Rectoverso

RASANYA, baru kali ini saya meninggalkan ruangan bioskop dengan perasaan marah campur getir. Bukan marah lantaran filmnya yang tidak berkenan di hati, atau getir karena duduk nonton sendirian dikelilingi pasangan yang sesekali curi-curi ciuman saat film sedang ditayangkan. Kombinasi dua perasaan yang tidak menyenangkan itu adalah hasil dari duet akting Abang (Lukman Sardi) dan Bundanya (Dewi Irawan) sebagai finale dari cerita “Malaikat Juga Tahu”, sekaligus penutup “Rectoverso”.

Sebagai penonton awam dan belum pernah menikmati “Rectoverso” dalam versi lembaran kertas, omnibus garapan lima sutradara wanita (Marcella Zalianty, Happy Salma, Cathy Sharon, Olga Lydia dan Rachel Maryam) ini memikat dan mudah lekat. Pasalnya, lima cerita pilihan yang diangkat dari antologi karya Dewi “Dee” Lestari tersebut disajikan apik dengan tautan yang wajar dan lembut. Sehingga peralihan antarsegmen yang seolah muncul bersahut-sahutan tidak terasa keroyokan. Diperkuat dengan lagu latar yang menginterkoneksi dengan indah. Salut!

source: selebuzz.com

Bermuara pada satu gundah yang sama, kelima cerita dalam “Rectoverso” berkisah tentang cinta yang tak terutarakan lewat bingkai dan fokus yang berbeda. Semua memiliki kualitas khas masing-masing untuk menjadi yang terfavorit bagi para penontonnya.

Bukan tanpa alasan jika “Malaikat Juga Tahu” menjadi bagian pembuka sekaligus penutup omnibus ini. Bahkan penonton yang paling apatis sekalipun pasti akan tercerap pada cara Lukman Sardi memerankan Abang, seorang pria dewasa dengan autisme yang rajin dan bisa bermain biola. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah indekos berisi tiga orang. Leia (Prisia Nasution) salah satunya. Lewat sebuah insiden, Leia dan Abang menjadi lebih dekat. Sampai akhirnya Hans (Marcell Domits), adik kandung Abang, muncul.

Di segmen ini, kepiawaian para pemainnya tak terbantahkan. Pujian khusus untuk Lukman Sardi yang sangat menjiwai perannya sebagai penderita autisme yang ekspresif, dan cermat pada detail namun minim kata-kata. Kemahiran Lukman Sardi membuat penonton tidak hanya menyaksikan, namun turut merasakan amarah yang meluap lewat tindakan dan erangan pilu.

Dalam “Firasat”, Senja (Asmirandah) adalah seseorang yang memiliki sensitivitas batin khusus. Untuk hal ini, dia berkawan dengan Panca (Dwi Sasono) yang juga memiliki kondisi serupa. Mereka dekat, dan lambat laun kian merapat. Hubungan mereka, yang tak dijelaskan labelnya secara gamblang, kerap dihantui sejumlah pertanda. Hingga akhirnya berujung pada klimaks cerita.

Cerita “Firasat” mengangkat tema yang tak lazim, pun begitu pada ending-nya. Di segmen ini, ada banyak hal filosofis yang ditampilkan, baik secara konteks maupun isi. Selain itu, kejenakaan ala Dwi Sasono tetap tersuguhkan. Menyokong manisnya interaksi dengan Asmirandah yang tampil sebagai gadis berjiwa rapuh, takut, dan kerap mempertanyakan kejujuran. Walaupun pada beberapa bagian, image jenaka Dwi Sasono malah muncul dan sedikit “menodai” perannya.

Lain lagi dengan segmen “Curhat Buat Sahabat”. Bercerita tentang cinta yang tak terucap antara dua sahabat karena penyadaran yang telat: Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo).

Di sebuah kelab, Amanda sudah siap dengan sebotol anggur putih untuk “merayakan” keberaniannya memutuskan sebuah hubungan yang sakit. Ia mengundang Reggie, sahabat yang sudah dikenalnya jauh lebih lama ketimbang para mantan pacarnya. “Perayaan” yang hanya diisi dengan minum dan curhat itu menjadi ajang pengakuan keteledoran Amanda dalam urusan asmara. Di hadapannya, Reggie yang hanya bisa minum seteguk dua teguk pun berperan layaknya mesin pemberi konfirmasi dan pengingat; pemberi konfirmasi apakah Amanda benar-benar siap untuk putus, dan mengingatkan tentang beraneka ragam jenis cowok yang pernah dipacari oleh Amanda. Lewat sebuah kilas balik, satu lagu yang dinyanyikan Amanda di kelab itu, serta segelas air putih, cerita dalam “Curhat Buat Sahabat” berubah menggemaskan. Dalam hati, penonton bisa berseru: “sudah sadar belom sih?!” Meskipun pada akhirnya, penonton tidak mendapatkan (dan tidak perlu mendapatkan) ending yang jelas.

Acha mampu tampil lepas. Sebaliknya, Indra tampil dengan lebih kalem. Koneksi yang mereka jalani benar-benar pas untuk menggambarkan kesederhanaan dalam cinta. Syahdu.

Berlanjut pada segmen “Cicak di Dinding” yang tampil lebih seksi dibandingkan keempat cerita lainnya. Ketika Taja, (Yama Carlos) seniman yang pemalu dan penyendiri, terlibat dalam quickie yang frighteningly-amazing (setidaknya itu yang terlihat dari ekspresi post-coitus si Taja) bersama Saras (Sophia Müeller) yang sensual (OBVIOUSLY!) dan menggoda. Dari eksekusi singkat itu, tersisa sebuah tanda tanya bagi Taja mengenai tato bergambar cicak di tubuh Saras.

Pertemuan kedua kembali berlangsung tanpa rencana namun lebih intens. Hingga akhirnya kembali berujung pada sebuah pertukaran emosi. Sayangnya, Saras yang terlampau berpikiran bebas membuat momen ini tak lebih dari sebuah sesi one night stand belaka. Meninggalkan Taja yang harus rela sakit hati ditinggal sendiri sambil memegang dua cangkir kopi. Di luar dugaan, Taja dan Saras kembali bertemu lewat perantara Irwan (Tio Pakusadewo). Segmen ini ditutup dengan dua konfrontasi, yang salah satunya melibatkan cicak dan maknanya bagi Taja maupun Saras.

Sebagai dua ikon manusia seksi Indonesia, Yama dan Sophia benar-benar menggelorakan segmen ini. Bahasa dan pose tubuh yang mendominasi interaksi mereka mampu membuat jantung berdegup sedikit lebih kencang. Intim dan indah. Meskipun demikian patut diakui bahwa soal ekspresi wajah, Sophia dan Tio lebih nge-blitz dibanding Yama yang cenderung kerap terlihat seolah sedang geram dipendam. Di samping itu, acungan jempol juga patut disematkan untuk skrip yang tak biasa. Karena menampilkan ornamen penjungkir cerita yang menyatukan gairah asmara, cicak, dan cinta. Plus, selamat hanyut dengan lagu latarnya.

Anyway, I love her “cherry-top”. If You know what I mean.😛

Segmen terakhir penuh dengan ungkapan dan ekspresi puitis. “Hanya Isyarat” mengisahkan tentang lima backpackers yang berlibur bersama dengan latar belakang berbeda.

Al (Amanda Soekasah), satu-satunya wanita. Ia sedang jatuh cinta secara maya dengan seorang pria yang hanya bisa ia nikmati punggungnya. Al kerap duduk menjauh, membuatnya terpisah dari keempat kawannya yang lain. Dari kejauhan, Al menikmati perasaannya; menggambar sketsa, dan membangun asa. Hingga suatu ketika, ia bergabung dan ikut berinteraksi dengan yang lain, termasuk Raga (Hamish Daud), pria yang menyandera hati dan pikirannya.

Lewat kisah kiasan tentang keinginan dan keterbatasan, Al berusaha mengungkapkan isi hatinya. Permainan berhasil dimenangkan, walaupun hasilnya membuat Al harus kembali bersahabat dengan keterpisahan.

Satu hal pertama yang menarik dari segmen ini adalah penonton diajak untuk ikut penasaran atas siapa pria yang mencuri hati Al. Di awal dan pertengahan cerita, sang sutradara mengeksploitasi punggung, secara harfiah (dan membuat penonton menebak dalam hati, apakah pria tersebut adalah Bucek Depp, atau Fathir Muchtar). Di samping itu, narasi puitis dari Al memperkuat eksploitasi tersebut. Segmen ini juga banyak dihiasi dengan gambar-gambar indah. Langit, laut, pantai, dan sebuah bar kecil. Puisi yang disuguhkan menjadi audiovisual.

Kelima segmen di atas muncul silih berganti. Terpilin tanpa sekat kasar dan transisi yang bergetar. Lantaran kelimanya dibuat secara terpisah oleh sutradara dan tim yang berbeda, “Rectoverso” memang omnibus yang luar biasa. Saya yakin, Dewi “Dee” Lestari sang empunya karya pun sepakat dengan pernyataan ini.

Dari film yang tayang di Samarinda sejak 15 Februari lalu ini, saya memfavoritkan “Malaikat Juga Tahu” dan “Cicak di Dinding”. Lalu, apa favorit Anda?🙂

[]

Posted from WordPress for BlackBerry.

5 thoughts on “Rectoverso

  1. Curhat buat sahabat & firasat. Dalem, pake banget. *antimainstream kali ya :p, soalnya malaikat jg tahu emg pasti Jeder abis!!!*

    Trus mungkin karna inget video clip yg malaikat juga tahu yg versi Dee, jadi udah kebayang. Apalagi si Abang-nya sama.

    Klo sbg pembaca, sy nunggu firasat, ternyata eksekusinya memuaskan. :’)
    Dan curhat buat sahabat… yah gitu lah🙂

    Tapi keseluruhan film emg bagus :’)))

    Ceri? Upss! :))))))) she’s hot…yeah😉

  2. Malaikat Juga Tahu, Curhat Buat Sahabat, Cicak Di Dinding, Hanya Isyarat, dan Firasat. That’s my chart.

    Mungkin kalau Firasat lebih bermain-main di aspek visual mimpinya yang absurd, bisa menjadi nilai tambah.🙂

    1. Sebenarnya pengin sedikit mengulik soal gambaran mimpi dalam “Firasat”, cuma takutnya jadi spoiler. Padahal di beberapa bagian “Firasat”, tone-nya bagus banget. Macam lihat film yg di-filter pakai Instagram. Hahaha.

  3. […] perlakuan produksi yang sama seperti pada “Rectoverso”, si empunya cerita tidak terlibat langsung dalam proses pembuatan film “Madre”. Berikutnya, […]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s