Banda: The Dark Forgotten Trail

SUDAH lumayan lama enggak menulis tentang film setelah beberapa bulan terakhir. Bukannya malas menonton di bioskop, melainkan tiba-tiba nyadar aja kalau belum punya kapasitas yang cukup untuk menyampaikan review. Apalagi beberapa waktu lalu sempat baca rangkaian twit dari tokoh perfilman Indonesia berikut.

Sampai akhirnya kepengin menulis tentang film lagi malam ini, yang barangkali lebih cocok disebut aftertaste atas pengalaman menonton, beserta tentang hal-hal terkait lainnya. Sesuai dengan judul rubriknya.


Saya tidak pernah menonton dokumenter di bioskop sebelumnya.

Sebagai film nonfiksi, “Banda: The Dark Forgotten Trail” sebenarnya terasa cukup menyenangkan disaksikan lewat layar lebar, karena memberikan suasana dan ekspektasi berbeda. Penayangannya sendiri jelas memerlukan keberanian dan idealisme yang besar, mengingat dokumenter bukan genre favorit sebagian besar penonton Indonesia.

Secara garis besar dokumenter ini menyajikan informasi sejarah dan sosiokultural mengenai kepulauan Banda, orang-orang yang pernah menghuninya, dan penghuninya saat ini.

Dengan Reza Rahadian sebagai narator, film langsung diawali dengan penuturan tentang buah pala sebagai penentu pentingnya kedudukan kepulauan Banda dalam perjalanan sejarah dunia. Setelah itu, durasi langsung bergulir menjelaskan fase-fase waktu secara runut.

  1. Dari masa pra penjelajahan samudera oleh Spanyol dan Portugis,
  2. Ekspansi bisnis VOC ke Nusantara untuk memonopoli rempah dan persaingannya melawan Inggris dalam menguasai seluruh area kepulauan Banda,
  3. Era penjajahan Belanda dan pemanfaatan pulau-pulau di Banda sebagai tempat pengasingan para tokoh nasional,
  4. Merosotnya popularitas pala,
  5. Gagalnya mekanisme perdagangan pala yang dicanangkan pemerintah, lalu
  6. Fokus kepada kemajemukan masyarakat yang menghuni pulau-pulau besar kepulauan Banda,
  7. Imbas konflik SARA yang menyebar sampai ke kepulauan Banda,
  8. Generasi muda Banda yang enggan pulang dan membangun kampung halamannya,
  9. Harapan dari para pakar sejarah dan ilmu sosial terhadap masa depan Banda.

Dengan tema sespesifik ini, “Banda: The Dark Forgotten Trail” menjadi salah satu materi yang informatif. Membuka wawasan para penontonnya dengan kadar kedalaman memadai supaya cocok ditayangkan di bioskop… dan mungkin lantaran alasan “supaya cocok ditayangkan di bioskop” itu pula, ada beberapa komponen dalam film yang kehadirannya membuat “Banda: The Dark Forgotten Trail” lebih pas disebut semi-dokumenter mengarah ke Art Movie. Lebih niche dan tersegmentasi sih jadinya.

Source: The Jakarta Post

Banyak potongan adegan pendukung narasi yang terkesan ilustratif, tidak terkoneksi langsung dengan yang disampaikan oleh narator maupun narasumber. Namun indah, bahkan ada yang cukup emosional. Yakni ketika memadukan Tari Cakalele sebagai peninggalan budaya, para manusianya dari rentang usia yang lebar, berlatar belakang saksi bisu sejarah.

Termasuk juga cuplikan-cuplikan gambar tanpa manusia yang Instagrammable banget maupun hasil tangkapan drone, atau setidaknya layak menjadi materi penyusun video presentasi seni. Lengkap dengan serangkaian suara latar di sepanjang film, yang membuat saya merasa sengaja dihasilkan dan disusun seperti itu demi mencapai koneksi dengan kata “dark” dari judul.

Dengan demikian, menonton “Banda: The Dark Forgotten Trail” memang menjadi pengalaman baru yang unik, mampu tercerap dan mencerap, serta memberikan sekumpulan gambaran berbeda ketika memaknai nama Banda dari timur Indonesia.

[]

Advertisements

Kartini

APAKAH ‘Kartini’ memang film untuk semua umur?” Pertanyaan itu yang muncul sesaat setelah lampu ruangan studio dihidupkan, Rabu petang lalu.

Tentu tidak ada salahnya bila “Kartini” sekadar dinikmati sebagai sebuah hiburan, atau dijadikan tambahan media pembelajaran sejarah bagi anak-anak. Untuk keperluan tersebut, Hanung Bramantyo dan serombongan orang yang terlibat dalam produksi film ini boleh dibilang cukup sukses. Tinggal nanti dibuktikan dengan total angka penonton sepanjang penayangan. Akan tetapi “Kartini” jelas bukan sekadar itu. Banyak refleksi penting yang tersisa dari film ini, memengaruhi sikap dan opini para penontonnya. Terutama mengenai kemanusiaan melampaui gender. Masih ada ruang untuk terus melakukan penajaman, bukan penggiringan.

Mengisahkan tentang sosok Raden Adjeng Kartini dari sudut pandang yang cukup berbeda dari buku-buku pelajaran dan sumber umum lainnya, film ini enggak cuma mengisahkan tentang sesosok pahlawan nasional wanita asal Jepara. “Kartini” adalah sebuah jendela, sumber konsepsi kemanusiaan yang saking dalamnya sampai-sampai tidak kelar didiskusikan maupun diperdebatkan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kembali ke pertanyaan pembuka tulisan ini, beragam pendapat dan pemikiran langsung berkelebatan dalam pikiran saya sekelarnya menonton “Kartini”.

  • Bagaimana seharusnya perempuan memandang diri sendiri dalam posisinya dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Bagaimana sebaiknya perempuan diperlakukan oleh orang lain, laki-laki maupun sesama perempuan, dalam struktur sosial (keluarga dan masyarakat)?
  • Apakah konsep “Keutamaan Perempuan” (female privileges) yang berjalan saat ini sudah tepat, atau malah rentan disalahgunakan?
  • Bagaimana sebaiknya meninjau konsep “kodrat” pada perempuan? Apa prinsip yang ideal untuk menyusun lingkup batasan mengenai kodrat hidup perempuan?
  • Terlepas kepada tuhan, perempuan sama seperti manusia lainnya yang mesti mempertanggungjawabkan kiprah hidupnya kepada masyarakat. Bagaimana sebaiknya perempuan menyikapi kekakuan maupun perubahan yang terjadi di masyarakat?

Setiap poin di atas memiliki persoalan turuannya masing-masing, yang tentu saja akan dimaknai secara berbeda oleh setiap penonton dari berbagai kalangan usia… yang belum tentu dapat dijawab dengan tepat oleh setiap orang.

Silakan dibayangkan. Ada anak-anak perempuan yang bisa bertanya kepada ibunya, mengapa Kartini dan para saudarinya harus melakukan mlaku dhodok dengan baik dan benar hanya untuk menghadap dan berbicara dengan ayahnya sendiri? Bertanya pula tentang pingitan, pengurungan dalam kamar.

Silakan dibayangkan. Ada remaja-remaja perempuan yang bisa  bertanya kepada ibunya, mengapa di film tersebut ada perempuan yang sudah menikah di usia 12 tahun, dan punya anak di usia 14 tahun? Sementara mereka, di usia yang sama, tengah menjalani kehidupan sebagai siswi sekolah menengah. Diasuh sebagai seorang putri, bukan mengasuh bayi-bayi.

Bisa juga muncul pertanyaan “Memangnya anak cewek boleh enggak menikah ya?” Setelah melihat adegan ketika Kartini (Dian Sastrowardoyo), Roekmini (Acha Septriasa), dan Kardinah (Ayushita) bersenda gurau dan menyatakan dengan gamblang: “Aku ndak mau menikah.” Meski kemudian diikuti dengan alasan tambahan: “Kalau bukan laki-laki yang kucintai, dan kalau sudah punya istri.

Mencoba untuk tidak seksis, anak dan remaja laki-laki pun tentu bisa punya pertanyaan-pertanyaannya sendiri atas apa yang mereka saksikan di layar bioskop. Justru dengan momen inilah, para laki-laki belia tersebut bisa diajarkan tentang posisi antara kedua gender; bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak berlebihan (secara positif maupun negatif); menyadari peran antara keduanya dalam struktur sosial; mengapa pernikahan itu begitu penting bagi masyarakat maupun si perempuan itu sendiri, termasuk mengapa ada orang-orang yang memilih untuk tidak menikah dan bagaimana sikap kita menghadapi pilihan pribadi tersebut.

Anda juga bisa memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan tentang menjalani sebuah hubungan pacaran kepada mereka. Termasuk soal bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap aktivitas berciuman, berpelukan, bahkan yang lebih daripada itu 😅  But I’m serious. You can see the dots, can’t you? Dalam film ini, para priayi digambarkan lumrah beristri tiga dan empat, dan masih menjadi impian sebagian laki-laki untuk bisa seperti itu.

Diperlukan kebijaksanaan, kedewasaan, dan pemahaman yang baik untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan tepat, yang orang dewasa sekalipun seringkali masih kebingungan dibuatnya.

Sesungguhnya, ini menunjukkan begitu kuatnya “Kartini” sebagai sebuah karya. Tak sekadar untuk diiyakan atau ditolak, melainkan untuk dibahas dan menghasilkan kesepahaman yang apik bagi kemanusiaan.

Source: wanitaindonesia.co.id

Di sisi lain, kembali sebagai sebuah judul yang diproduksi sedemikian serius dan intens, “Kartini” adalah film yang serius dan menghibur. Serius, karena didasarkan pada sesuatu yang faktual dan memiliki efek signifikan bagi bangsa Indonesia. Menghibur, karena porsi drama, humor, tidak membosankan, dan kekuatan lakon setiap pemainnya benar-benar terkomposisi sempurna. Namun tetap dengan sejumlah hal-hal remeh yang mengganggu di sana sini. Salah satunya adalah, logat nJawani yang kurang pas. Terdengar lucu (that kind of “lucu”) dan aneh. Hahaha!

Dalam “Kartini”, ada banyak pelakon yang saya favoritkan lewat penampilan mereka. Sesuai peringkat, dimulai dari Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Nova Eliza, Djenar Maesa Ayu, dan Deddy Sutomo. Di luar mereka, sosok Si Mbok yang sepertinya adalah seorang natural entertainer dan Pak Atmo.

Dalam “Kartini” juga, salah satu adegan yang cukup membekas adalah pengajian K.H. Sholeh Darat.

Beberapa hari sebelum menonton filmnya, saya sempat membaca catatan tentang interaksi antara Kartini dan Kiai Sholeh (meskipun tetap perlu dipastikan keabsahannya), dan efeknya sangat luar biasa. Ketika adegan tersebut mulai berputar di layar, tanpa sadar saya menyaksikannya dengan berbinar-binar. Tidak menyangka bagian cerita itu juga ditampilkan, dan menjadi salah satu titik kuat dalam film. ~~~ ah, mungkin subjektifnya saya saja.

Selain plot dan kekuatan cerita, ditambah dengan aspek-aspek produksinya, “Kartini” boleh dibilang merupakan salah satu film yang lebih seru diperbincangkan aftertase-nya. Benar-benar menjadi jendela yang dibuka, dan menunjukkan banyak hal menarik baru. Menyisakan pilihan untuk melangkah lebih jauh atau tidak pada masing-masing pribadi penontonnya.

[]

Cek Toko Sebelah

BARU banget kelar menonton film ini, dan masih kagum dengan betapa subtle-nya cara Ernest Prakasa mengangkat salah satu drama paling mendasar, paling klise, sekaligus paling basi dalam kehidupan keluarga Tionghoa Indonesia menjadi tontonan yang pas dan proporsional, mudah dipahami secara inklusif.

Menyusul “Ngenest: The Movie” yang berangkat dari topik sejenis, gaya dan sudut pandang yang disuguhkan Ernest–sebagai sutradara, penulis cerita, sekaligus pemeran utama–dalam “Cek Toko Sebelah” betul-betul konsisten. Ia berhasil memadukan ide dan konsep dari dua perspektif berbeda saat memproduksi film ini: sebagai Tionghoa Indonesia dan non-Tionghoa Indonesia.

Kenapa sih harus banget ada kata “Indonesia” dalam pernyataan di atas? Soalnya, drama yang disajikan dalam “Cek Toko Sebelah” sangat Indonesia.

Tidak ada masyarakat Tionghoa mana pun di Asia Tenggara yang paham benar tentang tahun 1998, selain di Indonesia; termasuk kaitan khusus antara tahun 1998 dan toko, bukan sebagai alat untuk bermata pencarian, melainkan sebagai bagian dari identitas.

Detail-detail seperti itu memang terlampau sederhana, atau bahkan sah-sah saja jika sekadar disebut sebagai gimmick pelengkap cerita. Akan tetapi, justru menjadi simpul-simpul cerita yang membuat “Cek Toko Sebelah” relevan bagi siapa saja.

Berbeda dengan “Ngenest: The Movie” yang bercerita tentang seorang Tionghoa muda memandang ketionghoaannya (walaupun ujung ceritanya, ehm, agak non-mainstream dari perspektif Tionghoa Indonesia luar pulau Jawa), “Cek Toko Sebelah” lebih spesifik pada isu-isu internal keluarga, terlebih yang ada di luar Jakarta.

Gambaran singkatnya seperti ini. Ketika para orang tua Tionghoa mengelola toko dengan susah payah dan tekun sedemikian rupa, lalu menyekolahkan anak-anaknya ke luar daerah bahkan luar negeri dengan harta dan status ekonomi yang berhasil dibangun, kemudian beberapa di antaranya berharap agar anak-anak mereka bisa kembali ke kota asal dan meneruskan usaha. Ekspektasi versus realitas hidup.

Ragam drama yang diangkat Ernest dalam “Cek Toko Sebelah”, bisa dibilang adalah salah satu varian paling aman dari konflik di atas. Aman, lantaran happy ending. Konflik keluarga berakhir dengan kebahagiaan dan penerimaan, yang sebenarnya identik dengan film-film Hong Kong khusus suasana Tahun Baru Imlek. Hehehe… dan Ernest seolah kembali menyampaikan positive subliminal message tentang pernikahan lintas etnik kepada seluruh Tionghoa Indonesia. Hal netral yang masih agak janggal bagi Tionghoa Indonesia, dibanding di negara-negara Asia Tenggara lainnya. 😀

Untuk itu, saya rekomendasikan film ini sebagai tontonan keluarga Tionghoa Indonesia. Bukan untuk memengaruhi atau mengubah pendapat, tapi lebih untuk membuka paradigma sosiokultural yang berlangsung hingga sekarang.

Foto: gadis.co.id
Foto: gadis.co.id

Oke, kini melangkah ke komponen-komponen lainnya.

“Cek Toko Sebelah” merupakan film komedi dengan kadar yang pas. Penampilan para komedian tunggal tidak overwhelm, pun dengan kelakar-kelakar yang membumi dan tidak eksklusif. Begitu pun dengan cameocameo yang dilibatkan, yang mampu mengekskalasikan lelucon dengan sangat segar dan efektif. Salah satunya pada bagian “Emang jalan ini punya bapak loe?!”

Seperti biasanya, penampilan Adinia Wirasti bikin makin tambah nge-fans. Ayu, sosok yang diperankannya, boleh jadi adalah lakon paling bijaksana dalam film ini. Baik ketika berinteraksi dengan Yohan (Dion Wiyoko), maupun tokoh lainnya. Outshining!

Di sisi lain–thanks to Ernest’sChineseness” –ada humor-humor tertentu yang ngena banget pada para penonton Tionghoa. Seperti pada sosok Ko Afu/Afuk (Chew Kin Wah, yang kelihatan banget berusaha menyamarkan ciri khas Chinese Malaysian-nya). Termasuk juga judul “Cek Toko Sebelah” itu sendiri, yang pada dasarnya enggak punya hubungan langsung dengan fondasi plot.

Intinya, dengan menonton “Cek Toko Sebelah”, 31 Desember 2016 saya terasa menyenangkan.

Selamat tahun baru! 🙂

[]

君の名は。| Your Name

SEBAGAI bukan penggemar anime maupun Dorama Jepang, “君の名は。”/”Your Name” ternyata bisa meninggalkan kesan yang manis, sekaligus magis. Demikian setidaknya yang saya rasakan saat dan setelah menontonnya Sabtu siang kemarin.

Manis, lantaran plot dan alur yang ringan tapi ndak kacangan, relatif sederhana untuk diikuti tanpa perlu berpikir terlampau keras, interpretasi pada aspek-aspek fantasi yang tidak berlebihan, akrab dengan aktivitas keseharian, penuh romansa ala remaja, tak ubahnya membaca cerpen di majalah remaja sebelum tidur siang (aktivitas yang populer setidaknya sampai awal tahun 2000-an), dan nuansa kawaii khas komik-komik serial cantik. Dari adegan pembuka yang “begitu” :p sampai ke ending-nya.

Ada dua tokoh utama: Mitsuha dan Taki. Keduanya masih sama-sama pelajar SMA, tapi berbeda kota. Langsung bisa kebayang gambarannya, kan? Mirip FTV! Tapi percayalah, “Your Name” lebih daripada itu 😀

Magis, tidak hanya karena beberapa detail pelengkap kisah, melainkan artistic deliverance yang dapat dirasakan ketika menontonnya.

Jalan cerita “Your Name” sarat dengan konsep-konsep dan filosofi ajaran Shinto maupun animisme Jepang, tapi tidak berjejal. Tersaji rapi, dan terpilin indah dengan unsur dramanya. Dikisahkan, Mitsuha adalah salah satu fujo (巫女) atau gadis keturunan penjaga kuil.

Kesan magis tersebut kian kuat dengan lagu-lagu soundtrack, dan teks terjemahan liriknya yang ikut ditampilkan di layar bioskop.

Source: wall.alphacoders.com
Source: wall.alphacoders.com

Mitsuha dan Taki, dua remaja yang terpisah ruang dan waktu.

Apa yang saling menghubungkan mereka? Simpul takdir. “Musubi (結び),” kata nenek Mitsuha, saat menjelaskan makna tentang ritual menganyam simpul tali dalam tradisi spiritual Jepang.

Musubi memisahkan; mempertemukan; memisahkan kembali; serta mempertemukan kembali Mitshua dan Taki lewat bintang jatuh sebagai pertanda. Bukan pertemuan biasa, tetapi lewat pertukaran jiwa (body-swapping). Mitsuha dalam Taki, dan begitupun sebaliknya.

Body-swapping memang bukan merupakan tema baru, apalagi dalam doramaBut, this one with a huge twist. Selain itu Makoto Shinkai, sang sutradara mampu menampilkan tema tersebut dengan sangat cerdik, namun tetap menarik bagi segmen penontonnya. Lucu, menggemaskan, dan bikin trenyuh. Banyak adegannya yang bikin “nyesss…

Semuanya menjadi bagian-bagian penting dari perkembangan cerita, disampaikan dengan storytelling yang baik, dan ditunjang dengan “penggambaran” animasi yang luar biasa keren. Untuk itu, biarlah anime ini cukup dikenal sebagai anime, tidak perlu diadopsi jadi film sungguhan.

Daripada bikin drop.

“Your Name” pada dasarnya bisa dinikmati secara luas, baik oleh penggemar anime ataupun bukan. Akan tetapi, tentu ada excitement level dan fokus perhatian berbeda di antara keduanya, sehingga memunculkan beragam kemungkinan dan ekspektasi. Tidak menutup kemungkinan ada non-otaku yang “menyerah” untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Terutama sejak bagian awal menuju pertengahan cerita. Salah satu teman saya misalnya, (barusan di Path) mengaku keluar di tengah-tengah durasi lantaran berada di crowd yang salah ketika ia berusaha untuk tetap mengikuti jalannya kisah. Padahal, revelation moments yang muncul belakangan benar-benar terasa mengagumkan. 🙂

[]

Ini Kisah Tiga Dara

BARU menonton film ini Sabtu sore lalu, di bioskop yang sama tempat menyaksikan “Tiga Dara” hasil restorasi. Itu sebabnya, sebelum mulai, muncul kilasan beberapa adegan, dialog, maupun lagu dan tarian dari karya rilisan 1956 yang konon tidak disukai oleh Usmar Ismail, sutradaranya sendiri itu.

Enggak sengaja mbatin: “film ini bakal semenyenangkan ‘Tiga Dara’, enggak ya?” Meskipun kemudian sadar jika pembandingan tersebut agaknya kurang adil, dan enggak perlu. Langkah amannya, tentu saja dengan berhenti berekspektasi. Duduk anteng, kalem, dan bersiap melihat apa yang bakal lewat.

Bagian-bagian paling awal dari “Ini Kisah Tiga Dara” terasa tidak terlampau berkesan. Entah mengapa, koreografi lagu pertama dengan setting taksi di tengah kemacetan dan taman yang ramai dengan rupa-rupa warga selatan Jakarta itu terasa tanggung dan canggung. Masih lagu pertama dan adegan pembuka, barangkali. Jadi berasanya biasa-biasa saja. Ketika penontonnya (baca: saya) masih belum rileks untuk menikmati film musikal. Ditambah lagi belum ada proper introduction atas ketiga tokoh utamanya: Gendhis (Shanty), Ella (Tara Basro), dan Bebe (Tatyana Akman).

Sayangnya, atmosfir ini bertahan sampai beberapa puluh menit berikutnya, sampai setting-nya hampir pindah kota. Sampai gubahan baru lagu “Tiga Dara” mulai menceriakan suasana. Tidak menyentuh soal cerita sama sekali.

Saat lagu dan koreografi belum mampu mencuri perhatian dan kesenangan penonton atas film ini, lalu dimunculkanlah keindahan alam timur Indonesia sebagai element of surprise selanjutnya. Ekspresi kekaguman seperti “wow!” dan sebagainya terdengar jelas waktu layar menampilkan pergantian latar, dari Jakarta menjadi Maumere. Efek ini sukses menarik hati, khususnya bagi para Jakartans sendiri. Lantaran gambar lanskap alam yang ditampilkan sebenarnya merupakan pemandangan sehari-hari bagi orang-orang pesisir.

Secara pribadi, ketertarikan atas film ini mulai muncul setelah dipicu lagu dan koreografi “Pasar Geliting”. Sebuah langkah berani dan memikat hati memberdayakan local talents untuk ikut menari. Kendati hanya figuran, dan dengan gerakan yang kadang kurang seragam, berasa tulus dan lucu dalam makna sebenarnya.

Mulai rileks nontonnya.

Source: fimela.com

Nah, element of surprise selanjutnya benar-benar mengejutkan, bahkan boleh dibilang menjadi semacam “entrance moment” untuk tokoh Bebe, dan Erick (Richard Kyle). Dari bagian ini, wajar jika banyak penonton yang mulai terkesan dengan keberanian Nia Dinata, sang sutradara dalam mengokohkan karakter si bungsu dari tiga dara. Apalagi berhasil dibawakan dengan maksimal oleh Tatyana dan Richard.

Makin rileks nontonnya.

Hingga akhirnya, film ini mulai terasa menyenangkan sebagai sebuah tontonan bagi saya justru gara-gara satu hal sepele: sebuah celetukan dari Oma (Titiek Puspa).

Entah apakah karena selera humor saya yang receh, atau line tersebut memang sungguh brilian, yang pasti “janidul” dilontarkan Titiek Puspa dengan sangat pas, dan berhasil membuat saya tergelak. Dari poin ini, ihwal kekuatan dan karakteristik cerita bergeser jadi nomor ke sekian untuk diperhatikan. Sudah bisa dibawa rileks aja, kecuali kalau plotnya bapuk banget.

…dan ternyata benar. Jalan ceritanya cukup sederhana untuk dikritisi, juga dengan konflik dan problem yang enggak jauh-jauh dari kisah “Tiga Dara” versi aslinya. Intinya adalah seorang nenek ngebet cucunya segera menikah, menyerempet ke persoalan cinta segitiga.

Secara umum, beberapa hal menarik dari “Ini Kisah Tiga Dara” adalah penampilan para pemain, lagu dan koreografi, serta muatan sisipannya.

Mengenai para pemain, tak terbantahkan bahwa Shanty benar-benar tampil memukau sebagai si sulung, maupun sebagai artis yang “turun gunung” ke layar lebar setelah sekian lama. Chemistry yang ia ciptakan bersama tokoh-tokoh lain, seperti dengan dua dara yang lain, Oma, ayahnya (Ray Sahetapy), Yudha (Rio Dewanto), bahkan dengan para figuran terasa genuineEffortlessy enjoyable.

Selanjutnya, spotlight mengarah ke Tatyana. Wajah baru hasil audisi yang ternyata memang tepat untuk menggambarkan sosok Bebe, si bungsu lincah, spontan, badung, berani, outspoken, tapi lucu menggemaskan dengan rambut ikalnya yang khas.

Dalam “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai debut, tidak susah untuk membayangkan penampilan kedua dan ketiga Tatyana di judul-judul film berikutnya, walaupun image-nya telanjur melekat sebagai gadis cantik yang manja.

Bagaimana dengan Titiek Puspa, penampil paling senior dalam film ini? Bagi saya, terlihat banget beliau tidak berakting, atau memodifikasi apa pun dari tindakan dan sikapnya untuk tujuan berakting. Titiek Puspa just being Titiek Puspa, Hahaha…  Dengan celetukannya yang campur aduk antara bahasa Jawa dan bahasa Belanda, suara khasnya, dan gayanya. Seolah-olah Oma dari tiga dara memang adalah sang Titiek Puspa. Segengges apa pun beliau, Titiek Puspa tetaplah seorang Titiek Puspa… and she’s a living legend!

Berikutnya, saya lebih setuju untuk menyebut “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai film dengan bonus lagu dan tarian, ketimbang film musikal. Tidak sedikit lagu dan koreografinya yang keren dan berkenan di hati, hanya saja ada lebih banyak yang berlalu begitu saja. Ya… Paling-paling ini cuma persoalan selera.

Fokus terakhir adalah pesan yang disisipkan, dari awal sampai pengujung cerita. Bukan sekadar pesan moral, tentunya, melainkan lebih kepada seruan-seruan ala aktivis humanisme. Ada banyak sekali. Mulai soal pandangan konservatif atas gender dan perlakuannya, kritis atas itu dan mengenai pernikahan sebagai atribut sosial, sampai mengenai cara wanita memandang dirinya sendiri. Untuk topik yang terakhir, anehnya, penyampaiannya justru dilekatkan pada figur Bebe, si bungsu yang baru berusia 19 tahun. Bukan tanpa alasan mengapa salah satu karakter Bebe yang saya sebut di atas adalah “outspoken” (…dan sikap itu ditunjukkan tak hanya saat berperan sebagai Bebe. Seperti yang diceritakan seorang teman, kala Tatyana bete terhadap wartawan dalam sesi pemotretan hanya gara-gara urusan pakaian. Padahal saat itu, Tatyana terlihat luar biasa menawan!)

Pertanyaannya, apakah semua pesan tersebut berhasil tersampaikan dengan baik dan tidak bias, serta bisa diterima secara umum? 🙂

Terlepas dari semua hal di atas, ada satu lagi komponen yang cukup berkesan dalam “Ini Kisah Tiga Dara”: penampilan dan busana. Nyaris tidak ada satu momen pun dalam film ini, saat para tokohnya tampil membosankan. Paduan riasan (termasuk tata rambut) dan busana yang dikenakan selalu menyegarkan.

Semuanya berhasil menjadikan “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai tontonan yang menyenangkan.

[]

Bicara soal pernikahan sebagai atribut sosial, barangkali kamu tertarik baca tulisan lama ini: Marriage vs. Social Insecurity.

Rudy Habibie

KUALITAS penampilan yang konsisten, atau pengulangan yang membosankan. Di antara dua hal tersebut, Reza Rahadian boleh dibilang makin meng-Habibie dalam “Rudy Habibie”.

Ya. Agaknya sulit untuk tidak memulai pembahasan tentang film garapan Hanung Bramantyo ini tanpa menyorot Reza. Sampai-sampai tidak akan berlebihan kiranya jika Reza sudah telanjur diidentikkan dengan Habibie; menjadi aktor pertama sekaligus semacam benchmark bagi penampil lainnya.

Memerankan Habibie muda yang baru datang ke Aachen, Jerman untuk menjadi mahasiswa teknik, para penonton (terlebih yang sudah menyaksikan “Habibie & Ainun”) bisa melihat bahkan merasakan makin luwesnya Reza memerankan sosok presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut. Dengan sentuhan dramatis khasnya, tentu saja.

Source: Kapanlagi

Sebagai Rudy–panggilan nama lakon sepanjang film, untuk memisahkan sosoknya dengan figur Bacharuddin Jusuf Habibie–punca kekuatan penampilan Reza kali ini adalah gaya bicara, intonasi, bahkan vokal. Disusul dengan mimik dan ekspresi wajah. Itu sebabnya, ada banyak adegan saat penampilan Reza bisa dinikmati secara a la carte, terpisah dari konflik cerita yang tengah berlangsung maupun komponen-komponen teknis lain. Tak ketinggalan, dialog-dialog dalam bahasa Jerman dan Belanda yang dilontarkan Rudy sepanjang film bisa jadi sumber ketakjuban tersendiri.

Selain Reza, sebagian besar pelakon dalam “Rudy Habibie” juga tampil efisien dan proporsional. Seperti yang ditunjukkan Donny Damara (ayah Rudy), Bastian Bintang Simbolon (Rudy kecil), Chelsea Islan (Illona) yang terasa agak kurang halus beradegan di awal-awal kemunculannya, Indah Permatasari (Ayu) yang cantik banget di situ, termasuk Ernest Prakasa (Keng Kie), Cornelio Sunny (Panca), dan Dian Nitami (ibu Rudy). Hanya saja, perubahan karakter yang diperankan Dian Nitami terlalu drastis dan menjadi agak disayangkan lantaran tidak ajek. Dari sosok ibu yang penuh kasih sayang dan hangat, menjadi sangat defensif serta dingin. Selebihnya, “Rudy Habibie” ternyata jadi semacam ajang comeback Paundrakarna setelah sekian lama absen dari dunia hiburan.

Terlepas dari penampilan para pemain, ada beberapa bagian cerita “Rudy Habibie” yang terkesan scattered. Dimunculkan secara simultan, namun tak semuanya tertuntaskan di akhir durasi. Sehingga menyisakan kesan kurang lengkap dan jadinya terasa enggak penting-penting amat bagi ruang persepsi para penonton. Terutama terkait geliat Rudy sebagai mahasiswa Indonesia yang aktif bersuara, gejolak politik di Indonesia, serta drama keluarga. Justru kalah berkesan dibanding adegan-adegan remeh dengan klimaks yang jelas. Seperti adegan di rumah keluarga Neuefiend, atau tantangan di kafe.

Soal bumbu drama romansa, lain lagi ceritanya. Porsinya hampir sama banyak dengan letupan-letupan cerita mengenai nasionalisme, kejeniusan kaum muda Indonesia, dan semangat dalam mewujudkan visi. Tokoh Rudy ternyata bisa tidak konsisten dan clueless juga. Akan tetapi, siapa yang butuh peduli dengan semua itu sih, ketika lebih gampang dibuai dengan romantisnya para lakon saat beradu chemistry. Lagipula, sebagai prequel dari “Habibie & Ainun” sekaligus sequel dari “Habibie & Ainun 3” (yang sedikit teaser-nya ditampilkan di mid-credits), tentu urusan cinta-cintaan lah yang ditonjolkan lebih utama.

[]

Rocket Rain

“INI vagina…
Itu vagina…
Banyak vagina…
Di mana-mana…”
~ senandungan Culapo, Jansen, dan Rain.

Hahaha! Pada intinya, saya ndak benar-benar ngerti ini film apa. Saya hanya tertawa-tawa, cukup menikmati cernaan-cernaan persepsi yang terasa kocak, sembari sesekali nyeletuk spontan: “wuopooo iki?” sepanjang menonton “Rocket Rain” yang ditayangkan dalam weekly screening Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016 ini Rabu sore tadi (23/3).

Dan barangkali memang sebaiknya begitu, menonton dengan pikiran yang tidak sepenuhnya mengerti. Dibiarkan saja pencerapan ini mengikuti serangkaian percakapan lumayan panjang, yang mengalir alamiah pada satu dua sub topik utama. Adegan-adegan tak terduga, yang cukup abstrak untuk langsung dipahami tanpa sontekan apa-apa. Interaksi yang ganjil sesama lakon, maupun antara lakon dan objek.

Lewat pembiaran itu, tak perlu bersusah payah mengendus lalu memunguti kepingan-kepingan simbolisasi yang berserakan, menganalisis semua sampai sesak napas, kemudian mencoba menyusunnya menjadi kumpulan pesan yang utuh. Entah itu pesan moral, pesan reflektif terkait sosial budaya, atau pesan nasi goreng ati ampela ceplok setengah matang sama es teh manisnya dua.

Tapi, berbeda loh kalau ditanya “Rocket Rain” ini film TENTANG apa. Terlalu gamblang untuk tidak diacuhkan.

Film ini mengusik kita untuk ngobrol-ngobrol soal seksualitas feminin sebagai tema utama, yang dihadirkan sang sutradara lewat beraneka pengandaiannya sejak awal cerita. Selain itu, juga disuguhkan pembicaraan tentang pernikahan secara kontekstual. Baik sebagai sebuah institusi, sebuah batasan diri, maupun sebuah ketentuan sosial. Bahasan-bahasan yang terus menyambungkan kedua tokoh utamanya: Culapo (Anggun Priambodo) dan Jansen (Tumpal Tampubolon).

Dalam hal ini, seksualitas dan pernikahan jelas merupakan dua entitas berbeda, bahkan kadang-kadang terpisah lumayan jauh. Seksualitas sejatinya tak memerlukan pernikahan, namun pernikahan jelas membutuhkan seksualitas sebagai salah satu bahan bakar utamanya. Oleh sebab itu, terkait film ini, akan jauh lebih menarik membicarakan tentang seksualitas feminin ketimbang soal pernikahan, yang bisa dibaca di artikel ini.

Culapo dan Jansen dipertemukan oleh isu-isu tentang pernikahan yang sebenarnya berkutat di situ-situ saja: ketidaknyamanan. Culapo sudah duda dengan anak, dan Jansen–walaupun tidak jelas sudah atau belum–juga tengah dipusingkan dengan perceraian.

Mereka bertemu di Bali, latar lokasi yang anehnya hanya terwakili dengan kode pelat nomor polisi “DK”, botol dan kaleng-kaleng bir Bintang, serta tulisan keterangan tempat di beberapa spanduk pinggir jalan yang terekam dalam adegan. Selebihnya, tidak ada lagi. Di sana, Culapo tengah mengumpulkan banyak video lewat kamera plus kaki tiganya. Di hutan, pantai, tengah danau, padang tertentu, dan tempat-tempat lainnya. Sepanjang malam, atau kapan pun mereka bisa, Culapo dan Jansen selalu saja curhat-curhat-an soal pernikahan. Selalu. Kendati diselingi diskusi dan pengandaian, tapi tetap saja topiknya sama.

Sampai suatu ketika, Culapo dan Jansen bertemu dengan Rain (Rain Chudori) saat tengah berenang di telaga air terjun.

Nuansa absurd dalam film ini pun teramplifikasi setelah dia muncul. Figur Rain yang gembil-gembil gimana gitu, dengan vokal nyaris seperti tokoh anime Jepang, dan wajah yang mirip seorang kenalan berkelakuan kampret dari Samarinda Seberang. Ndak jelas, apakah Rain adalah lakon yang eksplisit, atau lagi-lagi hanyalah sebuah simbolisasi yang dipersonifikasikan. Karena sopir Culapo, Pak Kancil (Narwati Arwangga) sempat mengiranya setan hutan.

Ya! Rain memang figur paling absurd dibanding yang lain. Dia berbicara di telepon melalui jempol dan kelingking kanannya. Ia mengganti kata “bunga” atau “kembang” dengan “vagina” dalam bahasa Inggris; “va-jay-na”, bukan “va-gi-na”. Ia terbang ke angkasa dengan roket tugu jagung Desa Candikuning, Baturiti, Bali.

Source: deathrockstar.info

Seiring kemunculan Rain yang serba-implusif, Culapo dan Jansen juga ikut digambarkan jadi aneh-anehan. Namun tetap linier dengan topik seksualitas feminin. Beberapa di antaranya, rambut panjang dan perawatan komunal macam perempuan di desa, permainan hompimpa yang–kayaknya–bertujuan utama pada cangkang telur dan pucuk tanaman Lidah Buaya, mengeruk pepaya tanpa jelas mau diapakan setelahnya, juga senam aneh yang banyak gerakannya terfokus pada area selangkangan dan sekitar. Mbuh lah!

Mendekati akhir film, suasana absurd terus menguat. Menular pada Pak Kancil yang “menang banyak” dalam proses pembuatan film ini.

Simbolisasi-simbolisasi seksualitas yang dilekatkan pada adegannya, sudah jelas dan benderang. Eksplisit. Gara-gara itu, dalam penayangan sore tadi, jelas saja seisi ruangan sontak melongo, terus ngakak. Boleh dibilang twist juga sih sebenarnya.

Hingga tiba pada adegan terakhir, yang dalam celetukan bahasa Banjarmasin cocoknya disebut: MENGERAMPUT!

[]

Babi Buta yang Ingin Terbang

MEMANG tidak banyak bioskop di Samarinda.

Sejauh ini, baru ada satu areal 21 dengan empat ruangan, dua areal XXI dengan total sepuluh ruangan, dan satu Premiere.

Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, namun setidaknya masih lebih baik ketimbang kondisi di beberapa kota lain, yang bahkan tidak punya bioskop sama sekali.

Semua layar bioskop tersebut tentu didedikasikan untuk judul-judul film komersial, yang bisa diterima pasar dengan mudah dan berpotensi digandrungi sebagai bagian dari mekanisme bisnis reguler. Dengan demikian, jejeran film-film level festival pun nyaris tidak mendapat ruang di kota ini, kecuali setelah meledak karena meraih penghargaan tertentu maupun beberapa kondisi potensial lainnya. Itu pun kadang dengan perlakuan sekadarnya. Sebagai contoh, “Siti” yang merupakan film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015 tidak singgah tayang di Samarinda. “Copy of My Mind” sempat diputar dan bertahan selama beberapa hari, tetapi hanya kebagian ruangan studio paling kecil. Apalagi film lain, semisal “Selamat Pagi, Malam” yang tidak pernah ditayangkan di sini, padahal–setelah ditonton sendiri awal Februari lalu–karya garapan Lucky Kuswandi ini benar-benar memberikan kesan tersendiri.

Oleh sebab itu, apresiasi tinggi patut diberikan kepada panitia Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016 dengan serangkaian agenda. Salah satunya ialah pemutaran mingguan karya kelas indie; film-film yang–baru enam judul sejauh ini–ibarat gudangnya simbolisasi. Perlu mengerahkan perhatian, pemikiran, penafsiran tambahan saat menontonnya. Ada yang sangat memikat dan menghangatkan hati, ada yang membosankan dan menyisakan ketidakjelasan, ada pula yang saking artsy dan absurdnya sampai mampu melekat dalam pikiran dalam rentang waktu cukup lama.

Secara pribadi, kesempatan ini merupakan pengalaman pertama menonton film-film dari ranah yang asing sebelumnya. Karena itu, sebagai seorang pengulas amatiran, ada tantangan tersendiri. Termasuk soal begitu susahnya untuk tidak terkesan sok pintar, sok dalam dan pretentious (Hahaha!) dalam berpendapat serta membagi pengalaman menonton kepada orang lain. Well, I mean, please regard this as a disclaimer. 🙂

Seperti yang berikut ini, catatan kesan setelah menyaksikan “Babi Buta yang Ingin Terbang” dalam weekly screening, Rabu (2/3) lewat. Boleh dibilang, ini kali pertama “Babi Buta yang Ingin Terbang” ditayangkan di Samarinda, delapan tahun sejak rilisnya.

Cahyono kecil (Darren Baharrizki), mirip sinyo Surabaya. Bercita-cita ingin jadi apa saja, asal bukan orang Cina. Entah siapanya yang orang Manado.

Linda kecil (Clairine Baharrizki), si nonik. Berhenti memanggil kakeknya dengan sebutan Kong-kong, melainkan opa.

Verawati (Elizabeth Maria), mantan atlet bulutangkis, mamanya Linda. Asyik membungkus pangsit mentah sambil mengenakan kostum bertanding.

Source: insideindonesia.org

Halim (Pong Hardjatmo), dokter gigi yang selalu memakai kacamata ala Stevie Wonder, suami Vera. Mendadak mau masuk Islam, kemudian menikah lagi.

Linda besar (Ladya Cheryl), hobi mainan mercon.

Cahyono besar (Carlo Genta), selalu pakai seragam tim sofbol Jepang.

Helmi (Wicaksono), punya rumah besar lengkap dengan kolam renang, dan Yahya (Joko Anwar), egosexually insecure.

Kong-kong (Suwigno Pratikno, kalau ndak salah), hobi main biliar Carom. Dikremasi.

Pedagang Cakwe di Jembatan Merah Surabaya. Tetap ada di sana setelah reformasi.

Babi kecil, terikat pada sebatang kayu, di padang savana Bromo. Berhasil lepas dan pergi.

Demikianlah “Babi Buta yang Ingin Terbang”. Pilinan peristiwa-peristiwa yang berkutat pada kecinaan sebuah keluarga Tionghoa. Ada yang ditunjukkan secara gamblang, namun banyak juga yang disampaikan secara tersirat, termasuk dalam satu adegan yang dirasa cukup mengganggu dan bikin film ini jelas saja tidak bisa edar/tayang secara umum. Akan tetapi, adegan itu juga yang justru menjadi salah satu puncak simbolisasi kegelisahan sebagai pesan utama, ketika marginalisasi memberi efek psikis yang sama dengan pelucutan harga diri.

Sebagai penonton, tak perlu berdarah Tionghoa atau pernah mengalami sendiri “sakitnya” tekanan sosial sebelum era reformasi, untuk bisa nyambung dengan kegetiran dalam film ini.

“Babi Buta yang Ingin Terbang” sendiri adalah judul kedua pilihan panitia FFSMR 2016 yang mengangkat pergulatan sosial orang Tionghoa Indonesia pra 1998 sebagai napas utama. Sebelumnya, ada “The Fox Exploits The Tiger’s Might” karya Lucky Kuswandi. Keduanya sama-sama menyuguhkan rentetan simbolisasi bertema senada, dengan salah satu di antaranya yang sungguh-sungguh banal lantaran menggunakan seksualitas sebagai saputnya.

Sepekan sebelum film ini tayang, weekly screening FFSMR 2016 menghadirkan karya Edwin yang lain: “Someone’s Wife in The Boat of Someone’s Husband” (yang terasa seperti dokumentasi liburan, penuh gambar-gambar cantik, dan sejumlah simbolisasi juga). Setelah menyaksikan keduanya, penonton seakan mulai bisa meraba ciri khas penggarapan Edwin.

Seperti apa? Ya yang begitu itu. Belum bisa mengelaborasi sekomprehensif dan semendalam Cinema Poetica. 😀

[]

The Fox Exploits The Tiger’s Might | Kisah Cinta yang Asu | Sendiri Diana Sendiri

KETIGA film ini bertumpu pada seksualitas manusia, dan ditayangkan secara back-to-back. Enggak pakai eufemisme yang basi, tapi dengan simbolisme yang gamblang, sering bikin geli-geli sendiri, dan risi. 😀

Durasinya tidak panjang, rata-rata tidak sampai setengah jam. Tapi ketika ditonton dan setelahnya, ada banyak hal yang menempel di kepala untuk diperbincangkan.

“The Fox Exploits The Tiger’s Might” (狐假虎威)

Judul ini adalah film kedua garapan Lucky Kuswandi yang dipilih untuk ditayangkan dalam FFSMR 2016, setelah sebelumnya ada “Selamat Pagi, Malam” pada Rabu pekan kedua (10/2).

Source: YouTube

Tanpa opening credits, film ini dibuka dengan adegan jual beli tembakau siap linting, kertas kelobot sebagai pembungkusnya, dan dua botol minuman alkohol berkadar rendah di sebuah warung kelontong kecil milik seorang tacik (Stefanny Marcelina Sugiharto) berambut keriting berkacamata. Dari situ, penonton kemudian “diperkenalkan” dengan tokoh utama cerita lewat cara yang agak tidak biasa.

Sapuan pelan kamera bergerak horizontal, lalu berhenti untuk menyorot seorang remaja cowok yang sepertinya tengah duduk di semacam undakan dalam sebuah gudang. Hanya tampak kepala sampai dada, dan tak perlu seberapa lama bagi para penonton untuk menyadari bahwa ia tengah bermasturbasi. Ia dipanggil Aseng (Atreyu Moniaga).

Sejak awal sekali, para penonton sudah harus berhadapan dengan penggambaran-penggambaran seksualitas yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan (apalagi ini di Samarinda). Tidak hanya dari Aseng, juga dari Aling (Christine Harsojo) yang tampil menor dan selalu mengunyah permen karet (padahal aslinya ya cantik), ajudan (Surya Saputra), serta David (Kemas Fauzan). Namun tak sekadar dimunculkan untuk mengusik ruang pikir dan perspektif penonton, sang sutradara memilin semuanya dengan penggambaran kehidupan di masa Orde Baru (Orba), ketika kekuasaan menjadi semacam magnet pengumpul upeti, sogokan, hadiah-hadiah pelicin, dan sejenisnya. Kekuasaan adalah pengatur segalanya, harus ada yang dibuat tunduk dan patuh, termasuk dalam ihwal seksualitas.

Dalam alur saji “The Fox Exploits The Tiger’s Might”, simbol-simbol bertaburan mewakili concern yang ditampilkan. Pistol yang mewakili kekuasaan dan begitu diidam-idamkan, seragam SMP yang mewakili pubertas dan minimnya pendidikan seksual bahkan dalam lingkungan sekolah sekalipun, para pria tegap berpotongan rambut cepak dengan celana loreng-loreng militer yang tengah berlatih fisik maupun lembaran foto Eva Arnaz menyiratkan erotisisme, dan sebagainya. Lagi-lagi, tersirat penegasan bahwa seksualitas manusia itu beragam, unik, sangat personal, dan semestinya tidak disamaratakan dengan asumsi yang kaku nan buta.

Puncak konflik dari film berdurasi 20-an menit ini hadir dengan adegan yang mengejutkan. Ketika terjadi pembalikan posisi antar-individu, meskipun kemudian ditutup dengan adegan-adegan yang menunjukkan bahwa semua itu belum berakhir, pergulatan tetap terus terjadi. Entah giliran siapa yang jadi rubah dan harimaunya.

Secara pribadi, dari ketiganya, “The Fox Exploits The Tiger’s Might” adalah yang paling berkesan. Bikin teringat masa lalu, waktu masih kecil dan enggak paham kenapa ada orang berseragam datang ke rumah malam-malam setelah toko tutup, lalu ngebir bareng papa entah sampai jam berapa. Waktu masih ganjil-ganjilnya dengan self-handjob 😛 karena enggak sengaja baru tahu. Serta tentu saja sedikit tentang kecinaan saya,

“Kisah Cinta yang Asu”

Beberapa penonton yang sempat menyaksikan “Siti”, 23 Januari lalu, mengaku bisa merasakan atmosfer serupa dengan yang tersampaikan dalam film garapan Yosep Anggi Noen ini. Utamanya lewat detail-detail remeh, seperti tebaran dialog berbahasa Jawa, dan Pantai Parangkusumo di selatan Yogyakarta sebagai latar.

Terlepas dari itu, tidak sedikit penonton yang merasa terjebak dengan kerancuan peralihan kisah hidup Erik King (Yosep Anggi Noen) kala bersama Martha (Mila Rosinta), maupun Ning (Astri Kusumawardhani). Yang pasti, penonton paham bahwa keduanya adalah kekasih Erik sang anak motor berknalpot berisik tanpa penghidupan yang jelas, dalam hubungan yang berlangsung terpisah. Erik menjalani keduanya secara aji mumpung; tidak hanya memiliki pacar-pacar dengan wajah dan tubuh molek, kehidupan seksual yang aktif, memanfaatkan uang mereka, bahkan bersikap represif lantaran merasa lebih kuat secara kodrati.

Sikap aji mumpung makin memperberat posisi Erik sebagai lakon antagonis, lantaran Martha adalah pramusyahwat cosplay dengan “ruang kerja” di kamar-kamar hotel lumayan bonafide. Sedangkan Ning adalah gadis pencatat skor biliar, yang terkadang juga bisa melayani permintaan ngamar oleh konsumen kelas ecek-ecek dalam bilik semipermanen kendati tanpa aktivitas penetrasi sekalipun. Erik berkontribusi mengantar Martha ke hotel, maupun menjemput Ning pulang. Selebihnya, ia lebih peduli dengan motor RX King-nya. Setidaknya cuma itu yang digambarkan dalam film ini.

Source: YouTube

Cinta segitiga Erik-Martha-Ning ini kabur. Penonton tidak bisa memastikan hubungan mana yang lebih kuat. Pertemuan Erik dan Ning berlangsung cukup manis, tapi romantisme harian antara Erik dan Martha jauh lebih menonjol. Sampai akhirnya, drama antara Erik-Martha-Ning saling memuncak. Erik ingin mengukuhkan identitas dan posisinya sebagai figur dominan. Ning berhasil mematahkan maskulinitas Erik yang dilambangkan dengan motor kesayangannya, sebuah pembalasan. Sedangkan Martha tampil dalam emosi marah untuk pertama kalinya, serta mengumpat: “asu!” Setelah harga dirinya dilecehkan kekasih. Kisah cinta ini memang benar-benar asu, bagi mereka bertiga. Bedanya, Martha dan Ning bisa tetap hidup tanpa Erik. Tidak tahu sebaliknya. Kemenangan para wanita.

“Sendiri Diana Sendiri”

Di antara tiga judul, “Sendiri Diana Sendiri” adalah cerita yang paling mudah dicerna. Tema dan plotnya disajikan secara sederhana, linear, jelas, mudah dicerap. Yakni tentang seorang istri/ibu/wanita yang berhadapan dengan keinginan suaminya untuk berpoligami. Bukan mustahil, tidak sedikit penonton yang bisa mengidolakan tokoh utama dalam film garapan Kamila Andini ini.

Source: mubi.com

Diana (Raihaanun), istri dari Ari (Tanta Ginting). Seorang ibu rumah tangga dalam keluarga kelas menengah Jakarta yang tidak bekerja. Sehari-harinya dihabiskan untuk mengurus rumah dan sang buah hati, juga tak lepas dari BlackBerry berbungkus karet warna ungu terang.

Kehidupannya berjalan lancar dan biasa saja, sampai suatu malam Ari pulang dengan membawa presentasi Powerpoint tentang skema pembagian waktu antara dua rumah. Ya! Dengan cara yang absurd dan waddefak! banget, Ari mau menikah lagi, serta tidak ada satu adegan pun yang menunjukkan Ari meminta izin Diana. Luar biasanya, alih-alih panik dan histeris atau malah menyambut dengan gembira dan berseri-seri, Diana tetap bersikap tenang juga bijak. Ia mengkonfirmasi suaminya, berkomunikasi secara terbuka dengan kedua pasang orang tua, bahkan berani menemui calon madunya yang ternyata adalah teman semajelis pengajian dengan Ari.

Sejatinya, film ini menyampaikan pesan lama kepada semua wanita bahwa mereka punya hak sosial yang setara dengan para pria. Termasuk dalam sangkar pernikahan. Dengan ini, apabila pernikahan adalah buah pemikiran dan pertimbangan yang matang, maka begitu juga dengan perceraian yang dilakukan secara dewasa. Bukan yang asal emosional belaka, atau menggunakannya sebagai ancaman saja.

Tak bisa dimungkiri, doktrin purbakala yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk lemah dan pasti tidak bisa mandiri tetap mengakar kuat di masyarakat kita. Ditanamkan sejak kecil. Doktrin ini juga sering diamini oleh para pria, yang secara fisik maupun emosional menikmati superioritas gender. Sebagai bukti, sampai saat ini kita masih dapat dengan mudah menemukan wanita yang sebenarnya tertekan, dan sudah pantas menyuarakan keberatan pada suami. Akan tetapi, dengan berbagai alasan-alasan klasik; khawatir dengan tumbuh kembang si anak, tidak punya keterampilan untuk berpenghasilan sendiri, takut malu dengan omongan orang, takut kesepian serta rindu belaian, masih sayang, sampai alasan absurd seperti takdir untuk bersuami pria berkepribadian kacrut, para wanita tersebut enggan berpisah dan mengikhlaskan diri untuk terus makan hati.

Polemik-polemik sosial seperti itu juga dialami Diana. Dia yang seharusnya mendapat dukungan dari orang tua serta mertua, malah diminta untuk bersabar dan meningkatkan perhatian kepada sang suami. Seolah-olah sikap Dianalah yang membuat Ari ingin menikah lagi. Pada bagian ini, sang sutradara berhasil membuat penonton geregetan, karena sama sekali dibuat tidak tahu apa alasan Ari ingin berpoligami.

“Sendiri Diana Sendiri” ditutup dengan dialog yang menghangatkan hati antara Diana dan Rifki (Panji Rafenda Putra), putranya.

 

Kan selama ini, kita memang cuma berdua…


Jelas enggak bakal bisa nonton film-film ini, kalau bukan dalam event khusus seperti Festival Film Samarinda 2016.

[]

A Copy of My Mind

LANGSUNG saja. This movie left me with mixed feelings. After some warm scenes, got quite aroused (in an aesthetical manner, anyway), and remained heartbroken at last. Film ini patut dipujikan.

Barangkali sebuah kebetulan yang pas. Sehari sebelum “A Copy of My Mind” tayang secara komersial, akhirnya berkesempatan menonton “Selamat Pagi, Malam” (2014) untuk pertama kali dalam weekly screening Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016. Film karya Lucky Kuswandi itu tidak kebagian layar di Samarinda saat dirilis dua tahun lalu. Ternyata, kesan dan suasana yang disuguhkan keduanya sangat tuned in. Terutama tentang penggambaran Jakarta yang sangat realistis dan apa adanya sebagai latar belakang, sama-sama menyenangkan dan seketika jadi daya tarik yang kuat. Ekspektasi positif ketika menonton “A Copy of My Mind” pun tumbuh sejak belasan menit awal film diputar.

Begitupun setelah penonton “diperkenalkan” dengan Sari (Tara Basro), lakon yang dibuat begitu biasa dan bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sari yang berkulit cokelat, seorang pekerja di salon kelas menengah Jakarta. Hobi menonton DVD bajakan sambil makan mi. Ia terlihat mampu menikmati setiap momen dalam perjalanan pulangnya ke kompleks indekos berpenghuni seratusan orang.

Semua dari Sari begitu mudah diakrabi. Dari gaya kesehariannya, sampai lekuk berpeluh kala bangun tidur dalam ruangan tanpa pendingin udara. Termasuk satu hal yang bikin agak geli: cara jalannya. Benar-benar dibikin kayak cewek yang socially clueless, atau barangkali Joko Anwar punya penjelasan tersendiri tentang ini.

Meskipun begitu, tetap saja ada banyak bagian dalam “A Copy of My Mind” yang menampilkan pesona seorang Tara Basro. Terlebih saat bersama Alek (Chicco Jerikho). I’d call it the Majestic Unison.

Karena ini, sampai beberapa kali nyeletuk kalau Tara dan Chicco benar-benar cocok jadi pasangan benaran. 😛

Source: Twitter

Bagi saya, sang sutradara berhasil menyuguhkan adegan terseksi yang estetis, bukan saru, dalam riwayat menonton film Indonesia sejauh ini.

Agak berbeda dengan lakon Sari, sosok Alek terkesan Chicco banget seperti yang selama ini ditemui dalam beberapa filmnya. Entah karena pembawaan dan karakter lakon, atau gara-gara rambut gondrongnya, tokoh Alek mengingatkan dengan Ben dalam “Filosofi Kopi” (juga interior lantai dasar rumah kontrakannya) namun lebih minim kata-kata, rough, muncul dengan aura alpha male yang kuat, apalagi ditambah tampilan toned body.

Persinggungan antara kehidupan Sari dan Alek boleh dibilang merupakan nyawa film ini, lengkap dengan drama cerita yang baru memuncak pada tiga per empat bagian akhir. Selebihnya, sebaran detail remeh dalam keseharian warga Jakarta yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kisah Sari-Alek juga mendominasi, pun lengkap dengan keapa-adannya. Percakapan dengan kalimat-kalimat yang lazim kita dengar di tempat umum, efek suara dari beragam aktivitas termasuk musik jalanan, gambar-gambar yang sepertinya diambil tanpa peredam guncangan, pandangan mata para figuran yang kerap menatap ke kamera secara sengaja maupun tidak, dan sebagainya. Realistis.

Bagi sebagian orang, detail-detail tersebut menjadi kelebihan atau keistimewaan “A Copy of My Mind” sebagai sebuah film fiksi yang bukan artsy movie. Tetapi bagi sebagian lainnya, penggambaran Jakarta yang apa adanya di film ini kerap terkesan agak prolonged pada beberapa bagian. Berasa kurang perlu dan agak diulur panjangnya. Tidak sampai mengganggu sih, cuma bisa teracuhkan. Mubazir durasi dan berisiko memunculkan kebosanan. Terlepas dari itu, tak bisa dibantah bila “A Copy of My Mind” menggambarkan kejujuran yang sederhana dan disampaikan dengan tenang, yang relatable dengan kehidupan sebagian besar orang Indonesia, walaupun berada di luar Jakarta.

Omong-omong, agak iri dengan teman-teman di Jakarta yang sempat menonton original cut dari “A Copy of My Mind”. Soalnya dengan versi sensor, sedikit banyaknya terasa ada yang dirampas dari kenyamanan audiovisual. Tapi ya sudahlah, masih syukur tayang di Samarinda. 😀

[]

Siti

KETIKA putih dan hitam berpadu, lahirlah abu-abu. Warna ketiga yang berada di antara keduanya. Kerap ambigu. Kadang terlalu cerah. Tak jarang terlampau suram.

Hanya ada tiga warna ini dalam kehidupan Siti, istri seorang nelayan yang tinggal tak jauh dari Parangtritis, Bantul bersama suami, mertua, dan seorang putranya. Namun ia sudah tidak ambil pusing soal mana yang benar-benar putih dan hitam, mana yang dianggap terang dan gelap. Dalam tubuh kurus dengan tonjolan tulang-tulang, yang Siti pedulikan adalah janji, tanggung jawab, dan cinta. Tiga hal yang menjadi sumber kekuatan dan pergumulannya menjalani hidup, sebagai seorang ibu, istri, dan tentu saja sebagai seorang… Siti.

Gambaran ini yang diangkat Eddie Cahyono dalam film terbarunya: “Siti”, judul karya yang berhasil meraih predikat film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015, dan telah menjalani serangkaian jadwal pemutaran di banyak festival film bergengsi dunia sejak tahun lalu.

Mengutip Mas Nauval, seorang teman;

Dari puluhan festival internasional yang sudah memutar film ini, salah satu festival yang memutarnya adalah Telluride Film Fest di Colorado. Susah sekali tembus festival ini. Soalnya Telluride didominasi film-film Hollywood yang diproyeksikan unggul di awards season. Tapi ‘Siti’ bisa tembus.

Atas pencapaiannya itu, baru hari ini (28/1) “Siti” ditayangkan secara komersial oleh jaringan bioskop-bioskop beberapa kota Indonesia.

Samarinda memang tidak kebagian layar–lantaran keterbatasan sumber daya, katanya. Beruntung “Siti” berhasil dibawa ke kota ini sebagai film pembuka Festival Film Samarinda (FFSMR) perdana yang diselenggarakan tim Undas.Co, Sabtu (23/1) pekan lalu dengan empat kali penayangan plus satu sesi diskusi bersama sang sutradara.

Meski mengusung gelar film terbaik FFI 2015 dan sederet pengakuan lainnya, pada dasarnya “Siti” adalah karya seni yang sederhana. Tak sukar bagi penikmat awam untuk tercerap dalam secuplik kisah hidup Siti yang dramatis, yang rentang waktunya hanya sekitar tiga hari-tiga malam. Apalagi film ini ditampilkan dengan rona monokromatis, alias hanya hitam putih (dan abu-abu), dan sukses mengunci perhatian penonton sampai akhirnya menyisakan kesan yang kuat.

Source: viff.org

Dalam rentang waktu tiga hari, rentetan peristiwa hidup Siti disuguhkan dengan mengundang rasa penasaran dan simpati secara bersamaan. Saat ia menangani putranya yang mbethik dengan segala polah tingkah; saat ia terpaksa harus kucing-kucingan dengan penagih utang; saat ia berusaha sabar dengan suaminya, untuk kemudian malah kembali kesal dan lelah menanggung rindu; saat ia menjadi penjual rempeyek kepiting; saat ia bekerja di tempat karaoke kelas kambing; maupun saat ia bimbang dengan isi hatinya sendiri.

Tanpa drama yang terlampau mewah, kisah Siti begitu “memesona”. Tak perlu kalimat-kalimat cantik, cerita ini begitu mudah diakrabi. Bahkan menjadi cukup asyik dengan dialog-dialog bahasa Jawa tutur yang berlimpah, serta detail-detail yang sejatinya remeh tapi begitu memikat tanpa menjadi distraksi. Sampai akhirnya perasaan penonton dibuat seperti air soda botolan, yang dikocok kemudian tumpah berhamburan tetapi hambar tanpa rasa, dengan adegan klimaks tak jauh dari akhir cerita. Bagian yang–kemungkinan besar–selalu ditanyakan kepada sang sutradara dalam setiap sesi diskusi maupun wawancara.

Akan tetapi, ending “Siti” justru akan melengkapi film berdurasi 88 menit ini sebagai karya audiovisual yang sangat puitis, bila dibiarkan begitu saja tanpa interpretasi yang gamblang. Menyisakan satu pertanyaan tunggal yang tidak harus digenapi dengan jawaban: “terus, Siti-nya bagaimana?

Pada akhirnya, “Siti” bisa menjadi perwujudan dari tiga hal sekaligus:

  1. Menjadi sebuah tontonan yang menghibur, fitrahnya sebagai sebuah film;
  2. Sebagai bentuk karya seni yang idealistis, ekspresif, dan tentu saja artistik dari Eddie Cahyono dan tim produksi, serta bisa banget dijadikan inspirasi para penggiat perfilman nasional luar Jakarta untuk terus mengeksplorasi kemampuan; dan
  3. Menjadi selembar potret unik tentang kondisi sosiologis umum pada masyarakat Indonesia, sebagai sebuah observatorium raksasa.

Terima kasih, sudah mampir di Samarinda.

[]

Spectre

AKHIRNYA, setelah rangkaian plot yang seolah tidak saling berhubungan dan mengorbit di semestanya masing-masing, mulai “Casino Royale” (2006), “Quantum of Solace” (2008), dan “Skyfall” (2012), “Spectre” yang tayang perdana Jumat (6/11) lalu berhasil merajut semua benang merah menjadi satu. Secara sederhana, bisa dibilang film kedua tentang agen rahasia Inggris berkode 007 besutan Sam Mendes ini, berhasil menjadi muara semua konflik yang telah terjadi. Jelas bukan sebuah kebetulan pula, “Spectre” menyajikan akhir petualangan Daniel Craig sebagai James Bond.

Film dengan durasi lebih dari dua jam ini memang menuai respons beragam. Komentar-komentar negatif terus mengalir di media sosial setelah penayangan terbatas di Jakarta, Kamis (5/11) malam lalu mengenai banyak hal. Dari yang paling sepele, sampai kurangnya kesan gereget yang tertinggal di benak undangan. Bahkan jauh sebelum itu, cemooh internasional terus dilancarkan hingga kini. Namun bagi saya–yang terlampau fokus pada alur cerita, “Spectre” tersaji sebagai hasil paduan yang pas. Entah, mungkin frame of reference-nya saya doang yang cetek. 😛

Seperti biasa, layaknya film-film James Bond lain yang dibintangi Daniel Craig, “Spectre” diawali dengan deretan aksi yang gila. Lokasi yang terpilih kali ini adalah Mexico City, dengan Festival Orang-orang Mati sebagai latarnya. Kegilaan pertama dalam film ini ditampilkan dalam adegan udara, ketika James Bond berkelahi dengan gaya khasnya yang brutal dalam sebuah helikopter di atas belasan hingga puluhan ribu manusia. Bagian itu mengantarkan James Bond masuk dan bersentuhan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dibanding musuh-musuh utamanya selama ini, termasuk yang menyebabkan tewasnya M (Judi Dench) dalam “Skyfall”, dan membuat figurnya digantikan Ralph Fiennes.

Source: wired.com

Ornamen-ornamen konflik terus ditambahkan di sepanjang film, meskipun pada beberapa bagian terasa tidak terlampau perlu dan dapat dihilangkan tanpa mencederai cerita. Di “Skyfall”, kita ingat tentang silang pendapat antara MI6–organisasi intelijen yang menaungi James Bond serta para agen dengan kode 00 lainnya–dan pemerintah Inggris. Begitupun di “Spectre”, aksi James Bond di Meksiko membuatnya harus disanksi sang bos. Bagian menariknya justru ada pada alasan di balik aksi tersebut, yang saking kuatnya sampai-sampai membuat James Bond mampu menyusun tim internalnya sendiri. Ya sih, mirip-mirip dua “Mission Impossible” terakhir.

Pasti ya, dalam upaya James Bond menyelidiki, menguak, dan menyelesaikan musuh utamanya diwarnai interaksi dengan sejumlah wanita. The Bond Girls. Mereka adalah Lucia Sciarra (Monica Bellucci), dan Madeleine Swann (Lea Seydoux) yang sebenarnya secara tak langsung telah terhubung dengan James Bond sejak era “Casino Royale”, dan “Quantum of Solace”.

Anyway, sejak pertama kali berperan sebagai James Bond, penampilan Daniel Craig memang fluktuatif. Namun hal itu bisa juga dilihat sebagai evolusi peran. Di “Casino Royale” misalnya, sang James Bond terkesan lebih serampangan, asal hajar, bahkan tidak peduli Vodka Martini diracik pakai metode apa. Lalu dalam “Skyfall”, sang agen rahasia harus memulihkan diri dan batinnya, untuk kemudian kembali diganggu dengan hantu dari masa lalunya. Sedangkan dalam “Spectre”, muncul kesan bahwa James Bond sudah jauh lebih santai dalam menjalankan misinya, dan benar-benar siap untuk pensiun. Bagi sebagian penonton yang kecewa dengan film ini, mereka menyebut perubahan tersebut sebagai bentuk inkonsistensi. Bagi saya, justru asyik-asyik saja melihat Daniel Craig yang sangat peduli fashion dengan beragam objek dari Tom Ford, dan santai mengisi hari-harinya dengan keindahan.

Ditambah lagi dengan lakon Q yang jauh lebih ceriwis, tetapi dengan peralatan berteknologi canggih yang minim; lakon Moneypenny yang seolah kembali berperan sebagai penunjang aktif aksi James Bond; serta M yang kaku, pasrah dengan konflik antara pemerintah dan lembaga intelijen yang dipimpinnya. Kendati demikian, peran Q, Moneypenny, dan M tetap mampu memeriahkan cerita. Keceriwisan Q membuatnya lebih humoris, serta menjadi rekan yang efektif dan efisien bagi sang jagoan. Pun M, yang menjelang pengujung cerita kebagian “jatah” menghajar penjahat.

Sementara itu, kehadiran tokoh-tokoh lain seperti Dave Bautista yang sangar, Andrew Scott yang mencurigakan sejak awal, terlebih Christoph Waltz sang musuh utama yang pertama kali mencuat dengan gegap gempita yang hening, menjadi komponen penting dalam film berbujet gede ini. Bujet besar, jadi wajar dong kalau ledakan besar di mana-mana, pilihan lokasi yang barangkali bakal masuk bucket list banyak orang dalam waktu dekat, dan sebagainya.

Akan tetapi, tetap ada satu hal yang tak terbantahkan ketidakjelasannya: “Writing’s on The Wall”, lagu tema yang dibawakan Sam Smith. Ndakjelas!

[]