Extravagant Wedding, Why Bother?

FILM “Twilight Saga: The Breaking Dawn” bagian pertama akhirnya ditayangkan di Samarinda.

Sama seperti tiga film sebelumnya, film ini tetap menjadi komoditas yang – seperti katanya Syahrini – ‘sesuatu banget’, terutama bagi mereka yang secara sukarela merasa hayuk aja jika diombang-ambingkan oleh perasaan (You know what I mean, right?).

Faktanya, film inipun mampu mengombang-ambingkan penontonnya tidak hanya dari jalan cerita, kemampuan akting para pemainnya, namun (obviously) juga dari tampilan fisik mereka. Tidak jarang terdengar celetukan kecil “duh, gantengnya!”, “romantis banget!”, dan lainnya di dalam ruangan bioskop. Tergambar jelas, penonton berimpian untuk bisa mendapatkan “gandengan” dengan profil dan karakteristik yang sama seperti di film, entah mereka masih jomblo atau tidak.

Anyway…

Dari keempat film yang inti ceritanya berkutat pada cinta segitiga yang penuh kegalauan antara manusia, Vampire dan Werewolf ini, “Twilight Saga: The Breaking Dawn” bagian pertama menampilkan bagian yang cukup krusial bagi penonton, khususnya mereka yang selalu kedatangan tamu rutin setiap bulannya. Bagian tersebut yaitu (SPOILER ALERT!!!) pada saat Edward si Vampire yang kemungkinan besar punya hubungan baik dengan agen bedak muka, menikah dengan pacarnya, Bella si cewek cantik namun labil dengan selera asmara yang cukup aneh.

Pada saat rangkaian adegan resepsi pernikahan ditayangkan, beberapa kali saya dengar komentar dari beberapa penonton cewek yang berkata “kok nikahannya di hutan?” atau “tamunya kok sedikit?” atau “kayaknya keren juga kalo nikahan kayak gitu”. Jelas, komentar ini muncul dengan mind-set pembandingan antara resepsi pernikahan yang sering terjadi di sekitar mereka, yang pada umumnya relatif (inget, relatif loh ya) berlangsung lebih pointless, karena hanya terlihat seperti acara kenduri massal, meaningless, karena saking banyaknya embel-embel acara mengaburkan esensi dari perayaan pernikahan itu sendiri, dan emotionless, karena lebih terlihat seperti ajang pamer eksistensi individu maupun keluarga.

Anyhow…

Membandingkan antara dua hal yang sama namun berpijak pada prinsip yang jauh berbeda, bisa dibilang resepsi pernikahan antara Edward Cullen dan Bella Swan memiliki tataran keindahan yang berbeda dibandingkan dengan hajatan besar-besaran yang selama ini sering dilangsungkan di Samarinda.

Sejauh ini tidak ada ketentuan khusus yang mengatur membicarakan tentang seni sebuah perayaan atas ikrar pernikahan. Semua orang, semua keluarga berhak untuk membuat resepsi pernikahan dengan gaya mereka masing-masing. Namun ada baiknya apabila kembali dipertanyakan, “apa sih tujuan inti dari resepsi pernikahan?” Apakah hanya sekadar pemberitahuan kepada sebanyak-banyaknya orang bahwa Anda/anak Anda telah menikah dengan pasangan Anda/anak si dia? Atau jadi ajang untuk memberi makan gratis kepada sebanyak-banyaknya orang yang Anda inginkan? Atau jadi kesempatan untuk mengumpulkan hadiah maupun angpao? Atau jadi bagian dari rencana untuk mengutarakan kepada semua orang bahwa “inilah saya, dan inilah keluarga saya”? Ataukah ingin menjadikannya momen pengingat kepada kedua mempelai bahwa ikrar pernikahan mereka ditandai dengan sejumlah tahapan acara yang membekas di hati? It’s all up to You, apakah ingin sepenuhnya berkonsentrasi kepada sepasang mempelai, ataukah berkonsentrasi kepada nama keluarga dan ‘apa kata orang‘?

Toh kalau memang hanya ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa Anda/anak Anda telah menikah, kenapa ndak sekalian aja pasang spanduk atau baliho besar selama sebulan di simpangan paling strategis di Samarinda (simpang Pahlwan, simpang Tepian Muara, simpang Bhayangkara, simpang Air Hitam, simpang Antasari, dan lainnya). Tampilkan foto pre-wed yang paling cantik, tambahkan dengan desain berupa kata-kata pemberitahuan seperti “Just Married: blablabla and yaddayadda. On Nov 31st, 2011” yang akan dilihat oleh orang sekota Samarinda.

Bandingkan, antara gedung mahaluas yang mampu menampung 2.000 orang dengan sebuah dataran tepi hutan dengan undangan tidak lebih dari 100 orang; antara kelompok musik dengan playlist yang tidak asal memainkan lagu populer karena telah disesuaikan dengan scenery acara resepsi Edward – Bella saat itu dengan band atau artis mahal yang tampil dengan segala kegegap-gempitaannya; prosesi yang tidak bertele-tele dan penuh sentuhan personal dengan acara yang penuh dengan detil namun sepenuhnya bergantung pada kinerja Wedding Organizer dan para pengisi acara. Beberapa di antaranya seperti itu sih.

Yang jelas, secara pribadi, pesta dan segala hiruk pikuk prosedur dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang Samarinda terhadap perayaan pernikahan belakangan ini sudah muncul sebagai sebuah……………………..ehm, ndak enak ah ngomongnya. Karena setelah resepsi pernikahan usai, yang umumnya dibicarakan oleh para undangan adalah

“tadi terlalu banyak orang, ndak dapat tempat duduk”

“makanannya kurang begitu haochi”

“itu tadi siapa artisnya? Kok bajunya seksi betul”

“tuh sih kebanyakan minum, jadi mabok kan. Bikin malu aja”

“pengantin ceweknya make-up di mana? Bagus tuh”

“gaun pengantinnya itu beli atau sewa ya? Berapaan?”

“oh, jadi itu ya besannya? Orang kaya kok mau sama orang biasa?”

dan aneka komentar-komentar fana lainnya.

Kasihan, kalau hasil akhir dari sebuah pesta pernikahan adalah komentar terhadap apapun, selain ketulusan cinta, kekuatan kesetiaan dan komitmen dari kedua mempelai. Padahal justru itulah inti dari dari pesta pernikahan.

[]

nb. Maaf, saya sudah sotoy. Karena saya sendiri belum menikah.😛

One thought on “Extravagant Wedding, Why Bother?

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s