Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti.🙂

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s