Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti. 🙂

Advertisements

Tren “Hipster Market” di Samarinda

ACARA–yang kerap disebut–hipster market di Samarinda baru pertama kali ada pada awal 2015 lalu. Entah apakah istilah tersebut tepat atau tidak, namun pastinya semangat yang diusung sama. Yakni upaya kaum muda meningkatkan eksistensi, melalui geliat industri kreatif berupa karya kriya di berbagai sektor.

Dimulai oleh Fascinating Summerinda, dan berlanjut dengan sejumlah event lain selama sepanjang tahun. Kondisi ini terus mengalami perubahan tren sampai sekarang, menghadirkan pop-up markets tematik maupun dalam rangka memeriahkan peringatan tertentu.

Iseng berandai-andai, saya sempat menulis tentang ini untuk Undas.co Mei tahun lalu, saat event beginian masih gres-gresnya.


Terhitung sejak awal tahun hingga artikel ini tersaji di hadapan kamu semua, setidaknya sudah ada tiga event hipster market terselenggara di Samarinda. Diawali dengan Fascinating Summerinda (Februari), Samarinda Street Fest (Maret), dan Imaginarium (Mei).

Ketiganya memang tampil dengan penyelenggara, nama dan sub konsep, serta tujuan utama yang berbeda. Namun pada dasarnya berangkat dari ide yang sama: bazar yang hipster. Ciri-cirinya adalah barang-barang dagangan yang tidak/belum dijual di toko-toko konvensional (hipster commodities) sekaligus memperkenalkan produk kreatif lokal, menciptakan suasana yang unik (hipster ambience) dan cocok mendapat predikat happening, yang diharapkan mampu menarik perhatian serta menghimpun berbagai kalangan tersegmentasi (hipster peoples and communities) baik penjual maupun pembeli. Selain itu, juga terdapat kesamaan metode promosi pra dan saat acara berlangsung, serta kesamaan beberapa hal teknis lain. Selebihnya, event-event tersebut sama-sama merupakan pertaruhan, uji pembuktian kreativitas dan reputasi panitia.

Semarak? Tentu saja.

Mengesankan? Tergantung pada pengalaman masing-masing pengunjung.

Berhasil? Kembali pada hasil evaluasi masing-masing penyelenggara.

Silakan koreksi pernyataan ini. Hanya satu dari tiga event di atas yang dianggap benar-benar berhasil, dalam artian menghebohkan dan mengundang rasa penasaran serta partisipasi banyak pihak, menghadirkan acara yang benar-benar baru di kota ini, terus diperbincangan dalam waktu cukup lama setelah usai, relatif bersahabat dengan isi dompet pengunjung, dan konon katanya tidak merugi. Bahkan akhirnya mendorong banyak kelompok anak muda lain untuk membuat gelaran serupa, yang risikonya bakal membuat event-event semacam ini kehilangan geregetnya karena terlampau sering diadakan.

Fascinating Summerinda merupakan event pertama, pionir sektor ini di Samarinda. Penyelenggaranya bukan kumpulan banyak orang, namun menjadi satu di bawah label Market Venue Indonesia (Mave ID) dengan empat cewek asli Samarinda yang berkuliah di Australia. Kuat terasa, pelaksanaan Fascinating Summerinda berada di batas antara berani dan nekat. Berani karena memerlukan modal cukup besar dan benar-benar memperkenalkan hal baru, nekat karena tidak dibarengi dengan kekuatan jaringan untuk menggandeng vendor serta pihak-pihak terlibat lainnya, dan tidak mengantisipasi pergeseran konsep dengan eksekusi di lapangan. Keberhasilan penyelenggaraan Fascinating Summerinda ada di area stan makanan, dengan rombongan konsumen yang memborong habis aneka kudapan.

Source: Twitter @FelixJsn

Dari sisi pembiayaan awal, kabarnya panitia Samarinda Street Fest benar-benar mengerahkan semua daya yang ada, sehingga modal yang digelontorkan tidak terlampau besar. Panitia sangat terbantu dengan keterlibatan banyak pihak untuk memeriahkan acara ini. Sayangnya, saking tidak fleksibelnya dana yang tersedia, akhirnya merembet pada hal-hal teknis. Seperti kualitas tata suara yang kurang maksimal, yang membuat penampilan sukarela para pengisi acara kurang bisa terapresiasi. Meskipun begitu, kuatnya jaringan dan referensi kreatif tim panitia membuat acara ini menyedot perhatian kaum muda Samarinda. Mulai stan jasa pembersihan sepatu hingga kafe melibatkan diri. Rundown yang atraktif pun membuat pengunjung betah nongkrong. Kombinasi semua itu meludeskan kuota pengunjung harian, yang membuat banyak orang makin penasaran untuk datang. Sukses menjadi buah bibir, harusnya juga dibarengi dengan kesuksesan di hasil akhir.

Source: Twitter @TepianTV

Acara terakhir adalah Imaginarium. Sayang, passion dalam penyelenggaraannya kalah kuat dibandingkan kesan untuk menunaikan tanggung jawab. Maklum, Imaginarium diadakan sebagai tugas akhir mata kuliah. Panitia memang telah berupaya sekuat tenaga agar kegiatan ini berjalan dengan baik, namun saat datang dan mencoba terjun merasakan suasananya, ada antusiasme yang hilang. Di titik akhir, setidaknya Imaginarium membuahkan nilai yang terbaik dan mata kuliah yang tuntas.

Imaginarium. Source: Undas.co

Dipastikan bakal ada banyak event serupa lainnya di masa mendatang, apalagi trennya masih cukup santer dan sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itu, akan jauh lebih baik bila para penyelenggara berikutnya mampu berkaca dari pelaksanaan yang sudah-sudah, agar dapat menghindari kesalahan serta meningkatkan pencapaian.

Setidaknya, ada beberapa hal yang tercetus saat membahas soal ini. Berikut beberapa di antaranya.

  1. Beyond Creative

Kreativitas tak mengenal batas, bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan sekalipun baik dalam perencanaan, promosi menjelang pelaksanaan, sampai pada saat acara berlangsung. Syukur-syukur bila tim panitia punya ide orisinal untuk dilakukan, yang bisa membuat acaranya berbeda dari event-event lainnya. Namun jika belum, tidak diharamkan belajar atau mendulang inspirasi dari gelaran serupa di daerah lain. Ada Market Museum, Brightspot Market, Jakarta Fashion and Food Festival, Eat Art Loud, dan lainnya di Jakarta. Ada pula Basha Market juga IdeArt ITS di Surabaya. Belum lagi bazar-bazar hipster lain di Yogyakarta, Denpasar, Bandung, dan kota lainnya. Bagi anak-anak muda gaul yang rajin bertandang ke Jakarta, mungkin acara-acara di Samarinda terasa biasa. Akan tetapi bagi anak-anak muda Samarinda, bisa jadi terasa luar biasa.

Contoh: apa yang terlintas dalam pikiran kamu begitu mendengar tajuk “CreatiFest Goes to School”, “Shanghai Night Bazaar”, atau “Pasar Malam Terapung”?

  1. “Die Hard” Team

Hanya berakhir menjadi teori, apabila gagasan-gagasan kreatif tidak didukung sekumpulan orang yang memiliki semangat dan kegilaan yang sama. Tanpa bubuhannya, silakan catat semua ide kreatif dan simpan baik-baik. Kecuali kalau kamu berani nekat mengorbankan waktu, tenaga, uang untuk sesuatu yang dibuat sendirian, silakan. Dalam hal ini, harap dibedakan antara tim dan pekerja. Tim memiliki kesamaan visi dan misi, berani bersikap menangani masalah. Sedangkan pekerja, hanya terikat kontrak dan jasa dengan imbalan upah. Sebagai ilustrasi, Mave ID terdiri dari empat cewek asli Samarinda. Panitia Samarinda Street Fest adalah orang-orang yang dikumpulkan berdasarkan komitmen untuk “bermain” bersama-sama. Bahkan founder Basha Market di Surabaya yang penyelenggaraannya terbilang sukses banget, hanya terdiri dari dua cewek seperti yang sempat dibaca di harian Jawa Pos entah edisi kapan. Lupa.

Lain cerita, apabila kamu hanya sendirian namun sukses menyelenggarakan sesuatu, itu berarti kamu adalah manajer yang andal.

  1. Cutting Edge Promotion

Sejauh ini, promosi hipster event di Indonesia terpusat pada media sosial, terutama Instagram yang berbasis foto maupun gambar. Efisiensinya pun belum ada lawan, karena nyaris gratis. Pamornya masih bertahan, sebagai simbol tingkat gaul seseorang. Efektivitasnya tak terbantahkan, setidaknya sampai masyarakat mulai bosan mendapatkan promosi yang membanjiri layar gawainya. Ingat, tidak semua tim memiliki graphic designer yang jago, dengan selera yang elegan. Tidak semua desain poster dan logo kegiatan mampu menarik simpati. Jika sudah begini, jangan ragu untuk melangkah pada media berikutnya. Bisa gunakan YouTube untuk mengeksplorasi media promosi berupa video atraksi. Atau bisa juga melakukan happening art, yang meskipun sampai sejauh ini masih kerap membuat orang kebingungan, namun setidaknya tetap dapat menarik perhatian. Yang jadi perhatian utama adalah konsep, ide, dan biaya.

  1. Consistency

Nama, desain, dan konsep yang keren mampu membangkitkan imajinasi dan ketertarikan calon pengunjung. Namun bila dalam pelaksanaannya  meleset, bakal berat di gaya doang. Rencananya ingin menyelenggarakan event yang mengangkat produk lokal, namun jatuhnya malah seperti pameran biasa yang diadakan dalam rangka peringatan hari jadi instansi pemerintahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti:

  • Tinggalkan penggunaan sekat-sekat kecil berdinding putih yang kerap digunakan dalam pameran pemerintahan. Bebaskan para vendor untuk berkreasi.
  • Seleksi calon penyewa stan dengan benar. Menurut kamu, apakah jasa mengasah batu akik masuk dalam kategori bisnis hipster?
  • Ramu tajuk kegiatan menjadi konsep utama. Penyelenggaraan pun sebaiknya mengacu pada konsep utama tersebut. Izinkan saya mengangkat Imaginarium sebagai contoh. Disebutkan bahwa Imaginarium merupakan gabungan dari kata “imagine” (entah kenapa menggunakan kata kerja ketimbang kata benda, “imagination”) dan “aquarium”. Namun mengapa panitia tidak sekalian menghadirkan kesan akuarium imajiner di lokasi acara? Menggunakan plastik bening sebagai sekat antara stan; menyusunnya jadi labirin tembus pandang, memanfaatkan barang-barang bekas sebagai ornamen; mengeliminasi stan-stan yang kosong serta mengubahnya menjadi pojok selfie; memanfaatkan panggung bukan sebagai panggung; dan sebagainya.
  • Apakah ide-ide di atas terasa membingungkan, dan mustahil untuk dilaksanakan? Itulah tujuannya mengapa panitia terdiri dari banyak orang; agar bisa saling mengerahkan pikiran dan berupaya sekreatif mungkin memanfaatkan keadaan.
  • Seleksi mata acara dan pengisinya. Jangan tanggung bila ingin hipster. Pernah berpikir mengkolaborasi penampilan komunitas akustik dengan barang bekas dan kelompok pemain biola? Atau menampilkan musisi Tingkilan maupun petikan Sampeq dengan DJ? Mungkin kebayangnya aneh, tapi itu kan baru dalam bayangan.
  1. Precision & Anticipation

Baik memperhitungkan biaya, waktu, dan dampak. Soal biaya, jangan terlalu ketat namun jangan sampai kelewat kendur. Perhitungkan juga harga produk yang dipasarkan para vendor, dengan daya beli pengunjung. Patokannya, apakah pengunjung event bersedia mengeluarkan lebih dari Rp 1 juta untuk arloji berbahan kayu? Di pulau Jawa, produk itu sedang booming dan menjadi salah satu simbol hipsterism. Apakah begitu pula di Samarinda? Sedangkan urusan waktu, akan lebih baik bila diberi durasi antaracara. Apabila setiap bulan berlangsung event dan tanpa gebrakan apa-apa, bakal membosankan dan menghilangkan minat. Memunculkan celetukan: “halah, paling isinya gitu-gitu aja.

Terakhir adalah soal dampak, yakni seberapa besar acara yang diselenggarakan mampu mendorong anak muda lain untuk lebih kreatif, lebih berani berekspresi, dan lebih keren dari pendahulunya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari efek yang ditinggalkan. Menginspirasi, bila boleh dikatakan demikian.

  1. Innovative

Selain jualan dan menampilkan hiburan, tidak ada salahnya menghadirkan side event yang bisa memperluas wawasan, memberi “oleh-oleh” kemampuan bagi para pengunjung. Boleh hadirkan kelas-kelas keterampilan kekinian maupun klasik. Misalnya kelas tentang teknik memotret dengan ponsel untuk kepentingan posting di Instagram, minimal agar makanan yang difoto terlihat lebih indah. Ada pula kelas tentang lettering yang sedang ngetren saat ini. Di ranah klasik, ada kelas Origami, membuat pesawat kertas, bahkan sampai kelas kerajinan manik maupun merajut.

  1. Bravery & Trust

Penting untuk berani mencoba, dan tidak gampang dijatuhkan dengan komentar negatif orang lain. Jangan salah, tetap ada yang menyebut acara hipster di Samarinda enggak jauh beda dibanding pasar malam yang menjual banyak barang. Setidaknya, walaupun kita dianggap latah dan hanya bisa ikut-ikutan, lebih baik ketimbang diam dan cuma bisa ngata-ngatain orang tanpa berupaya menghasilkan kemajuan apa-apa.


Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini? Nanti, masih ngumpulin mood buat nulis. 🙂

[]

 

Apa Kabar Samarinda Setelah Era Tambang?

KONON kata orang, lebih mudah membangun dan mendapatkan, ketimbang menjaga dan mempertahankan. Begitu pula sebaliknya. Lebih mudah kebingungan dan menyerah, ketimbang berupaya apa saja. Minimal dengan berpikir lebih keras, mencari ide serta alternatif solusi untuk menghadapi masalah yang ada. Bukan menyerah, atau malah pindah.

Barangkali situasi itu yang sedang terjadi di Samarinda. Terutama sejak sektor pertambangan batu bara melesu dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Seperti makan langsat. Segarnya rasa daging buah terlampau cepat hilang dalam mulut, kemudian malah kegigit bijinya yang pahit. Belum lagi berlepotan kena getah. Seperti itulah kondisinya, seakan mendadak yang tersisa dari bisnis “emas hitam” tersebut cuma segudang masalah.

Penurunan permintaan ekspor yang signifikan dari sejumlah negara, disusul anjloknya harga batu bara di pasar internasional menjadi pukulan ganda bagi sub sektor pertambangan ini. Yang mampu bertahan hanyalah perusahaan-perusahaan besar, itu pun mulai ada yang menawarkan pensiun dini kepada para pekerjanya. Sedangkan perusahaan tambang kelas mediocre, termasuk yang mengumpulkan batu bara karungan terpaksa putar arah. Rugi banyak.

Dampaknya tidak sekadar dirasakan pelaku bisnis dan struktur korporasinya semata. Perubahan signifikan itu juga berpengaruh pada perilaku dan gaya hidup kebanyakan orang Samarinda. Termasuk para pelaku bisnis sektor lain. Dimulai dari titik pertama: kaum muda.

Tidak sedikit orang tua yang memproyeksikan anak-anaknya bekerja sebagai pekerja tambang, baik yang bertugas di lapangan maupun di kantor manajemen. Tujuannya lumayan standar, yakni agar sang anak bisa mendapat penghasilan relatif besar dibanding pekerjaan-pekerjaan lain di kota ini. Lalu, asumsikan saja cita-cita itu tercapai, dan sang anak sudah terbiasa dengan hidupnya yangfinancially secured. Kemapanan itu membuatnya agak royal, dan selalu optimistis bahwa masa depannya bakal aman. Perputaran uang berlangsung cepat. Sampai akhirnya resesi menghantam lini bisnis pertambangan batu bara, dan sang anak tadi harus kembali menyesuaikan gaya hidupnya dengan penghasilan yang diterima. Terlebih kalau dia sudah menikah, dengan perempuan yang juga kadung terbiasa dalam gaya hidup warga kelas menengah. Dari mampu berbelanja busana empat kali sebulan, harus dikurangi separuhnya. Angka daya beli di mal dan pusat perbelanjaan lainnya pun terpengaruh. Berbeda ceritanya kalau sang anak doyan menabung atau berinvestasi lewat instrumen yang lain, atau sudah terbiasa bergaya hidup sederhana. Penghasilannya selama menjadi bagian dari perusahaan tambang akan lebih terjaga. Hanya saja, lebih banyak orang yang kaget saat terima uang dalam jumlah yang belum pernah diperoleh sebelumnya.

Perubahan pola konsumsi tentu juga berimbas pada pergerakan ekonomi di kota ini. Coba saja masuk ke kelab malam saat weekdays, terkesan lebih sepi dibanding sebelumnya. Bukan lantaran ditinggal pelanggannya, namun karena banyak konsumen dengan isi kantong yang berkurang dari biasanya. Ladies Night? Memangnya masih ngefek? Kalau begini, investasi yang sudah digelontorkan si empunya bisnis pun lebih lamban menuju BEP.

Toh, tipikal orang-orang daerah yang kaya karena produk ekstraksi, mereka memang punya sumber daya yang cukup banyak untuk dibelanjakan, sayangnya kerap tidak dibarengi persepsi yang pas (baca: selera) dalam pemakaiannya. Terkesan kaget begitu memperoleh uang yang cukup banyak, dengan cara yang relatif lebih “santai” dibanding penghasilan profesi-profesi lainnya. Namun ini hanya asumsi, bukan konklusi kok. Sebab barangkali gara-gara lesunya pasar batu bara, banyak yang mulai “nyadar“.

Itu baru dari sisi manusia dan perilaku konsumsinya. Sementara pada aspek lingkungan, sisa-sisa pertambangan batu bara menyisakan lubang raksasa bermalih rupa menjadi danau dan telaga. Lahan-lahan pertambangan telanjur gundul, dan makin tandus gara-gara janji reboisasi atau revegetasi yang ndak jelas efektivitasnya. Belum lagi hilangnya daerah resapan air, yang menyebabkan dan memperparah banjir di banyak titik Kota Samarinda. Bukan hanya itu, aliran air hujan juga mengerosi tanah lahan, menyebabkan sedimentasi yang selalu jadi musuh bersama setiap kerja bakti. Kegiatan sosial kemasyarakatan yang kian lama kian tidak diminati warga untuk berpartisipasi. Paling parahnya, lubang tambang yang tidak direklamasi maupun diberi pengaman, menelan korban jiwa.

Salah satu kolam bekas tambang. Source: tribunnews.com

Sekarang apa yang terjadi? Saling menyalahkan, lempar-lemparan argumentasi dan tuntutan, sok prihatin, desakan untuk membuat peraturan baru (yang boleh dibilang agak telat), serta hal-hal tak berfaedah lainnya. Bisa dibaca di koran-koran lokal Samarinda. Mahasiswa dan kelompok LSM berunjuk rasa, menyalahkan pihak perusahaan tambang yang dianggap serampangan mengelola bekas lahan konsesinya; juga mencaci pemerintah yang mereka sebut mengeluarkan izin, tidak becus melakukan pengawasan saat pertambangan berlangsung, dituding kongkalikong dengan pihak perusahaan, tidak tanggap bencana korban tenggelam di kolam tambang, tidak becus bersikap menghadapi pengusaha yang lalai, serta beragam argumentasi lainnya.

Di posisi pemerintah, tentu menyampaikan pembelaan. Isinya kurang lebih bisa ditebak; belasungkawa dan juga merasa marah atas insiden yang terjadi; pemerintah sudah berupaya maksimal namun tidak didukung dengan personel dan anggaran, pemerintah berjanji akan menindak tegas dan menyikapi kondisi yang terjadi dengan seksama demi menghindari korban berikutnya, pemerintah juga berjanji berupaya maksimal ke pemerintah provinsi maupun kementerian agar membatasi bahkan menghentikan sektor bisnis ini; dan seterusnya. Tidak ketinggalan, anggota dewan pun ikut menyalahkan pemerintah atas kinerja instansi terkait yang diklaim berantakan. Padahal publik tidak tahu, apakah amarah itu disampaikan dengan tulus dan apa adanya, atau sebenarnya sudah ada apa-apa di baliknya.

Di posisi perusahaan, jawaban yang diberikan normatif. Paling banter adalah beri santunan dan janji pemberian tali asih lainnya. Itu pun kalau wakil manajemen perusahaannya masih ada, atau masih bisa ditemui/dihubungi.

Sehebat apa pun perdebatan yang terjadi, para korban jiwa tak bisa dihidupkan kembali.

and then, what should we do?

Banyak dari Kamu pasti pernah mendengar analogi nasi dan bubur, dalam tausiah seorang ustaz kondang di negeri ini. Kurang lebih disampaikannya, “bila nasi sudah menjadi bubur, meratap, menangis, marah, mengumpat, dan sebagainya pasti tidak akan bisa membuatnya kembali menjadi nasi. Namun sekarang yang bisa kita lakukan adalah menambahkan kacang, suwir ayam, dan kerupuk, supaya buburnya jadi lebih enak,” begitu, kan?

Tanpa bermaksud membela pihak mana pun, atau supaya terdengar terlampau positif, namun prinsip serupa setidaknya bisa dilakukan terhadap sisa-sisa geliat sub sektor ekonomi ini.

Ada beberapa sudut pandang yang bisa diambil mengenai ini.

Sumber Daya

Sebagai kekayaan alam, batu bara adalah sumber energi yang tidak terbarukan. Karena sifatnya yang sangat terbatas, maka pemerintah wajib memprioritaskan penggunaannya.

Salah satu contohnya, mekanisme pembangkit daya listrik di Kaltim secara umum, mengalami pergeseran tren yang niscaya akhir-akhir ini. Dari yang menggunakan mesin diesel peminum solar, sekarang ditopang dengan perangkat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara. Bila masih masuk perhitungan, maka manfaat batu bara masih lebih terasa bagi masyarakat dalam bentuk aliran listrik yang lancar. Anehnya, Kaltim yang kaya batu bara sejak dulu, namun baru kurang dari sewindu ini mulai memanfaatkannya untuk setrum.

Lingkungan

Moratorium atau penghentian pergerakan sub sektor pertambangan batu bara untuk tujuan komersial domestik dan internasional adalah langkah yang wajar dan sudah semestinya. Pengerukan yang membabi-buta hanya akan menyebabkan kerusakan alam. Sudah saatnya Samarinda, dan Indonesia secara luas lebih memerhatikan sumber-sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Sudah saatnya perut Ibu Pertiwi berhenti digaruk-garuk, karena bukan hanya menyisakan stretch mark, tapi bolong.

Ekonomi

Teorinya, bisnis berbasis eksploitasi hasil alam dan ekstraksi pasti akan menghasilkan banyak uang. Jauh lebih banyak ketimbang buka hotel, mal, supermarket, bahkan kafe dan restoran paling keren sekalipun. Saat ini, saatnya untuk mulai lebih memeras otak, dan bekerja lebih keras. Uang yang didapatkan memang tidak semelimpah bos batu bara, tapi setidaknya cukup untuk dipakai menjalani hidup kelas menengah yang aman. Mau berangkat ke mancanegara, bisa. Mau belanja, ada uangnya. Mau ngajak kencan, penampilan dan isi kantong lumayan cukup. Mencobalah untuk lebih bersyukurlah.

Sejauh ini, fakta ekonomi memang masih menempatkan sektor pertambangan dan energi sebagai penyumbang Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi untuk Kaltim, seperti dalam paparan angka inflasi yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulan. Meskipun begitu, para analis di BPS maupun Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Samarinda, serta para akademisi dalam beberapa kesempatan, sudah mewanti-wanti sejak beberapa tahun lalu bahwa sektor pertambangan tidak bisa jadi satu-satunya tempat menggantungkan harapan hidup. Harus segera bergeser ke sektor ekonomi lain, termasuk jasa dan industri.

Kolam dengan air kebiruan, di ceruk bekas lahan tambang. Source: dhebunciet.blogspot.com

Penanganan Sisa-sisa “Kejayaan”

Tentu sangat sulit untuk menambal kembali lubang-lubang galian di permukaan bumi Samarinda. Kendati begitu, keberadaannya tak bisa dianggurin begitu saja. Berpikirlah kreatif, lihat apa yang ada dan apa yang bisa dilakukan terhadapnya. Jangan biarkan tetap jadi danau berbahaya. Bahkan tidak mustahil untuk menggandeng investor lainnya. Namun yang paling utama adalah gerakan pemerintah, selaku pemegang kuasa untuk menginisiasinya.

Sebagai pemegang data, pemerintah harus mengecek mana lubang bekas tambang yang masih ditangani perusahaan dan yang sudah ditinggal kabur begitu saja. Apabila memungkinkan, minta perusahaan yang masih bertahan untuk melakukan tanggung jawab lingkungannya, yang telah ditetapkan sejak pertama kali izin dikeluarkan. Tongkrongi, biar sampai selesai. Ya kecuali kalau petugasnya pengoleran.

Berikutnya, lubang-lubang bekas tambang lain yang ditinggalkan, mau tidak mau harus ditangani sendiri. Cuma bukan sebagai beban, tapi sebagai “bubur yang enak tadi”. Setidaknya ada beberapa bentuk pemberdayaan yang dapat dilakukan. Seperti yang telah sukses dijalankan sebelumnya, di beberapa wilayah lain. Pertama, coba diteliti apakah air kolam lubang tambang itu layak produksi jadi air bersih atau tidak? Jika iya, bisa dibayangkan ada berapa banyak titik-titik intake atau pengambilan air baku di Samarinda? Ndak perlu lagi kerepotan bangun tengah malam menunggui keran. Tapi, itu kalau perusahaan air dan pemerintah mau repot.

Kedua. Tersebutlah nama taman bermain yang sangat luas di Subang Jaya, Selangor, tak jauh dari Kuala Lumpur, Malaysia. Taman bermain itu bernama Sunway Lagoon, dan diresmikan pertama kali pada 1993. Silakan Google sendiri seberapa luas arealnya, namun yang jelas ada miniatur pantai di dalamnya, dan empat areal utama yang lain. Secara total ada 80 wahana permainan, dan kawasannya terus diperluas.

Keren ya? Emang. Tapi tahukah Kamu kalau lokasi Sunway Lagoon itu sebelumnya adalah lubang besar bekas pertambangan timah? Kalau Malaysia boleh, kenapa Indonesia tak bisa? Apalagi lubang-lubang tambang ada di pinggiran kota. Coba dibayangkan, misalnya ada tempat yang bernama “Palaran Magic Adventure”, atau “Batu Besaung Fun Ride” dengan roller coaster, bianglala raksasa, kolam renang, dan hotel-hotel untuk warga Bontang, Sangatta dan sekitarnya yang sengaja berlibur di Samarinda. Ini adalah mimpi, tapi mestinya bisa ditindaklanjuti.

Semua tergantung niat, ide dan konsep, kesungguhan rencana bisnis, dan dukungan pemerintah dan anggota dewan. Kalau belum apa-apa sudah ribut berebut komisi dan fee, ya jangan gigit jari kalau investor pergi.

Susah sih, kalau yang paling dulu dipikirkan adalah uang. Menambang batu bara, karena uang. Salah satu pertimbangan dikeluarkannya izin, ya juga demi penghasilan daerah (uang) dan pertumbuhan ekonomi (dilihat dari produksi dan belanja, uang juga). Setelah uangnya berhenti beredar, langsung behinip. Dan tidak mustahil yang protes dan berkoar-koar, kadang juga gara-gara ndak dapat bagian (uang lagi). Susah.

[]

Samarinda Bermasalah dengan Desain?

TULISAN ini membahas tentang desain visual yang ada di Samarinda. Terlebih yang ditampilkan di prasarana umum serta fasilitas-fasilitas publik baru, dan secara tidak langsung mewakili selera pemerintah selaku pembelanja anggaran; pembangun; sekaligus pemilik.

Saya sangat setuju, memang masih ada begitu banyak masalah di kota ini yang lebih penting untuk dibahas–meski tak kunjung selesai–ketimbang topik ini. Namun hasrat untuk beropini seakan mendapat bahan bakar baru, begitu melihat rampungnya instalasi tulisan “Taman Samarendah” berukuran tanggung berwarna merah yang menghadap Jalan Awang Long sejak beberapa hari lalu.

Kehadiran (bakal) taman kota yang menutup persimpangan Bhayangkara-Milono-Awang Long-Basuki Rahmad itu saja, sudah bisa membangkitkan rasa penasaran sebagian warga Samarinda untuk segera menikmatinya. Merupakan rahasia umum, masyarakat kota ini begitu gandrung dengan segala sesuatu yang baru. Apalagi dengan kehadiran instalasi tulisan tersebut, bisa dibayangkan banyak orang akan himung berfoto di sana. Minimal untuk dijadikan gambar di profil BlackBerry Messenger (BBM), atau diunggah di Facebook dan sejenisnya.

IMG_8570

Sebagai sesuatu yang baru pertama kali dihadirkan di kota ini, tampilan instalasi tulisan tersebut memang wajar untuk dimaklumi. Namun sayangnya, nanggung. Pemilihan typeface atau bentuk tulisan berupa Arial Black, terlalu kaku untuk bisa disebut instalasi seni. Di sisi lain, struktur tulisan yang bold atau bercetak tebal dan berukuran tidak terlalu tinggi, tak terlalu fungsional jika diketagorikan sebagai penanda maupun ikon fasilitas publik. Malah membuat banyak orang teringat dengan format baku proposal resmi dan akademik, yang lazimnya menggunakan bentuk huruf Arial. Selebihnya, masih untung instalasi tulisan tersebut patuh kerning atau jarak antarkarakter, sehingga tidak sampai membuat orang-orang dengan gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) bidang tipografi geregetan pengin memperbaiki sendiri.

Walau bagaimanapun juga, akan sangat percuma untuk menyinyiri sesuatu yang kadung jadi. Akan tetapi, jelas tidak ada larangan bagi publik untuk bertanya ihwal penentuan desain dan tetek bengeknya. Beberapa di antaranya seperti mempertanyakan:

  • Apakah bentuk instalasi tulisan tersebut memang sengaja dibuat sebiasa itu?
  • Apakah wali kota selaku inisiator pembangunan taman ini langsung setuju dengan desain tersebut tanpa menambahkan permintaan khusus, minimal terkait dimensi dan bentuknya?
  • Apakah tidak ada praktisi desain visual yang dilibatkan untuk sumbang saran terkait ini?
  • Apakah instalasi tulisan “Taman Samarendah” tersebut bakal dinobatkan sebagai simbol taman itu?

Ya entahlah. Barangkali proses desain, pembuatan, dan pemasangan instalasi tulisan tersebut hanya dianggap sebagai bagian dari paket pengerjaan tahap kesekian taman kota tersebut. Sehingga perlakuannya pun diserahkan penuh kepada kontraktor, yang sesuai gelarnya lebih mumpuni di bidang bangun-membangun ketimbang menambah kesan artistik dari pernik-pernik bangunan. Padahal ada ratusan bahkan ribuan anak muda Samarinda yang jago di bidang desain visual, baik lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Produk (Despro), dan sebagainya dengan kemampuan khusus menghasilkan desain memuat pesan yang kuat. Setidaknya, pesan pencitraan bahwa Kota Tepian ini sudah semakin maju, dan untung saja tidak sekalian pakai Comic Sans.

Sementara itu, jauh sebelum instalasi tulisan “Taman Samarendah” rampung terpasang, objek kasus serupa sudah lebih dulu tampil di bagian depan kantor gubernur yang megah itu. Mungkin ada beberapa di antara Anda, yang pernah tersentak begitu membaca jejeran tulisan “Sukseskan Kaltim Green, Visit Kaltim Year 2015” dan seterusnya dengan warna latar hijau tersebut. Tersentak karena warna tulisan maupun latar, lebih-lebih lagi karena typeface-nya. Bahkan ada yang terang-terangan mengejek font tersebut dengan celetukan “dangdut banget” atau bergaya tren rock era 80-an. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tulisan itu kalah pamor dibandingkan pembahasan soal tampilannya. Apalagi tahun ini, tulisan angka “2015” di ujung tulisan menggunakan font yang berbeda dan jelas-jelas berupa tambalan. Ngehe berikutnya, huruf “S” di tulisan tersebut diambil dari font berbeda. Lantaran bentuk aslinya lebih mirip goresan petir seperti di logo PLN. Ini berarti, sang perancang asal campur font.

IMG_8568
Ditambal.
IMG_8569
Bagian depan Lamin Etam, aula dalam kompleks rumah dinas gubernur Kaltim.

Bayangkan, Kota Samarinda yang akan terus kedatangan lebih banyak orang dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan dunia. Lalu ketika melintas di depan kantor dan rumah dinas pemimpin tertinggi provinsi ini, mereka dikejutkan dengan tampilan tersebut.

Sekadar informasi, font yang digunakan di depan kantor gubernur tersebut adalah “Die Nasty” ciptaan Ray Larabie. Bentuk tulisannya yang seperti itu terinspirasi dari logo “KISS”, heavy metal band yang berdiri di era 70-an. Dari bentuk dan latar belakang perancangannya, “font” ini jelas lebih condong untuk hiburan, main-main, pop culture. Kita akan mudah menemukan font ini di sampul kaset atau cakram digital album band rock, pop-rock, atau genre alternatif. Pada praktiknya, bentuk tulisan ini terlalu gaul bagi generasi tua, namun terlalu norak bagi generasi muda. Terjebak di masa antah berantah.

Terakhir, izinkan saya–yang bukan seorang desainer grafis ini–mengajak siapa pun yang terkait untuk rehat sejenak, mencari intermeso lewat menikmati beragam bentuk font yang ada. Minimal, bisa dilihat di layar komputer masing-masing dalam program Microsoft Office yang biasa kita gunakan sehari-hari. Kalau tetap bingung harus memilih yang mana, tenang saja, Samarinda tidak kekurangan anak muda dengan selera artistik yang pas dan mampu menjabarkan maksud serta alasan-alasannya. Jadikan Samarinda tidak kalah visually artistic dibandingkan kota-kota lain.

Toh, apabila wawasan dan kemampuan kita masih sebatas meniru, tirulah hasil desain yang sudah baik. Di Bandung dengan tulisan “Braga”, di Makassar dengan tulisan “Pantai Losari”-nya, atau seperti di Amsterdam dengan tulisan “I amsterdam” yang keren itu. Semua bisa dilihat gratis, lewat Internet.

[]

Bukan Cuma Urusan Bayar-membayar

Saat pertama kali hadir di kota ini sebagai sesuatu yang baru hampir dua dekade lalu, ternyata tidak terlampau susah bagi kebanyakan orang Samarinda untuk menyesuaikan diri dengan konsep diner atau self-service restaurant, atau yang kerap dijuluki “rumah makan bayar duluan”. Yakni gerai-gerai waralaba dengan ayam tepung dan kentang goreng sebagai menu utamanya. Kendati tetap ada saja segelintir orang tua yang mencibir, dan menganggap model pelayanan seperti itu absurd. Sebab di restoran konvensional, skema pelayanannya adalah: pelanggan datang, memesan, makan, kenyang, bayar, pulang.

“Belum dimakan, sudah disuruh bayar, mahal pula. Ngantrinya lama. Terus kita malah disuruh bawa makanannya sendiri. Apa digawi sama bubuhan pelayannya ini?”

Kurang lebih seperti itulah omelan yang pernah saya dengar, entah berapa tahun lalu.

Kini, selain gerai-gerai waralaba yang menjual makanan siap saji, juga telah hadir beberapa kafe waralaba dengan konsep pelayanan serupa. Hanya saja, tidak sedikit konsumen yang memberikan perlakuan berbeda. Bahkan terang-terangan menampilkan ketidaksukaannya, ditujukan kepada para waiter atau penyaji di kafe tersebut.

Kafe pertama di Samarinda dengan model pelayanan seperti ini adalah gerai donat di mal Jalan Bhayangkara. Pengunjung datang, mengantre, menyampaikan pesanan dan ditanya namanya (untuk nantinya dipanggil), dan membayar. Setelah minuman selesai diracik, barista akan memanggil nama pelanggan secara lantang, agar yang bersangkutan datang dan mengambil pesanan.

Ada satu waktu di kafe tersebut, saya melihat sendiri pengunjung yang sengaja tidak menggubris panggilan nama dari barista. Bukan lantaran tidak mendengar atau tidak sadar namanya dipanggil, sang pengunjung yang kira-kira berusia paruh baya ternyata sengaja bersikap begitu. Dengan mimik tersenyum mengejek, ia berkata:

“heheh… Apa-apaan? Kita yang bayar kok kita disuruh ambil sendiri. Anterin dong,” kepada temannya.

Sampai beberapa menit kemudian, seorang waiter tergopoh-gopoh mengantarkan pesanan si bapak tersebut dalam kondisi kafe yang sedang sangat ramai pengunjung.

Dari contoh kejadian di atas, perasaan tidak suka ditujukan kepada waiter. Karena ada anggapan, pelanggan adalah raja, dan raja harus dilayani. Hadir sebagai pelayan, para waiter.

Untung saja para waiter kafe-kafe waralaba itu juga dibekali dengan keterampilan berkomunikasi, sebagai keharusan dan ciri khas merek dagangnya. Sehingga semenyebalkan apa pun perlakuan yang mereka terima, mereka tetap (harus) berbicara dengan intonasi yang baik laiknya Public Relations Officer (PRO) lengkap dengan senyum seoptimal mungkin. Kondisi ini pula yang menyebabkan begitu nyatanya perbedaan antara berkunjung ke restoran atau kafe waralaba, dibanding ke rumah makan lokal. Makin terasa perbedaan kemampuan dalam bidang hospitality and services, setelah gerai pertama Starbucks buka di Samarinda.

Seiring berjalannya waktu, pasti makin banyak orang Samarinda yang maklum dan mafhum dengan pola pelayanan di kafe-kafe tersebut. Jadi, makin banyak yang paham bahwa untuk bersantap di sana, haruslah mengantre, dan membawa sendiri pesanan yang telah jadi. Kalaupun belum tahu, tetap ada para waiter yang dengan sabar menjelaskan cara pemesanannya.

Akan tetapi, dinamika belum berhenti sampai di situ saja. Masih berkutat pada para waiter, banyak pengunjung kafe maupun restoran waralaba yang hanya mau tahu dengan datang, pesan, bayar, makan, pulang. Sehingga sering kita jumpai, meja makan yang seperti “kapal pecah” dengan piring kotor, pembungkus nasi putih, gelas kertas, potongan tulang ayam, dan sampah lainnya yang berhamburan. Sengaja dibiarkan sangat berhamburan. Bisa jadi karena anggapan:

“ah nanti ada yang bersihkan juga, kan kita mbayar.”

Okelah, sebagai pengunjung restoran atau kafe waralaba, kita tidak perlu bersikap seperti saat mengunjungi Singapura, dengan konsep self-service yang total. Tidak hanya membawa sendiri makanannya, namun juga mengembalikan baki ke tempatnya, serta membuang semua sampah kertas ke tempat yang memang disediakan (setidaknya itu yang saya alami waktu singgah ke BK entah terminal berapa Changi, saat baru kedua kalinya ke luar negeri). Apalagi di sana, waiter bahkan bisa mengingatkan pengunjung yang lupa, atau sengaja meninggalkan sampahnya di meja. Sementara di sini, saat saya yang bersantap seorang diri sengaja membuang sampah dan mengangkat piring kotor ke wadahnya saja, langsung dipandang dengan tatapan aneh dari pengunjung lainnya. Dikira sok bener kali.

Barangkali, perbedaan perlakuan terhadap waiter itu pula yang membuat profesi itu terlihat berbeda di luar sana. Banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tidak malu menjadi pekerja paruh waktu di restoran atau kafe waralaba. Sedangkan di sini, pekerjaan itu malah dianggap sebagai pilihan paling akhir, dan jelas tidak untuk dipamerkan.

Di sana, para waiter memang bekerja, sebagai pekerja. Apa yang kita bayar, sebagiannya memang jadi gaji mereka. Tapi tidak ada salahnya untuk tidak bersikap berlebihan–berasa raja–pada mereka. Karena mereka adalah waiter, penyaji, pelayan dalam arti luas, bukan budak.

[]

Tionghoa Samarinda

WAKTU masih kecil, pernah terlintas pertanyaan: “kenapa saya lahir di Samarinda? Kok bukan di Cina? Bukan di Hong Kong? Atau di Taiwan?” Tanpa jawaban yang jelas, pertanyaan itu berlalu begitu saja. Menyisakan rasa penasaran atas runutan sejarah, yang salah satunya mungkin berupa momen hijrahnya kakek dari daratan Tiongkok ke Indonesia. Sampai akhirnya, berusaha dijawab sendiri lewat tulisan ini, hasil dari nanya dan baca sana sini.


Sebagai kawasan yang tidak memiliki garis pantai, Samarinda tak termasuk tujuan utama gelombang kedatangan perantau Tionghoa beberapa abad lalu. Berbeda dengan Tarakan maupun Balikpapan, yang tidak hanya memiliki akses perairan laut, namun juga sudah lebih dahulu ramai karena aktivitas niaga.

Meskipun begitu, sayangnya belum ada catatan sejarah komprehensif mengenai gelombang kedatangan Huaren (華人)–sebutan untuk keturunan Tionghoa–di Kota Tepian. Ibarat meraba dalam kegelapan, penelusuran beberapa fakta penting pun agak susah dituntaskan. Ditambah lagi dengan langkanya saksi sejarah yang bisa menyampaikan penuturan.

Dalam makalah ilmiah Sino-Platonic Papers nomor 236 karya Wan Kong Ann dari Tsinghua University, yang dirilis April 2013 lalu berjudul “Examining the Connection Between Ancient China and Borneo Through Santubong Archaeological Sites” memuat fakta bahwa hubungan antara Tiongkok dan penduduk Kalimantan sudah terjadi lebih dari dua milenium lalu. Hanya saja baru sebatas di utara dan barat laut (kini masuk wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam), serta sebagian barat pulau Kalimantan. Baru pada era Dinasti Tang (618-907) dan Dinasti Song (960-1279), jalur perdagangan “Maritime Silk Road” sudah merambah sampai ke ujung selatan pulau Kalimantan yang kini menjadi wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel). Pola hubungan ini terus berkembang di masa dinasti-dinasti berikutnya. Hal ini juga bersesuaian dengan tulisan ilmiah James R Hipkin dalam bahasa Tionghoa berjudul “婆羅洲華人史” (Sejarah Warga Tionghoa di Borneo).

“Warga Tionghoa datang (ke Kalimantan) melalui Wenlai (文萊-Brunei), Machen (馬晨-Banjarmasin), dan Kundian (坤甸-Pontianak). Kian lama semakin banyak yang datang,” tulis Hipkin.

Sampai di titik ini, baru muncul dugaan bahwa pendatang Tionghoa yang bermukim di wilayah Kaltim, bisa berasal dari Banjarmasin dan wilayah sekitarnya, atau benar-benar berlayar langsung dari daratan Tiongkok. Seperti yang disampaikan Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies, Roedy Haryo Widjono lewat catatannya kepada penulis. “Leluhur orang Tionghoa di Balikpapan datang secara berkelompok, menumpang kapal. Mereka tiba di perairan utara Kalimantan hingga ke wilayah Balikpapan.”

Disampaikan lebih rinci, gelombang kedatangan langsung itu terjadi pada pengujung abad ke-19, saat Dinasti Qing dipimpin Kaisar Guangxu (1871-1908). Warga Tiongkok yang didominasi dari Provinsi Guangdong (廣東) tersebut lebih tepatnya dikirim ke Kaltim sebagai buruh kontrak, untuk bekerja di perusahaan minyak milik Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Melihat rute perjalanan yang langsung menuju Balikpapan, ada kemungkinan terdapat bagian dari kelompok ini yang pindah ke Samarinda dan sekitarnya.

“Sebagian dari mereka memilih menetap ke Tenggarong. Selain bekerja sebagai pedagang, sebagian dari mereka bekerja di tambang batu bara,” lanjut Roedy dalam catatannya.

Benar saja alurnya, jika kedatangan warga Tionghoa di Kaltim pada akhir abad ke-19, juga membuat mereka tersebar ke Samarinda. Termasuk sejumlah tokoh penting, yang ditunjuk sebagai opsir pengatur kongsi dagang Belanda. Sekaligus menjadi pemimpin warga Tionghoa kala itu.

Opsir pertama adalah Huang Qingquan (黃清泉) yang bertugas antara 1882-1902. Ia bersub-suku Min (閩), berasal dari daerah Jinmen/Kimmoi (金門), Provinsi Fujian/Hokkian (福建). Ia menjadi penggagas pembangunan Kelenteng Tian Yi Gong/Thien Gie Kiong (天義宮), yang rampung pada 1905, tiga tahun setelah wafatnya. Lukisan potret Huang Qingquan terpajang di dinding kanan bagian dalam ruang utama kelenteng. Beranjak dari milestone ini, diketahui bahwa kelenteng di Samarinda berusia satu dasawarsa lebih tua dibanding satu-satunya kelenteng di Balikpapan. Yaitu Kelenteng Guang De Miao (廣德廟), yang peringatan hari jadi ke-100 tahunnya baru dirayakan Senin, 23 Maret lalu.

Source: panoramio.com
Source: Twitter @discover_bpp

Dari sejumlah bukti sejarah, populasi warga Tionghoa di Samarinda terus bertumbuh setelah masa Huang. Tidak hanya itu, warga Tionghoa di Samarinda juga masih berkontak baik dengan pihak kekaisaran dalam sejumlah bidang. Seperti yang ditunjukkan dalam foto peresmian 中華學堂 atau Balai Belajar Tionghoa tertanggal 23 Agustus 1906, dihadiri petinggi pemerintah Belanda dan sejumlah pejabat berjubah khas kekaisaran Dinasti Qing. Lokasi balai belajar tersebut kini menjadi markas PMK di Jalan Mulawarman.

Repro pribadi.
Repro pribadi.

Setelah momen pada 1906 ini, hampir tidak ada lanjutan catatan sejarah mengenai perkembangan kehidupan warga Tionghoa di Samarinda. Sampai pada 1929, lantaran sangat fasih berbahasa Tionghoa, misionaris Christian and Missionary Alliance (C&MA) area Tiongkok Selatan dan Hindia Belanda, RA Jaffray memberikan pelayanan keagamaan terutama bagi warga Tionghoa di Samarinda dan Balikpapan. C&MA adalah cikal bakal Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) yang masih ada sampai saat ini.

Kembali merujuk pada catatan Roedy, gelombang kedua migrasi warga Tionghoa ke Nusantara termasuk Samarinda terjadi antara 1942-1945. Migrasi terjadi karena warga Tiongkok, terutama dari pesisir tenggara, ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Jepang. Di masa itu, komunitas warga Tionghoa di Kota Tepian makin beraneka. Selain menghimpun diri dalam paguyuban masing-masing sub-suku, mereka juga ikut berperan dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

Terlepas dari itu, Kelenteng Tian Yi Gong maupun Balai Belajar Tionghoa memang berlokasi di dalam area Kota Samarinda kini. Akan tetapi, tidak bisa dilupakan bahwa cikal bakal Kota Tepian adalah kawasan Samarinda Seberang. Tak ayal, banyak juga warga pendatang Tionghoa yang bermukim di wilayah tersebut.

“Saya kurang tahu (soal kedatangan warga Tionghoa di Samarinda). Tapi datangnya mulai tahun 1800-an. Ramainya mereka tinggal di Seberang (Samarinda Seberang),” tutur Yang Lizhong, salah satu tetua warga Tionghoa Samarinda.

Dari Samarinda Seberang, ia mengisyaratkan, warga Tionghoa menyebar ke banyak daerah. Termasuk Sangasanga yang juga ramai dengan aktivitas perminyakannya, bahkan hingga ke daerah hulu Mahakam seperti Long Iram, Muara Ancalong dan lainnya. Meskipun pada akhirnya, mereka dan warga Tionghoa dari wilayah lain seperti Berau maupun Bulungan, harus berkumpul di Kota Samarinda lantaran Peraturan Presiden (PP) 10/1959. Sebagian kecil di antaranya, konon berhasil menumpang satu-satunya kapal dari Tiongkok untuk pulang. Sementara warga Tionghoa yang tersisa, terus menjadi penduduk Samarinda.


Konon, Engkong ketinggalan kapal saat itu.

Sekeluarga. 🙂

[]

Makin Lama Makin Basi

LAYAKNYA siklus yang berulang, Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang selalu memunculkan pembahasan, perdebatan, ide kreatif, maupun kerepotan yang sama setiap tahun. Baik melibatkan orang-orang yang sama, atau ketambahan “personel” baru. Pasalnya, secara sederhana kita bisa membagi respons orang Samarinda terhadap Valentine’s Day menjadi tiga: cuek, menyambutnya dengan antusias, dan membencinya habis-habisan.

Siapa saja bisa menjadi orang yang cuek dengan perayaan Valentine’s Day. Para jomblo, pasangan berpacaran yang tidak terlalu ambil pusing dengan momen ini, terlebih pasangan suami istri yang konvensional. Alasannya tentu beragam. Bagi para jomblo misalnya, buat apa peduli dengan Valentine’s Day? Toh mereka sedang tidak berpacaran dengan seseorang. Begitupun dengan pasangan pacaran yang tidak memiliki animo khusus untuk momen ini, bisa saja mereka bukan tipe pasangan yang romantis dan sama-sama tidak terlalu demen dengan hal-hal melodramatis, atau pula memiliki gaya romantismenya khusus yang tidak harus terpusat pada Valentine’s Day. Apalagi pasangan suami istri yang konvensional, bukan tipe kaum urban. Pada umumnya, mereka menganggap pernikahan adalah pernikahan, sebagaimana mestinya. For them, it’s just February 14th. that’s all.

Kelompok kedua–mereka yang antusias–adalah sasaran utama skema penjualan produk pada musim ini. Bisa terdiri dari pasangan berpacaran, maupun pasangan suami istri. Antusiasme mereka minimal ditandai dengan membeli hadiah, mulai dari cokelat, boneka, rangkaian bunga mawar merah, sampai cincin berlian berkarat besar. Dibarengi dengan ajakan makan malam romantis di tempat-tempat khusus yang memang telah dipersiapkan untuk itu. Mulai dari restoran atau kafe menjadi tren di kota ini, makan malam reman-remang alias Candlelight Dinner di restoran hotel, bahkan sampai mempersiapkan makan malam istimewa di tempat-tempat spesial pula. Yang pasti, terjadi perputaran uang, dan jumlahnya tak sedikit.

Antusiasme yang ditunjukkan orang-orang kelompok ini, memiliki banyak alasan. Umumnya dimulai dari para remaja yang baru pertama kali bersinggungan dengan konsep ini: hari perayaan kasih sayang. Di sekolah, meskipun masih asing dengan konsep pacaran, mereka sudah mulai terlibat dalam momen Valentine’s Day dengan saling bertukar cokelat sesama teman. Hal baru yang setidaknya memberikan kegembiraan. Apalagi bagi mereka yang mulai coba-coba berpacaran, Valentine’s Day menjadi momen pengalaman yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Minimal deg-degan kala berusaha memberikan kejutan. Tak sedikit pula yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk jadian, kalau berhasil. Lain lagi dengan pasangan yang baru jadian. Mereka bisa menganggap bahwa momen ini adalah salah satu peluang untuk memperkuat kedekatan. Adapun partner makan malam romantis pun orang yang berbeda, sekaligus menjadi ajang pembuktian apakah benar-benar move on dari pacar sebelumnya atau tidak. Sedangkan bagi pasangan suami istri, sah-sah saja untuk memanfaatkan Valentine’s Day sebagai media menambah kemesraan. Mengingat pasangan masa kini cenderung saling disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, sehingga Valentine’s Day boleh dijadikan tema untuk sejenak lebih rapat. Pada pasangan suami istri, jelas tak masalah bila menuntaskan perayaan Valentine’s Day sesuka mereka. Justru malah dianjurkan, demi keintiman. Akan tetapi, untuk perihal yang satu ini, sayangnya dapat dimanfaatkan para pria untuk berlaku nakal dengan pacarnya. Malang, para perempuan yang kadung terbuai rayuan dan gombalan, yang dilancarkan saat makan malam romantis, bisa menyerah. Jadilah zina, yang belum tentu menjamin usia hubungan pacaran. Bagaimanapun juga, fenomena tidak menyenangkan ini menempatkan perempuan sebagai korban, gampang terperdaya.

Hal ini menjadi salah satu alasan orang-orang kelompok tiga membenci Valentine’s Day. Dengan semangat kepahlawanan, mereka menyerukan bahwa momen 14 Februari adalah peluang terjadinya kejahatan moral. Oleh karenanya, wajib ditolak bahkan diberangus dari perbendaharaan gaya hidup manusia Indonesia. Terutama dalam koridor agama. Tujuannya baik, dan disampaikan dengan sangat keras. Namun ironisnya, penolakan terhadap Valentine’s Day ini kerap dibarengi dengan semangat dan perasaan berhak untuk memandang hina orang lain, yang secara sadar tetap memilih untuk merayakan Valentine’s Day. Secara tak langsung, menyerukan bahwa orang-orang dengan pandangan berseberangan dari mereka, pantas dianggap hina. Sungguh sangat membosankan, melihat mereka yang menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi polisi moral bagi orang lain, namun kemudian pamrih. Menginginkan agar sumbangan mereka tadi mendapatkan imbalan persetujuan, pernyataan iya, dan sejenisnya.

Selain mereka, ada juga orang-orang yang membenci Valentine’s Day lantaran alasan yang lebih personal atau malah konteksual. Insan yang baru putus tidak baik-baik, misalnya, jelas “alergi” dengan perayaan ini. Bermasalah dengan urusan asmara. Masih sakit hati. Barangkali. Kemudian kebencian konteksual pada Valentine’s Day mungkin agak langka. Mereka tidak suka dengan perayaan ini, karena dinilai sebagai kesempatan untuk mendongkrak sektor ekonomi. Segala gimmick, suasana, paket promo, bahkan harga buket mawar merah dibuat sedikit lebih mahal atas nama Hari Cinta Kasih. Itu sebabnya, mereka yang memiliki kebencian kontekstual terhadap Valentine’s Day sering menegaskan bahwa ajang ini tidak diperlakukan bila atas nama cinta. Momen romantis pun bisa diwujudkan tanpa harus berlaku mainstream, layaknya orang kebanyakan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mampu menciptakan kesan istimewa, dan tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya.

Apapun pilihan Anda menyikapi Valentine’s Day, semua memiliki karakteristik dan konsekuensinya sendiri. Bagi para pria yang melulu mementingkan urusan syahwat, contohnya, pasti akan terus berpikir memanfaatkan momen ini demi mendapatkan yang diinginkannya. Lalu, mereka yang menempatkan Valentine’s Day sebagai “senjatanya” setan, juga tidak mau tahu dengan urusan romantisme. Perbedaan pandangan seperti ini, dengan melelahkannya, selalu bergulir setiap tahun. Isi pembahasannya, sama.

Happy Valentine’s Day, anyway!

[]

 

Apa Kabar Social Movement di Samarinda?

SEPULUH orang jumlahnya. Mereka datang sendiri-sendiri ke lantai 3 salah satu kafe di Samarinda, Rabu malam pekan lalu (8/10). Bukan untuk nongkrong biasa, namun untuk memperbincangkan masa depan sejumlah gerakan sosial berbasis dunia maya.

Akhir 2009, Twitter mulai menjadi tren di Kota Tepian. Saat itu, kebanyakan akun Twitter hanya digunakan untuk mengobrol: berbalas-balasan tweet, mencari kenalan baru, menyapa akun Twitter sang idola, atau hanya dipakai untuk berceletuk sendirian.

Para koordinator gerakan-gerakan sosial berbasis dunia maya di Samarinda.
Para koordinator gerakan-gerakan sosial berbasis dunia maya di Samarinda.

Tahun berikutnya, sudah banyak pengguna Twitter di Jakarta yang membangun komunitas. Ada yang berlatar belakang hobi dan kegemaran, ada pula yang mengusung tujuan-tujuan positif di bidang pendidikan maupun lingkungan. Semangat itu menyebar. Mendorong berdirinya cabang-cabang gerakan di banyak kota, termasuk Samarinda. Tentu dengan tantangan dan masalah yang tak sama.

Samarinda Berkebun bisa disebut sebagai cabang gerakan sosial pertama berbasis Twitter di kota ini. Lewat akun Twitter @SmdBerkebun (dibuat pada Oktober 2011), komunitas ini menghimpun warga yang hobi berkebun. Bukan berkebun biasa, melainkan memanfaatkan lahan di tengah kota untuk ditanami sejumlah sayuran. Urban Farming, istilahnya.

“Masalahnya ya lahan. Kita sudah dua kali pindah lokasi, dan sekarang masih berusaha mencari tempat baru. Karena kalau lahannya sudah di pinggiran kota, itu sama saja dengan berkebun biasa,” kata Herwin, koordinator angkatan kedua Samarinda Berkebun.

Lahan terakhir mereka ada di Jalan RE Martadinata, tidak jauh dari salah satu pencucian mobil. Tidak adanya lahan pun membuat Samarinda Berkebun vakum untuk sementara waktu. Para anggotanya hanya bisa melakukan Urban Farming di rumah mereka masing-masing. Berbeda dengan sebelumnya, ketika mereka berkumpul dan melakukan aktivitas berkebun bersama-sama, hingga menikmati hasil panen berupa kangkung, cabai, sawi, terong, dan sebagainya.

“Biasanya kita berkumpul setiap Minggu. Dulu (saat masih ada lahan, Red) ada yang piket untuk menyiram tanaman,” lanjutnya.

Dengan kondisi serba terbatas itu, Samarinda Berkebun pun tetap berusaha mempertahankan keberadaannya. Anggota mereka yang aktif kurang dari sepuluh orang. Berbanding jauh dengan jumlah follower akun Twitter mereka yang mencapai 2.492 orang.

“Untuk saat ini susah mencari peminat baru, apalagi belum ada lahannya. Tapi dari dulu, memang banyak yang cuma nanya aja di Twitter. Ternyata pada harinya, malah enggak datang,” cetus Herwin.

Serupa tapi tak sama, konsistensi juga menjadi problem utama yang tengah dihadapi komunitas Earth Hour Samarinda. Kelompok yang hadir sebagai bagian dari gerakan global Earth Hour ini, bertujuan untuk menyebarkan pesan-pesan positif mengenai gaya hidup ramah lingkungan.

“Tujuan kita adalah menyebarkan gaya hidup ramah lingkungan kepada masyarakat. Tapi apa yang disuarakan benar-benar dijalankan diri sendiri, enggak?” kata FX Reza Nugroho, koordinator gerakan dengan akun @EHSamarinda.

Gerakan Earth Hour memang mendunia, namun masih banyak yang mengira bahwa seruan Earth Hour hanya soal mematikan listrik selama 60 menit. Reza menitikberatkan pada budaya latah, ikut-ikutan demi kehebohan sesaat. Padahal ada empat fokus gerakan: energi dan air, sampah dan plastik, kertas dan tisu, serta transportasi publik. “Kalau cuma kampanye pemadaman listrik doang, Samarinda sendiri sudah sering mati lampu,” celetuknya.

Selain Earth Hour Samarinda, ada juga komunitas Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Kaltim. Sekilas, fokus gerakan sosial mereka sama, yakni perhatian lebih untuk lingkungan. Meskipun begitu, kedua komunitas ini tetap bisa berjalan beriringan. Kendati proses kaderisasi dan kampanyenya cukup berbeda.

“Organisasi kita lebih bersifat struktural, dan kebanyakan diisi mahasiswa serta pelajar. Aksi terakhir 27 September lalu, kita mencabut paku dari pohon-pohon,” jelas Ibnu Abbas Rachman, koordinator KOPHI Kaltim. Kegiatan mereka bisa dipantau lewat akun @KOPHIKaltim.

Pastinya, baik Reza maupun Abbas sepakat bahwa beban yang diemban komunitas gerakan sosial mengenai lingkungan jauh lebih berat. “Mengubah gaya hidup itu susah. Masih banyak yang buang sampah sembarangan, misalnya. Padahal sekarang itu seharusnya sudah memilah sampah. Atau soal transportasi umum misalnya, tapi di sini belum bisa diterapkan,” tegas Reza.

Di bidang pendidikan, setidaknya ada tiga gerakan sosial yang menggeliat di Samarinda. Diawali kiprah Akademi Berbagi (@AkberSMR), Kelas Inspirasi Samarinda (@klsinspirasismr), dan Samarinda Menyala (@Smr_Menyala) yang paling anyar. Ketiganya memiliki lingkup yang berbeda, namun sama-sama memiliki misi mengembangkan sumber daya manusia.

Sesuai namanya, Akademi Berbagi–kerap disebut Akber–adalah komunitas yang mengedepankan kesempatan berbagi ilmu secara terbuka dan gratis. Lewat sesi-sesi kelas yang diselenggarakan sekali dalam dua pekan, sukarelawan Akber yang dipimpin seorang “Kepala Sekolah” mengundang narasumber dari berbagai latar belakang profesi dan keilmuan untuk membagi pengetahuan dan berdiskusi dengan peserta. Hanya saja, wawasan yang disampaikan lebih kepada soft skill, lebih bertumpu pada pengembangan karakter, simpati, motivasi untuk berkarya, percaya diri dan berani mencoba, serta sejenisnya.

“Misal ada yang berbagi kemampuan hard skill, keterampilan gitu, ya biasanya kita hanya memfasilitasi dalam satu kelas. Apabila peserta ada yang berminat, bisa langsung menghubungi narasumber di luar kelas. Seperti kelas terakhir, tentang gambar dan desain,” sebut Tendi Riandi, kepala sekolah kedua Akber Samarinda.

Kendati mengusung konsep berbagi dan gratis, Akber Samarinda yang berdiri 14 November 2011 ini tetap mesti berurusan dengan sejumlah kendala khas, seperti yang terjadi di kota-kota lainnya.

“Kalau di Akber, kendala utamanya adalah tema dan pengajar. Karena tidak semua bisa dan bersedia. Karena di Akber dilarang berujung jual beli, promosi produk. Selain itu ya kelas, kan mesti cari tempat tidak berbayar,” jelas Iqra Mahbara, kepala sekolah periode sekarang.

Lain Akber, lain pula Kelas Inspirasi Samarinda (KI Samarinda). Gerakan sosial turunan dari Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan ini lebih menyasar para murid SD di sekolah-sekolah pinggiran kota. Kelas Inspirasi digerakkan fasilitator, yang kemudian menghimpun inspirator (orang-orang yang bersedia berbagi inspirasi), dan dokumentator (fotografer dan videografer). Tujuannya untuk berbagi cerita mengenai profesi para inspirator, agar mampu menumbuhkan semangat anak-anak meraih cita-cita.

Sejauh ini, KI Samarinda memang baru menggelar satu sesi kelas pada awal Mei lalu. Ketika itu, semua inspirator yang bersedia, disebar ke sejumlah SD. Selama sehari penuh, mereka menggantikan posisi guru. Bukan untuk mengajar, melainkan berbagi cerita, menyanyi, dan bermain.

“Setelah itu, beberapa teman-teman ada yang rajin menyambangi sekolah, untuk follow up atau untuk terus membantu. Itu di luar mekanisme KI Samarinda, tapi tetap bermaksud positif,” beber koordinator KI Samarinda, Darmawansah.

Berdirinya KI Samarinda menyusul kehadiran KI Paser dan KI Balikpapan yang lebih dulu dibentuk. Wawan (panggilan akrab Darmawansah) mengisahkan, ide dasar pembentukan KI Samarinda muncul pada Juli 2013. Itu pun hanya diawali dari obrolan tiga orang, sampai akhirnya berkembang menjadi sembilan sukarelawan, dan berhasil ditindaklanjuti.

“Mirip dengan Akber, kita mungkin kesulitan mencari inspirator yang bersedia. Tapi ternyata saat acara berlangsung, banyak banget inspirator dari daerah lain yang datang secara pribadi. Ini yang sempat bikin harus berkoordinasi lagi,” urai Wawan.

Lantaran lingkup aktivitas Akber di lingkungan SD, halangan lain yang mereka hadapi adalah perihal birokrasi administratif dan sejenisnya. Para fasilitator mesti mendapatkan izin dan rekomendasi dari UPTD Dinas Pendidikan (Disdik) setempat, sebelum diperbolehkan berkegiatan di sejumlah SD. Padahal setelah kelas perdana Mei lalu, banyak sekolah yang meminta tim KI Samarinda untuk datang kembali. Dampak positifnya sudah dirasakan para murid. “Maksudnya memang baik ya, tapi akan lebih ideal apabila tidak dipersulit,” cetusnya.

Gerakan termuda di antara yang lainnya adalah Samarinda Menyala, 5 September lalu. Fokus kegiatan mereka adalah menghimpun buku bacaan anak-anak, baru maupun bekas. “Kita ingin meningkatkan minat baca anak-anak, utamanya. Sejauh ini sudah terhimpun 300 buku, dan masih ditingkatkan lagi,” ungkap Chandra Nugraha, salah satu dari lima inisiator gerakan ini.

Buku-buku yang berhasil dikumpulkan, bisa didistribusikan langsung maupun dikumpulkan menjadi taman bacaan. Gerakan yang sebenarnya juga menjadi turunan dari Indonesia Mengajar ini, diharapkan mampu mengakomodasi aspek pembangunan manusia dari gerakan-gerakan lainnya.

KOLABORASI?

Keenam gerakan sosial berbasis media sosial itu memang merupakan cabang dari induk mereka di Jakarta. Dengan tujuan yang sama-sama positif, mereka tentu dapat saling bekerja sama dan berkolaborasi. Selain mampu memperluas jaringan, mereka juga saling mendukung. Setidaknya, dari para sukarelawan yang tersisa, dapat saling bahu membahu menyebarkan pesan positif yang diusung.

“Ada wacana seperti itu. Tapi belum ditindaklanjuti, ya semoga ke depannya bisa bekerja sama. Karena orangnya yang masih sedikit,” ucap Tendi.


Sayangnya, sejauh ini gerakan mereka terkesan sporadis. Tidak salah memang, akan tetapi ini Kota Samarinda. Salah satu kota utama di pulau Kalimantan dengan karakteristik penghuni yang kagetan: ikut heboh ketika ada sesuatu yang booming, tapi menghilang satu persatu tidak berapa lama setelahnya. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, banyak yang ikut datang dan menikmati keramaian, ketimbang bertanggung jawab pada pelaksanaan keramaian tersebut. Hal itu pula yang–sejauh pengamatan saya–terjadi dalam tubuh gerakan-gerakan sosial tersebut.

Tidak sulit untuk menemukan akun Twitter mereka. Bila Anda tertarik dan bersemangat untuk ikut terlibat, mention saja.

[]

Titit: Kenali, Pahami, Nikmati

SULIT membayangkan, bagaimana caranya Jonah Falcon (43) menyembunyikan tonjolan besar di celananya saat “salah orbit”. Rasanya pasti tidak nyaman. Aktivitas sepele kaum Adam tersebut menjadi terasa begitu menyusahkan, apabila memiliki titit sepanjang 8 inci (sekitar 20,32 cm). Itupun masih dalam kondisi terkulai.

Begitulah–mungkin–kira-kira sekelumit kerepotan dalam hidup Jonah Falcon, yang dinobatkan sebagai pria dengan titit terpanjang di dunia. Punyanya memang wajar untuk bikin tercengang. Dalam kondisi “siap tempur”, tititnya dapat bertiwikrama menjadi sepanjang 13.5 inci atau 34,29 cm. Bisa jadi, apa yang ia miliki merupakan idaman semua pria… dan wanita.


source: reddit.com

Size doesn’t matter.” Ungkapan ini terus didengungkan di seluruh dunia, untuk menunjukkan bahwa panjang-pendek titit bukanlah penentu kiamat dalam kehidupan pria. Tapi, apakah memang demikian? Soalnya, banyak juga yang lebih girang dengan ungkapan “Once You go black, You’ll never go back.

Tak bisa disangkal, titit memang merupakan salah satu organ tubuh yang paling menarik perhatian manusia sejak zaman prasejarah. Ihwal titit memang selalu mengundang rasa ingin tahu, dan tak pernah habis dibahas. Mulai dari perspektif spiritual dan seni yang membuatnya begitu dihormati, sampai coretan di dinding toilet umum dan nama yang tabu untuk diucapkan/dituliskan.

Bagi banyak pria, titit merupakan simbol ego, lambang kejantanan, dan harga diri. Tidak sedikit pria yang berpikiran sempit bahwa ukuran besar menjamin kepuasan maksimal, dan tak sedikit pula yang menyetujuinya, baik pria (pemilik juga penikmat) maupun wanita (penikmat). Realitasnya tidak demikian. Toh, benda silindris itu juga tidak pantas dipamer-pamerkan–terutama kalau tampilannya tergolong disturbing picture–sehingga harus disembunyikan atas nama etiket, tata susila, dan kemanusiaan. Sehingga kebanyakan klaim kebanggaan hanya sekadar celetukan, dan masih perlu pembuktian.

Di sisi lain, justru pria yang benar-benar bertitit besar cenderung lebih cool, tidak banyak omong. Berbeda dengan pria yang sesumbar, atau dikit-dikit bicara soal titit. Entah sebagai bentuk pelarian, atau diam-diam malah doyan.

Untung saja, lingkungan kita saat ini mengharuskan semua orang untuk menutupi tubuh dengan pakaian. Beda cerita dengan para pengidap gangguan jiwa. Jika tidak, entah ada berapa banyak pria dewasa yang enggan keluar rumah, karena “sang adik kesayangan” berukuran jauh lebih kecil dari milik sejawatnya.

Padahal besar itu yang seberapa sih? Relatif kan?” kata seorang kenalan, seorang psikolog klinis.

Efek sampingnya, tak sedikit pria yang merasa bertitit lebih kecil cenderung bersikap rendah diri. Kelimpungan ke sana-sini, mencari cara dan metode yang bisa dijalani. Sebaliknya, ada juga yang malah merespons “kekurangan” tersebut dengan bersikap angkuh, arogan, berusaha mati-matian untuk terlihat macho, gagah, dan dominan. Latar belakang atas kedua bentuk sikap ini, sama-sama berpengaruh buruk bagi kondisi psikis.

Padahal, salah satu fungsi utama titit adalah dipergunakan dalam aktivitas seksual. Sebagai hasil akhir, nyaman atau tidaknya hubungan seksual tersebut tentu dirasakan kedua belah pihak. Sang pria bisa saja merasa terlalu percaya diri, dan mendeklarasikan bahwa tititnya mampu memberikan kepuasan. Tapi itu tetaplah klaim sepihak, sebelum dilengkapi testimonial lawan tanding. Sementara, sudah menjadi anggapan umum bahwa sesi terpenting dalam sebuah hubungan seksual bagi wanita adalah sebelum dan setelah penetrasi, adegan yang memerlukan sentuhan, menimbulkan kemesraan, dan melibatkan banyak rangsangan inderawi (CMIIW). Bagian yang–barangkali–tidak terlalu memperhitungkan panjang-pendek maupun besar-kecilnya titit sebagai fokus utama. Lain lagi ceritanya kalau bicara soal fungsi titit sebagai bagian dari sistem reproduksi, salah satu sarana berketurunan.

Kenyataannya, justru tidak sedikit masalah rumah tangga yang disebabkan karena perbedaan persepsi. Misalnya, para istri yang kecele karena titit-titit besar para suami yang ternyata tak mampu memuaskan mereka. Apalagi setelah ejakulasi, malah langsung ditinggal ngorok, padahal “kentang”. Efek lanjutannya, istri enggan diajak berhubungan (karena tahu rasanya bakal enggak enak). Suami mencari selingkuhan atau jajan supaya nafsunya terlampiaskan (tapi tidak mengubah keadaan bahwa tititnya tetap kurang memuaskan). Istri mungkin juga bisa mencari selingkuhan yang bisa lebih membahagiakan perasaan, meskipun tidak menutup kemungkinan titit selingkuhannya tidak lebih besar dari milik si suami.

Dengan ini, bijak untuk dipahami bahwa ukuran memang bukan segalanya. Ukuran titit tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan seksual. Syukur-syukur kalau tititnya memang besar, dan bisa dipergunakan dengan maksimal. Apalagi jika penggunanya bukan seseorang yang egois; yang hanya mau dilayani tapi ogah melayani. Mirip Khal Drogo yang terkesiap ketika pertama kali merasakan W.o.T.. Bener sih, kalau titit berukuran lebih gede, stimulus yang diberikan juga bisa lebih besar. Hanya saja, kalau dilakukan dengan sekenanya, bisa-bisa malah cuma bikin sakit dan enggak nyaman. Terus, kalaupun ukurannya terhitung rata-rata, ngewe itu bukan cuma urusan masuk-memasukkan titit, kan?

Selebihnya, berhubung tidak semua pria paham dan cepat menangkap pesan yang disampaikan pasangannya, maka para wanita pun jangan sungkan-sungkan untuk berkomunikasi. Maunya bagaimana? Pengin coba yang seperti apa? Lebih nyaman bagaimana? Dan sebagainya. Kan sudah pasangan resmi juga, jadi diperkenankan mengeksplorasi keindahan masing-masing dengan metode seliar apapun asal tetap hati-hati. Kalau berasa kurang indah, kan bisa saling menyemangati supaya bisa jadi lebih indah, hehehe… Jangan malah pasrah dengan posisi “Bintang Laut”, because marital life is too boring for bad sex.


Sepanjang peradaban manusia, persepsi keliru tentang ukuran titit memang dibangun lewat sudut pandang norma sosial budaya. Para wanita harap-harap cemas menjelang pernikahannya, untuk kemudian dibuat terkejut di malam pertama. Entah kejutan menyenangkan atau mengecewakan. Sebab mereka tentu tidak bisa memilih calon suami berdasarkan ukuran tititnya, bukan? Teorinya, perkembangan kebudayaan manusia memengaruhi cara pandang dan perlakuan pada titit. Bahkan tak mustahil juga berdampak pada evolusi bentuk maupun ukuran titit.

Masih ingat kah dengan dalil yang menyebut bahwa ketebalan telapak kaki manusia berkurang drastis setelah manusia mengenal dan mengenakan alas kaki ribuan tahun silam? Begitupun dengan titit. Ada studi yang menghasilkan dugaan bahwa titit manusia prasejarah relatif jauh lebih besar ketimbang yang kita miliki saat ini. Alasannya, beberapa.

Dalam artikel National Geographic News, disebutkan bahwa titit manusia primitif adalah penarik perhatian lawan jenis. Jika gajah jantan menarik perhatian dengan gadingnya, titit manusia juga sekaligus digunakan sebagai alat reproduksi. Itu sebabnya, makin besar titit, makin obvious lah benda itu. Mengapa bisa obvious? Sebab manusia berkaki dua yang berdiri tegak, dan dulunya tidak tahu soal pakaian. Hasilnya, ada “buntut” yang menggantung di antara paha atas, di bawah perut, dan mungkin para wanita prasejarah menanggapinya dengan komentar “ih, apaan itu?” dengan campuran rasa penasaran, takut, namun gemas karena terlihat lucu. Respons pun berkembang seiring aksi kontak berikutnya. Sedangkan si pria prasejarah, mengalami perasaan aneh yang menyenangkan untuk pertama kalinya. Barangkali.

Iseng kita konvergensikan ke masa kini, atraksi visual bergeser dari titit ke wajah dan bentuk badan. Para wanita (maupun pria) akan dengan bangga memamerkan pacarnya yang ganteng dan/atau berbodi atletis, bukan memamerkan pacar dengan titit yang ngeliatnya aja bikin ngilu. Entah ya, apakah manusia prasejarah ada yang cakep atau tidak.

Skenario itu juga yang diduga “membentuk” titit hingga menjadi seperti yang kita kenal saat ini. Bila diamati, hampir semua hewan jantan memiliki titit yang tersimpan di dalam tubuhnya (coba lihat kucing atau kambing kawin deh). Titit hewan baru kelihatan saat ereksi untuk tujuan penetrasi. Berbeda dengan titit manusia, yang template­-nya sudah menggantung di area selangkangan, terbagi menjadi dua fase utama: letoi dan ngaceng. Karena itu, titit memerlukan kulit khusus dari pangkal sampai kulup sebagai pembungkus.

Teori lain mengenai ukuran dan bentuk titit, dikemukakan seorang Evolutionary Psychologist, Gordon Gallup Jr. Ia menyebut bahwa bentuk dan ukuran titit dipengaruhi nuansa kompetisi antara para jantan. Khususnya terkait keberhasilan membuahi, sebelum konsep pernikahan monogami mulai dikenal. Titit yang lebih panjang memiliki keunggulan peluang pembuahan. Logikanya, bisa ngecrot lebih di dalam. Kemudian, kompetisi itu juga yang membuat titit berbentuk seperti jamur, punya “palkon”. Sebab celah antara “palkon” dan batang (disebut cincin Corona) berfungsi untuk menyerok keluar sperma pejantan lain yang lebih dulu ada di dalam vagina, agar spermanya lah yang berhasil membuahi ovum.

Dengan demikian, enggak salah apabila diasumsikan bahwa pria maupun wanita yang terpaku pada ukuran semata, berarti masih memiliki pola perilaku dan insting manusia purba. Nenek moyang yang memperlakukan hubungan seksual hanya sebagai proses reproduksi, bukan rekreasi, selayaknya manusia masa kini.

Kenalilah titit Anda atau titit pasangan Anda, maksimalkan potensinya.

[]

Fangsheng dan Kesalahannya

Fangsheng di Vihara Muladharma, Samarinda. 20 Juli 2014
Fangsheng di Vihara Muladharma, Samarinda. (20 Juli 2014)

AKTIVITAS itu disebut Fangsheng (放生), yang secara harfiah berarti melepas makhluk hidup. Yakni ketika kita menebus atau membeli hewan, untuk kemudian membebaskannya kembali ke alam.

Kita kerap melihat aktivitas ini dilakukan pada beberapa kesempatan, populernya berupa pelepasan burung di lingkungan vihara maupun kelenteng, atau pusat-pusat kegiatan warga Tionghoa.

Fangsheng bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Baik secara religius, maupun sosial budaya. Lengkap dengan sejumlah kesalahkaprahannya selama ini.

Dalam perspektif Buddhisme, Fangsheng juga dikenal dengan sebutan Abhaya Dāna. Maknanya pun lebih dalam; “memberikan kebebasan dari rasa takut”. Abhaya Dāna bukan merupakan sebuah ritual, lelaku, upacara, maupun ibadah. Tidak ada kewajiban bagi umat Buddha untuk menjalankan Abhaya Dāna, karena aktivitas ini memang sepatutnya dilakukan tanpa perintah siapapun. Melainkan sebagai kebajikan berupa empati dan iba dari dalam diri sendiri, kala melihat penderitaan makhluk lain–hewan–yang terperangkap, terluka, lemah tak berdaya, bahkan menjelang kematiannya. Kita membantu hewan tersebut bebas dari bahaya, membuat mereka bisa hidup lebih lama.

Abhaya Dāna juga merupakan wujud pelaksanaan dua dari sifat empat luhur yang harus dimiliki manusia, yakni Metta (welas asih) dan Karuna (kasih sayang) kepada semua makhluk, dimulai dari hewan, makhluk metafisik, dan sesama manusia. Dengan demikian, Abhaya Dāna tidak didasari niat-niat lain, seperti memohon sesuatu atau nazar agar terbebas dari masalah. Tidak pula hanya untuk menimbun kamma baik. Termasuk untuk dijadikan pelarian psikis atas rasa bersalah dan perasaan negatif lainnya. Meskipun memang bisa memberi dampak baik secara terapeutik. Coba saja bandingkan semua niatan-niatan tersebut dengan aktivitas kelompok penyayang satwa, yang menemukan hewan yang terluka, merawat, lalu melepaskan kembali ke habitatnya dengan perasaan bahagia tanpa berharap apa-apa. Dengan alasan yang sama, perbuatan sederhana menolong hewan kecil yang tak berdaya juga bisa disebut Abhaya Dāna, semisal menolong seekor semut yang terjatuh ke dalam gelas dan berusaha tidak tenggelam.

Sedangkan bila ditinjau dari sudut pandang sosial budaya, Fangsheng menjadi tradisi transaksional dengan pola pikir khas paganisme Tionghoa. Bahwa melepaskan makhluk, sama seperti memberikan persembahan di altar dewata; Fangsheng bakal mendapat ganjaran.

Logika inipun akhirnya menjadikan Fangsheng sebagai seremoni. Titik beratnya ada pada kelancaran pelaksanaan, dan jumlah sumber daya yang dihabiskan untuk menyelenggarakannya. Seolah kekurangan sekecil apapun, bisa berdampak pada upacara yang tak sempurna dan keinginan yang tak bakal terlaksana. Sehingga niat pelaksanaan berbeda dengan Abhaya Dāna, yang benar-benar bertujuan untuk kebahagiaan makhluk lain.

Beberapa aspek penting dalam kelancaran pelaksanaan Fangsheng adalah jumlah hewan yang akan dilepaskan, dan harga yang dibayarkan. Dan untuk memastikan agar hewan yang bakal dilepas berjumlah cukup, penyelenggara pun tak sungkan-sungkan memesan kepada penjual, pemburu, atau siapapun yang siap menyediakannya. Padahal, memesan berarti meminta hewan untuk dikumpulkan, yang ironisnya ditangkap untuk kemudian kembali dilepaskan. Sebuah kebohongan yang konyol.

Realitasnya, banyak pelaku Fangsheng yang sebenarnya Buddhis, namun berpikiran dengan logika tradisional Tionghoa. Akhirnya, serba overlap. Kesalahan terus terjadi tanpa disadari. Membuat niat tulus berujung sia-sia.

Terungkap saat mendatangi salah satu kios penjual hewan. Beragam jenis burung “terpenjara” rapi dalam kandangnya masing-masing. Mereka memiliki daya tarik tersendiri. Ada yang bersuara nyaring dan merdu, ada pula yang memiliki keindahan warna bulu. Anehnya, salah satu kandang diisi hampir seratusan ekor burung yang terlihat biasa-biasa saja.

Oh kalau itu namanya burung Karuang sama Croco,” kata–sebut saja–Ln, perempuan pemilik salah satu kios tersebut.

Kandang burung Karuang dan Croco di kios hewan.

Sekilas diamati, Karuang (Alophoixus bres) dan Croco (Pycnonotus goiavier) atau yang juga kerap dikenal sebagai Troco, Trucuk, Trucukan, maupun Cerukcuk ini memiliki bulu bagian atas berwarna cokelat. Sedangkan bulu bagian bawahnya abu-abu, dengan sedikit area bulu kekuningan di belakang kaki. Di dalam kandang berukuran sekira 110 x 50 x 50 cm, bulu mereka tampak tidak mengilap. Selain itu banyak yang susunan bulu sayapnya tidak rapi, terkesan berhamburan, serta kotor. Berbeda penampilan dengan Gelatik yang berada di kandang atasnya. Suara burung-burung itupun tak terdengar menonjol, hanya kicau biasa.

Biasanya orang-orang Cina suka beli burung ini kalau sembahyangan. Buat dilepas lagi,” jelasnya.

Ln mengisyaratkan permintaan terhadap kedua jenis burung tersebut relatif tinggi di kota ini. Pembelian bisa dilakukan secara perseorangan maupun kolektif, dengan jumlah sedikit atau banyak. Apabila Anda tidak tahu harga, maka seekor burung dijual Rp 10 ribu. Namun bila sudah menjadi pelanggan tetap atau membeli dalam jumlah banyak, harga bisa dipangkas sampai separuhnya.

Biasa sebulan itu minimal seratus (ekor). Paling tinggi ya 200. Tapi kadang bisa lebih, tergantung bulannya,” beber Ln.

Karena itu pula, para pemburu pun selalu rajin menyetor hasil tangkapan mereka.

Selalu ada yang antar ke sini kok,” cetus Ln singkat.

Ln memastikan kiosnya sanggup memenuhi permintaan.

Kalau mau belinya banyak, bisa pesan dulu sehari sebelumnya. Nanti disiapkan kardus atau pinjam sangkar besar dari sini, untuk dibawa ke lokasi kegiatan. Biasanya juga setelah dilepas sangkarnya dibawa kembali,” kata Ln sebelum menutup pembicaraan.

Selain Ln, ada beberapa kios lainnya di sana yang juga menyediakan burung untuk tujuan sama. Bahkan kandang untuk burung-burung tersebut dibuat khusus lebih besar dibanding burung jenis lain.

Dari pernyataan ibu tersebut, berarti masih banyak orang yang memesan burung untuk di-Fangsheng. Biasanya untuk dilepas pada hari dan tanggal tertentu, seperti ulang tahun, hari jadi, dan sebagainya.

Fangsheng ikan lele ke Sungai Mahakam secara massal dalam rangka Vesak 2014. (15 Mei 2014)

Secara pribadi, karena kondisi seperti ini, saya lebih memilih untuk Fangsheng ikan air tawar. Lantaran ikan-ikan tersebut ditangkap untuk tujuan konsumsi, bukan maksud lainnya. Selebihnya, karena bagaimanapun juga para pedagang ikan akan menyetok, sehingga tersedia dalam jumlah yang relatif cukup. Ikan pun cenderung lebih mudah didapatkan tanpa permintaan sebelumnya, dan bisa dibeli dengan spontan. Hanya datang ke pasar, lihat, beli, ambil, bawa pergi. Sudah. Meskipun pada dasarnya, Fangsheng bisa dilakukan untuk semua jenis hewan, termasuk yang tergolong berbahaya sekalipun. Tentu dengan mempertimbangkan keamanan dan lokasi pelepasannya, agar tidak berbahaya bagi orang lain.


Agar tidak terjadi salah kaprah, ada beberapa yang harus diperhatikan. Secara teknis, diperlukan pemahaman pada sejumlah hal, agar niat baik ber-Fangsheng tetap terjaga kemurniannya.

  1. Jangan memesan.
  2. Sebaiknya menawar harga, agar makin banyak jumlah hewan yang bisa dibeli dan dibebaskan.
  3. Dalam Fangsheng bersama, apabila jumlah hewan tertentu tidak banyak, maka uang yang telah terkumpul bisa digunakan untuk membeli spesies lainnya. Sehingga semua uang digunakan sebagaimana mestinya.
  4. Perhatikan lokasi pelepasan hewan. Aman untuk orang lain, dan aman untuk hewan yang dilepaskan.
  5. Perhatian cara membawa hewan ke lokasi pelepasan. Apabila salah penanganan, bisa saja hewan mengalami stres guncangan, atau bahkan mati karena tempat penampungan yang sempit.
  6. Awali dengan niat yang benar dan batin yang berbahagia, laksanakan dengan pikiran yang tenang, dan akhiri dengan kesan kebahagiaan.

[]

Arak-arakan Dua Dewa

MINGGU pagi di Samarinda terasa begitu santai, serupa dengan kota-kota kecil lainnya di Indonesia. Hiruk piruk hanya berlangsung di empat lokasi utama: arena olahraga, pasar, tempat ibadah, dan kedai sarapan. Ruas-ruas jalan masih sangat lengang, dan keramaian pusat hiburan baru terhimpun menjelang siang.

Namun nuansa berbeda terjadi kemarin (2/3) pagi.

Sekitar pukul 07.15 Wita. Aroma dupa yang khas, semerbak tercium di jalan-jalan utama dalam kota. Biasanya, warga Tionghoa Samarinda melakukan persembahyangan pagi sekitar sejam sebelumnya. Lalu, di persimpangan Jalan Mulawarman, tempat berdirinya gerai pertama waralaba ayam goreng khas Amerika, bunyi tambur pengiring tarian naga dan Barongsai sayup terdengar. Ternyata dari arah Jalan Niaga Selatan, terlihat liukan tarian naga, diikuti ratusan warga Tionghoa yang berpakaian seragam berupa kaus berkerah warna merah menyala. Dengan berjalan kaki, barisan warga Tionghoa tersebut sedang melakukan kirab dewa.

Atraksi tarian naga di simpang Jalan Pulau Kalimantan-Jalan Pangeran Diponegoro.

Lebih dari seratus warga Tionghoa memenuhi areal Kelenteng Thien Ie Kong (天儀宮), kemarin pagi sejak sekitar pukul 06.00 Wita. Kehadiran mereka di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Jalan Yos Sudarso itu, untuk mengangkat dan membawa dua patung dewa utama, berkeliling sejumlah ruas utama Kota Samarinda.

Kirab yang dimulai pukul 07.00 Wita tersebut, menjadi bagian dari ritual hari besar Dewa Hock Tek Ceng Sin/Fu De Zheng Shen (福德正神) atau yang populer disamakan dengan Toapekong/Da Bo Gong (大伯公), sang dewa bumi dan kemakmuran dalam kepercayaan paganisme Tionghoa. Hari besar dewa yang umumnya memiliki rupa seorang kakek ceria, berpenutup kepala dan seringkali digambarkan bertongkat ini, memang jatuh setiap tanggal 2 bulan 2 dalam penanggalan Imlek, yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 2 bulan Maret.

Meskipun demikian, tidak hanya Toapekong saja yang diangkat dari altarnya dan dinaikkan ke tandu khusus untuk dibawa berkeliling, karena patung Dewa Hian Thian Siang Te/Xuan Tian Shangdi (玄天上帝) juga mendapat perlakuan serupa.

Kirab diawali dengan ritual mohon izin, untuk memindahkan kedua patung dari altarnya. Setelah perpindahan selesai, para umat kelenteng yang kompak mengenakan pakaian berwarna merah pun bersiap membuat barisan.

Dipimpin kelompok tarian naga, barisan diikuti dengan tandu kecil yang khusus membawa Hiolo atau bokor tempat menancapkan dupa khusus dari altar Toapekong. Tandu sang dewa bumi pun berada di tengah, disusul tandu Dewa Xuan Tian Shangdi dengan ciri khas kaki kiri yang berpijak di atas seekor kura-kura. Iring-iringan tandu pun diekori sepasang Barongsai.

Tandu Toapekong kembali ke kelenteng.

Tandu yang digunakan dalam kegiatan kemarin, telah dimodifikasi pada bagian penyangganya. Apabila tandu pada umumnya hanya bisa dipanggul oleh empat orang (dua depan dan belakang), maka rangkaian kayu yang dibautkan ke penyangga utama memungkinkan lebih banyak orang ikut memanggul. Setidaknya ada 12 orang yang bisa mengangkat tandu, masing-masing empat di depan dan belakang, serta tambahan dua di sisi kanan dan kiri. Sehingga semua yang berminat memanggul, tetap kebagian kesempatan. Sementara itu, bagian utama tandu memiliki tinggi sekitar 1 meter. Khusus tandu Toapekong, dindingnya tidak menutup ketiga sisi. Patung Toapekong seolah dikelilingi partisi dengan desain khas Tionghoa, ditambah sejumlah ornamen pada ujung-ujung atapnya.

Di dalam setiap tandu, masing-masing berisi tiga patung. Satu patung utama Toapekong dan Dewa Xuan Tian Shangdi, dan sepasang patung pendamping masing-masing yang berukuran lebih kecil. Semua patung telah dipasangi jubah, dan dikalungi untaian bunga. Semua wangi pun bercampur, antara aroma dupa, mawar dan melati.

Rute arak-arakan dua patung dewa kemarin terhitung lebih panjang dari kirab sebelumnya. Dimulai dari kelenteng di Jalan Yos Sudarso, kirab mengarah ke Jalan Niaga Timur untuk terus mengarah ke Jalan Panglima Batur. Setelah itu barisan melintasi depan Mal Mesra Indah Jalan KH Khalid, dan memutar ke Jalan Pangeran Diponegoro-Jalan Pangeran Hidayatullah-Jalan Pangeran Suriansyah dan kembali masuk ke kelenteng. Uniknya, di setiap persimpangan, kelompok tarian naga akan melakukan atraksi singkat seperti berputar, putaran silang, dan sebagainya. Sedangkan kelompok remaja dan anak-anak yang berjalan mendahului tandu, akan berteriak “Wanshui! Shenti jiankang, wanshi ruyi (萬歲! 身體健康, 萬事如意)” yang berarti “Panjang umur! Tubuh sehat, semua urusan berjalan sesuai keingian” secara berulang-ulang sepanjang perjalanan. Dengan penjagaan dari sejumlah personel polisi, kirab pun tuntas berlangsung setelah 90 menit.

Persiapan penurunan patung dewa dari tandu.
Patung Xuan Tian Shangdi (玄天上帝) digendong masuk kelenteng.

Kembali ke titik awal kirab, satu persatu tandu dibawa masuk ke pelataran depan bangunan utama kelenteng. Itupun dengan gerakan maju-mundur sebanyak tiga kali sebelum akhirnya benar-benar masuk areal kelenteng, entah apa maksudnya. Tandu disambut taburan bunga, kemudian “diparkirkan” lalu isinya dikeluarkan. Dua patung pendamping dikeluarkan terlebih dahulu, disusul patung utama. Saat patung dikeluarkan, para umat berlutut dengan telapak tangan pada posisi menghormat, baik mereka yang telah bermandi peluh setelah ikut berjalan maupun yang hanya menunggu di kelenteng. Saat itu, tidak sedikit yang terlihat komat-kamit membacakan doa dan pengharapan, maupun sekadar menyampaikan penghormatan. Setelah semua patung dewa dan para pendampingnya kembali ke altar semula, para umat yang telah memadati bagian dalam ruang utama kelenteng pun melakukan sembahyang penutup secara bersama-sama. Sebelum bubar, banyak umat yang mengambil “oleh-oleh” berupa sisa taburan bunga untuk kemudian dibungkus dengan selembar kertas emas yang telah dihambur pada awal perjalanan. Biasanya, bunga bisa dicampur ke dalam bak mandi. Praktik umum lainnya adalah dengan membungkusnya menggunakan Kim Coa (kertas bercat emas yang biasanya dibakar dalam ritual kepercayaan tradisional Tionghoa), lalu menyimpannya di laci uang toko maupun kantor. Anda pasti bisa menebak maksud dan tujuannya.

Secara khusus, selain di Samarinda, juga ada beberapa kota yang melakukan ritual atau bahkan kirab serupa. Terutama di kelenteng-kelenteng dengan Toapekong sebagai dewa altar utamanya. Salah satu seperti Kelenteng Guang De Miao (廣德廟), Balikpapan.

Secara spiritual, warga Tionghoa cenderung tersugesti untuk mengkultuskan hal-hal seperti ini. Tapi dari sisi budaya, kegiatan seperti ini jelas menambah meriahnya rona Nusantara. Memberikan Minggu pagi yang berbeda, di Samarinda.

[]

Nebeng Imlekan di Negeri Jiran

KATANYA, there is always a first time (either good or bad). Dan sepertinya, hal itu yang saya alami pada Imlek tahun ini. Saya terpaksa tidak berada di rumah, dan merayakan Tahun Baru Imlek dengan suasana berbeda. Atau bahkan, “tidak perlu repot-repot” merayakannya, karena sedang jauh dari keluarga.

Anyway, tidak merayakan Tahun Baru Imlek, berarti jauh dari kehangatan keluarga yang berkumpul kembali, jauh dari makanan enak dan gratis, jauh dari “pemandangan-pemandangan menyenangkan”, dan jauh dari… angpao dong (malu sama umur sih :P).

Iseng, sehari sebelum berangkat, saya sempat mengabari sejumlah kawan yang tinggal di Kuala Lumpur. Tujuannya, agar kami bisa bertemu untuk merayakan Imlek bersama-sama, setidaknya pada hari kedua tahun baru (Sabtu, 1/2). Sayang, ternyata sebagian besar dari mereka mudik ke kampung halaman masing-masing, tersebar di selatan Selangor sampai Malaka. Dengan kondisi ini, saya pun bersiap-siap untuk melewatkan momen Tahun Baru Imlek sebagai turis, tanpa perayaan apa-apa.

Sebagai kotanya kaum urban, Kuala Lumpur memang kerap ditinggal mudik pada momen Tahun Baru Imlek. Karena sesuai tradisi, perayaan Tahun Baru Imlek selalu terpusat di rumah anggota keluarga yang paling tua. Sehingga jangan heran apabila di sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur menuju luar kota, pelataran rumah-rumah sederhana yang ada di sisi jalan dipenuhi mobil. Kontras. Maklum, generasi tua tetap bertahan di kediaman lama mereka. Sedangkan yang muda, beradu hidup di ibu kota.

Di hari kedua kunjungan kerja—malam pergantian tahun Imlek—kabar baik tiba. Kelar menunaikan hajat agenda, sebuah pesan WhatsApp dari seorang kawan muncul.

What’s Your plan tonight?” tanya Ryan Lee Jin Hwa (30), seorang kawan yang tinggal di Subang Jaya, sekitar 20 menit perjalanan dari Kuala Lumpur.

Maybe I’ll take my CNY (Chinese New Year, Red) eve’s dinner alone,” balas saya.

No! No CNY dinner alone!” hardiknya.

Jin Hwa with his CNY’s delicacies.

Spontan, Jin Hwa langsung menawarkan untuk bergabung makan malam di kediamannya, walaupun kemudian ia berusaha merendah dengan mengatakan bahwa menu yang disajikan was nothing but simple dish. Sungkan, ajakan itu saya tolak. Karena biasanya, makan malam Imlek khusus untuk anggota keluarga saja, sehingga saya bakal terlihat seperti seorang asing yang numpang makan gratis. Keukeuh, Jin Hwa kembali menyampaikan penawaran, hingga akhirnya undangan saya terima.

Tiba di kediaman Jin Hwa sekitar pukul 21.00 Wita, saya langsung disambut ucapan “Happy New Year” dari Ibunda Jin Hwa dan saudara-saudaranya. Sejurus kemudian, saya dibawa ke ruang makan. Sejumlah menu tersimpan rapi di bawah tudung saji. Sengaja belum dibereskan untuk saya. Padahal mereka telah selesai bersantap sejam sebelumnya.

Ungkapan Jin Hwa yang mengatakan bahwa menu yang disajikan di rumahnya hanyalah masakan sederhana, ternyata berlebihan. Di hadapan saya, ada campuran sayur serupa Shi Cai atau yang umum kita kenal sebagai Capcai, udang dan ayam goreng tepung. Juga disiapkan semangkuk sup tim herbal yang sedap dan sangat bergizi, serta masakan khas Penang yang disebut “Jiu Char” dalam dialek Hokkian.

Jiu Hu Char (魷魚炒)
Yours truly. 😛

Di antara semua menu tersebut, “Jiu Char” atau lengkapnya “Jiu Hu Char” (魷魚炒) paling menarik perhatian. Bentuknya serupa tumisan wortel, kol, bengkoang, jamur kancing, serta potongan sotong goreng. Cara menyantapnya adalah dengan dijepitkan pada sehelai selada. Manis, gurih, sedikit berair, dan renyah.

This is Penang food. We only make it on celebrations or festivals,” kata Jin Hwa.

Saya cuma manggut-manggut, sambil asyik makan. Enak, soalnya. Hahaha *enggak tahu malu*

Anyway, You guys not going back to Penang?” tanya saja sembari makan.

Oh, this year, all families will come to my house. It’s my mum’s turn (to host),” jawab Jin Hwa.

Jaga image, saya pun segera menyudahi makan malam Imlek di sana untuk kemudian bercengkerama dengan Jin Hwa dan keluarganya.

LIBUR PANJANG, BISNIS TETAP JALAN

Banyak ngobrol dengan Jin Hwa, seorang sopir van yang MBI (Malaysian-born Indian) bernama Ghani, seorang sopir taksi keturunan Bugis yang punya 20 hektare kebun kelapa sawit di Sangatta (Kutai Timur, Kalimantan Timur) bernama Sudirman, serta pramuniaga keturunan Tionghoa di salah satu outlet dalam Pavilion, saya baru tahu bahwa perayaan Tahun Baru Imlek di Malaysia lumayan berbeda dengan di Indonesia, apalagi Samarinda.

Di Malaysia, libur Tahun Baru Imlek berlangsung selama dua hari, yakni Jumat (31/1) dan Sabtu (1/2). Menariknya, karena libur hari kedua jatuh pada Sabtu, maka pemerintah pun memberlakukan penggantian hari, yakni sampai Senin (3/2). Sehingga semua kantor pemerintahan maupun sebagian besar perusahaan swasta baru kembali beroperasi pada Selasa (4/2). Ini menjadi legalitas Harpitnas yang selama ini nyaring berkumandang di Indonesia, hahaha.

Jalan Alor

Meskipun demikian, momen libur ini tetap dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku sejumlah sektor usaha. Sebagian besar restoran di Jalan Alor misalnya, tetap buka dan melayani pengunjung pada malam Tahun Baru Imlek dan perayaan hari pertama. Para bos restoran ini mengerahkan para pekerjanya, yang rata-rata didominasi warga negara Myanmar (pantesan, waktu pesan makanan dengan bahasa Tionghoa, sang waitress malah cengo. Baru mudeng waktu pakai bahasa Inggris) untuk tetap mendulang Ringgit. Begitu juga tempat penjualan cenderamata—dengan cicik-cicik pramuniaga berbaju Cheongsam seksi dan agresif menggoda memikat pengunjung—yang berada dekat dengan lokasi wisata, seperti Batu Caves Pewter.

Businesses keep running. It’s big business in CNY. People goes to restaurant, eat their dinner, go to Genting, et cetera. The bosses can go back home, but the restaurant still open. Not everybody celebrates CNY,” celetuk Jin Hwa dalam perjalanan mencari tempat Thai Massage yang masih buka, sekitar pukul 00.30 Wita.

Gambaran ini menunjukkan perbedaan strata antara pemilik usaha dan pekerja. Meskipun sama-sama merayakan Tahun Baru Imlek, namun sang majikan masih bisa pulang untuk makan malam Imlek bersama keluarga. Sedangkan karyawannya, akan mendapatkan kompensasi pengganti momen hari raya yang hilang pada beberapa hari setelahnya. Sedangkan di Indonesia, apalagi Samarinda, para pemilik bisnis akan tetap meliburkan usahanya pada hari pertama Imlek. Untuk kemudian kembali buka dengan durasi singkat pada hari kedua sebagai syarat, atau baru boleh buka secara penuh pada hari keempat Tahun Baru Imlek, Selasa (4/2) lalu. Mitos ini masih berlaku sampai sekarang.

CNY-themed interior in Pavilion.

Situasi serupa juga terlihat di pusat-pusat keramaian. Di Pavilion yang selalu dipenuhi pengunjung maupun turis, Fahrenheit 88, Suria KLCC di bawah menara kembar Petronas, area bermain Sunway Lagoon, termasuk Genting Highlands yang terkenal dengan kasinonya. Kepadatan pengunjung juga dari warga Tionghoa. Bahkan pada hari pertama Tahun Baru Imlek (Jumat, 31/1), antrean SkyTrain atau kereta udara menuju Genting Highlands memaksa rombongan kami berdiri mengantre selama sekitar 45 menit. Padahal di jejeran pengunjung, sebagiannya adalah warga Tionghoa dengan beragam motivasi dan asal negara, termasuk Indonesia. Ada yang ingin bermain judi, tapi tak sedikit juga yang pergi bersama seluruh anggota keluarga. Mereka pun merayakan Tahun Baru Imlek di sana.

Queue to Genting SkyTrain.

Bukan mustahil, pola perayaan Tahun Baru Imlek seperti ini juga akan dialami warga Samarinda. Pasalnya, saya menemukan setidaknya ada empat keluarga asal Kota Tepian Samarinda yang Imlekan di Negeri Jiran. Rata-rata tujuan mereka ke Malaysia adalah melewatkan momen libur panjang Tahun Baru Imlek dalam perayaan yang tidak biasanya. Makan malam Tahun Baru Imlek di restoran, lalu hari pertama Imlek dihabiskan di pusat keramaian maupun berbelanja, dan sebagainya. Karena itu, mereka pun berangkat sekeluarga.

“Ya habis gimana, keluargaku (yang di Samarinda, Red) pada ke Surabaya semua. Daripada sendirian, ya ke Malaysia sekeluarga,” kata Ricky, seorang kawan. Warga Samarinda yang tak sengaja bertemu di LCCT menuju pesawat yang sama, Minggu (2/2) lalu.

Di sisi lain, Tahun Baru Imlek memang hanya merupakan hari raya keagamaan bagi penganut Khonghucu. Selebihnya, momen ini menjadi hari raya sosial bagi warga Tionghoa pada umumnya. Sehingga, memang tidak ada aturan khusus untuk merayakannya, selama bersama keluarga.

Eventually, my first CNY abroad, wasn’t that bad after all. 🙂

新年快樂!

[]