“Dari Hong Kong!”

ENTAH apa korelasinya, yang pasti celetukan ini sudah sangat akrab dilontarkan orang Indonesia dalam obrolan santai saat ingin menampik sesuatu dengan nada jenaka. Salah satu contohnya, lumayan ampuh ketika menolak permintaan (baca: dipalak) teman untuk makan-makan.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI HONG KONG!

Muncul pertanyaan. Kenapa mesti pakai Hong Kong? Apakah kebetulan si penemu ungkapan ini punya kesan khusus dengan kota tersebut, atau gara-gara namanya yang unik dan mudah diucapkan? Lagipula agak enggak enak juga ya, misalnya diganti dengan nama kota dari kawasan Skandinavia atau sekitarnya.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI LLANFAIRPWLLGWYNGYLLGOGERYCHWYRNDROBWLLLLANTYSILIOGOGOGOCH!

Tapi bukan cuma namanya doang sih yang gampang nempel di kepala, Hong Kong sendiri kayaknya memang seberkesan itu. Karena secara pribadi, setidaknya ada tiga hal tentang Hong Kong yang lekat dalam pikiran dan pengin dialami sendiri. Kapan-kapan, kalau ada kesempatan.

  1. Dialek

Pertama kali “berkenalan” dengan Hong Kong justru lewat musik pop dan film saat masih kecil, lalu pelan-pelan menyadari ternyata bahasa yang digunakan terdengar berbeda dengan Mandarin. Ada ciri khas yang mudah dikenali. Kurang lebih seperti logat Ngapak, atau gaya Suroboyan gitulah.

Selain itu, karena sangat menggemari film-film Stephen Chow yang konyol dan absurd, akhirnya membuat dialek Guangdong identik dengan humor. Gampang bikin mau ketawa, walaupun enggak paham artinya. 😅

Kalau begini, sudah kebayang bakal happy banget bisa mendengar dan merasakan dialek Guangdong secara langsung. Dari warung kopi lokal tempat sarapan pagi, di mal-mal setempat, di kelenteng-kelenteng, bahkan cukup dengan berjalan kaki di kawasan Tsim Sha Tsui Promenade yang terkenal itu. Suasana seperti ini tentu enggak bisa didapatkan di Indonesia, sebab mayoritas warga Tionghoa di beberapa kota Sumatera dan Kalimantan berasal dari sub suku berbeda; Hokkien, Khe/Hakka, dan Tiochiu. Bahasa serta logatnya tentu tidak sama.

Tsim Sha Tsui Promenade. Source: ShutterStock
Tsim Sha Tsui Promenade. Source: Shutter Stock
  1. Masakan

Enggak cuma bahasa, cara lain untuk discover Hong Kong like a local tentu lewat masakan-masakannya. Apalagi gaya sajiannya juga tidak terlalu asing untuk lidah kita: ada aneka tumisan, gorengan dengan minyak sewajan (deep fried), kukusan, olahan mi dan nasi, serta Charsiew/chashao alias babi panggangnya.

Dari beberapa pilihan di atas, pengin banget cobain Mi Sapi dari Kedai Kau Kee; Mi Babi Sun Kee yang terkenal karena pakai keju; dan Siu Mei Fan alias nasi campur babi panggang yang populer di Hong Kong. Meskipun, ada makanan apa aja ya sudah pasti mangap. Namanya juga doyan makan. 😂

Dari cerita teman yang ke Hong Kong akhir tahun lalu, Kedai Kau Kee memang terkenal sebagai salah satu destinasi kuliner di sana. Saking ramenya, barisan antrean panjang mengular di depan pintu. Setelah masuk pun, pengunjung benar-benar harus tangkas menentukan pilihan menu yang ingin disantap. Termasuk hanya menerima pembayaran dengan pecahan tidak terlalu besar, katanya.

Tentu saja yang mesti dicoba adalah Mi Sapi andalannya. Dari cerita teman saat itu, potongan daging sapi yang disajikan memang khusus dari bagian berlemak, yang biasanya dari area perut dan lebih cocok dipanggang atau dibuat steak. Tetapi yang ini enggak bikin enek, katanya. Mungkin memang pakai resep dan bumbu rahasia.

Mi Sapi Kau Kee. Source: TripAdvisor
Mi Sapi Kau Kee. Source: Trip Advisor

Lain lagi dengan Mi Babi pakai keju Sun Kee. Sudah bisa ketebak ya, yang namanya mi babi cenderung lezat. Setidaknya dari pengalaman selama ini. Bakal makin gurih kalau ditambahkan keju, tapi tetap dengan cita rasa Asia. Makanya penasaran banget dengan menu satu ini. Googling-googling, lokasinya pun masih di seputaran Tsim Sha Tsui.

Sedangkan Siu Mei Fan juga merupakan menu yang paling sederhana. Practically hanya terdiri dari tiga komponen utama: nasi putih, babi panggang, dan sawi. Ada variasi berupa tambahan bahan-bahan lain, tergantung makannya di mana. Saking umumnya menu ini, kita bisa melihatnya di film-film Hong Kong, khususnya ketika adegan polisi atau siapa pun membeli makanan berkotak styrofoam dan disantap dengan sendok plastik.

Oh ya, pernah nonton film “食神” atau Dewa Masakan yang dibintangi Stephen Chow? Di situ, Stephen Chow memenangkan kompetisi masak dengan menu semodel Siu Mei Fan ini. Isinya ya tetap nasi putih, babi panggang dan bumbu kecapnya, beberapa potong batang sawi, dan ada tambahannya telur mata sapi dengan bagian kuning setengah matang. Dalam film itu, Siu Mei Fan ini dinamakan “黯然銷魂飯” yang kurang lebih bisa diartikan sebagai “Nasi Duka Nestapa”! Di Hong Kong, menu ini umum dijual lho. Makanya mau coba banget!

Kurang lebih begini tampilan
Kurang lebih begini tampilan “Nasi Duka Nestapa”, lucu dan menggoda, kan? Coba bandingkan dengan versi di filmnya. Source: Hexacoto
  1. Apresiasi Budaya Modern

Berbeda dengan dua poin sebelumnya, yang ini bikin pengin “mengalami” Hong Kong dari sudut pandang lainnya. Dari beberapa tempat, ada Hong Kong Museum of Art yang harus didatangi, dan pasti bakalan betah berlama-lama di sana. Pasalnya, tercatat ada sekitar 15 ribuan karya yang ditampilkan di sana.

Sebagai salah satu wajah Asia di mata dunia, pengin lihat bagaimana aksen budaya dan tradisi lokal dipadukan dengan sentuhan seni modern. Selalu menarik melihat kolaborasi, atau fusion antara dua kutub budaya yang berbeda tapi menghasilkan keindahan. Komponennya pun banyak, dominasi warna dan rupa, bentuk khas, sampai aroma.

Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk

Besar kemungkinan, di sana akan menampilkan karya seni modern dan tradisional konservatif secara merata. Bakalan puas-puasin di Hong Kong Museum of Art. Padahal, apabila boleh dibilang, seluruh Hong Kong sendiri pun merupakan bentuk seni. Ada arsitektur, ada kuliner, ada musik, sampai seni sosial dari para warganya.

Kemudian, sepulangnya dari sana, bisa benar-benar bilang… “DARI HONG KONG!” 😀

[]

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK

Advertisements

Tell me something...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s