Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”: Buddhis yang Mengafirkan Buddhis Lainnya

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Cuma jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskerta: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha bernama Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Tertinggi). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana/Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup mazhab Tantrayana/Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.

Lazimnya orang kita, kemudian ada yang berceletuk: “Buddha kok begitu?” 😓


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana/Vajrayana
Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.

 

Para Bhiksu Mahayana Indonesia. Source: Tribunnews

 

Para Lama Tantrayana. Source: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi pada beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan terbuka yang dinilai perlu di bawah pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi.

Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, kelompok yang terimbas pun mengungsi ke utara India. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
  • Perselisihan antarkelompok makin tajam. Setiap kelompok menyelenggarakan sidangnya masing-masing.
    Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dicatat untuk pertama kalinya di atas daun lontar menjadi tumpukan Tipitaka, yang apabila dikumpulkan bisa menjadi berjilid-jilid tebal dan memenuhi satu lemari.

    Seluruh bagian Tipitaka dalam terjemahan bahasa Inggris. Source: Wikimedia

    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afganistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) apa pun.
    Tripitaka berisi bahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan (sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya). Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskerta kurang lebih seperti bahasa Latin.

  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu ada kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij yang dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti banyaknya aliran gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Mengapa saya bisa begitu? Sekali lagi, lantaran berpandangan “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar!”

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang pembelajar Buddhisme. Sikap tersebut malah membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego seseorang yang merasa benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja.

Di sisi lain, siapakah saya? Kok bisa yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP. Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Ilustrasi lainnya, tradisi mematungkan Buddha (yang kerap dikira berhala sesembahan) berasal dari berabad-abad setelah kematiannya. Lalu, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Tidak mencerahkan sama sekali.

Hingga detik ini, saya masih seorang pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Wajib bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan, atau menyucikan batin
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi
Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Source: ywsjt.blog.163.com
  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk, dan tujuan sejenis lainnya
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana saja, bahkan kepada sesama. Akan selalu ada yang merasa paling benar.

Sebagai takfiri Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula yang terjadi pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam jenis gerejanya. Keberadaan bigotry tampaknya alamiah, sebagai salah satu fase sebelum tercapainya kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan yang sama bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan isi buku/kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Diisi, dipasangi sesuatu di tengahnya.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita di atas. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan, cabul, dan bikin umat agama lain salah paham terhadap Buddhisme.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!” dan menjelaskan semampunya, kalau ditanya.

[]

Di-posting pertama kali di Linimasa.

Kultus Berlebihan Pada Bahasa/Bentuk Tulisan

BARU beberapa menit yang lalu sebelum bikin tulisan ini, sempat ngetwit beberapa hal tentang kultus berlebihan pada bahasa dan bentuk-bentuk tulisan. Ketika banyak dari kita mengagungkan satu atau dua macam bahasa beserta tulisannya atas dasar keyakinan pribadi, jauh lebih tinggi daripada fungsi asalnya. Dari seperangkat media komunikasi hasil peradaban, menjadi simbol-simbol yang keramat dan berdaya supranatural.

Akibat terlampau mengagungkan bahasa dan bentuk-bentuk tulisannya tersebut, maka kita pun cenderung menempatkan bahasa dan bentuk-bentuk tulisan yang lain lebih rendah… dan secara disadari atau tidak, memengaruhi sikap sosial dan paradigma kita saat menjalani kehidupan.

Pembahasan mengenai hal ini tentu saja akan lebih sahih apabila disampaikan secara formal oleh praktisi dan akademisi di bidang Antropologi, Sosiologi Budaya, Linguistik, Teologi Umum, kajian-kajian agama dan tafsir kitab suci, serta beberapa bidang ilmu sosial lainnya. Barangkali setelah di-posting di sini, dari platform micro-blogging ke blogging, nanti ada yang bersedia berbagi referensi tentang diskursus ini.

Dimulai dari tweet ini.

Utas atau thread Moments di Twitter bisa dibaca di sini. Juga saya salin dalam posting-an ini supaya gampang dibaca.

  1. Waktu kecil, kira-kira kelas SD, dan pertama kalinya terpapar dengan tulisan Cina, pernah banget merasa kalau tulisan Cina itu “keramat”.
  2. Namanya juga bocah ya, “keramat” di sini mungkin bisa disamakan dengan perasaan kagum/takjub berlebihan tanpa landasan alasan yang kuat.
  3. Beberapa alasan kenapa menganggap tulisan Cina itu “keramat” kurang lebih karena:
    1. Bentuk tulisannya
    2. Cara menulisnya
    3. Komposisi
  4. Gara-gara perasaan “keramat” itu, jangankan waktu melihat lembaran kertas hu yang biasanya kayak di film vampir-vampir Sabtu siang…
  5. …waktu melihat pamflet obat Cina yang full tulisan saja berasanya sudah “whoa!” banget. Akhirnya pamflet disimpan, terus dikumpulkan.
  6. Makin banyak tahu ada berbagai jenis obat Cina, makin banyak juga pamflet yang disimpan. Berasanya kayak mengkoleksi pusaka. 😅
  7. Lucunya, alih-alih memahami apa yang tertulis, tulisan-tulisan Cina itu tetap diperlakukan macam koleksi berharga. Padahal isinya…
  8. …seperti petunjuk penggunaan, jenis gangguan kesehatan yang bisa ditangani pakai obat itu, kandungan, sampai nama produsen dan alamatnya.
  9. Misalnya obat gosok ini. Lengkap dengan “syair ganda”. Padahal mah artinya…
  10. Kanan: “Luka teriris, kena air panas, menghentikan pendarahan, mengurangi sakit.” Kiri: “Terkilir, (enggak paham apa), lebam, masuk angin.” 😂😂😂
  11. Setelah fase mengkoleksi leaflet obat Cina, berlanjut ke fase suka coret-coret menduplikasi bentuk tulisannya. Ada yang dimengerti, ada yang tidak.
  12. Sampai sekarang masih jadi kebiasaan, untuk menyibukkan tangan dan sambil mikir. Padahal mah kalau ngomong bahasanya, masih cetek. 😅
  13. Nah, entah benar atau keliru, fase-fase “mengkeramatkan” tulisan dan bahasa juga banyak terjadi pada orang-orang dewasa. Karena agama.
  14. Mohon diralat ya. Misal seperti beberapa ordo Katolik dengan bahasa Latin, Islam dengan bahasa dan tulisan Arab, Taoisme dengan Hanzi (漢字, tulisan Cina).
  15. “Pengkeramatan” bahasa dan tulisan seperti ini biasanya dilatarbelakangi perspektif tunggal; ada satu bahasa/tulisan yang terpilih/terunggul/termulia.
  16. …dan lagi-lagi, alih-alih memahami bahasa secara kontekstual dan memperlakukan tulisan sebagai pengganti bunyi, banyak yang mengkultuskan.
  17. Pandangan saya, mau pernah dituturkan oleh nabi/buddha/messiah/orang suci siapa pun, bahasa tetaplah produk budaya manusia. Berbatas konteks.
  18. Toh pada beberapa peristiwa ilahiah dalam tradisi agama-agama Samawi/Abrahamic, suara tuhan berbicara dengan bahasa pada masa itu.
  19. Buku-buku kumpulan sabda/firman yang bisa dikategorikan kitab suci pun disusun dengan bahasa pada periode tersebut. Oleh ahli kitab, manusia.
  20. Bayangkan saja, misalnya ada kitab suci dalam bahasa Xhosa, bakal banyak bunyi ketukan lidah, berdecak, dan lain-lain. Tetap saja itu bahasa Xhosa.
  21. Bukan berarti bahasa Xhosa adalah bahasa paling suci atau paling ilahiah di bumi. Seluruh penganutnya bertutur “tok” dan “ckck” saat ibadah.
  22. Jadi, saya agak merasa lucu kalau baca pernyataan seperti dalam tweet-war  ini.

  23. Bagi agama Khonghucu, nama tuhannya adalah 天, dalam agama Hindu direpresentasikan dengan ॐ, dalam Islam yaitu الله, dalam Yahudi: יהוה.
  24. Dari 天, ॐ, الله ,יהוה. Keempatnya adalah tulisan suci bagi masing-masing agama, tapi pada hakikatnya, tetap tulisan. Bisa ditransliterasi. Bukan diterjemahkan ya, tapi dialihbahasakan.
  25. 天 – Tian (dibaca thien), ॐ – Oṃ, الله – Allah (dibaca aw-lah), יהוה – YHWH (Yahweh). Dikeramatkan sedemikian rupa pun, tetap saja semua itu adalah pembunyi.
  26. …dan dengan sikap “mengkeramatkan” bahasa dan tulisan ini, ya menurut saya enggak jauh beda dengan sikap takjub berlebihan pada anak-anak saat mendapati sesuatu yang sangat menarik. Silakan merujuk para prinsip “Mysterium tremendum et Fascinosum” dalam kajian ilmu agama.
  27. …dan karena saya ngetwit kayak begini, dan beberapa di antaranya menampilkan tulisan Allah dalam bahasa Arab, bisa saja ada yang tersinggung.
  28. Alasan tersinggung paling lazim adalah: memperlakukan tulisan pembunyi nama tuhan tersebut dengan tidak sepatutnya, alias penistaan. Hmm…
  29. Padahal, kembali lagi ke kajian teologi umum. Tuhan tidak perlu nama, manusia perlu nama tuhan dalam aktivitas religiusnya, begitu intinya.
  30. …dan sekali lagi, bahasa maupun tulisan adalah media untuk “membekukan” ide. Dari yang lisan menjadi tertulis, bisa dibaca lagi, bisa dipelajari, bisa dipahami.
  31. Bahasa dan tulisan sifatnya netral. Tidak tinggi-tinggi sekali, tapi juga tidak rendah secara alamiah. Saat dijadikan simbol, yo wes, bias.
  32. Coba deh, bagaimana jika di agama kalian masing-masing, nama tuhannya bukan seperti yang sekarang? Bisa berpikir seperti ini, karena… ya berpikir.
  33. Katakanlah, sosok guru dalam Buddhisme bukan disebut Buddha (ini bukan nama, tapi gelar), tapi “Anu”. Ya semua syair Buddhisme akan pakai “Anu”.
  34. Terus, dalam bahasa Indonesia, kata anu identik dengan “anu”, sampai genital sekalipun. Lalu, apakah Buddhis mesti ngamuk merasa terhina?
  35. Pasti ada saja Buddhis yang merasa risi dan terhina, tapi pada dasarnya, “Anu” dalam Buddhisme tadi berbeda dengan anunya Jawa. Hahahaha…
  36. Begitu juga dengan konteks “Cina” dan “Tionghoa”. Awalnya kedua kata itu netral, sampai salah satunya melekat dengan sentimen yang bikin risi dan mengganggu.
  37. Akhirnya, sempat ada gerakan Tionghoaisasi sebutan Cina. Kesannya grandeur gitu ya. Padahal Tionghoa itu dialek Hokkian. Bukan Mandarin, bukan sebutan dalam standar internasional.
  38. Ya pokoknya begitulah. Lebih baik satu syair pendek dipahami, dijalankan, dan memberi manfaat. Daripada seisi buku tanpa mengerti maknanya.
  39. Sebuah twit penutup. Sempat ketemu ini di Path dan Facebook. Harap jangan tersinggung, ini cuma soal bahasa/tulisan.

Kurang lebih demikian.

Sebagai ilustrasi, masih ingat dengan kehebohan penggunaan kata “Allah” dalam Alkitab di Malaysia? Ketika terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu tidak diperkenankan menggunakan sebutan “Allah” meskipun pelafalannya berbeda?

Berikutnya, baik Buddhisme maupun Hindu sama-sama menggunakan sebutan “bhagāva” (kurang lebih berarti; tuanku, junjungan pengabdian, atau Lord) baik kepada Buddha Gotama, maupun kepada figur dewata Hindu. Salah satu kitab suci terkemuka Hindu pun bernama Bhagavad-gītā, berisi syair antara Arjuna dan Krishna.

Kenapa bisa sama? Sebab bahasa adalah produk kebudayaan manusia.

[]

 

Kenapa Kita Selalu Keliru Membaca Ejaan Tionghoa?

PERTANYAAN: Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat membaca tulisan “Sichuan” atau “Shandong”? Bagaimana kamu melafalkannya? Pernahkah penasaran, kalau tertulis “Sichuan” dan “Shandong” kenapa kok sering terdengar seperti “se-cuan” dan “shan-tung”?


Kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang versi terbarunya memuat 127 ribuan entri berupa kata dan frasa dan dirilis pertengahan tahun lalu.

Dalam bahasa Tionghoa, kamus umum terbesarnya adalah 中華字海 (Zhonghua Zihai) yang secara harfiah berarti “Lautan Aksara Tionghoa”. Dinamakan demikian karena Zhonghua Zihai memuat 85 ribuan entri berupa aksara saja.

Berbeda dengan bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa lain yang menggunakan alfabet (kata adalah susunan huruf), setiap aksara bahasa Tionghoa mewakili satu kata dan memiliki bentuknya masing-masing. Komposisi goresannya tidak ada yang sama persis, dan dilafalkan sebagai satu suku kata tunggal. Mau tidak mau, harus hafal bentuk, bunyi, serta maknanya.

Coba tolong dibaca… 😂😂😂

Dengan ini, tentu akan sulit bagi seseorang penutur bahasa lain untuk membunyikan aksara Tionghoa yang ditemuinya. Sehingga diperlukan semacam sistem transliterasi, yakni ketika lafal sebuah aksara Tionghoa ditulis ulang menggunakan alfabet.

Misalnya begini.

  • Tulisan Tionghoa untuk tata krama/sopan santun adalah . Masing-masing bunyinya adalah “li” dan “mao“. Sebagai pelafal bahasa Indonesia, kita menuliskan bunyi kedua aksara tersebut sebagai “li” dan “mao” pula. Lain halnya dengan orang Amerika Serikat, yang barangkali akan menuliskannya sebagai “lee” dan “maw“.
  • Tulisan Tionghoa untuk bunga anggrek adalah . Masing-masing bunyinya adalah “lan” dan “hua“. Akan tetapi, khusus untuk aksara kedua, masih sering kita temui orang-orang yang menuliskannya sebagai “hwa” maupun “hoa“. Hal ini juga yang terjadi pada tulisan “Tionghoa“, menyebabkan banyak orang awam melafalkannya sebagai “ti-yong-ho-wa” alih-alih “tyong-hua“. Kerasa baunya bedanya, kan?

Upaya untuk menyusun sistem transliterasi aksara Tionghoa dengan alfabet latin sudah dimulai sejak awal 1600-an. Begitu pula di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Kala itu, warga Tionghoa yang mendapatkan pendidikan ala Belanda menggunakan ejaan Van Ophuijsen dalam melakukan alih aksara, terutama dalam menuliskan nama. Maka muncullah “Oen” (文) yang dibaca “un” atau terkadang “wen”; “Lie” (李) yang dibaca “li”, bukan “li-e”; “Tjen” (珍) yang dibaca “cen”; “Jong” (楊) yang dibaca “yong”; “Soe” (蘇) yang dibaca “su”; dan sebagainya.

Setelah jurang linguistik ini mulai teratasi, tantangan selanjutnya adalah standarisasi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk membuat tulisan Tionghoa lebih mudah dibaca (oleh penutur bahasa lain) dan dipelajari, orang Amerika Serikat tentu akan kebingungan membaca ejaan Van Ophuijsen. Begitu pun sebaliknya.

Dari sekitar lima sistem transliterasi modern Hanzi (aksara Tionghoa) ke abjad Romawi yang dihasilkan, dua di antaranya digunakan secara global sampai sekarang. Salah satunya–拼音 (Pinyin)–disahkan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok selaku si empunya bahasa sebagai sistem resmi, sekaligus menjadi standar internasional dialek Mandarin.

Sementara sistem yang satu lagi–Wade-Giles–masih bertahan di Taiwan, dan secara parsial di Singapura dan Malaysia. Untuk yang ini, bisa kita kesampingkan dulu ya… ntar tanyain aja lagi.


Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas. Kenapa “Sichuan” dibaca “se-cuan”, dan “Shandong” dibaca “shan-tung”? Kok bisa berubah? Ya beginilah sistem Pinyin, ketika abjad Romawi tidak bisa kita bunyikan seperti dalam mengeja bahasa Indonesia.

Tertulis Dibaca
bi pi
pi phi
di ti
ti thi
ge ke
ke khe
ji ci
qi chi
xi si
zhi che(h)
chi che
shi she(h)
zi ce(h)
ci ce
si se
yan yen

Tabel di atas adalah daftar sederhana untuk ejaan Pinyin yang sering bikin salah baca, serta bisa disesuaikan dengan huruf vokal yang mengikutinya. Kalau ada yang keliru atau kurang, mohon ditambahkan atau dikoreksi ya.

Contohnya seperti ini.

Beijing (北京) → pei-cing
Guangzhou (廣州) → kuang-chou
Yajiada (雅加達) → ya-cia-ta → Jakarta
Sishui (泗水) → se-shui → Surabaya
Sanmalinda (三馬林達) → san-ma-lin-ta → Samarinda
Malibaban (麻里巴板) → ma-li-pa-pan → Balikpapan
Shidouazuo (詩都阿佐) → she-tou-a-cuo → Sidoarjo
Xuexiao (學校) → syue-siao → sekolah
Daxue (大學) → ta-syue → universitas
Qiche (汽車) → chi-che → mobil
Gangbi (鋼筆) → kang-pi → pena
Jiankang (健康) → cien-khang → sehat
Hongbao (紅包) → hong-pao → angpau
Yanjing (眼睛) → yen-cing → mata
Yanjing (眼鏡) → yen-cing → kacamata
Anjing (安靜) → an-cing → tenang
Bokong (撥空) → po-khong → menyediakan waktu

…dan jujur saja, sebagai seseorang yang ndak terlalu bisa ngomong Tionghoa, bagian paling susah adalah “zhi, chi, shi, zi, ci, si” yang bikin lidah keblibet dan bonus muncrat 💩💩💩 Belum lagi soal intonasi atau nada bicara tiap kata. Ujung-ujungnya ya pakai bahasa Inggris juga, agak merasa gagal sebagai seorang keturunan Cina. 😛😛😛

[]

“Dari Hong Kong!”

ENTAH apa korelasinya, yang pasti celetukan ini sudah sangat akrab dilontarkan orang Indonesia dalam obrolan santai saat ingin menampik sesuatu dengan nada jenaka. Salah satu contohnya, lumayan ampuh ketika menolak permintaan (baca: dipalak) teman untuk makan-makan.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI HONG KONG!

Muncul pertanyaan. Kenapa mesti pakai Hong Kong? Apakah kebetulan si penemu ungkapan ini punya kesan khusus dengan kota tersebut, atau gara-gara namanya yang unik dan mudah diucapkan? Lagipula agak enggak enak juga ya, misalnya diganti dengan nama kota dari kawasan Skandinavia atau sekitarnya.

A: “Bro, traktir makan dong. Katanya lu baru dapat bonus!

B: “Dapat bonus apaan? Bonus DARI LLANFAIRPWLLGWYNGYLLGOGERYCHWYRNDROBWLLLLANTYSILIOGOGOGOCH!

Tapi bukan cuma namanya doang sih yang gampang nempel di kepala, Hong Kong sendiri kayaknya memang seberkesan itu. Karena secara pribadi, setidaknya ada tiga hal tentang Hong Kong yang lekat dalam pikiran dan pengin dialami sendiri. Kapan-kapan, kalau ada kesempatan.

  1. Dialek

Pertama kali “berkenalan” dengan Hong Kong justru lewat musik pop dan film saat masih kecil, lalu pelan-pelan menyadari ternyata bahasa yang digunakan terdengar berbeda dengan Mandarin. Ada ciri khas yang mudah dikenali. Kurang lebih seperti logat Ngapak, atau gaya Suroboyan gitulah.

Selain itu, karena sangat menggemari film-film Stephen Chow yang konyol dan absurd, akhirnya membuat dialek Guangdong identik dengan humor. Gampang bikin mau ketawa, walaupun enggak paham artinya. 😅

Kalau begini, sudah kebayang bakal happy banget bisa mendengar dan merasakan dialek Guangdong secara langsung. Dari warung kopi lokal tempat sarapan pagi, di mal-mal setempat, di kelenteng-kelenteng, bahkan cukup dengan berjalan kaki di kawasan Tsim Sha Tsui Promenade yang terkenal itu. Suasana seperti ini tentu enggak bisa didapatkan di Indonesia, sebab mayoritas warga Tionghoa di beberapa kota Sumatera dan Kalimantan berasal dari sub suku berbeda; Hokkien, Khe/Hakka, dan Tiochiu. Bahasa serta logatnya tentu tidak sama.

Tsim Sha Tsui Promenade. Source: ShutterStock
Tsim Sha Tsui Promenade. Source: Shutter Stock
  1. Masakan

Enggak cuma bahasa, cara lain untuk discover Hong Kong like a local tentu lewat masakan-masakannya. Apalagi gaya sajiannya juga tidak terlalu asing untuk lidah kita: ada aneka tumisan, gorengan dengan minyak sewajan (deep fried), kukusan, olahan mi dan nasi, serta Charsiew/chashao alias babi panggangnya.

Dari beberapa pilihan di atas, pengin banget cobain Mi Sapi dari Kedai Kau Kee; Mi Babi Sun Kee yang terkenal karena pakai keju; dan Siu Mei Fan alias nasi campur babi panggang yang populer di Hong Kong. Meskipun, ada makanan apa aja ya sudah pasti mangap. Namanya juga doyan makan. 😂

Dari cerita teman yang ke Hong Kong akhir tahun lalu, Kedai Kau Kee memang terkenal sebagai salah satu destinasi kuliner di sana. Saking ramenya, barisan antrean panjang mengular di depan pintu. Setelah masuk pun, pengunjung benar-benar harus tangkas menentukan pilihan menu yang ingin disantap. Termasuk hanya menerima pembayaran dengan pecahan tidak terlalu besar, katanya.

Tentu saja yang mesti dicoba adalah Mi Sapi andalannya. Dari cerita teman saat itu, potongan daging sapi yang disajikan memang khusus dari bagian berlemak, yang biasanya dari area perut dan lebih cocok dipanggang atau dibuat steak. Tetapi yang ini enggak bikin enek, katanya. Mungkin memang pakai resep dan bumbu rahasia.

Mi Sapi Kau Kee. Source: TripAdvisor
Mi Sapi Kau Kee. Source: Trip Advisor

Lain lagi dengan Mi Babi pakai keju Sun Kee. Sudah bisa ketebak ya, yang namanya mi babi cenderung lezat. Setidaknya dari pengalaman selama ini. Bakal makin gurih kalau ditambahkan keju, tapi tetap dengan cita rasa Asia. Makanya penasaran banget dengan menu satu ini. Googling-googling, lokasinya pun masih di seputaran Tsim Sha Tsui.

Sedangkan Siu Mei Fan juga merupakan menu yang paling sederhana. Practically hanya terdiri dari tiga komponen utama: nasi putih, babi panggang, dan sawi. Ada variasi berupa tambahan bahan-bahan lain, tergantung makannya di mana. Saking umumnya menu ini, kita bisa melihatnya di film-film Hong Kong, khususnya ketika adegan polisi atau siapa pun membeli makanan berkotak styrofoam dan disantap dengan sendok plastik.

Oh ya, pernah nonton film “食神” atau Dewa Masakan yang dibintangi Stephen Chow? Di situ, Stephen Chow memenangkan kompetisi masak dengan menu semodel Siu Mei Fan ini. Isinya ya tetap nasi putih, babi panggang dan bumbu kecapnya, beberapa potong batang sawi, dan ada tambahannya telur mata sapi dengan bagian kuning setengah matang. Dalam film itu, Siu Mei Fan ini dinamakan “黯然銷魂飯” yang kurang lebih bisa diartikan sebagai “Nasi Duka Nestapa”! Di Hong Kong, menu ini umum dijual lho. Makanya mau coba banget!

Kurang lebih begini tampilan
Kurang lebih begini tampilan “Nasi Duka Nestapa”, lucu dan menggoda, kan? Coba bandingkan dengan versi di filmnya. Source: Hexacoto
  1. Apresiasi Budaya Modern

Berbeda dengan dua poin sebelumnya, yang ini bikin pengin “mengalami” Hong Kong dari sudut pandang lainnya. Dari beberapa tempat, ada Hong Kong Museum of Art yang harus didatangi, dan pasti bakalan betah berlama-lama di sana. Pasalnya, tercatat ada sekitar 15 ribuan karya yang ditampilkan di sana.

Sebagai salah satu wajah Asia di mata dunia, pengin lihat bagaimana aksen budaya dan tradisi lokal dipadukan dengan sentuhan seni modern. Selalu menarik melihat kolaborasi, atau fusion antara dua kutub budaya yang berbeda tapi menghasilkan keindahan. Komponennya pun banyak, dominasi warna dan rupa, bentuk khas, sampai aroma.

Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Hong Kong Museum of Art. Source: South China Morning Post.
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk
Salah satu area eksibisi dalam Hong Kong Museum of Art. Source: WWY.hk

Besar kemungkinan, di sana akan menampilkan karya seni modern dan tradisional konservatif secara merata. Bakalan puas-puasin di Hong Kong Museum of Art. Padahal, apabila boleh dibilang, seluruh Hong Kong sendiri pun merupakan bentuk seni. Ada arsitektur, ada kuliner, ada musik, sampai seni sosial dari para warganya.

Kemudian, sepulangnya dari sana, bisa benar-benar bilang… “DARI HONG KONG!” 😀

[]

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK

5 Kekeliruan Jurnalisme tentang Tahun Baru Imlek & Capgomeh

ADA satu pepatah Tionghoa yang cocok dengan kondisi ini; “三人成虎.” Ketika sebuah ketidaktahuan atau kekeliruan akhirnya dianggap sebagai kebenaran, setelah terus menerus disampaikan dari/oleh/kepada banyak orang. Termasuk mengenai Tahun Baru Imlek dan Capgomeh, sampai sekarang.

Dalam konteks ini, jurnalisme populer di Indonesia punya andil cukup signifikan menyebarkan informasi yang kerap keliru. Diawali dengan minimnya pengetahuan dasar para pewarta, seringkali diwarnai asumsi dan generalisasi, lalu pemilihan narasumber “yang penting orang Cina” atau mengandalkan ketokohannya semata demi menghasilkan materi tematik rutin tahunan. Sederhananya, sang wartawan tidak sadar bahwa informasi yang disampaikan narasumber belum tentu tepat. Setelah jadi artikel atau tayangan liputan, kekeliruan itu pun menyebar menjadi wawasan baru bagi masyarakat luas. Termasuk warga Tionghoa sendiri. 😅

Berikut lima pemicu kekeliruan yang selalu ditampilkan di media massa.

  1. Liputan ke Vihara

2824_28
Source: Epaper Kaltim Post edisi 28 Januari 2017.

Para wartawan akan mendatangi vihara untuk meliput persiapan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek. Mengenai ini, ada beberapa hal yang seyogianya dipahami:

  • Vihara adalah tempat ibadah agama Buddha.
  • Agama Buddha berasal dari India, dan akhirnya terbagi dalam beberapa mazhab. Salah satu mazhabnya–Mahayana–berkembang dan menjadi identik dengan Tiongkok. Sampai banyak yang mengira bahwa Buddhisme berasal dari sana.
  • Hanya beberapa sub mazhab Mahayana yang melakukan akulturasi dengan budaya Tionghoa.
  • Tidak semua vihara di Indonesia bermazhab Mahayana, maupun pecahannya.
  • Tidak semua vihara di Indonesia ikut merayakan Tahun Baru Imlek sebagai bagian dari aktivitas spiritualnya. Jadi, jangan heran apabila melihat vihara yang adem ayem tanpa persiapan apa-apa.
  • Vihara berbeda dengan kelenteng, meskipun ada banyak kelenteng yang memiliki sebutan berawalan “vihara” (ulasannya bakal ditulis terpisah deh… kalau ingat). Kelenteng lebih kepada panteon, tempat pemujaan dan persembahyangan kepada dewata Tionghoa. Karena akulturasi dan karakteristik budaya, banyak warga Tionghoa yang memperlakukan vihara Mahayana seperti panteon. Toapekong (大伯公) itu bukan kelenteng, melainkan sebutan untuk Dewa Bumi.
  1. Hari Raya Agama Khonghucu

Ada batas yang rancu antara “budaya tradisional” dan “kepercayaan tradisional” Tionghoa. Dalam hal ini, Tahun Baru Imlek bisa disebut sebagai hari raya budaya sekaligus hari raya keagamaan, tergantung sudut pandang yang digunakan.

  • Pada dasarnya, Tahun Baru Imlek adalah momen permulaan penanggalan agraria. Itu sebabnya Imlek (陰曆) juga kerap disebut sebagai Nongli (農曆), atau penanggalan pertanian dengan tahun baru sebagai penanda dimulainya musim semi. Siklus tanam yang baru. Karena itu juga, Tahun Baru Imlek juga dinamakan dengan (春節) atau Festival Musim Semi.
  • Sebagai hari raya budaya, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan oleh semua warga Tionghoa tanpa dibatasi agama yang dianutnya. Dalam hal ini, merayakan berarti ikut bergembira ria, berkumpul bersama keluarga, saling berkunjung, dan mengadakan jamuan di rumah. Di luar beragam persembahyangan.
  • Sejak awal, ragam ritual yang melekat pada perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari kepercayaan tradisional Tionghoa, dan perkembangannya (animisme purba, munculnya ajaran Tao, munculnya ajaran Khonghucu awal, masuknya ajaran Buddha Mahayana, terjadinya akulturasi agama).
  • Tetap saja, Tahun Baru Imlek bukan termasuk salah satu dari hari raya agama Buddha (Vesak, Asadha, Kathina, Magha Puja). Di Wikipedia juga sudah ada artikel kronologinya, kok. Sehingga para wartawan semestinya tidak susah mencari referensi.
  • Setelah menjadi agama resmi keenam, majelis agama Khonghucu pun kembali mengangkat Tahun Baru Imlek sebagai hari raya keagamaan utama. Sebagai salah satu pembedanya adalah penggunaan istilah Kongzili (孔子曆) yang berarti “Penanggalan Kongzi/Khonghucu” dimulai dari tahun lahir Nabi Kongzi.
  • Selain itu, Tahun Baru Imlek juga dianggap sebagai hari lahir Buddha Maitreya (彌勒佛) atau yang lebih dikenal sebagai Buddha Tertawa. Meskipun disebut Buddha, namun figur ini berbeda dengan Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai pembawa Buddhisme dari India. Buddha Maitreya pun hanya menjadi figur sentral bagi aliran Maitreyanisme dan Ikuandaoisme, sebagai pecahan dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok. Sehingga bagi para umat kedua aliran tersebut, Tahun Baru Imlek juga mereka maknai sebagai momen religius.
  1. Liputan ke Kelenteng atau Vihara di Hari Pertama Tahun Baru Imlek

Bisa jadi lantaran asumsi bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya “agama Tionghoa”, banyak wartawan yang berburu bahan berita ke vihara atau kelenteng di hari pertama perayaan. Pagi-pagi sekali. Dianggap sama seperti Salat Id pada 1 Syawal bakda subuh; misa malam Natal pada 24 Desember malam; misa Natal pada 25 Desember pagi; peringatan Detik-detik Vesak; Melasti sebelum Nyepi, dan sebagainya. Padahal, tidak ada persembahyangan atau ritual khusus Tahun Baru Imlek secara bersama-sama.

  • Tahun Baru Imlek merupakan hari raya keagamaan resmi bagi umat Khonghucu. Tempat ibadahnya bernama Li Tang (禮堂) yang berarti aula kebaktian. Persembahyangan yang formal pasti hanya dilakukan di sana. Ada pun upacara peringatan hari lahir Buddha Maitreya oleh umat aliran tersebut dilakukan di lokasi dan waktu yang terpisah.
  • Sedangkan sembahyang di kelenteng-kelenteng dilakukan oleh warga Tionghoa secara sporadis, bukan berjemaah, dan sebenarnya sama saja seperti kegiatan setiap hari. Akan tetapi jumlah pengunjungnya saja yang lebih banyak. Sebab persembahyangan utama yang mesti dilakukan pada Tahun Baru Imlek adalah kepada leluhur, dan cukup dilakukan pada altar di rumah masing-masing.
  • Di sisi lain, tidak sedikit juga warga Tionghoa yang sengaja bersembahyang di kelenteng pada Tahun Baru Imlek. Kegiatan ini tidak terorganisasi secara khusus, sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri, serta tidak ada ritual khusus. Tak ada bedanya dengan urutan persembahyangan di hari-hari lainnya.
  • Kegiatan utama pada hari pertama Tahun Baru Imlek tentu saja saling berkunjung dalam lingkar keluarga sendiri. Di hari kedua barulah mengunjungi teman dan lingkar pergaulan sosial lain secara luas.
  1. Memilih Narasumber Tokoh Agama Selain Khonghucu

Saat ingin melakukan wawancara, silakan sesuaikan narasumber dengan tajuk yang akan dikemukakan.

  • Saat bertanya kepada pemuka agama Khonghucu, dia pasti akan menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya agama, bukan perayaan budaya.
  • Saat bertanya kepada tokoh aliran Maitreya, dia pasti akan memberikan semacam pesan-pesan moral dan penyegaran rohani agar menjalani tahun baru dengan keinsafan, penuh welas asih kepada semua makhluk, dan diisi dengan perbuatan bajik.
  • Saat bertanya kepada pengurus kelenteng, dia pasti akan menjawab sebisanya. Menjelaskan tentang mitos, legenda, dan makna di balik semua simbol khas dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Saat bertanya kepada tokoh Tionghoa yang bukan penganut Khonghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, maupun Buddhisme Mahayana, dia pasti akan menunjukkan bahwa Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul bersama keluarga tanpa batasan agama.
  • Saat bertanya kepada ahli Fengshui dan Shio, dia pasti akan menjabarkan tentang peruntungan masing-masing lambang astrologi Tionghoa.
  • Saat bertanya kepada kaum muda Tionghoa, ehm… jawabannya ya gitu
  • Saat bertanya kepada generasi kekinian Tionghoa, bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan mengaku tidak lagi merayakan Tahun Baru Imlek. Ini salah satunya. Hahaha!
  1. Capgomeh = Ajang Cari Jodoh

natgeo
Source: Nationalgeographic.co.id. Pewarta National Geographic Indonesia pun “terikut” para narasumbernya dengan menyebut Capgomeh sebagai Malam Mencari Jodoh. Hahaha!

Di berbagai kota Indonesia, Capgomeh seringkali terkesan lebih meriah ketimbang Tahun Baru Imlek. Disebut juga sebagai penutup perayaan. Capgomeh tahun ini berlangsung Sabtu malam nanti.

  • Pada awalnya, belum ada ketentuan yang menentukan bahwa Tahun Baru Imlek dirayakan sepanjang 15 hari.
  • Nama asli Capgomeh adalah Festival Yuanxiao (元宵節), bermula dari salah satu kisah legenda tentang seorang dayang istana bernama Yuanxiao. Capgomeh (十五暝) sendiri kurang lebih diartikan sebagai malam ke-15. Kebetulan saat purnama pertama di tahun baru.
  • Terkait dengan legenda tersebut, Capgomeh juga disebut dengan Festival Lampion. Semua orang turun ke jalan, membuat keramaian, pesta kembang api dan petasan. Meriah! Itu sebabnya Capgomeh akhirnya juga dianggap sebagai bagian terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan di malam hari.
  • Secara khusus, tidak ada persembahyangan atau ritual tertentu dalam melewati malam Capgomeh. Pengurus kelenteng atau Li Tang bisa menyelenggarakan ibadah bersama maupun tidak. Pun bukan dikategorikan sebagai hari raya, melainkan lebih kepada aktivitas sosial kemasyarakatan.
  • Karena keramaian, dan semua orang turun ke jalan, peluang seseorang untuk berinteraksi sosial dengan orang lain makin besar. Tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang ditaksir.
  • Di Indonesia sendiri, banyak kota yang hanya memiliki satu kelenteng. Perayaan Capgomeh pada masa Orde Baru hanya dipusatkan di sana, sehingga meningkatkan kemungkinan para warga Tionghoa kota tersebut untuk saling berkumpul di lokasi yang sama. Selanjutnya, just do the math 🙂

Kurang lebih demikian, lima itu dulu ya. Mudah-mudahan bermanfaat, serta makin banyak konten berita Tahun Baru Imlek dan hal-hal terkaitnya yang lebih tepat di tahun depan.

Oh ya, Selamat Capgomeh!

[]

Tabu dalam Budaya Tionghoa: Sebuah Perspektif

  • JANGAN potong kuku malam-malam, bisa mengundang hantu datang.
  • Jangan menikah dengan seseorang yang selisih usianya tiga atau enam tahun, bisa berujung pada kesialan. Sebaliknya, menikahlah dengan yang selisih usianya dua atau empat tahun agar lebih beruntung dan bahagia.
  • Angka-angka yang dianggap bagus adalah 3, 6, 7, 8, 9, juga kombinasi 18 dan 168. Sedangkan angka yang melambangkan keburukan adalah 4.
  • Jangan melewati garis pintu utama saat menyapu tempat usaha. Sampah atau debu yang disapu dalam ruangan, disekop di dalam. Sedangkan saat Tahun Baru Imlek, tidak boleh menyapu sama sekali.
  • Saat makan buah pir jangan dibagi ke orang lain.
  • Jangan memberi hadiah jam dinding atau jam besar, terutama saat peresmian atau pembukaan tempat usaha.
  • Jangan menangis di Tahun Baru Imlek.
  • Jangan bersiul atau bertetabuhan di malam hari.
  • Jangan membaca buku apabila sedang menjaga toko atau tempat usaha.
  • Jangan makan tidak bersih, atau menyisakan butiran nasi di piring, karena akan membuat si pelaku bakal bersuamikan pria dengan wajah berbopeng-bopeng.
  • Jangan melayat dengan mengenakan busana merah.
  • Jangan datang ke acara-acara bahagia (pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya) dengan busana warna putih atau hitam.
  • Jangan bicara sembarangan, dan ketuk buku jari tiga kali pada meja kayu agar ucapan itu tidak jadi kenyataan. Bisa juga diiringi ucapan “1… 2… 3…” diulang dua-tiga kali dalam bahasa Tionghoa.

Selain hal-hal di atas, masih ada banyak tabu atau pemali lain yang dipercayai warga Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Beberapa di antaranya bahkan cukup populer, sampai-sampai pelaksanaannya diikuti lebih banyak orang. Poin terakhir misalnya, ucapan “yi… er… san…” diganti dengan “choy…” entah apa lah artinya. 😀

Lahir dan tumbuh sebagai seorang Tionghoa di Samarinda–meskipun bukan dalam keluarga yang totok, pemali-pemali seperti di atas sudah diekspose sejak dini dalam kehidupan sehari-hari.

Berbarengan dengan tradisi mitos, etiket kesopanan, dan nilai-nilai sejenis, pemali-pemali tersebut dipegang teguh dan terus dijalankan oleh para tetua konservatif dengan giat. Semuanya diturunkan kepada generasi yang lebih muda, diiringi doktrin bahwa mereka harus ikut melakoninya sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung sekaligus pendidikan karakter. Dalam hal ini, nyaris tidak ada ruang untuk berbantah-bantahan atau berdiskusi. Sebab sikap mempertanyakan, mengkritik, atau menolak melakukannya bakal dianggap sebagai bentuk kekurangajaran. Belum lagi ditambahi ancaman nasib buruk, kesialan, maupun kualat. Sesuatu yang akan dibilang “ya… percaya enggak percaya lah.

Keadaan ini mungkin agak berbeda dibanding yang berlangsung di kota-kota besar pulau Jawa. Sebagian besar warga Tionghoanya relatif lebih sering bersentuhan dengan pola pikir modern, mau menafikan kekakuan demi efisiensi serta efektivitas hidup, atau dalam istilah lain; sibuk dan enggak punya banyak waktu untuk ngurusin yang gitu-gitu.

Bagaimana sebaiknya kita memandang perkara ini? Apakah dengan tetap mempercayai dan menjalankannya, atau malah meninggalkannya?


Saat ini, ada jurang besar antara kaum tua dan muda dalam menyikapi khazanah budaya tersebut. Selalu kita dengar, ketika kaum tua mengeluhkan sikap para anak muda yang mbalelo, kurang sopan santun, minim hormat, dan tidak mengindahkan nilai-nilai (yang dipercaya) sakral.

Padahal, ada alur komunikasi dan reasoning yang terputus, sehingga kedua pihak tidak akan nyambung. Tidak terjadi transfer budaya yang semestinya kaya akan diskusi dan apresiasi berujung kesepahaman atau saling menghormati, melainkan doktrinasi dengan kata sakti: “harus”, “pokoknya”, dan “tidak boleh.”

Di sisi lain, kaum tua yang menjadi pelaku khazanah budaya tersebut juga merupakan “korban indoktrinasi” sebelumnya. Jadi, mereka sudah telanjur memegang teguh semuanya tanpa dibarengi pemahaman tentang anggapan, sugesti, stigma dan prasangka, kebijaksanaan dan filosofi dalam adat. Diperparah dengan ketidakcakapan berkomunikasi, termasuk dalam menjelaskan sesuatu pada kaum muda. Jawaban pamungkas untuk semua pertanyaan adalah: “dari sananya ya begitu, dari zaman engkongmu sudah seperti itu.” Jawaban nanggung dan tidak memuaskan rasa keingintahuan. Apalagi kalau ditambah celetukan “sudah, jangan banyak tanya.

Jarak budaya makin jauh.

Salah satu contohnya, wanita Tionghoa yang baru melahirkan tidak boleh keramas sampai 40 hari setelah persalinan. Bagi tetua yang kolot, pantangan ini sama sekali tidak boleh dilanggar. Padahal, selalu ada alasan dan penyebab dari segala sesuatu, dan siapa saja berhak mempertanyakan alasannya tanpa bermaksud untuk bersikap dramatis.

Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau:

Apakah membasahi rambut juga termasuk keramas? Apabila rambut kena percikan air, disebut keramas?
Bagaimana dengan keramas menggunakan air hangat, dan dilakukan di siang hari yang cuacanya gerah?
Apakah keramas di sini dilakukan sendiri? Bagaimana jika keramas seperti di salon, dan bukan dalam kondisi sekaligus mandi?

Khusus untuk pantangan ini, satu-satunya alasan yang saya reka sendiri adalah, wanita yang baru melahirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Saat mandi sendiri apalagi dengan air sejuk, takutnya bisa jatuh atau pingsan di kamar mandi. Di sisi lain, air dingin yang menyentuh kepala bisa menyebabkan kurang enak badan alias masuk angin. Juga mempertimbangkan kualitas pelayanan kesehatan persalinan puluhan tahun silam. Fair enough, right?

Kalau pengin kreatif, soal mitos dilarang keramas ini bisa dijadikan model activation dalam peluncuran produk dry shampoo atau sampo kering. Minta afirmasi dari tetua untuk menetapkan batasan soal “keramas yang pantang”. Tak mustahil, produk ini dapat dilirik kaum ibu muda yang baru melahirkan tapi sudah sangat gerah dengan rambut bau tak tercuci selama beberapa hari.

Contoh lain, yang agak absurd. Setelah pergi melayat, seseorang dilarang menjenguk orang sakit, bayi yang baru dilahirkan, mendatangi acara pernikahan, mendatangi peresmian tempat usaha atau rumah baru, mendatangi pesta ulang tahun, melakukan kunjungan silaturahmi saat Tahun Baru Imlek, serta berkunjung ke tempat ibadah (terbatas pada kelenteng maupun vihara aliran Mahayana).

Alasan yang lazim soal pantangan ini adalah anggapan adanya aura negatif, kesialan, duka yang melekat pada tubuh orang tersebut. Cara menguranginya dengan membasuh diri menggunakan air kembang sebelum masuk rumah, atau tidak datang ke acara sama sekali. Masuk akal? Tidak, dan terkesan nyeremin. Orang pun takut dan enggan untuk melanggarnya. Di sisi lain, si empunya acara pasti tersinggung berat kalau dikunjungi orang yang habis melayat. Sebab sama artinya sengaja menularkan kesialan. Secara umum, bahkan sangat dilarang untuk mengucapkan kata-kata bernuansa buruk (mati, tewas, hilang, habis, putus, pecah, rusak, dan sejenisnya) dalam setiap acara bahagia.

Terus, apa alasan paling logis soal ini? Bagi saya, adalah ketidaknyamanan sosial. Perubahan emosi yang terlalu drastis bisa memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi seseorang. Setelah bersedih-sedih saat melayat (kecuali kalau sedihnya cuma basa basi sosial doang), kemudian malah harus tertawa-tawa di acara orang lain. Sebab kemurungan itu jelas terlihat di wajah. Sehingga, lebih baik menenangkan diri. Hanya saja, saat pantangan ini dibakukan entah berapa ratus tahun lalu, tidak ada yang menyadari bahwa manusia terus berevolusi dalam berperasaan. Perkabungan tidak lagi berlangsung dalam waktu berbulan-bulan. Setelah melayat tidak bisa datang ke pesta ulang tahun? Ya enggak masalah, ke mal aja, jalan-jalan di sana. Beres perkara.

Kalau ketidaknyambungan ini dibiarkan terus, siapa yang jadi korban? Semuanya. Para orang tua akan lebih sering makan hati, memperbesar potensi alami gangguan kesehatan karena perasaan; para anak muda akan makin jauh dari kesempatan pengalaman hidup yang seru dan jarang-jarang dilakukan, serta cenderung terbiasa dengan perspektif yang dangkal; serta nilai-nilai budaya yang sejatinya unik dan menyenangkan terlupakan, punah.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa terdekat.

Kaum muda identik dengan kepraktisan, pemikiran yang kekinian, tapi tetap punya rasa penasaran, dan mudah digoyang tren. Okelah, dalam penerapan khazanah budaya yang dimaksud di atas, mereka cenderung merasa ribet dengan segala pernik-perniknya, serta dianggap kuno. Namun tetap ada celah untuk setidaknya dibicarakan dalam kemasan yang lebih gaul dan terkini.

Saat ada sekelompok anak muda yang tertarik dan pengin melakukannya reramean, lalu berhasil menciptakan hype baru, maka akan mengundang makin banyak anak muda yang ingin merasakan sensasi terlibat dalam–sebut saja–festival budaya.

Sisi baiknya, selalu ada hipster alamiah dalam setiap golongan. Pasti ada tetua yang berpikiran modern, moderat dalam berpendapat, luwes dalam bergaul dengan siapa saja, dan fleksibel dengan kondisi zaman. Dengan mudah ia menjadi sosok yang disukai kalangan usia lain, nilai-nilai budaya yang pernah ia akrabi kala muda pun bisa dibagikan layaknya topik pembicaraan gaul di kafe keren. Pun ada kaum muda yang tertarik menempatkan diri di posisi para leluhurnya dulu. Bukan untuk memuja-muja masa lalu, melainkan untuk memperkaya wawasan diri, bahkan bisa menumbuhkan ketertarikan orang muda lain untuk “mencicipi”. Lihat saja beberapa program jelajah-jelajah dalam kota, ke kawasan yang biasanya hanya dipenuhi orang-orang tua.

Sebaliknya, tidak sedikit juga ada anak muda yang kadung terindoktrinasi, bertindak jauh lebih kuno ketimbang sekelilingnya, totok parah melebihi zaman. Usia doang yang muda, gaya hidup kelihatannya gaul, pendidikan lumayan tinggi, namun dalam urusan menjalani hidup malah purbakala, dan sok iye banget. Mau ngapa-ngapain harus lihat tanggal dan hari baik, jam bagus, serta menggunakan warna tertentu. Duh, halo…

Khusus buat anak muda yang bersikap seperti ini, titip catatan deh, biarlah cuma cinta yang seringkali tidak pakai logika, jangan sampai menyebar ke hal-hal lainnya. Bila enggak ketemu alasan kuat untuk melakukan sesuatu, coba dikira-kira sendiri. Kalau sudah dibikin-bikin jatuhnya tetap enggak jelas dan tak nyaman, bersikaplah layaknya orang modern.

Juga buat anak muda Tionghoa masa kini, ndak usah sok-sokan melakukan ini dan itu atas nama budaya leluhur kalau nulis dan ngucap nama Cina sendiri aja belum bisa.

[]

Sebutan Dalam Silsilah Keluarga Tionghoa

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, pokoknya jangan sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit juga generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Salah satu contohnya di-tweet teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Saya tidak menganggap fenomena ini sebagai sebuah ancaman, atau kemunduran, melainkan murni karena ketidaktahuan dan putusnya transfer informasi lintas generasi. Lumrah, namun tetap bisa diantisipasi.

Diawali dengan adanya kesenjangan budaya antara tradisi totok di rumah versus pendidikan gaya modern Belanda hingga beberapa dekade silam. Eh, malah keterusan sampai era Orde Baru.

Selebihnya, enggak sedikit pula yang beranggapan bahwa tradisi Tionghoa itu kuno, dan membosankan. Padahal, sebenarnya seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu bergambar sama.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Samarinda, dan beberapa kota lain di Indonesia dari berbagai sub suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja.

Bagan di atas masih jauh dari lengkap, dan bisa saja ada panggilan-panggilan lain yang belum termuat. Kalau ada yang tahu, boleh dibagi ya. Terima kasih.

Bagaimanapun juga, tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, asal jangan sampai lupa dengan keluarga.

Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Tulisan ini juga di-post di Linimasa.

Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti. 🙂

Apa Nama Tionghoa untuk Anakku?

NAMA Tionghoa merupakan salah satu identitas etnik dan budaya yang tak tergantikan, terlebih jika sedang berada di negeri orang.

Setelah ada perintah dan tekanan Orde Baru (Orba) untuk mengganti/memiliki nama dalam bahasa Indonesia, aktivitas kebudayaan ini tetap dipertahankan meskipun terkesan diam-diam. Para pendatang dari Tiongkok dan orang-orang yang terlahir dengan nama Tionghoa, harus mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang menerakan nama baru. Sedangkan generasi yang lahir sesudahnya mendapat dua nama. Satu nama resmi yang tercantum di semua dokumen administrasi kependudukan dan digunakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, serta nama berbahasa Tionghoa yang hanya valid dalam lingkungan keluarga dan urusan-urusan budaya.

Selain larangan penggunaan nama berbahasa Tionghoa, pemerintah kala itu juga melakukan pemberedelan budaya. Akses dan transfer wawasan sangat terbatas, sehingga pemberian nama Tionghoa dilakukan sekadarnya. Memunculkan tidak sedikit warga Tionghoa yang kurang akrab dengan nama Tionghoanya sendiri; tidak mampu menulis, melafalkan, serta menjelaskan arti namanya. Termasuk para orang tua yang memutuskan untuk tidak memberi nama Tionghoa kepada anak-anaknya, entah lantaran tidak mengerti atau tak ingin putra putri mereka mengalami kesusahan akibat ketionghoaannya. Karena itu, jangan heran bila banyak ditemui warga Tionghoa di beberapa kota pulau Jawa dengan satu nama saja.

Mengapa ihwal pemberian nama Tionghoa ini terkesan begitu penting dan agak dramatis? Tentu saja karena sentimen etnologis komunal. Ada ikatan imajiner yang menghubungkan kita di masa kini, dengan akar masa lalu: suku nenek moyang, dan daerah asal.

Di sisi lain, memang tak bisa dibantah bahwa proses pemberian nama Tionghoa kian dianggap kuno, obsolete, dan merepotkan. Pasalnya, praktik ini tidak sesederhana memilih kata-kata dalam bahasa Tionghoa untuk disusun menjadi sebuah nama dengan bunyi dan makna yang indah. Ada sejumlah ketentuan budaya (bukan klenik) yang harus diperhatikan, walaupun akhirnya terasa makin ditinggalkan.

Nama Tionghoa terdiri dari tiga bagian:

1. Marga

Nama keluarga yang terus diturunkan secara patrilineal. Tidak akan pernah berubah, dan selalu menjadi aksara pertama. Marga juga diselipkan warga Tionghoa dalam nama Indonesianya, menjadi sesuatu yang khas. Beberapa di antaranya: Halim (Lim/Lin: 林), Lauwono (Lauw/Liu: 劉), Gotama (Go/Wu: 吳), Limantara (Lim/Lin: 林), Oentu (Oen/Bun/Wen: 文), Tjandra (Zhan: 詹), Hartanto (Tan/Chen: 陳), Goeyana (Goey/Wei: 魏), Tandi (Tan/Chen: 陳), Susanto (Su: 蘇), Wongso (黃), dan lainnya.

2. Nama Generasi

Nama yang digunakan sebagai penanda tingkat generasi (kakek, ayah, anak, cucu, cicit, dan seterusnya). Untuk saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama (misal: saya dan saudara laki-laki), dan segaris patrilineal (misal: saya dan anak laki-laki abang ayah saya), aksara yang digunakan sama. Ditempatkan menjadi aksara kedua atau ketiga sesuai tradisi keluarga maupun kesesuaian bunyi maupun arti.

Contoh:

Saya: 李
Adik laki-laki saya: 李

Apabila saya memiliki abang atau adik laki-laki lain, nama generasinya akan tetap sama: .

3. Nama Pribadi

Nama individual yang benar-benar personal dan berbeda, sehingga selalu digunakan sebagai panggilan internal (misal: Ahok, Aling, Aseng, Along, Ling-ling, Zhen-zhen, San-san, dan sebagainya). Ditempatkan sebagai aksara terakhir, atau menyesuaikan dengan posisi nama generasi.

Secara umum, masing-masing terdiri atas satu kata. Kecuali untuk marga-marga langka dengan dua aksara atau lebih, seperti Ouyang (歐陽), Situ (司徒), Sikong (司空), Guliang (榖梁), dan beberapa yang lain.

Dari ketiga bagian tersebut, nama generasi boleh dibilang merupakan komponen yang paling merepotkan. Lantaran kelompok marga/keluarga di setiap sub suku/kampung di Tiongkok memiliki urutan nama generasinya masing-masing, tersusun menjadi sepasang syair dengan total 24 sampai 40 aksara, which means… bisa untuk 24 sampai 40 keturunan!

Syair tersebut lazimnya dipajang di altar leluhur, atau dicatat khusus dalam semacam kitab keluarga (strata tinggi) untuk kembali ditilik sewaktu-waktu. Namun tradisi ini menjadi semacam kebutuhan tersier ketika di perantauan, dan terlupakan. Terlebih bagi para IBC-Indonesian born Chinese, macam saya.

IMG_9825
Syair urutan nama generasi milik keluarga pakde luar (suami adik perempuan papa). Dibaca dari kanan atas sampai kiri bawah dan saat ini baru menginjak aksara kedua! Lokasi: Samarinda.

Sebagai orang Tionghoa generasi ketiga di Indonesia, satu-satunya cara bagi saya untuk mengetahui urutan lengkap nama generasi adalah dengan datang ke kampung halaman mendiang kakek di Tiongkok tenggara. Sebab kakek meninggal saat saya masih kecil, 2001 lalu. Pun tanpa sempat menjelaskan dan meneruskan perihal urutan tersebut kepada anak-anaknya; papa dan sembilan saudaranya, yang bahkan kurang paham benar di mana kampung halaman dimaksud.

IMG_0397
Salah satu catatan urutan nama generasi untuk marga Kwok/Guo dari sebuah wilayah di Provinsi Fujian. Source: A Singaporean in Facebook.

Sejak saat itu, saya penasaran: apa nama generasi untuk anak saya nanti? :p Kendati tidak ada jaminan jika nama tengah papa dan saya masih mengikuti urutan yang semestinya.

Nama generasi kakek: 國
Nama generasi papa: 成
Nama generasi saya: 正
Nama generasi anak: ?

Rasa penasaran itu baru terjawab awal Maret lalu, justru dalam suasana dukacita ketika Apak (pakde) meninggal dunia. Ketika itu, papa dan delapan saudaranya berkumpul. Termasuk yang paling tua, dan sudah memiliki cucu dalam laki-laki.

Katanya, nama generasi untuk putra saya nanti adalah: 熙

YAY! FINALLY!

Padahal, mereka sendiri tidak menggunakan aksara tersebut untuk cucu dalam laki-laki mereka. Memilih nama lain.

Kayaknya memang wajar bila makin lama makin banyak yang enggak peduli soal ini. Ribet! Tapi seru. 🙂

[]

“Musiques du Royaume Perdu”: Serunya Sebuah Kolaborasi

SANGAT susah untuk tidak tersenyum lebar saat mendengar “Sekar Manis” dilantunkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam pergelaran Kamis (5/5) malam pekan lalu. Apalagi setelah Hugues Primard dan Véronique Bourin, tenor-sopran dari kelompok musik tradisional Perancis: Doulce Mémoire ikut menyanyikan syair berbahasa Sunda sebagai latar pengiring Hendrawati Ashworth, sang sinden.

Ku lucu malati
Nu aya di taman taman sari
Hiur seungit nu geulis
Nu geulis putri mantili

Bayangkan saja, lirik tembang bernuansa Cianjuran di atas dinyanyikan indah lewat lidah français dalam acara “Musik dari Negeri yang Tlah Hilang (Musiques du Royaume Perdu); dari Keraton Sunda Sampai ke Kediaman Raja-Raja Perancis”, yang diselenggarakan Institut Français d’Indonésie (IFI) sebagai bagian dari rangkaian Printemps Français 2016.

IMG_0275
Saat membawakan judul-judul kolaboratif, anggota kelompok Doulce Mémoire ikut duduk dan bergabung dengan Maestro Musik Sunda.

Begitupula sebaliknya, saat “Je Vivray Liement” yang berirama riang dibawakan menjelang pengujung penampilan. Primard dan Bourin begitu ekspresif serta bersemangat. Menyebarkan atmosfer menyenangkan dari panggung ke seluruh auditorium, yang bisa dicerap secara gamblang bahkan oleh penonton awam sekalipun.

Dibandingkan 14 judul lainnya, kedua lagu itu seakan menjadi highlight utama dari pertunjukan yang berdurasi 60 menit tersebut. Pasalnya, kolaborasi tak hanya terjadi antarvokalis, namun juga antarkelompok. Selain antara sinden dan tenor-sopran, harmonisasi juga terjadi antara Miguel Henry (lutist: pemetik lute, gambus Eropa yang ujungnya patah mirip gitar Raja Dangdut) dan Dede Suparman (kecapi Sunda), serta antara Denis Raisin Dadre (flutist sekaligus pengarah) dan Yoyon Darsono (suling Sunda) dari kelompok Maestro Musik Sunda. Menyisakan Bruno Caillat pada perkusi dengan tambur dan tamborin bergemerincing.

Perpaduan terjadi di semua lini musik, menghasilkan karya yang ajek dan selaras tanpa peduli perbedaan budaya, ruang dan waktu, serta bahasa. Terlebih keduanya sama-sama diangkat dari seni masa lampau dua bangsa, yang katanya, ibarat mempertemukan era Kerajaan Pajajaran dan Renaisans dari rentang abad ke-14 hingga ke-16.

Sebagai seseorang yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seperti ini, apalagi tidak paham bahasa Perancis dan Sunda, Musiques du Royaume Perdu cukup berkesan. Meski tetap saja, ada kurva emosi yang fluktuatif di sepanjang acara: pembukaan yang menyenangkan, agak mengarah ke membosankan di pertengahan, seru di pertengahan menjelang akhir, dan ditutup dengan rasa hangat. Dalam hal ini, pengalaman dan kesan setiap orang tentu berbeda.

Bagaimana kebosanan terbangun? Utamanya pada lagu-lagu berbahasa Perancis dan Sunda yang disajikan secara “à la carte”, serta terdengar agak mirip satu sama lain dengan komposisi standar: vokal+alat musik tiup+alat musik petik+perkusi (khusus untuk Doulce Mémoire). Selain itu, suara sinden terdengar agak lemah (bila dibanding sopran). Sehingga terkesan agak tenggelam saat membawakan lagu-lagu non-kolaborasi.

Dari 16 judul dalam playlist, separuhnya merupakan lagu-lagu non-kolaborasi. Beberapa di antaranya seperti “Colinetto”, “Pour Délaisser Tristesse”, “Padjajaran–Sinangging Degung” sebagai pembuka. Ada pula yang dibawakan secara back-to-back, seperti “Extalbo Te Domine” dan “Beauté Parée de Valour”. Selain itu, setidaknya ada lima judul yang dibawakan secara bersama-sama. Dua di antaranya telah disebutkan di atas, serta satu tembang bonus (semacam encore lah): “Es Lilin”.

Yang pasti, terlepas dari rentang segmentasi pendengar yang lumayan terbatas dan beraneka tantangan lain, pergelaran “Musiques du Royaume Perdu” berhasil mencapai tujuannya sebagai sebuah aksi kolaborasi seni. Ketika ragam dua budaya yang berbeda, diolah menjadi kesatuan yang indah.

IMG_0279
The last bow!

…dan akhirnya, bikin kembali terbayang tentang betapa kerennya kalau kolaborasi serupa juga terjadi pada musik Dayak. Atau setidaknya dengan petikan Sampek (alat petik tradisional Dayak) bersama genre lain yang tengah jadi primadona kekinian. EDM, misalnya.

Tak mustahil bisa menyusul keberhasilan YK Band, yang sudah sukses memilin musik tradisional Dayak dengan jazz kontemporer. Juga diiringi apresiasi bagi para kaum muda Samarinda yang selalu antusias bereksperimen dalam kolaborasi.

[]

Penampilan YK Band di Mahakam Jazz Fiesta (MJF) 2013

Salah satu penampilan kolaboratif November 2015 di Samarinda, ketika Sampek Dayak dan Synthesizer dimainkan bersama.

Hoki: Rayakan Tahun Baru Imlek Sebagai Minoritas

Tulisan Iseng Semata

 

SEBAGAI bagian dari bangsa Indonesia, warga Tionghoa di negeri ini sangat bersyukur kala identitas dan eksistensinya kian diakui negara dalam hal kesetaraan dengan etnik lainnya. Dulunya, warga Tionghoa harus memiliki surat administrasi khusus, dianjurkan untuk tidak menggunakan nama Tionghoa, maupun mengganti nama toko dan merek dagang dengan bahasa Indonesia, termasuk soal menjalankan budaya leluhur.

Gara-gara perlakuan yang demikian, warga Tionghoa sempat dibuat merasa agak terasing. Menjadi minoritas, baik dalam hal jumlah maupun sikap sosial.

Untungnya, Tahun Baru Imlek sekarang sudah memberi markah merah pada kalender. Para pelajar pun tak perlu repot membuat surat izin tidak masuk sekolah untuk bisa merayakannya.

Perlahan tapi pasti, sebutan “minoritas” pun hanya cocok disematkan untuk urusan jumlah, dan tidak jadi masalah berarti. Justru dengan jumlah warga Tionghoa yang tidak terlalu banyak, ada sejumlah keuntungan yang bisa dirasakan. Terutama di kota-kota kecil macam Samarinda, yang tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya, Medan dengan mayoritas warga Hokkien (福建), ataupun Pontianak dan Singkawang yang didominasi warga Khe (客家) serta Teochiu (潮州).

Dalam istilah bahasa Tionghoa, keuntungan-keuntungan tersebut adalah hoki (福氣). Berikut beberapa di antaranya.

1. Bebas antrean parah

Menjelang hari raya, tanpa terkecuali Tahun Baru Imlek, pasti banyak persiapan yang dilakukan. Termasuk juga cuci kendaraan baik motor atau mobil, cuci karpet maupun permadani, ketika para cowok harus potong rambut biar tampil keren, belanja keperluan dapur di supermarket, dan sebagainya.

Nah, berhubung Sin Cia atau Tahun Baru Imlek ini hanya dirayakan oleh warga Tionghoa yang minoritas dan jumlahnya sedikit, sehingga aktivitas-aktivitas di atas bisa dilakukan dalam waktu relatif normal. Alias tanpa antrean yang terlampau panjang.

Besoknya Sin Cia, hari ini masih bisa cuci motor atau mobil dengan durasi kurang dari 2 jam. Soalnya tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Enggak perlu tunggu lama-lama. Begitupun kalau potong rambut di gents’ barbershop atau tempat potong rambut kekinian khusus cowok, dan belanja di supermarket. Antreannya biasa saja. Berbeda dengan suasana menjelang hari raya mayoritas. Lebaran, misalnya. Ketika semua orang mau cuci kendaraan, semua orang mau cuci ambal permadani, semua cowok mau pangkas rambut, semua orang belanja bahan, dan lainnya. Antreannya perlu strategi.

Akan tetapi, kondisi bebas antrean di atas tidak berlaku untuk para cewek maupun ibu-ibu ketika nyalon. Soalnya, jumlah salon yang dianggap berkualitas tidak imbang dengan jumlah pelanggan. Belum lagi waktu yang diperlukan untuk perawatan. Kalau cowok pangkas rambut, maksimal makan waktu 45 menit. Sedangkan cewek, bisa berjam-jam.

2. Bosen makan Chinese Food? Tenang aja

Ini juga merupakan salah satu keuntungan bagi para warga Tionghoa Indonesia yang minoritas, kala merayakan Sin Cia.

Pernah enggak sih, kamu merasa enek dengan sajian khas hari raya, karena dari satu rumah ke rumah lainnya pasti menyantap menu yang sama?

Lagi-lagi bila dibandingkan dengan Lebaran, kan santapan utamanya adalah ketupat yang disiram kuah bersantan dan sebagainya, kan? Tapi begitu pengin makan yang lain, enggak bisa. Sebab banyak restoran yang tutup karena Lebaran. Sehingga paling mentok ya makan Indomie atau KFC dan sebangsanya.

Beda dengan Sin Cia. Saat mblenger makan hidangan Tionghoa tipikal hari raya, termasuk yang kategori mewah sekalipun, seperti sate babi, babi panggang, dan sejenisnya, kamu tetap bisa cari warung nasi goreng, makan Coto Makassar, bakso, ayam bakar maupun lalapan, dan sebagainya. Nafsu makan aman sentosa.

3. Lebih Leluasa Incar Diskonan

Kalau yang satu ini, terjadinya di department store atau pusat perbelanjaan busana.

Biasanya, selalu ada momen diskon menjelang hari raya tertentu. Termasuk Tahun Baru Imlek. Akan tetapi, berhubung yang merayakan Sin Cia ini sedikit aja, jadi “persaingan” untuk mendapatkan baju yang diinginkan jauh lebih gampang. Hahaha!

Masih ada tambahannya lagi. Lantaran biasanya baju diskonan itu cenderung pasaran dan kurang keren, serta belum tentu cocok untuk badan cewek, peluang memilih yang benar-benar diinginkan pasti lebih besar. Tidak sedikit cewek-cewek warga Tionghoa sudah lebih dulu membeli baju baru buat Sin Cia, beberapa bulan sebelumnya. Pokoknya, terlihat ada yang bagus dan bernuansa merah cerah, pasti dibeli. Sebagai konsekuensi, si empunya baju harus mampu menjaga berat dan bentuk tubuh agar tetap bisa mengenakan baju tersebut saat Tahun Baru Imlek tiba.

4. Gampang Ngumpul, Gampang Akrab

Bagi kamu yang pernah merasakan, atau pernah mendengar tentang perayaan Tahun Baru Imlek sebelum tahun 2000-an, pasti tahu kalau suasana Sin Cia biasanya hanya terjadi dalam lingkup terbatas. Itu sebabnya, kemeriahan Tahun Baru Imlek hanya terjadi dalam rumah-rumah, maupun tempat-tempat umum khusus aktivitas warga Tionghoa seperti kelenteng maupun gedung yayasan warga Tionghoa.

Terbiasa berhari raya dalam suasana yang seperti ini, umumnya warga Tionghoa bisa berkumpul di satu lokasi. Kalau di Samarinda, tentu saja di Kelenteng Tian Yi Gong, depan Pelabuhan Samarinda pada malam Tahun Baru Imlek. Jika sudah berkumpul begini, kan interaksi dan komunikasinya bisa lebih enak. Enggak ketinggalan juga, bisa kenalan dengan temannya teman. Soalnya, jumlah yang minoritas mempermudah untuk saling mengenal. Siapa tahu cocok dijadikan gebetan. Lumayan banget, kan?

5. Tidak berisik

Sebenarnya, salah satu bentuk perayaan dalam suasana Sin Cia adalah menyalakan petasan atau mercon. Nyaring? Pastinya dong.

Hanya saja, lantaran perayaan Tahun Baru Imlek harus dilakukan secara tertutup dan terbatas selama masa Orde Baru, warga Tionghoa pun terbiasa untuk “lebih hening” dengan menghilangkan mercon dalam daftar perlengkapan perayaan Sin Cia.

Saat ini, Tahun Baru Imlek memang sudah diakui sebagai salah satu hari libur nasional. Untung saja, warga Tionghoa di Samarinda yang tidak terlalu banyak jumlahnya juga biasa-biasa saja menyikapi tentang mercon. Kalau tidak, dijamin pasti sangat berisik. Tetangga bakal terganggu, bayi-bayi jadi susah tidur, para orang tuanya pun ngedumel. Momen hari raya malah bikin orang lain sebal.

6. “Modal” Angpau Aman Terkendali

Ini khusus untuk warga Tionghoa yang sudah menikah, dan artinya harus menjadi pemberi angpau.

Informasinya, jumlah warga Tionghoa di Samarinda hanya berkisar antara 1 sampai 5 persen dari total penduduk kota ini (hampir 1 juta jiwa). Belum tentu semuanya saling terhubung atau berkerabat. Kecuali kalau bos besar, atau punya keluarga yang sangat gede, atau orang yang sangat terkenal, rasa-rasanya seseorang tidak perlu mempersiapkan sampai seratusan lembar angpau. Apalagi isi angpau juga tergantung pada inflasi. Hitung saja, kalau selembar angpau diisi Rp 50 ribu, berarti harus siapkan Rp 5 juta.

Dalam lingkup kota seperti Samarinda, bayangkan saja jika warga Tionghoa berjumlah 20 sampai 30 persen dari total penduduk. Logisnya, jumlah angpau yang perlu disiapkan pun lebih banyak.

Demikianlah enam hal yang seakan jadi blessing in disguise bagi para warga Tionghoa di Samarinda, yang sangat minoritas jumlahnya, dan selama ini (terutama saat rezim Orde Baru) kadung dibuat merasa terbatas.

Selamat Tahun Baru Imlek ya, semoga rezeki, kebahagiaan, dan kesehatan selalu berlimpah.

Gongxi, gongxi.

Fa da cai!

[]

Tionghoa Indonesia dan Tren Mandopop yang Senjang

BERANJAK dari asumsi etnografis dan sosial budaya, dianggap wajar bila orang Jawa-Bali suka musik Karawitan; orang Jawa Tengah dan Jawa Timur gandrung Campursari; orang-orang Ogi memfavoritkan lagu Bugis yang salah satu ciri khasnya adalah lirik berfrasa “pappojiku rialému…”; ibu-ibu majelis taklim lebih senang dengan kasidah; serta para ikhwan dan akhwat anggota Rohis di sekolah maupun kampus juga lebih senang dengan Nasyid. Begitu juga anggapan terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia dengan Mandopop, lagu-lagu populer berdialek Mandarin dari beragam genre.

Asumsi di atas mungkin benar, bahwa orang-orang Tionghoa Indonesia secara umum sangat suka Mandopop. Akan tetapi, asumsi tersebut berjalan dengan timpang. Ada jurang kesenjangan antar-generasi yang cukup jauh, dan referensi yang mandek hingga hampir sepuluh tahun. Buktinya, tren Mandopop terakhir berlangsung sekitar tahun 2006 silam. Mentok sampai sekarang.

Kesenjangan referensi ini, saya bagi menjadi beberapa kategori.

>> Sekarang, sedikit sekali generasi millennials Tionghoa Indonesia yang menggemari, atau bahkan tahu banyak soal Mandopop terkini, kecuali yang akrab di pendengaran mereka kala masih berusia anak-anak. Beberapa judul di antaranya seperti: “老鼠愛大米” (laoshu ai da mi) dari Joice Guo, “當你孤單你會想起誰” (dang ni gudan ni hui xiang qi shei) dari Nicholas Teo, “童話” (tonghua) dari Michael Guang Liang, atau “小薇” (xiao wei) dari Huang Pinyuan.

Rasa-rasanya, sepanjang rentang waktu antara tahun 2005-2010, empat lagu ini tidak akan pernah absen dari pesta pernikahan, pesta ulang tahun, atau sesi karaoke bareng di Indonesia. Setidaknya, di kota saya sendiri: Samarinda.

Penyanyi Mandopop yang diketahui hanya sebatas Nicholas Teo, Michael Guang Liang, David Tao, JJ Lin, A Niu, Lee Hom, Jay Chou, Andy Lau, atau Jackie Cheung. Pun sekadar pada judul-judul hits-nya saja. Akhirnya, bosan sendiri.

Bagi para millennials, popularitas Mandopop kalah dengan pop barat dan EDM, K-Pop, juga pop Indonesia.

>> Sedangkan generasi usia late 20’s dan early 30’s memang boleh dibilang mempunyai cakupan referensi yang cukup luas. Mereka pernah mendengar lagu-lagu tempo dulu kegemaran para orang tua, melewati masa puber dengan soundtrack serial Taiwan yang dibawakan para boyband dan format kelompok musik lainnya, serta mendengar beberapa lagu sangat tua yang daur ulang secara kreatif. Namun sayangnya, tidak banyak lagi yang masih mengikuti perkembangan Mandopop. Kendati demikian, mereka bisa lebih leluasa memilih nama penyanyi maupun judul lagu yang akan dibawakan saat didaulat bernyanyi di depan umum, maupun karaoke.

Selain nama-nama penyanyi di atas, angkatan ini juga akrab dengan: Teresa Teng, F4, 5566, Richie Ren, Rainie Yang, Cyndi Wang, Jolin Tsai, Karen Mok, F.I.R, Faye Wong, Candy Lo, Rene Liu, Alan Luo, Stefanie Sun, 183 Club, S.H.E, Fahrenheit, A Mei, MayDay, Coco Lee, dan banyak lagi lainnya, yang saking banyaknya sampai-sampai baru ingat setelah checkout ruangan karaoke.

>> Pada generasi para orang tua (kelahiran tahun 40-an/50-an/60-an/70-an), lagu-lagu berbahasa Tionghoa tidak hanya menjadi media hiburan, namun juga penguat identitas, menumbuhkan kebersamaan, serta solidaritas. Lebih bersifat sosial. Itu sebabnya, judul-judul lagu Mandopop yang populer ketika itu mewakili banyak tema.

Mulai tentang percintaan, seperti: “是否真的愛我” (shi fou zhende ai wo) yang disadur menjadi lagu berbahasa Indonesia, “別問我是誰”, “陪酒” yang biasanya dinyanyikan sambil ngebir, “不了情” (bu liao qing), “夜上海” (ye shanghai), “玫瑰玫瑰我愛你” (meigui meigui wo ai ni) atau “Rose, Rose, I Love You”; juga tentang kebanggaan etnik dan kebersamaan, seperti “東方之珠” (dongfang zhi zhu), “團結就是力量” (tuanjie jiushi liliang) yang liriknya hanya satu kalimat dan iramanya sama persis seperti “Glory Glory Man. United”, “朋友” (pengyou), dan lainnya.

Tak hanya lagu-lagu berdialek Mandarin saja, generasi ini juga akrab dengan hits dengan bahasa sub suku Tionghoa. Di Indonesia, utamanya adalah dialek Min atau bahasa Hokkian. Salah satunya yang legendaris seperti lagu motivasi untuk menjalani kerasnya kehidupan: “酒矸倘賣無” (jiu gan tang mai wu/Hokkian: ciu kan tang bue bo), lagu berirama rock yang diangkat dari salah satu film mengharukan. Ada pula “愛拼才會贏” (ai pin cai hui ying/Hokkian: ai pia cia e ya) yang seluruh liriknya bukan dialek Mandarin. Bisa jadi karena tak tergantikan, atau tidak ada penggantinya, lagu-lagu ini bertahan lebih dari setengah abad.

Uniknya, ada sebagian kecil dari angkatan ini yang berani bereksperimen. Kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Tionghoa sebelum ditutup massal pada 1965, membuat mereka mampu mengalihbahasakan beberapa judul lagu bahasa Indonesia ke dalam bahasa Tionghoa. Mulai lagu-lagu nasional, lagu pop Indonesia era 70-an, keroncong Mandarin, sampai “Cucak Rowo”-nya Didi Kempot lengkap dengan lirik agak saru. Dan jagonya ada di Samarinda. Hahaha!

>> Generasi para kakek/nenek (atau yang sudah menjadi buyut, bila masih hidup), punya referensi yang klasik. Lagu-lagu era mereka, awalnya masih diputar dari piringan hitam, dan telah berbelas kali didaur ulang, sampai kini berbentuk CD kompilasi audiophile.

Jujur saja, untuk kategori ini, hanya beberapa judul yang pernah saya dengar, atau yang baru saya ketahui sebagai karya klasik era tahun 20-an/30-an. Salah satunya seperti yang dipopulerkan biduan Zhou Xuan (1918-1957): “心戀” (xin lian), yang beberapa tahun lalu sempat memantik diskusi tentang siapa yang menyadur dan disadur versus “Indonesia Pusaka”?

Zhou Xuan

http://content.12530.com:8088/cmsdata/batchmusic/20080123/vET1b4HC.mp3

Dulu, waktu masih zamannya Multiply, sempat menulis tentang ini, dan menemukan data bahwa “Xin Lian” mulai populer sejak tahun 1930-an. Sayang, Blog Multiply kadung ditutup, sebelum sempat menyalin data tulisan. 😦

Sebenarnya, beberapa judul di atas, yakni “不了情”, “夜上海”, “玫瑰玫瑰我愛你” juga merupakan lagu klasik. Boleh jadi, kegemaran pada lagu-lagu ini ditularkan dari generasi kakek/nenek ke anak-anaknya (generasi papa/mama).

Mandopop setelah 2010 pun nyaris tak terdengar gaungnya di antara para Tionghoa Indonesia. Saat makin banyak yang asing dengan belantika musik berbahasa Mandarin. Entah bagaimana isi daftar Top 40-nya? Siapa pendatang barunya? Apa judul single atau album teranyarnya? Apa genre yang sedang tren? Dan sebagainya.

Jadi, apakah orang Tionghoa Indonesia suka dengan lagu-lagu Tionghoa? Not really.

[]

Pengin karaoke…