Pitch Perfect 2

SALAH satu masalah utama yang harus dihadapi film judul kedua atau sequel, apalagi bila film pertamanya terbilang sukses, adalah ekspektasi penonton. Dalam hal ini, wajar bila publik yang telanjur suka dengan film tersebut berharap dapat kembali terkesima lewat kelanjutan ceritanya.

Khusus untuk “Pitch Perfect 2″, Elizabeth Banks harus mempersiapkan lebih banyak hal. Ingat, ini film musikal. Di “Pitch Perfect” (2012) yang terbilang berhasil mencuri perhatian dunia itu—walaupun sayangnya tidak resmi tayang di Indonesia, Banks memang hanya jadi produser. Namun kali ini, ia “turun gunung” mengadu ilmu dengan menjadi produser tunggal sekaligus sutradara.

Ekspektasi penonton “Pitch Perfect 2″ terbagi dalam beberapa hal. Selain cerita, penonton ingin kembali menikmati penampilan The Barden Bellas secara keseluruhan, maupun performa para lakon di dalamnya. Terlebih “Fat Amy” (Rebel Wilson), yang sukses menjadi bintang di sebelah Beca Mitchell (Anna Kendrick, and ow, she looks older anyway).

Secara garis besar, para penggemar “Pitch Perfect” berhak merasa sedikit kecewa dengan “Pitch Perfect 2″, meskipun tidak untuk keseluruhan. Bagi pencari plot dan alur cerita, sequel yang baru tayang perdana di Samarinda Rabu (27/5) lalu ini terkesan menampilkan kisah yang lumayan terpaksa. Antara keberhasilan The Barden Bellas selama tiga tahun berturut-turut namun tidak dibarengi dengan perkembangan kedewasaan kala manggung, hingga bisa-bisanya mereka—sebagai salah satu kelompok akapela—tak tahu apa-apa soal kejuaraan dunia. Di sisi lain, perhatian The Barden Bellas juga terpecah dengan realitas bahwa mereka tidak bisa menjadi mahasiswa selamanya. Kekhawatiran juga dihadirkan dalam racikan kisah.

Source: playbuzz.com

Para pencari musik dan gubahan akapela mungkin bisa dengan mudah mengeyampingkan soal plot. Pasalnya, sebagai film dengan jalan cerita yang lazim, ujung kisahnya pun bisa diketahui dengan mudah. Terkait bagian ini, patut diakui bahwa The Barden Bellas menampilkan sejumlah judul lagu dengan gaya yang khas, tetap menyenangkan, dan unik. Sebagian besar di antaranya tetap berupa medley. Kendati begitu, tidak semua nyaman terdengar seperti list di film pertama. Sebab secara teknis, suara yang terdengar kerap kurang ajek. Tidak semua sih. Di samping itu, ada lebih banyak penampilan solo maupun solo+solo=duet (atau mungkin penampilan solo yang lebih berkesan) dibandingkan dalam prequel-nya. Akan tetapi, tidak semuanya terdengar sempurna. Dalam artian, sang penampil menyanyi dengan apa adanya, tidak terlampau banyak disentuhkan dengan fitur autotune. Nada yang out of pitch mudah ditangkap (namun berbeda bila mendengarnya dalam album kumpulan soundtrack, karena terdengar jauh lebih mulus). Bisa jadi, garapan musik oleh Mark Mothersbaugh dan The Underdogs tidak semodel dengan hasil kolega mereka di film pertama (Cristophe Beck dan Mark Kilian). Justru malah penampilan lawan-lawan The Barden Bellas yang terkesan anyar dan segar. Kembali ke persoalan selera sih.

Terlepas dari itu, tetap ada banyak hal menyenangkan dalam film berdurasi kurang dari dua jam ini. Salah satunya adalah humor khas Amerika Serikat yang either racist, sexist, and dull. Patut diakui cukup menghibur—bila penontonnya paham, terbukti dengan gelombang tawa yang tak imbang dalam ruangan bioskop. Selanjutnya, apresiasi yang cukup tinggi patut diberikan pada manuver pengujung cerita yang cerdik dan menyentuh, saking emosionalnya (tidak untuk semua penonton sih). Hanya saja disayangkan, munculnya terlampau singkat, padahal kuat. Semuanya berpadu apik dengan lagu tema utama “Pitch Perfect 2″, yang sejak awal kemunculannya jelas bakal memegang peranan penting dalam cerita.

Lagu itu berjudul “Flashlight”, dan dibawakan sang pelakon baru yang cantiknya menggemaskan😛, Hailee Steinfeld. Tapi belum bisa disejajarkan dengan “The Cup Song”-nya “Pitch Perfect”, yang lengkap dengan penggunaan gelas sebagai objek pemikat—dan kemudian disambut dengan begitu banyak rekaman video atraksi serupa di YouTube. Ya, lagu tersebut merupakan salah satu bagian dari pakem atau formulasi penambah kesan dramatis.

Dengan ini semua, tak aneh apabila ada penonton yang bilang: “cukup sampai judul kedua saja, atau hadirkan yang berbeda sekalian.”

[]

Artikel ini juga dimuat di Undas.co, situs andalan Samarinda.🙂

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s