Ragam Kuliner Berdaging Babi di Samarinda

SEBAGAI ibu kota provinsi, Samarinda ibarat melting pot. Sebuah tempat di mana beragam latar belakang suku, budaya, dan agama saling bertemu untuk dilakoni masing-masing warganya sebagai bagian dari identitas khas. Begitupun juga dalam hal khazanah kuliner. Di kota ini, bisa dijumpai beragam masakan dari banyak daerah, dalam maupun luar negeri, ya walaupun enggak banyak-banyak banget. Termasuk sajian-sajian kategori non-halal (bagi muslim) olahan bermacam suku.

Lewat tulisan ini, akan dibagi sebagian kecil ragam masakan non-halal yang tersedia dan paling populer di Samarinda. Adapun kriteria popularitas di sini adalah, digemari banyak orang, merupakan sajian umum yang dijual bebas, dan beberapa di antaranya merupakan menu legendaris.

Nasi Campur Babi/Nasi Babi

Cukup terwakili dari namanya. Menu ini terdiri dari seporsi nasi putih, dilengkapi dengan beberapa lauk dalam jumlah yang relatif tidak berlebihan, dan disajikan di piring yang sama. Beberapa jenis lauk Nasi Campur Babi yang lazim disajikan di Samarinda, antara lain

  • potongan lap chiong/la chang/臘腸 atau daging giling tradisional Tionghoa mirip sosis;
  • potongan chasiu/cha shao/叉烧 atau babi panggang dengan saus khusus dan madu; satu atau dua potong babi kecap (serupa semur);
  • potongan shao zhu/燒豬 atau babi panggang yang terdiri dari daging hingga lapisan kulit yang bersih dan biasanya jadi garing; sepotong telur pindang;
  • potongan ayam kampung rebus (opsional),
  • dan potongan mentimun (opsional).

Sepiring nasi campur ini juga bisa didampingi semangkuk kuah kaldu. Sedangkan pada level lebih advance, ada pula yang menyajikan jeroan. Tapi tidak populer di Samarinda.

IMG_8124
Nasi Campur Depot Singkawang.

Pada dasarnya, menu ini termasuk sajian sederhana. Lauk-lauknya sudah dimasak terpisah terlebih dahulu, untuk kemudian baru dipotong-potong kala disajikan. Meskipun begitu, sejauh ini hanya ada tiga rumah makan yang menyediakan menu ini. Masing-masing pun memiliki gaya khas. Yaitu gaya Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar) yang tanpa kuah kaldu dan ayam rebus, gaya Kanton/Guang Dong dengan kuah kaldu dan ayam rebus, serta gaya Tionghoa Balikpapan yang saking sederhananya sampai-sampai mirip sajian bekal sekolah yang bisa dimasak dalam waktu cepat.

IMG_8121
Nasi Campur Depot Lotus, takeaway.
IMG_7776
Mirip nasi goreng, namun menu ini dinamakan Nasi Campur Babi di Depot Lucky, yang pemiliknya disebut-sebut bukan asli Samarinda.

Sate Babi

Patut diakui, di Samarinda, ada beberapa orang yang sangat mahir membuat sate babi. Sayangnya, mereka adalah para ibu rumah tangga. Sehingga sate yang mereka masak, tentu hanya untuk dikonsumsi secara terbatas. Selebihnya, hanya ada empat depot yang menyajikan menu ini, namun cuma dua yang masuk rekomendasi. Salah satunya, dan yang termasuk paling legendaris di kota ini, berada di persimpangan Jalan Pulau Sebatik. Oh ya, sejauh ini menurut saya, chasiu di sana juga paling juara!

IMG_8123
Sate babi Depot Simpang.

Di depot yang kini ditangani generasi kedua itu, potongan daging satenya khas. Berbentuk kotak. Disajikan dengan bumbu kacang layaknya sate pada umumnya, ditambah sepotong jeruk nipis dan sambal. Gaya penyajian ini relatif berbeda dengan sate-sate babi yang ada di pulau Jawa maupun Bali. Di Pulau Dewata misalnya, lebih dikenal dalam bentuk sate lilit. Sedangkan di Surabaya maupun Jakarta, sate babi disajikan tanpa cairan bumbu. Hanya disantap dengan kecap manis, rawit, dan potongan bawang saja, atau ada pula dengan pasta bumbu yang sudah melekat pada dagingnya.

Nah, rekomendasi berikutnya justru merupakan restoran yang terbilang baru, di Jalan Pelabuhan. Tekstur dagingnya lebih juicy, juga dihadirkan dengan bumbu siram. Tapi saya lebih suka menyantapnya tanpa bumbu.

Chinese Food with Pork

Dari poin ini, gambarannya mulai melebar. Bukan lagi menu-menu tertentu, melainkan ragam menu.

Segala sajian masakan Tionghoa dengan daging babi sebagai salah satu bahannya, tentu memiliki pendoyannya masing-masing. Mulai dari chao fan/炒飯 atau nasi goreng Tionghoa, chao mian/炒麵 atau mi goreng Tionghoa baik yang dimasak biasa maupun mi goreng siram, za cai/雜菜 alias cap cai, babi goreng, sampai sayur asin dengan tulangan babi/bakut/rou gu/肉骨 bersama sawi asin dan tahu Cina.

IMG_8122
Nasi goreng dengan potongan chasiu.

Kendati demikian, justru belum ada yang menjual Bak Kut Teh/Rou Gu Cha/肉骨茶, Mi Babi atau Mi Pangsit Babi, yang bisa sama atau tidak dengan Mie UP yang terkenal di Surabaya.

Lapo Batak

Pada dasarnya, lapo menyajikan ragam masakan Batak. Termasuk babi panggang, SaksangArsik Ikan Mas, daun singkong tumbuk, dan lainnya.

Ada beberapa lapo yang buka di Samarinda. Hanya saja, cenderung tidak banyak diketahui masyarakat lantaran minimnya penanda layaknya rumah makan-rumah makan pada umumnya. Dari beberapa lapo tersebut, salah satu yang cukup terkenal berada di Jalan Wahid Hasyim, di depan salah satu perguruan tinggi swasta. Juga ada di tanjakan Jalan MT Haryono.

Rumah Makan Masakan Dayak

Hingga saat ini, mungkin hanya ada satu rumah makan yang menyajikan ragam masakan Dayak mainstream di Samarinda. Dengan babi panggang biasa sebagai salah satu menunya. Yaitu di Jalan Sungai Barito. Babi panggang di rumah makan yang mengambil teras sebuah rumah ini, bisa dinikmati dengan tumis daun pepaya. Entah apakah rumah makan ini masih beroperasi atau tidak.

Restoran Manado

Sama seperti rumah makan masakan Dayak, di Samarinda hanya ada satu restoran Manado yang berada tak jauh dari RS Dirgahayu, Jalan Gunung Merbabu, tapi kabarnya sudah tutup.

Nama menu yang disajikan tentu sudah tidak asing lagi, cukup dengan embel-embel Rica-rica sebagai jenis masakannya. Itu sebabnya, salah satu tempat makan non-halal yang relatif baru buka di Jalan Ahmad Yani, boleh dibilang hibrid antara sajian Tionghoa dan Manado.

Di tepi Jalan Ahmad Yani.

Inilah keenam ragam masakan non-halal yang cukup populer di Samarinda. Konsumennya jelas terbatas, alias tidak untuk semua orang. Dengan demikian juga, boleh dibilang keragaman kuliner di Samarinda relatif kaya. Meskipun menunya tidak terlampau banyak, setidaknya masih lebih beruntung ketimbang penduduk beberapa kota di provinsi ini, yang harus bepergian ke luar kota dulu apabila ingin menyantap babi panggang. Termasuk untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana dengan kota-kota lain di Kaltim? Ehm… Sejauh ini cuma tahu sedikit soal kuliner berdaging babi di Balikpapan, dan dengar tentang nikmatnya babi panggang Tarakan.

Sedikit tentang yang di Balikpapan, sebelumnya hanya tahu dengan rumah makan Tirai Bambu di Balikpapan Baru. Sate babinya lumayan terkenal untuk lingkup Balikpapan, meskipun belum bisa menggantikan enaknya sate babi di Samarinda, bagi saya. Setelah satu dua drama, akhirnya Tirai Bambu berpindah lokasi, namun tetap di Balikpapan Baru. Sampai pada beberapa pekan lalu, ada Rumah Makan Macau, yang juga berada di areal Balikpapan Baru. Hidangan satenya ENAK! Dengan tekstur daging yang pas, dan menyenangkan di mulut.

IMG_9385
Sajian RM Macau.

Katanya sih ada restoran daging babi lainnya di Balikpapan Baru, Pos 10 sebutannya, tapi belum pernah ketemu.

Selain sate babi, langganan lain di Balikpapan adalah Depot Lusiana di daerah “lama”: Kebun Sayur. Bisa jadi, ada hubungan kerabat dengan pemilik salah satu restoran legendaris di Samarinda. Soalnya pernah melihat sosok ncek-ncek juru masak restoran Samarinda itu di Lusiana.

and anyway, akan sangat senang, bila dapat rekomendasi tempat kuliner daging babi lainnya di Balikpapan. Juga enggak kalah senang bila ragam sajian daging babi di Samarinda bisa bertambah. Ala barat, seperti Pork Knuckle, atau Cubanos, sebangsa sosis Jerman, Samgyeopsal, dan sebagainya.

[]

Pertama kali ditulis untuk Undas.Co.

6 thoughts on “Ragam Kuliner Berdaging Babi di Samarinda

  1. -nasi campur model singkawang paling oke dan paling mirip dengan yg dijual di singkawang bukan yg di jalan flores. tapi di warung diatas mobil pick up yg biasa mangkal di Pasar subuh. awal buka sajianya amat lengkap, ayam, bebek, babi kering, babi merah, dan kuah, setelah beberapa tahun ayam dan bebeknya sering tidak ada…

    – rumah makan mando mungkin sudah tidak ada lagi, tapi penggantinya ada di rumah makan minahasa, mereka menyiapkan babi rica, babi tino, RW (masakan2 manado) . tapi sayang jauh dari kata cukup memuaskan, sedangkan yg dulu di deket merbabu itu juga tidak kalah “hancurnya” memberikan wahana masakan ala manado.

    -rumah makan simpang sebatik. sebaiknya tidak di recommned sebagai tempat makan utama, bukan tidak menghormati legend of sate babi tapi karena restonya angin2an. sesuka hati tutup dan buka.

    salam Char sui and Bai kut kuah…

    matz
    samarinda

    1. Hahaha, betul Ko.

      Untuk yg di Simpang Sebatik sih sebenarnya pilihan subjektif. Bagian dari memori masa kecil. Pertama kali lidah ketemu chasiu paling enak dan cepat habis.

      Kalau yg pakai pick up di depan Pasar Subuh itu bukannya sekarang buka Depot Lotus?

      Saking sedikitnya restoran babi di Samarinda, sampai bisa dihitung jari ya, Ko.😀

      1. Resto non halal susah untuk survive ditengah samarinda.. Bisa liat depot harmoni yg deket scp? Lezat jl. Dermaga? Lucky jl. Dermaga? Dll. Dll… Yg doyan masakan non halal tidak terlampau banyak, beda di surabaya, masakan non halal kayak mie ujung pandang, mampu buka sampe 4cabang itu belum dihitung ex kokinya yg buka sendiri, 369 itu sampe buka gerai khusus untuk non halal…… Mahalnya daging babi, bikin budaya memasaknya semakin kecil, yg makan juga mikir.. Mahal apa tidak….. Di syukuri saja masih bisa lihat masakan non halal, coba di aceh?…

      2. Depot yg dekat SCP itu sebelahnya Dewi Sports? Saya belum pernah makan sih, tapi katanya kurang enak.

        Depot Lezat Jalan Dermaga tahu dong, tapi kok enggak berasa ada yg jadi *signature dish*-nya.

        Depot Lucky, itu ada fotonya di dalam tulisan. Hehehehe…

  2. saya lupa apa masih ada tempat makan yang di aminah syukur di dekat gereja….Bai kut kuah nya enak sekali…jadi kangen samarinda………..

    1. Kalau yang dimaksud adalah “Lempeng”, depot khusus sarapan pagi itu masih ada kok. Sebelumnya kan beralamat di Jalan Mulawarman, tapi pindah ke Jalan Aminah Syukur. Enak!

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s