Pembayaran adalah Imbalan

SELALU gegap gempita, setiap kali siswa SMP dan pelajar SMA mendapatkan surat pernyataan lulus Ujian Nasional. Mereka hanyut dalam kegembiraan, dengan beragam bentuk pelampiasannya. Ada yang tawuran, ada yang bikin private party, ada yang liburan ke luar negeri baik sebagai turis borju maupun backpacker, dan sebagainya. Saking gembiranya seolah-olah seperti sudah mencapai surga, sudah mencapai titik finis (ini bukan typo loh ya, kata KBBI sih), sudah ga perlu mengejar apapun lagi, sudah the end. Kondisi yang sama juga dialami oleh para mahasiswa Yudisiawan-Yudisiawati, yang biasanya melewati proses penyusunan skripsi, dan penyajian dengan tertatih-tatih. Pokoknya, merdeka.

Euforia kegembiraan ini bertahan, sampai akhirnya mereka kembali “terjatuh ke bumi” dan menyadari bahwa life’s still going on dan ternyata masih menyimpan segudang hal (terserah ingin disebut apa; masalah, tantangan, tugas, tujuan, dan lainnya) untuk dijalani, kalau masih mau menjalani hidup sebagai manusia.

Salah satu hal yang masih menunggu untuk diajak bersua adalah pilihan bermatapencaharian (anyway, saya bingung kenapa disebut dengan istilah “mata pencaharian”? Apa hubungannya antara “mata”, “pencahar” dan aktivitas untuk mendapatkan penghasilan sebagai nafkah lahiriah?). Intinya, ingin mendapatkan penghasilan dengan cara yang bagaimana?

Waktu SMA, guru pelajaran Ekonomi mengatakan bahwa saya termasuk anak yang, EHEM, cemerlang dalam mata pelajarannya, namun saya masih ingat bahwa penjelasan si guru tentang deskripsi pekerjaan (salah satu materi awal) ga membuat saya terperangah, seperti ketika saya membaca “The Cashflow Quadrant” buku kedua Robert T. Kiyosaki.

Tanpa tendensi apapun, isi dari “The Cashflow Quadrant” yang paling nempel di kepala adalah empat klasifikasi mata pencaharian.

source: infopreneurzip.blogspot.com

E (Employee) – bekerja
S (Self-worker) – wirausaha
B (Business Owner) – pemilik sistem bisnis
I (Investor) – penanam modal

Kenapa saya sebut tendensi? Karena ga lama setelah buku tersebut dirilis dan booming, eh malah lebih banyak dimanfaatkan sebagai senjata para penggiat Multi-level Marketing (MLM) yang menjual konsep Business Owner untuk menarik simpatisan (baca: downline). Padahal menurut saya, para downliners tersebut hanya ada di kuadran Employee (bekerja untuk terus membangun institusi MLM tersebut) atau Self-worker (bekerja untuk diri sendiri dengan sistem dan komoditas yang dipinjamkan).

Ga perlu muluk-muluk membahas soal kuadran mata pencaharian ini deh. Business Owner mesti punya modal atau setidak-tidaknya sistem bisnis, sedangkan Investor mesti punya modal yang banyak. Ga mustahil untuk memiliki salah satu atau dua status tersebut sekaligus, tapi kalau memang belum berkesempatan, ya ga ada salahnya untuk bersikap lebih realistis (tsaaah…).

Dalam urusan mata pencaharian, para lulusan SMA dan sarjana tadi memiliki pilihan default untuk menjadi Employee, bekerja kepada orang lain atau Self-worker, penjaja komoditas baik berupa barang, jasa maupun kemampuan tanpa harus terikat.

Dari apa yang saya alami (walaupun pengalamannya belum banyak-banyak amat), umumnya Employee bekerja sebagai karyawan dan menjadi bagian dari sebuah korporasi, “menjadi mur kecil dari roda raksasa kapitalisme”, kata seorang teman. Sedangkan Self-worker (CMIIW) juga cocok untuk disebut sebagai Freelancer, pekerja lepas nan bebas tanpa batas .

Ga ada yang lebih baik atau lebih buruk di antaranya, yang ada hanyalah kesempatan untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik* antara satu dengan yang lain. Ya misalnya, E punya pendapatan tetap secara periodik sedangkan S mendapatkan pendapatan sesuai dengan order yang dikerjakan. Meskipun demikian, pendapatan E mentok hanya senilai gaji yang tercetak di slip, sedangkan pendapatan S bergantung pada besaran kontrak yang dinegosiasikan sebelumnya. Perbandingan ini akan terus diikuti dengan perbandingan-perbandingan lainnya.

Yang jelas semua pilihan tetap membutuhkan tanggung jawab dan kompetensi. Karena seburuk-buruknya suatu pekerjaan dan usaha perolehan pendapatan, pembayaran adalah imbalan. Jadi tidak perlu pusing berkepanjangan untuk memilih menjadi E atau S, apalagi untuk menjadi B maupun I. Pemilihan yang baik dan tanpa tekanan cenderung membuat kita bekerja dengan lebih nyaman. Pekerjaan yang dilakukan dengan kondisi yang nyaman, cenderung berjalan menyenangkan dan memberikan hasil seperti yang diinginkan. Akhirnya, kita berhak mendapatkan label “Tenaga Kerja Berkualitas” yang berhak untuk mendapatkan bayaran setimpal. Harga diri terjaga dengan cara yang elegan dan wajar.

Jadi, adek-adek lulusan SMA dan sarjana baru, selamat menjalani hidup ya.

[]

One thought on “Pembayaran adalah Imbalan

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s