Kenapa Kita Selalu Keliru Membaca Ejaan Tionghoa?

PERTANYAAN: Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat membaca tulisan “Sichuan” atau “Shandong”? Bagaimana kamu melafalkannya? Pernahkah penasaran, kalau tertulis “Sichuan” dan “Shandong” kenapa kok sering terdengar seperti “se-cuan” dan “shan-tung”?


Kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang versi terbarunya memuat 127 ribuan entri berupa kata dan frasa dan dirilis pertengahan tahun lalu.

Dalam bahasa Tionghoa, kamus umum terbesarnya adalah 中華字海 (Zhonghua Zihai) yang secara harfiah berarti “Lautan Aksara Tionghoa”. Dinamakan demikian karena Zhonghua Zihai memuat 85 ribuan entri berupa aksara saja.

Berbeda dengan bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa lain yang menggunakan alfabet (kata adalah susunan huruf), setiap aksara bahasa Tionghoa mewakili satu kata dan memiliki bentuknya masing-masing. Komposisi goresannya tidak ada yang sama persis, dan dilafalkan sebagai satu suku kata tunggal. Mau tidak mau, harus hafal bentuk, bunyi, serta maknanya.

Coba tolong dibaca… 😂😂😂

Dengan ini, tentu akan sulit bagi seseorang penutur bahasa lain untuk membunyikan aksara Tionghoa yang ditemuinya. Sehingga diperlukan semacam sistem transliterasi, yakni ketika lafal sebuah aksara Tionghoa ditulis ulang menggunakan alfabet.

Misalnya begini.

  • Tulisan Tionghoa untuk tata krama/sopan santun adalah . Masing-masing bunyinya adalah “li” dan “mao“. Sebagai pelafal bahasa Indonesia, kita menuliskan bunyi kedua aksara tersebut sebagai “li” dan “mao” pula. Lain halnya dengan orang Amerika Serikat, yang barangkali akan menuliskannya sebagai “lee” dan “maw“.
  • Tulisan Tionghoa untuk bunga anggrek adalah . Masing-masing bunyinya adalah “lan” dan “hua“. Akan tetapi, khusus untuk aksara kedua, masih sering kita temui orang-orang yang menuliskannya sebagai “hwa” maupun “hoa“. Hal ini juga yang terjadi pada tulisan “Tionghoa“, menyebabkan banyak orang awam melafalkannya sebagai “ti-yong-ho-wa” alih-alih “tyong-hua“. Kerasa baunya bedanya, kan?

Upaya untuk menyusun sistem transliterasi aksara Tionghoa dengan alfabet latin sudah dimulai sejak awal 1600-an. Begitu pula di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Kala itu, warga Tionghoa yang mendapatkan pendidikan ala Belanda menggunakan ejaan Van Ophuijsen dalam melakukan alih aksara, terutama dalam menuliskan nama. Maka muncullah “Oen” (文) yang dibaca “un” atau terkadang “wen”; “Lie” (李) yang dibaca “li”, bukan “li-e”; “Tjen” (珍) yang dibaca “cen”; “Jong” (楊) yang dibaca “yong”; “Soe” (蘇) yang dibaca “su”; dan sebagainya.

Setelah jurang linguistik ini mulai teratasi, tantangan selanjutnya adalah standarisasi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk membuat tulisan Tionghoa lebih mudah dibaca (oleh penutur bahasa lain) dan dipelajari, orang Amerika Serikat tentu akan kebingungan membaca ejaan Van Ophuijsen. Begitu pun sebaliknya.

Dari sekitar lima sistem transliterasi modern Hanzi (aksara Tionghoa) ke abjad Romawi yang dihasilkan, dua di antaranya digunakan secara global sampai sekarang. Salah satunya–拼音 (Pinyin)–disahkan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok selaku si empunya bahasa sebagai sistem resmi, sekaligus menjadi standar internasional dialek Mandarin.

Sementara sistem yang satu lagi–Wade-Giles–masih bertahan di Taiwan, dan secara parsial di Singapura dan Malaysia. Untuk yang ini, bisa kita kesampingkan dulu ya… ntar tanyain aja lagi.


Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas. Kenapa “Sichuan” dibaca “se-cuan”, dan “Shandong” dibaca “shan-tung”? Kok bisa berubah? Ya beginilah sistem Pinyin, ketika abjad Romawi tidak bisa kita bunyikan seperti dalam mengeja bahasa Indonesia.

Tertulis Dibaca
bi pi
pi phi
di ti
ti thi
ge ke
ke khe
ji ci
qi chi
xi si
zhi che(h)
chi che
shi she(h)
zi ce(h)
ci ce
si se
yan yen

Tabel di atas adalah daftar sederhana untuk ejaan Pinyin yang sering bikin salah baca, serta bisa disesuaikan dengan huruf vokal yang mengikutinya. Kalau ada yang keliru atau kurang, mohon ditambahkan atau dikoreksi ya.

Contohnya seperti ini.

Beijing (北京) → pei-cing
Guangzhou (廣州) → kuang-chou
Yajiada (雅加達) → ya-cia-ta → Jakarta
Sishui (泗水) → se-shui → Surabaya
Sanmalinda (三馬林達) → san-ma-lin-ta → Samarinda
Malibaban (麻里巴板) → ma-li-pa-pan → Balikpapan
Shidouazuo (詩都阿佐) → she-tou-a-cuo → Sidoarjo
Xuexiao (學校) → syue-siao → sekolah
Daxue (大學) → ta-syue → universitas
Qiche (汽車) → chi-che → mobil
Gangbi (鋼筆) → kang-pi → pena
Jiankang (健康) → cien-khang → sehat
Hongbao (紅包) → hong-pao → angpau
Yanjing (眼睛) → yen-cing → mata
Yanjing (眼鏡) → yen-cing → kacamata
Anjing (安靜) → an-cing → tenang
Bokong (撥空) → po-khong → menyediakan waktu

…dan jujur saja, sebagai seseorang yang ndak terlalu bisa ngomong Tionghoa, bagian paling susah adalah “zhi, chi, shi, zi, ci, si” yang bikin lidah keblibet dan bonus muncrat 💩💩💩 Belum lagi soal intonasi atau nada bicara tiap kata. Ujung-ujungnya ya pakai bahasa Inggris juga, agak merasa gagal sebagai seorang keturunan Cina. 😛😛😛

[]

Paganisme Tradisional Tionghoa & Kearifan Lokal Nusantara

SELAIN peristiwa Bani Israil melebur perhiasan emas lalu dijadikan berhala anak lembu betina~~~ setelah dibawa Nabi Musa menyeberangi Laut Merah menghindari kejaran Firaun, tampaknya bangsa Tionghoa sudah default sebagai salah satu pelaku animisme paling fleksibel dalam peradaban dunia sampai saat ini. Paling luwes, dan paling sinkretis dalam perspektif budaya. Di mana pun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Ada kepercayaan tradisional tentang Dewa Bumi sebagai danyang teritorial. Semacam penjaga atau penguasa lokasi setempat. Bukan penunggu, karena derajatnya tidak sama dengan hantu. Tiap kali ngapa-ngapain, harus diberi tahu dan dikasih jatah. Seperti ketika ingin membangun rumah, pindah kediaman, membuka toko atau tempat usaha, sampai penjaga makam, dan sebagainya.

Dewa Bumi ini populer dengan banyak nama. Kerap dianggap berbeda dengan Fu De Zheng Shen (福德正神) atau Hok Tek Ceng Sin dalam dialek Hokkian, Toapekong (大伯公), maupun Tudigong (土地公) yang secara harfiah merujuk pada sesosok kakek. Padahal sama saja.

Salah satu ciri khasnya adalah altar yang tidak menggunakan meja, melainkan menapak tanah. Sangat mudah dikenali di rumah, toko, atau restoran milik warga Tionghoa.

Salah satu altar Dewa Bumi di sekitar kawasan Petak Sembilan, tepat di pinggir jalan samping sebuah gang.

Dibawa “merantau” ke Indonesia, figur Dewa Bumi pun akhirnya digeser. Tidak berganti, melainkan disejajarkan. Sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari yang awalnya digelari Dewa Bumi Lima Arah Lima Jalan (五方五路土地公), akhirnya mulai bisa dipanggil “Datuk”. Sajennya pun lebih me-Nusantara berupa kopi hitam, dan rokok kretek. Di Cina sana mana pake yang begituan.

Nah, lagi-lagi karena kearifan lokal, segelas kopi hitam, rokok kretek, dan/atau segelas air kembang selalu dipersiapkan setiap Kamis malam. Kenapa malam Jumat? Kemungkinan besar sejalan dengan kepercayaan khas di Indonesia yang sudah lebih dulu ada. Bagi keluarga yang memiliki altar Dewa Bumi, sesajen tersebut akan ditempatkan dalam nampan dan diletakkan di depannya. Apabila tidak punya, nampan cukup diletakkan di tengah atau salah satu sudut ruang tamu.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi, air kembang tadi kemudian disiramkan di depan rumah. Entah apa maksudnya, ataukah hanya kebiasaan yang telah turun temurun saja. Di sisi lain, masih di Samarinda, kadang ditemukan kembang serupa sengaja dihamburkan di persimpangan jalan, terutama daerah padat kendaraan dan rawan kecelakaan.

Seperti ini. Barangkali bisa disebut bentuk paganisme dengan kearifan lokal. Setidaknya yang terjadi, dan terus dilakukan dalam lingkungan keluarga saya maupun orang-orang Tionghoa di Samarinda.

Dari salah satu contoh ini, sinkretisme religius budaya Tionghoa terlihat begitu cair. Ketika ritual yang dibawa dari tanah nenek moyang berubah bentuk, dilokalkan. Kebiasaan menyiapkan air kembang bungkus pada malam-malam tertentu jelas merupakan peniruan, dan akhirnya terus dilakukan warga Tionghoa dengan logika sederhana; “kayaknya bener juga ya…” atau “sudah dilakukan dari dulu-dulu, jangan sembarangan nanti kualat!”

Punya penjelasan tentang kebiasaan malam Jumat seperti ini, boleh dibagi di kolom komentar ya. I would love to know it!

Apakah sinkretisme ini hanya terjadi di Indonesia? Kayaknya tidak. Ada satu Mandir atau kuil Hindu India di Singapura yang bahkan menyediakan hiolo atau tempat menancapkan hio di depan pintu utamanya. Seperti yang sempat saya lihat pada 2008 lalu. Warga Tionghoa setempat pun bisa melakukan penghormatan dengan gaya yang sama seperti di kelenteng. Yakni dengan cara “Cung-Cung-Cep” atau “Acung-Acung-Tancep”.

Dewanya dewa Hindu, ritualnya gaya Cina. Beda rupa, tapi mungkin maksudnya sama.

Begitulah budaya religius Tionghoa, selalu bisa merasuk dengan kearifan lokal di mana berada.

[]

5 Kekeliruan Jurnalisme tentang Tahun Baru Imlek & Capgomeh

ADA satu pepatah Tionghoa yang cocok dengan kondisi ini; “三人成虎.” Ketika sebuah ketidaktahuan atau kekeliruan akhirnya dianggap sebagai kebenaran, setelah terus menerus disampaikan dari/oleh/kepada banyak orang. Termasuk mengenai Tahun Baru Imlek dan Capgomeh, sampai sekarang.

Dalam konteks ini, jurnalisme populer di Indonesia punya andil cukup signifikan menyebarkan informasi yang kerap keliru. Diawali dengan minimnya pengetahuan dasar para pewarta, seringkali diwarnai asumsi dan generalisasi, lalu pemilihan narasumber “yang penting orang Cina” atau mengandalkan ketokohannya semata demi menghasilkan materi tematik rutin tahunan. Sederhananya, sang wartawan tidak sadar bahwa informasi yang disampaikan narasumber belum tentu tepat. Setelah jadi artikel atau tayangan liputan, kekeliruan itu pun menyebar menjadi wawasan baru bagi masyarakat luas. Termasuk warga Tionghoa sendiri. 😅

Berikut lima pemicu kekeliruan yang selalu ditampilkan di media massa.

  1. Liputan ke Vihara

2824_28
Source: Epaper Kaltim Post edisi 28 Januari 2017.

Para wartawan akan mendatangi vihara untuk meliput persiapan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek. Mengenai ini, ada beberapa hal yang seyogianya dipahami:

  • Vihara adalah tempat ibadah agama Buddha.
  • Agama Buddha berasal dari India, dan akhirnya terbagi dalam beberapa mazhab. Salah satu mazhabnya–Mahayana–berkembang dan menjadi identik dengan Tiongkok. Sampai banyak yang mengira bahwa Buddhisme berasal dari sana.
  • Hanya beberapa sub mazhab Mahayana yang melakukan akulturasi dengan budaya Tionghoa.
  • Tidak semua vihara di Indonesia bermazhab Mahayana, maupun pecahannya.
  • Tidak semua vihara di Indonesia ikut merayakan Tahun Baru Imlek sebagai bagian dari aktivitas spiritualnya. Jadi, jangan heran apabila melihat vihara yang adem ayem tanpa persiapan apa-apa.
  • Vihara berbeda dengan kelenteng, meskipun ada banyak kelenteng yang memiliki sebutan berawalan “vihara” (ulasannya bakal ditulis terpisah deh… kalau ingat). Kelenteng lebih kepada panteon, tempat pemujaan dan persembahyangan kepada dewata Tionghoa. Karena akulturasi dan karakteristik budaya, banyak warga Tionghoa yang memperlakukan vihara Mahayana seperti panteon. Toapekong (大伯公) itu bukan kelenteng, melainkan sebutan untuk Dewa Bumi.
  1. Hari Raya Agama Khonghucu

Ada batas yang rancu antara “budaya tradisional” dan “kepercayaan tradisional” Tionghoa. Dalam hal ini, Tahun Baru Imlek bisa disebut sebagai hari raya budaya sekaligus hari raya keagamaan, tergantung sudut pandang yang digunakan.

  • Pada dasarnya, Tahun Baru Imlek adalah momen permulaan penanggalan agraria. Itu sebabnya Imlek (陰曆) juga kerap disebut sebagai Nongli (農曆), atau penanggalan pertanian dengan tahun baru sebagai penanda dimulainya musim semi. Siklus tanam yang baru. Karena itu juga, Tahun Baru Imlek juga dinamakan dengan (春節) atau Festival Musim Semi.
  • Sebagai hari raya budaya, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan oleh semua warga Tionghoa tanpa dibatasi agama yang dianutnya. Dalam hal ini, merayakan berarti ikut bergembira ria, berkumpul bersama keluarga, saling berkunjung, dan mengadakan jamuan di rumah. Di luar beragam persembahyangan.
  • Sejak awal, ragam ritual yang melekat pada perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari kepercayaan tradisional Tionghoa, dan perkembangannya (animisme purba, munculnya ajaran Tao, munculnya ajaran Khonghucu awal, masuknya ajaran Buddha Mahayana, terjadinya akulturasi agama).
  • Tetap saja, Tahun Baru Imlek bukan termasuk salah satu dari hari raya agama Buddha (Vesak, Asadha, Kathina, Magha Puja). Di Wikipedia juga sudah ada artikel kronologinya, kok. Sehingga para wartawan semestinya tidak susah mencari referensi.
  • Setelah menjadi agama resmi keenam, majelis agama Khonghucu pun kembali mengangkat Tahun Baru Imlek sebagai hari raya keagamaan utama. Sebagai salah satu pembedanya adalah penggunaan istilah Kongzili (孔子曆) yang berarti “Penanggalan Kongzi/Khonghucu” dimulai dari tahun lahir Nabi Kongzi.
  • Selain itu, Tahun Baru Imlek juga dianggap sebagai hari lahir Buddha Maitreya (彌勒佛) atau yang lebih dikenal sebagai Buddha Tertawa. Meskipun disebut Buddha, namun figur ini berbeda dengan Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai pembawa Buddhisme dari India. Buddha Maitreya pun hanya menjadi figur sentral bagi aliran Maitreyanisme dan Ikuandaoisme, sebagai pecahan dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok. Sehingga bagi para umat kedua aliran tersebut, Tahun Baru Imlek juga mereka maknai sebagai momen religius.
  1. Liputan ke Kelenteng atau Vihara di Hari Pertama Tahun Baru Imlek

Bisa jadi lantaran asumsi bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya “agama Tionghoa”, banyak wartawan yang berburu bahan berita ke vihara atau kelenteng di hari pertama perayaan. Pagi-pagi sekali. Dianggap sama seperti Salat Id pada 1 Syawal bakda subuh; misa malam Natal pada 24 Desember malam; misa Natal pada 25 Desember pagi; peringatan Detik-detik Vesak; Melasti sebelum Nyepi, dan sebagainya. Padahal, tidak ada persembahyangan atau ritual khusus Tahun Baru Imlek secara bersama-sama.

  • Tahun Baru Imlek merupakan hari raya keagamaan resmi bagi umat Khonghucu. Tempat ibadahnya bernama Li Tang (禮堂) yang berarti aula kebaktian. Persembahyangan yang formal pasti hanya dilakukan di sana. Ada pun upacara peringatan hari lahir Buddha Maitreya oleh umat aliran tersebut dilakukan di lokasi dan waktu yang terpisah.
  • Sedangkan sembahyang di kelenteng-kelenteng dilakukan oleh warga Tionghoa secara sporadis, bukan berjemaah, dan sebenarnya sama saja seperti kegiatan setiap hari. Akan tetapi jumlah pengunjungnya saja yang lebih banyak. Sebab persembahyangan utama yang mesti dilakukan pada Tahun Baru Imlek adalah kepada leluhur, dan cukup dilakukan pada altar di rumah masing-masing.
  • Di sisi lain, tidak sedikit juga warga Tionghoa yang sengaja bersembahyang di kelenteng pada Tahun Baru Imlek. Kegiatan ini tidak terorganisasi secara khusus, sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri, serta tidak ada ritual khusus. Tak ada bedanya dengan urutan persembahyangan di hari-hari lainnya.
  • Kegiatan utama pada hari pertama Tahun Baru Imlek tentu saja saling berkunjung dalam lingkar keluarga sendiri. Di hari kedua barulah mengunjungi teman dan lingkar pergaulan sosial lain secara luas.
  1. Memilih Narasumber Tokoh Agama Selain Khonghucu

Saat ingin melakukan wawancara, silakan sesuaikan narasumber dengan tajuk yang akan dikemukakan.

  • Saat bertanya kepada pemuka agama Khonghucu, dia pasti akan menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari raya agama, bukan perayaan budaya.
  • Saat bertanya kepada tokoh aliran Maitreya, dia pasti akan memberikan semacam pesan-pesan moral dan penyegaran rohani agar menjalani tahun baru dengan keinsafan, penuh welas asih kepada semua makhluk, dan diisi dengan perbuatan bajik.
  • Saat bertanya kepada pengurus kelenteng, dia pasti akan menjawab sebisanya. Menjelaskan tentang mitos, legenda, dan makna di balik semua simbol khas dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Saat bertanya kepada tokoh Tionghoa yang bukan penganut Khonghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa, maupun Buddhisme Mahayana, dia pasti akan menunjukkan bahwa Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul bersama keluarga tanpa batasan agama.
  • Saat bertanya kepada ahli Fengshui dan Shio, dia pasti akan menjabarkan tentang peruntungan masing-masing lambang astrologi Tionghoa.
  • Saat bertanya kepada kaum muda Tionghoa, ehm… jawabannya ya gitu
  • Saat bertanya kepada generasi kekinian Tionghoa, bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan mengaku tidak lagi merayakan Tahun Baru Imlek. Ini salah satunya. Hahaha!
  1. Capgomeh = Ajang Cari Jodoh

natgeo
Source: Nationalgeographic.co.id. Pewarta National Geographic Indonesia pun “terikut” para narasumbernya dengan menyebut Capgomeh sebagai Malam Mencari Jodoh. Hahaha!

Di berbagai kota Indonesia, Capgomeh seringkali terkesan lebih meriah ketimbang Tahun Baru Imlek. Disebut juga sebagai penutup perayaan. Capgomeh tahun ini berlangsung Sabtu malam nanti.

  • Pada awalnya, belum ada ketentuan yang menentukan bahwa Tahun Baru Imlek dirayakan sepanjang 15 hari.
  • Nama asli Capgomeh adalah Festival Yuanxiao (元宵節), bermula dari salah satu kisah legenda tentang seorang dayang istana bernama Yuanxiao. Capgomeh (十五暝) sendiri kurang lebih diartikan sebagai malam ke-15. Kebetulan saat purnama pertama di tahun baru.
  • Terkait dengan legenda tersebut, Capgomeh juga disebut dengan Festival Lampion. Semua orang turun ke jalan, membuat keramaian, pesta kembang api dan petasan. Meriah! Itu sebabnya Capgomeh akhirnya juga dianggap sebagai bagian terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan di malam hari.
  • Secara khusus, tidak ada persembahyangan atau ritual tertentu dalam melewati malam Capgomeh. Pengurus kelenteng atau Li Tang bisa menyelenggarakan ibadah bersama maupun tidak. Pun bukan dikategorikan sebagai hari raya, melainkan lebih kepada aktivitas sosial kemasyarakatan.
  • Karena keramaian, dan semua orang turun ke jalan, peluang seseorang untuk berinteraksi sosial dengan orang lain makin besar. Tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang ditaksir.
  • Di Indonesia sendiri, banyak kota yang hanya memiliki satu kelenteng. Perayaan Capgomeh pada masa Orde Baru hanya dipusatkan di sana, sehingga meningkatkan kemungkinan para warga Tionghoa kota tersebut untuk saling berkumpul di lokasi yang sama. Selanjutnya, just do the math 🙂

Kurang lebih demikian, lima itu dulu ya. Mudah-mudahan bermanfaat, serta makin banyak konten berita Tahun Baru Imlek dan hal-hal terkaitnya yang lebih tepat di tahun depan.

Oh ya, Selamat Capgomeh!

[]

Tabu dalam Budaya Tionghoa: Sebuah Perspektif

  • JANGAN potong kuku malam-malam, bisa mengundang hantu datang.
  • Jangan menikah dengan seseorang yang selisih usianya tiga atau enam tahun, bisa berujung pada kesialan. Sebaliknya, menikahlah dengan yang selisih usianya dua atau empat tahun agar lebih beruntung dan bahagia.
  • Angka-angka yang dianggap bagus adalah 3, 6, 7, 8, 9, juga kombinasi 18 dan 168. Sedangkan angka yang melambangkan keburukan adalah 4.
  • Jangan melewati garis pintu utama saat menyapu tempat usaha. Sampah atau debu yang disapu dalam ruangan, disekop di dalam. Sedangkan saat Tahun Baru Imlek, tidak boleh menyapu sama sekali.
  • Saat makan buah pir jangan dibagi ke orang lain.
  • Jangan memberi hadiah jam dinding atau jam besar, terutama saat peresmian atau pembukaan tempat usaha.
  • Jangan menangis di Tahun Baru Imlek.
  • Jangan bersiul atau bertetabuhan di malam hari.
  • Jangan membaca buku apabila sedang menjaga toko atau tempat usaha.
  • Jangan makan tidak bersih, atau menyisakan butiran nasi di piring, karena akan membuat si pelaku bakal bersuamikan pria dengan wajah berbopeng-bopeng.
  • Jangan melayat dengan mengenakan busana merah.
  • Jangan datang ke acara-acara bahagia (pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya) dengan busana warna putih atau hitam.
  • Jangan bicara sembarangan, dan ketuk buku jari tiga kali pada meja kayu agar ucapan itu tidak jadi kenyataan. Bisa juga diiringi ucapan “1… 2… 3…” diulang dua-tiga kali dalam bahasa Tionghoa.

Selain hal-hal di atas, masih ada banyak tabu atau pemali lain yang dipercayai warga Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Beberapa di antaranya bahkan cukup populer, sampai-sampai pelaksanaannya diikuti lebih banyak orang. Poin terakhir misalnya, ucapan “yi… er… san…” diganti dengan “choy…” entah apa lah artinya. 😀

Lahir dan tumbuh sebagai seorang Tionghoa di Samarinda–meskipun bukan dalam keluarga yang totok, pemali-pemali seperti di atas sudah diekspose sejak dini dalam kehidupan sehari-hari.

Berbarengan dengan tradisi mitos, etiket kesopanan, dan nilai-nilai sejenis, pemali-pemali tersebut dipegang teguh dan terus dijalankan oleh para tetua konservatif dengan giat. Semuanya diturunkan kepada generasi yang lebih muda, diiringi doktrin bahwa mereka harus ikut melakoninya sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung sekaligus pendidikan karakter. Dalam hal ini, nyaris tidak ada ruang untuk berbantah-bantahan atau berdiskusi. Sebab sikap mempertanyakan, mengkritik, atau menolak melakukannya bakal dianggap sebagai bentuk kekurangajaran. Belum lagi ditambahi ancaman nasib buruk, kesialan, maupun kualat. Sesuatu yang akan dibilang “ya… percaya enggak percaya lah.

Keadaan ini mungkin agak berbeda dibanding yang berlangsung di kota-kota besar pulau Jawa. Sebagian besar warga Tionghoanya relatif lebih sering bersentuhan dengan pola pikir modern, mau menafikan kekakuan demi efisiensi serta efektivitas hidup, atau dalam istilah lain; sibuk dan enggak punya banyak waktu untuk ngurusin yang gitu-gitu.

Bagaimana sebaiknya kita memandang perkara ini? Apakah dengan tetap mempercayai dan menjalankannya, atau malah meninggalkannya?


Saat ini, ada jurang besar antara kaum tua dan muda dalam menyikapi khazanah budaya tersebut. Selalu kita dengar, ketika kaum tua mengeluhkan sikap para anak muda yang mbalelo, kurang sopan santun, minim hormat, dan tidak mengindahkan nilai-nilai (yang dipercaya) sakral.

Padahal, ada alur komunikasi dan reasoning yang terputus, sehingga kedua pihak tidak akan nyambung. Tidak terjadi transfer budaya yang semestinya kaya akan diskusi dan apresiasi berujung kesepahaman atau saling menghormati, melainkan doktrinasi dengan kata sakti: “harus”, “pokoknya”, dan “tidak boleh.”

Di sisi lain, kaum tua yang menjadi pelaku khazanah budaya tersebut juga merupakan “korban indoktrinasi” sebelumnya. Jadi, mereka sudah telanjur memegang teguh semuanya tanpa dibarengi pemahaman tentang anggapan, sugesti, stigma dan prasangka, kebijaksanaan dan filosofi dalam adat. Diperparah dengan ketidakcakapan berkomunikasi, termasuk dalam menjelaskan sesuatu pada kaum muda. Jawaban pamungkas untuk semua pertanyaan adalah: “dari sananya ya begitu, dari zaman engkongmu sudah seperti itu.” Jawaban nanggung dan tidak memuaskan rasa keingintahuan. Apalagi kalau ditambah celetukan “sudah, jangan banyak tanya.

Jarak budaya makin jauh.

Salah satu contohnya, wanita Tionghoa yang baru melahirkan tidak boleh keramas sampai 40 hari setelah persalinan. Bagi tetua yang kolot, pantangan ini sama sekali tidak boleh dilanggar. Padahal, selalu ada alasan dan penyebab dari segala sesuatu, dan siapa saja berhak mempertanyakan alasannya tanpa bermaksud untuk bersikap dramatis.

Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau:

Apakah membasahi rambut juga termasuk keramas? Apabila rambut kena percikan air, disebut keramas?
Bagaimana dengan keramas menggunakan air hangat, dan dilakukan di siang hari yang cuacanya gerah?
Apakah keramas di sini dilakukan sendiri? Bagaimana jika keramas seperti di salon, dan bukan dalam kondisi sekaligus mandi?

Khusus untuk pantangan ini, satu-satunya alasan yang saya reka sendiri adalah, wanita yang baru melahirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Saat mandi sendiri apalagi dengan air sejuk, takutnya bisa jatuh atau pingsan di kamar mandi. Di sisi lain, air dingin yang menyentuh kepala bisa menyebabkan kurang enak badan alias masuk angin. Juga mempertimbangkan kualitas pelayanan kesehatan persalinan puluhan tahun silam. Fair enough, right?

Kalau pengin kreatif, soal mitos dilarang keramas ini bisa dijadikan model activation dalam peluncuran produk dry shampoo atau sampo kering. Minta afirmasi dari tetua untuk menetapkan batasan soal “keramas yang pantang”. Tak mustahil, produk ini dapat dilirik kaum ibu muda yang baru melahirkan tapi sudah sangat gerah dengan rambut bau tak tercuci selama beberapa hari.

Contoh lain, yang agak absurd. Setelah pergi melayat, seseorang dilarang menjenguk orang sakit, bayi yang baru dilahirkan, mendatangi acara pernikahan, mendatangi peresmian tempat usaha atau rumah baru, mendatangi pesta ulang tahun, melakukan kunjungan silaturahmi saat Tahun Baru Imlek, serta berkunjung ke tempat ibadah (terbatas pada kelenteng maupun vihara aliran Mahayana).

Alasan yang lazim soal pantangan ini adalah anggapan adanya aura negatif, kesialan, duka yang melekat pada tubuh orang tersebut. Cara menguranginya dengan membasuh diri menggunakan air kembang sebelum masuk rumah, atau tidak datang ke acara sama sekali. Masuk akal? Tidak, dan terkesan nyeremin. Orang pun takut dan enggan untuk melanggarnya. Di sisi lain, si empunya acara pasti tersinggung berat kalau dikunjungi orang yang habis melayat. Sebab sama artinya sengaja menularkan kesialan. Secara umum, bahkan sangat dilarang untuk mengucapkan kata-kata bernuansa buruk (mati, tewas, hilang, habis, putus, pecah, rusak, dan sejenisnya) dalam setiap acara bahagia.

Terus, apa alasan paling logis soal ini? Bagi saya, adalah ketidaknyamanan sosial. Perubahan emosi yang terlalu drastis bisa memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi seseorang. Setelah bersedih-sedih saat melayat (kecuali kalau sedihnya cuma basa basi sosial doang), kemudian malah harus tertawa-tawa di acara orang lain. Sebab kemurungan itu jelas terlihat di wajah. Sehingga, lebih baik menenangkan diri. Hanya saja, saat pantangan ini dibakukan entah berapa ratus tahun lalu, tidak ada yang menyadari bahwa manusia terus berevolusi dalam berperasaan. Perkabungan tidak lagi berlangsung dalam waktu berbulan-bulan. Setelah melayat tidak bisa datang ke pesta ulang tahun? Ya enggak masalah, ke mal aja, jalan-jalan di sana. Beres perkara.

Kalau ketidaknyambungan ini dibiarkan terus, siapa yang jadi korban? Semuanya. Para orang tua akan lebih sering makan hati, memperbesar potensi alami gangguan kesehatan karena perasaan; para anak muda akan makin jauh dari kesempatan pengalaman hidup yang seru dan jarang-jarang dilakukan, serta cenderung terbiasa dengan perspektif yang dangkal; serta nilai-nilai budaya yang sejatinya unik dan menyenangkan terlupakan, punah.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa terdekat.

Kaum muda identik dengan kepraktisan, pemikiran yang kekinian, tapi tetap punya rasa penasaran, dan mudah digoyang tren. Okelah, dalam penerapan khazanah budaya yang dimaksud di atas, mereka cenderung merasa ribet dengan segala pernik-perniknya, serta dianggap kuno. Namun tetap ada celah untuk setidaknya dibicarakan dalam kemasan yang lebih gaul dan terkini.

Saat ada sekelompok anak muda yang tertarik dan pengin melakukannya reramean, lalu berhasil menciptakan hype baru, maka akan mengundang makin banyak anak muda yang ingin merasakan sensasi terlibat dalam–sebut saja–festival budaya.

Sisi baiknya, selalu ada hipster alamiah dalam setiap golongan. Pasti ada tetua yang berpikiran modern, moderat dalam berpendapat, luwes dalam bergaul dengan siapa saja, dan fleksibel dengan kondisi zaman. Dengan mudah ia menjadi sosok yang disukai kalangan usia lain, nilai-nilai budaya yang pernah ia akrabi kala muda pun bisa dibagikan layaknya topik pembicaraan gaul di kafe keren. Pun ada kaum muda yang tertarik menempatkan diri di posisi para leluhurnya dulu. Bukan untuk memuja-muja masa lalu, melainkan untuk memperkaya wawasan diri, bahkan bisa menumbuhkan ketertarikan orang muda lain untuk “mencicipi”. Lihat saja beberapa program jelajah-jelajah dalam kota, ke kawasan yang biasanya hanya dipenuhi orang-orang tua.

Sebaliknya, tidak sedikit juga ada anak muda yang kadung terindoktrinasi, bertindak jauh lebih kuno ketimbang sekelilingnya, totok parah melebihi zaman. Usia doang yang muda, gaya hidup kelihatannya gaul, pendidikan lumayan tinggi, namun dalam urusan menjalani hidup malah purbakala, dan sok iye banget. Mau ngapa-ngapain harus lihat tanggal dan hari baik, jam bagus, serta menggunakan warna tertentu. Duh, halo…

Khusus buat anak muda yang bersikap seperti ini, titip catatan deh, biarlah cuma cinta yang seringkali tidak pakai logika, jangan sampai menyebar ke hal-hal lainnya. Bila enggak ketemu alasan kuat untuk melakukan sesuatu, coba dikira-kira sendiri. Kalau sudah dibikin-bikin jatuhnya tetap enggak jelas dan tak nyaman, bersikaplah layaknya orang modern.

Juga buat anak muda Tionghoa masa kini, ndak usah sok-sokan melakukan ini dan itu atas nama budaya leluhur kalau nulis dan ngucap nama Cina sendiri aja belum bisa.

[]

Sebutan Dalam Silsilah Keluarga Tionghoa

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, pokoknya jangan sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit juga generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Salah satu contohnya di-tweet teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Saya tidak menganggap fenomena ini sebagai sebuah ancaman, atau kemunduran, melainkan murni karena ketidaktahuan dan putusnya transfer informasi lintas generasi. Lumrah, namun tetap bisa diantisipasi.

Diawali dengan adanya kesenjangan budaya antara tradisi totok di rumah versus pendidikan gaya modern Belanda hingga beberapa dekade silam. Eh, malah keterusan sampai era Orde Baru.

Selebihnya, enggak sedikit pula yang beranggapan bahwa tradisi Tionghoa itu kuno, dan membosankan. Padahal, sebenarnya seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu bergambar sama.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Samarinda, dan beberapa kota lain di Indonesia dari berbagai sub suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja.

Bagan di atas masih jauh dari lengkap, dan bisa saja ada panggilan-panggilan lain yang belum termuat. Kalau ada yang tahu, boleh dibagi ya. Terima kasih.

Bagaimanapun juga, tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, asal jangan sampai lupa dengan keluarga.

Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Tulisan ini juga di-post di Linimasa.

Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti. 🙂

Apa Nama Tionghoa untuk Anakku?

NAMA Tionghoa merupakan salah satu identitas etnik dan budaya yang tak tergantikan, terlebih jika sedang berada di negeri orang.

Setelah ada perintah dan tekanan Orde Baru (Orba) untuk mengganti/memiliki nama dalam bahasa Indonesia, aktivitas kebudayaan ini tetap dipertahankan meskipun terkesan diam-diam. Para pendatang dari Tiongkok dan orang-orang yang terlahir dengan nama Tionghoa, harus mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang menerakan nama baru. Sedangkan generasi yang lahir sesudahnya mendapat dua nama. Satu nama resmi yang tercantum di semua dokumen administrasi kependudukan dan digunakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, serta nama berbahasa Tionghoa yang hanya valid dalam lingkungan keluarga dan urusan-urusan budaya.

Selain larangan penggunaan nama berbahasa Tionghoa, pemerintah kala itu juga melakukan pemberedelan budaya. Akses dan transfer wawasan sangat terbatas, sehingga pemberian nama Tionghoa dilakukan sekadarnya. Memunculkan tidak sedikit warga Tionghoa yang kurang akrab dengan nama Tionghoanya sendiri; tidak mampu menulis, melafalkan, serta menjelaskan arti namanya. Termasuk para orang tua yang memutuskan untuk tidak memberi nama Tionghoa kepada anak-anaknya, entah lantaran tidak mengerti atau tak ingin putra putri mereka mengalami kesusahan akibat ketionghoaannya. Karena itu, jangan heran bila banyak ditemui warga Tionghoa di beberapa kota pulau Jawa dengan satu nama saja.

Mengapa ihwal pemberian nama Tionghoa ini terkesan begitu penting dan agak dramatis? Tentu saja karena sentimen etnologis komunal. Ada ikatan imajiner yang menghubungkan kita di masa kini, dengan akar masa lalu: suku nenek moyang, dan daerah asal.

Di sisi lain, memang tak bisa dibantah bahwa proses pemberian nama Tionghoa kian dianggap kuno, obsolete, dan merepotkan. Pasalnya, praktik ini tidak sesederhana memilih kata-kata dalam bahasa Tionghoa untuk disusun menjadi sebuah nama dengan bunyi dan makna yang indah. Ada sejumlah ketentuan budaya (bukan klenik) yang harus diperhatikan, walaupun akhirnya terasa makin ditinggalkan.

Nama Tionghoa terdiri dari tiga bagian:

1. Marga

Nama keluarga yang terus diturunkan secara patrilineal. Tidak akan pernah berubah, dan selalu menjadi aksara pertama. Marga juga diselipkan warga Tionghoa dalam nama Indonesianya, menjadi sesuatu yang khas. Beberapa di antaranya: Halim (Lim/Lin: 林), Lauwono (Lauw/Liu: 劉), Gotama (Go/Wu: 吳), Limantara (Lim/Lin: 林), Oentu (Oen/Bun/Wen: 文), Tjandra (Zhan: 詹), Hartanto (Tan/Chen: 陳), Goeyana (Goey/Wei: 魏), Tandi (Tan/Chen: 陳), Susanto (Su: 蘇), Wongso (黃), dan lainnya.

2. Nama Generasi

Nama yang digunakan sebagai penanda tingkat generasi (kakek, ayah, anak, cucu, cicit, dan seterusnya). Untuk saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama (misal: saya dan saudara laki-laki), dan segaris patrilineal (misal: saya dan anak laki-laki abang ayah saya), aksara yang digunakan sama. Ditempatkan menjadi aksara kedua atau ketiga sesuai tradisi keluarga maupun kesesuaian bunyi maupun arti.

Contoh:

Saya: 李
Adik laki-laki saya: 李

Apabila saya memiliki abang atau adik laki-laki lain, nama generasinya akan tetap sama: .

3. Nama Pribadi

Nama individual yang benar-benar personal dan berbeda, sehingga selalu digunakan sebagai panggilan internal (misal: Ahok, Aling, Aseng, Along, Ling-ling, Zhen-zhen, San-san, dan sebagainya). Ditempatkan sebagai aksara terakhir, atau menyesuaikan dengan posisi nama generasi.

Secara umum, masing-masing terdiri atas satu kata. Kecuali untuk marga-marga langka dengan dua aksara atau lebih, seperti Ouyang (歐陽), Situ (司徒), Sikong (司空), Guliang (榖梁), dan beberapa yang lain.

Dari ketiga bagian tersebut, nama generasi boleh dibilang merupakan komponen yang paling merepotkan. Lantaran kelompok marga/keluarga di setiap sub suku/kampung di Tiongkok memiliki urutan nama generasinya masing-masing, tersusun menjadi sepasang syair dengan total 24 sampai 40 aksara, which means… bisa untuk 24 sampai 40 keturunan!

Syair tersebut lazimnya dipajang di altar leluhur, atau dicatat khusus dalam semacam kitab keluarga (strata tinggi) untuk kembali ditilik sewaktu-waktu. Namun tradisi ini menjadi semacam kebutuhan tersier ketika di perantauan, dan terlupakan. Terlebih bagi para IBC-Indonesian born Chinese, macam saya.

IMG_9825
Syair urutan nama generasi milik keluarga pakde luar (suami adik perempuan papa). Dibaca dari kanan atas sampai kiri bawah dan saat ini baru menginjak aksara kedua! Lokasi: Samarinda.

Sebagai orang Tionghoa generasi ketiga di Indonesia, satu-satunya cara bagi saya untuk mengetahui urutan lengkap nama generasi adalah dengan datang ke kampung halaman mendiang kakek di Tiongkok tenggara. Sebab kakek meninggal saat saya masih kecil, 2001 lalu. Pun tanpa sempat menjelaskan dan meneruskan perihal urutan tersebut kepada anak-anaknya; papa dan sembilan saudaranya, yang bahkan kurang paham benar di mana kampung halaman dimaksud.

IMG_0397
Salah satu catatan urutan nama generasi untuk marga Kwok/Guo dari sebuah wilayah di Provinsi Fujian. Source: A Singaporean in Facebook.

Sejak saat itu, saya penasaran: apa nama generasi untuk anak saya nanti? :p Kendati tidak ada jaminan jika nama tengah papa dan saya masih mengikuti urutan yang semestinya.

Nama generasi kakek: 國
Nama generasi papa: 成
Nama generasi saya: 正
Nama generasi anak: ?

Rasa penasaran itu baru terjawab awal Maret lalu, justru dalam suasana dukacita ketika Apak (pakde) meninggal dunia. Ketika itu, papa dan delapan saudaranya berkumpul. Termasuk yang paling tua, dan sudah memiliki cucu dalam laki-laki.

Katanya, nama generasi untuk putra saya nanti adalah: 熙

YAY! FINALLY!

Padahal, mereka sendiri tidak menggunakan aksara tersebut untuk cucu dalam laki-laki mereka. Memilih nama lain.

Kayaknya memang wajar bila makin lama makin banyak yang enggak peduli soal ini. Ribet! Tapi seru. 🙂

[]

Hoki: Rayakan Tahun Baru Imlek Sebagai Minoritas

Tulisan Iseng Semata

 

SEBAGAI bagian dari bangsa Indonesia, warga Tionghoa di negeri ini sangat bersyukur kala identitas dan eksistensinya kian diakui negara dalam hal kesetaraan dengan etnik lainnya. Dulunya, warga Tionghoa harus memiliki surat administrasi khusus, dianjurkan untuk tidak menggunakan nama Tionghoa, maupun mengganti nama toko dan merek dagang dengan bahasa Indonesia, termasuk soal menjalankan budaya leluhur.

Gara-gara perlakuan yang demikian, warga Tionghoa sempat dibuat merasa agak terasing. Menjadi minoritas, baik dalam hal jumlah maupun sikap sosial.

Untungnya, Tahun Baru Imlek sekarang sudah memberi markah merah pada kalender. Para pelajar pun tak perlu repot membuat surat izin tidak masuk sekolah untuk bisa merayakannya.

Perlahan tapi pasti, sebutan “minoritas” pun hanya cocok disematkan untuk urusan jumlah, dan tidak jadi masalah berarti. Justru dengan jumlah warga Tionghoa yang tidak terlalu banyak, ada sejumlah keuntungan yang bisa dirasakan. Terutama di kota-kota kecil macam Samarinda, yang tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya, Medan dengan mayoritas warga Hokkien (福建), ataupun Pontianak dan Singkawang yang didominasi warga Khe (客家) serta Teochiu (潮州).

Dalam istilah bahasa Tionghoa, keuntungan-keuntungan tersebut adalah hoki (福氣). Berikut beberapa di antaranya.

1. Bebas antrean parah

Menjelang hari raya, tanpa terkecuali Tahun Baru Imlek, pasti banyak persiapan yang dilakukan. Termasuk juga cuci kendaraan baik motor atau mobil, cuci karpet maupun permadani, ketika para cowok harus potong rambut biar tampil keren, belanja keperluan dapur di supermarket, dan sebagainya.

Nah, berhubung Sin Cia atau Tahun Baru Imlek ini hanya dirayakan oleh warga Tionghoa yang minoritas dan jumlahnya sedikit, sehingga aktivitas-aktivitas di atas bisa dilakukan dalam waktu relatif normal. Alias tanpa antrean yang terlampau panjang.

Besoknya Sin Cia, hari ini masih bisa cuci motor atau mobil dengan durasi kurang dari 2 jam. Soalnya tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Enggak perlu tunggu lama-lama. Begitupun kalau potong rambut di gents’ barbershop atau tempat potong rambut kekinian khusus cowok, dan belanja di supermarket. Antreannya biasa saja. Berbeda dengan suasana menjelang hari raya mayoritas. Lebaran, misalnya. Ketika semua orang mau cuci kendaraan, semua orang mau cuci ambal permadani, semua cowok mau pangkas rambut, semua orang belanja bahan, dan lainnya. Antreannya perlu strategi.

Akan tetapi, kondisi bebas antrean di atas tidak berlaku untuk para cewek maupun ibu-ibu ketika nyalon. Soalnya, jumlah salon yang dianggap berkualitas tidak imbang dengan jumlah pelanggan. Belum lagi waktu yang diperlukan untuk perawatan. Kalau cowok pangkas rambut, maksimal makan waktu 45 menit. Sedangkan cewek, bisa berjam-jam.

2. Bosen makan Chinese Food? Tenang aja

Ini juga merupakan salah satu keuntungan bagi para warga Tionghoa Indonesia yang minoritas, kala merayakan Sin Cia.

Pernah enggak sih, kamu merasa enek dengan sajian khas hari raya, karena dari satu rumah ke rumah lainnya pasti menyantap menu yang sama?

Lagi-lagi bila dibandingkan dengan Lebaran, kan santapan utamanya adalah ketupat yang disiram kuah bersantan dan sebagainya, kan? Tapi begitu pengin makan yang lain, enggak bisa. Sebab banyak restoran yang tutup karena Lebaran. Sehingga paling mentok ya makan Indomie atau KFC dan sebangsanya.

Beda dengan Sin Cia. Saat mblenger makan hidangan Tionghoa tipikal hari raya, termasuk yang kategori mewah sekalipun, seperti sate babi, babi panggang, dan sejenisnya, kamu tetap bisa cari warung nasi goreng, makan Coto Makassar, bakso, ayam bakar maupun lalapan, dan sebagainya. Nafsu makan aman sentosa.

3. Lebih Leluasa Incar Diskonan

Kalau yang satu ini, terjadinya di department store atau pusat perbelanjaan busana.

Biasanya, selalu ada momen diskon menjelang hari raya tertentu. Termasuk Tahun Baru Imlek. Akan tetapi, berhubung yang merayakan Sin Cia ini sedikit aja, jadi “persaingan” untuk mendapatkan baju yang diinginkan jauh lebih gampang. Hahaha!

Masih ada tambahannya lagi. Lantaran biasanya baju diskonan itu cenderung pasaran dan kurang keren, serta belum tentu cocok untuk badan cewek, peluang memilih yang benar-benar diinginkan pasti lebih besar. Tidak sedikit cewek-cewek warga Tionghoa sudah lebih dulu membeli baju baru buat Sin Cia, beberapa bulan sebelumnya. Pokoknya, terlihat ada yang bagus dan bernuansa merah cerah, pasti dibeli. Sebagai konsekuensi, si empunya baju harus mampu menjaga berat dan bentuk tubuh agar tetap bisa mengenakan baju tersebut saat Tahun Baru Imlek tiba.

4. Gampang Ngumpul, Gampang Akrab

Bagi kamu yang pernah merasakan, atau pernah mendengar tentang perayaan Tahun Baru Imlek sebelum tahun 2000-an, pasti tahu kalau suasana Sin Cia biasanya hanya terjadi dalam lingkup terbatas. Itu sebabnya, kemeriahan Tahun Baru Imlek hanya terjadi dalam rumah-rumah, maupun tempat-tempat umum khusus aktivitas warga Tionghoa seperti kelenteng maupun gedung yayasan warga Tionghoa.

Terbiasa berhari raya dalam suasana yang seperti ini, umumnya warga Tionghoa bisa berkumpul di satu lokasi. Kalau di Samarinda, tentu saja di Kelenteng Tian Yi Gong, depan Pelabuhan Samarinda pada malam Tahun Baru Imlek. Jika sudah berkumpul begini, kan interaksi dan komunikasinya bisa lebih enak. Enggak ketinggalan juga, bisa kenalan dengan temannya teman. Soalnya, jumlah yang minoritas mempermudah untuk saling mengenal. Siapa tahu cocok dijadikan gebetan. Lumayan banget, kan?

5. Tidak berisik

Sebenarnya, salah satu bentuk perayaan dalam suasana Sin Cia adalah menyalakan petasan atau mercon. Nyaring? Pastinya dong.

Hanya saja, lantaran perayaan Tahun Baru Imlek harus dilakukan secara tertutup dan terbatas selama masa Orde Baru, warga Tionghoa pun terbiasa untuk “lebih hening” dengan menghilangkan mercon dalam daftar perlengkapan perayaan Sin Cia.

Saat ini, Tahun Baru Imlek memang sudah diakui sebagai salah satu hari libur nasional. Untung saja, warga Tionghoa di Samarinda yang tidak terlalu banyak jumlahnya juga biasa-biasa saja menyikapi tentang mercon. Kalau tidak, dijamin pasti sangat berisik. Tetangga bakal terganggu, bayi-bayi jadi susah tidur, para orang tuanya pun ngedumel. Momen hari raya malah bikin orang lain sebal.

6. “Modal” Angpau Aman Terkendali

Ini khusus untuk warga Tionghoa yang sudah menikah, dan artinya harus menjadi pemberi angpau.

Informasinya, jumlah warga Tionghoa di Samarinda hanya berkisar antara 1 sampai 5 persen dari total penduduk kota ini (hampir 1 juta jiwa). Belum tentu semuanya saling terhubung atau berkerabat. Kecuali kalau bos besar, atau punya keluarga yang sangat gede, atau orang yang sangat terkenal, rasa-rasanya seseorang tidak perlu mempersiapkan sampai seratusan lembar angpau. Apalagi isi angpau juga tergantung pada inflasi. Hitung saja, kalau selembar angpau diisi Rp 50 ribu, berarti harus siapkan Rp 5 juta.

Dalam lingkup kota seperti Samarinda, bayangkan saja jika warga Tionghoa berjumlah 20 sampai 30 persen dari total penduduk. Logisnya, jumlah angpau yang perlu disiapkan pun lebih banyak.

Demikianlah enam hal yang seakan jadi blessing in disguise bagi para warga Tionghoa di Samarinda, yang sangat minoritas jumlahnya, dan selama ini (terutama saat rezim Orde Baru) kadung dibuat merasa terbatas.

Selamat Tahun Baru Imlek ya, semoga rezeki, kebahagiaan, dan kesehatan selalu berlimpah.

Gongxi, gongxi.

Fa da cai!

[]

Tionghoa Indonesia dan Tren Mandopop yang Senjang

BERANJAK dari asumsi etnografis dan sosial budaya, dianggap wajar bila orang Jawa-Bali suka musik Karawitan; orang Jawa Tengah dan Jawa Timur gandrung Campursari; orang-orang Ogi memfavoritkan lagu Bugis yang salah satu ciri khasnya adalah lirik berfrasa “pappojiku rialému…”; ibu-ibu majelis taklim lebih senang dengan kasidah; serta para ikhwan dan akhwat anggota Rohis di sekolah maupun kampus juga lebih senang dengan Nasyid. Begitu juga anggapan terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia dengan Mandopop, lagu-lagu populer berdialek Mandarin dari beragam genre.

Asumsi di atas mungkin benar, bahwa orang-orang Tionghoa Indonesia secara umum sangat suka Mandopop. Akan tetapi, asumsi tersebut berjalan dengan timpang. Ada jurang kesenjangan antar-generasi yang cukup jauh, dan referensi yang mandek hingga hampir sepuluh tahun. Buktinya, tren Mandopop terakhir berlangsung sekitar tahun 2006 silam. Mentok sampai sekarang.

Kesenjangan referensi ini, saya bagi menjadi beberapa kategori.

>> Sekarang, sedikit sekali generasi millennials Tionghoa Indonesia yang menggemari, atau bahkan tahu banyak soal Mandopop terkini, kecuali yang akrab di pendengaran mereka kala masih berusia anak-anak. Beberapa judul di antaranya seperti: “老鼠愛大米” (laoshu ai da mi) dari Joice Guo, “當你孤單你會想起誰” (dang ni gudan ni hui xiang qi shei) dari Nicholas Teo, “童話” (tonghua) dari Michael Guang Liang, atau “小薇” (xiao wei) dari Huang Pinyuan.

Rasa-rasanya, sepanjang rentang waktu antara tahun 2005-2010, empat lagu ini tidak akan pernah absen dari pesta pernikahan, pesta ulang tahun, atau sesi karaoke bareng di Indonesia. Setidaknya, di kota saya sendiri: Samarinda.

Penyanyi Mandopop yang diketahui hanya sebatas Nicholas Teo, Michael Guang Liang, David Tao, JJ Lin, A Niu, Lee Hom, Jay Chou, Andy Lau, atau Jackie Cheung. Pun sekadar pada judul-judul hits-nya saja. Akhirnya, bosan sendiri.

Bagi para millennials, popularitas Mandopop kalah dengan pop barat dan EDM, K-Pop, juga pop Indonesia.

>> Sedangkan generasi usia late 20’s dan early 30’s memang boleh dibilang mempunyai cakupan referensi yang cukup luas. Mereka pernah mendengar lagu-lagu tempo dulu kegemaran para orang tua, melewati masa puber dengan soundtrack serial Taiwan yang dibawakan para boyband dan format kelompok musik lainnya, serta mendengar beberapa lagu sangat tua yang daur ulang secara kreatif. Namun sayangnya, tidak banyak lagi yang masih mengikuti perkembangan Mandopop. Kendati demikian, mereka bisa lebih leluasa memilih nama penyanyi maupun judul lagu yang akan dibawakan saat didaulat bernyanyi di depan umum, maupun karaoke.

Selain nama-nama penyanyi di atas, angkatan ini juga akrab dengan: Teresa Teng, F4, 5566, Richie Ren, Rainie Yang, Cyndi Wang, Jolin Tsai, Karen Mok, F.I.R, Faye Wong, Candy Lo, Rene Liu, Alan Luo, Stefanie Sun, 183 Club, S.H.E, Fahrenheit, A Mei, MayDay, Coco Lee, dan banyak lagi lainnya, yang saking banyaknya sampai-sampai baru ingat setelah checkout ruangan karaoke.

>> Pada generasi para orang tua (kelahiran tahun 40-an/50-an/60-an/70-an), lagu-lagu berbahasa Tionghoa tidak hanya menjadi media hiburan, namun juga penguat identitas, menumbuhkan kebersamaan, serta solidaritas. Lebih bersifat sosial. Itu sebabnya, judul-judul lagu Mandopop yang populer ketika itu mewakili banyak tema.

Mulai tentang percintaan, seperti: “是否真的愛我” (shi fou zhende ai wo) yang disadur menjadi lagu berbahasa Indonesia, “別問我是誰”, “陪酒” yang biasanya dinyanyikan sambil ngebir, “不了情” (bu liao qing), “夜上海” (ye shanghai), “玫瑰玫瑰我愛你” (meigui meigui wo ai ni) atau “Rose, Rose, I Love You”; juga tentang kebanggaan etnik dan kebersamaan, seperti “東方之珠” (dongfang zhi zhu), “團結就是力量” (tuanjie jiushi liliang) yang liriknya hanya satu kalimat dan iramanya sama persis seperti “Glory Glory Man. United”, “朋友” (pengyou), dan lainnya.

Tak hanya lagu-lagu berdialek Mandarin saja, generasi ini juga akrab dengan hits dengan bahasa sub suku Tionghoa. Di Indonesia, utamanya adalah dialek Min atau bahasa Hokkian. Salah satunya yang legendaris seperti lagu motivasi untuk menjalani kerasnya kehidupan: “酒矸倘賣無” (jiu gan tang mai wu/Hokkian: ciu kan tang bue bo), lagu berirama rock yang diangkat dari salah satu film mengharukan. Ada pula “愛拼才會贏” (ai pin cai hui ying/Hokkian: ai pia cia e ya) yang seluruh liriknya bukan dialek Mandarin. Bisa jadi karena tak tergantikan, atau tidak ada penggantinya, lagu-lagu ini bertahan lebih dari setengah abad.

Uniknya, ada sebagian kecil dari angkatan ini yang berani bereksperimen. Kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Tionghoa sebelum ditutup massal pada 1965, membuat mereka mampu mengalihbahasakan beberapa judul lagu bahasa Indonesia ke dalam bahasa Tionghoa. Mulai lagu-lagu nasional, lagu pop Indonesia era 70-an, keroncong Mandarin, sampai “Cucak Rowo”-nya Didi Kempot lengkap dengan lirik agak saru. Dan jagonya ada di Samarinda. Hahaha!

>> Generasi para kakek/nenek (atau yang sudah menjadi buyut, bila masih hidup), punya referensi yang klasik. Lagu-lagu era mereka, awalnya masih diputar dari piringan hitam, dan telah berbelas kali didaur ulang, sampai kini berbentuk CD kompilasi audiophile.

Jujur saja, untuk kategori ini, hanya beberapa judul yang pernah saya dengar, atau yang baru saya ketahui sebagai karya klasik era tahun 20-an/30-an. Salah satunya seperti yang dipopulerkan biduan Zhou Xuan (1918-1957): “心戀” (xin lian), yang beberapa tahun lalu sempat memantik diskusi tentang siapa yang menyadur dan disadur versus “Indonesia Pusaka”?

Zhou Xuan

http://content.12530.com:8088/cmsdata/batchmusic/20080123/vET1b4HC.mp3

Dulu, waktu masih zamannya Multiply, sempat menulis tentang ini, dan menemukan data bahwa “Xin Lian” mulai populer sejak tahun 1930-an. Sayang, Blog Multiply kadung ditutup, sebelum sempat menyalin data tulisan. 😦

Sebenarnya, beberapa judul di atas, yakni “不了情”, “夜上海”, “玫瑰玫瑰我愛你” juga merupakan lagu klasik. Boleh jadi, kegemaran pada lagu-lagu ini ditularkan dari generasi kakek/nenek ke anak-anaknya (generasi papa/mama).

Mandopop setelah 2010 pun nyaris tak terdengar gaungnya di antara para Tionghoa Indonesia. Saat makin banyak yang asing dengan belantika musik berbahasa Mandarin. Entah bagaimana isi daftar Top 40-nya? Siapa pendatang barunya? Apa judul single atau album teranyarnya? Apa genre yang sedang tren? Dan sebagainya.

Jadi, apakah orang Tionghoa Indonesia suka dengan lagu-lagu Tionghoa? Not really.

[]

Pengin karaoke…

Bahasa Film Hong Kong: Kasar, Kurang Ajar, tapi Kadung Kocak

BAGI saya, selalu ada kesenangan tersendiri saat menonton film Hong Kong dalam bahasa aslinya–tutur Tionghoa dialek Guangdong/Cantonese yang terkesan nyolot itu. Apalagi untuk judul-judul komedi slapstick dengan para bintang film yang khas; Stephen Chow atau–entah dari mana awal mulanya bisa dipanggil–“Asui”, Ng Man-tat, Law Kar-ying, Sandra Ng, almarhumah Anita Mui, Natalis Chan, Wong Jing si sutradara nyambi aktor lakon konyol, juga Lee Kin-yan dengan cameo legendaris sepanjang masanya: banci berengosan dengan kuncir rambut yang ngupil, serta masih banyak lagi. Pasalnya, dialog dan celetukan Cantonese yang dilontarkan memperkuat efek lucu yang ditampilkan, entah kita paham maknanya atau hanya bisa membaca subtitle-nya. Paduan itu semua menjadi salah satu karakteristik khusus film-film Hong Kong.

Lambat laun, pendengaran kita pun kian akrab dengan beberapa celetukan dari film Hong Kong. Minimal, kita ingat pernah mendengarnya, dan kita ingat terusan adegan yang terjadi setelah celetukan itu diucapkan. Padahal, tidak sedikit dari celetukan tersebut merupakan sumpah serapah yang arti harfiahnya benar-benar kurang ajar. Akan tetapi, sudah telanjur kita identikkan dengan humor gaya Hong Kong. Lagipula, teks terjemahan yang ditampilkan kerap sangat diperhalus, bahkan mengaburkan makna sebenarnya, saking kasarnya.

Contohnya, berikut ini adalah beberapa celetukan dari film Hong Kong yang melekat di ingatan saya.

  • “ham kaa chan”
  • “phat pho”
  • “pak chii”
  • “lei lou mou”
  • “chou sii”
  • “ham sap lou”
  • “sek sii”

…dan baru dalam beberapa tahun terakhir saya tahu maknanya.

  • “ham kaa chan” (冚家剷, Mandarin: kan jia chan) berarti “Mati kamu! Sekeluarga-keluargamu!” Dengan makna harfiah “seluruh keluarga dikubur.”
  • “phat pho” (八婆, Mandarin: ba po) berarti “l*nte”, karena kata “pelacur” masih terkesan halus
  • “pak chii” (白痴, Mandarin: baichi) berarti “idiot”
  • “lei lou mou” (你老母, Mandarin: ni laoma) berarti “mamakmu!
  • “chou sii” (臭西, Mandarin: chou xi) berarti “m*ki bau”
  • “ham sap lou” (鹹濕佬, Mandarin: xian shi lao) berarti “laki-laki mesum”
  • “sek sii” (食屎, Mandarin: shi shi) berarti “makan taik

Dari beberapa contoh di atas, justru terasa aneh apabila diucapkan dalam dialek Mandarin. Seolah-olah menunjukkan bahwa makian tersebut memang tercipta untuk tutur dialek Cantonese saja. Default dengan intonasinya yang khas. Lantaran ini, agak terasa janggal apabila melihat Stephen Chow dkk berbicara dengan logat Mandarin internasional yang kadung terkesan lebih sopan.

Lewat Googling, ternyata masih ada banyak serapah lainnya ala film Hong Kong dengan arti yang bisa bikin geleng-geleng. Ada yang artinya kurang lebih “motherfcker” atau “son of a btch” dalam bahasa Inggris, ada pula yang sepadan dengan makian bahasa Kutai atau Melayu: “kimaknya!

Tapi jangan lupa, terlepas dari begitu “kayanya” perbendaharaan kata-kata makian dalam dialek Cantonese, secara umum kosa kata bahasa sub suku Tionghoa ini dilontarkan dengan kencang dan keras. Seperti mengajak berkelahi dengan akhiran kalimat berupa seruan “a…” (啊) atau “ya…” (呀) panjang, maupun beberapa konsonan tertentu lainnya.

Di sisi lain, saya merasa dialek Cantonese yang begituitu mirip gaya tutur Suroboyoan atau bahasa Jawa ala Surabaya maupun Jawa Timur secara umum. Pun serupa dengan tutur slang bahasa Banjar, Kalimantan Selatan. Kedua bahasa berbeda pulau tersebut sama-sama memiliki karakteristik dilafalkan dengan intonasi keras dan nyaring. Suroboyoan misalnya, berbeda dengan tuturan di Jawa Tengah maupun Yogyakarta.

Seperti yang ditunjukkan lewat eksperimen kecil-kecilan yang berpotensi besar untuk ngaco ini.

Cantonese: “lei kaau cho aa…” (你搞錯啊…)

Suroboyoan: “heh! Ngawur koen iku…”

Banjar: “bah! Nyawa tuh mengeramput…”

atau ini,

Cantonese: “fai tiin aa…” (快點啊…)

Suroboyoan: “ayo, ndang!”

Banjar: “lajui pang!”

Biar makin jelas, sila tonton cuplikan ini.

Ala Cantonese

 

Ala Suroboyoan

 

Ala Banjar (dan paling sengklek bahasanya, kalau paham :D)

 

Lebih lanjut, silakan saja tonton JTV, stasiun televisi lokal Surabaya yang bikin ngakak dengan menyulih suara film-film barat dan telenovela dengan bahasa Suroboyoan. Juga video Doraemon bahasa Banjar seperti ini.

[]

Tionghoa Samarinda

WAKTU masih kecil, pernah terlintas pertanyaan: “kenapa saya lahir di Samarinda? Kok bukan di Cina? Bukan di Hong Kong? Atau di Taiwan?” Tanpa jawaban yang jelas, pertanyaan itu berlalu begitu saja. Menyisakan rasa penasaran atas runutan sejarah, yang salah satunya mungkin berupa momen hijrahnya kakek dari daratan Tiongkok ke Indonesia. Sampai akhirnya, berusaha dijawab sendiri lewat tulisan ini, hasil dari nanya dan baca sana sini.


Sebagai kawasan yang tidak memiliki garis pantai, Samarinda tak termasuk tujuan utama gelombang kedatangan perantau Tionghoa beberapa abad lalu. Berbeda dengan Tarakan maupun Balikpapan, yang tidak hanya memiliki akses perairan laut, namun juga sudah lebih dahulu ramai karena aktivitas niaga.

Meskipun begitu, sayangnya belum ada catatan sejarah komprehensif mengenai gelombang kedatangan Huaren (華人)–sebutan untuk keturunan Tionghoa–di Kota Tepian. Ibarat meraba dalam kegelapan, penelusuran beberapa fakta penting pun agak susah dituntaskan. Ditambah lagi dengan langkanya saksi sejarah yang bisa menyampaikan penuturan.

Dalam makalah ilmiah Sino-Platonic Papers nomor 236 karya Wan Kong Ann dari Tsinghua University, yang dirilis April 2013 lalu berjudul “Examining the Connection Between Ancient China and Borneo Through Santubong Archaeological Sites” memuat fakta bahwa hubungan antara Tiongkok dan penduduk Kalimantan sudah terjadi lebih dari dua milenium lalu. Hanya saja baru sebatas di utara dan barat laut (kini masuk wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam), serta sebagian barat pulau Kalimantan. Baru pada era Dinasti Tang (618-907) dan Dinasti Song (960-1279), jalur perdagangan “Maritime Silk Road” sudah merambah sampai ke ujung selatan pulau Kalimantan yang kini menjadi wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel). Pola hubungan ini terus berkembang di masa dinasti-dinasti berikutnya. Hal ini juga bersesuaian dengan tulisan ilmiah James R Hipkin dalam bahasa Tionghoa berjudul “婆羅洲華人史” (Sejarah Warga Tionghoa di Borneo).

“Warga Tionghoa datang (ke Kalimantan) melalui Wenlai (文萊-Brunei), Machen (馬晨-Banjarmasin), dan Kundian (坤甸-Pontianak). Kian lama semakin banyak yang datang,” tulis Hipkin.

Sampai di titik ini, baru muncul dugaan bahwa pendatang Tionghoa yang bermukim di wilayah Kaltim, bisa berasal dari Banjarmasin dan wilayah sekitarnya, atau benar-benar berlayar langsung dari daratan Tiongkok. Seperti yang disampaikan Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies, Roedy Haryo Widjono lewat catatannya kepada penulis. “Leluhur orang Tionghoa di Balikpapan datang secara berkelompok, menumpang kapal. Mereka tiba di perairan utara Kalimantan hingga ke wilayah Balikpapan.”

Disampaikan lebih rinci, gelombang kedatangan langsung itu terjadi pada pengujung abad ke-19, saat Dinasti Qing dipimpin Kaisar Guangxu (1871-1908). Warga Tiongkok yang didominasi dari Provinsi Guangdong (廣東) tersebut lebih tepatnya dikirim ke Kaltim sebagai buruh kontrak, untuk bekerja di perusahaan minyak milik Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Melihat rute perjalanan yang langsung menuju Balikpapan, ada kemungkinan terdapat bagian dari kelompok ini yang pindah ke Samarinda dan sekitarnya.

“Sebagian dari mereka memilih menetap ke Tenggarong. Selain bekerja sebagai pedagang, sebagian dari mereka bekerja di tambang batu bara,” lanjut Roedy dalam catatannya.

Benar saja alurnya, jika kedatangan warga Tionghoa di Kaltim pada akhir abad ke-19, juga membuat mereka tersebar ke Samarinda. Termasuk sejumlah tokoh penting, yang ditunjuk sebagai opsir pengatur kongsi dagang Belanda. Sekaligus menjadi pemimpin warga Tionghoa kala itu.

Opsir pertama adalah Huang Qingquan (黃清泉) yang bertugas antara 1882-1902. Ia bersub-suku Min (閩), berasal dari daerah Jinmen/Kimmoi (金門), Provinsi Fujian/Hokkian (福建). Ia menjadi penggagas pembangunan Kelenteng Tian Yi Gong/Thien Gie Kiong (天義宮), yang rampung pada 1905, tiga tahun setelah wafatnya. Lukisan potret Huang Qingquan terpajang di dinding kanan bagian dalam ruang utama kelenteng. Beranjak dari milestone ini, diketahui bahwa kelenteng di Samarinda berusia satu dasawarsa lebih tua dibanding satu-satunya kelenteng di Balikpapan. Yaitu Kelenteng Guang De Miao (廣德廟), yang peringatan hari jadi ke-100 tahunnya baru dirayakan Senin, 23 Maret lalu.

Source: panoramio.com
Source: Twitter @discover_bpp

Dari sejumlah bukti sejarah, populasi warga Tionghoa di Samarinda terus bertumbuh setelah masa Huang. Tidak hanya itu, warga Tionghoa di Samarinda juga masih berkontak baik dengan pihak kekaisaran dalam sejumlah bidang. Seperti yang ditunjukkan dalam foto peresmian 中華學堂 atau Balai Belajar Tionghoa tertanggal 23 Agustus 1906, dihadiri petinggi pemerintah Belanda dan sejumlah pejabat berjubah khas kekaisaran Dinasti Qing. Lokasi balai belajar tersebut kini menjadi markas PMK di Jalan Mulawarman.

Repro pribadi.
Repro pribadi.

Setelah momen pada 1906 ini, hampir tidak ada lanjutan catatan sejarah mengenai perkembangan kehidupan warga Tionghoa di Samarinda. Sampai pada 1929, lantaran sangat fasih berbahasa Tionghoa, misionaris Christian and Missionary Alliance (C&MA) area Tiongkok Selatan dan Hindia Belanda, RA Jaffray memberikan pelayanan keagamaan terutama bagi warga Tionghoa di Samarinda dan Balikpapan. C&MA adalah cikal bakal Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) yang masih ada sampai saat ini.

Kembali merujuk pada catatan Roedy, gelombang kedua migrasi warga Tionghoa ke Nusantara termasuk Samarinda terjadi antara 1942-1945. Migrasi terjadi karena warga Tiongkok, terutama dari pesisir tenggara, ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Jepang. Di masa itu, komunitas warga Tionghoa di Kota Tepian makin beraneka. Selain menghimpun diri dalam paguyuban masing-masing sub-suku, mereka juga ikut berperan dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

Terlepas dari itu, Kelenteng Tian Yi Gong maupun Balai Belajar Tionghoa memang berlokasi di dalam area Kota Samarinda kini. Akan tetapi, tidak bisa dilupakan bahwa cikal bakal Kota Tepian adalah kawasan Samarinda Seberang. Tak ayal, banyak juga warga pendatang Tionghoa yang bermukim di wilayah tersebut.

“Saya kurang tahu (soal kedatangan warga Tionghoa di Samarinda). Tapi datangnya mulai tahun 1800-an. Ramainya mereka tinggal di Seberang (Samarinda Seberang),” tutur Yang Lizhong, salah satu tetua warga Tionghoa Samarinda.

Dari Samarinda Seberang, ia mengisyaratkan, warga Tionghoa menyebar ke banyak daerah. Termasuk Sangasanga yang juga ramai dengan aktivitas perminyakannya, bahkan hingga ke daerah hulu Mahakam seperti Long Iram, Muara Ancalong dan lainnya. Meskipun pada akhirnya, mereka dan warga Tionghoa dari wilayah lain seperti Berau maupun Bulungan, harus berkumpul di Kota Samarinda lantaran Peraturan Presiden (PP) 10/1959. Sebagian kecil di antaranya, konon berhasil menumpang satu-satunya kapal dari Tiongkok untuk pulang. Sementara warga Tionghoa yang tersisa, terus menjadi penduduk Samarinda.


Konon, Engkong ketinggalan kapal saat itu.

Sekeluarga. 🙂

[]

Sang Dewa

ŚIVA, dilafalkan “shi-wa”. Dewa dari pulau yang berbentuk seperti buah jambu alias Jambudvīpa, India.

Bisa jadi, salah satu dewa utama Hinduisme ini adalah figur spiritual yang punya rentang sebar terluas di dunia. Tak hanya dipuja sebagai dirinya sendiri, atau sebagai bagian dari Trimūrti, Śiva juga mengalami proses sinkretisme dengan kepercayaan lokal beberapa bangsa. Termasuk di Nusantara. Wajar, kehadiran Śiva kurang lebih sama tuanya dengan peradaan kuno Lembah Indus, meskipun saat itu masih berupa purwarupa.

source: mahashivaratri.net
source: mahashivaratri.net

Lewat peninggalan sejarah berupa candi dan prasasti, sejumlah kerajaan Hindu di Nusantara menunjukkan baktinya kepada Śiva. Namun terlepas dari itu, ternyata figur dewa pertapa ini juga dikenal dalam budaya spiritual Batak dan Bugis dengan cerita berbeda. Termasuk sebagai Batara Guru, salah satu manifestasinya.

Śiva dikenal dengan nama Debata Asi Asi dalam kepercayaan tradisional Batak. Debata Asi Asi menjelma menjadi Manuk Patia Raja, seekor ayam betina raksasa yang menghasilkan tiga telur. Dari ketiga telur tersebut, “lahir” Batara Guru, Debata Sori Pada, dan Debata Mangala Bulan. Mereka menjadi penguasa tiga alam berbeda, dan Batara Guru menjadi penguasa alam langit dengan kemampuan mengatur takdir manusia. Kendati begitu, kedudukan ilahiah tertinggi dalam Parmalim, rekonstruksi modern agama kuno Batak ada pada Mulajadi na Bolon. Ia yang menganugerahi Batara Guru semua kelebihan.

Sedangkan dalam kepercayaan tradisional Bugis, langsung dikenal sosok Batara Guru. Dewa putra dari Sang Patotoqe dan Datu Palingeq. Dengan gelar La Togeq Langiq, ia diutus ke bumi sebagai manusia untuk mempersiapkan alam seisinya. Dikisahkan, ia juga merupakan ayah dari Sangiang Serri, dewi padi dan kesuburan Bugis. Namanya mengingatkan kita pada Dewi Sri dalam kebudayaan Jawa.

Lakon turunnya Batara Guru dalam pementasan La Galigo. Source: images.detik.com

Begitupun dalam kepercayaan Jawa kuno. Disebutkan bahwa Batara Guru adalah salah satu perwujudan Śiva. Dengan gelar Sang Hyang Manikmaya, Batara Guru “bersaudara” dengan Sang Hyang Ismaya atau yang lebih dikenal sebagai Semar.

Jangankan Nusantara, di sekitar India saja, figur Śiva juga diserap dalam kepercayaan lain. Baik ajaran yang muncul sebagai kritik atas Hinduisme kuno saat itu, maupun dalam subsektenya. Hanya saja, penyerapan figur lebih kepada penjelmaannya.

Dari tiga mazhab utama Buddhisme, Tantrayāna yang bersifat esoteris terkesan mengadopsi total beberapa objek utama Hinduisme. Tercermin dari penggunaan mantra berawalan aksara Oṁ, serta penempatan Mahākāla sebagai nama lain dari Śiva. Sebutan Mahākāla menunjukkan aspek filosofis Śiva yang identik dengan waktu; waktu terus bergulir “menghancurkan” segalanya, memiliki dimensi masa lalu, kini, dan masa depan. Selebihnya, Mahākāla diwujudkan dalam bentuk tertentu yang menyeramkan, lantaran berperan sebagai pelindung secara harfiah. Melawan dan menghancurkan semua rintangan, iblis, dan gangguan. Terkesan mirip dengan tampilan Virabhadra dan Bhadrakālī yang ganas, sebagai bentuk kemarahan Śiva atas kematian Satī, istrinya.

source: baronet4tibet.com

Meskipun memiliki tampilan yang menyeramkan, sejumlah kualitas positif Mahākāla membuatnya dianggap sebagai emanasi atau pancaran dari sosok khas Buddhisme timur: Avalokiteśvara, seorang Bodhisattva yang Mahāsattva, makhluk agung calon Buddha masa depan dengan karakteristik pencapaian nan paradoks. Apalagi menurut beberapa subsekte Tantrayāna, Mahākāla berperan dalam pencapaian kebuddhaan oleh Pertapa Gotama (Siddhārtha Gautama). Versi tersebut, tentu saja hanya dipercaya secara terbatas.

Barangkali, saking kuatnya eksistensi Śiva dan Avalokiteśvara sebagai entitas spiritual, koneksi yang dibuat antara keduanya relatif lebih istimewa. Śiva dan Avalokiteśvara berbagi predikat agung, walaupun dengan latar belakang peristiwa fantastis serta pemaknaan yang berbeda. Dalam hal ini, secara khusus, baik pemuja Śiva maupun Avalokiteśvara mengklaim bahwa versi mereka lah yang benar.

Source: huffingtonpost.com

Foto di atas, Avalokiteśvara disebut sebagai Rakta Lokeshvara yang berarti “Red Lord of The World” dan sedang melakukan meditasi. Di sisi kanan kirinya, dijelaskan merupakan sosok para dewa Hindu yang muncul dari hasil emanasi. Silakan diamati, ada berapa figur dewata Hindu yang dapat Anda kenali?

Contoh lainnya. Bagi Anda yang pernah bertandang ke Thailand dan mendarat di Bandara Suvarnabhumi, pasti bisa melihat instalasi seni patung berupa fragmen kisah mitologis “Samudra Manthan”. Legenda Hindu ini menceritakan upaya para dewa dan makhluk Asura (raksasa, musuh dewata) mengaduk samudera menggunakan gunung yang dililit tubuh Naga Basuki, demi mendapatkan minuman keabadian, Amṛta atau yang akrab disebut Tirta Amerta.

source: allabouthinduism.info

Dari proses pengadukan tersebut, beragam objek muncul. Baik berupa mustika, maupun racun. Dikisahkan, ada racun bernama Halāhala yang paling mematikan di seluruh semesta. Tidak ada Asura maupun dewa yang sanggup menanganinya. Hingga akhirnya, Śiva turun tangan. Ia menenggak racun tersebut, kemudian ditahannya di tenggorokan. Karena akan membahayakan jika tertelan. Akibat kejadian tersebut, bagian tenggorokan Śiva pun membiru. Dari peristiwa ini, Śiva mendapat gelar Nīlakaṇṭha (nīla: biru, warna nila; kaṇṭha: tenggorokan, kerongkongan). Oke sampai di sini.

Nah, dalam Buddhisme Mahāyāna, Avalokiteśvara juga mendapatkan sebutan serupa. Bedanya, tidak ada embel-embel kisah “Samudra Manthan”. Pemaknaannya beragam. Salah satunya, Avalokiteśvara yang welas asih menyelamatkan makhluk semesta dengan menenggak racun segala bentuk keburukan. Bahkan sampai dibakukan dalam bentuk kidung pujian yang namanya gamblang: Nīlakaṇṭha Dhāranī. Kendatipun isinya terkesan paganisme dan tidak selaras dengan pokok utama ajaran Buddha, kidung ini sangat populer bagi umat Buddhisme Mahāyāna, Tantrayāna (bahasa Sanskerta), maupun penganut kepercayaan tradisional Tionghoa (bahasa Tionghoa).

Ditilik dari sumbernya sebelum diterjemahkan serta ditransliterasikan ke dalam bahasa Tionghoa, Nīlakaṇṭha Dhāranī lebih muda beberapa abad dibanding kitab-kitab kuno Hindu yang menceritakan tentang “Samudra Manthan”. Fakta. Terlebih dalam Nīlakaṇṭha Dhāranī juga tercantum nama-nama dewa Hindu lainnya.

Jangan lupa, di Tiongkok dan Asia Timur secara umum, Avalokiteśvara yang sebenarnya laki-laki malah diidentikkan dengan sosok dewi bernama Guanyin. Alasan dasarnya, sifat Avalokiteśvara yang welas asih memberi kesan feminim. Lengkap dengan mitos kisah bakti Putri Miao Shan yang rela mencongkel kedua mata demi mengobati ayahnya.

Dewi Guanyin
Dewi Guanyin

Bukan hanya Mahākāla, Tantrayāna juga memiliki figur Maheśvara. Entah apakah Mahākāla dan Maheśvara merupakan sosok serupa atau berbeda. Kembali, Maheśvara merupakan manifestasi Śiva. Bahkan Maheśvara dikenal lebih luas di Jepang dan Korea sebagai pelindung bernama 大自在天 (Dazizaitian), tentu dengan rupa yang berbeda. Komplet dengan aksara khusus “i” dalam tulisan Siddha, sebagai simbol identik.

Semua ini merupakan sekelumit sinkretisme yang dialami figur Śiva di Nusantara dan sebagian kecil Asia Timur. Lebih luas, sosok

Dazizaitian
Dazizaitian

Śiva juga menjadi bagian dari agama-agama kuno lainnya di Asia utara dan barat laut. Menunjukkan bahwa pakem mysterium tremendum et fascinossum dalam telaah teologi umum mampu melanggengkan sebuah figur mistis.

[]

Disclaimer: Tulisan ini dibuat bukan untuk menyinggung siapapun. 🙂