The Hobbit: The Desolation of Smaug

SAYA masih ingat betapa menjengkelkannya ending “The Hobbit: An Unexpected Journey”, film pertama dari trilogi pendahulu cerita “The Lord of The Rings” (TLOTR) itu. Ternyata, kejengkelan yang sama kembali disisakan dari “The Hobbit: The Desolation of Smaug”, yang tayang perdana Jumat (13/12) lalu. Jengkel, lantaran Peter Jackson–sang sutradara–sukses memberikan efek nggantung, penasaran sekaligus tak sabar untuk mengetahui kelanjutan ceritanya di film ketiga.

Secara umum, “The Hobbit: The Desolation of Smaug” diawali dengan Bilbo Baggins (Martin Freeman), Gandalf (Ian McKellen), dan Thorin Oakenshield (Richard Armitage) beserta 12 orang kurcaci (Dwarves) lain yang berhasil melanjutkan perjalanannya menuju Erebor, sembari tetap menjadi buruan pasukan Orc sejak film sebelumnya.

source: desolationofsmaug-leaked.blogspot.com

Dalam film ini, setidaknya ada beberapa checkpoint yang harus dilewati Baggins dkk. Setelah mereka berhasil menghindari kejaran Azog (Manu Bennett), Gandalf menemukan jalur tercepat menuju Erebor. Hanya saja, dalam perjalanan ini mereka kembali harus berkonfrontasi dengan sejumlah halangan. Mulai dari sergapan monster di Mirkwood, tuduhan menyelinap di markas bangsa lain, hingga interaksi dengan para manusia sebelum akhirnya harus berhasil masuk kembali ke dalam bekas istana para kurcaci. Tak ketinggalan, para Orc tetap melakukan pengejaran. Penonton pun bisa melihat proses “lahirnya” Eye of Sauron, musuh utama dalam TLOTR.

Seiring dengan jalannya cerita, sejumlah subplot pun dimunculkan lengkap dengan tokoh-tokoh baru yang beberapa di antaranya bertahan hingga TLOTR. Sejumlah subplot mendebarkan, bahkan bisa disebut sebagai rangkaian adegan paling keren dalam film ini. Sehingga makin memperjelas perbedaan antara “The Desolation of Smaug” dengan “An Unexpected Journey” dalam hal penyuguhan cerita. Sebagai bonus, penonton yang merupakan penggemar TLOTR baik versi film maupun novel, bisa melihat benang merah antar-trilogi. Hanya saja, tidak sedikit pembaca novelnya yang mengeluhkan film ini. Sehingga terjadi perbedaan respons antara kelompok penonton saja (saya, salah satunya) dan penonton sekaligus pembaca.

Subplot yang disuguhkan, membangun ketegangan dengan baik hingga klimaks cerita, ketika Baggins dkk berhasil kembali masuk dalam Erebor dan akhirnya kembali berhadapan dengan naga Smaug (suara dan pindai gerak oleh Benedit Cumberbatch). Hanya saja, antiklimaks dari bagian penghujung film ini membuat geregetan.

Selain cerita dan eksekusi penyajiannya, “The Hobbit: The Desolation of Smaug” kembali menghadirkan penampilan cemerlang para pemainnya. Ian McKellen tetap mampu menjadi Gandalf dengan baik, meskipun ada beberapa line yang membuatnya terkesan licik tapi ceroboh, dan tidak dapat diandalkan sebagai penyihir bijaksana. Sedangkan Martin Freeman makin menunjukkan Baggins yang fragile, antara Hobbit yang ingin jujur versus instingnya sebagai kelompok makhluk berkemampuan senyap. Di sisi lain, sosok Thorin yang dibawakan Richard Armitage terkesan lebih ambisius, dan ditunjukkan dalam salah satu adegan. Selebihnya, bintang lain seperti Orlando Bloom, Lee Pace, Aidan Turner, Evangeline Lilly, dan Luke Evans benar-benar membuat “The Hobbit: The Desolation of Smaug” menjadi film akhir tahun yang menyenangkan.

Hanya saja, secara teknis ada beberapa adegan film (format standar) yang tidak nyaman ditonton. Terutama untuk adegan-adegan cepat, yang mungkin akan lebih baik bila dinikmati dalam format 3D atau IMAX. Untungnya bagian ini tidak lebih dari 20 persen keseluruhan film, sehingga tak menjadi gangguan berkepanjangan. Selain itu, efek visual yang maksimal membuat film ini tidak cocok disaksikan anak-anak di bawah usia 13 tahun. Terutama yang berhubungan dengan pertempuran. Khusus untuk efek visual Smaug, penonton yang jeli masih bisa melihat bagian yang agak kasar, tidak sehalus lainnya.

Hal menarik yang tersisa di akhir film adalah lagu latar: “I See Fire”. Lagu yang dibawakan Ed Sheeran dengan suara khasnya itu, mampu sedikit meredakan kejengkelan yang muncul saat transisi adegan paling akhir: langsung blackout.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s