Looper

MARI kita berandai-andai.

Bagaimana jika teknologi perjalanan waktu benar-benar ada?

Apa yang akan kita lakukan jika bisa kembali ke masa lalu?

Apa yang akan kita ubah?

Pasti akan terasa sangat canggung saat bertemu dengan versi tua diri kita sendiri. Ia yang datang dari masa depan, mungkin dengan membawa segudang penyesalan atas semua kesalahan, dan berharap untuk bisa memperbaiki keadaan.

Khayalan seperti ini diekspose dalam “Looper”. Diterjemahkan dari pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai kebijaksanaan manusia menjalani hidup, menjadi sebuah paduan aksi dan drama sains fiksi minim efek visual.

Film karya Rian Johnson (sutradara sekaligus penulis skenario) yang tayang di Samarinda sejak Selasa (9/10) ini, menggambarkan dunia 32 tahun mendatang. Ketika ada sekelompok orang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran lintas warsa: Looper.

Para Looper bertugas menghabisi orang-orang yang dikirim oleh bos bandit misterius dari masa depan, era ketika teknologi perjalanan waktu sudah bisa digunakan, namun dianggap melanggar hukum. Sehingga hanya para pelanggar hukum pula yang bisa memanfaatkannya. Looper sendiri tidak tahu apa-apa soal teknologi tersebut, yang mereka tahu hanyalah datang ke suatu tempat pada jam tertentu, untuk membunuh siapapun yang muncul saat itu.

Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang Looper yang “produktif” dan “efisien”. Semua berjalan lancar sampai ia mendapatkan calon korban yang bisa kabur setelah lakukan perlawanan. Pria yang seharusnya terbunuh itu adalah dirinya sendiri, yang dikirim dari masa depan (Bruce Willis).

source: popsci.com

Alur cerita bergulir rancak setelah mereka bertemu dan saling berbicara. Tidak hanya sekadar ingin bebas dari “hukuman mati”, terungkap bahwa Joe tua punya misi lain dalam “kunjungan” ke masa lalunya itu.

Sebagai sebuah film action, “Looper” menyajikan aksi tembak-tembakan dan sedikit perkelahian fisik. Hanya saja, tidak banyak ikon berteknologi tinggi yang dimunculkan. Bahkan kebanyakan senjata yang digunakan hanyalah pistol dan senapan konvensional. Satu hal lain yang cukup mengejutkan adalah mata uang yang digunakan, seolah melegitimasi ramalan ekonomi yang kerap seliweran saat ini.

Sisi drama “Looper” justru jauh lebih kuat. Menonjolkan dilema batin, hubungan ibu-anak, serta sikap rela berkorban, dengan penekanan pada dialog dan ritme adegan. Kondisi ini yang mungkin disayangkan oleh para penggemar laga maupun pecandu ketegangan (sampai-sampai terdengar dengkuran salah satu penonton yang seruangan dengan saya). Meskipun demikian, tetap ada banyak adegan dalam “Looper” yang mampu bikin braingasm (at least, for myself).

Dimulai ketika Joe muda dan Joe tua bertemu untuk berbicara. Bagian ini menjadi salah satu favorit, karena diawali adegan yang bikin ngakak lantaran line kocak dari Rian Johnson dibawakan dengan gaya khas Bruce Willis yang cuek (mengingatkan pada aktingnya dalam “Cop Out”, 2010). Kemudian disambung dengan rentetan adegan yang explicitly philosophical dan kontemplatif, lantaran secara gamblang menggambarkan rasa penasaran yang manusiawi terhadap masa depan, serta penyesalan terhadap masa lalu. Dalam bagian ini juga, Gordon maupun Willis tampil dengan mimik, gaya bicara, dan bahasa tubuh yang sangat mirip. Interaksi yang mereka tunjukkan pun begitu memikat.

Selain itu, ada satu bagian cerita yang benar-benar ditampilkan sebagai sebuah loop. Dengan eksekusi yang cerdas, sutradara menggiring pemahaman penonton dengan melihat pengulangan sebuah rangkaian adegan dari perspektif yang berbeda. Sangat menarik.

Di sisi lain, logika penonton sudah dibuat mencak-mencak sejak awal cerita karena cara kerja para Looper yang terkesan paradoks. Apa yang terjadi di masa depan, tidak akan mengubah masa lalu. Namun sebaliknya, masa lalu mampu mengubah masa depan. Lewat prinsip seperti ini, para Looper bakal terus menerus (looping) mengulangi tindakannya.

Menariknya, tidak hanya fokus pada sosok Joe muda (Joseph Gordon-Levitt) dan Joe tua (Bruce Willis), “Looper” juga diisi dengan banyak lakon berkarakter kuat.

source: geeklegacy.com

Setidaknya ada tiga lakon yang menarik perhatian. Mulai dari Kid Blue (Noah Segan), kaki tangan kelompok bandit yang memburu kedua Joe. Di balik keberadaannya sebagai tokoh antagonis tambahan yang bertingkah menyebalkan, sebenarnya Kid Blue tak berbeda dengan seorang anak kecil yang haus pujian dari orang yang dihormatinya.

Ada juga Sara (Emily Blunt), seorang ibu muda yang tobat dari hidup penuh kenakalan dan sedang menjalani kehidupan yang tenang bersama putranya, Cid (Pierce Gagnon). Sara berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari Cid yang sempat ditelantarkannya. Sedangkan Cid, seorang bocah berwajah imut, pintar, namun menyimpan banyak misteri. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam alur cerita “Looper”. Di sini, Pierce Gagnon yang masih berusia lima tahun, mampu berakting watak tanpa cela.

Interaksi antartokohnya pun terjalin dengan apik. Pertentangan antara Joe muda dan Joe tua, simpul-simpul kepercayaan yang tumbuh antara Joe muda dan Cid, ikatan emosional antara Cid dan Sara, termasuk hubungan antara Kid Blue dan pimpinannya. Semua ini menjadikan “Looper” memang lebih cocok disebut film drama sains fiksi, ketimbang film aksi.

Bagi para penggemar sains fiksi, “Looper” menyajikan sesuatu yang berbeda, serta bisa dinikmati meski hanya ditonton sendiri. Namun bagi para penggemar Bruce Willis dengan aksi penuh darah, otot yang mengencang, dan ketegangan berlebih, sebaiknya mengajak teman.

[]

2 thoughts on “Looper

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s