Hotel Transylvania

NOVEMBER ini sepertinya menjadi bulan yang menyenangkan bagi para penggemar film animasi di Samarinda.

Menyusul “Wreck-It Ralph” yang tayang pada minggu pertama (namun sayangnya tak bertahan lama lantaran tergencet “Breaking Dawn – Part 2”), keriaan dilanjutkan dengan “Hotel Transylvania” yang tayang mulai Jumat (23/11) lalu dalam tampilan 3D.

Terselip nama “Transylvania” di dalam judulnya, film animasi besutan Sony Pictures Animation ini jelas mengisahkan tentang drakula. Namun dengan pendekatan cerita yang sangat berbeda.

Dracula (suara diisi Adam Sandler) sangat protektif terhadap putrinya, Mavis (suara diisi Selena Gomez). Saking protektifnya, Dracula bahkan membangun sebuah puri sebagai tempat perlindungan bagi dia, putrinya, dan monster-monster yang terpaksa harus selalu bersembunyi dari manusia.Maklum, manusia dianggap sebagai makhluk jahat dan kejam yang tidak memahami mereka. Dracula sendiri memiliki kenangan buruk dengan manusia dari abad ke-17. Puri itupun menjadi semacam tempat liburan khusus para monster dan keluarga.

Mavis sangat ingin berpetualang dan melihat dunia luar, termasuk soal manusia, yang selama ini hanya diketahuinya dari cerita sang ayah saja. Sebagai seorang remaja (untuk ukuran drakula), ia dijanjikan kebebasan tersebut setelah usianya menginjak dewasa, kurang lebih… 118 tahun! Namun jangan lupa, Dracula adalah seorang ayah yang terlalu protektif. Ia membuat kamuflase sedemikian rupa untuk putrinya.

Hanya saja, setelah ratusan tahun bebas dari jangkauan manusia, Dracula melakukan kecerobohan. Tindakannya membuat Jonathan (suara diisi Andy Samberg), seorang backpacker berusia 21 tahun, masuk ke puri tepat di malam perayaan ulang tahun ke-118 Mavis.

Berbagai cara dilakukan Dracula untuk mengusir Jonathan, semuanya berakhir gagal, dan sempat mengundang kecurigaan. Mau tidak mau, Dracula pun berusaha untuk menyamarkan kehadiran Jonathan sebagai satu-satunya manusia dalam hotel untuk para monster tersebut. Di luar dugaan, Jonathan mampu membuat pesta ulang tahun Mavis menjadi jauh lebih meriah dari biasanya. Dalam waktu singkat, ia disukai semua monster, termasuk empat teman akrab Dracula: Frankenstein (suara diisi Kevin James), The Invisible Man (suara diisi David Spade), siluman serigala (suara diisi Steve Buscemi), dan mumi (suara diisi Cee Lo Green).

source: keepingupwithn.blogspot.com

Interaksi antara Jonathan dan Dracula terus berkembang. Hingga akhirnya konflik memuncak, ketika Quasimodo (suara diisi Jon Lovitz) sang koki, menemukan bahwa Jonathan adalah seorang manusia. Panik dan histeria dari para monster pun terjadi. Sampai pada akhirnya Jonathan harus berkonfrontasi dengan Mavis, yang telanjur jatuh cinta padanya. Kemudian, giliran Dracula yang harus menentukan sikapnya.

Sebagai sebuah film keluarga, “Hotel Transylvania” menyajikan cerita yang dekat sekaligus dalam. Terasa dekat lantaran menggambarkan isu yang kerap terjadi dalam hubungan orangtua-anak, seperti kekhawatiran versus kemandirian, kasih sayang versus kepercayaan, dan sebagainya; lalu terasa dalam lantaran bisa menjadi bahan renungan bagi para orangtua dan anak-anak mereka. Semuanya digambarkan dengan sangat gamblang dalam hubungan antara Dracula dan putrinya. Di sisi lain, penonton juga disentil untuk merenungi kekuatan penerimaan dan keterbukaan dalam plot tentang dilema sang Dracula.

Sedangkan sebagai sebuah film animasi 3D, “Hotel Transylvania” tetap mampu menyuguhkan banyak adegan yang memanjakan mata dan mampu memaksimalkan jalannya cerita (bahkan sukses mengajak penonton ikut mengharu biru). Salah satunya seperti adegan perang meja antara Dracula dan Jonathan, dan adegan ketika Dracula mendapatkan pengamanan dari manusia-manusia penggemarnya. Walaupun demikian, tampilan 3D film yang disutradarai Genndy Tartakovsky ini tidak seberkesan “Madagascar 3: Europe’s Most Wanted”.

Sisi menarik lain dari “Hotel Transylvania” adalah banyaknya detail yang dibuat sebagai parodi atas ikon budaya populer masa kini. Sentuhan tersebut menghasilkan kelakar yang menyegarkan dan cerdas, namun tentu saja dengan penikmat yang terbatas. Beberapa detail favorit saya di antaranya seperti Door Sign di pintu-pintu hotel, maupun desain telepon sekaligus alarm yang ada di dalam setiap kamar tamu.

“Hotel Transylvania” ditutup dengan music scene yang keren (maklum, ada Selena Gomez dan Cee Lo Green sebagai pengisi suara), dan credits title bergaya kartun konvensional yang sangat memikat hati, sampai-sampai membuat banyak penonton bertahan.

“Hotel Transylvania” memang benar-benar cocok dijadikan tontonan sekeluarga.

[]

One thought on “Hotel Transylvania

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s