Bioskop di Samarinda

ENTAH pada 1993 atau 1994, untuk pertama kalinya Papa membawa saya ke sebuah gedung besar dengan tulisan “Mahakama” di pojok kiri atas bagian depan bangunannya. Di sana, saya lihat papa mengantre ke sebuah bilik kaca, lalu ia bilang: “Long, kamu mau makan apa?” Saya ingat memilih sebungkus kacang manis “Mr. P” dan Teh Kotak. Setelah itu, Papa membawa saya masuk ke sebuah ruangan dengan banyak tempat duduk serupa sofa tunggal yang menghadap dinding putih polos. Sofanya terbungkus beledu halus, nyaman, dengan penahan lengan di kanan kirinya. Lebih lembut dari kursi bioskop 21 di Samarinda, dan langsung saya perlakukan seperti kursi tamu di rumah; saya langsung duduk bersandar, bersedekap, sambil mulai menikmati kacang manis “Mr P”.

Setelah duduk, lampu dipadamkan, saya pun mengira bahwa apa yang kami hadapi adalah sebuah televisi raksasa. Anehnya, seingat saya tidak ada perasaan takjub atau kagum secara berlebihan yang muncul saat tayangan mulai diproyeksikan. Saya malah merasa akrab, layaknya bertemu dengan sesuatu yang sudah kita kenal sejak lama. Saya merasa nyaman dan langsung terbiasa.

Film yang saya tonton saat itu adalah “Jurassic Park”. Mengagetkan, mendebarkan, dan bikin takut lantaran sosok dinosaurusnya begitu menyeramkan. Hingga beberapa waktu kemudian, saya baru tahu bahwa gedung itu bernama “bioskop”. Saya langsung jatuh cinta, dan kecintaan itu terus tumbuh sampai sekarang.

Berikut ini adalah artikel yang pernah saya tulis mengenai keberadaan bioskop di Samarinda.

Walaupun saat itu (hingga kini, sebenarnya) Samarinda merupakan kota kecil, ternyata warganya memiliki kecintaan khusus pada film sebagai media hiburan. Bahkan, hingga akhir era 80-an, Samarinda pernah memiliki lebih dari 20 gedung bioskop yang sayangnya kini sudah tak bersisa. Seperti yang dituturkan Sandjaja Kosasih. Ia pernah menjadi Manajer Operasional PT Sakalo dan CV Kalimantan Jaya Film, perusahaan pengelola bioskop-bioskop serta distributor film di bawah korporasi Samalo Group.

“Dulu di Samarinda banyak bioskop dan tersebar di banyak kawasan. Kebanyakan merupakan bioskop tunggal atau bioskop yang hanya memiliki satu layar. Sedangkan beberapa yang besar, memiliki tiga hingga empat layar (multiplex). Salah satunya seperti Studio Mahakama.”

Beberapa bioskop tersebut seperti Wira Guna, Jl Pasundan (Samarinda Ulu), Wisma Citra I di Sengkotek (Loa Janan Ilir) yang kini sudah dirobohkan dan menjadi Trauma Center, Wisma Citra III yang berada di Jl Samanhudi (Samarinda Utara), Bioskop Kaltim yang ada di kompleks Pinang Babaris (Samarinda Kota) dan Air Putih Cinema yang di lokasinya kini telah berdiri showroom Honda Semoga Jaya, Jl Pangeran Antasari (Samarinda Ulu). Selebihnya ada banyak bioskop berlayar tunggal yang kini sudah berubah menjadi bengkel, pasar, balai desa hingga sekadar dirobohkan.

“Masing-masing bioskop bisa menampung sampai 200-an orang dengan harga tiket bervariasi. Mulai Rp1.500 untuk bioskop kelas paling bawah sampai Rp40.000, terutama untuk film Hollywood dan di bioskop yang kelas atas seperti Studio Mahakama. Tapi sejak tahun 1990, sudah banyak yang tutup.”

Berbagai kelas bioskop tersebut dimulai dari yang berbangku kayu panjang hingga yang memiliki tempat duduk pribadi berdesain modern seperti kursi bioskop masa kini. Kala itu, Studio Mahakama menjadi bioskop terbesar dan termewah dengan empat teater. Tempat duduknya juga nyaman serta kualitas suara dengan teknologi Dolby Stereo dengan tujuh pengeras suara yang mengelilingi seluruh ruangan. Tidak hanya itu, Studio Mahakama juga sanggup bersaing dengan bioskop-bioskop di pulau Jawa untuk mendapatkan film Hollywood terbaru. Film pertama Hollywood yang tayang di Studio Mahakama adalah “Robin Hood: Prince of Thieves” keluaran 1991. Film ini tayang pada tanggal yang sama dengan jadwal rilis internasional. Hingga pada masa itu, distribusi rol film menggunakan sistem sebisanya; dititipkan ke pilot dan diambil di bandara, diantar dengan mobil atau motor, bahkan ada yang diantarkan menggunakan perahu ketinting. Untuk promosi dilakukan dengan mobil berpengeras suara yang berkeliling kota sambil membagikan selebaran.

“Orang Samarinda suka nonton film kungfu, film India, film barat dan film Indonesia seperti ‘Warkop DKI’ yang selalu diputar saat hari pertama Lebaran dan malam tahun baru. Semua ditayangkan di beragam kelas bioskop.”

Tenggelamnya bisnis layar lebar di Samarinda mulai terasa sejak era 90-an. Saat itu di Kota “Tepian” Samarinda hanya tersisa dua perusahaan besar yang mengelola bioskop-bioskop dengan banyak ruangan. Selain Sakalo di bawah Samalo Group, juga ada Citra Jaya Film dengan Bioskop Parahyangan (di lokasinya kini telah berdiri Plaza Mulia) sebagai ikonnya. Sedangkan jaringan 21 yang berkiprah secara nasional baru ada di Banjarmasin dan Pontianak. Kedua bioskop besar yang tersisa ini sharing rol film, terutama untuk judul-judul distribusi Motion Picture Export Association of America (MPEAA). Untung jarak antara Studio Mahakama dan Bioskop Parahyangan tak begitu jauh, apalagi dengan suasana lalu lintas Samarinda yang lengang. Sehingga proses estafet rol film antara kedua bioskop ini tidak perlu sampai semendebarkan adegan dalam film “Janji Joni” karya Joko Anwar.

“Tapi sejak tayangan televisi swasta masuk ke Samarinda, bioskop sebagai satu-satunya hiburan kian tergusur dan akhirnya tutup satu persatu.”

Sebelum tayangan televisi swasta mulai dinikmati secara gratis, keberadaan bioskop pun mulai terancam dengan konsep Home Theatre lewat Video Home System (VHS) berkaset tebal, berlanjut dengan kehadiran Laser Disc (LD), dan kian terpuruk setelah VCD dan DVD menjamur. Bioskop Parahyangan menjadi bioskop terakhir yang bertahan di Samarinda, satu-satunya spot tempat booming-nya “Ada Apa dengan Cinta” (A2DC) dan serial Harry Potter pertama yang tayang di sana ketika saya baru menjadi anak SMA. Sampai pada akhirnya, mulai Juli 2002, bioskop jaringan 21 akhirnya dibuka di Samarinda. Bioskop Parahyangan pun resmi ditutup.

Kini, Samarinda memiliki 21 dengan empat ruangan, dan XXI dengan jumlah ruangan yang sama.

Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)

[]

~ In memoriam, Sandjaja Kosasih (2012) ~

3 thoughts on “Bioskop di Samarinda

  1. Waah saya jadi ikut bernostalgia, dari semua nama bioskop lama yg disebutkan, seingat saya hanya di bioskop parahyangan saya biasa nonton, kalo tdk salah pernah nonton Batman Forever, Mighty Morphin Power Rangers, dan 2 film laris (yg untung sempet diputer) AADC dan Harry Potter, hmm jd ngebayangin bentuk bioskop parahyangan waktu itu….:)

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s