Divergent

ADA sebuah masa, ketika peran sosial manusia terbagi dalam lima kelompok khusus. Yakni mereka yang pintar secara akademis, mereka yang jujur dalam ucapan, mereka yang berani bertindak, mereka yang damai menjalani hidup, dan mereka yang berbelas kasih terhadap sesama. Kelima kelompok ini hidup dalam karakteristik mereka masing-masing, dan–seharusnya–mampu saling bekerja sama demi kehidupan post-apocalyptic yang lebih baik.

Bukan tanpa cela, sistem tatanan sosial ini bersifat kaku dan mengikat. Seseorang yang telah memilih kelompok, harus menjalani peran sosial tersebut sepanjang hidupnya, walaupun itu berarti harus berpisah dari keluarga. Pelanggaran, terutama dalam kelompok-kelompok tertentu, akan diganjar pengusiran. Mereka yang terusir dianggap sebagai sampah masyarakat; kumpulan manusia yang berada di luar lima kelompok lain dan tidak memiliki peran apapun selain menjadi beban.

Skenario ini dihadirkan dalam “Divergent”, film remaja yang diangkat dari novel berjudul sama karya Veronica Roth, dan tayang perdana di Samarinda Kamis (20/3) lalu.

Dengan setting kota kontra-utopia, plot dibangun atas keberadaan kelima kelompok tersebut: kaum ilmuwan, kaum hakim, kaum prajurit, kaum petani, dan kaum pelayan masyarakat. Konflik dimunculkan lewat kesan superioritas dan ketidaksukaan lintas kelompok, dan dieksekusi lewat intrik. Meskipun demikian, judul film ini menjadi kata kunci, terutama bagi para penonton yang belum pernah membaca novelnya.

source: lylesmoviefiles.com

Pusat cerita ada pada Beatrice Prior (Shailene Woodley, yang pada beberapa adegan sekilas terlihat seperti Aryani Fitriana), remaja yang tengah menghadapi masa inisiasi kedewasaan, yaitu pemilihan kelompok. Namun yang ia hadapi ternyata bukan sekadar penentuan keputusan dan konsekuensinya, melainkan hal-hal tersembunyi, bahkan yang dianggap sangat tabu sekalipun. Semua itu membuatnya tidak bisa ditoleransi oleh sistem tatanan sosial yang berlaku, sehingga perlawanan pun dilakukan. Semua disajikan seringan film-film kelas remaja pada umumnya, menyederhanakan sistem politik yang dimunculkan, dan sebagainya.

Hanya saja, bernasib serupa dengan novelnya, film “Divergent” langsung mendapat sorotan perbandingan atas “The Hunger Games”. Beberapa poin yang dibahas seperti sama-sama menghadirkan cewek petarung sebagai tokoh utama sekaligus membandingkan figur Beatrice Prior versus Katniss Everdeen (Jennifer “J-Law” Lawrence), dan mengangkat tema tentang dunia era dystopia (meskipun dengan pendekatan dan retorika yang berbeda).

Tak sedikit yang menyebut “Divergent” meniru “The Hunger Games”, sehingga dirasa tak sebaik cerita yang ditirunya. Namun banyak juga yang berpendapat sebaliknya lewat berbagai aspek. Yang jelas, lantaran saya tidak pernah menonton “The Hunger Games” maupun sequel-nya, “The Hunger Games: Catching Fire”, sehingga tidak akan membahas lebih lanjut mengenai komparasi antara keduanya.

Secara khusus (dan subjektif), konsep mengenai lima kelompok sosial yang dihadirkan dalam “Divergent” sangat menarik. Sebagai fondasi cerita, prolog tentang entitas kelima kelompok disajikan secara singkat tapi memikat, untuk kemudian diperkuat pada menit-menit awal film yang berdurasi lebih dari dua jam ini. Selanjutnya, porsi eksploitasi ditumpahkan sepenuhnya pada entitas salah satu kelompok, tempat sang protagonis utama mempersiapkan dirinya. Durasi ketika penonton disuguhi beragam aksi yang cenderung machoism, sambil diberi kesempatan mengamati perkembangan peran sang tokoh utama dan interaksinya dengan lakon-lakon lain.

Tahapan cerita menjadi lebih berkesan, karena diiringi musik latar yang terdengar kekinian. Pada beberapa bagian, penonton akan dibuat tertegun dengan soundtrack-nya, untuk kemudian dengan mudah mengenali bahwa lagu-lagu itu dibawakan oleh Ellie Goulding dengan suara khasnya. Wajar saja, karena urusan musik dan score “Divergent” ditangani Junkie XL bersama Hans Zimmer. Album soundtrack juga dipenuhi para musisi techno, seperti Zedd, Skrillex dan masih banyak lagi.

source: dailytrojan.com

Tidak ketinggalan, “Divergent” juga menghadirkan nuansa romansa yang manis–tapi cheesy–sesuai segmentasi penonton. Karena itu pula, wajar apabila kisah kasih kedua tokoh utama dalam film ini jadi “bancakan” para penggemar untuk menghasilkan fanfic dalam berbagai media.

Uniknya, berbeda dengan film-film remaja pada umumnya yang memberi kesempatan para lakon untuk berasyik masyuk ala Hollywood, “Divergent” seolah menyebarkan pesan khusus kepada para penonton remaja wanita untuk berani berkata “tidak” terhadap aksi seksual di luar batas norma pada umumnya. Ini menjadi salah satu nilai plus, karena “Divergent” terkesan berusaha memahamkan perspektif atas keindahan fisik maupun gelora asmara (lust and physical beauty).

Di sisi lain, penggambaran kota pascapeperangan besar yang dihadirkan dalam “Divergent” sangat mendukung suasana cerita. Termasuk mengenai kondisi kehidupan masing-masing kelompok masyarakat, meliputi penampilan, gaya hidup sampai desain pemukiman. Semua memperkuat penginderaan penonton terhadap kondisi dystopia yang dihadirkan.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s