Paganisme Tradisional Tionghoa & Kearifan Lokal Nusantara

SELAIN peristiwa Bani Israil melebur perhiasan emas lalu dijadikan berhala anak lembu betina~~~ setelah dibawa Nabi Musa menyeberangi Laut Merah menghindari kejaran Firaun, tampaknya bangsa Tionghoa sudah default sebagai salah satu pelaku animisme paling fleksibel dalam peradaban dunia sampai saat ini. Paling luwes, dan paling sinkretis dalam perspektif budaya. Di mana pun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Ada kepercayaan tradisional tentang Dewa Bumi sebagai danyang teritorial. Semacam penjaga atau penguasa lokasi setempat. Bukan penunggu, karena derajatnya tidak sama dengan hantu. Tiap kali ngapa-ngapain, harus diberi tahu dan dikasih jatah. Seperti ketika ingin membangun rumah, pindah kediaman, membuka toko atau tempat usaha, sampai penjaga makam, dan sebagainya.

Dewa Bumi ini populer dengan banyak nama. Kerap dianggap berbeda dengan Fu De Zheng Shen (福德正神) atau Hok Tek Ceng Sin dalam dialek Hokkian, Toapekong (大伯公), maupun Tudigong (土地公) yang secara harfiah merujuk pada sesosok kakek. Padahal sama saja.

Salah satu ciri khasnya adalah altar yang tidak menggunakan meja, melainkan menapak tanah. Sangat mudah dikenali di rumah, toko, atau restoran milik warga Tionghoa.

Salah satu altar Dewa Bumi di sekitar kawasan Petak Sembilan, tepat di pinggir jalan samping sebuah gang.

Dibawa “merantau” ke Indonesia, figur Dewa Bumi pun akhirnya digeser. Tidak berganti, melainkan disejajarkan. Sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari yang awalnya digelari Dewa Bumi Lima Arah Lima Jalan (五方五路土地公), akhirnya mulai bisa dipanggil “Datuk”. Sajennya pun lebih me-Nusantara berupa kopi hitam, dan rokok kretek. Di Cina sana mana pake yang begituan.

Nah, lagi-lagi karena kearifan lokal, segelas kopi hitam, rokok kretek, dan/atau segelas air kembang selalu dipersiapkan setiap Kamis malam. Kenapa malam Jumat? Kemungkinan besar sejalan dengan kepercayaan khas di Indonesia yang sudah lebih dulu ada. Bagi keluarga yang memiliki altar Dewa Bumi, sesajen tersebut akan ditempatkan dalam nampan dan diletakkan di depannya. Apabila tidak punya, nampan cukup diletakkan di tengah atau salah satu sudut ruang tamu.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi, air kembang tadi kemudian disiramkan di depan rumah. Entah apa maksudnya, ataukah hanya kebiasaan yang telah turun temurun saja. Di sisi lain, masih di Samarinda, kadang ditemukan kembang serupa sengaja dihamburkan di persimpangan jalan, terutama daerah padat kendaraan dan rawan kecelakaan.

Seperti ini. Barangkali bisa disebut bentuk paganisme dengan kearifan lokal. Setidaknya yang terjadi, dan terus dilakukan dalam lingkungan keluarga saya maupun orang-orang Tionghoa di Samarinda.

Dari salah satu contoh ini, sinkretisme religius budaya Tionghoa terlihat begitu cair. Ketika ritual yang dibawa dari tanah nenek moyang berubah bentuk, dilokalkan. Kebiasaan menyiapkan air kembang bungkus pada malam-malam tertentu jelas merupakan peniruan, dan akhirnya terus dilakukan warga Tionghoa dengan logika sederhana; “kayaknya bener juga ya…” atau “sudah dilakukan dari dulu-dulu, jangan sembarangan nanti kualat!”

Punya penjelasan tentang kebiasaan malam Jumat seperti ini, boleh dibagi di kolom komentar ya. I would love to know it!

Apakah sinkretisme ini hanya terjadi di Indonesia? Kayaknya tidak. Ada satu Mandir atau kuil Hindu India di Singapura yang bahkan menyediakan hiolo atau tempat menancapkan hio di depan pintu utamanya. Seperti yang sempat saya lihat pada 2008 lalu. Warga Tionghoa setempat pun bisa melakukan penghormatan dengan gaya yang sama seperti di kelenteng. Yakni dengan cara “Cung-Cung-Cep” atau “Acung-Acung-Tancep”.

Dewanya dewa Hindu, ritualnya gaya Cina. Beda rupa, tapi mungkin maksudnya sama.

Begitulah budaya religius Tionghoa, selalu bisa merasuk dengan kearifan lokal di mana berada.

[]

Advertisements

Sungai Mahakam Itu Keren, dan Bisa Lebih Keren Lagi!

BOLEH dibilang beruntung, terlahir sebagai warga Samarinda. Sebab, sejak awal sudah terbiasa dengan pemandangan Sungai Mahakam yang membentang begitu panjang, sekaligus memiliki kedalaman yang luar biasa dibanding sungai-sungai besar lainnya di seluruh Indonesia. Aliran sungai pun diapit dengan beragam latar belakang, mulai dari hutan dengan pohon yang rapat dan memberikan kesan sejuk, hingga berhadapan dengan lingkungan perkotaan yang modern dengan gedung-gedung tinggi. Meskipun sayangnya, konsekuensi dari kondisi ini adalah pencemaran yang tinggi dari sampah rumah tangga, serta beragam tindakan tak ramah lingkungan lainnya. Namun setidaknya, sejauh ini Sungai Mahakam masih bisa diandalkan sebagai sumber baku air bersih warga lewat pengolahan PDAM yang menggunakan seperangkat mesin serta bahan-bahan kimia penjernih.

Tidak hanya menawarkan pemandangan lanskap yang khas dan berkarakter, Sungai Mahakam juga seakan menjadi dunia tersendiri bagi ekosistem air tawar keruh berlumpur. Secuplik di antaranya, kerap kita nikmati dalam bentuk tekstur daging ikan patin yang berlemak dan juicy, ikan haruan yang menjadi lauk khas nasi kuning maupun lontong sayur, ikan nila dengan rasa daging yang gurih dan dapat digoreng kering, udang-udang air tawar dengan bentuk tubuh yang silindris sempurna tidak seperti udang laut yang agak pipih, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, air Sungai Mahakam sejatinya adalah habitat mamalia air tawar unik dunia: pesut. Khazanah secara harfiah.

Upaya konservasi demi kelestarian lingkungan di Sungai Mahakam, harus didukung kepedulian dan kecintaan warga terhadap fitur alam ini. Setidaknya sebelum pencemaran dan kerusakan alam semakin parah, dan membuat sumber air utama di Kota Samarinda dan beberapa kabupaten/kota lainnya ini benar-benar tidak layak disentuh manusia (lihat saja air Sungai Karang Mumus).

Demi menumbuhkan kepedulian dan kecintaan warga terhadap Sungai Mahakam, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Dimulai dengan penataan secara serius dan bebas korupsi, penyajian Sungai Mahakam dari sisi artistik lantaran sungai ini tidak kalah keren dibanding sungai-sungai besar di beberapa kota dunia, serta kesempatan untuk menikmati Sungai Mahakam dari sudut pandang berbeda.

Untuk itu, coba sejenak berimajinasi tentang Sungai Mahakam yang lebih keren, dengan beberapa ide yang barangkali jauh dari sempurna tapi tidak mustahil untuk dilaksanakan.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila kedua sisinya terang benderang

Penurapan bantaran sungai adalah sebuah keniscayaan dalam upaya penataan. Selain demi keindahan dan kerapian, turap sungai berfungsi untuk meningkatkan keamanan bagi warga maupun hewan yang berada di sekitarnya (baca: supaya tidak jatuh). Area-area yang diturap pun bisa menjadi ruang terbuka tambahan bagi warga, demi pemenuhan kebutuhan sosialnya. Seperti rekreasi, bersantai, berolahraga, termasuk memancing, dan sebagainya.

Sejauh ini, belum semua sisi bantaran Sungai Mahakam di Kota Samarinda yang sudah diturap. Di beberapa kecamatan, masih banyak pemukiman berdiri pada tepian sungai. Sisa-sisa dari pola kehidupan yang kurang modern, saat Samarinda masih menjadi sebuah kampung bernama Samarendah.

Relatif gelap, kan?

Kendati demikian, sudah ada beberapa kawasan utama yang telah diturap dan dihiasi dengan taman-taman umum. Sayangnya, belum semua terang benderang secara konsisten. Artinya, lampu taman terpasang, tapi kerap hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya pecah, rusak, dicuri, dirusak, atau tidak beroperasi karena urusan setrum entah apa masalahnya. Karena ini pula, banyak kawasan tepian Mahakam yang identik sebagai ruang gelap Kota Samarinda: wadah mesum, tempat para junkies dan gelandangan, area preman dan bandit, dan sebagainya.

Barangkali memang ada segelintir oknum yang lebih nyaman apabila tepian Mahakam remang-remang bahkan gelap. Tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikannya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila mudah diseberangi

Bagi kamu yang pernah berlibur ke Bangkok, Thailand dengan daftar tujuan yang umum, alias memang khusus buat turis, pasti tidak akan melewatkan agenda menyusuri Sungai Chao Phraya yang membelah kota tersebut. Di salah satu titik akan menikmati pemandangan stupa matahari terbenam atau Wat Arun, di salah satu titik lainnya akan dipersilakan membeli bongkahan roti untuk diberikan kepada ikan-ikan belakang salah satu kelenteng yang makan dengan lahapnya. Itu dari sisi wisata. Tapi jangan lupa, Sungai Chao Phraya pun masih diseberangi kaum urban Kota Bangkok sebagai akses transportasi menuju kantor, sekolah, mal, maupun tempat-tempat lainnya.

Bagaimana dengan Samarinda? Warga kota ini kadung beranggapan bahwa memiliki kendaraan pribadi itu lebih keren dan bergengsi ketimbang naik kendaraan umum. Kendaraan pribadi yang dimaksud pun adalah motor maupun mobil, yang saat menyeberangi sungai, mau tidak mau harus bertumpuk, mengantre, dan terjebak macet serta ditandai dengan perilaku nakal pengemudi yang ugal-ugalan di Jembatan Mahakam (Jembatan Mahulu tidak masuk hitungan karena siapa sih orang yang mau jauh-jauh lewat sana kalau bukan warga sekitar dan sopir truk peti kemas?). Sementara Jembatan Mahkota II katanya baru akan rampung akhir tahun nanti, which is dua bulan lagi, setelah berbelas-belas tahun dibangun kada tuntung-tuntung.

#Golden #Bright #Jembatan (#bridge) #Mahulu at #night. #Samarinda, East #Kalimantan, #Indonesia.

A post shared by dragono (@dragonohalim) on

Jembatan Mahulu saat baru banget diresmikan, dan masih terang benderang. Sekarang, jembatannya gelap, lampunya mati, dan sering dijadikan lokasi balap liar.

Lalu, siapa yang masih menggunakan tambangan atau kapal kelotok khas Samarinda? Paling-paling warga Samarinda Seberang dan kelurahan-kelurahan sekitar, yang rumahnya tidak jauh dari dermaga tambangan di Kelurahan Mesjid. Di sisi lain, memang akan kurang efektif apabila naik tambangan untuk kemudian bingung mesti naik ojek atau Angkot dari dermaga ke lokasi lain.

Okelah, apabila sebagai akses transportasi Sungai Mahakam masih belum bisa diberdayakan, jadikanlah sebagai fitur wisata tentu dengan harga yang tidak dilebay-lebaykan. Sebab selama ini, pemberdayaan Sungai Mahakam sebagai objek gaya hidup bernilai jual, baru dilakukan secara parsial. Misalnya, dalam kegiatan komunitas baru-baru ini, atau dijadikan latar pemotretan sesi pre-wedding. Salah satu mata acara kegiatan paguyuban, berupa jamuan makan siang tamu-tamu dari seluruh Indonesia di atas kapal yang sedang berlayar, dan masih banyak lagi. Bukan mustahil, banyak warga Samarinda lainnya yang ingin juga merasakan sensasi serupa.

IMG00566-20110217-1119
Sungai Chao Phraya yang membelah Bangkok, di depan Wat Arun.

Terus, apakah bingung harus diberdayakan seperti apa? Enggak punya ide? Otak buntu? Do brainstorming lah. Instansi terkait, seperti Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, atau Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim malah lebih bisa melibatkan diri secara dinamis dalam proses susun konsep bareng-bareng tanpa embel-embel harus studi banding lah, jalan-jalan lah, apa lah.

Berikut ini beberapa ide di antaranya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila makin banyak event beragam budaya

Sejauh ini, kegiatan yang identik dengan Sungai Mahakam baru ada satu, yakni Festival Mahakam yang umumnya digelar pada November. Dalam festival tersebut, ada beberapa mata acara khas yang ada sejak penyelenggaraan tahun pertama, ditambah dengan acara-acara yang disadur dan dijadikan bagian dari festival. Seperti Mahakam Jazz Fiesta garapan komunitas Jazz Kota Tepian. Although it keeps declining every year. Kalau begini, apakah acara meriah terkait Sungai Mahakam cuma berlangsung setahun sekali? Agak disayangkan. Padahal masih ada beragam kegiatan yang bisa dilangsungkan di Sungai Mahakam tersebar dalam satu tahun.

Apabila kendalanya adalah dana, sangat bisa diakali dengan penyelenggaraan acara per dua atau tiga tahun sekali. Skemanya, misal ada lima festival baru (A, B, C, D, E), dalam tahun ini digulirkan tiga festival (A, B, C), lalu tahun depan digulirkan tiga festival lain (A, D, E), dan dikombinasikan. Sebab, festival-festival yang berpotensi dijadikan ajang rutin, didominasi event tahunan. Seperti beberapa contoh. Memang perlu biaya, tapi apa mesti harus selalu di-markup dan dimahal-mahalkan?

>> Tahukah kamu bila setiap tanggal 5 bulan kelima dalam penanggalan Imlek, warga Tionghoa memiliki ritual membuang bacang atau makanan khas dari ketan secara simbolis ke sungai? Ritual ini biasanya juga dibarengi dengan persembahyangan secara sederhana, baik dilakukan di pinggir sungai maupun di tengah sungai. Festival ini berlangsung pada musim panas, sehingga biasanya juga dibarengi dengan minum teh bunga krisan sambil menyantap bacang tersebut. Selain itu, juga kerap dimeriahkan dengan festival perahu naga yang sebenarnya, maupun eksibisi perahu naga dengan titik berat pada permainan perkusi tambur.

Miniatur perahu naga dan bacang yang dilarung di perairan Sungai Mahakam dekat Pulau Buaya, beberapa tahun lalu.

>> Tahu Erau, kan? Selama ini, Sungai Mahakam di area Samarinda hanya dilintasi kapal pengangkut replika naga yang diantar ke kawasan Kutai Lama. Apabila memungkinkan, saat kapal naga lewat di Samarinda, disinggahkan sebentar untuk dapat dinikmati lebih lama warga kota ini. Tidak hanya itu, bisa juga kehadiran naga di kota ini “disambut” dengan pagelaran seni budaya berupa tari-tarian tradisional. Erau pun bisa jadi semacam event budaya dengan kepanitiaan gabungan. Para kontingen dari negara-negara sahabat pun ikut diberangkatkan dengan kapal sampai ke Samarinda untuk manggung sejenak.

Saat naga Erau atau Naga Bekenyawa tiba di dermaga Samarinda Seberang. Source: kutaikartanegara.com

Berani lebih gila lagi? Teknisnya mungkin agak ribet dengan keamanan dan regulasi. Tapi, pemerintah pasti punya kewenangan untuk mengerahkan atau meminjam ponton luas guna dijadikan panggung terapung. Para penampil juga penonton bisa berkumpul di sana, atau dibuat agak mendekat ke tepian.

Kami yakin, dari celetukan ide ini, pasti ada pro kontra. Selebihnya, pasti ada pula yang punya pemikiran lebih brilian dan realistis untuk bisa dilaksanakan.

>> Bicara soal panggung terapung, kenapa tidak dibuat pertunjukan musik, pesta kembang api, atau konser di atas kapal? Penonton pun berkumpul di tepian sungai. Atau mungkin bisa memberdayakan tambangan untuk menjadi “tempat duduk” terapung mengelilingi panggung. Acaranya jelas berlangsung malam, dan diupayakan aman sedemikian rupa dari cuaca, ketinggian permukaan air, dan batasan usia penonton.

Tidak perlu panggung yang heboh dan berlebihan, dengan terapung di atas sungai saja sudah wow! Source: wsdg.com

>> Antara September sampai November, umat Buddha di Samarinda (dan di seluruh dunia) merayakan hari Kathina. Salah satu tradisi yang khas dan unik dari perayaan ini adalah kegiatan melarungkan pelita lilin dengan tatakan berbentuk teratai ke air. Di Thailand, momen seperti ini berlangsung saat Festival Loi Krathong yang kebetulan juga jatuh setiap November.

Tradisi melarung pelita ke sungai saat Loi Krathong di Thailand, dan sebenarnya juga bisa dilangsungkan di Samarinda. Source: jansguesthouse.com

Pelarungan pelita ini berlangsung di Vihara Muladharma, Jalan PM Noor.

Kegiatan seperti ini juga dilangsungkan di Sri Lanka, maupun negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya termasuk Jepang, serta Korea, pelita ini dilarungkan ke sungai, danau, laut. Sementara orang-orang di Indonesia, selama ini terpaksa hanya melarungkan di kolam permanen maupun temporer yang khusus dibuat untuk tujuan itu. Bisa dibayangkan suasananya berlangsung indah dan relatif aman terawasi. Lilin pun bisa habis terbakar dalam waktu sekitar 20 sampai 30 menit.

Bagi warga Tionghoa di Tiongkok maupun Taiwan, juga ada tradisi seperti ini namun pada waktu berbeda dan bertujuan sebagai penghormatan kepada Dewi Guanyin.

Bayangkan saja apabila ada area khusus Sungai Mahakam tengah kota, tepatnya di depan kantor gubernur, yang dilokalisasi atau diamankan pada radius tertentu. Baik umat Buddha maupun warga umum bisa berpartisipasi melarungkan pelita ini. Pasti akan terlihat cantik dan syahdu. Di sisi lain, pemerintah pun bakal diapresiasi karena memberikan keleluasaan khusus dalam ibadah, serta kreatif bersinergi menghasilkan kegiatan budaya yang bisa jadi ikon kota ini.

Kalau disambungkan dengan tradisi umat Buddha Indonesia, bisa saja festival bernama Siripada Puja ini akan mampu menyaingi popularitas menerbangkan lentera di Candi Borobudur saat peringatan Waisak. Ya kalo? Siapa saja, umat maupun wisatawan, bisa berpartisipasi dalam ajang ini dan memenuhi media sosial dengan foto dan video yang menarik lebih banyak orang untuk datang tahun depan.

But the main concern will be safety issue. Harus benar-benar dipastikan aman.

>> Ide lainnya, bisa diberi nama Mahakam Short Cruise. Rute yang ditempuh pendek, dari Kota Samarinda menjelajah sampai ke muara sungai, atau ke lokasi-lokasi budaya seperti Kutai Lama, dan sebagainya. Bukan sekadar jalan-jalan, dalam satu sesi juga minimal disajikan makan siang dengan menu khas Samarinda, Kutai, Banjar, atau sesuai kreativitas masing-masing. Fokusnya bisa disesuaikan dengan objek-objek yang ingin dilihat. Bagi penggemar desain arsitektural, pasti girang banget melintas di bawah atau bisa memerhatikan detail mega structures infrastruktur. Mulai dari Jembatan Mahakam yang usianya hampir 30 tahun, Jembatan Mahulu dengan desain arch, atau Jembatan Mahkota II dengan desain cable-stayed. Juga bisa melihat Islamic Centre dari depan dan megah, kantor gubernur, bahkan bila memungkinkan juga diatur kerja sama dengan perusahaan Migas di muara agar peserta bisa melihat rig atau titik bor, dan sebagainya. Sedangkan bagi para ahli ilmu sosial, pasti akan senang melihat ragam hidup warga bantaran. Lalu bagi para pecinta alam, bisa menyaksikan hutan bakau di beberapa wilayah, hewan-hewan liar yang bisa bermunculan di sisi sungai. Banyaklah pokoknya.

Bisa juga menyontek ide festival lampion di sungai tengah Kota Seoul ini. Saat Sungai Mahakam dipenuhi kapal-kapal berlampu hias. Pawai pembangunan di atas sungai. Source: rjkoehler.com

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila ditangani sepenuh hati

Artikel ini sudah cukup panjang, jadi lebih baik diakhiri di bagian ini. Kendati poin ini terdengar klise, tapi pada kenyataannya belum pernah dilakukan sampai kini.

Tunjukkan bahwa kamu benar-benar mencintai Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kaltim, dan Indonesia ini dengan berani mengerahkan ide dan kreativitas, bukan hanya karena memang sedang bertugas di bidang itu. Kalau memang ide sudah buntu, gandeng sebanyak-banyaknya orang berkompeten untuk mewujudkan ini. Tapi setelah mereka terkumpul, jangan langsung diperalat dan dimanfaatkan demi menguntungkan diri sendiri.

Sekali lagi, kami yakin ada banya ahli tata ruang, arsitek, ahli botani, pemikir kreatif, pebisnis santun yang akan sangat bersedia membantu revitalisasi Sungai Mahakam. Jangan pernah malu untuk meminta ilmu. Di Bandung, ada arsitek yang jadi wali kota dan menyulap Kota Kembang itu jadi lebih indah dan nyaman. Di seluruh dunia juga ada agensi tata eksterior yang berani terlibat dalam pitching ide. Jadi, mulailah bergerak.

Kuncinya, asal memang punya niat dan tekad serius untuk melakukannya. Bukan cuma untuk cari muka, dan cari objekan. Selama ini, kita sebagai manusia-manusia Samarinda sudah dihidupi air Sungai Mahakam, dan ini saatnya bagi kita untuk “membalas budi”. Mengonservasi kehidupan di dalamnya, dan membuatnya lebih cantik dan patut dipuji.

Sebab sejatinya, Sungai Mahakam sudah keren, tapi dibuat kotor dan buruk oleh manusia-manusia yang mengambil air dan mengeruk isinya, serta mencemarinya. Berhentilah bersikap kurang ajar dan tak tahu malu.

[]

Artikel ini pertama kali ditulis untuk Undas.Co, September 2015.

Cinta Kota Sendiri dengan Dijelajahi

SEBUTKAN setidaknya sepuluh tempat unik yang ada di kota Samarinda!

Sebagai seorang warga Samarinda, jawaban untuk soal di atas tentu sangat mudah. Karena pada kenyataannya, tempat-tempat unik tersebar di seluruh penjuru kota dan relatif enggak susah-susah amat untuk dijangkau. Mulai monumen patung Dayak “Selamat Datang” di Simpang Tiga, sampai Lamin di Desa Budaya Pampang. Dari tugu tangan berdoa di Palaran, hingga kelenteng pribadi Nan Shi Zhu (南石竹) di Sungai Lais. Belum lagi tempat-tempat yang ada di tengah kota, dan seringkali kita lewati saat berkendara.

Pertanyaan berikutnya, seberapa menarik tempat-tempat tersebut untuk bisa memunculkanexcitement, menumbuhkan rasa bangga, dan memberi kesan menyenangkan ketika dikunjungi, termasuk oleh orang-orang Samarinda sendiri? Ataukah tempat-tempat tersebut memang membosankan, dan tidak ada apa-apanya?

Jika memang begitu adanya, maka wajar bila saya–yang orang Samarinda ini–merasa cukup iri dengan Jakarta Walking Tour, aktivitas wisata murah meriah yang terinisiasi sejak setahun terakhir. Iri, lantaran nuansa seru yang begini sebenarnya juga bisa dihadirkan di Samarinda, bahkan di seluruh kota Indonesia. Tergantung apa konsepnya, seperti apa pengemasannya, dan bagaimana eksekusinya. Seperti yang akan diselenggarakan 25 Juni mendatang, sesi-sesi dilakukan secara bersamaan dalam rangka peringatan hari jadi kota Jakarta.

Journey
Source: @JKTgoodguide

Apakah ada peminatnya? Sekadar informasi, saat menulis artikel ini, kuota yang tersisa hanya untuk rute City Center 2, Cikini, Jatinegara, dan Pasar Baru. Selebihnya, sudah penuh! Padahal saya pengin ikut yang China Town.

Kalau kamu merasa sebagai orang Samarinda, pasti sudah bisa membayangkan rute-rute tur serupa di Kota Tepian. Bukan mustahil, penjelajahan seperti ini pasti seru dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan sederhana seperti ini berpotensi bisa membantu tugas Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, bahkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim dalam mempromosikan Kaltim.

Contoh rute, misalnya…

  • “Samarinda Tempo Doeloe”
    • Start dan finis: Balai Kota Samarinda. Di sana, bisa dijelaskan tentang sejarah pemindahan Balai Kota dari Jalan Milono ke sana. Peserta juga diajak untuk melihat sisa-sisa makam Tionghoa yang masih ada di salah satu bukit. Selain itu, peserta bisa melihat ramainya jalan Balai Kota yang dijadikan jogging track sembari jajan aneka makanan.

      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
    • Lokasi 2: Taman Samarendah. Dari Balai Kota, peserta berjalan kaki lewat jalur tembus Jalan Kenanga ke Jalan Bhayangkara. Di sana, dikisahkan tentang gedung SMAN 1, SMPN 1, dan Lapangan Pemuda sebagai salah satu icon pusat kota Samarinda. Peserta juga diajak untuk mengenal fitur-fitur yang ada di Taman Samarendah tersebut.

      Taman Samarendah yang dulunya merupakan lahan SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda. Source: kaltim.prokal.co
    • Lokasi 3: Katedral Santa Maria lewat Jalan Milono. Sebagai gereja Katolik besar pertama di Samarinda, masih banyak warga kota ini yang tidak tahu kalau nama lengkap dari gereja tersebut adalah Katedral Santa Maria Penolong Senantiasa. Peserta juga diajak untuk menelusuri kompleks katedral, mengetahui bagian-bagian bangunan, serta mendapatkan penjelasan tentang ornamen yang tersebar di gereja tersebut. Peserta bahkan berkesempatan untuk mendengar langsung bunyi lonceng setiap pukul 4 sore.
    • Lokasi 4: Kawasan Pasar Pagi. Sebagai pusat keramaian mula-mula kota Samarinda, peserta diajak untuk mengenal daerah ini lebih jauh. Sedikit banyaknya ada beberapa bangunan lama yang masih bertahan. Misalnya: salah satu langgar di sebelah pusat oleh-oleh Fitriah, ada juga restoran Kepiting Kenari yang legendaris, termasuk areal Pasar Pagi itu sendiri.
    • Lokasi 5: Masjid Raya Darussalam. Boleh dibilang masjid ini adalah yang tertua kedua di Samarinda. Bangunannya memiliki ciri khas unik, penuh ornamen, dan indah. Termasuk dengan kolam air mancur yang ada di salah satu sisinya. Peserta akan mendapatkan penjelasan sejarah tentang pendirian masjid ini, termasuk penggeserannya dari pinggir Sungai Mahakam ke lokasi yang sekarang.
    • Lokasi 6: Kawasan Citra Niaga. Kota Samarinda pernah identik dengan kawasan ini. Pusat oleh-oleh dan kerajinan khas yang dianugerahi penghargaan Aga Khan Award lebih dari seperempat abad lalu. Peserta diajak untuk menjelajahi berbagai penjuru, melihat piala Aga Khan Award, juga memerhatikan prasasti batu yang ada di lapangan tengah. Sekaligus memerhatikan areal ekonomi di sekelilingnya, dan Jalan Niaga Selatan yang dulu pernah dijejeri PKL.
    • Lokasi 7: Mal Mesra Indah. Pusat perbelanjaan ini adalah mal modern pertama di Samarinda, dan tetap beroperasi hingga kini. Peserta yang pernah mengisi masa kecil dan remaja di mal ini pun diajak bernostalgia, dengan menelusuri setiap lantainya atau mencicipi makanan yang ada. Saat keluar dari mal ini pun jangan lewat jalan raya, melainkan mengambil jalur belakang yang tembus ke Jalan Mutiara. Di sana ada warung gorengan yang terkenal, dan warung gado-gado lama.
    • Peserta diajak kembali ke Balai Kota lewat Jalan Abul Hasan-Jalan Dahlia.

Selain contoh rute di atas, saya yakin masih ada banyak tema yang bisa diangkat! Belum ke keleteng tertua di Samarinda, Tian Yi Gong (天儀宮) yang berusia lebih dari 115 tahun, atau warung kopi (di Jakarta kerap disebut Kopi Tiam) legendaris yang sudah dikelola generasi kedua dan ketiga, serta lain sebagainya.

Kegiatan penjelajahan seperti ini pada dasarnya bukan hal yang baru-baru banget di Samarinda. Sejak beberapa tahun lalu, sudah ada sejumlah organisasi maupun komunitas di Samarinda yang mengadakan acara sejenis, namun terbatas untuk kalangan tertentu saja, maupun tidak terorganisasi secara lebih luas.

Pemuda Theravada Indonesia (Patria) salah satunya. Dalam kegiatan outbuond bertajuk Rekreasi Interaktif (Rekin). Pada Rekin VI (2008), Rekin VII (2009), dan Rekin 8 (2012), panitia menyelipkan sesi “The Amazing Race”. Semacam permainan berantai dengan beragam lokasi, mulai Islamic Center sampai Kelenteng Tian Yi Gong dan sebagainya. Minimal di areal kompleks Unmul yang superluas itu.

Panitia peringatan hari jadi kota Samarinda dan Pemkot Samarinda setahu-dua tahun lalu juga pernah mengadakan acara penjelajahan serupa. Tetapi dikhususkan untuk para rider, atau pengendara motor. Begitu pula yang dilakukan sejumlah blogger Samarinda tahun lalu, dalam kegiatan bertajuk “Explore Samarinda: Wisata Sungai Mahakam”. Lagi-lagi, segmen penyelenggaraannya bersifat terbatas.

Permasalahan selanjutnya, barangkali enggak banyak orang Samarinda yang semacam kurang kerjaan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Jalan kaki pula. Ditambah lagi, mereka harus benar-benar punya wawasan tentang lokasi yang dikunjungi. Tapi jangan lupa, ini adalah kegiatan rekreasi. Bisa dilakukan saat akhir pekan atau hari libur. Lagipula, sudah ada beberapa komunitas yang bisa dilibatkan secara aktif dalam memulai gerakan “Cinta Kota Samarinda” ini. Sebut saja Komunitas Samarinda Bahari (KSB), maupun pengelola Galeri Samarinda Bahari. Setidaknya, komunitas-komunitas tersebut punya penutur, pencerita, maupun orang-orang yang bersemangat untuk berbincang dengan para tetua, para saksi mata.

“Cinta Kota Samarinda”. Ya! Kegiatan rekreasi ini seyogianya bisa menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap kota tercinta ini. Akan tetapi kalau hanya dilakukan untuk gaya-gayaan; ajang pembuktian kekerenan; atau memenuhi sosial media semata, hasilnya tidak maksimal. Penyelenggaraannya bisa jadi berantakan. Tempat-tempat tujuan hanya didatangi untuk foto danselfie tanpa penjelasan tentang sejarah, aftertaste-nya berasa hampa dan garing. Enggak berkesan-berkesan amat, kecuali panas gerah dan capek jalan kaki. Panitianya enggak bakal mau bikin lagi,until proved otherwise.

Jadi, kapan mau mulai jelajahi kota sendiri?

[]

Tulisan ini juga dimuat di: Undas.Co

Jembatan Mahakam: Jembatan Besar Pertama Samarinda

KATANYA (dan memang logisnya), salah satu ciri kota modern adalah memiliki sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Lalu, salah satu aspek dari poin “infrastruktur yang memadai” adalah ketersediaan jembatan. Terlebih pada kota-kota yang memiliki sungai atau kali berbagai ukuran, maupun jumlah dan kepadatan penduduknya.

Sebagai ibu kota provinsi yang dibelah Sungai Mahakam dengan kelebaran lebih dari setengah kilometer (belum termasuk anak-anak sungai kecil), sudah sewajarnya Samarinda memiliki banyak jembatan besar. Kalaupun mau pujungan dan sedikit sotoy, bandingkan saja dengan New York City (NYC) yang memiliki 32 jembatan khusus untuk jenis bentangan di atas sungai dengan konstruksi tertua dibuat pada 1883.

Bagaimana dengan Samarinda? Hingga saat ini, warga Kota Tepian masih bergantung pada Jembatan Mahakam. Jembatan pertama pembelah Sungai Mahakam di kota ini. Sebab meskipun Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) sudah berdiri, dan menghubungkan Kelurahan Sengkotek serta Kelurahan Loa Buah, banyak yang enggan melintasinya. Selain lokasinya yang dianggap jauh dari “kota”, kondisi jembatan gelap gulita dengan lampu-lampu yang hanya terang benderang selama beberapa pekan setelah peresmian. Apalagi jalur Loa Buah-Loa Bakung dan sekitarnya berdebu, gelap, dan rusak parah. Akhirnya Jembatan Mahulu lebih difokuskan untuk warga setempat dan truk-truk besar, sedangkan Jembatan Mahakam tetap dijubeli kendaraan setiap pagi dan sore. Lebih-lebih di akhir pekan dan musim liburan. Bisa jadi, setelah Jembatan Mahakam berdiri, pemikiran-pemikiran untuk menambah jembatan di kota ini dipatahkan dengan argumentasi “ah, masih belum perlu,” atau “ah mahal, Jembatan Mahakam juga lancar-lancar aja.” Namun lama-kelamaan, jumlah penduduk bertambah, disusul peningkatan jumlah kendaraan. Tahu-tahu, Jembatan Mahakam sudah macet. Pengalaman yang baru ini belum siap dihadapi warga, sehingga banyak yang kesal, yang emosional, ditambah dengan belum terbiasa tertib berlalu lintas. Telat.

Mahakam Bridge
Watermark-nya gengges!

Oke, kembali ke Jembatan Mahakam sepanjang 400 meter ini.

Per tanggal 3 Agustus nanti, konstruksi Jembatan Mahakam sudah berusia 30 tahun! Kalau dianalogikan dengan fase kehidupan orang-orang Samarinda pada umumnya, usia Jembatan Mahakam sudah setara dengan cowok atau cewek yang sudah menikah, dan minimal telah memiliki satu orang anak menjelang usia masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Singkat kata, Jembatan Mahakam itu sudah lumayan tuha. Tapi makin lama, jumlah kendaraan yang memenuhinya setiap hari kian banyak. Belum lagi sudah beberapa kali tiang penyangganya tersenggol sampai tertabrak ponton batu bara yang luar biasa besarnya.

Source: Undas.Co

Mengutip informasi dasar mengenai Jembatan Mahakam, proses pembangunannya dimulakan pada 1982. Dan setelah rampung dibangun pada 1986, jembatan ini baru diresmikan setahun setelahnya. Sebelum rampung, jelas satu-satunya cara untuk menyeberang ke “Samarinda Kota” adalah menggunakan kapal. Begitupun bila pergi ke/datang dari Balikpapan maupun Tenggarong. Untuk keterangan tambahan, bisa juga dibaca di plakat yang tertanam di dinding sisi kiri dekat ambang jembatan, bila melintas dari Samarinda Seberang. Sayangnya, plakat itu tertanam lumayan tinggi, dan saat ini sudah tertutup lumut. Samar-samar, hanya lambang Departemen Pekerjaan Umum (kini disebut Kementerian PU) yang bisa terlihat.

Sebagai jembatan pertama di Kota Samarinda, Jembatan Mahakam menggunakan desain konstruksi Truss (atau Lattice Truss), yang untuk masa kini terkesan jadul.

Salah satu jembatan dengan konstruksi model Lattice Truss. Source: Wikipedia

Secara sederhana, model Truss menampilkan rangkaian penyangga beban berbentuk segitiga. Terdiri dari komponen-komponen yang disatukan. Di Jembatan Mahakam, rangkaian Truss tersusun memanjang, membentuk semacam kotak dan terbagi beberapa segmen lantaran beda ketinggian. Penyatu Truss di Jembatan Mahakam bisa kamu lihat pada lempengan baja dengan baut dan mur berukuran jempol orang dewasa. Agak memompa adrenalin pada bagian pedestrian atau pejalan kaki. Karena berada di sisi luar jembatan. Seru.

Selain pada Jembatan Mahakam, desain Truss juga digunakan untuk beberapa jembatan kecil di dalam kota, seperti Jembatan II atau Jembatan Sungai Dama, juga Jembatan Baru (JB) di ujung Jalan Agus Salim menuju Jalan Gatot Subroto.

Mengapa model Truss yang dipilih? Unda gin kada paham. Tapi bisa jadi karena efisiensi biaya. Selebihnya, model Truss termasuk yang tertua dari konstruksi jembatan modern. Barulah pada desain Jembatan Mahulu, dan (soon-to-be built) Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II, sudah mulai bermain dengan tampilan yang lebih modern.

Untuk melengkapi nostalgia, berikut ini adalah video dokumentasi peresmian Jembatan Mahakam. Bisa dirasakan suasananya, ketika para pendahulu kita sebagai warga kota ini, himung dan gembira dengan berdirinya Jembatan Mahakam.

 

[]

Kenangan dari Samarinda Era 90-an

SETIAP generasi memiliki “harta karun” kenangannya masing-masing. Tak tergantikan, meskipun telah lekang ditinggal zaman. Begitupun yang dirasakan Generasi Y Samarinda, mereka yang menikmati kehidupan era 90-an dengan segala perniknya. Wajar bila kini banyak di antara pernik-pernik tersebut yang dirindukan.

…dan bagi saya, berikut adalah beberapa di antaranya.

Main Ding-Dong di Supermarket Anna

Ada masanya, ketika Ding-Dong digunakan untuk menyebut perangkat permainan arcade yang benar-benar video game. Dioperasikan dengan duit Rp 100, dan hanya bisa menggunakan benggolan wayang. Beberapa judul permainan yang populer adalah “Street Fighter”, “Contra”, “1942”, dan permainan pesawat tempur dengan efek tembakan yang bikin terperangah saat itu (sampai sekarang juga sih).

Tidak hanya jejeran mesin Ding-Dong dengan musik latar–yang baru kita ketahui beberapa tahun kemudian sebagai–chiptune, lantai atas Supermarket Anna juga dilengkapi dengan areal Boom Boom Car (aslinya bernama Bumper Car). Permainan saling menabrakkan mobil yang seru banget, kala itu. Disusul kemudian arena permainan yang sama di lantai atas Mal Mesra Indah yang masih berdiri hingga kini.

Lokasi bekas Supermarket Anna, Jalan Imam Bonjol.

Di tahun 90-an, satu-satunya supermarket dengan arena Ding-Dong di lantai 2 hanyalah Anna, di Jalan Imam Bonjol. Popularitasnya sebagai salah satu “tempat hiburan” di Samarinda mesti pupus setelah kebakaran sekitar dua dekade lalu. Kini, masih ada sisa lantai dan fondasi bangunannya, namun terpagar seng dan belum jelas akan digunakan kembali sebagai apa.

Selain menyenangkan, budaya palak-memalak juga tumbuh di areal Ding-Dong Supermarket Anna. Remaja yang merasa jagau dan lebih besar, mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil. Entah bagaimana nasib mereka sekarang.

Nonton Bioskop Mahakama dan Parahyangan

Film pertama yang penulis tonton di bioskop adalah “Jurassic Park”, itu pun di Bioskop Mahakama, Jalan Yos Sudarso. Lengkap dengan kudapan kacang madu dan teh kotakan.

Lebih dahulu berhenti beroperasi, kadang kala cinematic experience masih bisa dirasakan di Bioskop Parahyangan, Jalan Bhayangkara yang lahannya kini telah jadi lokasi mal. Dua bioskop yang dikelola pengusaha lokal ini, benar-benar menjadi gedung pertunjukan. Karena setelahnya, kita harus masuk mal terlebih dahulu.

Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)
Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)

Selain Mahakama dan Parahyangan, Samarinda sebenarnya juga memiliki beberapa bioskop lain. Beberapa di antaranya seperti Bioskop Garuda, Wisma Citra, Bioskop Kaltim di kompleks Pinang Babaris.

Tulisan lain mengenai bioskop-bioskop di Samarinda bisa dibaca di “Bioskop di Samarinda“.

Es Krim “Tiga Dara”

Untuk yang satu ini, mungkin tak banyak orang Samarinda yang tahu atau pernah menikmatinya.

Di deretan rumah tak jauh dari pintu masuk Pasar Subuh Jalan Yos Sudarso, ada warung kopi dengan plang bertuliskan “Tiga Dara” di depannya. Warung kopi ini dikelola sepasang Engkong-Amah (kakek-nenek) Tionghoa dengan keramahan khas, terlebih kepada anak-anak yang diajak orang tuanya serta. Sebab sajian favorit anak-anak Samarinda hingga akhir 90-an di warung kopi ini adalah homemade ice cream alias es krim buatan sendiri.

Disajikan dengan mangkuk saji khusus es krim berbahan stainless steel yang hingga kini tidak pernah lagi terlihat di kota ini, ada rasa cokelat dan vanila. Kesukaan penulis adalah rasa cokelat, yang bertekstur lembut, tidak terlalu manis, dan kadang kala masih menyisakan serpih es renyah. Dijamin, meskipun sederhana dan cuma berupa scoop-an tunggal tanpa topping macam-macam dan sebagainya, rasa es krim “Tiga Dara” tidak ada duanya. Klasik!

Sayangnya, warung kopi ini berhenti beroperasi setelah sang Engkong meninggal. Mesin pembuat es krim pun kabarnya sudah diboyong ke Surabaya oleh menantunya. Beberapa masa setelahnya, sang nenek juga berpulang.

Selain es krim, sajian yang cukup terkenang dari warung kopi ini adalah kroket kentang lembut dan selalu hangat.

Semuanya Jadi Permainan

Di era 90-an, jangan tanya soal gadget. Video game yang paling keren pun adalah Nintendo maupun Sega, dan tentu saja mahal. Paling advance adalah Play Station 1 yang gambarnya masih pixelated. Tapi bukan berarti anak-anak Samarinda pada masa itu kekurangan kegembiraan. Bahkan sangat gembira, sampai-sampai suah dihamuki mamak di rumah, main lupa waktu dan kotor sampai bebau hari.

Ada Asin Naga, permainan modal badan doang. Selain itu ada juga permainan melompati penghalang dengan ketinggian tertentu. Setiap “naik level”, ketinggiannya pun bertambah. Uniknya, penghalang menggunakan jengkal tangan yang disusun vertikal. Informasi ini baru ditambahkan. Katanya, permainan itu bernama Kil-kilan. Dari tanggapan pembaca, perlu juga menambahkan permainan Benteng dan Kiniboy. Sayangnya, penulis sama sekali tidak ingat dengan permainan terakhir itu. Kalau Benteng, dengan format kurang lebih Asin Naga dengan peraturan berbeda.

Kalau cuma punya karet gelang, jadilah main lompat. Kalau punya biji karet, jadilah Main Pedak pakai undas atau jagoannya. Kalau punya dua batang kayu, main Batu Lele. Bisa Main Rujak, tapi bukan buah. Gebok pakai buntelan plastik. Ada Tembakan Bambu menggunakan kertas yang dibasahi pakai ludah (HAHAHAHA). Bahkan sampai nangkepin Iwak Paret pakai tudung saji (HAHAHAHAHA LAGI). Macam-macam deh, dan semuanya happy!

Oh, satu lagi. Di sekitar sekolah biasanya ada mamang-mamang penyewaan Game Watch atau Super Nintendo yang diikat dengan tali. Setelah waktunya habis, talinya pun ditarik-tarik sebagai pengingat.

Jalanan yang Sepi

Nah, kalau ini sih memang mutlak berubah. Jelas aja, di tahun 90-an, mobil paling hits adalah “rusa” kotak dan Kijang Kapsul. Motor pun tidak semerajalela saat ini. Paling keren ya si “raja”.

Baru banyak yang sadar dalam sepuluh tahun terakhir, bahwa sepinya jalanan Kota Samarinda pada masa itu adalah pelengkap ketenteraman. Makanya, anak-anak banyak yang harus pulang sebelum magrib, karena relatif sepi.

Selain itu, karena masih anak-anak di tahun 90-an, kota ini masih banyak area misteriusnya. Belum terjelajahi, dan seperti kawasan yang masih gelap dalam permainan RPG.

Anda, anak-anak Samarinda lainnya, pasti punya daftar tambahan. Ada beberapa yang masih bisa dinikmati sampai sekarang, misalnya Es Kacang Merah Depot Anggrek, Es Kelapa Pak Kumis, dan lainnya. Mari dibagi. Saling bernostalgia. Biarkan para Millennials tetap asyik dengan dunianya di masa kini.

[]

Tulisan ini terbit pertama kali di Undas.Co.

Tren “Hipster Market” di Samarinda

ACARA–yang kerap disebut–hipster market di Samarinda baru pertama kali ada pada awal 2015 lalu. Entah apakah istilah tersebut tepat atau tidak, namun pastinya semangat yang diusung sama. Yakni upaya kaum muda meningkatkan eksistensi, melalui geliat industri kreatif berupa karya kriya di berbagai sektor.

Dimulai oleh Fascinating Summerinda, dan berlanjut dengan sejumlah event lain selama sepanjang tahun. Kondisi ini terus mengalami perubahan tren sampai sekarang, menghadirkan pop-up markets tematik maupun dalam rangka memeriahkan peringatan tertentu.

Iseng berandai-andai, saya sempat menulis tentang ini untuk Undas.co Mei tahun lalu, saat event beginian masih gres-gresnya.


Terhitung sejak awal tahun hingga artikel ini tersaji di hadapan kamu semua, setidaknya sudah ada tiga event hipster market terselenggara di Samarinda. Diawali dengan Fascinating Summerinda (Februari), Samarinda Street Fest (Maret), dan Imaginarium (Mei).

Ketiganya memang tampil dengan penyelenggara, nama dan sub konsep, serta tujuan utama yang berbeda. Namun pada dasarnya berangkat dari ide yang sama: bazar yang hipster. Ciri-cirinya adalah barang-barang dagangan yang tidak/belum dijual di toko-toko konvensional (hipster commodities) sekaligus memperkenalkan produk kreatif lokal, menciptakan suasana yang unik (hipster ambience) dan cocok mendapat predikat happening, yang diharapkan mampu menarik perhatian serta menghimpun berbagai kalangan tersegmentasi (hipster peoples and communities) baik penjual maupun pembeli. Selain itu, juga terdapat kesamaan metode promosi pra dan saat acara berlangsung, serta kesamaan beberapa hal teknis lain. Selebihnya, event-event tersebut sama-sama merupakan pertaruhan, uji pembuktian kreativitas dan reputasi panitia.

Semarak? Tentu saja.

Mengesankan? Tergantung pada pengalaman masing-masing pengunjung.

Berhasil? Kembali pada hasil evaluasi masing-masing penyelenggara.

Silakan koreksi pernyataan ini. Hanya satu dari tiga event di atas yang dianggap benar-benar berhasil, dalam artian menghebohkan dan mengundang rasa penasaran serta partisipasi banyak pihak, menghadirkan acara yang benar-benar baru di kota ini, terus diperbincangan dalam waktu cukup lama setelah usai, relatif bersahabat dengan isi dompet pengunjung, dan konon katanya tidak merugi. Bahkan akhirnya mendorong banyak kelompok anak muda lain untuk membuat gelaran serupa, yang risikonya bakal membuat event-event semacam ini kehilangan geregetnya karena terlampau sering diadakan.

Fascinating Summerinda merupakan event pertama, pionir sektor ini di Samarinda. Penyelenggaranya bukan kumpulan banyak orang, namun menjadi satu di bawah label Market Venue Indonesia (Mave ID) dengan empat cewek asli Samarinda yang berkuliah di Australia. Kuat terasa, pelaksanaan Fascinating Summerinda berada di batas antara berani dan nekat. Berani karena memerlukan modal cukup besar dan benar-benar memperkenalkan hal baru, nekat karena tidak dibarengi dengan kekuatan jaringan untuk menggandeng vendor serta pihak-pihak terlibat lainnya, dan tidak mengantisipasi pergeseran konsep dengan eksekusi di lapangan. Keberhasilan penyelenggaraan Fascinating Summerinda ada di area stan makanan, dengan rombongan konsumen yang memborong habis aneka kudapan.

Source: Twitter @FelixJsn

Dari sisi pembiayaan awal, kabarnya panitia Samarinda Street Fest benar-benar mengerahkan semua daya yang ada, sehingga modal yang digelontorkan tidak terlampau besar. Panitia sangat terbantu dengan keterlibatan banyak pihak untuk memeriahkan acara ini. Sayangnya, saking tidak fleksibelnya dana yang tersedia, akhirnya merembet pada hal-hal teknis. Seperti kualitas tata suara yang kurang maksimal, yang membuat penampilan sukarela para pengisi acara kurang bisa terapresiasi. Meskipun begitu, kuatnya jaringan dan referensi kreatif tim panitia membuat acara ini menyedot perhatian kaum muda Samarinda. Mulai stan jasa pembersihan sepatu hingga kafe melibatkan diri. Rundown yang atraktif pun membuat pengunjung betah nongkrong. Kombinasi semua itu meludeskan kuota pengunjung harian, yang membuat banyak orang makin penasaran untuk datang. Sukses menjadi buah bibir, harusnya juga dibarengi dengan kesuksesan di hasil akhir.

Source: Twitter @TepianTV

Acara terakhir adalah Imaginarium. Sayang, passion dalam penyelenggaraannya kalah kuat dibandingkan kesan untuk menunaikan tanggung jawab. Maklum, Imaginarium diadakan sebagai tugas akhir mata kuliah. Panitia memang telah berupaya sekuat tenaga agar kegiatan ini berjalan dengan baik, namun saat datang dan mencoba terjun merasakan suasananya, ada antusiasme yang hilang. Di titik akhir, setidaknya Imaginarium membuahkan nilai yang terbaik dan mata kuliah yang tuntas.

Imaginarium. Source: Undas.co

Dipastikan bakal ada banyak event serupa lainnya di masa mendatang, apalagi trennya masih cukup santer dan sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itu, akan jauh lebih baik bila para penyelenggara berikutnya mampu berkaca dari pelaksanaan yang sudah-sudah, agar dapat menghindari kesalahan serta meningkatkan pencapaian.

Setidaknya, ada beberapa hal yang tercetus saat membahas soal ini. Berikut beberapa di antaranya.

  1. Beyond Creative

Kreativitas tak mengenal batas, bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan sekalipun baik dalam perencanaan, promosi menjelang pelaksanaan, sampai pada saat acara berlangsung. Syukur-syukur bila tim panitia punya ide orisinal untuk dilakukan, yang bisa membuat acaranya berbeda dari event-event lainnya. Namun jika belum, tidak diharamkan belajar atau mendulang inspirasi dari gelaran serupa di daerah lain. Ada Market Museum, Brightspot Market, Jakarta Fashion and Food Festival, Eat Art Loud, dan lainnya di Jakarta. Ada pula Basha Market juga IdeArt ITS di Surabaya. Belum lagi bazar-bazar hipster lain di Yogyakarta, Denpasar, Bandung, dan kota lainnya. Bagi anak-anak muda gaul yang rajin bertandang ke Jakarta, mungkin acara-acara di Samarinda terasa biasa. Akan tetapi bagi anak-anak muda Samarinda, bisa jadi terasa luar biasa.

Contoh: apa yang terlintas dalam pikiran kamu begitu mendengar tajuk “CreatiFest Goes to School”, “Shanghai Night Bazaar”, atau “Pasar Malam Terapung”?

  1. “Die Hard” Team

Hanya berakhir menjadi teori, apabila gagasan-gagasan kreatif tidak didukung sekumpulan orang yang memiliki semangat dan kegilaan yang sama. Tanpa bubuhannya, silakan catat semua ide kreatif dan simpan baik-baik. Kecuali kalau kamu berani nekat mengorbankan waktu, tenaga, uang untuk sesuatu yang dibuat sendirian, silakan. Dalam hal ini, harap dibedakan antara tim dan pekerja. Tim memiliki kesamaan visi dan misi, berani bersikap menangani masalah. Sedangkan pekerja, hanya terikat kontrak dan jasa dengan imbalan upah. Sebagai ilustrasi, Mave ID terdiri dari empat cewek asli Samarinda. Panitia Samarinda Street Fest adalah orang-orang yang dikumpulkan berdasarkan komitmen untuk “bermain” bersama-sama. Bahkan founder Basha Market di Surabaya yang penyelenggaraannya terbilang sukses banget, hanya terdiri dari dua cewek seperti yang sempat dibaca di harian Jawa Pos entah edisi kapan. Lupa.

Lain cerita, apabila kamu hanya sendirian namun sukses menyelenggarakan sesuatu, itu berarti kamu adalah manajer yang andal.

  1. Cutting Edge Promotion

Sejauh ini, promosi hipster event di Indonesia terpusat pada media sosial, terutama Instagram yang berbasis foto maupun gambar. Efisiensinya pun belum ada lawan, karena nyaris gratis. Pamornya masih bertahan, sebagai simbol tingkat gaul seseorang. Efektivitasnya tak terbantahkan, setidaknya sampai masyarakat mulai bosan mendapatkan promosi yang membanjiri layar gawainya. Ingat, tidak semua tim memiliki graphic designer yang jago, dengan selera yang elegan. Tidak semua desain poster dan logo kegiatan mampu menarik simpati. Jika sudah begini, jangan ragu untuk melangkah pada media berikutnya. Bisa gunakan YouTube untuk mengeksplorasi media promosi berupa video atraksi. Atau bisa juga melakukan happening art, yang meskipun sampai sejauh ini masih kerap membuat orang kebingungan, namun setidaknya tetap dapat menarik perhatian. Yang jadi perhatian utama adalah konsep, ide, dan biaya.

  1. Consistency

Nama, desain, dan konsep yang keren mampu membangkitkan imajinasi dan ketertarikan calon pengunjung. Namun bila dalam pelaksanaannya  meleset, bakal berat di gaya doang. Rencananya ingin menyelenggarakan event yang mengangkat produk lokal, namun jatuhnya malah seperti pameran biasa yang diadakan dalam rangka peringatan hari jadi instansi pemerintahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti:

  • Tinggalkan penggunaan sekat-sekat kecil berdinding putih yang kerap digunakan dalam pameran pemerintahan. Bebaskan para vendor untuk berkreasi.
  • Seleksi calon penyewa stan dengan benar. Menurut kamu, apakah jasa mengasah batu akik masuk dalam kategori bisnis hipster?
  • Ramu tajuk kegiatan menjadi konsep utama. Penyelenggaraan pun sebaiknya mengacu pada konsep utama tersebut. Izinkan saya mengangkat Imaginarium sebagai contoh. Disebutkan bahwa Imaginarium merupakan gabungan dari kata “imagine” (entah kenapa menggunakan kata kerja ketimbang kata benda, “imagination”) dan “aquarium”. Namun mengapa panitia tidak sekalian menghadirkan kesan akuarium imajiner di lokasi acara? Menggunakan plastik bening sebagai sekat antara stan; menyusunnya jadi labirin tembus pandang, memanfaatkan barang-barang bekas sebagai ornamen; mengeliminasi stan-stan yang kosong serta mengubahnya menjadi pojok selfie; memanfaatkan panggung bukan sebagai panggung; dan sebagainya.
  • Apakah ide-ide di atas terasa membingungkan, dan mustahil untuk dilaksanakan? Itulah tujuannya mengapa panitia terdiri dari banyak orang; agar bisa saling mengerahkan pikiran dan berupaya sekreatif mungkin memanfaatkan keadaan.
  • Seleksi mata acara dan pengisinya. Jangan tanggung bila ingin hipster. Pernah berpikir mengkolaborasi penampilan komunitas akustik dengan barang bekas dan kelompok pemain biola? Atau menampilkan musisi Tingkilan maupun petikan Sampeq dengan DJ? Mungkin kebayangnya aneh, tapi itu kan baru dalam bayangan.
  1. Precision & Anticipation

Baik memperhitungkan biaya, waktu, dan dampak. Soal biaya, jangan terlalu ketat namun jangan sampai kelewat kendur. Perhitungkan juga harga produk yang dipasarkan para vendor, dengan daya beli pengunjung. Patokannya, apakah pengunjung event bersedia mengeluarkan lebih dari Rp 1 juta untuk arloji berbahan kayu? Di pulau Jawa, produk itu sedang booming dan menjadi salah satu simbol hipsterism. Apakah begitu pula di Samarinda? Sedangkan urusan waktu, akan lebih baik bila diberi durasi antaracara. Apabila setiap bulan berlangsung event dan tanpa gebrakan apa-apa, bakal membosankan dan menghilangkan minat. Memunculkan celetukan: “halah, paling isinya gitu-gitu aja.

Terakhir adalah soal dampak, yakni seberapa besar acara yang diselenggarakan mampu mendorong anak muda lain untuk lebih kreatif, lebih berani berekspresi, dan lebih keren dari pendahulunya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari efek yang ditinggalkan. Menginspirasi, bila boleh dikatakan demikian.

  1. Innovative

Selain jualan dan menampilkan hiburan, tidak ada salahnya menghadirkan side event yang bisa memperluas wawasan, memberi “oleh-oleh” kemampuan bagi para pengunjung. Boleh hadirkan kelas-kelas keterampilan kekinian maupun klasik. Misalnya kelas tentang teknik memotret dengan ponsel untuk kepentingan posting di Instagram, minimal agar makanan yang difoto terlihat lebih indah. Ada pula kelas tentang lettering yang sedang ngetren saat ini. Di ranah klasik, ada kelas Origami, membuat pesawat kertas, bahkan sampai kelas kerajinan manik maupun merajut.

  1. Bravery & Trust

Penting untuk berani mencoba, dan tidak gampang dijatuhkan dengan komentar negatif orang lain. Jangan salah, tetap ada yang menyebut acara hipster di Samarinda enggak jauh beda dibanding pasar malam yang menjual banyak barang. Setidaknya, walaupun kita dianggap latah dan hanya bisa ikut-ikutan, lebih baik ketimbang diam dan cuma bisa ngata-ngatain orang tanpa berupaya menghasilkan kemajuan apa-apa.


Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini? Nanti, masih ngumpulin mood buat nulis. 🙂

[]

 

Ragam Kuliner Berdaging Babi di Samarinda

SEBAGAI ibu kota provinsi, Samarinda ibarat melting pot. Sebuah tempat di mana beragam latar belakang suku, budaya, dan agama saling bertemu untuk dilakoni masing-masing warganya sebagai bagian dari identitas khas. Begitupun juga dalam hal khazanah kuliner. Di kota ini, bisa dijumpai beragam masakan dari banyak daerah, dalam maupun luar negeri, ya walaupun enggak banyak-banyak banget. Termasuk sajian-sajian kategori non-halal (bagi muslim) olahan bermacam suku.

Lewat tulisan ini, akan dibagi sebagian kecil ragam masakan non-halal yang tersedia dan paling populer di Samarinda. Adapun kriteria popularitas di sini adalah, digemari banyak orang, merupakan sajian umum yang dijual bebas, dan beberapa di antaranya merupakan menu legendaris.

Nasi Campur Babi/Nasi Babi

Cukup terwakili dari namanya. Menu ini terdiri dari seporsi nasi putih, dilengkapi dengan beberapa lauk dalam jumlah yang relatif tidak berlebihan, dan disajikan di piring yang sama. Beberapa jenis lauk Nasi Campur Babi yang lazim disajikan di Samarinda, antara lain

  • potongan lap chiong/la chang/臘腸 atau daging giling tradisional Tionghoa mirip sosis;
  • potongan chasiu/cha shao/叉烧 atau babi panggang dengan saus khusus dan madu; satu atau dua potong babi kecap (serupa semur);
  • potongan shao zhu/燒豬 atau babi panggang yang terdiri dari daging hingga lapisan kulit yang bersih dan biasanya jadi garing; sepotong telur pindang;
  • potongan ayam kampung rebus (opsional),
  • dan potongan mentimun (opsional).

Sepiring nasi campur ini juga bisa didampingi semangkuk kuah kaldu. Sedangkan pada level lebih advance, ada pula yang menyajikan jeroan. Tapi tidak populer di Samarinda.

IMG_8124
Nasi Campur Depot Singkawang.

Pada dasarnya, menu ini termasuk sajian sederhana. Lauk-lauknya sudah dimasak terpisah terlebih dahulu, untuk kemudian baru dipotong-potong kala disajikan. Meskipun begitu, sejauh ini hanya ada tiga rumah makan yang menyediakan menu ini. Masing-masing pun memiliki gaya khas. Yaitu gaya Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar) yang tanpa kuah kaldu dan ayam rebus, gaya Kanton/Guang Dong dengan kuah kaldu dan ayam rebus, serta gaya Tionghoa Balikpapan yang saking sederhananya sampai-sampai mirip sajian bekal sekolah yang bisa dimasak dalam waktu cepat.

IMG_8121
Nasi Campur Depot Lotus, takeaway.
IMG_7776
Mirip nasi goreng, namun menu ini dinamakan Nasi Campur Babi di Depot Lucky, yang pemiliknya disebut-sebut bukan asli Samarinda.

Sate Babi

Patut diakui, di Samarinda, ada beberapa orang yang sangat mahir membuat sate babi. Sayangnya, mereka adalah para ibu rumah tangga. Sehingga sate yang mereka masak, tentu hanya untuk dikonsumsi secara terbatas. Selebihnya, hanya ada empat depot yang menyajikan menu ini, namun cuma dua yang masuk rekomendasi. Salah satunya, dan yang termasuk paling legendaris di kota ini, berada di persimpangan Jalan Pulau Sebatik. Oh ya, sejauh ini menurut saya, chasiu di sana juga paling juara!

IMG_8123
Sate babi Depot Simpang.

Di depot yang kini ditangani generasi kedua itu, potongan daging satenya khas. Berbentuk kotak. Disajikan dengan bumbu kacang layaknya sate pada umumnya, ditambah sepotong jeruk nipis dan sambal. Gaya penyajian ini relatif berbeda dengan sate-sate babi yang ada di pulau Jawa maupun Bali. Di Pulau Dewata misalnya, lebih dikenal dalam bentuk sate lilit. Sedangkan di Surabaya maupun Jakarta, sate babi disajikan tanpa cairan bumbu. Hanya disantap dengan kecap manis, rawit, dan potongan bawang saja, atau ada pula dengan pasta bumbu yang sudah melekat pada dagingnya.

Nah, rekomendasi berikutnya justru merupakan restoran yang terbilang baru, di Jalan Pelabuhan. Tekstur dagingnya lebih juicy, juga dihadirkan dengan bumbu siram. Tapi saya lebih suka menyantapnya tanpa bumbu.

Chinese Food with Pork

Dari poin ini, gambarannya mulai melebar. Bukan lagi menu-menu tertentu, melainkan ragam menu.

Segala sajian masakan Tionghoa dengan daging babi sebagai salah satu bahannya, tentu memiliki pendoyannya masing-masing. Mulai dari chao fan/炒飯 atau nasi goreng Tionghoa, chao mian/炒麵 atau mi goreng Tionghoa baik yang dimasak biasa maupun mi goreng siram, za cai/雜菜 alias cap cai, babi goreng, sampai sayur asin dengan tulangan babi/bakut/rou gu/肉骨 bersama sawi asin dan tahu Cina.

IMG_8122
Nasi goreng dengan potongan chasiu.

Kendati demikian, justru belum ada yang menjual Bak Kut Teh/Rou Gu Cha/肉骨茶, Mi Babi atau Mi Pangsit Babi, yang bisa sama atau tidak dengan Mie UP yang terkenal di Surabaya.

Lapo Batak

Pada dasarnya, lapo menyajikan ragam masakan Batak. Termasuk babi panggang, SaksangArsik Ikan Mas, daun singkong tumbuk, dan lainnya.

Ada beberapa lapo yang buka di Samarinda. Hanya saja, cenderung tidak banyak diketahui masyarakat lantaran minimnya penanda layaknya rumah makan-rumah makan pada umumnya. Dari beberapa lapo tersebut, salah satu yang cukup terkenal berada di Jalan Wahid Hasyim, di depan salah satu perguruan tinggi swasta. Juga ada di tanjakan Jalan MT Haryono.

Rumah Makan Masakan Dayak

Hingga saat ini, mungkin hanya ada satu rumah makan yang menyajikan ragam masakan Dayak mainstream di Samarinda. Dengan babi panggang biasa sebagai salah satu menunya. Yaitu di Jalan Sungai Barito. Babi panggang di rumah makan yang mengambil teras sebuah rumah ini, bisa dinikmati dengan tumis daun pepaya. Entah apakah rumah makan ini masih beroperasi atau tidak.

Restoran Manado

Sama seperti rumah makan masakan Dayak, di Samarinda hanya ada satu restoran Manado yang berada tak jauh dari RS Dirgahayu, Jalan Gunung Merbabu, tapi kabarnya sudah tutup.

Nama menu yang disajikan tentu sudah tidak asing lagi, cukup dengan embel-embel Rica-rica sebagai jenis masakannya. Itu sebabnya, salah satu tempat makan non-halal yang relatif baru buka di Jalan Ahmad Yani, boleh dibilang hibrid antara sajian Tionghoa dan Manado.

Di tepi Jalan Ahmad Yani.

Inilah keenam ragam masakan non-halal yang cukup populer di Samarinda. Konsumennya jelas terbatas, alias tidak untuk semua orang. Dengan demikian juga, boleh dibilang keragaman kuliner di Samarinda relatif kaya. Meskipun menunya tidak terlampau banyak, setidaknya masih lebih beruntung ketimbang penduduk beberapa kota di provinsi ini, yang harus bepergian ke luar kota dulu apabila ingin menyantap babi panggang. Termasuk untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana dengan kota-kota lain di Kaltim? Ehm… Sejauh ini cuma tahu sedikit soal kuliner berdaging babi di Balikpapan, dan dengar tentang nikmatnya babi panggang Tarakan.

Sedikit tentang yang di Balikpapan, sebelumnya hanya tahu dengan rumah makan Tirai Bambu di Balikpapan Baru. Sate babinya lumayan terkenal untuk lingkup Balikpapan, meskipun belum bisa menggantikan enaknya sate babi di Samarinda, bagi saya. Setelah satu dua drama, akhirnya Tirai Bambu berpindah lokasi, namun tetap di Balikpapan Baru. Sampai pada beberapa pekan lalu, ada Rumah Makan Macau, yang juga berada di areal Balikpapan Baru. Hidangan satenya ENAK! Dengan tekstur daging yang pas, dan menyenangkan di mulut.

IMG_9385
Sajian RM Macau.

Katanya sih ada restoran daging babi lainnya di Balikpapan Baru, Pos 10 sebutannya, tapi belum pernah ketemu.

Selain sate babi, langganan lain di Balikpapan adalah Depot Lusiana di daerah “lama”: Kebun Sayur. Bisa jadi, ada hubungan kerabat dengan pemilik salah satu restoran legendaris di Samarinda. Soalnya pernah melihat sosok ncek-ncek juru masak restoran Samarinda itu di Lusiana.

and anyway, akan sangat senang, bila dapat rekomendasi tempat kuliner daging babi lainnya di Balikpapan. Juga enggak kalah senang bila ragam sajian daging babi di Samarinda bisa bertambah. Ala barat, seperti Pork Knuckle, atau Cubanos, sebangsa sosis Jerman, Samgyeopsal, dan sebagainya.

[]

Pertama kali ditulis untuk Undas.Co.

Hoki: Rayakan Tahun Baru Imlek Sebagai Minoritas

Tulisan Iseng Semata

 

SEBAGAI bagian dari bangsa Indonesia, warga Tionghoa di negeri ini sangat bersyukur kala identitas dan eksistensinya kian diakui negara dalam hal kesetaraan dengan etnik lainnya. Dulunya, warga Tionghoa harus memiliki surat administrasi khusus, dianjurkan untuk tidak menggunakan nama Tionghoa, maupun mengganti nama toko dan merek dagang dengan bahasa Indonesia, termasuk soal menjalankan budaya leluhur.

Gara-gara perlakuan yang demikian, warga Tionghoa sempat dibuat merasa agak terasing. Menjadi minoritas, baik dalam hal jumlah maupun sikap sosial.

Untungnya, Tahun Baru Imlek sekarang sudah memberi markah merah pada kalender. Para pelajar pun tak perlu repot membuat surat izin tidak masuk sekolah untuk bisa merayakannya.

Perlahan tapi pasti, sebutan “minoritas” pun hanya cocok disematkan untuk urusan jumlah, dan tidak jadi masalah berarti. Justru dengan jumlah warga Tionghoa yang tidak terlalu banyak, ada sejumlah keuntungan yang bisa dirasakan. Terutama di kota-kota kecil macam Samarinda, yang tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya, Medan dengan mayoritas warga Hokkien (福建), ataupun Pontianak dan Singkawang yang didominasi warga Khe (客家) serta Teochiu (潮州).

Dalam istilah bahasa Tionghoa, keuntungan-keuntungan tersebut adalah hoki (福氣). Berikut beberapa di antaranya.

1. Bebas antrean parah

Menjelang hari raya, tanpa terkecuali Tahun Baru Imlek, pasti banyak persiapan yang dilakukan. Termasuk juga cuci kendaraan baik motor atau mobil, cuci karpet maupun permadani, ketika para cowok harus potong rambut biar tampil keren, belanja keperluan dapur di supermarket, dan sebagainya.

Nah, berhubung Sin Cia atau Tahun Baru Imlek ini hanya dirayakan oleh warga Tionghoa yang minoritas dan jumlahnya sedikit, sehingga aktivitas-aktivitas di atas bisa dilakukan dalam waktu relatif normal. Alias tanpa antrean yang terlampau panjang.

Besoknya Sin Cia, hari ini masih bisa cuci motor atau mobil dengan durasi kurang dari 2 jam. Soalnya tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Enggak perlu tunggu lama-lama. Begitupun kalau potong rambut di gents’ barbershop atau tempat potong rambut kekinian khusus cowok, dan belanja di supermarket. Antreannya biasa saja. Berbeda dengan suasana menjelang hari raya mayoritas. Lebaran, misalnya. Ketika semua orang mau cuci kendaraan, semua orang mau cuci ambal permadani, semua cowok mau pangkas rambut, semua orang belanja bahan, dan lainnya. Antreannya perlu strategi.

Akan tetapi, kondisi bebas antrean di atas tidak berlaku untuk para cewek maupun ibu-ibu ketika nyalon. Soalnya, jumlah salon yang dianggap berkualitas tidak imbang dengan jumlah pelanggan. Belum lagi waktu yang diperlukan untuk perawatan. Kalau cowok pangkas rambut, maksimal makan waktu 45 menit. Sedangkan cewek, bisa berjam-jam.

2. Bosen makan Chinese Food? Tenang aja

Ini juga merupakan salah satu keuntungan bagi para warga Tionghoa Indonesia yang minoritas, kala merayakan Sin Cia.

Pernah enggak sih, kamu merasa enek dengan sajian khas hari raya, karena dari satu rumah ke rumah lainnya pasti menyantap menu yang sama?

Lagi-lagi bila dibandingkan dengan Lebaran, kan santapan utamanya adalah ketupat yang disiram kuah bersantan dan sebagainya, kan? Tapi begitu pengin makan yang lain, enggak bisa. Sebab banyak restoran yang tutup karena Lebaran. Sehingga paling mentok ya makan Indomie atau KFC dan sebangsanya.

Beda dengan Sin Cia. Saat mblenger makan hidangan Tionghoa tipikal hari raya, termasuk yang kategori mewah sekalipun, seperti sate babi, babi panggang, dan sejenisnya, kamu tetap bisa cari warung nasi goreng, makan Coto Makassar, bakso, ayam bakar maupun lalapan, dan sebagainya. Nafsu makan aman sentosa.

3. Lebih Leluasa Incar Diskonan

Kalau yang satu ini, terjadinya di department store atau pusat perbelanjaan busana.

Biasanya, selalu ada momen diskon menjelang hari raya tertentu. Termasuk Tahun Baru Imlek. Akan tetapi, berhubung yang merayakan Sin Cia ini sedikit aja, jadi “persaingan” untuk mendapatkan baju yang diinginkan jauh lebih gampang. Hahaha!

Masih ada tambahannya lagi. Lantaran biasanya baju diskonan itu cenderung pasaran dan kurang keren, serta belum tentu cocok untuk badan cewek, peluang memilih yang benar-benar diinginkan pasti lebih besar. Tidak sedikit cewek-cewek warga Tionghoa sudah lebih dulu membeli baju baru buat Sin Cia, beberapa bulan sebelumnya. Pokoknya, terlihat ada yang bagus dan bernuansa merah cerah, pasti dibeli. Sebagai konsekuensi, si empunya baju harus mampu menjaga berat dan bentuk tubuh agar tetap bisa mengenakan baju tersebut saat Tahun Baru Imlek tiba.

4. Gampang Ngumpul, Gampang Akrab

Bagi kamu yang pernah merasakan, atau pernah mendengar tentang perayaan Tahun Baru Imlek sebelum tahun 2000-an, pasti tahu kalau suasana Sin Cia biasanya hanya terjadi dalam lingkup terbatas. Itu sebabnya, kemeriahan Tahun Baru Imlek hanya terjadi dalam rumah-rumah, maupun tempat-tempat umum khusus aktivitas warga Tionghoa seperti kelenteng maupun gedung yayasan warga Tionghoa.

Terbiasa berhari raya dalam suasana yang seperti ini, umumnya warga Tionghoa bisa berkumpul di satu lokasi. Kalau di Samarinda, tentu saja di Kelenteng Tian Yi Gong, depan Pelabuhan Samarinda pada malam Tahun Baru Imlek. Jika sudah berkumpul begini, kan interaksi dan komunikasinya bisa lebih enak. Enggak ketinggalan juga, bisa kenalan dengan temannya teman. Soalnya, jumlah yang minoritas mempermudah untuk saling mengenal. Siapa tahu cocok dijadikan gebetan. Lumayan banget, kan?

5. Tidak berisik

Sebenarnya, salah satu bentuk perayaan dalam suasana Sin Cia adalah menyalakan petasan atau mercon. Nyaring? Pastinya dong.

Hanya saja, lantaran perayaan Tahun Baru Imlek harus dilakukan secara tertutup dan terbatas selama masa Orde Baru, warga Tionghoa pun terbiasa untuk “lebih hening” dengan menghilangkan mercon dalam daftar perlengkapan perayaan Sin Cia.

Saat ini, Tahun Baru Imlek memang sudah diakui sebagai salah satu hari libur nasional. Untung saja, warga Tionghoa di Samarinda yang tidak terlalu banyak jumlahnya juga biasa-biasa saja menyikapi tentang mercon. Kalau tidak, dijamin pasti sangat berisik. Tetangga bakal terganggu, bayi-bayi jadi susah tidur, para orang tuanya pun ngedumel. Momen hari raya malah bikin orang lain sebal.

6. “Modal” Angpau Aman Terkendali

Ini khusus untuk warga Tionghoa yang sudah menikah, dan artinya harus menjadi pemberi angpau.

Informasinya, jumlah warga Tionghoa di Samarinda hanya berkisar antara 1 sampai 5 persen dari total penduduk kota ini (hampir 1 juta jiwa). Belum tentu semuanya saling terhubung atau berkerabat. Kecuali kalau bos besar, atau punya keluarga yang sangat gede, atau orang yang sangat terkenal, rasa-rasanya seseorang tidak perlu mempersiapkan sampai seratusan lembar angpau. Apalagi isi angpau juga tergantung pada inflasi. Hitung saja, kalau selembar angpau diisi Rp 50 ribu, berarti harus siapkan Rp 5 juta.

Dalam lingkup kota seperti Samarinda, bayangkan saja jika warga Tionghoa berjumlah 20 sampai 30 persen dari total penduduk. Logisnya, jumlah angpau yang perlu disiapkan pun lebih banyak.

Demikianlah enam hal yang seakan jadi blessing in disguise bagi para warga Tionghoa di Samarinda, yang sangat minoritas jumlahnya, dan selama ini (terutama saat rezim Orde Baru) kadung dibuat merasa terbatas.

Selamat Tahun Baru Imlek ya, semoga rezeki, kebahagiaan, dan kesehatan selalu berlimpah.

Gongxi, gongxi.

Fa da cai!

[]

Religious Landmark di Samarinda

SEBAGAI ibu kota Kaltim, wajar bila Samarinda mendapat perhatian khusus dari pemerintah provinsi (Pemprov) berupa program-program pembangunan. Termasuk dalam bidang infrastruktur keagamaan, terlepas dari apa pun tujuan utamanya (baca: prestise). Itu sebabnya, setidaknya sudah ada empat pusat keagamaan besar di kota ini, yang diharapkan mampu berperan penting dalam pembinaan masyarakat dari sudut pandang religius. Sekaligus meningkatkan kebanggaan atas kota ini, dorongan positif dari sudut pandang psikologis.

Dari enam agama besar yang diakui di republik ini: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, empat di antaranya sudah memiliki landmark tersendiri di Samarinda. Yakni Islamic Center, Catholic Center, Buddhist Center, dan Christian Center yang masih dalam proses pembangunan. Semuanya merupakan objek hasil pembangunan yang langsung ditangani Pemprov.

Bukan semata-mata tempat ibadah, pusat-pusat keagamaan tersebut juga menjadi semacam nukleus, inti kegiatan komunitas agama masing-masing. Sedangkan untuk agama yang belum memiliki center-nya di kota ini, ada beberapa kemungkinan. Antara tidak dibangun di kota ini (contoh: Hindu Center yang bakal berdiri di Tenggarong Seberang), atau belum ada lahan yang tepat (contoh: wacana pembangunan Khonghucu Center).

  • Islamic Center

Setelah Masjid Istiqlal di Jakarta, Islamic Center diklaim sebagai masjid terbesar kedua di negara ini. Pembangunannya memakan waktu kurang lebih tujuh tahun, sejak peresmian pemancangan tiang pertama pada 2001 hingga akhirnya diresmikan Susilo Bambang Yudhoyono pada Juni 2008.

Bukan hanya ukurannya yang luas, daya tarik dari Islamic Center adalah kubah-kubah berwarna keemasan, dan satu kubah utama yang tampil dengan pola ornamen khas. Selain itu, rancang bangunnya juga menakjubkan, dengan deretan pilar-pilar yang memberi efek visual kesejajaran paralel. Serta menara tertinggi di kota ini, Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter lengkap dengan elevator publik.

Pada masa-masa awal pembukaan Islamic Center untuk umum, bangunan ini jadi objek wisata baru. Tidak ada ketentuan khusus bagi non-muslim kala berkeliling areal. Sejak 2009, ada ketentuan kesopanan yang berlaku secara ketat. Pria dilarang masuk apabila bercelana pendek, atau wanita diharuskan bertutup kerudung (disediakan pengurus) saat berkunjung. Selain itu, dengan dibangunnya pagar pembatas di areal luar, lebih banyak pelintas Jalan Slamet Riyadi yang akhirnya hanya memilih berfoto dari luar.

Kini, Islamic Center sudah memiliki tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan klinik. Nantinya akan terus dikembangkan dengan pusat-pusat kegiatan bernuansa Islami. Mulai pertengahan 2014, Islamic Center memiliki nama baru. Yakni Masjid Baitul Muttaqien, Islamic Center.

  • Catholic Center

Berada di Jalan DI Pandjaitan, Catholic Center juga merupakan nama lain dari kompleks Keuskupan Agung Samarinda.

Peresmian Catholic Center berlangsung 20 September 2010, dilakukan Duta Besar Vatikan Monsignor Leopoldo Girelli, setelah mulai dibangun pada 2006.

Source: jeannie1976.wordpress.com

Bangunan Catholic Center terdiri atas tiga lantai. Lantai 1 difungsikan sebagai sekretariat Catholic Center, sekretariat keuskupan, ruang rekreasi, ruang makan, dan ruang tamu. Sedangkan lantai 2 merupakan ruang para imam dan para uskup. Di lantai 3 diperuntukkan sebagai kapel dan perpustakaan.

Dengan nafas kearifan lokal, eksterior maupun interior Catholic Center  juga dihiasi ornamen khas Dayak. Seperti ukiran motif Dayak Bahau di atap dan pilar bagian depan.

“Di areal seluas 5 hektare ini juga telah berdiri aula sebagai tempat rapat, wisma dan beberapa bangunan lainnya. Kami berencana juga akan membangun Goa Maria, sebagai lokasi wisata rohani,” kata Firminus dikutim dari kompas.com.

  • Buddhist Center

Tak jauh dari Catholic Center, juga berdiri bangunan megah yang langsung terlihat dari pinggir Jalan DI Pandjaitan. Berada di atas bukit, areal Buddhist Center memiliki ciri khas patung Buddha Maitreya (figur utama bagi salah satu sub mazhab Buddhisme Tionghoa) besar di bagian depannya.

Seremoni pemancangan pertama pembangunan Buddhist Center dilangsungkan 2007 lalu. Setelah itu, dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan. Seperti topping-off  atau pembukaan selubung utama sebagai penanda mulai disiapkannya bangunan tersebut untuk operasional kegiatan keagamaan pada akhir Juni 2010.

Pada dasarnya, pembangunan Buddhist Center dilaksanakan secara swadaya. Tidak jauh berbeda dengan pembangunan vihara maupun kelenteng secara umum, yakni menghimpun dana umat dan donatur hingga akhirnya bangunan rampung. Itu sebabnya, hingga tulisan ini diturunkan, Buddhist Center belum grand opening. Lantaran proses finishing dan pelengkapan akhir masih berlangsung.

JSnwupW

Source: livinginindonesiaforum.org

Nama Buddhist Center sendiri, disematkan setelah proyek pembangunan ini mendapat bantuan dari Pemprov Kaltim. Sejatinya, bangunan ini bernama Mahavihara Sejahtera Maitreya (sebelumnya diinisiasi sebagai 宏一佛院, namun sejak beberapa tahun lalu dinyatakan batal digunakan), yang sekaligus menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Maitreya untuk Indonesia Timur.

Dengan nama Buddhist Center, akhirnya bangunan ini juga terbuka untuk umat Buddha secara umum.

Lantai 1 adalah Graha Sakyamuni atau menjadi ruang penghormatan bagi umat Buddha secara umum (termasuk warga Tionghoa). Menampilkan tiga patung besar: Buddha Gotama/Sakyamuni, Bodhisatva Avalokiteshvara versi Tionghoa (Dewi Guanyin), dan Bodhisatva Sangharama (Dewa Guan Gong/Jenderal Guanyu dari kisah “Three Kingdoms”).

Di lantai 3 ada aula untuk kegiatan dalam skala besar. Di lantai 5 merupakan Bhakti Sala atau ruang ibadah khusus bagi umat Buddha aliran Maitreya. Selain ruang-ruangan tersebut, Buddhist Center ini  juga akan memiliki kafe vegan, setelah sebelumnya telah beroperasi restoran menu vegetarian.

Terbaru, bangunan iconic di depan gedung Mahavihara yang ditandai dengan patung Maitreya besar menghadap ke jalan sudah difungsikan. Lantai dasar jadi cabang Fortunate Coffee, kafe vegetarian total dengan chained-brand. Sedangkan lantai atasnya jadi perpustakaan.

  • Christian Center

Dari keempat pusat kegiatan religius di Samarinda, boleh dibilang Christian Center berada di kawasan downtown kota ini karena berlokasi di Jalan Urip Sumohardjo, lahan bekas Gedung Mulia Budi.

Mulai dibangun 2013 lalu, sempat ada penolakan dari sekelompok warga sekitar yang mengira proyek tersebut hanyalah pembangunan gereja biasa. Penolakan pun akhirnya tenggelam, setelah ada penjelasan dari Pemprov mengenai status bangunan tersebut. Bahkan pengadaan jasa konsultasinya tercantum dalam situs pengadaan.net Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kaltim, di bawah satuan kerja Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim.

Hingga saat ini, pembangunan terus berlangsung, dan beberapa bagian kompleks Christian Center sudah mulai terlihat. Sayangnya, belum ada rilis resmi mengenai rancang bangun Christian Center secara keseluruhan, termasuk organisasi maupun denominasi induk yang akan mengelolanya.

wt9myv

Source: skyscrapercity.com


Keberadaan pusat-pusat keagamaan di Samarinda, memang patut dikategorikan sebagai gagasan yang ambisius namun positif. Akan tetapi, akan jauh lebih penting apabila tidak hanya kemegahan bangunan saja yang tersedia, melainkan kualitas batin tiap-tiap umatnya. Sehingga kekuatan dan keindahan ajaran agama apa pun tidak hanya diwakilkan dari ketersediaan infrastruktur, namun juga perilaku dan dorongan bertindak.

[]

Apa Kabar Samarinda Setelah Era Tambang?

KONON kata orang, lebih mudah membangun dan mendapatkan, ketimbang menjaga dan mempertahankan. Begitu pula sebaliknya. Lebih mudah kebingungan dan menyerah, ketimbang berupaya apa saja. Minimal dengan berpikir lebih keras, mencari ide serta alternatif solusi untuk menghadapi masalah yang ada. Bukan menyerah, atau malah pindah.

Barangkali situasi itu yang sedang terjadi di Samarinda. Terutama sejak sektor pertambangan batu bara melesu dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Seperti makan langsat. Segarnya rasa daging buah terlampau cepat hilang dalam mulut, kemudian malah kegigit bijinya yang pahit. Belum lagi berlepotan kena getah. Seperti itulah kondisinya, seakan mendadak yang tersisa dari bisnis “emas hitam” tersebut cuma segudang masalah.

Penurunan permintaan ekspor yang signifikan dari sejumlah negara, disusul anjloknya harga batu bara di pasar internasional menjadi pukulan ganda bagi sub sektor pertambangan ini. Yang mampu bertahan hanyalah perusahaan-perusahaan besar, itu pun mulai ada yang menawarkan pensiun dini kepada para pekerjanya. Sedangkan perusahaan tambang kelas mediocre, termasuk yang mengumpulkan batu bara karungan terpaksa putar arah. Rugi banyak.

Dampaknya tidak sekadar dirasakan pelaku bisnis dan struktur korporasinya semata. Perubahan signifikan itu juga berpengaruh pada perilaku dan gaya hidup kebanyakan orang Samarinda. Termasuk para pelaku bisnis sektor lain. Dimulai dari titik pertama: kaum muda.

Tidak sedikit orang tua yang memproyeksikan anak-anaknya bekerja sebagai pekerja tambang, baik yang bertugas di lapangan maupun di kantor manajemen. Tujuannya lumayan standar, yakni agar sang anak bisa mendapat penghasilan relatif besar dibanding pekerjaan-pekerjaan lain di kota ini. Lalu, asumsikan saja cita-cita itu tercapai, dan sang anak sudah terbiasa dengan hidupnya yangfinancially secured. Kemapanan itu membuatnya agak royal, dan selalu optimistis bahwa masa depannya bakal aman. Perputaran uang berlangsung cepat. Sampai akhirnya resesi menghantam lini bisnis pertambangan batu bara, dan sang anak tadi harus kembali menyesuaikan gaya hidupnya dengan penghasilan yang diterima. Terlebih kalau dia sudah menikah, dengan perempuan yang juga kadung terbiasa dalam gaya hidup warga kelas menengah. Dari mampu berbelanja busana empat kali sebulan, harus dikurangi separuhnya. Angka daya beli di mal dan pusat perbelanjaan lainnya pun terpengaruh. Berbeda ceritanya kalau sang anak doyan menabung atau berinvestasi lewat instrumen yang lain, atau sudah terbiasa bergaya hidup sederhana. Penghasilannya selama menjadi bagian dari perusahaan tambang akan lebih terjaga. Hanya saja, lebih banyak orang yang kaget saat terima uang dalam jumlah yang belum pernah diperoleh sebelumnya.

Perubahan pola konsumsi tentu juga berimbas pada pergerakan ekonomi di kota ini. Coba saja masuk ke kelab malam saat weekdays, terkesan lebih sepi dibanding sebelumnya. Bukan lantaran ditinggal pelanggannya, namun karena banyak konsumen dengan isi kantong yang berkurang dari biasanya. Ladies Night? Memangnya masih ngefek? Kalau begini, investasi yang sudah digelontorkan si empunya bisnis pun lebih lamban menuju BEP.

Toh, tipikal orang-orang daerah yang kaya karena produk ekstraksi, mereka memang punya sumber daya yang cukup banyak untuk dibelanjakan, sayangnya kerap tidak dibarengi persepsi yang pas (baca: selera) dalam pemakaiannya. Terkesan kaget begitu memperoleh uang yang cukup banyak, dengan cara yang relatif lebih “santai” dibanding penghasilan profesi-profesi lainnya. Namun ini hanya asumsi, bukan konklusi kok. Sebab barangkali gara-gara lesunya pasar batu bara, banyak yang mulai “nyadar“.

Itu baru dari sisi manusia dan perilaku konsumsinya. Sementara pada aspek lingkungan, sisa-sisa pertambangan batu bara menyisakan lubang raksasa bermalih rupa menjadi danau dan telaga. Lahan-lahan pertambangan telanjur gundul, dan makin tandus gara-gara janji reboisasi atau revegetasi yang ndak jelas efektivitasnya. Belum lagi hilangnya daerah resapan air, yang menyebabkan dan memperparah banjir di banyak titik Kota Samarinda. Bukan hanya itu, aliran air hujan juga mengerosi tanah lahan, menyebabkan sedimentasi yang selalu jadi musuh bersama setiap kerja bakti. Kegiatan sosial kemasyarakatan yang kian lama kian tidak diminati warga untuk berpartisipasi. Paling parahnya, lubang tambang yang tidak direklamasi maupun diberi pengaman, menelan korban jiwa.

Salah satu kolam bekas tambang. Source: tribunnews.com

Sekarang apa yang terjadi? Saling menyalahkan, lempar-lemparan argumentasi dan tuntutan, sok prihatin, desakan untuk membuat peraturan baru (yang boleh dibilang agak telat), serta hal-hal tak berfaedah lainnya. Bisa dibaca di koran-koran lokal Samarinda. Mahasiswa dan kelompok LSM berunjuk rasa, menyalahkan pihak perusahaan tambang yang dianggap serampangan mengelola bekas lahan konsesinya; juga mencaci pemerintah yang mereka sebut mengeluarkan izin, tidak becus melakukan pengawasan saat pertambangan berlangsung, dituding kongkalikong dengan pihak perusahaan, tidak tanggap bencana korban tenggelam di kolam tambang, tidak becus bersikap menghadapi pengusaha yang lalai, serta beragam argumentasi lainnya.

Di posisi pemerintah, tentu menyampaikan pembelaan. Isinya kurang lebih bisa ditebak; belasungkawa dan juga merasa marah atas insiden yang terjadi; pemerintah sudah berupaya maksimal namun tidak didukung dengan personel dan anggaran, pemerintah berjanji akan menindak tegas dan menyikapi kondisi yang terjadi dengan seksama demi menghindari korban berikutnya, pemerintah juga berjanji berupaya maksimal ke pemerintah provinsi maupun kementerian agar membatasi bahkan menghentikan sektor bisnis ini; dan seterusnya. Tidak ketinggalan, anggota dewan pun ikut menyalahkan pemerintah atas kinerja instansi terkait yang diklaim berantakan. Padahal publik tidak tahu, apakah amarah itu disampaikan dengan tulus dan apa adanya, atau sebenarnya sudah ada apa-apa di baliknya.

Di posisi perusahaan, jawaban yang diberikan normatif. Paling banter adalah beri santunan dan janji pemberian tali asih lainnya. Itu pun kalau wakil manajemen perusahaannya masih ada, atau masih bisa ditemui/dihubungi.

Sehebat apa pun perdebatan yang terjadi, para korban jiwa tak bisa dihidupkan kembali.

and then, what should we do?

Banyak dari Kamu pasti pernah mendengar analogi nasi dan bubur, dalam tausiah seorang ustaz kondang di negeri ini. Kurang lebih disampaikannya, “bila nasi sudah menjadi bubur, meratap, menangis, marah, mengumpat, dan sebagainya pasti tidak akan bisa membuatnya kembali menjadi nasi. Namun sekarang yang bisa kita lakukan adalah menambahkan kacang, suwir ayam, dan kerupuk, supaya buburnya jadi lebih enak,” begitu, kan?

Tanpa bermaksud membela pihak mana pun, atau supaya terdengar terlampau positif, namun prinsip serupa setidaknya bisa dilakukan terhadap sisa-sisa geliat sub sektor ekonomi ini.

Ada beberapa sudut pandang yang bisa diambil mengenai ini.

Sumber Daya

Sebagai kekayaan alam, batu bara adalah sumber energi yang tidak terbarukan. Karena sifatnya yang sangat terbatas, maka pemerintah wajib memprioritaskan penggunaannya.

Salah satu contohnya, mekanisme pembangkit daya listrik di Kaltim secara umum, mengalami pergeseran tren yang niscaya akhir-akhir ini. Dari yang menggunakan mesin diesel peminum solar, sekarang ditopang dengan perangkat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara. Bila masih masuk perhitungan, maka manfaat batu bara masih lebih terasa bagi masyarakat dalam bentuk aliran listrik yang lancar. Anehnya, Kaltim yang kaya batu bara sejak dulu, namun baru kurang dari sewindu ini mulai memanfaatkannya untuk setrum.

Lingkungan

Moratorium atau penghentian pergerakan sub sektor pertambangan batu bara untuk tujuan komersial domestik dan internasional adalah langkah yang wajar dan sudah semestinya. Pengerukan yang membabi-buta hanya akan menyebabkan kerusakan alam. Sudah saatnya Samarinda, dan Indonesia secara luas lebih memerhatikan sumber-sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Sudah saatnya perut Ibu Pertiwi berhenti digaruk-garuk, karena bukan hanya menyisakan stretch mark, tapi bolong.

Ekonomi

Teorinya, bisnis berbasis eksploitasi hasil alam dan ekstraksi pasti akan menghasilkan banyak uang. Jauh lebih banyak ketimbang buka hotel, mal, supermarket, bahkan kafe dan restoran paling keren sekalipun. Saat ini, saatnya untuk mulai lebih memeras otak, dan bekerja lebih keras. Uang yang didapatkan memang tidak semelimpah bos batu bara, tapi setidaknya cukup untuk dipakai menjalani hidup kelas menengah yang aman. Mau berangkat ke mancanegara, bisa. Mau belanja, ada uangnya. Mau ngajak kencan, penampilan dan isi kantong lumayan cukup. Mencobalah untuk lebih bersyukurlah.

Sejauh ini, fakta ekonomi memang masih menempatkan sektor pertambangan dan energi sebagai penyumbang Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi untuk Kaltim, seperti dalam paparan angka inflasi yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulan. Meskipun begitu, para analis di BPS maupun Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Samarinda, serta para akademisi dalam beberapa kesempatan, sudah mewanti-wanti sejak beberapa tahun lalu bahwa sektor pertambangan tidak bisa jadi satu-satunya tempat menggantungkan harapan hidup. Harus segera bergeser ke sektor ekonomi lain, termasuk jasa dan industri.

Kolam dengan air kebiruan, di ceruk bekas lahan tambang. Source: dhebunciet.blogspot.com

Penanganan Sisa-sisa “Kejayaan”

Tentu sangat sulit untuk menambal kembali lubang-lubang galian di permukaan bumi Samarinda. Kendati begitu, keberadaannya tak bisa dianggurin begitu saja. Berpikirlah kreatif, lihat apa yang ada dan apa yang bisa dilakukan terhadapnya. Jangan biarkan tetap jadi danau berbahaya. Bahkan tidak mustahil untuk menggandeng investor lainnya. Namun yang paling utama adalah gerakan pemerintah, selaku pemegang kuasa untuk menginisiasinya.

Sebagai pemegang data, pemerintah harus mengecek mana lubang bekas tambang yang masih ditangani perusahaan dan yang sudah ditinggal kabur begitu saja. Apabila memungkinkan, minta perusahaan yang masih bertahan untuk melakukan tanggung jawab lingkungannya, yang telah ditetapkan sejak pertama kali izin dikeluarkan. Tongkrongi, biar sampai selesai. Ya kecuali kalau petugasnya pengoleran.

Berikutnya, lubang-lubang bekas tambang lain yang ditinggalkan, mau tidak mau harus ditangani sendiri. Cuma bukan sebagai beban, tapi sebagai “bubur yang enak tadi”. Setidaknya ada beberapa bentuk pemberdayaan yang dapat dilakukan. Seperti yang telah sukses dijalankan sebelumnya, di beberapa wilayah lain. Pertama, coba diteliti apakah air kolam lubang tambang itu layak produksi jadi air bersih atau tidak? Jika iya, bisa dibayangkan ada berapa banyak titik-titik intake atau pengambilan air baku di Samarinda? Ndak perlu lagi kerepotan bangun tengah malam menunggui keran. Tapi, itu kalau perusahaan air dan pemerintah mau repot.

Kedua. Tersebutlah nama taman bermain yang sangat luas di Subang Jaya, Selangor, tak jauh dari Kuala Lumpur, Malaysia. Taman bermain itu bernama Sunway Lagoon, dan diresmikan pertama kali pada 1993. Silakan Google sendiri seberapa luas arealnya, namun yang jelas ada miniatur pantai di dalamnya, dan empat areal utama yang lain. Secara total ada 80 wahana permainan, dan kawasannya terus diperluas.

Keren ya? Emang. Tapi tahukah Kamu kalau lokasi Sunway Lagoon itu sebelumnya adalah lubang besar bekas pertambangan timah? Kalau Malaysia boleh, kenapa Indonesia tak bisa? Apalagi lubang-lubang tambang ada di pinggiran kota. Coba dibayangkan, misalnya ada tempat yang bernama “Palaran Magic Adventure”, atau “Batu Besaung Fun Ride” dengan roller coaster, bianglala raksasa, kolam renang, dan hotel-hotel untuk warga Bontang, Sangatta dan sekitarnya yang sengaja berlibur di Samarinda. Ini adalah mimpi, tapi mestinya bisa ditindaklanjuti.

Semua tergantung niat, ide dan konsep, kesungguhan rencana bisnis, dan dukungan pemerintah dan anggota dewan. Kalau belum apa-apa sudah ribut berebut komisi dan fee, ya jangan gigit jari kalau investor pergi.

Susah sih, kalau yang paling dulu dipikirkan adalah uang. Menambang batu bara, karena uang. Salah satu pertimbangan dikeluarkannya izin, ya juga demi penghasilan daerah (uang) dan pertumbuhan ekonomi (dilihat dari produksi dan belanja, uang juga). Setelah uangnya berhenti beredar, langsung behinip. Dan tidak mustahil yang protes dan berkoar-koar, kadang juga gara-gara ndak dapat bagian (uang lagi). Susah.

[]

Samarinda Bermasalah dengan Desain?

TULISAN ini membahas tentang desain visual yang ada di Samarinda. Terlebih yang ditampilkan di prasarana umum serta fasilitas-fasilitas publik baru, dan secara tidak langsung mewakili selera pemerintah selaku pembelanja anggaran; pembangun; sekaligus pemilik.

Saya sangat setuju, memang masih ada begitu banyak masalah di kota ini yang lebih penting untuk dibahas–meski tak kunjung selesai–ketimbang topik ini. Namun hasrat untuk beropini seakan mendapat bahan bakar baru, begitu melihat rampungnya instalasi tulisan “Taman Samarendah” berukuran tanggung berwarna merah yang menghadap Jalan Awang Long sejak beberapa hari lalu.

Kehadiran (bakal) taman kota yang menutup persimpangan Bhayangkara-Milono-Awang Long-Basuki Rahmad itu saja, sudah bisa membangkitkan rasa penasaran sebagian warga Samarinda untuk segera menikmatinya. Merupakan rahasia umum, masyarakat kota ini begitu gandrung dengan segala sesuatu yang baru. Apalagi dengan kehadiran instalasi tulisan tersebut, bisa dibayangkan banyak orang akan himung berfoto di sana. Minimal untuk dijadikan gambar di profil BlackBerry Messenger (BBM), atau diunggah di Facebook dan sejenisnya.

IMG_8570

Sebagai sesuatu yang baru pertama kali dihadirkan di kota ini, tampilan instalasi tulisan tersebut memang wajar untuk dimaklumi. Namun sayangnya, nanggung. Pemilihan typeface atau bentuk tulisan berupa Arial Black, terlalu kaku untuk bisa disebut instalasi seni. Di sisi lain, struktur tulisan yang bold atau bercetak tebal dan berukuran tidak terlalu tinggi, tak terlalu fungsional jika diketagorikan sebagai penanda maupun ikon fasilitas publik. Malah membuat banyak orang teringat dengan format baku proposal resmi dan akademik, yang lazimnya menggunakan bentuk huruf Arial. Selebihnya, masih untung instalasi tulisan tersebut patuh kerning atau jarak antarkarakter, sehingga tidak sampai membuat orang-orang dengan gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) bidang tipografi geregetan pengin memperbaiki sendiri.

Walau bagaimanapun juga, akan sangat percuma untuk menyinyiri sesuatu yang kadung jadi. Akan tetapi, jelas tidak ada larangan bagi publik untuk bertanya ihwal penentuan desain dan tetek bengeknya. Beberapa di antaranya seperti mempertanyakan:

  • Apakah bentuk instalasi tulisan tersebut memang sengaja dibuat sebiasa itu?
  • Apakah wali kota selaku inisiator pembangunan taman ini langsung setuju dengan desain tersebut tanpa menambahkan permintaan khusus, minimal terkait dimensi dan bentuknya?
  • Apakah tidak ada praktisi desain visual yang dilibatkan untuk sumbang saran terkait ini?
  • Apakah instalasi tulisan “Taman Samarendah” tersebut bakal dinobatkan sebagai simbol taman itu?

Ya entahlah. Barangkali proses desain, pembuatan, dan pemasangan instalasi tulisan tersebut hanya dianggap sebagai bagian dari paket pengerjaan tahap kesekian taman kota tersebut. Sehingga perlakuannya pun diserahkan penuh kepada kontraktor, yang sesuai gelarnya lebih mumpuni di bidang bangun-membangun ketimbang menambah kesan artistik dari pernik-pernik bangunan. Padahal ada ratusan bahkan ribuan anak muda Samarinda yang jago di bidang desain visual, baik lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Produk (Despro), dan sebagainya dengan kemampuan khusus menghasilkan desain memuat pesan yang kuat. Setidaknya, pesan pencitraan bahwa Kota Tepian ini sudah semakin maju, dan untung saja tidak sekalian pakai Comic Sans.

Sementara itu, jauh sebelum instalasi tulisan “Taman Samarendah” rampung terpasang, objek kasus serupa sudah lebih dulu tampil di bagian depan kantor gubernur yang megah itu. Mungkin ada beberapa di antara Anda, yang pernah tersentak begitu membaca jejeran tulisan “Sukseskan Kaltim Green, Visit Kaltim Year 2015” dan seterusnya dengan warna latar hijau tersebut. Tersentak karena warna tulisan maupun latar, lebih-lebih lagi karena typeface-nya. Bahkan ada yang terang-terangan mengejek font tersebut dengan celetukan “dangdut banget” atau bergaya tren rock era 80-an. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tulisan itu kalah pamor dibandingkan pembahasan soal tampilannya. Apalagi tahun ini, tulisan angka “2015” di ujung tulisan menggunakan font yang berbeda dan jelas-jelas berupa tambalan. Ngehe berikutnya, huruf “S” di tulisan tersebut diambil dari font berbeda. Lantaran bentuk aslinya lebih mirip goresan petir seperti di logo PLN. Ini berarti, sang perancang asal campur font.

IMG_8568
Ditambal.
IMG_8569
Bagian depan Lamin Etam, aula dalam kompleks rumah dinas gubernur Kaltim.

Bayangkan, Kota Samarinda yang akan terus kedatangan lebih banyak orang dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan dunia. Lalu ketika melintas di depan kantor dan rumah dinas pemimpin tertinggi provinsi ini, mereka dikejutkan dengan tampilan tersebut.

Sekadar informasi, font yang digunakan di depan kantor gubernur tersebut adalah “Die Nasty” ciptaan Ray Larabie. Bentuk tulisannya yang seperti itu terinspirasi dari logo “KISS”, heavy metal band yang berdiri di era 70-an. Dari bentuk dan latar belakang perancangannya, “font” ini jelas lebih condong untuk hiburan, main-main, pop culture. Kita akan mudah menemukan font ini di sampul kaset atau cakram digital album band rock, pop-rock, atau genre alternatif. Pada praktiknya, bentuk tulisan ini terlalu gaul bagi generasi tua, namun terlalu norak bagi generasi muda. Terjebak di masa antah berantah.

Terakhir, izinkan saya–yang bukan seorang desainer grafis ini–mengajak siapa pun yang terkait untuk rehat sejenak, mencari intermeso lewat menikmati beragam bentuk font yang ada. Minimal, bisa dilihat di layar komputer masing-masing dalam program Microsoft Office yang biasa kita gunakan sehari-hari. Kalau tetap bingung harus memilih yang mana, tenang saja, Samarinda tidak kekurangan anak muda dengan selera artistik yang pas dan mampu menjabarkan maksud serta alasan-alasannya. Jadikan Samarinda tidak kalah visually artistic dibandingkan kota-kota lain.

Toh, apabila wawasan dan kemampuan kita masih sebatas meniru, tirulah hasil desain yang sudah baik. Di Bandung dengan tulisan “Braga”, di Makassar dengan tulisan “Pantai Losari”-nya, atau seperti di Amsterdam dengan tulisan “I amsterdam” yang keren itu. Semua bisa dilihat gratis, lewat Internet.

[]

Bukan Cuma Urusan Bayar-membayar

Saat pertama kali hadir di kota ini sebagai sesuatu yang baru hampir dua dekade lalu, ternyata tidak terlampau susah bagi kebanyakan orang Samarinda untuk menyesuaikan diri dengan konsep diner atau self-service restaurant, atau yang kerap dijuluki “rumah makan bayar duluan”. Yakni gerai-gerai waralaba dengan ayam tepung dan kentang goreng sebagai menu utamanya. Kendati tetap ada saja segelintir orang tua yang mencibir, dan menganggap model pelayanan seperti itu absurd. Sebab di restoran konvensional, skema pelayanannya adalah: pelanggan datang, memesan, makan, kenyang, bayar, pulang.

“Belum dimakan, sudah disuruh bayar, mahal pula. Ngantrinya lama. Terus kita malah disuruh bawa makanannya sendiri. Apa digawi sama bubuhan pelayannya ini?”

Kurang lebih seperti itulah omelan yang pernah saya dengar, entah berapa tahun lalu.

Kini, selain gerai-gerai waralaba yang menjual makanan siap saji, juga telah hadir beberapa kafe waralaba dengan konsep pelayanan serupa. Hanya saja, tidak sedikit konsumen yang memberikan perlakuan berbeda. Bahkan terang-terangan menampilkan ketidaksukaannya, ditujukan kepada para waiter atau penyaji di kafe tersebut.

Kafe pertama di Samarinda dengan model pelayanan seperti ini adalah gerai donat di mal Jalan Bhayangkara. Pengunjung datang, mengantre, menyampaikan pesanan dan ditanya namanya (untuk nantinya dipanggil), dan membayar. Setelah minuman selesai diracik, barista akan memanggil nama pelanggan secara lantang, agar yang bersangkutan datang dan mengambil pesanan.

Ada satu waktu di kafe tersebut, saya melihat sendiri pengunjung yang sengaja tidak menggubris panggilan nama dari barista. Bukan lantaran tidak mendengar atau tidak sadar namanya dipanggil, sang pengunjung yang kira-kira berusia paruh baya ternyata sengaja bersikap begitu. Dengan mimik tersenyum mengejek, ia berkata:

“heheh… Apa-apaan? Kita yang bayar kok kita disuruh ambil sendiri. Anterin dong,” kepada temannya.

Sampai beberapa menit kemudian, seorang waiter tergopoh-gopoh mengantarkan pesanan si bapak tersebut dalam kondisi kafe yang sedang sangat ramai pengunjung.

Dari contoh kejadian di atas, perasaan tidak suka ditujukan kepada waiter. Karena ada anggapan, pelanggan adalah raja, dan raja harus dilayani. Hadir sebagai pelayan, para waiter.

Untung saja para waiter kafe-kafe waralaba itu juga dibekali dengan keterampilan berkomunikasi, sebagai keharusan dan ciri khas merek dagangnya. Sehingga semenyebalkan apa pun perlakuan yang mereka terima, mereka tetap (harus) berbicara dengan intonasi yang baik laiknya Public Relations Officer (PRO) lengkap dengan senyum seoptimal mungkin. Kondisi ini pula yang menyebabkan begitu nyatanya perbedaan antara berkunjung ke restoran atau kafe waralaba, dibanding ke rumah makan lokal. Makin terasa perbedaan kemampuan dalam bidang hospitality and services, setelah gerai pertama Starbucks buka di Samarinda.

Seiring berjalannya waktu, pasti makin banyak orang Samarinda yang maklum dan mafhum dengan pola pelayanan di kafe-kafe tersebut. Jadi, makin banyak yang paham bahwa untuk bersantap di sana, haruslah mengantre, dan membawa sendiri pesanan yang telah jadi. Kalaupun belum tahu, tetap ada para waiter yang dengan sabar menjelaskan cara pemesanannya.

Akan tetapi, dinamika belum berhenti sampai di situ saja. Masih berkutat pada para waiter, banyak pengunjung kafe maupun restoran waralaba yang hanya mau tahu dengan datang, pesan, bayar, makan, pulang. Sehingga sering kita jumpai, meja makan yang seperti “kapal pecah” dengan piring kotor, pembungkus nasi putih, gelas kertas, potongan tulang ayam, dan sampah lainnya yang berhamburan. Sengaja dibiarkan sangat berhamburan. Bisa jadi karena anggapan:

“ah nanti ada yang bersihkan juga, kan kita mbayar.”

Okelah, sebagai pengunjung restoran atau kafe waralaba, kita tidak perlu bersikap seperti saat mengunjungi Singapura, dengan konsep self-service yang total. Tidak hanya membawa sendiri makanannya, namun juga mengembalikan baki ke tempatnya, serta membuang semua sampah kertas ke tempat yang memang disediakan (setidaknya itu yang saya alami waktu singgah ke BK entah terminal berapa Changi, saat baru kedua kalinya ke luar negeri). Apalagi di sana, waiter bahkan bisa mengingatkan pengunjung yang lupa, atau sengaja meninggalkan sampahnya di meja. Sementara di sini, saat saya yang bersantap seorang diri sengaja membuang sampah dan mengangkat piring kotor ke wadahnya saja, langsung dipandang dengan tatapan aneh dari pengunjung lainnya. Dikira sok bener kali.

Barangkali, perbedaan perlakuan terhadap waiter itu pula yang membuat profesi itu terlihat berbeda di luar sana. Banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tidak malu menjadi pekerja paruh waktu di restoran atau kafe waralaba. Sedangkan di sini, pekerjaan itu malah dianggap sebagai pilihan paling akhir, dan jelas tidak untuk dipamerkan.

Di sana, para waiter memang bekerja, sebagai pekerja. Apa yang kita bayar, sebagiannya memang jadi gaji mereka. Tapi tidak ada salahnya untuk tidak bersikap berlebihan–berasa raja–pada mereka. Karena mereka adalah waiter, penyaji, pelayan dalam arti luas, bukan budak.

[]