Step Up: All In

TAK perlu jauh-jauh mundur ke tahun 2006–saat “Step Up” pertama kali dirilis–untuk menilai dan membandingkan antara “Step Up: All In” dengan empat film sebelumnya. Karena pada beberapa aspek, aftertaste yang ditinggalkan “Step Up: All In” kurang kuat (dan tak sedikit yang menyebutnya jelek) dibanding satu judul pendahulunya, “Step Up Revolution” (2012) dengan tokoh utama yang sama: Sean Asa (Ryan Guzman).

Sepanjang film berdurasi 112 menit yang kabarnya baru akan dirilis di Amerika Serikat pada 8 Agustus mendatang itu, hampir tidak ada dancing scene yang benar-benar bikin takjub. Mungkin lantaran saya, sebagai salah satu penonton semua film “Step Up” sudah dibuat terbiasa dengan aneka gaya gerakan modern dance nyaris akrobatik dalam tempo cepat, baik saat battle maupun bukan. Kondisi ini ditambah dengan minimnya eksploitasi setting maupun perlengkapan lain dalam adegan dance.

source: starseeker.com

Sedangkan dalam “Step Up Revolution”, banyak adegan nge-dance­ dengan koreografi dan eksekusi artistik yang luar biasa kreatif. Dimulai dengan adegan pembuka film, yakni di jalanan Miami, lalu di gedung pameran seni, di restoran, maupun di dalam gedung kantor. Tidak lupa, di masing-masing setting tersebut The Mob–kelompok dance utama–melengkapi penampilan mereka dengan segambreng aksesori fungsional.

Meskipun demikian, bagi Anda yang memang hobi nge-dance, tetap banyak manuver dan ide kreatif yang bisa dijadikan inspirasi dari sejumlah koreografi dalam “Step Up: All In”.

Bila kita kesampingkan urusan koreografi dan semua hal yang berhubungan dengan dance, maka kita akan bertemu dengan plot yang gampang ditebak. Adegan battle dance di kelab malam, ticked. Adegan latihan dance di sejumlah lokasi tak lazim, ticked. Kompetisi dengan finalis yang way too obvious hasilnya, ticked. Intrik dalam kompetisi, ticked. Tokoh utama pria jatuh cinta dengan tokoh utama wanita, ticked. Semua ini bahkan masih diikuti dengan sejumlah drama yang cenderung tipikal. Saya menduga, hal-hal tersebut memang cenderung sukar untuk dihindari dalam film bertema kompetisi seni, tatkala jualan utamanya adalah ketegangan dan rasa geregetan penonton menuju momen puncak: penampilan akhir yang menentukan pemenang kompetisi.

Meskipun demikian, sebagai film yang punya korelasi kuat dengan pendahulunya (Step Up Revolution), “Step Up: All In” menjadikan paduan antara kemapanan finansial dan ketidakpastian hidup sebagai dasar awal cerita. Pretty depressing sih sebenarnya untuk dijadikan pembuka film yang seharusnya ceria dan gembira ria.

Jika Anda ingat, “Step Up Revolution” ditutup dengan kemenangan manis, bukan dalam kompetisi, melainkan dalam perlawanan atas rencana penggusuran kawasan komunitas untuk dijadikan pusat bisnis. Selain itu, seluruh anggota The Mob juga mendapatkan kontrak iklan dengan nilai puluhan ribu dolar. Kontrak itu juga yang mengantarkan mereka hijrah berkarier di Hollywood, Los Angeles. Seolah menjadi happy ending. Namun di “Step Up: All In”, penonton diajak untuk melihat kebalikannya, alias kelanjutan dari happy ending tadi. Ketika The Mob luntang-lantung tanpa penghasilan, dan memunculkan pertikaian di antara mereka sendiri.

Titik cerita itu yang menjadi pemicu reuni. Bukan sekadar reuni biasa, melainkan reuni para tokoh dari film “Step Up” pertama hingga keempat. Dimulai dari kontak antara Sean dengan Robert Alexander III alias “Moose” (Adam Sevani), lakon berwajah khas yang selama ini selalu muncul sebagai cameo menjelang penghujung cerita.

Setidaknya ada sepuluh lakon yang kembali dicomot dari serial “Step Up” masing-masing. Tentu saja semuanya akan tergabung menjadi tim dance (dengan nama yang lumayan alay), termasuk Andie West (Briana Evigan) sebagai tokoh utama wanita yang sebelumnya membintangi “Step Up 2: The Streets” (2008). Dikisahkan, mereka semua memiliki masalah yang sama. Penggambaran ending-ending menyenangkan dari semua serial “Step Up” sebelumnya pun seolah hilang begitu saja, lengkap dengan petuah “dance won’t pay Your bills”. Hal ini tentu saja berlawanan dengan semangat yang selalu diusung di film-film sebelumnya; “live Your passions, follow Your dreams!

Hampir tidak ada wajah baru yang menjadi lakon penting dalam “Step Up: All In”, selain Jasper Tarik (Stephen “Stevo” Jones) serta Alexxa Brava (Izabella Miko). Tokoh-tokoh lainnya menjadi pelengkap lumayan manis, tapi ya tetap saja kurang penting.

Sementara sebagai efek samping dari penggunaan lakon-lakon lama dalam film ini, jelas terasa kekecewaan sejumlah penonton terhadap skenario Sean yang dipasangkan dengan Andie. Lagi-lagi jika kembali ke “Step Up Revolution”, penonton sudah telanjur jatuh hati dengan adegan menari duo antara Sean dan Emily Anderson (Kathryn McCormick) di penghujung film. Pada adegan itu, dengan setting panggung sederhana di pinggir pantai Miami menjelang matahari terbenam, Sean dan Emily menari dengan musik latar “Undone” (Haley Reinhart). Adegan tersebut seolah mengesahkan Sean dan Emily sebagai salah satu pasangan “Step Up” yang paling serasi, paling hot (both of them were extremely sexy, and witty, and spontaneous, and enviable), dan paling romantis. Tetap dengan formula yang sama, percik asmara antara Sean dan Andie juga diwarnai dengan sesi menari duo. Fun, but rather feel artificial.

Selebihnya, ada beberapa ornamen dalam plot yang cukup remeh namun tetap manis.

source: lionsgatepublicity.com

Terlepas dari dua hal itu, “Step Up: All In” tetap bisa menjadi film yang–sekadar–menyenangkan untuk ditonton sambil lalu, atau untuk sejumlah tujuan lainnya. Bagi penggemar dance music, misalnya. Tetap ada playlist yang bisa di-update­ dalam rangka mengejar kekinian. Salah satu musik latar yang berkesan adalah hasil remix “Gangsta’s Paradise” (Coolio feat L.V.)

Entah, apakah setelah ini serial “Step Up” bakal terus berlanjut, atau terhenti. Kalaupun berlanjut, make it better, please.

[]

3 thoughts on “Step Up: All In

  1. Setuju,,All In jelek banget,,film sampah mnurutku..ga ada satupun dance yg bagus, smuanya terlihat sperti org mabuk dg gerakan ga jelas.
    1. Akting nya jelek2, semua ga alami..sperti menghafal
    2. Si Andy, waktu curhat sm tmn nya yg cina gegara abis brantem sm (siape tuh tokoh utama cowonye), muka sedih nya ga alami banget.
    3. Jalan cerita simpel banget,persis kt film anak anak, kususnya bagian pas MC Vortex ketauan pacaran sm salah satu finalis yg antagonis itu di depan 2 org anggota grul LMNTRX.
    4. Semua kata kata bijak yg diucapin di film ini garing abis,,klise lah,,kata kata basi..

    Mengecewakan lah yg All In ini..1 sampe 10 aku kasi rate 4

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s