5 Kekeliruan Jurnalisme tentang Tahun Baru Imlek & Capgomeh

ADA satu pepatah Tionghoa yang cocok dengan kondisi ini; “三人成虎.” Ketika sebuah ketidaktahuan atau kekeliruan akhirnya dianggap sebagai kebenaran, setelah terus menerus disampaikan dari/oleh/kepada banyak orang. Termasuk mengenai Tahun Baru Imlek dan Capgomeh, sampai sekarang.

Dalam konteks ini, jurnalisme populer di Indonesia punya andil cukup signifikan menyebarkan informasi yang kerap keliru. Diawali dengan minimnya pengetahuan dasar para pewarta, seringkali diwarnai asumsi dan generalisasi, lalu pemilihan narasumber “yang penting orang Cina” atau mengandalkan ketokohannya semata demi menghasilkan materi tematik rutin tahunan. Sederhananya, sang wartawan tidak sadar bahwa informasi yang disampaikan narasumber belum tentu tepat. Setelah jadi artikel atau tayangan liputan, kekeliruan itu pun menyebar menjadi wawasan baru bagi masyarakat luas. Termasuk warga Tionghoa sendiri. 😅

Berikut lima pemicu kekeliruan yang selalu ditampilkan di media massa.

  1. Liputan ke Vihara

2824_28
Source: Epaper Kaltim Post edisi 28 Januari 2017.

Para wartawan akan mendatangi vihara untuk meliput persiapan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek. Mengenai ini, ada beberapa hal yang seyogianya dipahami:

  • Vihara adalah tempat ibadah agama Buddha.
  • Agama Buddha berasal dari India, dan akhirnya terbagi dalam beberapa mazhab. Salah satu mazhabnya–Mahayana–berkembang dan menjadi identik dengan Tiongkok. Sampai banyak yang mengira bahwa Buddhisme berasal dari sana.
  • Hanya beberapa sub mazhab Mahayana yang melakukan akulturasi dengan budaya Tionghoa.
  • Tidak semua vihara di Indonesia bermazhab Mahayana, maupun pecahannya.
  • Tidak semua vihara di Indonesia ikut merayakan Tahun Baru Imlek sebagai bagian dari aktivitas spiritualnya. Jadi, jangan heran apabila melihat vihara yang adem ayem tanpa persiapan apa-apa.
  • Vihara berbeda dengan kelenteng, meskipun ada banyak kelenteng yang memiliki sebutan berawalan “vihara” (ulasannya bakal ditulis terpisah deh… kalau ingat). Kelenteng lebih kepada panteon, tempat pemujaan dan persembahyangan kepada dewata Tionghoa. Karena akulturasi dan karakteristik budaya, banyak warga Tionghoa yang memperlakukan vihara Mahayana seperti panteon. Toapekong (大伯公) itu bukan kelenteng, melainkan sebutan untuk Dewa Bumi.
  1. Hari Raya Agama Khonghucu

Ada batas yang rancu antara “budaya tradisional” dan “kepercayaan tradisional” Tionghoa. Dalam hal ini, Tahun Baru Imlek bisa disebut sebagai hari raya budaya sekaligus hari raya keagamaan, tergantung sudut pandang yang digunakan.

  • Pada dasarnya, Tahun Baru Imlek adalah momen permulaan penanggalan agraria. Itu sebabnya Imlek (陰曆) juga kerap disebut sebagai Nongli (農曆), atau penanggalan pertanian dengan tahun baru sebagai penanda dimulainya musim semi. Siklus tanam yang baru. Karena itu juga, Tahun Baru Imlek juga dinamakan dengan (春節) atau Festival Musim Semi.
  • Sebagai hari raya budaya, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan oleh semua warga Tionghoa tanpa dibatasi agama yang dianutnya. Dalam hal ini, merayakan berarti ikut bergembira ria, berkumpul bersama keluarga, saling berkunjung, dan mengadakan jamuan di rumah. Di luar beragam persembahyangan.
  • Sejak awal, ragam ritual yang melekat pada perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari kepercayaan tradisional Tionghoa, dan perkembangannya (animisme purba, munculnya ajaran Tao, munculnya ajaran Khonghucu awal, masuknya ajaran Buddha Mahayana, terjadinya akulturasi agama).
  • Tetap saja, Tahun Baru Imlek bukan termasuk salah satu dari hari raya agama Buddha (Vesak, Asadha, Kathina, Magha Puja). Di Wikipedia juga sudah ada artikel kronologinya, kok. Sehingga para wartawan semestinya tidak susah mencari referensi.
  • Setelah menjadi agama resmi keenam, majelis agama Khonghucu pun kembali mengangkat Tahun Baru Imlek sebagai hari raya keagamaan utama. Sebagai salah satu pembedanya adalah penggunaan istilah Kongzili (孔子曆) yang berarti “Penanggalan Kongzi/Khonghucu” dimulai dari tahun lahir Nabi Kongzi.
  • Selain itu, Tahun Baru Imlek juga dianggap sebagai hari lahir Buddha Maitreya (彌勒佛) atau yang lebih dikenal sebagai Buddha Tertawa. Meskipun disebut Buddha, namun figur ini berbeda dengan Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai pembawa Buddhisme dari India. Buddha Maitreya pun hanya menjadi figur sentral bagi aliran Maitreyanisme dan Ikuandaoisme, sebagai pecahan dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok. Sehingga bagi para umat kedua aliran tersebut, Tahun Baru Imlek juga mereka maknai sebagai momen religius.
  1. Liputan ke Kelenteng atau Vihara di Hari Pertama Tahun Baru Imlek

Bisa jadi lantaran asumsi bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya “agama Tionghoa”, banyak wartawan yang berburu bahan berita ke vihara atau kelenteng di hari pertama perayaan. Pagi-pagi sekali. Dianggap sama seperti Salat Id pada 1 Syawal bakda subuh; misa malam Natal pada 24 Desember malam; misa Natal pada 25 Desember pagi; peringatan Detik-detik Vesak; Melasti sebelum Nyepi, dan sebagainya. Padahal, tidak ada persembahyangan atau ritual khusus Tahun Baru Imlek secara bersama-sama.

  • Tahun Baru Imlek merupakan hari raya keagamaan resmi bagi umat Khonghucu. Tempat ibadahnya bernama Li Tang (禮堂) yang berarti aula kebaktian. Persembahyangan yang formal pasti hanya dilakukan di sana. Ada pun upacara peringatan hari lahir Buddha Maitreya oleh umat aliran tersebut dilakukan di lokasi dan waktu yang terpisah.
  • Sedangkan sembahyang di kelenteng-kelenteng dilakukan oleh warga Tionghoa secara sporadis, bukan berjemaah, dan sebenarnya sama saja seperti kegiatan setiap hari. Akan tetapi jumlah pengunjungnya saja yang lebih banyak. Sebab persembahyangan utama yang mesti dilakukan pada Tahun Baru Imlek adalah kepada leluhur, dan cukup dilakukan pada altar di rumah masing-masing.
  • Di sisi lain, tidak sedikit juga warga Tionghoa yang sengaja bersembahyang di kelenteng pada Tahun Baru Imlek. Kegiatan ini tidak terorganisasi secara khusus, sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri, serta tidak ada ritual khusus. Tak ada bedanya dengan urutan persembahyangan di hari-hari lainnya.
  • Kegiatan utama pada hari pertama Tahun Baru Imlek tentu saja saling berkunjung dalam lingkar keluarga sendiri. Di hari kedua barulah mengunjungi teman dan lingkar pergaulan sosial lain secara luas.
  1. Memilih Narasumber Tokoh Agama Selain Khonghucu

Saat ingin melakukan wawancara, silakan sesuaikan narasumber dengan tajuk yang akan dikemukakan.

  • Saat bertanya kepada pemuka agama Khonghucu, dia pasti akan menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya agama, bukan perayaan budaya.
  • Saat bertanya kepada tokoh aliran Maitreya, dia pasti akan memberikan semacam pesan-pesan moral dan penyegaran rohani agar menjalani tahun baru dengan keinsafan, penuh welas asih kepada semua makhluk, dan diisi dengan perbuatan bajik.
  • Saat bertanya kepada pengurus kelenteng, dia pasti akan menjawab sebisanya. Menjelaskan tentang mitos, legenda, dan makna di balik semua simbol khas dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Saat bertanya kepada tokoh Tionghoa yang bukan penganut Khonghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, maupun Buddhisme Mahayana, dia pasti akan menunjukkan bahwa Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul bersama keluarga tanpa batasan agama.
  • Saat bertanya kepada ahli Fengshui dan Shio, dia pasti akan menjabarkan tentang peruntungan masing-masing lambang astrologi Tionghoa.
  • Saat bertanya kepada kaum muda Tionghoa, ehm… jawabannya ya gitu
  • Saat bertanya kepada generasi kekinian Tionghoa, bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan mengaku tidak lagi merayakan Tahun Baru Imlek. Ini salah satunya. Hahaha!
  1. Capgomeh = Ajang Cari Jodoh

natgeo
Source: Nationalgeographic.co.id. Pewarta National Geographic Indonesia pun “terikut” para narasumbernya dengan menyebut Capgomeh sebagai Malam Mencari Jodoh. Hahaha!

Di berbagai kota Indonesia, Capgomeh seringkali terkesan lebih meriah ketimbang Tahun Baru Imlek. Disebut juga sebagai penutup perayaan. Capgomeh tahun ini berlangsung Sabtu malam nanti.

  • Pada awalnya, belum ada ketentuan yang menentukan bahwa Tahun Baru Imlek dirayakan sepanjang 15 hari.
  • Nama asli Capgomeh adalah Festival Yuanxiao (元宵節), bermula dari salah satu kisah legenda tentang seorang dayang istana bernama Yuanxiao. Capgomeh (十五暝) sendiri kurang lebih diartikan sebagai malam ke-15. Kebetulan saat purnama pertama di tahun baru.
  • Terkait dengan legenda tersebut, Capgomeh juga disebut dengan Festival Lampion. Semua orang turun ke jalan, membuat keramaian, pesta kembang api dan petasan. Meriah! Itu sebabnya Capgomeh akhirnya juga dianggap sebagai bagian terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan di malam hari.
  • Secara khusus, tidak ada persembahyangan atau ritual tertentu dalam melewati malam Capgomeh. Pengurus kelenteng atau Li Tang bisa menyelenggarakan ibadah bersama maupun tidak. Pun bukan dikategorikan sebagai hari raya, melainkan lebih kepada aktivitas sosial kemasyarakatan.
  • Karena keramaian, dan semua orang turun ke jalan, peluang seseorang untuk berinteraksi sosial dengan orang lain makin besar. Tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang ditaksir.
  • Di Indonesia sendiri, banyak kota yang hanya memiliki satu kelenteng. Perayaan Capgomeh pada masa Orde Baru hanya dipusatkan di sana, sehingga meningkatkan kemungkinan para warga Tionghoa kota tersebut untuk saling berkumpul di lokasi yang sama. Selanjutnya, just do the math 🙂

Kurang lebih demikian, lima itu dulu ya. Mudah-mudahan bermanfaat, serta makin banyak konten berita Tahun Baru Imlek dan hal-hal terkaitnya yang lebih tepat di tahun depan.

Oh ya, Selamat Capgomeh!

[]

Advertisements

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s