Chef

DI DAPUR flatnya yang kecil dan sederhana, Chef Carl Casper (Jon Favreau) membuat Grilled Cheese Sandwich alias roti panggang isi keju dengan gampang. Setelah dipotong diagonal, keju cheddar dan mozzarella pun langsung meleleh, menggugah selera.

“KRESSS!” Seporsi roti panggang renyah itu dinikmati Carl bersama Percy (Emjay Anthony), putranya. Sambil terus mengunyah, perbincangan mereka makin mengerucut. Terfokus pada satu hal, yang ternyata bisa membawa perubahan besar dalam hidupnya. Hidup seorang juru masak terkemuka.

Dirilis Mei, “Chef” baru tayang di Samarinda Rabu (22/10) lalu. Mengangkat kuliner sebagai tema dasar, film berdurasi hampir dua jam ini juga menyuguhkan porsi drama yang pas. Yakni tentang hubungan mingguan ayah-anak dan perkembangannya, persahabatan, serta semangat mengejar mimpi. Istimewanya, Favreau tak sekadar menjadi pemeran utamanya saja. Ia terlibat secara keroyokan dalam produksi film ini, yakni sebagai salah satu produser, penulis tunggal skrip cerita, sekaligus sutradara.

Sudah pasti, “Chef” membuat penontonnya berulang kali menelan ludah sendiri. Adegan demi adegan menampilkan proses pembuatan sejumlah menu dari langkah paling awal: menyiapkan bahan, sampai penataan presentasinya dengan sudut pengambilan gambar yang khas, 90 derajat di atas objek. Lewat pendekatan sinematografi yang tepat, penonton seolah benar-benar diajak ke dapur dan menyaksikan proses memasak. Walaupun kemudian hanya bisa menginderanya pakai mata. Terlebih ekspose menu didominasi masakan Prancis dan fine dining secara umum, yang entah seperti apa rasanya, tak pernah dicicipi sebelumnya.

source: aceshowbiz.com

Lewat pendekatan sinematografi yang tepat pula, “Chef” menyuguhkan kekuatan detail visual. Meskipun tidak untuk para pelaku vegetarianisme. Pasalnya, penonton berkesempatan untuk menikmati tekstur bacon tipis. Dari permukaannya yang berminyak secara alami, terbayang kelezatannya. Pengalaman serupa juga disuguhkan untuk daging panggang khas salah satu restoran terkenal di Austin, Texas. Cukup dengan melihat gerakan tangan Favreau kala memotong secuil kecil daging panggang tersebut, terbayang betapa empuk dan tepatnya proses pemanggangan dilakukan. Realitas yang sama juga disajikan untuk beraneka menu lainnya. Perlu disaksikan sendiri untuk tahu betapa besar godaannya.

Khusus pada aspek kuliner dalam “Chef”, kepiawaian Favreau cukup berperan penting untuk menampilkan gaya seorang juru masak profesional secara maksimal. Bahkan tak berlebihan jika penonton bisa beranggapan bahwa Favreau memang memiliki kemampuan memasak. Kecepatan dan ketepatan gerakan tangannya saat mengiris sayuran, sikap “bersahabatnya” dengan kompor dan panggangan, ekspresi wajah dalam adegan memasak, ditambah lagi dengan aksen tato yang ada di kedua lengan serta buku jarinya. Soal poin terakhir, selama ini kita pahami bahwa adegan memasak dilakukan oleh orang lain, bukan sang pemeran. Namun dengan adanya tato pada lengan maupun buku jari Favreau, meminimalisasi kesan bahwa adegan-adegan memasak tersebut dilakukan oleh orang yang berbeda. Cerdik.

source: eatdrinkfilms.com

Melalui kepiawaian Favreau pula, penonton kembali mendapat kesan bahwa pria yang memasak itu seksi. Hal ini diperkuat dengan penampilan Molly (Scarlett Johansson), ketika merespons Carl lewat mimik wajah dan bahasa tubuhnya. Respons tersebut diberikan kepada Carl yang tengah memasak pasta sederhana, khusus untuk dirinya. And somehow, the scene implies that a man who can cook seems extremely attractive to sexy ladies. Selain Molly, ada juga Inez (Sofia Vergara). Wanita seksi yang berada dalam lingkaran hidup Chef Carl.

Selebihnya, lewat tema kuliner pula, perkembangan plot tentang hubungan Carl dan Percy berjalan manis. Jurang perbedaan persepsi antara Carl dan Percy dieksploitasi sedemikian rupa, untuk kemudian menjadi perekat yang punya nilai penting hingga akhir cerita.

Emjay Anthony berhasil tampil layaknya anak usia 10 tahun di tahun 2014. Ia memang menghabiskan hari-harinya dengan tren teknologi masa kini; iPhone 5S dan iPad, aktif di Twitter, Facebook, maupun Vine, sekalian mampu mempergunakan semua jenis jejaring sosial beda format tersebut secara maksimal. Kendatipun begitu, ia tetap merindukan ayahnya. Figur yang ia inginkan ada, tak cuma saat liburan musim panas tiba. Menggunakan fitur teknologi standar, ia berhasil membuat Carl–juga penonton–tersentuh dan trenyuh.

Dengan semua ini, “Chef” bukan hanya menjadi film yang mampu membangkitkan selera makan, tetapi juga bisa menghangatkan hati para penontonnya. Sebuah sajian audiovisual yang menyenangkan.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s