Religious Landmark di Samarinda

SEBAGAI ibu kota Kaltim, wajar bila Samarinda mendapat perhatian khusus dari pemerintah provinsi (Pemprov) berupa program-program pembangunan. Termasuk dalam bidang infrastruktur keagamaan, terlepas dari apa pun tujuan utamanya (baca: prestise). Itu sebabnya, setidaknya sudah ada empat pusat keagamaan besar di kota ini, yang diharapkan mampu berperan penting dalam pembinaan masyarakat dari sudut pandang religius. Sekaligus meningkatkan kebanggaan atas kota ini, dorongan positif dari sudut pandang psikologis.

Dari enam agama besar yang diakui di republik ini: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, empat di antaranya sudah memiliki landmark tersendiri di Samarinda. Yakni Islamic Center, Catholic Center, Buddhist Center, dan Christian Center yang masih dalam proses pembangunan. Semuanya merupakan objek hasil pembangunan yang langsung ditangani Pemprov.

Bukan semata-mata tempat ibadah, pusat-pusat keagamaan tersebut juga menjadi semacam nukleus, inti kegiatan komunitas agama masing-masing. Sedangkan untuk agama yang belum memiliki center-nya di kota ini, ada beberapa kemungkinan. Antara tidak dibangun di kota ini (contoh: Hindu Center yang bakal berdiri di Tenggarong Seberang), atau belum ada lahan yang tepat (contoh: wacana pembangunan Khonghucu Center).

  • Islamic Center

Setelah Masjid Istiqlal di Jakarta, Islamic Center diklaim sebagai masjid terbesar kedua di negara ini. Pembangunannya memakan waktu kurang lebih tujuh tahun, sejak peresmian pemancangan tiang pertama pada 2001 hingga akhirnya diresmikan Susilo Bambang Yudhoyono pada Juni 2008.

Bukan hanya ukurannya yang luas, daya tarik dari Islamic Center adalah kubah-kubah berwarna keemasan, dan satu kubah utama yang tampil dengan pola ornamen khas. Selain itu, rancang bangunnya juga menakjubkan, dengan deretan pilar-pilar yang memberi efek visual kesejajaran paralel. Serta menara tertinggi di kota ini, Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter lengkap dengan elevator publik.

Pada masa-masa awal pembukaan Islamic Center untuk umum, bangunan ini jadi objek wisata baru. Tidak ada ketentuan khusus bagi non-muslim kala berkeliling areal. Sejak 2009, ada ketentuan kesopanan yang berlaku secara ketat. Pria dilarang masuk apabila bercelana pendek, atau wanita diharuskan bertutup kerudung (disediakan pengurus) saat berkunjung. Selain itu, dengan dibangunnya pagar pembatas di areal luar, lebih banyak pelintas Jalan Slamet Riyadi yang akhirnya hanya memilih berfoto dari luar.

Kini, Islamic Center sudah memiliki tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan klinik. Nantinya akan terus dikembangkan dengan pusat-pusat kegiatan bernuansa Islami. Mulai pertengahan 2014, Islamic Center memiliki nama baru. Yakni Masjid Baitul Muttaqien, Islamic Center.

  • Catholic Center

Berada di Jalan DI Pandjaitan, Catholic Center juga merupakan nama lain dari kompleks Keuskupan Agung Samarinda.

Peresmian Catholic Center berlangsung 20 September 2010, dilakukan Duta Besar Vatikan Monsignor Leopoldo Girelli, setelah mulai dibangun pada 2006.

Source: jeannie1976.wordpress.com

Bangunan Catholic Center terdiri atas tiga lantai. Lantai 1 difungsikan sebagai sekretariat Catholic Center, sekretariat keuskupan, ruang rekreasi, ruang makan, dan ruang tamu. Sedangkan lantai 2 merupakan ruang para imam dan para uskup. Di lantai 3 diperuntukkan sebagai kapel dan perpustakaan.

Dengan nafas kearifan lokal, eksterior maupun interior Catholic Center  juga dihiasi ornamen khas Dayak. Seperti ukiran motif Dayak Bahau di atap dan pilar bagian depan.

“Di areal seluas 5 hektare ini juga telah berdiri aula sebagai tempat rapat, wisma dan beberapa bangunan lainnya. Kami berencana juga akan membangun Goa Maria, sebagai lokasi wisata rohani,” kata Firminus dikutim dari kompas.com.

  • Buddhist Center

Tak jauh dari Catholic Center, juga berdiri bangunan megah yang langsung terlihat dari pinggir Jalan DI Pandjaitan. Berada di atas bukit, areal Buddhist Center memiliki ciri khas patung Buddha Maitreya (figur utama bagi salah satu sub mazhab Buddhisme Tionghoa) besar di bagian depannya.

Seremoni pemancangan pertama pembangunan Buddhist Center dilangsungkan 2007 lalu. Setelah itu, dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan. Seperti topping-off  atau pembukaan selubung utama sebagai penanda mulai disiapkannya bangunan tersebut untuk operasional kegiatan keagamaan pada akhir Juni 2010.

Pada dasarnya, pembangunan Buddhist Center dilaksanakan secara swadaya. Tidak jauh berbeda dengan pembangunan vihara maupun kelenteng secara umum, yakni menghimpun dana umat dan donatur hingga akhirnya bangunan rampung. Itu sebabnya, hingga tulisan ini diturunkan, Buddhist Center belum grand opening. Lantaran proses finishing dan pelengkapan akhir masih berlangsung.

JSnwupW

Source: livinginindonesiaforum.org

Nama Buddhist Center sendiri, disematkan setelah proyek pembangunan ini mendapat bantuan dari Pemprov Kaltim. Sejatinya, bangunan ini bernama Mahavihara Sejahtera Maitreya (sebelumnya diinisiasi sebagai 宏一佛院, namun sejak beberapa tahun lalu dinyatakan batal digunakan), yang sekaligus menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Maitreya untuk Indonesia Timur.

Dengan nama Buddhist Center, akhirnya bangunan ini juga terbuka untuk umat Buddha secara umum.

Lantai 1 adalah Graha Sakyamuni atau menjadi ruang penghormatan bagi umat Buddha secara umum (termasuk warga Tionghoa). Menampilkan tiga patung besar: Buddha Gotama/Sakyamuni, Bodhisatva Avalokiteshvara versi Tionghoa (Dewi Guanyin), dan Bodhisatva Sangharama (Dewa Guan Gong/Jenderal Guanyu dari kisah “Three Kingdoms”).

Di lantai 3 ada aula untuk kegiatan dalam skala besar. Di lantai 5 merupakan Bhakti Sala atau ruang ibadah khusus bagi umat Buddha aliran Maitreya. Selain ruang-ruangan tersebut, Buddhist Center ini  juga akan memiliki kafe vegan, setelah sebelumnya telah beroperasi restoran menu vegetarian.

Terbaru, bangunan iconic di depan gedung Mahavihara yang ditandai dengan patung Maitreya besar menghadap ke jalan sudah difungsikan. Lantai dasar jadi cabang Fortunate Coffee, kafe vegetarian total dengan chained-brand. Sedangkan lantai atasnya jadi perpustakaan.

  • Christian Center

Dari keempat pusat kegiatan religius di Samarinda, boleh dibilang Christian Center berada di kawasan downtown kota ini karena berlokasi di Jalan Urip Sumohardjo, lahan bekas Gedung Mulia Budi.

Mulai dibangun 2013 lalu, sempat ada penolakan dari sekelompok warga sekitar yang mengira proyek tersebut hanyalah pembangunan gereja biasa. Penolakan pun akhirnya tenggelam, setelah ada penjelasan dari Pemprov mengenai status bangunan tersebut. Bahkan pengadaan jasa konsultasinya tercantum dalam situs pengadaan.net Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kaltim, di bawah satuan kerja Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim.

Hingga saat ini, pembangunan terus berlangsung, dan beberapa bagian kompleks Christian Center sudah mulai terlihat. Sayangnya, belum ada rilis resmi mengenai rancang bangun Christian Center secara keseluruhan, termasuk organisasi maupun denominasi induk yang akan mengelolanya.

wt9myv

Source: skyscrapercity.com


Keberadaan pusat-pusat keagamaan di Samarinda, memang patut dikategorikan sebagai gagasan yang ambisius namun positif. Akan tetapi, akan jauh lebih penting apabila tidak hanya kemegahan bangunan saja yang tersedia, melainkan kualitas batin tiap-tiap umatnya. Sehingga kekuatan dan keindahan ajaran agama apa pun tidak hanya diwakilkan dari ketersediaan infrastruktur, namun juga perilaku dan dorongan bertindak.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s