Man of Steel

GOYAH tak tentu arah, Clark Kent belia bingung dengan kondisi tak biasa yang dimilikinya. Ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pahlawan berkekuatan istimewa, yang kemudian bakal dinobatkan sebagai pelindung planet bumi serta para penghuninya. Ia hanya ingin menolong, tanpa perlu ditanggapi dengan ketakjuban, kekaguman, maupun keterpanaan, apalagi pujian. Begitulah cara Zack Snyder mencoba untuk meredefinisi sosok Sang Manusia Baja, pada titik yang paling dasar lewat “Man of Steel”.

Berpadu dengan kejeniusan Christopher Nolan sebagai produser, film yang tayang mulai Kamis (13/6) lalu ini berhasil memberikan penggambaran yang lebih mendalam terhadap Superman dari dua sisi sekaligus: sebagai Clark Kent dari Smallville dan sebagai Kal-El dari Krypton. Kombinasi keduanya, boleh dibilang sukses menjadi fondasi bagi generasi masa kini untuk bisa memahami ketokohan Superman, tanpa mengkhianati para fanboy.

Lewat sejumlah detail dan karakteristik penyajian, “Man of Steel” tak hanya menjadi film tentang tokoh pahlawan super yang dilahirkan dalam kolom-kolom komik dan seolah diciptakan untuk beraksi melawan aneka rupa penjahat semata. “Man of Steel” terasa begitu filosofis dalam banyak sisi, termasuk upaya untuk merekonstruksi pemaknaan logo Superman yang selama ini dikenali sebagai huruf kapital “S” dalam bingkai berbentuk permata. Juga terhadap kostum ketat sang jagoan, yang ternyata bukan sekadar untuk pamer lekukan otot doang, namun merupakan sejenis zirah perang yang tentu saja tidak perlu terlihat agak konyol dengan celana kolor yang dikenakan di luar. Meskipun demikian, tetap ada beberapa hal di antaranya yang terkesan kurang pas, terlalu besar, persis seperti jas mahal nan mewah tapi agak kedodoran.

Ketika Jor-El (Russell Crowe) dan istrinya sepakat untuk menyelamatkan putra mereka dari kiamat planet Krypton, ia dan gagasan visionernya berharap agar sang anak mampu menjadi penyelamat, atau setidaknya menjadi orang penting di planet lain. Seolah sudah mampu menebak penyelamatan seperti apa yang nantinya diperlukan. Berbekal idealisme itu, ia berhasil mengirimkan putranya, Kal-El ke planet antah berantah beserta sumber peradaban bangsa Krypton. Sebagai konsekuensi, tindakan nekat Jor-El membuatnya terpaksa harus bertempur melawan mantan rekannya sendiri, General Zod (Michael Shannon). Antagonis dengan political-will kiri yang kelak akan berhadapan dengan Kal-El dewasa.

Di planet bumi, bayi Kal-El ditemukan dan dirawat oleh pasangan Kent (Kevin Costner dan Diane Lane). Sejak itu, namanya berubah menjadi Clark Kent. Bagian ini, dikenal salah satu trademark penting dalam cerita maupun pengembangan franchise-nya.

Jonathan dan Martha menjadi orangtua asuh yang sabar dan bijaksana, terutama dalam masa-masa sulit Clark Kent muda (Cooper Timberline) yang merasa berbeda dengan teman sebayanya serta kerap terganggu dalam proses adaptasi fisiknya. Lalu ketika Clark Kent remaja (Dylan Sprayberry) mulai mempertanyakan jati diri dan dihadapkan dengan pilihan untuk menjadi petani seperti ayahnya, atau menjadi individu dengan tujuan hidup yang baru dan sepenuhnya misterius. Pada bagian ini, Jonathan mengajarkan Clark untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa, termasuk dalam merespons emosi dan mengendalikan kekuatannya. Hingga akhirnya, Clark Kent dewasa (Henry Cavill) benar-benar siap untuk menerima kenyataan bahwa dia memang bukan sekadar penduduk biasa (alien, for his gentle reminder) dan sanggup menjalaninya dengan kode moral ala manusia bumi, meskipun tahapan ini harus dilewati dengan sebuah pengorbanan besar.

Menariknya, setelah momen tersebut, penonton akan dihadapkan dengan gambaran baru masa hidup Clark Kent yang selama ini belum pernah dimunculkan dalam film-film Superman sebelumnya. Ada rentetan peristiwa dan kejadian yang dialami Clark sebelum ia akhirnya memutuskan untuk jadi wartawan di The Daily Planet, not to mention: the marvelous opening scene. Bahkan pilihannya untuk menyamar dengan profesi itupun memiliki alasan tersendiri.

Salah satu peristiwa yang dilalui Clark mengantarkannya lebih dekat dengan asal usulnya (even his encouter with the long-prepared skin-tight suit, and… a shaver, perhaps), sekaligus menghadirkan sosok Lois Lane (Amy Adams). Namun tanpa disangka, peristiwa yang sama juga membuat Clark harus berhadapan dengan General Zod dan pasukan setianya.

source: blogs.canoe.ca

Duet maut Zack Snyder-Christopher Nolan membuat kita mudah mendeteksi jejak tangan dingin mereka dalam “Man of Steel”. Ada banyak adegan yang diambil dari sudut pandang “saksi mata” atau seolah disaksikan dari kejauhan dengan gaya blur-to-focus, salah satu ciri khas Zack Snyder. Termasuk pada bagian pertempuran epik yang memorak-porandakan Kota Metropolis dengan teknologi efek visual yang luar biasa cermat. Sementara sentuhan Nolan membuat “Man of Steel” terkesan agak temaram, jika boleh disebut tidak se-dark karya-karya sebelumnya. Lantaran Nolan lihai mengeksplorasi sisi manusia dari Kal-El, sekaligus sisi superhuman dari Clark tanpa terlalu hanyut dalam dilema batin sang tokoh utama. Di sisi lain, lewat interpretasi mereka berdua pula, Superman dalam “Man of Steel” benar-benar digambarkan sebagai makhluk super. Mampu bertempur dengan kaliber gila.

source: thesportshero.com

Dari sisi pelakon, “Man of Steel” sangat pantas untuk dihujani pujian. Terlebih untuk penampilan Kevin Costner dan terutama Diane Lane yang mampu melecutkan percik ikatan emosional yang kuat dengan sosok anak angkatnya hingga akhir cerita. Sementara itu, Amy Adams yang terlihat agak gemukan, lebih terlihat sebagai rekan Superman karena mampu bertindak cekatan pada beberapa bagian penting. Mungkin sebagai efek samping dari cerita. Sayangnya, seolah ada missing link dalam posisinya sebagai teman intim sang jagoan.

source: businessinsider.com

Di sisi lain, Michael Shannon mampu terlihat bengis sebagai tokoh antagonis. Meskipun terkesan dipaksakan. Bisa jadi, Shannon terpilih sebagai General Zod gara-gara ekspresi wajahnya saat mendelik, yang mengingatkan kita dengan wajah tokoh jahat dalam versi komik. Akan tetapi, kebengisan Shannon mampu dibayangi oleh Antje Traue sebagai Faora-Ul, salah satu anggota pasukannya. Pasalnya, sebagai seorang tokoh jahat kelas dua dalam cerita, Antje menggambarkan Faora yang benar-benar memiliki alasan kuat atas tindakannya, serta wajah yang cantik namun kejam dan dingin. Sedangkan tindakan General Zod malah terkesan seperti seorang mantan petinggi politis-militer yang mengalami post-power syndrome.

Save the best for the last. Henry Cavill sang Superman, mampu tampil lepas dari asosiasi para seniornya. Secara fisik maupun penjiwaan, ia sukses menjadi Superman masa kini. Sesuai arahan cerita, dalam film ini penonton akan lebih banyak bertemu dengan Clark Kent yang tidak perlente apalagi elegan. Plus tanpa sejumput rambut di depan dahi yang pernah menjadi tren sejak tahun 70-an. Tak ketinggalan, kemampuan Cavill meluapkan emosi menunjukkan sisi berbeda dibandingkan Superman-Superman pendahulunya. Semua menjadi komposisi yang pas untuk menghasilkan rebooted masterpiece.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s