The Raid 2: Berandal

IBARAT orangtua yang bangga setelah menyaksikan resital anaknya bermain piano atau biola, seisi ruangan bertepuk tangan gembira saat para tokoh sadis tewas dengan cara brutal yang membabi buta. Respons itu selalu diawali perasaan takut dan deg-degan, namun untungnya berakhir pada kelegaan. Kesan inilah yang terasa setiap kali Rama (Iko Uwais), berhasil membantai lawan-lawannya dalam “The Raid 2: Berandal”, film karya Gareth Evans yang tayang perdana Jumat (28/3) lalu.

source: cinemablend.com

Aksi spontan penonton menyoraki keberhasilan Rama adalah sebuah kewajaran. Pasalnya, mereka sudah kadung dibuat terbelalak saat menyaksikan prequel-nya tiga tahun lalu. Sehingga dengan plot yang lebih lebar, setting yang lebih beragam ketimbang satu kompleks rumah susun kumuh, figur penjahat yang lebih banyak dan mengerikan, dan laga yang lebih gila-gilaan, “The Raid 2: Berandal” sukses menenggelamkan penontonnya dalam keseruan.

Film berdurasi lebih dari dua jam ini melanjutkan tema yang sama dari “The Raid”, yakni perang melawan para berandalan. Hanya saja, Rama mesti menjalani peran yang jauh berbeda dibanding misi sebelumnya demi membongkar kebusukan tingkat tinggi. Karena itu, sejak bagian paling pertama, penonton langsung diajak bertemu dengan sejumlah lakon baru yang bakal mengiringi alur cerita.

Cukup dengan introduksi singkatnya, kemudian bersiaplah untuk rentetan adegan yang bisa bikin Anda megap-megap atau nyaring mengaduh di depan layar. Semuanya serba berantakan; muncratan darah, tembakan beruntun dari jarak dekat, bunyi tulang yang patah, anggota tubuh yang rusak parah, bacokan tanpa ampun, termasuk perkakas pertukangan yang diberdayakan secara mengerikan. Sedangkan untuk bagian-bagian yang tidak memerlukan visual efek berlebihan, kita bisa kembali menikmati “koreografi” indah Pencak Silat yang ditampilkan Iko Uwais hingga para figuran, termasuk teknis ketat adegan kejar-kejaran di jalanan Jakarta yang bakal bikin penonton bergumam “KEREN!”.

The Raid 2: Berandal
source: aintitcool.com

Menjadi karakteristik yang kuat, sejumlah ketegangan berhasil dibangun–bahkan ditingkatkan berkali lipat–lewat pengambilan gambar secara close-up. Cerdasnya, kebanyakan objek pengambilan adalah benda-benda yang sejatinya remeh. Sebut saja, gerendel usang dengan baut yang tak lengkap, koin tebal pecahan Rp 100 bergambar Rumah Gadang keluaran 1971, maupun sehelai ilalang. Bagi saya, objek-objek tersebut bukan menjadi pengalih perhatian, namun justru seolah mengajak penonton untuk mengambil ancang-ancang menghadapi apa yang bakal dimunculkan. Semua menjadi makin kuat, dengan scoring yang tepat.

Setting­ yang beragam pun dimanfaatkan untuk eksplorasi sinematografi dengan lebih berani. Pertarungan dalam ruangan kecil dan sempit pun bisa dibuat sedemikian mencengangkan ketika kamera disorotkan dari sudut yang tak biasanya. Tak ketinggalan pergerakan kamera yang dinamis namun presisi–bahkan sampai berbalik 180 derajat–dan sukses mempertahankan ketegangan penonton pun disajikan sebagai hasil suntingan yang sangat baik (bahkan pada deleted scene-nya sekalipun). Beberapa sudut Jakarta yang diambil menjadi lokasi syuting pun diubah sedemikian rupa agar terasa begitu berbeda. Meskipun salah satu di antaranya, cukup lumayan sebagai, ehm, bahan lucu-lucuan, padahal tujuannya adalah homage. (Did I mention about the snow and a Lomie cart?)

Dari segi penampilan, jelas tidak ada yang perlu dikomentari atas laga Iko (kecuali soal Iko yang lebih chubby dari sebelumnya). Bahkan gaya bertarungnya menjadi lebih beraneka. Yaitu dalam suasana duel, gaya one man show, gaya penuh improvisasi objek (yang mengingatkan saya pada pola aksi Jacky Chen), maupun gaya tawuran.

Selain Iko, muncul beberapa wajah baru yang jago berkelahi dengan seni. Salah satunya adalah lakon “The Assassin” (Cecep Arif Rahman) dengan ciri khas yang asli Minangkabau. Ada juga “Baseball Bat Man” (Very Tri Yulisman), dengan senjata utama yang bisa ditebak. Sementara itu, sebagai “Hammer Girl”, Julie Estelle berhasil menampilkan lakon yang membuat penonton bergidik ngeri. Ia benar-benar berhasil tampil layaknya seseorang yang punya basis kemampuan beladiri. Bukan tanpa alasan, adegan miliknya dibuat senyata mungkin, baik dari sisi efek visual, angle kamera yang kebanyakan dekat dengan objek, maupun meminimalisasi movement gap yang dapat terlihat demi memaksimalkan kesan kejam. Namun bisa jadi lantaran kecantikannya, wajah Julie Estelle sengaja tidak dieksploitasi sepenuhnya. Itupun dengan ornamen cerita yang tak diduga penonton sebelumnya.

The Raid 2: Berandal
source: ccpopculture.com

Soal perkelahian, Uco (Arifin Putra) seringkali ditampilkan dalam kondisi tawuran. Tapi ia tetap menjadi figur yang tak kalah beringas ketimbang yang lain. Fokus penampilannya pada akting emosional dan tindakan kejam berdarah dingin. Semua penampil, lengkap dengan komponen-komponen pendukung yang lain, sukses menjadikan “The Raid 2: Berandal” lebih brutal dari pendahulunya.

[]

One thought on “The Raid 2: Berandal

  1. […] setting­ kebun tebu yang luas lewat wide shot (yang sekilas mengingatkan pada scene pertama “The Raid 2: Berandal”), penonton seolah diajak untuk melihat pemandangan yang diakrabi Menteri BUMN itu di masa […]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s