Tak Bisa Donor Darah Lagi

SAMPAI saat ini, saya tidak pernah melakukan aktivitas yang berisiko. Kecuali sebuah eksperimen yang melibatkan kentut dan kantung plastik bening, satu kali menggantung hati dan perasaan seseorang, serta sejumlah pilihan berinvestasi. Terlepas dari fakta tersebut, saya lumayan suka mendonorkan darah (karena kebetulan belum ada yang menawarkan donor sperma, seperti di Eropa sana).

Kartu Donor Darah Bulukan

Minggu, 25 November lalu, PMI lokal membuka areal donor darah di atrium lantai dasar sebuah mal. Secara spontan, saya yang baru kelar makan siang tampan dan menawan bersama dua orang rekan, langsung ingin ikut setor darah.
Prosedurnya tak ada yang berubah, dan belum ditambah tes-tes lain semisal uji kejujuran atau pengukuran kadar ketampanan. Saya hanya mengisi formulir pendaftaran, menyiagakan kartu donor darah yang sudah lusuh, serta menjalani pemeriksaan umum berupa cek tekanan darah, serta cek kadar hemoglobin. Setelah semua prosedur dilalui, petugas kedua meng-input nomor registrasi pendonor milik saya ke online database. Saya yang sudah kadung menarik lengan baju, mendadak kaget saat petugas nomor dua berkata, “ini enggak bisa donor.” Ia lalu memberikan konfirmasi kepada dokter pemeriksa.

“Besok pagi, Mas datang ke PMI ya, langsung periksa ke petugasnya,” kata sang dokter, sembari mengembalikan kartu donor darah dan formulir yang sudah diberi catatan tambahan “CV + indeterminate” di bagian atasnya. Sejauh yang saya ketahui, indeterminate itu berarti sesuatu yang tidak pasti atau yang belum dapat dipastikan.

Sekadar informasi, beberapa tahun sebelumnya, saya juga pernah mengalami kondisi yang sama (kecuali pada bagian dibubuhkannya coretan “CV + indeterminate”). Kala itu, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saya mendonorkan darah dalam kondisi yang agak kurang fit, sehingga darah saya tidak layak untuk dikelola. Karena pengalaman tersebut, saya mengira kali ini kondisinya serupa.

Pasca “Tusukan” Kedua

Senin, 26 November pagi, saya mendatangi PMI dan langsung menjalani pengambilan sampel darah untuk diperiksa. Tanpa berharap mendapatkan paket pil penambah darah, biskuit, susu cokelat, dan mi instan (lumayan buat snack gratis) seperti biasanya, saya harus menunggu hasilnya pada keesokan hari. Kondisi ini menimbulkan tiga rasa penasaran: Kenapa pemeriksaan darah sederhana tidak bisa dilakukan secara kilat? Apa hasil pemeriksaannya? (dan) Mengapa setiap cewek cantik yang mau digebet selalu sudah punya pacar?

Selasa, 27 November pagi, saya kembali mendatangi PMI, dan kembali menemui si Mas petugas yang sama. Ternyata, dirinya mengatakan bahwa hanya dokter kepala PMI saja yang berhak memberitahukan hasil pemeriksaan. Sayangnya, sang dokter sedang berkegiatan di luar. Semua jurus lobi-lobi, tawar menawar, hingga bujuk rayu dan tujuh kali pertanyaan konfirmasi, berbuah penolakan. Si Masnya persistence sekali, macam diajak balikan sama mantan.

*DEG! Kok malah bikin sport jantung begini sih?*

Akhirnya saya mengalah, menyusul sang dokter yang ternyata sedang berada di acara donor darah sebuah lembaga. Beruntung, ternyata sang dokter lumayan asyik diajak berbicara, dan enggak kaku. Sampai akhirnya beliau bersedia untuk membeberkan hasil pemeriksaan di pojokan yang – enggak terlalu – tersembunyi-tersembunyi amat.

Dokter: “Dari hasil donor darah yang terakhir, kan darahmu tuh diperiksa. Nah, sampai dibawa ke Jakarta juga. Ternyata, dari hasil pemeriksaan sampel darah di PMI Jakarta, darahmu itu DICURIGAI terinfeksi HIV.”

*JEDHYAR!!!*

Mendadak pandangan berkunang-kunang, perut mulas, liur menetes, dan terdengar kidung surgawi dengan suara petikan harpa. (Oke, ini lebay)

Dokter: “Tapi ini baru INDETERMINATE kok. Baru DICURIGAI. Soalnya metode pemeriksaannya dengan tiga reagent. Dua di antaranya menunjukkan negatif, sedangkan satunya menunjukkan hasil yang berbeda (bereaksi, tapi bukan positif). Bisa juga false, hasil pemeriksaannya salah. Jadi ini kamu saya rujuk untuk pemeriksaan di VCT, biar lebih yakin.”

Dokter: “Saya tahu, ini memang nyebelin kok. Wong kita enggak pernah macem-macem, intercourse aja enggak pernah (dalem banget sih nih dokter nyindirnya), pakai jarum suntik bergantian apalagi. Eh, tahu-tahu malah divonis DICURIGAI begini. Yakin aja deh, hasilnya negatif.”

Berbekal surat rujukan darurat yang kertasnya hanya berupa HVS polos hasil minta ke toko ATK di lokasi acara, saya langsung ke RSUD yang ditunjuk, salah satu dari dua RS yang melayani VCT (Voluntary Counseling Test) secara gratis. Tanpa derai air mata, namun dengan hati yang penuh luka dan tanya. Di luar dugaan, ternyata ruang VCT berada di gedung paling belakang dari kompleks RS. Sekadar gambaran, RS itu menyediakan sepeda untuk para pegawainya berpindah dari satu area ke area lainnya. Luas banget.

Sesampainya di gedung yang dituju, dengan wajah polosnya saya langsung menanyakan ruang VCT ke meja perawat resepsionis. Langsung dong ya, direspons dengan ekspresi wajah terkejut campur takut dan sekilas pandangan jijik. Sumpah, tatapan dan air mukanya bikin enggak enak. Mengintimidasi, dan menimbulkan kesan inferior. Seolah-olah mereka berkata “ih, kamu kena AIDS!” Saya pengin menyatakan, tindakan tersebut adalah bentuk tidak profesional dan tidak manusiawinya pekerja medis di sana. Mudahan saya tidak menggeneralisasi.

Syukur, orang-orang di dalam klinik VCT sangat bersahabat (mungkin karena sebelumnya sudah dihubungi oleh sang dokter kepala PMI). Mereka mengantarkan saya bertemu dengan dokter khusus konseling VCT, dalam ruangan terpisah hanya untuk dua orang. Hal ini menjadi prosedur normal sebelum pengambilan sampel darah, untuk memastikan apakah pasien bersedia diperiksa, dan untuk mempersiapkan psikologis pasien atas hasil pemeriksaan yang bakal diterimanya. Iseng googling, ternyata ada beberapa negara di dunia yang memperbolehkan pekerja medis memeriksa darah tanpa persetujuan si pasien, namun tidak di Indonesia.

Dokter konseling: “Ya siapa tahu, kita memang enggak pernah melakukan yang aneh-aneh. Tapi barangkali waktu kita tolong orang kecelakaan, tak sengaja terpapar darah yang terinfeksi. Dan kalaupun ternyata positif, ya pasti Tuhan punya rencana di baliknya. Mungkin supaya kita bisa lebih kuat lagi (menjalani hidup), atau ada hal-hal yang kita tidak tahu.”

*religius sekali ya*

Dalam sesi konseling, saya jelaskan bahwa tidak pernah melakukan aktivitas yang berisiko. Si dokter terlihat yakin, sehingga tanpa berlama-lama lagi, saya langsung ditransfer ke laboratorium untuk pengambilan sampel darah. Tidak hanya sekadar memeriksakan adanya infeksi HIV atau tidak, dokter konseling juga menambahkan item pemeriksaan CD4, yang berfungsi untuk mengetahui antibodi.

Laboratorium ada di area paling depan RS. Sangat jauh. Memberikan cukup waktu untuk merenung sambil ngupil. Sesampainya di sana, darah diambil. And, that’s all.

Dokter laboratorium: “habis ini, Mas kembali ke klinik VCT ya.”

Sesampainya di laut, ku katakan segalanya, kepada karang, kepada ombak, kepada matahari… klinik VCT, ternyata petugas klinik langsung dapat telepon. Ternyata itu dari laboratorium di depan. Ternyata hasilnya bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Mas VCT: “Sebentar ya, saya panggilkan dokter konseling. Soalnya cuma dokter yang boleh memberitahu hasilnya.”

Dokter konseling: “Jadi, hasilnya sudah keluar. NEGATIF kok. Tenang aja.”

Saya: “Ini serius? Tapi kok pemeriksaan yang di PMI bisa INDETERMINATE?”

Dokter konseling: “Ya kan kondisinya dulu dan sekarang berbeda. Siapa tahu waktu itu enggak fit. Jadi bisa bikin hasil yang INDETERMINATE itu tadi. Yang penting sekarang hasilnya NEGATIF. Kecuali kalau kamu mau cari second opinion, barangkali hasilnya beda. Soalnya pemeriksaan PMI biasanya pakai ELISA, jadi lebih sensitif. Kalau di sini kan pakai sistem Rapid Test (dengan mekanisme skema standar WHO).”

*busyet dah! Amit-amit!*

Berbeda dengan pemeriksaan infeksi, hasil tes CD4 baru bisa diambil keesokan harinya.

Rabu, 28 November pagi agak siang, hasil CD4 diberikan dalam amplop tertutup. Setelah dokter lab menyerahkan hasilnya, saya pun menyergap.

Saya: “Dokter, boleh nanya? Kan hasilnya kemarin NEGATIF, tapi waktu sama PMI hasilnya INDETERMINATE? Itu gimana tuh?”

Dokter laboratorium: “Ini hasilnya sudah final kok. Kemarin juga darahnya sudah diuji dua kali, dan hasilnya NEGATIF. Jadi Masnya tenang aja.”

Lembaran tes CD4 yang menunjukkan hasil NEGATIF. Lembaran ini tidak boleh dibawa pulang oleh pasien.
Lembaran tes CD4 yang menunjukkan hasil NEGATIF. Lembaran ini tidak boleh dibawa pulang oleh pasien.

*Fyuuuh ~~~*

Pernyataan sang dokter laboratorium tadi diperkuat dengan bukti pemeriksaan CD4 yang ternyata tak sepenuhnya berisi hasil pemeriksaan CD4.

Mas VCT: “Ini enggak apa-apa kalau saya aja yang buka? Dokternya (dokter VCT) lagi keluar.”

Mas VCT: “Oh, ini bukan hasil CD4. Kalau hasilnya NEGATIF, enggak dicek CD4-nya. Ini, dikosongin. Dan ada keterangan kalau hasil pemeriksaan infeksinya NEGATIF.”

Akhirnya bisa sepenuhnya lega dengan urusan curiga-dicurigai ini. Walaupun demikian, saya sudah di-banned dari urusan donor mendonorkan darah. Regulasi PMI.

PENTING

Kita mungkin sangat risi dan tabu berbicara soal HIV, apalagi mengaitkan diri sendiri dengan virus tersebut. Tapi, sebaiknya lakukanlah pemeriksaan VCT. Apakah Anda termasuk orang yang berisiko atau tidak, lebih baik dipastikan, ketimbang terkaget-kaget kemudian.

Seperti sejumlah analogi yang disampaikan oleh dokter laboratorium di atas, kita mungkin tidak pernah ngewe sembarangan, atau pakai jarum maupun alat cukur dan potong secara berbarengan, tapi siapa duga, siapa sangka, pada saat kita sedang berjalan-jalan di tempat umum, tanpa sengaja terkena paparan darah yang terinfeksi (which is, kemungkinan terinfeksinya memang sangat kecil). Yang jelas, kelegaan atas kesehatan itu tak ternilai harganya.

Di sisi lain, dengan menjalani tes VCT, sedikit banyaknya membuat kita bisa belajar memahami posisi ODHA, belajar memahami betapa tidak nyamannya dikucilkan, tidak nyamannya dipandang dengan tatapan penuh rasa jijik, serta belajar memahami betapa berharganya penerimaan sosial. Setidaknya, kita bisa mengerti betapa pentingnya memanusiakan manusia.

Sekian tulisan ini. Please, be safe. And don’t discriminate.

[]

N.b. Saya sempat ragu saat ingin mem-posting tulisan ini. Karena, jujur, saya takut orang yang membaca tulisan ini, dan mengenal saya secara personal, mengira yang bukan-bukan. Malah bisa menjauhi saya. Prove it wrong, please.

26 thoughts on “Tak Bisa Donor Darah Lagi

  1. Tulisan Anda sangat bermanfaat.
    Jk Anda tidak menuliskan pengalaman Anda ini,mgkn ada orang lain yg bernasib sama dgn Anda malah depresi ketika pertama kali divonis & malah tdk jd tes CVT sama skali.
    Selama kita yakin jalan yg kita tempuh benar & didasari oleh niat yg tulus (terutama bg pendonor darah / apheresis / lainnya) niscaya semuanya solved & resolved pd akhirnya.
    Apalagi Anda telah lbh dr 10 kali mendonor (dari kartu PMI-nya) & berapa jiwa yg mgkn telah terselamatkan.
    Salut & keep writing ! 😀

    1. Terima kasih atas perhatiannya.🙂
      Saya yakin, ada banyak orang di luar sana yang pernah menghadapi hal serupa dan tidak sedikit yang merasa negatif terhadap dirinya sendiri terlepas dari latar belakang mereka masing-masing. Mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat.🙂

  2. saya beberapa tahun lalu untungnya gak divonis HIV sih sama PMI,,tp divonis kena Hepatitis B,,dan smpai skrg saya belum periksa darah ulang,,takut beneran dan saya tentu jg sudah di banned sama PMI😦

    1. Sekadar menyarankan, tak ada salahnya untuk memeriksakan diri. Karena setidaknya ada beberapa hal yg bisa dipastikan:

      1. Supaya lega. Tidak dihantui pikiran macam-macam.
      2. Supaya aman. Mulai menjaga diri supaya orang di sekitar kita tidak ikut terinfeksi (kalaupun hasilnya positif).
      3. Supaya tertangani. Kalaupun hasilnya positif, tindakan medis dan pengobatan bisa diambil sesegera mungkin.
      4. Kalau hasilnya negatif, dengan percaya diri, kita bisa mengklaim bahwa PMI salah duga.

      Tapi bagaimanapun juga, pilihan ada di tangan Mas sendiri. Karena tidak semua orang siap untuk dibikin deg-degan.

      Terima kasih.

    2. Saya mengalami hal yang sama dengan saudara trezegulum. pernah di vonis PMI reaktif (sampai galau pikiran) dan diminta datang ke konseling PMI lantai 2 (kramat Raya) untuk di test karena di curigai hepatitis B. saya jalani 3 kali test ulang sesuai permintaan PMI dalam kurun waktu 6 bulan (Maret -Juni dan September 2013), ternyata hasilnya semua negatif dan terdapat kesalahan pada hasil diagnosa PMI dan saya dinyatakan boleh menjadi pendonor lagi. mungkin di coba dulu tanya ke PMI. mudah-mudahan ada kesalahan seperti saya, kalaupun benar artinya kita harus hidup lebih sehat dan melakukan kebiasaan kebiasaan hidup yang lebih baik, bersih dan sehat.

  3. Trima kasih mas, tulisannya bisa membuat saya lega. Suami saya juga mengalami hal yang sama. Sedangkan kami sendiri baru saja menikah dan posisi saya saat ini sedang hamil. Kami bekerja di lingkup medis dan betapa terpuruk serta terkucilkannya kami dengan vonis demikian. Hasil VCT masih menunjukkan indeterminate. Kami masih merasa was-was. Tapi setidaknya kami masih berharap mendapat jalan yang terbaik terlebih setelah membaca tulisan di blog ini. Keep healthy n keep writing🙂

    1. Terima kasih, untuk kesediaannya berbagi cerita di sini. Saya yakin, semuanya akan baik-baik saja. Jangan sampai digerogoti rasa khawatir.🙂 Doa saya untuk semua hal terbaik bagi Anda, sekeluarga.

  4. Saya juga baru tes hiv kemarin, dan hasilnya indeterminate. Bedanya teknik yg digunakan adalah rapid test. Mudah – mudahan ada kabar baik. Terima kasih mas, ceritanya bermanfaat bagi saya.

  5. thanks banget ya udah nulis ini.ada adik teman yg skit keras sampai baru saja meninggal. dokter analisanya berubah2 sampai terakhir bilang HIV dan bikin keluarganya panik. tapi memang hasilnya tes darahnya belum keluar jadi belum final. Tulisan ini bisa memberi sedikit penjelasan. Thank you .

  6. Agan, ane baru tadi siang ini dapat call dari PMI, mbak-mbak nya bilang kalo darah yang ane donorin itu dicurigai terkena Virus, *JEDHYAR!!!* oleh karena itu ane disuruh dateng ke kantor PMI buat test ulang. Ane ada dikantor sekarang dalam keadaan limbung gan, tapi thanks gan tulisan agan bisa bikin ane senyum dan sedikit lebih tenang.
    Ane akuin sih pada saat ane mau ngedonor ane sedang dalam keadaan stress dan kurang fit karena kurang tidur, dikarenakan kerja ane shifting dan pulang malem saat itu, tapi yang namanya semangat membantu ane asik-asik aja, ga taunya bakal gini. Overall, ane bakal ikutin apa yang agan lakuin gan ane akan datang ke kantor PMI dan ane juga akan test VCT. Thanks berat agan dragonohalim

  7. saya sih baru tadi pagi dapat kabar kalau darah tidak layak dipergunakan karena ada bakteri / virus pada hal sudah beberapa kali dan tidak pernah ditolak😦 bener2 langsung bikin kalut… thanks Bang atas sharenya, jadi saya harus double check dengan lab lain.

  8. masnya keren bgt y,,krtu pmi smpe buduk gt,,brrti udh donor dr lm bgt…… mdh2an ntar tuanya d undang k istana y,,dpet penghargaan 100 kali donor🙂

    sy jg donor sih,,tp hb-nya sering g cukup.kan nunggu seminggu dulu naikin hb,kadang g cukup lg.ujung2nya setaun kdg cm sekali ato 2x.

    ini sy mw nanya,,kmren abis ngobrol ama tmn yg anti donor,,ktanya pmi jualan darah.udah d jelasin panjang lebar duitnya bwt biaya tes2 segala macam ttp g ngerti.namanya org benci pmi y,,pasti gosip2 jelek soal pmi dia khatam.

    dia bilang ada org yg kena hiv krn donor,,ketauannya setelah sekian tahun kemudian.dia g pernah ngapa2in,,trus tb2 dapet aids.stelah ditelusuri trnyta pernah donor.agak g msuk akal sih.tp namanya penyakit horor gt y ttp aja parno.trus jd kpikiran.emg sih jarum yg d pq saat kita donor itu jarum baru dan langsung d buang.tp alat yg ny buat nusuk jari saat kita tes hb itu kan d pq gantian.itu kr2 bisa nularin aids g y??sumpah ini sy jd takut donor.sy sercing g nemu sih brita kyk crita tmn sy itu.tp kira2 aids bs nular dr alat itu g y??kali aja ada pendonor yg g tw klo dy aids periksa hbnya sbelum kita.trus jari kita d tusuk pq alat yg sama,,gmn tuh??

    1. Kartunya memang sudah buduk, tapi ya donor darahnya baru sebatas yang tercatat di sana. Hahaha… Setelah kejadian ini, kan akhirnya saya enggak diperbolehkan untuk donor darah lagi *by system*-nya PMI. Sudah kadung malas juga, karena dicap tidak layak donor.

      Soal kebersihan alat, seingat saya selalu steril dan buka bungkus, sejak pertama kali donor sampai yang terakhir. Baik jarum untuk tusukan singkat dan tabung kecil untuk meneteskan darah (periksa Hb), dan jarumnya. Jadi barangkali itu tetap gosip. Kemungkinan untuk terinfeksi juga lebih besar dari berbagai aktivitas dan kecelakaan lain. Makanya, daripada paranoid, mending tes VCT. Gratis ini.

      Semoga informasinya membantu.

      1. wah jd g bs donor lg y,,kok gt y??pdhal kan udh terbukti aman y……….. harusnya malah d undang donor lg tuh,,utk merayakan klo masnya aman,,sekalian minta maap krn kt udh d bikin deg2an.

        tes vct yg bikin kita diliat mb2 resepsionisnya dengan ekspresi wajah terkejut campur takut dan sekilas pandangan jijik itu??haha,,sy ngebayanginnya aja udh horor…………..

      2. Seingat saya, prosedurnya adalah saya harus datang atau mengajukan bukti bebas masalah ke PMI pusat di Jakarta, supaya status bermasalah yg melekat di saya bisa ditarik kembali. Tapi waktu itu saya masih di Samarinda, dan kayaknya sudah malas merepotkan diri. Jadi mengalir begitu saja.

        Soal sikap perawat yg begitu, ya saya pikir wajar saja meskipun terasa menyebalkan, karena mereka kan juga sudah kadung mengidentikkan tes VCT dengan HIV positif. Sudah jelek duluan *image*-nya. Berbeda dengan tes kedua, yg memang sudah dilengkapi dengan surat rujukan dokter dan di RS berbeda. Lebih bersahabat, lebih manusiawi. Kasuistus.

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s