Dijajah Siapa?

MENYUSUL Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei lalu, giliran Hari Kebebasan Pers Sedunia diperingati pada 3 Mei kemarin. Pertanyaannya, bebas dari jajahan siapa?

Wartawan bukanlah sekadar pekerjaan. Apalagi cuma untuk sekadar gagah-gagahan.
Akhir April lalu, saya bersama Abdurrahman Amin, SE (kolega redaktur) mengikuti uji sertifikasi wartawan di Banjarmasin. Di sana kami bertemu dengan banyak tokoh wartawan senior nasional yang bahkan sudah seliweran mencari berita sejak zaman Presiden Soekarno.

Dengar cerita dari para tetua, dulu banyak orang yang beranggapan bahwa wartawan bukan profesi sembarangan. Wartawan dianggap sebagai orang-orang pilihan yang tidak hanya sekadar mampu membuat tulisan, namun mampu beri pengaruh kepada pembacanya. Tulisan wartawan seringkali mampu memberikan pengetahuan, mencerdaskan, mengajak berpikir dan merenung, membangkitkan semangat serta mendorong terjadinya perbaikan di masyarakat dalam bentuk kontrol sosial.

Bila pekerja hanya bertanggung jawab kepada perusahaan yang menggajinya, sedangkan wartawan juga bertanggung jawab terhadap masyarakat, para pembaca tulisannya. Tulisan yang baik, memuat kebenaran yang berimbang, dan disampaikan dengan kebijaksanaan akan memberikan manfaat pada khalayak. Sebaliknya, tulisan yang dibuat dengan tendensi dan intimidasi, malah akan membuat banyak orang sakit hati.

Dengan semua kemampuan yang dimiliki, ditambah akses informasi dan jangkauan, wartawan memang bisa disebut sebagai manusia yang paling awal dan paling banyak tahu tentang sesuatu. Lalu, bila ada hal yang ditutup-tutupi, wartawan pula yang harus mencari tahu. Sekali lagi, semua dilakukan bukan semata-mata atas dasar gaji, melainkan dedikasi.

Gambaran tentang profesi wartawan di atas memang terdengar indah. Kenyataannya, kini profesi wartawan seolah hanya sebuah mata pencaharian, itupun masuk kategori kelas yang kesekian. Banyak orang merasa terpaksa melayangkan lamaran untuk menjadi wartawan, ketika sudah putus harapan setelah melamar ke perusahaan lain namun tak kunjung terima panggilan. Bisa ditebak, pelamar tersebut harus diasah lahir batin untuk menjadi seorang wartawan, atau malah “gugur di tengah pertempuran”.

Itu baru satu masalah, belum lagi dengan wartawan yang cuma berlagak layaknya wartawan. Bermodalkan ID Card (kartu tanda pengenal media), atau sok kenal akrab sejumlah pejabat, dengan santainya mereka bisa masuk ke ruangan, lakukan (seolah-olah) peliputan, ujung-ujungnya minta uang dengan berbagai macam alasan. Pejabat yang jadi sasaran pun memberikan, entah dengan ikhlas atau penuh keterpaksaan. “Ini wartawan, bisa bahaya kalau nggak dikasi,” mungkin celetuknya seperti ini.

Baru tiga tahun menggeluti profesi ini, banyak orang yang saya temui di lapangan berkata bahwa wartawan lebih cocok disebut jenis manusia yang harus dihindari; pencari masalah, tukang bikin perkara, penyebar aib, jago todong amplop, pasukan makan gratis, dan aneka predikat kurang menyenangkan lainnya. Miris dengarnya. “Di mana ada wartawan, di situ pasti ada masalah,” celetuk salah satu narasumber. Walaupun tidak sedikit pula orang yang sangat menghargai profesi ini, karena kebetulan mereka kenal dengan wartawan sungguhan, bukan “Wartawan Muntaber” (muncul tanpa berita) atau “Wartawan Demi Ban” (demi imbalan).

Bila Anda wartawan dan merasa gerah dengan paragraf-paragraf di atas, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, Anda alergi dengan pernyataan-pernyataan di atas karena selama ini sudah bertugas secara profesional. Kemungkinan kedua, Anda tersinggung karena memang pernah berkelakuan seperti yang disampaikan dalam pernyataan-pernyataan di atas.

Kembali ke Banjarmasin. Dalam uji sertifikasi wartawan, saya diingatkan bahwa wartawan bekerja dengan kode etik, idealisme, serta semangat untuk terus belajar. Wartawan tidak bekerja secara serampangan, dan karena itu juga wartawan memang tidak sepatutnya diperlakukan tidak profesional dan sembarangan. Namun hal ini tidak berlaku bagi wartawan abal-abal. Karena memang bukan porsinya.

Wartawan profesional menghargai hak setiap orang, termasuk narasumber pemberitaannya. Sehingga apabila ada wartawan yang bersikap sesukanya, bisa jadi dia memang bukan wartawan. Anda pun berhak menolaknya.

Terakhir, musuh utama wartawan adalah kebohongan. Termasuk wartawan bohongan. Jadi, mungkin kebebasan pers dimaknai tidak sekadar bebas dari pemberangusan dan pembungkaman para penguasa dan pihak yang bisa merugikan masyarakat, tapi juga bebas dari aneka rupa kelakuan yang mencoreng profesi wartawan itu sendiri.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s