementara itu, akan sangat bodoh bagi saya yang sudah bisa mengidentifikasi dan menulis beberapa hal di atas tentang diri sendiri, namun tidak berusaha untuk menanganinya.

Ada beberapa hal yang tengah saya “latih” sampai sekarang. Misalnya belajar bersikap lebih nekat, mencoba lebih spontan, putuskan dulu pikir belakangan, dan sejenisnya. Saking bersemangatnya, hal ini yang saya tulis dalam profil singkat sebagai kontributor lepas salah satu majalah nasional beberapa waktu lalu, kendati membuat saya terlihat agak vulnerable. 😅

Belum berjalan lancar memang, karena akan selalu ada perang internal antara kubu overthinking dan kubu pemberontak dalam pikiran. Lelahnya dobel, dan makin bikin sadar bahwa ada banyak hal yang mustahil dikontrol. Bikin makin penasaran dengan orang-orang yang hidupnya terlihat effortlessly lancar jaya, dan bisa dengan mudahnya ngapain aja.

Tuh, kan… overthinking lagi. Mesti chill sedikit nih. 😂

Kepindahan ke Jakarta adalah salah satunya. Sudah kepengin dari lama, dan setelah ditimbang-timbang kurang lebih selama setahun, akhirnya terjadi juga. Bagaimana pun keadaannya.

Apakah saya sudah sukses dengan keputusan tersebut? Tampaknya belum. Apakah ada yang disesali? Untungnya tidak ada! Jangan sampai ada. Ya kalaupun ada, bring it on aja, deh!

Keputusan penting ini pasti akan disusul dengan keputusan-keputusan besar lainnya. Namanya juga hidup, pasti selalu bergerak lurus ke depan. Mustahil bisa dibiarkan stagnan begitu saja.

Apakah saya seorang deep loner? Masak sih? Apa kelihatannya seperti itu?

Saat mengetik ini, ada pesan WA yang masuk dari seorang teman. Kebetulan, atau memang betulan? Lagi-lagi, entahlah.

A loner? Basically, aren’t we all? 🙂

[]

Tulisan ini pertama kali muncul di… tentu saja, Linimasa.com

Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”: Buddhis yang Mengafirkan Buddhis Lainnya

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Cuma jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskerta: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha bernama Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Tertinggi). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana/Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup mazhab Tantrayana/Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.

Lazimnya orang kita, kemudian ada yang berceletuk: “Buddha kok begitu?” 😓


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana/Vajrayana
Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.

 

Para Bhiksu Mahayana Indonesia. Source: Tribunnews

 

Para Lama Tantrayana. Source: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi pada beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan terbuka yang dinilai perlu di bawah pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi.

Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, kelompok yang terimbas pun mengungsi ke utara India. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
  • Perselisihan antarkelompok makin tajam. Setiap kelompok menyelenggarakan sidangnya masing-masing.
    Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dicatat untuk pertama kalinya di atas daun lontar menjadi tumpukan Tipitaka, yang apabila dikumpulkan bisa menjadi berjilid-jilid tebal dan memenuhi satu lemari.

    Seluruh bagian Tipitaka dalam terjemahan bahasa Inggris. Source: Wikimedia

    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afganistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) apa pun.
    Tripitaka berisi bahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan (sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya). Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskerta kurang lebih seperti bahasa Latin.

  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu ada kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij yang dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti banyaknya aliran gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Mengapa saya bisa begitu? Sekali lagi, lantaran berpandangan “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar!”

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang pembelajar Buddhisme. Sikap tersebut malah membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego seseorang yang merasa benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja.

Di sisi lain, siapakah saya? Kok bisa yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP. Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Ilustrasi lainnya, tradisi mematungkan Buddha (yang kerap dikira berhala sesembahan) berasal dari berabad-abad setelah kematiannya. Lalu, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Tidak mencerahkan sama sekali.

Hingga detik ini, saya masih seorang pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Wajib bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan, atau menyucikan batin
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi
Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Source: ywsjt.blog.163.com
  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk, dan tujuan sejenis lainnya
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana saja, bahkan kepada sesama. Akan selalu ada yang merasa paling benar.

Sebagai takfiri Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula yang terjadi pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam jenis gerejanya. Keberadaan bigotry tampaknya alamiah, sebagai salah satu fase sebelum tercapainya kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan yang sama bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan isi buku/kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Diisi, dipasangi sesuatu di tengahnya.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita di atas. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan, cabul, dan bikin umat agama lain salah paham terhadap Buddhisme.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!” dan menjelaskan semampunya, kalau ditanya.

[]

Di-posting pertama kali di Linimasa.

Banda: The Dark Forgotten Trail

SUDAH lumayan lama enggak menulis tentang film setelah beberapa bulan terakhir. Bukannya malas menonton di bioskop, melainkan tiba-tiba nyadar aja kalau belum punya kapasitas yang cukup untuk menyampaikan review. Apalagi beberapa waktu lalu sempat baca rangkaian twit dari tokoh perfilman Indonesia berikut.

Sampai akhirnya kepengin menulis tentang film lagi malam ini, yang barangkali lebih cocok disebut aftertaste atas pengalaman menonton, beserta tentang hal-hal terkait lainnya. Sesuai dengan judul rubriknya.


Saya tidak pernah menonton dokumenter di bioskop sebelumnya.

Sebagai film nonfiksi, “Banda: The Dark Forgotten Trail” sebenarnya terasa cukup menyenangkan disaksikan lewat layar lebar, karena memberikan suasana dan ekspektasi berbeda. Penayangannya sendiri jelas memerlukan keberanian dan idealisme yang besar, mengingat dokumenter bukan genre favorit sebagian besar penonton Indonesia.

Secara garis besar dokumenter ini menyajikan informasi sejarah dan sosiokultural mengenai kepulauan Banda, orang-orang yang pernah menghuninya, dan penghuninya saat ini.

Dengan Reza Rahadian sebagai narator, film langsung diawali dengan penuturan tentang buah pala sebagai penentu pentingnya kedudukan kepulauan Banda dalam perjalanan sejarah dunia. Setelah itu, durasi langsung bergulir menjelaskan fase-fase waktu secara runut.

  1. Dari masa pra penjelajahan samudera oleh Spanyol dan Portugis,
  2. Ekspansi bisnis VOC ke Nusantara untuk memonopoli rempah dan persaingannya melawan Inggris dalam menguasai seluruh area kepulauan Banda,
  3. Era penjajahan Belanda dan pemanfaatan pulau-pulau di Banda sebagai tempat pengasingan para tokoh nasional,
  4. Merosotnya popularitas pala,
  5. Gagalnya mekanisme perdagangan pala yang dicanangkan pemerintah, lalu
  6. Fokus kepada kemajemukan masyarakat yang menghuni pulau-pulau besar kepulauan Banda,
  7. Imbas konflik SARA yang menyebar sampai ke kepulauan Banda,
  8. Generasi muda Banda yang enggan pulang dan membangun kampung halamannya,
  9. Harapan dari para pakar sejarah dan ilmu sosial terhadap masa depan Banda.

Dengan tema sespesifik ini, “Banda: The Dark Forgotten Trail” menjadi salah satu materi yang informatif. Membuka wawasan para penontonnya dengan kadar kedalaman memadai supaya cocok ditayangkan di bioskop… dan mungkin lantaran alasan “supaya cocok ditayangkan di bioskop” itu pula, ada beberapa komponen dalam film yang kehadirannya membuat “Banda: The Dark Forgotten Trail” lebih pas disebut semi-dokumenter mengarah ke Art Movie. Lebih niche dan tersegmentasi sih jadinya.

Source: The Jakarta Post

Banyak potongan adegan pendukung narasi yang terkesan ilustratif, tidak terkoneksi langsung dengan yang disampaikan oleh narator maupun narasumber. Namun indah, bahkan ada yang cukup emosional. Yakni ketika memadukan Tari Cakalele sebagai peninggalan budaya, para manusianya dari rentang usia yang lebar, berlatar belakang saksi bisu sejarah.

Termasuk juga cuplikan-cuplikan gambar tanpa manusia yang Instagrammable banget maupun hasil tangkapan drone, atau setidaknya layak menjadi materi penyusun video presentasi seni. Lengkap dengan serangkaian suara latar di sepanjang film, yang membuat saya merasa sengaja dihasilkan dan disusun seperti itu demi mencapai koneksi dengan kata “dark” dari judul.

Dengan demikian, menonton “Banda: The Dark Forgotten Trail” memang menjadi pengalaman baru yang unik, mampu tercerap dan mencerap, serta memberikan sekumpulan gambaran berbeda ketika memaknai nama Banda dari timur Indonesia.

[]

Kultus Berlebihan Pada Bahasa/Bentuk Tulisan

BARU beberapa menit yang lalu sebelum bikin tulisan ini, sempat ngetwit beberapa hal tentang kultus berlebihan pada bahasa dan bentuk-bentuk tulisan. Ketika banyak dari kita mengagungkan satu atau dua macam bahasa beserta tulisannya atas dasar keyakinan pribadi, jauh lebih tinggi daripada fungsi asalnya. Dari seperangkat media komunikasi hasil peradaban, menjadi simbol-simbol yang keramat dan berdaya supranatural.

Akibat terlampau mengagungkan bahasa dan bentuk-bentuk tulisannya tersebut, maka kita pun cenderung menempatkan bahasa dan bentuk-bentuk tulisan yang lain lebih rendah… dan secara disadari atau tidak, memengaruhi sikap sosial dan paradigma kita saat menjalani kehidupan.

Pembahasan mengenai hal ini tentu saja akan lebih sahih apabila disampaikan secara formal oleh praktisi dan akademisi di bidang Antropologi, Sosiologi Budaya, Linguistik, Teologi Umum, kajian-kajian agama dan tafsir kitab suci, serta beberapa bidang ilmu sosial lainnya. Barangkali setelah di-posting di sini, dari platform micro-blogging ke blogging, nanti ada yang bersedia berbagi referensi tentang diskursus ini.

Dimulai dari tweet ini.

Utas atau thread Moments di Twitter bisa dibaca di sini. Juga saya salin dalam posting-an ini supaya gampang dibaca.

  1. Waktu kecil, kira-kira kelas SD, dan pertama kalinya terpapar dengan tulisan Cina, pernah banget merasa kalau tulisan Cina itu “keramat”.
  2. Namanya juga bocah ya, “keramat” di sini mungkin bisa disamakan dengan perasaan kagum/takjub berlebihan tanpa landasan alasan yang kuat.
  3. Beberapa alasan kenapa menganggap tulisan Cina itu “keramat” kurang lebih karena:
    1. Bentuk tulisannya
    2. Cara menulisnya
    3. Komposisi
  4. Gara-gara perasaan “keramat” itu, jangankan waktu melihat lembaran kertas hu yang biasanya kayak di film vampir-vampir Sabtu siang…
  5. …waktu melihat pamflet obat Cina yang full tulisan saja berasanya sudah “whoa!” banget. Akhirnya pamflet disimpan, terus dikumpulkan.
  6. Makin banyak tahu ada berbagai jenis obat Cina, makin banyak juga pamflet yang disimpan. Berasanya kayak mengkoleksi pusaka. 😅
  7. Lucunya, alih-alih memahami apa yang tertulis, tulisan-tulisan Cina itu tetap diperlakukan macam koleksi berharga. Padahal isinya…
  8. …seperti petunjuk penggunaan, jenis gangguan kesehatan yang bisa ditangani pakai obat itu, kandungan, sampai nama produsen dan alamatnya.
  9. Misalnya obat gosok ini. Lengkap dengan “syair ganda”. Padahal mah artinya…
  10. Kanan: “Luka teriris, kena air panas, menghentikan pendarahan, mengurangi sakit.” Kiri: “Terkilir, (enggak paham apa), lebam, masuk angin.” 😂😂😂
  11. Setelah fase mengkoleksi leaflet obat Cina, berlanjut ke fase suka coret-coret menduplikasi bentuk tulisannya. Ada yang dimengerti, ada yang tidak.
  12. Sampai sekarang masih jadi kebiasaan, untuk menyibukkan tangan dan sambil mikir. Padahal mah kalau ngomong bahasanya, masih cetek. 😅
  13. Nah, entah benar atau keliru, fase-fase “mengkeramatkan” tulisan dan bahasa juga banyak terjadi pada orang-orang dewasa. Karena agama.
  14. Mohon diralat ya. Misal seperti beberapa ordo Katolik dengan bahasa Latin, Islam dengan bahasa dan tulisan Arab, Taoisme dengan Hanzi (漢字, tulisan Cina).
  15. “Pengkeramatan” bahasa dan tulisan seperti ini biasanya dilatarbelakangi perspektif tunggal; ada satu bahasa/tulisan yang terpilih/terunggul/termulia.
  16. …dan lagi-lagi, alih-alih memahami bahasa secara kontekstual dan memperlakukan tulisan sebagai pengganti bunyi, banyak yang mengkultuskan.
  17. Pandangan saya, mau pernah dituturkan oleh nabi/buddha/messiah/orang suci siapa pun, bahasa tetaplah produk budaya manusia. Berbatas konteks.
  18. Toh pada beberapa peristiwa ilahiah dalam tradisi agama-agama Samawi/Abrahamic, suara tuhan berbicara dengan bahasa pada masa itu.
  19. Buku-buku kumpulan sabda/firman yang bisa dikategorikan kitab suci pun disusun dengan bahasa pada periode tersebut. Oleh ahli kitab, manusia.
  20. Bayangkan saja, misalnya ada kitab suci dalam bahasa Xhosa, bakal banyak bunyi ketukan lidah, berdecak, dan lain-lain. Tetap saja itu bahasa Xhosa.
  21. Bukan berarti bahasa Xhosa adalah bahasa paling suci atau paling ilahiah di bumi. Seluruh penganutnya bertutur “tok” dan “ckck” saat ibadah.
  22. Jadi, saya agak merasa lucu kalau baca pernyataan seperti dalam tweet-war  ini.

  23. Bagi agama Khonghucu, nama tuhannya adalah 天, dalam agama Hindu direpresentasikan dengan ॐ, dalam Islam yaitu الله, dalam Yahudi: יהוה.
  24. Dari 天, ॐ, الله ,יהוה. Keempatnya adalah tulisan suci bagi masing-masing agama, tapi pada hakikatnya, tetap tulisan. Bisa ditransliterasi. Bukan diterjemahkan ya, tapi dialihbahasakan.
  25. 天 – Tian (dibaca thien), ॐ – Oṃ, الله – Allah (dibaca aw-lah), יהוה – YHWH (Yahweh). Dikeramatkan sedemikian rupa pun, tetap saja semua itu adalah pembunyi.
  26. …dan dengan sikap “mengkeramatkan” bahasa dan tulisan ini, ya menurut saya enggak jauh beda dengan sikap takjub berlebihan pada anak-anak saat mendapati sesuatu yang sangat menarik. Silakan merujuk para prinsip “Mysterium tremendum et Fascinosum” dalam kajian ilmu agama.
  27. …dan karena saya ngetwit kayak begini, dan beberapa di antaranya menampilkan tulisan Allah dalam bahasa Arab, bisa saja ada yang tersinggung.
  28. Alasan tersinggung paling lazim adalah: memperlakukan tulisan pembunyi nama tuhan tersebut dengan tidak sepatutnya, alias penistaan. Hmm…
  29. Padahal, kembali lagi ke kajian teologi umum. Tuhan tidak perlu nama, manusia perlu nama tuhan dalam aktivitas religiusnya, begitu intinya.
  30. …dan sekali lagi, bahasa maupun tulisan adalah media untuk “membekukan” ide. Dari yang lisan menjadi tertulis, bisa dibaca lagi, bisa dipelajari, bisa dipahami.
  31. Bahasa dan tulisan sifatnya netral. Tidak tinggi-tinggi sekali, tapi juga tidak rendah secara alamiah. Saat dijadikan simbol, yo wes, bias.
  32. Coba deh, bagaimana jika di agama kalian masing-masing, nama tuhannya bukan seperti yang sekarang? Bisa berpikir seperti ini, karena… ya berpikir.
  33. Katakanlah, sosok guru dalam Buddhisme bukan disebut Buddha (ini bukan nama, tapi gelar), tapi “Anu”. Ya semua syair Buddhisme akan pakai “Anu”.
  34. Terus, dalam bahasa Indonesia, kata anu identik dengan “anu”, sampai genital sekalipun. Lalu, apakah Buddhis mesti ngamuk merasa terhina?
  35. Pasti ada saja Buddhis yang merasa risi dan terhina, tapi pada dasarnya, “Anu” dalam Buddhisme tadi berbeda dengan anunya Jawa. Hahahaha…
  36. Begitu juga dengan konteks “Cina” dan “Tionghoa”. Awalnya kedua kata itu netral, sampai salah satunya melekat dengan sentimen yang bikin risi dan mengganggu.
  37. Akhirnya, sempat ada gerakan Tionghoaisasi sebutan Cina. Kesannya grandeur gitu ya. Padahal Tionghoa itu dialek Hokkian. Bukan Mandarin, bukan sebutan dalam standar internasional.
  38. Ya pokoknya begitulah. Lebih baik satu syair pendek dipahami, dijalankan, dan memberi manfaat. Daripada seisi buku tanpa mengerti maknanya.
  39. Sebuah twit penutup. Sempat ketemu ini di Path dan Facebook. Harap jangan tersinggung, ini cuma soal bahasa/tulisan.

Kurang lebih demikian.

Sebagai ilustrasi, masih ingat dengan kehebohan penggunaan kata “Allah” dalam Alkitab di Malaysia? Ketika terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu tidak diperkenankan menggunakan sebutan “Allah” meskipun pelafalannya berbeda?

Berikutnya, baik Buddhisme maupun Hindu sama-sama menggunakan sebutan “bhagāva” (kurang lebih berarti; tuanku, junjungan pengabdian, atau Lord) baik kepada Buddha Gotama, maupun kepada figur dewata Hindu. Salah satu kitab suci terkemuka Hindu pun bernama Bhagavad-gītā, berisi syair antara Arjuna dan Krishna.

Kenapa bisa sama? Sebab bahasa adalah produk kebudayaan manusia.

[]

 

Kenapa Kita Selalu Keliru Membaca Ejaan Tionghoa?

PERTANYAAN: Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat membaca tulisan “Sichuan” atau “Shandong”? Bagaimana kamu melafalkannya? Pernahkah penasaran, kalau tertulis “Sichuan” dan “Shandong” kenapa kok sering terdengar seperti “se-cuan” dan “shan-tung”?


Kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang versi terbarunya memuat 127 ribuan entri berupa kata dan frasa dan dirilis pertengahan tahun lalu.

Dalam bahasa Tionghoa, kamus umum terbesarnya adalah 中華字海 (Zhonghua Zihai) yang secara harfiah berarti “Lautan Aksara Tionghoa”. Dinamakan demikian karena Zhonghua Zihai memuat 85 ribuan entri berupa aksara saja.

Berbeda dengan bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa lain yang menggunakan alfabet (kata adalah susunan huruf), setiap aksara bahasa Tionghoa mewakili satu kata dan memiliki bentuknya masing-masing. Komposisi goresannya tidak ada yang sama persis, dan dilafalkan sebagai satu suku kata tunggal. Mau tidak mau, harus hafal bentuk, bunyi, serta maknanya.

Coba tolong dibaca… 😂😂😂

Dengan ini, tentu akan sulit bagi seseorang penutur bahasa lain untuk membunyikan aksara Tionghoa yang ditemuinya. Sehingga diperlukan semacam sistem transliterasi, yakni ketika lafal sebuah aksara Tionghoa ditulis ulang menggunakan alfabet.

Misalnya begini.

  • Tulisan Tionghoa untuk tata krama/sopan santun adalah . Masing-masing bunyinya adalah “li” dan “mao“. Sebagai pelafal bahasa Indonesia, kita menuliskan bunyi kedua aksara tersebut sebagai “li” dan “mao” pula. Lain halnya dengan orang Amerika Serikat, yang barangkali akan menuliskannya sebagai “lee” dan “maw“.
  • Tulisan Tionghoa untuk bunga anggrek adalah . Masing-masing bunyinya adalah “lan” dan “hua“. Akan tetapi, khusus untuk aksara kedua, masih sering kita temui orang-orang yang menuliskannya sebagai “hwa” maupun “hoa“. Hal ini juga yang terjadi pada tulisan “Tionghoa“, menyebabkan banyak orang awam melafalkannya sebagai “ti-yong-ho-wa” alih-alih “tyong-hua“. Kerasa baunya bedanya, kan?

Upaya untuk menyusun sistem transliterasi aksara Tionghoa dengan alfabet latin sudah dimulai sejak awal 1600-an. Begitu pula di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Kala itu, warga Tionghoa yang mendapatkan pendidikan ala Belanda menggunakan ejaan Van Ophuijsen dalam melakukan alih aksara, terutama dalam menuliskan nama. Maka muncullah “Oen” (文) yang dibaca “un” atau terkadang “wen”; “Lie” (李) yang dibaca “li”, bukan “li-e”; “Tjen” (珍) yang dibaca “cen”; “Jong” (楊) yang dibaca “yong”; “Soe” (蘇) yang dibaca “su”; dan sebagainya.

Setelah jurang linguistik ini mulai teratasi, tantangan selanjutnya adalah standarisasi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk membuat tulisan Tionghoa lebih mudah dibaca (oleh penutur bahasa lain) dan dipelajari, orang Amerika Serikat tentu akan kebingungan membaca ejaan Van Ophuijsen. Begitu pun sebaliknya.

Dari sekitar lima sistem transliterasi modern Hanzi (aksara Tionghoa) ke abjad Romawi yang dihasilkan, dua di antaranya digunakan secara global sampai sekarang. Salah satunya–拼音 (Pinyin)–disahkan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok selaku si empunya bahasa sebagai sistem resmi, sekaligus menjadi standar internasional dialek Mandarin.

Sementara sistem yang satu lagi–Wade-Giles–masih bertahan di Taiwan, dan secara parsial di Singapura dan Malaysia. Untuk yang ini, bisa kita kesampingkan dulu ya… ntar tanyain aja lagi.


Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas. Kenapa “Sichuan” dibaca “se-cuan”, dan “Shandong” dibaca “shan-tung”? Kok bisa berubah? Ya beginilah sistem Pinyin, ketika abjad Romawi tidak bisa kita bunyikan seperti dalam mengeja bahasa Indonesia.

Tertulis Dibaca
bi pi
pi phi
di ti
ti thi
ge ke
ke khe
ji ci
qi chi
xi si
zhi che(h)
chi che
shi she(h)
zi ce(h)
ci ce
si se
yan yen

Tabel di atas adalah daftar sederhana untuk ejaan Pinyin yang sering bikin salah baca, serta bisa disesuaikan dengan huruf vokal yang mengikutinya. Kalau ada yang keliru atau kurang, mohon ditambahkan atau dikoreksi ya.

Contohnya seperti ini.

Beijing (北京) → pei-cing
Guangzhou (廣州) → kuang-chou
Yajiada (雅加達) → ya-cia-ta → Jakarta
Sishui (泗水) → se-shui → Surabaya
Sanmalinda (三馬林達) → san-ma-lin-ta → Samarinda
Malibaban (麻里巴板) → ma-li-pa-pan → Balikpapan
Shidouazuo (詩都阿佐) → she-tou-a-cuo → Sidoarjo
Xuexiao (學校) → syue-siao → sekolah
Daxue (大學) → ta-syue → universitas
Qiche (汽車) → chi-che → mobil
Gangbi (鋼筆) → kang-pi → pena
Jiankang (健康) → cien-khang → sehat
Hongbao (紅包) → hong-pao → angpau
Yanjing (眼睛) → yen-cing → mata
Yanjing (眼鏡) → yen-cing → kacamata
Anjing (安靜) → an-cing → tenang
Bokong (撥空) → po-khong → menyediakan waktu

…dan jujur saja, sebagai seseorang yang ndak terlalu bisa ngomong Tionghoa, bagian paling susah adalah “zhi, chi, shi, zi, ci, si” yang bikin lidah keblibet dan bonus muncrat 💩💩💩 Belum lagi soal intonasi atau nada bicara tiap kata. Ujung-ujungnya ya pakai bahasa Inggris juga, agak merasa gagal sebagai seorang keturunan Cina. 😛😛😛

[]

Kartini

APAKAH ‘Kartini’ memang film untuk semua umur?” Pertanyaan itu yang muncul sesaat setelah lampu ruangan studio dihidupkan, Rabu petang lalu.

Tentu tidak ada salahnya bila “Kartini” sekadar dinikmati sebagai sebuah hiburan, atau dijadikan tambahan media pembelajaran sejarah bagi anak-anak. Untuk keperluan tersebut, Hanung Bramantyo dan serombongan orang yang terlibat dalam produksi film ini boleh dibilang cukup sukses. Tinggal nanti dibuktikan dengan total angka penonton sepanjang penayangan. Akan tetapi “Kartini” jelas bukan sekadar itu. Banyak refleksi penting yang tersisa dari film ini, memengaruhi sikap dan opini para penontonnya. Terutama mengenai kemanusiaan melampaui gender. Masih ada ruang untuk terus melakukan penajaman, bukan penggiringan.

Mengisahkan tentang sosok Raden Adjeng Kartini dari sudut pandang yang cukup berbeda dari buku-buku pelajaran dan sumber umum lainnya, film ini enggak cuma mengisahkan tentang sesosok pahlawan nasional wanita asal Jepara. “Kartini” adalah sebuah jendela, sumber konsepsi kemanusiaan yang saking dalamnya sampai-sampai tidak kelar didiskusikan maupun diperdebatkan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kembali ke pertanyaan pembuka tulisan ini, beragam pendapat dan pemikiran langsung berkelebatan dalam pikiran saya sekelarnya menonton “Kartini”.

  • Bagaimana seharusnya perempuan memandang diri sendiri dalam posisinya dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Bagaimana sebaiknya perempuan diperlakukan oleh orang lain, laki-laki maupun sesama perempuan, dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Apakah konsep “Keutamaan Perempuan” (female privileges) yang berjalan saat ini sudah tepat, atau malah rentan disalahgunakan?
  • Bagaimana sebaiknya meninjau konsep “kodrat” pada perempuan? Apa prinsip yang ideal untuk menyusun lingkup batasan mengenai kodrat hidup perempuan?
  • Terlepas kepada tuhan, perempuan sama seperti manusia lainnya yang mesti mempertanggungjawabkan kiprah hidupnya kepada masyarakat. Bagaimana sebaiknya perempuan menyikapi kekakuan maupun perubahan yang terjadi di masyarakat?

Setiap poin di atas memiliki persoalan turuannya masing-masing, yang tentu saja akan dimaknai secara berbeda oleh setiap penonton dari berbagai kalangan usia… yang belum tentu dapat dijawab dengan tepat oleh setiap orang.

Silakan dibayangkan. Ada anak-anak perempuan yang bisa bertanya kepada ibunya, mengapa Kartini dan para saudarinya harus melakukan mlaku dhodok dengan baik dan benar hanya untuk menghadap dan berbicara dengan ayahnya sendiri? Bertanya pula tentang pingitan, pengurungan dalam kamar.

Silakan dibayangkan. Ada remaja-remaja perempuan yang bisa  bertanya kepada ibunya, mengapa di film tersebut ada perempuan yang sudah menikah di usia 12 tahun, dan punya anak di usia 14 tahun? Sementara mereka, di usia yang sama, tengah menjalani kehidupan sebagai siswi sekolah menengah. Diasuh sebagai seorang putri, bukan mengasuh bayi-bayi.

Bisa juga muncul pertanyaan “Memangnya anak cewek boleh enggak menikah ya?” Setelah melihat adegan ketika Kartini (Dian Sastrowardoyo), Roekmini (Acha Septriasa), dan Kardinah (Ayushita) bersenda gurau dan menyatakan dengan gamblang: “Aku ndak mau menikah.” Meski kemudian diikuti dengan alasan tambahan: “Kalau bukan laki-laki yang kucintai, dan kalau sudah punya istri.

Mencoba untuk tidak seksis, anak dan remaja laki-laki pun tentu bisa punya pertanyaan-pertanyaannya sendiri atas apa yang mereka saksikan di layar bioskop. Justru dengan momen inilah, para laki-laki belia tersebut bisa diajarkan tentang posisi antara kedua gender; bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak berlebihan (secara positif maupun negatif); menyadari peran antara keduanya dalam struktur sosial; mengapa pernikahan itu begitu penting bagi masyarakat maupun si perempuan itu sendiri, termasuk mengapa ada orang-orang yang memilih untuk tidak menikah dan bagaimana sikap kita menghadapi pilihan pribadi tersebut.

Anda juga bisa memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan tentang menjalani sebuah hubungan pacaran kepada mereka. Termasuk soal bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap aktivitas berciuman, berpelukan, bahkan yang lebih daripada itu 😅  But I’m serious. You can see the dots, can’t you? Dalam film ini, para priayi digambarkan lumrah beristri tiga dan empat, dan masih menjadi impian sebagian laki-laki untuk bisa seperti itu.

Diperlukan kebijaksanaan, kedewasaan, dan pemahaman yang baik untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan tepat, yang orang dewasa sekalipun seringkali masih kebingungan dibuatnya.

Sesungguhnya, ini menunjukkan begitu kuatnya “Kartini” sebagai sebuah karya. Tak sekadar untuk diiyakan atau ditolak, melainkan untuk dibahas dan menghasilkan kesepahaman yang apik bagi kemanusiaan.

Source: wanitaindonesia.co.id

Di sisi lain, kembali sebagai sebuah judul yang diproduksi sedemikian serius dan intens, “Kartini” adalah film yang serius dan menghibur. Serius, karena didasarkan pada sesuatu yang faktual dan memiliki efek signifikan bagi bangsa Indonesia. Menghibur, karena porsi drama, humor, tidak membosankan, dan kekuatan lakon setiap pemainnya benar-benar terkomposisi sempurna. Namun tetap dengan sejumlah hal-hal remeh yang mengganggu di sana sini. Salah satunya adalah, logat nJawani yang kurang pas. Terdengar lucu (that kind of “lucu”) dan aneh. Hahaha!

Dalam “Kartini”, ada banyak pelakon yang saya favoritkan lewat penampilan mereka. Sesuai peringkat, dimulai dari Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Nova Eliza, Djenar Maesa Ayu, dan Deddy Sutomo. Di luar mereka, sosok Si Mbok yang sepertinya adalah seorang natural entertainer dan Pak Atmo.

Dalam “Kartini” juga, salah satu adegan yang cukup membekas adalah pengajian K.H. Sholeh Darat.

Beberapa hari sebelum menonton filmnya, saya sempat membaca catatan tentang interaksi antara Kartini dan Kiai Sholeh (meskipun tetap perlu dipastikan keabsahannya), dan efeknya sangat luar biasa. Ketika adegan tersebut mulai berputar di layar, tanpa sadar saya menyaksikannya dengan berbinar-binar. Tidak menyangka bagian cerita itu juga ditampilkan, dan menjadi salah satu titik kuat dalam film. ~~~ ah, mungkin subjektifnya saya saja.

Selain plot dan kekuatan cerita, ditambah dengan aspek-aspek produksinya, “Kartini” boleh dibilang merupakan salah satu film yang lebih seru diperbincangkan aftertase-nya. Benar-benar menjadi jendela yang dibuka, dan menunjukkan banyak hal menarik baru. Menyisakan pilihan untuk melangkah lebih jauh atau tidak pada masing-masing pribadi penontonnya.

[]

Paganisme Tradisional Tionghoa & Kearifan Lokal Nusantara

SELAIN peristiwa Bani Israil melebur perhiasan emas lalu dijadikan berhala anak lembu betina~~~ setelah dibawa Nabi Musa menyeberangi Laut Merah menghindari kejaran Firaun, tampaknya bangsa Tionghoa sudah default sebagai salah satu pelaku animisme paling fleksibel dalam peradaban dunia sampai saat ini. Paling luwes, dan paling sinkretis dalam perspektif budaya. Di mana pun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Ada kepercayaan tradisional tentang Dewa Bumi sebagai danyang teritorial. Semacam penjaga atau penguasa lokasi setempat. Bukan penunggu, karena derajatnya tidak sama dengan hantu. Tiap kali ngapa-ngapain, harus diberi tahu dan dikasih jatah. Seperti ketika ingin membangun rumah, pindah kediaman, membuka toko atau tempat usaha, sampai penjaga makam, dan sebagainya.

Dewa Bumi ini populer dengan banyak nama. Kerap dianggap berbeda dengan Fu De Zheng Shen (福德正神) atau Hok Tek Ceng Sin dalam dialek Hokkian, Toapekong (大伯公), maupun Tudigong (土地公) yang secara harfiah merujuk pada sesosok kakek. Padahal sama saja.

Salah satu ciri khasnya adalah altar yang tidak menggunakan meja, melainkan menapak tanah. Sangat mudah dikenali di rumah, toko, atau restoran milik warga Tionghoa.

Salah satu altar Dewa Bumi di sekitar kawasan Petak Sembilan, tepat di pinggir jalan samping sebuah gang.

Dibawa “merantau” ke Indonesia, figur Dewa Bumi pun akhirnya digeser. Tidak berganti, melainkan disejajarkan. Sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari yang awalnya digelari Dewa Bumi Lima Arah Lima Jalan (五方五路土地公), akhirnya mulai bisa dipanggil “Datuk”. Sajennya pun lebih me-Nusantara berupa kopi hitam, dan rokok kretek. Di Cina sana mana pake yang begituan.

Nah, lagi-lagi karena kearifan lokal, segelas kopi hitam, rokok kretek, dan/atau segelas air kembang selalu dipersiapkan setiap Kamis malam. Kenapa malam Jumat? Kemungkinan besar sejalan dengan kepercayaan khas di Indonesia yang sudah lebih dulu ada. Bagi keluarga yang memiliki altar Dewa Bumi, sesajen tersebut akan ditempatkan dalam nampan dan diletakkan di depannya. Apabila tidak punya, nampan cukup diletakkan di tengah atau salah satu sudut ruang tamu.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi, air kembang tadi kemudian disiramkan di depan rumah. Entah apa maksudnya, ataukah hanya kebiasaan yang telah turun temurun saja. Di sisi lain, masih di Samarinda, kadang ditemukan kembang serupa sengaja dihamburkan di persimpangan jalan, terutama daerah padat kendaraan dan rawan kecelakaan.

Seperti ini. Barangkali bisa disebut bentuk paganisme dengan kearifan lokal. Setidaknya yang terjadi, dan terus dilakukan dalam lingkungan keluarga saya maupun orang-orang Tionghoa di Samarinda.

Dari salah satu contoh ini, sinkretisme religius budaya Tionghoa terlihat begitu cair. Ketika ritual yang dibawa dari tanah nenek moyang berubah bentuk, dilokalkan. Kebiasaan menyiapkan air kembang bungkus pada malam-malam tertentu jelas merupakan peniruan, dan akhirnya terus dilakukan warga Tionghoa dengan logika sederhana; “kayaknya bener juga ya…” atau “sudah dilakukan dari dulu-dulu, jangan sembarangan nanti kualat!”

Punya penjelasan tentang kebiasaan malam Jumat seperti ini, boleh dibagi di kolom komentar ya. I would love to know it!

Apakah sinkretisme ini hanya terjadi di Indonesia? Kayaknya tidak. Ada satu Mandir atau kuil Hindu India di Singapura yang bahkan menyediakan hiolo atau tempat menancapkan hio di depan pintu utamanya. Seperti yang sempat saya lihat pada 2008 lalu. Warga Tionghoa setempat pun bisa melakukan penghormatan dengan gaya yang sama seperti di kelenteng. Yakni dengan cara “Cung-Cung-Cep” atau “Acung-Acung-Tancep”.

Dewanya dewa Hindu, ritualnya gaya Cina. Beda rupa, tapi mungkin maksudnya sama.

Begitulah budaya religius Tionghoa, selalu bisa merasuk dengan kearifan lokal di mana berada.

[]

“Dari Hong Kong!”

ENTAH apa korelasinya, yang pasti celetukan ini sudah sangat akrab dilontarkan orang Indonesia dalam obrolan santai saat ingin menampik sesuatu dengan nada jenaka. Salah satu contohnya, lumayan ampuh ketika menolak permintaan (baca: dipalak) teman untuk makan-makan.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI HONG KONG!

Muncul pertanyaan. Kenapa mesti pakai Hong Kong? Apakah kebetulan si penemu ungkapan ini punya kesan khusus dengan kota tersebut, atau gara-gara namanya yang unik dan mudah diucapkan? Lagipula agak enggak enak juga ya, misalnya diganti dengan nama kota dari kawasan Skandinavia atau sekitarnya.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI LLANFAIRPWLLGWYNGYLLGOGERYCHWYRNDROBWLLLLANTYSILIOGOGOGOCH!

Tapi bukan cuma namanya doang sih yang gampang nempel di kepala, Hong Kong sendiri kayaknya memang seberkesan itu. Karena secara pribadi, setidaknya ada tiga hal tentang Hong Kong yang lekat dalam pikiran dan pengin dialami sendiri. Kapan-kapan, kalau ada kesempatan.

  1. Dialek

Pertama kali “berkenalan” dengan Hong Kong justru lewat musik pop dan film saat masih kecil, lalu pelan-pelan menyadari ternyata bahasa yang digunakan terdengar berbeda dengan Mandarin. Ada ciri khas yang mudah dikenali. Kurang lebih seperti logat Ngapak, atau gaya Suroboyan gitulah.

Selain itu, karena sangat menggemari film-film Stephen Chow yang konyol dan absurd, akhirnya membuat dialek Guangdong identik dengan humor. Gampang bikin mau ketawa, walaupun enggak paham artinya. 😅

Kalau begini, sudah kebayang bakal happy banget bisa mendengar dan merasakan dialek Guangdong secara langsung. Dari warung kopi lokal tempat sarapan pagi, di mal-mal setempat, di kelenteng-kelenteng, bahkan cukup dengan berjalan kaki di kawasan Tsim Sha Tsui Promenade yang terkenal itu. Suasana seperti ini tentu enggak bisa didapatkan di Indonesia, sebab mayoritas warga Tionghoa di beberapa kota Sumatera dan Kalimantan berasal dari sub suku berbeda; Hokkien, Khe/Hakka, dan Tiochiu. Bahasa serta logatnya tentu tidak sama.

Tsim Sha Tsui Promenade. Source: ShutterStock
Tsim Sha Tsui Promenade. Source: Shutter Stock
  1. Masakan

Enggak cuma bahasa, cara lain untuk discover Hong Kong like a local tentu lewat masakan-masakannya. Apalagi gaya sajiannya juga tidak terlalu asing untuk lidah kita: ada aneka tumisan, gorengan dengan minyak sewajan (deep fried), kukusan, olahan mi dan nasi, serta Charsiew/chashao alias babi panggangnya.

Dari beberapa pilihan di atas, pengin banget cobain Mi Sapi dari Kedai Kau Kee; Mi Babi Sun Kee yang terkenal karena pakai keju; dan Siu Mei Fan alias nasi campur babi panggang yang populer di Hong Kong. Meskipun, ada makanan apa aja ya sudah pasti mangap. Namanya juga doyan makan. 😂

Dari cerita teman yang ke Hong Kong akhir tahun lalu, Kedai Kau Kee memang terkenal sebagai salah satu destinasi kuliner di sana. Saking ramenya, barisan antrean panjang mengular di depan pintu. Setelah masuk pun, pengunjung benar-benar harus tangkas menentukan pilihan menu yang ingin disantap. Termasuk hanya menerima pembayaran dengan pecahan tidak terlalu besar, katanya.

Tentu saja yang mesti dicoba adalah Mi Sapi andalannya. Dari cerita teman saat itu, potongan daging sapi yang disajikan memang khusus dari bagian berlemak, yang biasanya dari area perut dan lebih cocok dipanggang atau dibuat steak. Tetapi yang ini enggak bikin enek, katanya. Mungkin memang pakai resep dan bumbu rahasia.

Mi Sapi Kau Kee. Source: TripAdvisor
Mi Sapi Kau Kee. Source: Trip Advisor

Lain lagi dengan Mi Babi pakai keju Sun Kee. Sudah bisa ketebak ya, yang namanya mi babi cenderung lezat. Setidaknya dari pengalaman selama ini. Bakal makin gurih kalau ditambahkan keju, tapi tetap dengan cita rasa Asia. Makanya penasaran banget dengan menu satu ini. Googling-googling, lokasinya pun masih di seputaran Tsim Sha Tsui.

Sedangkan Siu Mei Fan juga merupakan menu yang paling sederhana. Practically hanya terdiri dari tiga komponen utama: nasi putih, babi panggang, dan sawi. Ada variasi berupa tambahan bahan-bahan lain, tergantung makannya di mana. Saking umumnya menu ini, kita bisa melihatnya di film-film Hong Kong, khususnya ketika adegan polisi atau siapa pun membeli makanan berkotak styrofoam dan disantap dengan sendok plastik.

Oh ya, pernah nonton film “食神” atau Dewa Masakan yang dibintangi Stephen Chow? Di situ, Stephen Chow memenangkan kompetisi masak dengan menu semodel Siu Mei Fan ini. Isinya ya tetap nasi putih, babi panggang dan bumbu kecapnya, beberapa potong batang sawi, dan ada tambahannya telur mata sapi dengan bagian kuning setengah matang. Dalam film itu, Siu Mei Fan ini dinamakan “黯然銷魂飯” yang kurang lebih bisa diartikan sebagai “Nasi Duka Nestapa”! Di Hong Kong, menu ini umum dijual lho. Makanya mau coba banget!

Kurang lebih begini tampilan
Kurang lebih begini tampilan “Nasi Duka Nestapa”, lucu dan menggoda, kan? Coba bandingkan dengan versi di filmnya. Source: Hexacoto
  1. Apresiasi Budaya Modern

Berbeda dengan dua poin sebelumnya, yang ini bikin pengin “mengalami” Hong Kong dari sudut pandang lainnya. Dari beberapa tempat, ada Hong Kong Museum of Art yang harus didatangi, dan pasti bakalan betah berlama-lama di sana. Pasalnya, tercatat ada sekitar 15 ribuan karya yang ditampilkan di sana.

Sebagai salah satu wajah Asia di mata dunia, pengin lihat bagaimana aksen budaya dan tradisi lokal dipadukan dengan sentuhan seni modern. Selalu menarik melihat kolaborasi, atau fusion antara dua kutub budaya yang berbeda tapi menghasilkan keindahan. Komponennya pun banyak, dominasi warna dan rupa, bentuk khas, sampai aroma.

Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk

Besar kemungkinan, di sana akan menampilkan karya seni modern dan tradisional konservatif secara merata. Bakalan puas-puasin di Hong Kong Museum of Art. Padahal, apabila boleh dibilang, seluruh Hong Kong sendiri pun merupakan bentuk seni. Ada arsitektur, ada kuliner, ada musik, sampai seni sosial dari para warganya.

Kemudian, sepulangnya dari sana, bisa benar-benar bilang… “DARI HONG KONG!” 😀

[]

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK

5 Kekeliruan Jurnalisme tentang Tahun Baru Imlek & Capgomeh

ADA satu pepatah Tionghoa yang cocok dengan kondisi ini; “三人成虎.” Ketika sebuah ketidaktahuan atau kekeliruan akhirnya dianggap sebagai kebenaran, setelah terus menerus disampaikan dari/oleh/kepada banyak orang. Termasuk mengenai Tahun Baru Imlek dan Capgomeh, sampai sekarang.

Dalam konteks ini, jurnalisme populer di Indonesia punya andil cukup signifikan menyebarkan informasi yang kerap keliru. Diawali dengan minimnya pengetahuan dasar para pewarta, seringkali diwarnai asumsi dan generalisasi, lalu pemilihan narasumber “yang penting orang Cina” atau mengandalkan ketokohannya semata demi menghasilkan materi tematik rutin tahunan. Sederhananya, sang wartawan tidak sadar bahwa informasi yang disampaikan narasumber belum tentu tepat. Setelah jadi artikel atau tayangan liputan, kekeliruan itu pun menyebar menjadi wawasan baru bagi masyarakat luas. Termasuk warga Tionghoa sendiri. 😅

Berikut lima pemicu kekeliruan yang selalu ditampilkan di media massa.

  1. Liputan ke Vihara

2824_28
Source: Epaper Kaltim Post edisi 28 Januari 2017.

Para wartawan akan mendatangi vihara untuk meliput persiapan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek. Mengenai ini, ada beberapa hal yang seyogianya dipahami:

  • Vihara adalah tempat ibadah agama Buddha.
  • Agama Buddha berasal dari India, dan akhirnya terbagi dalam beberapa mazhab. Salah satu mazhabnya–Mahayana–berkembang dan menjadi identik dengan Tiongkok. Sampai banyak yang mengira bahwa Buddhisme berasal dari sana.
  • Hanya beberapa sub mazhab Mahayana yang melakukan akulturasi dengan budaya Tionghoa.
  • Tidak semua vihara di Indonesia bermazhab Mahayana, maupun pecahannya.
  • Tidak semua vihara di Indonesia ikut merayakan Tahun Baru Imlek sebagai bagian dari aktivitas spiritualnya. Jadi, jangan heran apabila melihat vihara yang adem ayem tanpa persiapan apa-apa.
  • Vihara berbeda dengan kelenteng, meskipun ada banyak kelenteng yang memiliki sebutan berawalan “vihara” (ulasannya bakal ditulis terpisah deh… kalau ingat). Kelenteng lebih kepada panteon, tempat pemujaan dan persembahyangan kepada dewata Tionghoa. Karena akulturasi dan karakteristik budaya, banyak warga Tionghoa yang memperlakukan vihara Mahayana seperti panteon. Toapekong (大伯公) itu bukan kelenteng, melainkan sebutan untuk Dewa Bumi.
  1. Hari Raya Agama Khonghucu

Ada batas yang rancu antara “budaya tradisional” dan “kepercayaan tradisional” Tionghoa. Dalam hal ini, Tahun Baru Imlek bisa disebut sebagai hari raya budaya sekaligus hari raya keagamaan, tergantung sudut pandang yang digunakan.

  • Pada dasarnya, Tahun Baru Imlek adalah momen permulaan penanggalan agraria. Itu sebabnya Imlek (陰曆) juga kerap disebut sebagai Nongli (農曆), atau penanggalan pertanian dengan tahun baru sebagai penanda dimulainya musim semi. Siklus tanam yang baru. Karena itu juga, Tahun Baru Imlek juga dinamakan dengan (春節) atau Festival Musim Semi.
  • Sebagai hari raya budaya, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan oleh semua warga Tionghoa tanpa dibatasi agama yang dianutnya. Dalam hal ini, merayakan berarti ikut bergembira ria, berkumpul bersama keluarga, saling berkunjung, dan mengadakan jamuan di rumah. Di luar beragam persembahyangan.
  • Sejak awal, ragam ritual yang melekat pada perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari kepercayaan tradisional Tionghoa, dan perkembangannya (animisme purba, munculnya ajaran Tao, munculnya ajaran Khonghucu awal, masuknya ajaran Buddha Mahayana, terjadinya akulturasi agama).
  • Tetap saja, Tahun Baru Imlek bukan termasuk salah satu dari hari raya agama Buddha (Vesak, Asadha, Kathina, Magha Puja). Di Wikipedia juga sudah ada artikel kronologinya, kok. Sehingga para wartawan semestinya tidak susah mencari referensi.
  • Setelah menjadi agama resmi keenam, majelis agama Khonghucu pun kembali mengangkat Tahun Baru Imlek sebagai hari raya keagamaan utama. Sebagai salah satu pembedanya adalah penggunaan istilah Kongzili (孔子曆) yang berarti “Penanggalan Kongzi/Khonghucu” dimulai dari tahun lahir Nabi Kongzi.
  • Selain itu, Tahun Baru Imlek juga dianggap sebagai hari lahir Buddha Maitreya (彌勒佛) atau yang lebih dikenal sebagai Buddha Tertawa. Meskipun disebut Buddha, namun figur ini berbeda dengan Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai pembawa Buddhisme dari India. Buddha Maitreya pun hanya menjadi figur sentral bagi aliran Maitreyanisme dan Ikuandaoisme, sebagai pecahan dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok. Sehingga bagi para umat kedua aliran tersebut, Tahun Baru Imlek juga mereka maknai sebagai momen religius.
  1. Liputan ke Kelenteng atau Vihara di Hari Pertama Tahun Baru Imlek

Bisa jadi lantaran asumsi bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya “agama Tionghoa”, banyak wartawan yang berburu bahan berita ke vihara atau kelenteng di hari pertama perayaan. Pagi-pagi sekali. Dianggap sama seperti Salat Id pada 1 Syawal bakda subuh; misa malam Natal pada 24 Desember malam; misa Natal pada 25 Desember pagi; peringatan Detik-detik Vesak; Melasti sebelum Nyepi, dan sebagainya. Padahal, tidak ada persembahyangan atau ritual khusus Tahun Baru Imlek secara bersama-sama.

  • Tahun Baru Imlek merupakan hari raya keagamaan resmi bagi umat Khonghucu. Tempat ibadahnya bernama Li Tang (禮堂) yang berarti aula kebaktian. Persembahyangan yang formal pasti hanya dilakukan di sana. Ada pun upacara peringatan hari lahir Buddha Maitreya oleh umat aliran tersebut dilakukan di lokasi dan waktu yang terpisah.
  • Sedangkan sembahyang di kelenteng-kelenteng dilakukan oleh warga Tionghoa secara sporadis, bukan berjemaah, dan sebenarnya sama saja seperti kegiatan setiap hari. Akan tetapi jumlah pengunjungnya saja yang lebih banyak. Sebab persembahyangan utama yang mesti dilakukan pada Tahun Baru Imlek adalah kepada leluhur, dan cukup dilakukan pada altar di rumah masing-masing.
  • Di sisi lain, tidak sedikit juga warga Tionghoa yang sengaja bersembahyang di kelenteng pada Tahun Baru Imlek. Kegiatan ini tidak terorganisasi secara khusus, sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri, serta tidak ada ritual khusus. Tak ada bedanya dengan urutan persembahyangan di hari-hari lainnya.
  • Kegiatan utama pada hari pertama Tahun Baru Imlek tentu saja saling berkunjung dalam lingkar keluarga sendiri. Di hari kedua barulah mengunjungi teman dan lingkar pergaulan sosial lain secara luas.
  1. Memilih Narasumber Tokoh Agama Selain Khonghucu

Saat ingin melakukan wawancara, silakan sesuaikan narasumber dengan tajuk yang akan dikemukakan.

  • Saat bertanya kepada pemuka agama Khonghucu, dia pasti akan menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya agama, bukan perayaan budaya.
  • Saat bertanya kepada tokoh aliran Maitreya, dia pasti akan memberikan semacam pesan-pesan moral dan penyegaran rohani agar menjalani tahun baru dengan keinsafan, penuh welas asih kepada semua makhluk, dan diisi dengan perbuatan bajik.
  • Saat bertanya kepada pengurus kelenteng, dia pasti akan menjawab sebisanya. Menjelaskan tentang mitos, legenda, dan makna di balik semua simbol khas dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Saat bertanya kepada tokoh Tionghoa yang bukan penganut Khonghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, maupun Buddhisme Mahayana, dia pasti akan menunjukkan bahwa Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul bersama keluarga tanpa batasan agama.
  • Saat bertanya kepada ahli Fengshui dan Shio, dia pasti akan menjabarkan tentang peruntungan masing-masing lambang astrologi Tionghoa.
  • Saat bertanya kepada kaum muda Tionghoa, ehm… jawabannya ya gitu
  • Saat bertanya kepada generasi kekinian Tionghoa, bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan mengaku tidak lagi merayakan Tahun Baru Imlek. Ini salah satunya. Hahaha!
  1. Capgomeh = Ajang Cari Jodoh

natgeo
Source: Nationalgeographic.co.id. Pewarta National Geographic Indonesia pun “terikut” para narasumbernya dengan menyebut Capgomeh sebagai Malam Mencari Jodoh. Hahaha!

Di berbagai kota Indonesia, Capgomeh seringkali terkesan lebih meriah ketimbang Tahun Baru Imlek. Disebut juga sebagai penutup perayaan. Capgomeh tahun ini berlangsung Sabtu malam nanti.

  • Pada awalnya, belum ada ketentuan yang menentukan bahwa Tahun Baru Imlek dirayakan sepanjang 15 hari.
  • Nama asli Capgomeh adalah Festival Yuanxiao (元宵節), bermula dari salah satu kisah legenda tentang seorang dayang istana bernama Yuanxiao. Capgomeh (十五暝) sendiri kurang lebih diartikan sebagai malam ke-15. Kebetulan saat purnama pertama di tahun baru.
  • Terkait dengan legenda tersebut, Capgomeh juga disebut dengan Festival Lampion. Semua orang turun ke jalan, membuat keramaian, pesta kembang api dan petasan. Meriah! Itu sebabnya Capgomeh akhirnya juga dianggap sebagai bagian terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan di malam hari.
  • Secara khusus, tidak ada persembahyangan atau ritual tertentu dalam melewati malam Capgomeh. Pengurus kelenteng atau Li Tang bisa menyelenggarakan ibadah bersama maupun tidak. Pun bukan dikategorikan sebagai hari raya, melainkan lebih kepada aktivitas sosial kemasyarakatan.
  • Karena keramaian, dan semua orang turun ke jalan, peluang seseorang untuk berinteraksi sosial dengan orang lain makin besar. Tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang ditaksir.
  • Di Indonesia sendiri, banyak kota yang hanya memiliki satu kelenteng. Perayaan Capgomeh pada masa Orde Baru hanya dipusatkan di sana, sehingga meningkatkan kemungkinan para warga Tionghoa kota tersebut untuk saling berkumpul di lokasi yang sama. Selanjutnya, just do the math 🙂

Kurang lebih demikian, lima itu dulu ya. Mudah-mudahan bermanfaat, serta makin banyak konten berita Tahun Baru Imlek dan hal-hal terkaitnya yang lebih tepat di tahun depan.

Oh ya, Selamat Capgomeh!

[]

Tabu dalam Budaya Tionghoa: Sebuah Perspektif

  • JANGAN potong kuku malam-malam, bisa mengundang hantu datang.
  • Jangan menikah dengan seseorang yang selisih usianya tiga atau enam tahun, bisa berujung pada kesialan. Sebaliknya, menikahlah dengan yang selisih usianya dua atau empat tahun agar lebih beruntung dan bahagia.
  • Angka-angka yang dianggap bagus adalah 3, 6, 7, 8, 9, juga kombinasi 18 dan 168. Sedangkan angka yang melambangkan keburukan adalah 4.
  • Jangan melewati garis pintu utama saat menyapu tempat usaha. Sampah atau debu yang disapu dalam ruangan, disekop di dalam. Sedangkan saat Tahun Baru Imlek, tidak boleh menyapu sama sekali.
  • Saat makan buah pir jangan dibagi ke orang lain.
  • Jangan memberi hadiah jam dinding atau jam besar, terutama saat peresmian atau pembukaan tempat usaha.
  • Jangan menangis di Tahun Baru Imlek.
  • Jangan bersiul atau bertetabuhan di malam hari.
  • Jangan membaca buku apabila sedang menjaga toko atau tempat usaha.
  • Jangan makan tidak bersih, atau menyisakan butiran nasi di piring, karena akan membuat si pelaku bakal bersuamikan pria dengan wajah berbopeng-bopeng.
  • Jangan melayat dengan mengenakan busana merah.
  • Jangan datang ke acara-acara bahagia (pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya) dengan busana warna putih atau hitam.
  • Jangan bicara sembarangan, dan ketuk buku jari tiga kali pada meja kayu agar ucapan itu tidak jadi kenyataan. Bisa juga diiringi ucapan “1… 2… 3…” diulang dua-tiga kali dalam bahasa Tionghoa.

Selain hal-hal di atas, masih ada banyak tabu atau pemali lain yang dipercayai warga Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Beberapa di antaranya bahkan cukup populer, sampai-sampai pelaksanaannya diikuti lebih banyak orang. Poin terakhir misalnya, ucapan “yi… er… san…” diganti dengan “choy…” entah apa lah artinya. 😀

Lahir dan tumbuh sebagai seorang Tionghoa di Samarinda–meskipun bukan dalam keluarga yang totok, pemali-pemali seperti di atas sudah diekspose sejak dini dalam kehidupan sehari-hari.

Berbarengan dengan tradisi mitos, etiket kesopanan, dan nilai-nilai sejenis, pemali-pemali tersebut dipegang teguh dan terus dijalankan oleh para tetua konservatif dengan giat. Semuanya diturunkan kepada generasi yang lebih muda, diiringi doktrin bahwa mereka harus ikut melakoninya sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung sekaligus pendidikan karakter. Dalam hal ini, nyaris tidak ada ruang untuk berbantah-bantahan atau berdiskusi. Sebab sikap mempertanyakan, mengkritik, atau menolak melakukannya bakal dianggap sebagai bentuk kekurangajaran. Belum lagi ditambahi ancaman nasib buruk, kesialan, maupun kualat. Sesuatu yang akan dibilang “ya… percaya enggak percaya lah.

Keadaan ini mungkin agak berbeda dibanding yang berlangsung di kota-kota besar pulau Jawa. Sebagian besar warga Tionghoanya relatif lebih sering bersentuhan dengan pola pikir modern, mau menafikan kekakuan demi efisiensi serta efektivitas hidup, atau dalam istilah lain; sibuk dan enggak punya banyak waktu untuk ngurusin yang gitu-gitu.

Bagaimana sebaiknya kita memandang perkara ini? Apakah dengan tetap mempercayai dan menjalankannya, atau malah meninggalkannya?


Saat ini, ada jurang besar antara kaum tua dan muda dalam menyikapi khazanah budaya tersebut. Selalu kita dengar, ketika kaum tua mengeluhkan sikap para anak muda yang mbalelo, kurang sopan santun, minim hormat, dan tidak mengindahkan nilai-nilai (yang dipercaya) sakral.

Padahal, ada alur komunikasi dan reasoning yang terputus, sehingga kedua pihak tidak akan nyambung. Tidak terjadi transfer budaya yang semestinya kaya akan diskusi dan apresiasi berujung kesepahaman atau saling menghormati, melainkan doktrinasi dengan kata sakti: “harus”, “pokoknya”, dan “tidak boleh.”

Di sisi lain, kaum tua yang menjadi pelaku khazanah budaya tersebut juga merupakan “korban indoktrinasi” sebelumnya. Jadi, mereka sudah telanjur memegang teguh semuanya tanpa dibarengi pemahaman tentang anggapan, sugesti, stigma dan prasangka, kebijaksanaan dan filosofi dalam adat. Diperparah dengan ketidakcakapan berkomunikasi, termasuk dalam menjelaskan sesuatu pada kaum muda. Jawaban pamungkas untuk semua pertanyaan adalah: “dari sananya ya begitu, dari zaman engkongmu sudah seperti itu.” Jawaban nanggung dan tidak memuaskan rasa keingintahuan. Apalagi kalau ditambah celetukan “sudah, jangan banyak tanya.

Jarak budaya makin jauh.

Salah satu contohnya, wanita Tionghoa yang baru melahirkan tidak boleh keramas sampai 40 hari setelah persalinan. Bagi tetua yang kolot, pantangan ini sama sekali tidak boleh dilanggar. Padahal, selalu ada alasan dan penyebab dari segala sesuatu, dan siapa saja berhak mempertanyakan alasannya tanpa bermaksud untuk bersikap dramatis.

Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau:

Apakah membasahi rambut juga termasuk keramas? Apabila rambut kena percikan air, disebut keramas?
Bagaimana dengan keramas menggunakan air hangat, dan dilakukan di siang hari yang cuacanya gerah?
Apakah keramas di sini dilakukan sendiri? Bagaimana jika keramas seperti di salon, dan bukan dalam kondisi sekaligus mandi?

Khusus untuk pantangan ini, satu-satunya alasan yang saya reka sendiri adalah, wanita yang baru melahirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Saat mandi sendiri apalagi dengan air sejuk, takutnya bisa jatuh atau pingsan di kamar mandi. Di sisi lain, air dingin yang menyentuh kepala bisa menyebabkan kurang enak badan alias masuk angin. Juga mempertimbangkan kualitas pelayanan kesehatan persalinan puluhan tahun silam. Fair enough, right?

Kalau pengin kreatif, soal mitos dilarang keramas ini bisa dijadikan model activation dalam peluncuran produk dry shampoo atau sampo kering. Minta afirmasi dari tetua untuk menetapkan batasan soal “keramas yang pantang”. Tak mustahil, produk ini dapat dilirik kaum ibu muda yang baru melahirkan tapi sudah sangat gerah dengan rambut bau tak tercuci selama beberapa hari.

Contoh lain, yang agak absurd. Setelah pergi melayat, seseorang dilarang menjenguk orang sakit, bayi yang baru dilahirkan, mendatangi acara pernikahan, mendatangi peresmian tempat usaha atau rumah baru, mendatangi pesta ulang tahun, melakukan kunjungan silaturahmi saat Tahun Baru Imlek, serta berkunjung ke tempat ibadah (terbatas pada kelenteng maupun vihara aliran Mahayana).

Alasan yang lazim soal pantangan ini adalah anggapan adanya aura negatif, kesialan, duka yang melekat pada tubuh orang tersebut. Cara menguranginya dengan membasuh diri menggunakan air kembang sebelum masuk rumah, atau tidak datang ke acara sama sekali. Masuk akal? Tidak, dan terkesan nyeremin. Orang pun takut dan enggan untuk melanggarnya. Di sisi lain, si empunya acara pasti tersinggung berat kalau dikunjungi orang yang habis melayat. Sebab sama artinya sengaja menularkan kesialan. Secara umum, bahkan sangat dilarang untuk mengucapkan kata-kata bernuansa buruk (mati, tewas, hilang, habis, putus, pecah, rusak, dan sejenisnya) dalam setiap acara bahagia.

Terus, apa alasan paling logis soal ini? Bagi saya, adalah ketidaknyamanan sosial. Perubahan emosi yang terlalu drastis bisa memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi seseorang. Setelah bersedih-sedih saat melayat (kecuali kalau sedihnya cuma basa basi sosial doang), kemudian malah harus tertawa-tawa di acara orang lain. Sebab kemurungan itu jelas terlihat di wajah. Sehingga, lebih baik menenangkan diri. Hanya saja, saat pantangan ini dibakukan entah berapa ratus tahun lalu, tidak ada yang menyadari bahwa manusia terus berevolusi dalam berperasaan. Perkabungan tidak lagi berlangsung dalam waktu berbulan-bulan. Setelah melayat tidak bisa datang ke pesta ulang tahun? Ya enggak masalah, ke mal aja, jalan-jalan di sana. Beres perkara.

Kalau ketidaknyambungan ini dibiarkan terus, siapa yang jadi korban? Semuanya. Para orang tua akan lebih sering makan hati, memperbesar potensi alami gangguan kesehatan karena perasaan; para anak muda akan makin jauh dari kesempatan pengalaman hidup yang seru dan jarang-jarang dilakukan, serta cenderung terbiasa dengan perspektif yang dangkal; serta nilai-nilai budaya yang sejatinya unik dan menyenangkan terlupakan, punah.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa terdekat.

Kaum muda identik dengan kepraktisan, pemikiran yang kekinian, tapi tetap punya rasa penasaran, dan mudah digoyang tren. Okelah, dalam penerapan khazanah budaya yang dimaksud di atas, mereka cenderung merasa ribet dengan segala pernik-perniknya, serta dianggap kuno. Namun tetap ada celah untuk setidaknya dibicarakan dalam kemasan yang lebih gaul dan terkini.

Saat ada sekelompok anak muda yang tertarik dan pengin melakukannya reramean, lalu berhasil menciptakan hype baru, maka akan mengundang makin banyak anak muda yang ingin merasakan sensasi terlibat dalam–sebut saja–festival budaya.

Sisi baiknya, selalu ada hipster alamiah dalam setiap golongan. Pasti ada tetua yang berpikiran modern, moderat dalam berpendapat, luwes dalam bergaul dengan siapa saja, dan fleksibel dengan kondisi zaman. Dengan mudah ia menjadi sosok yang disukai kalangan usia lain, nilai-nilai budaya yang pernah ia akrabi kala muda pun bisa dibagikan layaknya topik pembicaraan gaul di kafe keren. Pun ada kaum muda yang tertarik menempatkan diri di posisi para leluhurnya dulu. Bukan untuk memuja-muja masa lalu, melainkan untuk memperkaya wawasan diri, bahkan bisa menumbuhkan ketertarikan orang muda lain untuk “mencicipi”. Lihat saja beberapa program jelajah-jelajah dalam kota, ke kawasan yang biasanya hanya dipenuhi orang-orang tua.

Sebaliknya, tidak sedikit juga ada anak muda yang kadung terindoktrinasi, bertindak jauh lebih kuno ketimbang sekelilingnya, totok parah melebihi zaman. Usia doang yang muda, gaya hidup kelihatannya gaul, pendidikan lumayan tinggi, namun dalam urusan menjalani hidup malah purbakala, dan sok iye banget. Mau ngapa-ngapain harus lihat tanggal dan hari baik, jam bagus, serta menggunakan warna tertentu. Duh, halo…

Khusus buat anak muda yang bersikap seperti ini, titip catatan deh, biarlah cuma cinta yang seringkali tidak pakai logika, jangan sampai menyebar ke hal-hal lainnya. Bila enggak ketemu alasan kuat untuk melakukan sesuatu, coba dikira-kira sendiri. Kalau sudah dibikin-bikin jatuhnya tetap enggak jelas dan tak nyaman, bersikaplah layaknya orang modern.

Juga buat anak muda Tionghoa masa kini, ndak usah sok-sokan melakukan ini dan itu atas nama budaya leluhur kalau nulis dan ngucap nama Cina sendiri aja belum bisa.

[]

Sebutan Dalam Silsilah Keluarga Tionghoa

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, pokoknya jangan sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit juga generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Salah satu contohnya di-tweet teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Saya tidak menganggap fenomena ini sebagai sebuah ancaman, atau kemunduran, melainkan murni karena ketidaktahuan dan putusnya transfer informasi lintas generasi. Lumrah, namun tetap bisa diantisipasi.

Diawali dengan adanya kesenjangan budaya antara tradisi totok di rumah versus pendidikan gaya modern Belanda hingga beberapa dekade silam. Eh, malah keterusan sampai era Orde Baru.

Selebihnya, enggak sedikit pula yang beranggapan bahwa tradisi Tionghoa itu kuno, dan membosankan. Padahal, sebenarnya seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu bergambar sama.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Samarinda, dan beberapa kota lain di Indonesia dari berbagai sub suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja.

Bagan di atas masih jauh dari lengkap, dan bisa saja ada panggilan-panggilan lain yang belum termuat. Kalau ada yang tahu, boleh dibagi ya. Terima kasih.

Bagaimanapun juga, tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, asal jangan sampai lupa dengan keluarga.

Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Tulisan ini juga di-post di Linimasa.