Lovely Man

SAMPAI saat ini, Indonesia masih merupakan negara yang belum ramah dengan kaum transgender atau yang lebih akrab disebut waria.

Sosok waria hanya muncul sebagai bahan lelucon, objek penderita, jenis manusia yang dihindari, anomali sosial, maupun sebagai biang kekacauan ketertiban masyarakat. Namun gambaran berbeda ditampilkan Teddy Soeriaatmadja dalam film “Lovely Man” yang dibintangi Donny Damara dan Raihaanun.

source: centroone.com

Cerita dalam film berbiaya rendah ini, menampilkan rangkaian konflik relasi antara ayah dan anak. Mulai dari kepergian Cahaya (Raihaanun) ke Jakarta untuk bertemu dengan ayahnya, Saiful Herman (Donny Damara) setelah ia dan ibunya ditinggalkan 15 tahun lalu. Tanpa diduga, pertemuan Cahaya dengan ayahnya tidak berakhir seperti yang diinginkan. Cahaya menemukan bahwa ayahnya ternyata adalah seorang Waria Jakarta yang lebih terkenal dengan panggilan Ipuy. Pada bagian ini, penonton yang tercerap dalam cerita bisa ikut merasa bingung seperti yang dirasakan oleh Cahaya. Pasalnya, Cahaya bukan sekadar anak dari Ipuy, melainkan seorang gadis pesantren yang malahan juga memiliki masalahnya sendiri. Dua bagian penting dalam film “Lovely Man” tadi berpadu apik dengan drama-drama lainnya yang muncul bergantian dan tak asing dalam kehidupan keseharian. Semuanya, dikisahkan terjadi hanya dalam waktu semalam, sejak Cahaya hampir tiba di Jakarta hingga akhirnya ia diantar kembali pulang kampung oleh ayahnya di stasiun kereta. Secara durasi, “Lovely Man” hanya berputar selama 70 menit, tak sampai satu setengah jam.

Tanpa melebih-lebihkan sosok Ipuy sebagai seorang waria penjaja cinta, “Lovely Man” menawarkan realitas bahwa seorang banci belum tentu bersikap banci saat menghadapi hidup. Hal ini terlihat dari dialog yang apa adanya. Walaupun sepanjang film, penonton Samarinda mungkin akan terganggu dengan penggunaan kata “gue” dan “lo” oleh Ipuy kepada anaknya. Belum lagi dengan gaya khas waria yang dikuasainya dengan sempurna, plus bahasa-bahasa gaulnya.

Gambar demi gambar ditampilkan dengan apa adanya. Tidak ada gambar adegan yang ditampilkan terlalu lama sebelum akhirnya berpindah ke gambar adegan berikutnya. Bahkan banyak frame yang ditampilkan tanpa dialog, namun memiliki keindahan fotografis dan mampu berbicara tanpa kata. Sedangkan dari segi audio, film yang pertama kali diputar dalam Q! Film Festival 2011 dan awalnya tidak direncanakan untuk beredar secara umum di bioskop-bioskop seluruh Indonesia ini menyajikan detail yang luar biasa.

Aneka suara yang remeh seperti suara anak-anak bermain, suara azan, suara ibu yang membangunkan anak-anaknya, maupun aneka suara lain yang kerap terdengar dalam lingkungan pemukiman padat penduduk memperkaya pengalaman audiovisual penontonnya.

Di sini, akting Raihaanun bisa dibilang tanpa cela. Mengingat kiprahnya yang sempat tenggelam selama dua tahun terakhir, setelah sebelumnya membintangi “Badai Pasti Berlalu” dan sejumlah judul lain. Sedangkan akting Donny Damara, secara mengejutkan membuatnya mampu mengalahkan Andy Lau sebagai “Best Actor” dalam ajang penghargaan “Asian Film Awards 2012”. Selain itu, film ini pun sudah dan masih akan terus diedarkan ke banyak festival film di sejumlah negara.

“Lovely Man” sudah tayang di Samarinda sejak Kamis (10/5) lalu, namun sayangnya dengan jumlah penonton yang masih tidak sampai memenuhi separuh deretan tempat duduk yang tersedia. Saya, menyaksikan film ini dalam studio beserta kurang dari 20 penonton lainnya.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s