Rudy Habibie

KUALITAS penampilan yang konsisten, atau pengulangan yang membosankan. Di antara dua hal tersebut, Reza Rahadian boleh dibilang makin meng-Habibie dalam “Rudy Habibie”.

Ya. Agaknya sulit untuk tidak memulai pembahasan tentang film garapan Hanung Bramantyo ini tanpa menyorot Reza. Sampai-sampai tidak akan berlebihan kiranya jika Reza sudah telanjur diidentikkan dengan Habibie; menjadi aktor pertama sekaligus semacam benchmark bagi penampil lainnya.

Memerankan Habibie muda yang baru datang ke Aachen, Jerman untuk menjadi mahasiswa teknik, para penonton (terlebih yang sudah menyaksikan “Habibie & Ainun”) bisa melihat bahkan merasakan makin luwesnya Reza memerankan sosok presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut. Dengan sentuhan dramatis khasnya, tentu saja.

Source: Kapanlagi

Sebagai Rudy–panggilan nama lakon sepanjang film, untuk memisahkan sosoknya dengan figur Bacharuddin Jusuf Habibie–punca kekuatan penampilan Reza kali ini adalah gaya bicara, intonasi, bahkan vokal. Disusul dengan mimik dan ekspresi wajah. Itu sebabnya, ada banyak adegan saat penampilan Reza bisa dinikmati secara a la carte, terpisah dari konflik cerita yang tengah berlangsung maupun komponen-komponen teknis lain. Tak ketinggalan, dialog-dialog dalam bahasa Jerman dan Belanda yang dilontarkan Rudy sepanjang film bisa jadi sumber ketakjuban tersendiri.

Selain Reza, sebagian besar pelakon dalam “Rudy Habibie” juga tampil efisien dan proporsional. Seperti yang ditunjukkan Donny Damara (ayah Rudy), Bastian Bintang Simbolon (Rudy kecil), Chelsea Islan (Illona) yang terasa agak kurang halus beradegan di awal-awal kemunculannya, Indah Permatasari (Ayu) yang cantik banget di situ, termasuk Ernest Prakasa (Keng Kie), Cornelio Sunny (Panca), dan Dian Nitami (ibu Rudy). Hanya saja, perubahan karakter yang diperankan Dian Nitami terlalu drastis dan menjadi agak disayangkan lantaran tidak ajek. Dari sosok ibu yang penuh kasih sayang dan hangat, menjadi sangat defensif serta dingin. Selebihnya, “Rudy Habibie” ternyata jadi semacam ajang comeback Paundrakarna setelah sekian lama absen dari dunia hiburan.

Terlepas dari penampilan para pemain, ada beberapa bagian cerita “Rudy Habibie” yang terkesan scattered. Dimunculkan secara simultan, namun tak semuanya tertuntaskan di akhir durasi. Sehingga menyisakan kesan kurang lengkap dan jadinya terasa enggak penting-penting amat bagi ruang persepsi para penonton. Terutama terkait geliat Rudy sebagai mahasiswa Indonesia yang aktif bersuara, gejolak politik di Indonesia, serta drama keluarga. Justru kalah berkesan dibanding adegan-adegan remeh dengan klimaks yang jelas. Seperti adegan di rumah keluarga Neuefiend, atau tantangan di kafe.

Soal bumbu drama romansa, lain lagi ceritanya. Porsinya hampir sama banyak dengan letupan-letupan cerita mengenai nasionalisme, kejeniusan kaum muda Indonesia, dan semangat dalam mewujudkan visi. Tokoh Rudy ternyata bisa tidak konsisten dan clueless juga. Akan tetapi, siapa yang butuh peduli dengan semua itu sih, ketika lebih gampang dibuai dengan romantisnya para lakon saat beradu chemistry. Lagipula, sebagai prequel dari “Habibie & Ainun” sekaligus sequel dari “Habibie & Ainun 3” (yang sedikit teaser-nya ditampilkan di mid-credits), tentu urusan cinta-cintaan lah yang ditonjolkan lebih utama.

[]

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s