Siti

KETIKA putih dan hitam berpadu, lahirlah abu-abu. Warna ketiga yang berada di antara keduanya. Kerap ambigu. Kadang terlalu cerah. Tak jarang terlampau suram.

Hanya ada tiga warna ini dalam kehidupan Siti, istri seorang nelayan yang tinggal tak jauh dari Parangtritis, Bantul bersama suami, mertua, dan seorang putranya. Namun ia sudah tidak ambil pusing soal mana yang benar-benar putih dan hitam, mana yang dianggap terang dan gelap. Dalam tubuh kurus dengan tonjolan tulang-tulang, yang Siti pedulikan adalah janji, tanggung jawab, dan cinta. Tiga hal yang menjadi sumber kekuatan dan pergumulannya menjalani hidup, sebagai seorang ibu, istri, dan tentu saja sebagai seorang… Siti.

Gambaran ini yang diangkat Eddie Cahyono dalam film terbarunya: “Siti”, judul karya yang berhasil meraih predikat film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015, dan telah menjalani serangkaian jadwal pemutaran di banyak festival film bergengsi dunia sejak tahun lalu.

Mengutip Mas Nauval, seorang teman;

Dari puluhan festival internasional yang sudah memutar film ini, salah satu festival yang memutarnya adalah Telluride Film Fest di Colorado. Susah sekali tembus festival ini. Soalnya Telluride didominasi film-film Hollywood yang diproyeksikan unggul di awards season. Tapi ‘Siti’ bisa tembus.

Atas pencapaiannya itu, baru hari ini (28/1) “Siti” ditayangkan secara komersial oleh jaringan bioskop-bioskop beberapa kota Indonesia.

Samarinda memang tidak kebagian layar–lantaran keterbatasan sumber daya, katanya. Beruntung “Siti” berhasil dibawa ke kota ini sebagai film pembuka Festival Film Samarinda (FFSMR) perdana yang diselenggarakan tim Undas.Co, Sabtu (23/1) pekan lalu dengan empat kali penayangan plus satu sesi diskusi bersama sang sutradara.

Meski mengusung gelar film terbaik FFI 2015 dan sederet pengakuan lainnya, pada dasarnya “Siti” adalah karya seni yang sederhana. Tak sukar bagi penikmat awam untuk tercerap dalam secuplik kisah hidup Siti yang dramatis, yang rentang waktunya hanya sekitar tiga hari-tiga malam. Apalagi film ini ditampilkan dengan rona monokromatis, alias hanya hitam putih (dan abu-abu), dan sukses mengunci perhatian penonton sampai akhirnya menyisakan kesan yang kuat.

Source: viff.org

Dalam rentang waktu tiga hari, rentetan peristiwa hidup Siti disuguhkan dengan mengundang rasa penasaran dan simpati secara bersamaan. Saat ia menangani putranya yang mbethik dengan segala polah tingkah; saat ia terpaksa harus kucing-kucingan dengan penagih utang; saat ia berusaha sabar dengan suaminya, untuk kemudian malah kembali kesal dan lelah menanggung rindu; saat ia menjadi penjual rempeyek kepiting; saat ia bekerja di tempat karaoke kelas kambing; maupun saat ia bimbang dengan isi hatinya sendiri.

Tanpa drama yang terlampau mewah, kisah Siti begitu “memesona”. Tak perlu kalimat-kalimat cantik, cerita ini begitu mudah diakrabi. Bahkan menjadi cukup asyik dengan dialog-dialog bahasa Jawa tutur yang berlimpah, serta detail-detail yang sejatinya remeh tapi begitu memikat tanpa menjadi distraksi. Sampai akhirnya perasaan penonton dibuat seperti air soda botolan, yang dikocok kemudian tumpah berhamburan tetapi hambar tanpa rasa, dengan adegan klimaks tak jauh dari akhir cerita. Bagian yang–kemungkinan besar–selalu ditanyakan kepada sang sutradara dalam setiap sesi diskusi maupun wawancara.

Akan tetapi, ending “Siti” justru akan melengkapi film berdurasi 88 menit ini sebagai karya audiovisual yang sangat puitis, bila dibiarkan begitu saja tanpa interpretasi yang gamblang. Menyisakan satu pertanyaan tunggal yang tidak harus digenapi dengan jawaban: “terus, Siti-nya bagaimana?

Pada akhirnya, “Siti” bisa menjadi perwujudan dari tiga hal sekaligus:

  1. Menjadi sebuah tontonan yang menghibur, fitrahnya sebagai sebuah film;
  2. Sebagai bentuk karya seni yang idealistis, ekspresif, dan tentu saja artistik dari Eddie Cahyono dan tim produksi, serta bisa banget dijadikan inspirasi para penggiat perfilman nasional luar Jakarta untuk terus mengeksplorasi kemampuan; dan
  3. Menjadi selembar potret unik tentang kondisi sosiologis umum pada masyarakat Indonesia, sebagai sebuah observatorium raksasa.

Terima kasih, sudah mampir di Samarinda.

[]

3 thoughts on “Siti

  1. Sebagai penonton film komersil, saya tidak begitu tertarik nonton film Siti. tapi setelah lihat pemberitaan di sana sini, lama-lama jadi penasaran juga…:mrgreen:

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s