(Sok Tahu) Soal Kuliner Asing di Samarinda

BON Appétit! Selalu terjadi pergeseran yang konstan, saat memasangkan kata “makanan” dan “asing” serta membahasnya dalam lingkup Kota Samarinda. Pergeseran, dari yang awalnya dianggap sebagai makanan asing, kemudian mengundang gelombang besar rasa penasaran dan menjadi tren, hingga akhirnya akan mengalami seleksi alam: bertahan atau ditinggalkan. Mengerucut pada urusan selera dan harga.

Kriteria makanan asing pun begitu luas. Dapat dilihat dari jenis atau gaya memasaknya, bahan yang digunakan, rasa yang dihasilkan, maupun tata cara menyantapnya. Hanya saja dalam kalkulasi bisnis, ada pengusaha yang berani langsung menawarkan hal baru, namun ada yang memilih bermain aman dengan melakukan sejumlah penyesuaian. Berikut beberapa contohnya.

Ada masanya ketika ayam goreng tepung ala Amerika Serikat alias fried chicken dianggap sebagai menu kebarat-baratan hampir dua dekade lalu. Dengan rasa gurih yang relatif mudah diterima orang Samarinda, fried chicken langsung menjadi salah satu simbol nikmatnya bersantap. Tidak ketinggalan dengan kentang goreng atau french fries yang tetap harus dimakan dengan seporsi nasi. Lengkap dengan burger dan kawan-kawannya, serta segelas minuman bersoda. Namun setidaknya ada dua jenis menu pasangan yang tidak disajikan, yakni kentang tumbuk atau mashed potato, maupun coleslaw.

Salah satu ragam kuliner barat lain yang masih bertahan sampai saat ini adalah steak. Uniknya,steak yang bertahan di kota ini memiliki dua ciri umum: harganya relatif lebih murah (yang biasanya dipesan dengan seporsi nasi putih), atau dijual di restoran mahal sekalian. Sayangnya, penyajian steak di kota ini belum mempertimbangkan kaidah kematangan (medium rare sampai well done) dan disajikan di atas hotplate. Dari beberapa kafe yang cukup menggembirakan hati karena menyajikansteak di atas piring biasa, hanya tersisa satu (atau dua?) yang masih beroperasi. Dan mahal.

Begitupun dengan piza dan beraneka ragam pasta. Mulai yang berbentuk lembaran (spageti), lembaran yang lebar (fettuccini), bahkan yang serupa butiran nasi (risotto). Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan sejumlah keju secara berlimpah, yang bagi sebagian besar orang terasa asin, namun tak sedikit pula yang sangat doyan. Juga lebih memopulerkan minyak zaitun sebagai asupan. Setidaknya memberikan gambaran tentang budaya makan orang Italia.

IMG_4965
Barangkali, ini adalah crème brûlée pertama dan satu-satunya dengan tekstur sedemikian cantik, yang pernah saya santap di Samarinda. Belum ada gantinya sampai sekarang. Serius.

Cerita berbeda terjadi pada ragam masakan Jepang dan Korea. Awalnya, menu Asia Timur ini hanya disajikan secara eksklusif (dan relatif mahal) di salah satu hotel besar. Berbanding lurus dengan reputasi hotel tersebut, bulgogi maupun yakiniku, shabu-shabu, udon, dan lainnya disajikan secara autentik. Baik bulgogi maupun yakiniku disajikan berupa bahan mentah dan pemanggang. Pengunjung pun memasak sendiri lembaran-lembaran daging, dan menyantapnya dengan racikan saus sesuai selera. Sebelumnya, pemanggang dilicinkan dengan potongan lemak, BUKAN margarin. Pada shabu-shabu juga sama. Konsumen dipersilakan merebus sendiri bahan-bahannya.

Saat ini, ada beberapa restoran yang juga menyajikan menu ala Jepang dan Korea tersebut, dan ada pula yang sudah tutup. Bulgogi disajikan sebagai salah satu menu kafe konvensional, maupun pada vendor masakan Korea yang memanfaatkan demam K-Pop bersama sajian lain. Sedangkan shabu-shabu relatif kalah pamor dibanding suki (dari sukiyaki), yang–lucunya–juga disajikan dengan kuahtom yum khas Thailand. Di sisi lain, menu bento tidak mampu bertahan lama.

Jangan lupa, sushi juga bukan lagi barang asing bagi warga Samarinda. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kafe menyajikan sushi sebagai salah satu menu unggulannya. Meskipun hanya berupa sushi fusion, bukan yang sepenuhnya menggunakan daging mentah sebagai bahan.

Tahukah Anda bahwa pernah ada restoran India di Samarinda? Wajar bila Anda tidak tahu. Karena selain jumlahnya yang hanya satu (mungkin dua?), tidak ada promosi khusus untuk memperkenalkannya lebih luas. Padahal masakan India itu…ENAK!

Berkaca pada perjalanan ragam kuliner Western, Italian, Japanese and Korean, serta Indian di Samarinda, tak terbantahkan bahwa warga kota ini gandrung terhadap hal-hal baru. Didukung dengan daya beli yang cukup tinggi, serta preferensi pengalaman bersantap yang cukup luas sebagai penghuni kota besar. Ini menjadi potensi bagi para calon investor maupun pelaku bisnis, tentu saja tetap dengan perhitungan yang matang. Sebab bagaimanapun, masih banyak ragam kuliner dunia yang dianggap asing orang Samarinda.

IMG_6166
The first food truck in town, dengan sajian pasta. Konsep yang disuguhkan pun menarik, membawa makanan asing dengan lingkungan dan suasana yang santai.

Ada beberapa opsi masakan internasional yang tampaknya belum bisa diterima umum, baik dari segi rasa, tingkat kekenyangan, maupun harga, setidaknya sampai sepuluh tahun ke depan. Yakni aneka ragam fancy dining (3/5 courses) apalagi jika masakan Prancis, termasuk degustation menu yang penyajiannya lebih bertujuan untuk menilai kualitas bahan; kemampuan sang chef; serta untuk teman mengobrol. Degustation menu relatif tidak cocok dengan lidah Indonesia yang terbiasa merasakan beragam rasa sekaligus dan menggunakan bahan makanan utama berupa nasi, meskipun secara varian degustation menu bisa mencapai 20-an jenis masakan dalam sekali penyajian untuk waktu cukup lama. Ya, kecuali kalau Anda adalah pemilik modal yang tidak pengin buru-buru meraup keuntungan, serta lumayan idealis untuk memperkaya wawasan kuliner orang Samarinda. Silakan saja.

FullSizeRender
Maaf kalau fotonya kurang appealing, tapi ini mungkin Sausage and Mash pertama di Samarinda, dengan mashed potatoes “sungguhan”.

Selain itu, pernahkah Anda mencicipi sup khas Eropa Timur, semacam goulash dan sejenisnya di salah satu kafe? Percayalah, kafe itu masih beroperasi hingga sekarang. Entah, berapa banyak yang memesan dan doyan rasanya. Dalam hal ini, bukan berarti racikan goulash tersebut kurang mantap (ehm, agak kurang pedas sih), tapi masih banyak masyarakat yang belum mengerti, dan kurang dijelaskan lebih lanjut.

Sebaliknya, tetap ada sejumlah opsi masakan internasional yang diprediksi bisa diterima warga Samarinda dengan gampang. Bahkan beberapa di antaranya sudah disajikan dan mendapat respons cukup baik, baik dalam balutan waralaba maupun bukan. Yaitu masakan Malaysia Peranakan dan Mamak (sebutan untuk pria India penjual makanan di Malaysia). Berbeda dengan ragam kuliner Melayu secara umum, sajian Malaysia Peranakan dan Mamak tidak semuanya bersantan maupun berkari, dan kini disajikan di gerai franchise bertajuk “warung kopi” dan restoran milik warga Samarinda. Anda bisa menemukan Nasi Lemak, Nasi Hainan (meskipun kadang terlalu asin dan berminyak), Roti Canai, Mee Goreng, Teh Tarik, Kopi O, dan sebagainya.

Ada pun ragam kuliner lainnya yang belum disentuh secara optimal adalah masakan Thailand, Pho Vietnam, sajian non-halal ala Filipina, masakan Meksiko, dan Tapas Spanyol. Sejauh ini, menu Thailand yang diakrabi orang Samarinda hanyalah Tom Yum. Itu pun sudah disesuaikan dengan lidah lokal yang tidak semuanya suka rasa asam pedas. Padahal masih ada Kari Hijau, Nasi Nanas yang segar, termasuk mangga dan ketan. Sedangkan untuk Pho Vietnam, barangkali masih banyak yang mengiranya sama dengan bihun kuah biasa, yang sama-sama bisa disantap dengan campuran irisan cabai dan kecap asin. Soal sajian non-halal ala Filipina, perlu dijelaskan lagi? Tetap ada pangsa pasarnya, kendati masih dianggap objek yang mengejutkan bagi banyak orang.

IMG_8466
Taco ini enak, rasa isiannya pedas, tapi PR banget megangnya kalau tortilla-nya dimuncratin mayo gitu.

Mengenai masakan Meksiko, secara khusus baru ada satu kafe di kota ini yang menyajikan burrito dan taco. Namun sayang, ada yang kurang tepat dari cara penyajiannya. Layaknya piza, burrito dantaco adalah sajian yang seharusnya langsung dipegang tangan kala disantap. Akan tetapi, terutama pada taco-nya, sapuan mayones seolah menghalangi tangan untuk memegangnya langsung. Sejatinya, Tapas Spanyol adalah menu-menu yang menyenangkan. Menu-menu? Ya! Tidak hanya satu jenis. Saking banyaknya, kuantitas penyajian pun umumnya “imut” dan cocok untuk suasana pesta, ketika Anda harus menangkal lapar sambil terus bersosialisasi dengan seisi ruangan. Salah satunya berupa aneka fritters, yang makin mantap bila dipasangkan dengan bir Amerika Latin yang sedikit asam (yang kalau ada orang mabuk karenanya, dipastikan itu cuma norak dan cari perhatian aja).

Apabila Anda ingin bermain lebih aman lagi, maka pilihlah ranah dessert atau makanan pencuci mulut. Memang bukan merupakan menu yang mengenyangkan, tapi pasti menyenangkan. Bisa berupa kue, puding, paduan keduanya, es dan es krim berbagai tekstur, apalagi dengan embel-embel homemade dan cokelat spesial. The real food-porn. Seperti kata pepatah kuliner: there’s always room for dessert!

Selebihnya, mohon maaf saya cuma sotoy doang.

Oh ya, tapi yang satu ini serius, kepengin banget supaya ragam kuliner porky di Samarinda kian beragam. Sayang enggak bisa masak. Kayak menu di foto ini. *drool*

[]

3 thoughts on “(Sok Tahu) Soal Kuliner Asing di Samarinda

  1. Aduh foto terakhir sangat menggiurkan, di samarinda kami cuma suka nyemperin yang di sekitar jalan dermaga itu, Pontianak punya yah. Itu aja favorit. Ada info lagi gak yg pork2 gitu di Samarinda perlu di coba? *drooling*

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s