Hercules

BISA melambungkan imajinasi. Begitulah kemampuan cerita mitologi.

Dibuka dengan narasi prolog dramatis yang disampaikan Iolaus (Reece Ritchie) dalam kondisi terikat, kita kembali diingatkan tentang salah satu sosok terpopuler mitologi Yunani kuno: Hercules (Dwayne Johnson). Dengan gaya pencerita ulung, Iolaus kembali mengulang rentetan informasi yang melekat pada Hercules. Sebagai berikut.

Terlahir sebagai buah syahwat Zeus, raja Pantheon Yunani kuno, dan seorang manusia biasa, Hercules merupakan manusia setengah dewa. Kekuatannya di atas rata-rata manusia biasa, juga memiliki “peluang” bersaing dengan sesama makhluk adiduniawi lainnya. Hanya saja, mengingat statusnya sebagai anak haram raja para dewa, Hera, dewi sekaligus istri Zeus marah dan berupaya untuk menumpasnya. Alih-alih tewas, Hercules tetap selamat. Namun absurdnya, sebagai kompensasi pelipur lara dendam seorang perempuan yang telah dimadu, Hercules pun diminta menyelesaikan 12 tugas berat. Tujuan akhirnya hanya dua: tugas tuntas ditunaikan, atau tewas dalam pertempuran.

Seperti yang bisa diduga sebelumnya, ia mampu menyelesaikan ke-12 tugas berat tersebut. Sampai akhirnya nama Hercules terkenal seantero negeri, dielukan sebagai pelindung manusia. Kepulangan Hercules pun disambut Eurystheus (Joseph Fiennes)–sang raja Athena dengan bahasa tubuh yang janggal–laiknya pahlawan besar. Sang pria kekar itupun ditahbiskan menjadi simbol kedamaian dan keamanan bangsa.

Begitulah kisah Hercules, yang diceritakan ulang oleh Iolaus. Tapi jangan lupa, sang pencerita dalam kondisi terikat, pun di tengah kerumunan penjahat. Apa yang ia ceritakan malah bukan menjadi bagian besar dalam film yang tayang perdana Rabu (3/9) lalu itu. Setelah dongeng tuntas disampaikan, barulah cerita utama film berdurasi sekitar satu setengah jam ini bermula. Kisah mitologi pun berganti menjadi fiksi. And I won’t spoil it. J

Dalam beberapa dekade terakhir, ditampilkan begitu banyak versi cerita tentang manusia setengah dewa ini. Ada yang berupa film tunggal, ada pula yang merupakan serial. Seperti “Hercules: The Legendary Journeys” dengan bintang utama Kevin Sorbo, yang selalu dinanti setiap Minggu siang di penghujung era 90-an.

Pada 2014 sendiri, setidaknya ada tiga film tentang Hercules yang telah beredar. Selain “Hercules” yang dibintangi Dwayne Johnson, “The Legend of Hercules” dengan Kellan Lutz sebagai bintang utama tayang di bioskop beberapa bulan sebelumnya. Di samping itu, ada juga “Hercules Reborn”, film kelas B yang diakui…jeleknya.

Apabila “The Legend of Hercules” masih memberikan porsi khusus untuk hubungan ayah-anak antara Hercules dengan Zeus, “Hercules” justru bermain pada sudut pandang yang berbeda. Bisa dibilang “Hercules” menyajikan skeptisisme soal hal-hal metafisika, dan dirangkai menjadi plot cerita. Ketimbang sebagai manusia berdarah dewa, Hercules digambarkan lebih manusiawi sebagai manusia dengan kekuatan layaknya dewa. Seiring berjalannya film, penonton pun akan dibuat tertegun dengan sejumlah “fakta cerita” yang ditampilkan. Termasuk soal makhluk-makhluk mitologi Yunani kuno lainnya, yang ternyata menyisakan kesan antiklimaks tanpa terasa mempermainkan.

source: ropeofsilicon.com

Saking manusiawinya, sang Hercules dibuat cukup naif dan mudah dikelabui (baca: agak bodoh) dalam menilai perangai manusia lain. Sehingga jatuh dalam twist yang sebenarnya terlalu gamblang. Pasalnya, ada saja penonton yang bisa berceletuk “yang itu kayaknya tokoh jahat deh” sejak awal. Hercules pun diceritakan tak lagi menjadi penjaga sebuah kota-negara Athena, melainkan dinafkahi oleh kekuatan fisiknya.

Konten film yang disutradarai Brett Ratner ini, didominasi pergumulan Hercules dengan dirinya sendiri. Bayang-bayang masa lalu, fobia tertentu, ketidaktahuan, salah sangka, dan tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan. Dengan demikian, tak salah apabila menjelang konklusi cerita, segelintir penonton bisa saja kembali teringat pada lakon Hobbs dari “Fast Five” (2011). Karakteristik mereka sama.

Sementara itu, pada sejumlah adegan vital, Dwayne Johnson mampu tampil emosional maksimal. Sejumlah penonton bahkan terdengar meluapkan rasa geregetannya. Geregetan dengan ekspresi seperti “KAPOK KAMU!” saat Hercules mampu melakukan perlawanan pada tokoh antagonis utama, yang begitu licik dan penuh tipuan. Lucunya, kesan jahat tokoh antagonis utama, malah bisa terasa sama seperti yang disuguhkan tokoh antagonis sinetron dalam negeri. Entah itu ibu dan saudara tiri, remaja putri yang bengal lengkap dengan gengnya, bos kantor yang jahat, dan sejenisnya.

Selebihnya, di antara sejumlah lakon yang bermain dalam “Hercules”, perhatian penonton juga tercerap dengan baik pada sosok Amphiaraus (Ian McShane). Ia bahkan menjadi lakon dengan line terlucu pada beberapa bagian. Aura Amphiaraus mampu lebih menonjol dibanding lakon-lakon pendamping lainnya.

Last but not least, o Lord forgive my shallowness, You’ll see something interesting about Irina Shayk as Megara. A glimpse of cherries, my dear. Something that can distract Cristiano Ronaldo so easily. And that’s why, thou shalt not bring thy kids along for watching this movie!

source: viewsofia.com

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s