Tren “Hipster Market” di Samarinda

ACARA–yang kerap disebut–hipster market di Samarinda baru pertama kali ada pada awal 2015 lalu. Entah apakah istilah tersebut tepat atau tidak, namun pastinya semangat yang diusung sama. Yakni upaya kaum muda meningkatkan eksistensi, melalui geliat industri kreatif berupa karya kriya di berbagai sektor.

Dimulai oleh Fascinating Summerinda, dan berlanjut dengan sejumlah event lain selama sepanjang tahun. Kondisi ini terus mengalami perubahan tren sampai sekarang, menghadirkan pop-up markets tematik maupun dalam rangka memeriahkan peringatan tertentu.

Iseng berandai-andai, saya sempat menulis tentang ini untuk Undas.co Mei tahun lalu, saat event beginian masih gres-gresnya.


Terhitung sejak awal tahun hingga artikel ini tersaji di hadapan kamu semua, setidaknya sudah ada tiga event hipster market terselenggara di Samarinda. Diawali dengan Fascinating Summerinda (Februari), Samarinda Street Fest (Maret), dan Imaginarium (Mei).

Ketiganya memang tampil dengan penyelenggara, nama dan sub konsep, serta tujuan utama yang berbeda. Namun pada dasarnya berangkat dari ide yang sama: bazar yang hipster. Ciri-cirinya adalah barang-barang dagangan yang tidak/belum dijual di toko-toko konvensional (hipster commodities) sekaligus memperkenalkan produk kreatif lokal, menciptakan suasana yang unik (hipster ambience) dan cocok mendapat predikat happening, yang diharapkan mampu menarik perhatian serta menghimpun berbagai kalangan tersegmentasi (hipster peoples and communities) baik penjual maupun pembeli. Selain itu, juga terdapat kesamaan metode promosi pra dan saat acara berlangsung, serta kesamaan beberapa hal teknis lain. Selebihnya, event-event tersebut sama-sama merupakan pertaruhan, uji pembuktian kreativitas dan reputasi panitia.

Semarak? Tentu saja.

Mengesankan? Tergantung pada pengalaman masing-masing pengunjung.

Berhasil? Kembali pada hasil evaluasi masing-masing penyelenggara.

Silakan koreksi pernyataan ini. Hanya satu dari tiga event di atas yang dianggap benar-benar berhasil, dalam artian menghebohkan dan mengundang rasa penasaran serta partisipasi banyak pihak, menghadirkan acara yang benar-benar baru di kota ini, terus diperbincangan dalam waktu cukup lama setelah usai, relatif bersahabat dengan isi dompet pengunjung, dan konon katanya tidak merugi. Bahkan akhirnya mendorong banyak kelompok anak muda lain untuk membuat gelaran serupa, yang risikonya bakal membuat event-event semacam ini kehilangan geregetnya karena terlampau sering diadakan.

Fascinating Summerinda merupakan event pertama, pionir sektor ini di Samarinda. Penyelenggaranya bukan kumpulan banyak orang, namun menjadi satu di bawah label Market Venue Indonesia (Mave ID) dengan empat cewek asli Samarinda yang berkuliah di Australia. Kuat terasa, pelaksanaan Fascinating Summerinda berada di batas antara berani dan nekat. Berani karena memerlukan modal cukup besar dan benar-benar memperkenalkan hal baru, nekat karena tidak dibarengi dengan kekuatan jaringan untuk menggandeng vendor serta pihak-pihak terlibat lainnya, dan tidak mengantisipasi pergeseran konsep dengan eksekusi di lapangan. Keberhasilan penyelenggaraan Fascinating Summerinda ada di area stan makanan, dengan rombongan konsumen yang memborong habis aneka kudapan.

Source: Twitter @FelixJsn

Dari sisi pembiayaan awal, kabarnya panitia Samarinda Street Fest benar-benar mengerahkan semua daya yang ada, sehingga modal yang digelontorkan tidak terlampau besar. Panitia sangat terbantu dengan keterlibatan banyak pihak untuk memeriahkan acara ini. Sayangnya, saking tidak fleksibelnya dana yang tersedia, akhirnya merembet pada hal-hal teknis. Seperti kualitas tata suara yang kurang maksimal, yang membuat penampilan sukarela para pengisi acara kurang bisa terapresiasi. Meskipun begitu, kuatnya jaringan dan referensi kreatif tim panitia membuat acara ini menyedot perhatian kaum muda Samarinda. Mulai stan jasa pembersihan sepatu hingga kafe melibatkan diri. Rundown yang atraktif pun membuat pengunjung betah nongkrong. Kombinasi semua itu meludeskan kuota pengunjung harian, yang membuat banyak orang makin penasaran untuk datang. Sukses menjadi buah bibir, harusnya juga dibarengi dengan kesuksesan di hasil akhir.

Source: Twitter @TepianTV

Acara terakhir adalah Imaginarium. Sayang, passion dalam penyelenggaraannya kalah kuat dibandingkan kesan untuk menunaikan tanggung jawab. Maklum, Imaginarium diadakan sebagai tugas akhir mata kuliah. Panitia memang telah berupaya sekuat tenaga agar kegiatan ini berjalan dengan baik, namun saat datang dan mencoba terjun merasakan suasananya, ada antusiasme yang hilang. Di titik akhir, setidaknya Imaginarium membuahkan nilai yang terbaik dan mata kuliah yang tuntas.

Imaginarium. Source: Undas.co

Dipastikan bakal ada banyak event serupa lainnya di masa mendatang, apalagi trennya masih cukup santer dan sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itu, akan jauh lebih baik bila para penyelenggara berikutnya mampu berkaca dari pelaksanaan yang sudah-sudah, agar dapat menghindari kesalahan serta meningkatkan pencapaian.

Setidaknya, ada beberapa hal yang tercetus saat membahas soal ini. Berikut beberapa di antaranya.

  1. Beyond Creative

Kreativitas tak mengenal batas, bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan sekalipun baik dalam perencanaan, promosi menjelang pelaksanaan, sampai pada saat acara berlangsung. Syukur-syukur bila tim panitia punya ide orisinal untuk dilakukan, yang bisa membuat acaranya berbeda dari event-event lainnya. Namun jika belum, tidak diharamkan belajar atau mendulang inspirasi dari gelaran serupa di daerah lain. Ada Market Museum, Brightspot Market, Jakarta Fashion and Food Festival, Eat Art Loud, dan lainnya di Jakarta. Ada pula Basha Market juga IdeArt ITS di Surabaya. Belum lagi bazar-bazar hipster lain di Yogyakarta, Denpasar, Bandung, dan kota lainnya. Bagi anak-anak muda gaul yang rajin bertandang ke Jakarta, mungkin acara-acara di Samarinda terasa biasa. Akan tetapi bagi anak-anak muda Samarinda, bisa jadi terasa luar biasa.

Contoh: apa yang terlintas dalam pikiran kamu begitu mendengar tajuk “CreatiFest Goes to School”, “Shanghai Night Bazaar”, atau “Pasar Malam Terapung”?

  1. “Die Hard” Team

Hanya berakhir menjadi teori, apabila gagasan-gagasan kreatif tidak didukung sekumpulan orang yang memiliki semangat dan kegilaan yang sama. Tanpa bubuhannya, silakan catat semua ide kreatif dan simpan baik-baik. Kecuali kalau kamu berani nekat mengorbankan waktu, tenaga, uang untuk sesuatu yang dibuat sendirian, silakan. Dalam hal ini, harap dibedakan antara tim dan pekerja. Tim memiliki kesamaan visi dan misi, berani bersikap menangani masalah. Sedangkan pekerja, hanya terikat kontrak dan jasa dengan imbalan upah. Sebagai ilustrasi, Mave ID terdiri dari empat cewek asli Samarinda. Panitia Samarinda Street Fest adalah orang-orang yang dikumpulkan berdasarkan komitmen untuk “bermain” bersama-sama. Bahkan founder Basha Market di Surabaya yang penyelenggaraannya terbilang sukses banget, hanya terdiri dari dua cewek seperti yang sempat dibaca di harian Jawa Pos entah edisi kapan. Lupa.

Lain cerita, apabila kamu hanya sendirian namun sukses menyelenggarakan sesuatu, itu berarti kamu adalah manajer yang andal.

  1. Cutting Edge Promotion

Sejauh ini, promosi hipster event di Indonesia terpusat pada media sosial, terutama Instagram yang berbasis foto maupun gambar. Efisiensinya pun belum ada lawan, karena nyaris gratis. Pamornya masih bertahan, sebagai simbol tingkat gaul seseorang. Efektivitasnya tak terbantahkan, setidaknya sampai masyarakat mulai bosan mendapatkan promosi yang membanjiri layar gawainya. Ingat, tidak semua tim memiliki graphic designer yang jago, dengan selera yang elegan. Tidak semua desain poster dan logo kegiatan mampu menarik simpati. Jika sudah begini, jangan ragu untuk melangkah pada media berikutnya. Bisa gunakan YouTube untuk mengeksplorasi media promosi berupa video atraksi. Atau bisa juga melakukan happening art, yang meskipun sampai sejauh ini masih kerap membuat orang kebingungan, namun setidaknya tetap dapat menarik perhatian. Yang jadi perhatian utama adalah konsep, ide, dan biaya.

  1. Consistency

Nama, desain, dan konsep yang keren mampu membangkitkan imajinasi dan ketertarikan calon pengunjung. Namun bila dalam pelaksanaannya  meleset, bakal berat di gaya doang. Rencananya ingin menyelenggarakan event yang mengangkat produk lokal, namun jatuhnya malah seperti pameran biasa yang diadakan dalam rangka peringatan hari jadi instansi pemerintahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti:

  • Tinggalkan penggunaan sekat-sekat kecil berdinding putih yang kerap digunakan dalam pameran pemerintahan. Bebaskan para vendor untuk berkreasi.
  • Seleksi calon penyewa stan dengan benar. Menurut kamu, apakah jasa mengasah batu akik masuk dalam kategori bisnis hipster?
  • Ramu tajuk kegiatan menjadi konsep utama. Penyelenggaraan pun sebaiknya mengacu pada konsep utama tersebut. Izinkan saya mengangkat Imaginarium sebagai contoh. Disebutkan bahwa Imaginarium merupakan gabungan dari kata “imagine” (entah kenapa menggunakan kata kerja ketimbang kata benda, “imagination”) dan “aquarium”. Namun mengapa panitia tidak sekalian menghadirkan kesan akuarium imajiner di lokasi acara? Menggunakan plastik bening sebagai sekat antara stan; menyusunnya jadi labirin tembus pandang, memanfaatkan barang-barang bekas sebagai ornamen; mengeliminasi stan-stan yang kosong serta mengubahnya menjadi pojok selfie; memanfaatkan panggung bukan sebagai panggung; dan sebagainya.
  • Apakah ide-ide di atas terasa membingungkan, dan mustahil untuk dilaksanakan? Itulah tujuannya mengapa panitia terdiri dari banyak orang; agar bisa saling mengerahkan pikiran dan berupaya sekreatif mungkin memanfaatkan keadaan.
  • Seleksi mata acara dan pengisinya. Jangan tanggung bila ingin hipster. Pernah berpikir mengkolaborasi penampilan komunitas akustik dengan barang bekas dan kelompok pemain biola? Atau menampilkan musisi Tingkilan maupun petikan Sampeq dengan DJ? Mungkin kebayangnya aneh, tapi itu kan baru dalam bayangan.
  1. Precision & Anticipation

Baik memperhitungkan biaya, waktu, dan dampak. Soal biaya, jangan terlalu ketat namun jangan sampai kelewat kendur. Perhitungkan juga harga produk yang dipasarkan para vendor, dengan daya beli pengunjung. Patokannya, apakah pengunjung event bersedia mengeluarkan lebih dari Rp 1 juta untuk arloji berbahan kayu? Di pulau Jawa, produk itu sedang booming dan menjadi salah satu simbol hipsterism. Apakah begitu pula di Samarinda? Sedangkan urusan waktu, akan lebih baik bila diberi durasi antaracara. Apabila setiap bulan berlangsung event dan tanpa gebrakan apa-apa, bakal membosankan dan menghilangkan minat. Memunculkan celetukan: “halah, paling isinya gitu-gitu aja.

Terakhir adalah soal dampak, yakni seberapa besar acara yang diselenggarakan mampu mendorong anak muda lain untuk lebih kreatif, lebih berani berekspresi, dan lebih keren dari pendahulunya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari efek yang ditinggalkan. Menginspirasi, bila boleh dikatakan demikian.

  1. Innovative

Selain jualan dan menampilkan hiburan, tidak ada salahnya menghadirkan side event yang bisa memperluas wawasan, memberi “oleh-oleh” kemampuan bagi para pengunjung. Boleh hadirkan kelas-kelas keterampilan kekinian maupun klasik. Misalnya kelas tentang teknik memotret dengan ponsel untuk kepentingan posting di Instagram, minimal agar makanan yang difoto terlihat lebih indah. Ada pula kelas tentang lettering yang sedang ngetren saat ini. Di ranah klasik, ada kelas Origami, membuat pesawat kertas, bahkan sampai kelas kerajinan manik maupun merajut.

  1. Bravery & Trust

Penting untuk berani mencoba, dan tidak gampang dijatuhkan dengan komentar negatif orang lain. Jangan salah, tetap ada yang menyebut acara hipster di Samarinda enggak jauh beda dibanding pasar malam yang menjual banyak barang. Setidaknya, walaupun kita dianggap latah dan hanya bisa ikut-ikutan, lebih baik ketimbang diam dan cuma bisa ngata-ngatain orang tanpa berupaya menghasilkan kemajuan apa-apa.


Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini? Nanti, masih ngumpulin mood buat nulis.🙂

[]

 

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s