Sungai Mahakam Itu Keren, dan Bisa Lebih Keren Lagi!

BOLEH dibilang beruntung, terlahir sebagai warga Samarinda. Sebab, sejak awal sudah terbiasa dengan pemandangan Sungai Mahakam yang membentang begitu panjang, sekaligus memiliki kedalaman yang luar biasa dibanding sungai-sungai besar lainnya di seluruh Indonesia. Aliran sungai pun diapit dengan beragam latar belakang, mulai dari hutan dengan pohon yang rapat dan memberikan kesan sejuk, hingga berhadapan dengan lingkungan perkotaan yang modern dengan gedung-gedung tinggi. Meskipun sayangnya, konsekuensi dari kondisi ini adalah pencemaran yang tinggi dari sampah rumah tangga, serta beragam tindakan tak ramah lingkungan lainnya. Namun setidaknya, sejauh ini Sungai Mahakam masih bisa diandalkan sebagai sumber baku air bersih warga lewat pengolahan PDAM yang menggunakan seperangkat mesin serta bahan-bahan kimia penjernih.

Tidak hanya menawarkan pemandangan lanskap yang khas dan berkarakter, Sungai Mahakam juga seakan menjadi dunia tersendiri bagi ekosistem air tawar keruh berlumpur. Secuplik di antaranya, kerap kita nikmati dalam bentuk tekstur daging ikan patin yang berlemak dan juicy, ikan haruan yang menjadi lauk khas nasi kuning maupun lontong sayur, ikan nila dengan rasa daging yang gurih dan dapat digoreng kering, udang-udang air tawar dengan bentuk tubuh yang silindris sempurna tidak seperti udang laut yang agak pipih, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, air Sungai Mahakam sejatinya adalah habitat mamalia air tawar unik dunia: pesut. Khazanah secara harfiah.

Upaya konservasi demi kelestarian lingkungan di Sungai Mahakam, harus didukung kepedulian dan kecintaan warga terhadap fitur alam ini. Setidaknya sebelum pencemaran dan kerusakan alam semakin parah, dan membuat sumber air utama di Kota Samarinda dan beberapa kabupaten/kota lainnya ini benar-benar tidak layak disentuh manusia (lihat saja air Sungai Karang Mumus).

Demi menumbuhkan kepedulian dan kecintaan warga terhadap Sungai Mahakam, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Dimulai dengan penataan secara serius dan bebas korupsi, penyajian Sungai Mahakam dari sisi artistik lantaran sungai ini tidak kalah keren dibanding sungai-sungai besar di beberapa kota dunia, serta kesempatan untuk menikmati Sungai Mahakam dari sudut pandang berbeda.

Untuk itu, coba sejenak berimajinasi tentang Sungai Mahakam yang lebih keren, dengan beberapa ide yang barangkali jauh dari sempurna tapi tidak mustahil untuk dilaksanakan.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila kedua sisinya terang benderang

Penurapan bantaran sungai adalah sebuah keniscayaan dalam upaya penataan. Selain demi keindahan dan kerapian, turap sungai berfungsi untuk meningkatkan keamanan bagi warga maupun hewan yang berada di sekitarnya (baca: supaya tidak jatuh). Area-area yang diturap pun bisa menjadi ruang terbuka tambahan bagi warga, demi pemenuhan kebutuhan sosialnya. Seperti rekreasi, bersantai, berolahraga, termasuk memancing, dan sebagainya.

Sejauh ini, belum semua sisi bantaran Sungai Mahakam di Kota Samarinda yang sudah diturap. Di beberapa kecamatan, masih banyak pemukiman berdiri pada tepian sungai. Sisa-sisa dari pola kehidupan yang kurang modern, saat Samarinda masih menjadi sebuah kampung bernama Samarendah.

Relatif gelap, kan?

Kendati demikian, sudah ada beberapa kawasan utama yang telah diturap dan dihiasi dengan taman-taman umum. Sayangnya, belum semua terang benderang secara konsisten. Artinya, lampu taman terpasang, tapi kerap hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya pecah, rusak, dicuri, dirusak, atau tidak beroperasi karena urusan setrum entah apa masalahnya. Karena ini pula, banyak kawasan tepian Mahakam yang identik sebagai ruang gelap Kota Samarinda: wadah mesum, tempat para junkies dan gelandangan, area preman dan bandit, dan sebagainya.

Barangkali memang ada segelintir oknum yang lebih nyaman apabila tepian Mahakam remang-remang bahkan gelap. Tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikannya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila mudah diseberangi

Bagi kamu yang pernah berlibur ke Bangkok, Thailand dengan daftar tujuan yang umum, alias memang khusus buat turis, pasti tidak akan melewatkan agenda menyusuri Sungai Chao Phraya yang membelah kota tersebut. Di salah satu titik akan menikmati pemandangan stupa matahari terbenam atau Wat Arun, di salah satu titik lainnya akan dipersilakan membeli bongkahan roti untuk diberikan kepada ikan-ikan belakang salah satu kelenteng yang makan dengan lahapnya. Itu dari sisi wisata. Tapi jangan lupa, Sungai Chao Phraya pun masih diseberangi kaum urban Kota Bangkok sebagai akses transportasi menuju kantor, sekolah, mal, maupun tempat-tempat lainnya.

Bagaimana dengan Samarinda? Warga kota ini kadung beranggapan bahwa memiliki kendaraan pribadi itu lebih keren dan bergengsi ketimbang naik kendaraan umum. Kendaraan pribadi yang dimaksud pun adalah motor maupun mobil, yang saat menyeberangi sungai, mau tidak mau harus bertumpuk, mengantre, dan terjebak macet serta ditandai dengan perilaku nakal pengemudi yang ugal-ugalan di Jembatan Mahakam (Jembatan Mahulu tidak masuk hitungan karena siapa sih orang yang mau jauh-jauh lewat sana kalau bukan warga sekitar dan sopir truk peti kemas?). Sementara Jembatan Mahkota II katanya baru akan rampung akhir tahun nanti, which is dua bulan lagi, setelah berbelas-belas tahun dibangun kada tuntung-tuntung.

#Golden #Bright #Jembatan (#bridge) #Mahulu at #night. #Samarinda, East #Kalimantan, #Indonesia.

A post shared by dragono (@dragonohalim) on

Jembatan Mahulu saat baru banget diresmikan, dan masih terang benderang. Sekarang, jembatannya gelap, lampunya mati, dan sering dijadikan lokasi balap liar.

Lalu, siapa yang masih menggunakan tambangan atau kapal kelotok khas Samarinda? Paling-paling warga Samarinda Seberang dan kelurahan-kelurahan sekitar, yang rumahnya tidak jauh dari dermaga tambangan di Kelurahan Mesjid. Di sisi lain, memang akan kurang efektif apabila naik tambangan untuk kemudian bingung mesti naik ojek atau Angkot dari dermaga ke lokasi lain.

Okelah, apabila sebagai akses transportasi Sungai Mahakam masih belum bisa diberdayakan, jadikanlah sebagai fitur wisata tentu dengan harga yang tidak dilebay-lebaykan. Sebab selama ini, pemberdayaan Sungai Mahakam sebagai objek gaya hidup bernilai jual, baru dilakukan secara parsial. Misalnya, dalam kegiatan komunitas baru-baru ini, atau dijadikan latar pemotretan sesi pre-wedding. Salah satu mata acara kegiatan paguyuban, berupa jamuan makan siang tamu-tamu dari seluruh Indonesia di atas kapal yang sedang berlayar, dan masih banyak lagi. Bukan mustahil, banyak warga Samarinda lainnya yang ingin juga merasakan sensasi serupa.

IMG00566-20110217-1119
Sungai Chao Phraya yang membelah Bangkok, di depan Wat Arun.

Terus, apakah bingung harus diberdayakan seperti apa? Enggak punya ide? Otak buntu? Do brainstorming lah. Instansi terkait, seperti Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, atau Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim malah lebih bisa melibatkan diri secara dinamis dalam proses susun konsep bareng-bareng tanpa embel-embel harus studi banding lah, jalan-jalan lah, apa lah.

Berikut ini beberapa ide di antaranya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila makin banyak event beragam budaya

Sejauh ini, kegiatan yang identik dengan Sungai Mahakam baru ada satu, yakni Festival Mahakam yang umumnya digelar pada November. Dalam festival tersebut, ada beberapa mata acara khas yang ada sejak penyelenggaraan tahun pertama, ditambah dengan acara-acara yang disadur dan dijadikan bagian dari festival. Seperti Mahakam Jazz Fiesta garapan komunitas Jazz Kota Tepian. Although it keeps declining every year. Kalau begini, apakah acara meriah terkait Sungai Mahakam cuma berlangsung setahun sekali? Agak disayangkan. Padahal masih ada beragam kegiatan yang bisa dilangsungkan di Sungai Mahakam tersebar dalam satu tahun.

Apabila kendalanya adalah dana, sangat bisa diakali dengan penyelenggaraan acara per dua atau tiga tahun sekali. Skemanya, misal ada lima festival baru (A, B, C, D, E), dalam tahun ini digulirkan tiga festival (A, B, C), lalu tahun depan digulirkan tiga festival lain (A, D, E), dan dikombinasikan. Sebab, festival-festival yang berpotensi dijadikan ajang rutin, didominasi event tahunan. Seperti beberapa contoh. Memang perlu biaya, tapi apa mesti harus selalu di-markup dan dimahal-mahalkan?

>> Tahukah kamu bila setiap tanggal 5 bulan kelima dalam penanggalan Imlek, warga Tionghoa memiliki ritual membuang bacang atau makanan khas dari ketan secara simbolis ke sungai? Ritual ini biasanya juga dibarengi dengan persembahyangan secara sederhana, baik dilakukan di pinggir sungai maupun di tengah sungai. Festival ini berlangsung pada musim panas, sehingga biasanya juga dibarengi dengan minum teh bunga krisan sambil menyantap bacang tersebut. Selain itu, juga kerap dimeriahkan dengan festival perahu naga yang sebenarnya, maupun eksibisi perahu naga dengan titik berat pada permainan perkusi tambur.

Miniatur perahu naga dan bacang yang dilarung di perairan Sungai Mahakam dekat Pulau Buaya, beberapa tahun lalu.

>> Tahu Erau, kan? Selama ini, Sungai Mahakam di area Samarinda hanya dilintasi kapal pengangkut replika naga yang diantar ke kawasan Kutai Lama. Apabila memungkinkan, saat kapal naga lewat di Samarinda, disinggahkan sebentar untuk dapat dinikmati lebih lama warga kota ini. Tidak hanya itu, bisa juga kehadiran naga di kota ini “disambut” dengan pagelaran seni budaya berupa tari-tarian tradisional. Erau pun bisa jadi semacam event budaya dengan kepanitiaan gabungan. Para kontingen dari negara-negara sahabat pun ikut diberangkatkan dengan kapal sampai ke Samarinda untuk manggung sejenak.

Saat naga Erau atau Naga Bekenyawa tiba di dermaga Samarinda Seberang. Source: kutaikartanegara.com

Berani lebih gila lagi? Teknisnya mungkin agak ribet dengan keamanan dan regulasi. Tapi, pemerintah pasti punya kewenangan untuk mengerahkan atau meminjam ponton luas guna dijadikan panggung terapung. Para penampil juga penonton bisa berkumpul di sana, atau dibuat agak mendekat ke tepian.

Kami yakin, dari celetukan ide ini, pasti ada pro kontra. Selebihnya, pasti ada pula yang punya pemikiran lebih brilian dan realistis untuk bisa dilaksanakan.

>> Bicara soal panggung terapung, kenapa tidak dibuat pertunjukan musik, pesta kembang api, atau konser di atas kapal? Penonton pun berkumpul di tepian sungai. Atau mungkin bisa memberdayakan tambangan untuk menjadi “tempat duduk” terapung mengelilingi panggung. Acaranya jelas berlangsung malam, dan diupayakan aman sedemikian rupa dari cuaca, ketinggian permukaan air, dan batasan usia penonton.

Tidak perlu panggung yang heboh dan berlebihan, dengan terapung di atas sungai saja sudah wow! Source: wsdg.com

>> Antara September sampai November, umat Buddha di Samarinda (dan di seluruh dunia) merayakan hari Kathina. Salah satu tradisi yang khas dan unik dari perayaan ini adalah kegiatan melarungkan pelita lilin dengan tatakan berbentuk teratai ke air. Di Thailand, momen seperti ini berlangsung saat Festival Loi Krathong yang kebetulan juga jatuh setiap November.

Tradisi melarung pelita ke sungai saat Loi Krathong di Thailand, dan sebenarnya juga bisa dilangsungkan di Samarinda. Source: jansguesthouse.com

Pelarungan pelita ini berlangsung di Vihara Muladharma, Jalan PM Noor.

Kegiatan seperti ini juga dilangsungkan di Sri Lanka, maupun negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya termasuk Jepang, serta Korea, pelita ini dilarungkan ke sungai, danau, laut. Sementara orang-orang di Indonesia, selama ini terpaksa hanya melarungkan di kolam permanen maupun temporer yang khusus dibuat untuk tujuan itu. Bisa dibayangkan suasananya berlangsung indah dan relatif aman terawasi. Lilin pun bisa habis terbakar dalam waktu sekitar 20 sampai 30 menit.

Bagi warga Tionghoa di Tiongkok maupun Taiwan, juga ada tradisi seperti ini namun pada waktu berbeda dan bertujuan sebagai penghormatan kepada Dewi Guanyin.

Bayangkan saja apabila ada area khusus Sungai Mahakam tengah kota, tepatnya di depan kantor gubernur, yang dilokalisasi atau diamankan pada radius tertentu. Baik umat Buddha maupun warga umum bisa berpartisipasi melarungkan pelita ini. Pasti akan terlihat cantik dan syahdu. Di sisi lain, pemerintah pun bakal diapresiasi karena memberikan keleluasaan khusus dalam ibadah, serta kreatif bersinergi menghasilkan kegiatan budaya yang bisa jadi ikon kota ini.

Kalau disambungkan dengan tradisi umat Buddha Indonesia, bisa saja festival bernama Siripada Puja ini akan mampu menyaingi popularitas menerbangkan lentera di Candi Borobudur saat peringatan Waisak. Ya kalo? Siapa saja, umat maupun wisatawan, bisa berpartisipasi dalam ajang ini dan memenuhi media sosial dengan foto dan video yang menarik lebih banyak orang untuk datang tahun depan.

But the main concern will be safety issue. Harus benar-benar dipastikan aman.

>> Ide lainnya, bisa diberi nama Mahakam Short Cruise. Rute yang ditempuh pendek, dari Kota Samarinda menjelajah sampai ke muara sungai, atau ke lokasi-lokasi budaya seperti Kutai Lama, dan sebagainya. Bukan sekadar jalan-jalan, dalam satu sesi juga minimal disajikan makan siang dengan menu khas Samarinda, Kutai, Banjar, atau sesuai kreativitas masing-masing. Fokusnya bisa disesuaikan dengan objek-objek yang ingin dilihat. Bagi penggemar desain arsitektural, pasti girang banget melintas di bawah atau bisa memerhatikan detail mega structures infrastruktur. Mulai dari Jembatan Mahakam yang usianya hampir 30 tahun, Jembatan Mahulu dengan desain arch, atau Jembatan Mahkota II dengan desain cable-stayed. Juga bisa melihat Islamic Centre dari depan dan megah, kantor gubernur, bahkan bila memungkinkan juga diatur kerja sama dengan perusahaan Migas di muara agar peserta bisa melihat rig atau titik bor, dan sebagainya. Sedangkan bagi para ahli ilmu sosial, pasti akan senang melihat ragam hidup warga bantaran. Lalu bagi para pecinta alam, bisa menyaksikan hutan bakau di beberapa wilayah, hewan-hewan liar yang bisa bermunculan di sisi sungai. Banyaklah pokoknya.

Bisa juga menyontek ide festival lampion di sungai tengah Kota Seoul ini. Saat Sungai Mahakam dipenuhi kapal-kapal berlampu hias. Pawai pembangunan di atas sungai. Source: rjkoehler.com

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila ditangani sepenuh hati

Artikel ini sudah cukup panjang, jadi lebih baik diakhiri di bagian ini. Kendati poin ini terdengar klise, tapi pada kenyataannya belum pernah dilakukan sampai kini.

Tunjukkan bahwa kamu benar-benar mencintai Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kaltim, dan Indonesia ini dengan berani mengerahkan ide dan kreativitas, bukan hanya karena memang sedang bertugas di bidang itu. Kalau memang ide sudah buntu, gandeng sebanyak-banyaknya orang berkompeten untuk mewujudkan ini. Tapi setelah mereka terkumpul, jangan langsung diperalat dan dimanfaatkan demi menguntungkan diri sendiri.

Sekali lagi, kami yakin ada banya ahli tata ruang, arsitek, ahli botani, pemikir kreatif, pebisnis santun yang akan sangat bersedia membantu revitalisasi Sungai Mahakam. Jangan pernah malu untuk meminta ilmu. Di Bandung, ada arsitek yang jadi wali kota dan menyulap Kota Kembang itu jadi lebih indah dan nyaman. Di seluruh dunia juga ada agensi tata eksterior yang berani terlibat dalam pitching ide. Jadi, mulailah bergerak.

Kuncinya, asal memang punya niat dan tekad serius untuk melakukannya. Bukan cuma untuk cari muka, dan cari objekan. Selama ini, kita sebagai manusia-manusia Samarinda sudah dihidupi air Sungai Mahakam, dan ini saatnya bagi kita untuk “membalas budi”. Mengonservasi kehidupan di dalamnya, dan membuatnya lebih cantik dan patut dipuji.

Sebab sejatinya, Sungai Mahakam sudah keren, tapi dibuat kotor dan buruk oleh manusia-manusia yang mengambil air dan mengeruk isinya, serta mencemarinya. Berhentilah bersikap kurang ajar dan tak tahu malu.

[]

Artikel ini pertama kali ditulis untuk Undas.Co, September 2015.

Cinta Kota Sendiri dengan Dijelajahi

SEBUTKAN setidaknya sepuluh tempat unik yang ada di kota Samarinda!

Sebagai seorang warga Samarinda, jawaban untuk soal di atas tentu sangat mudah. Karena pada kenyataannya, tempat-tempat unik tersebar di seluruh penjuru kota dan relatif enggak susah-susah amat untuk dijangkau. Mulai monumen patung Dayak “Selamat Datang” di Simpang Tiga, sampai Lamin di Desa Budaya Pampang. Dari tugu tangan berdoa di Palaran, hingga kelenteng pribadi Nan Shi Zhu (南石竹) di Sungai Lais. Belum lagi tempat-tempat yang ada di tengah kota, dan seringkali kita lewati saat berkendara.

Pertanyaan berikutnya, seberapa menarik tempat-tempat tersebut untuk bisa memunculkanexcitement, menumbuhkan rasa bangga, dan memberi kesan menyenangkan ketika dikunjungi, termasuk oleh orang-orang Samarinda sendiri? Ataukah tempat-tempat tersebut memang membosankan, dan tidak ada apa-apanya?

Jika memang begitu adanya, maka wajar bila saya–yang orang Samarinda ini–merasa cukup iri dengan Jakarta Walking Tour, aktivitas wisata murah meriah yang terinisiasi sejak setahun terakhir. Iri, lantaran nuansa seru yang begini sebenarnya juga bisa dihadirkan di Samarinda, bahkan di seluruh kota Indonesia. Tergantung apa konsepnya, seperti apa pengemasannya, dan bagaimana eksekusinya. Seperti yang akan diselenggarakan 25 Juni mendatang, sesi-sesi dilakukan secara bersamaan dalam rangka peringatan hari jadi kota Jakarta.

Journey
Source: @JKTgoodguide

Apakah ada peminatnya? Sekadar informasi, saat menulis artikel ini, kuota yang tersisa hanya untuk rute City Center 2, Cikini, Jatinegara, dan Pasar Baru. Selebihnya, sudah penuh! Padahal saya pengin ikut yang China Town.

Kalau kamu merasa sebagai orang Samarinda, pasti sudah bisa membayangkan rute-rute tur serupa di Kota Tepian. Bukan mustahil, penjelajahan seperti ini pasti seru dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan sederhana seperti ini berpotensi bisa membantu tugas Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, bahkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim dalam mempromosikan Kaltim.

Contoh rute, misalnya…

  • “Samarinda Tempo Doeloe”
    • Start dan finis: Balai Kota Samarinda. Di sana, bisa dijelaskan tentang sejarah pemindahan Balai Kota dari Jalan Milono ke sana. Peserta juga diajak untuk melihat sisa-sisa makam Tionghoa yang masih ada di salah satu bukit. Selain itu, peserta bisa melihat ramainya jalan Balai Kota yang dijadikan jogging track sembari jajan aneka makanan.

      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
    • Lokasi 2: Taman Samarendah. Dari Balai Kota, peserta berjalan kaki lewat jalur tembus Jalan Kenanga ke Jalan Bhayangkara. Di sana, dikisahkan tentang gedung SMAN 1, SMPN 1, dan Lapangan Pemuda sebagai salah satu icon pusat kota Samarinda. Peserta juga diajak untuk mengenal fitur-fitur yang ada di Taman Samarendah tersebut.

      Taman Samarendah yang dulunya merupakan lahan SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda. Source: kaltim.prokal.co
    • Lokasi 3: Katedral Santa Maria lewat Jalan Milono. Sebagai gereja Katolik besar pertama di Samarinda, masih banyak warga kota ini yang tidak tahu kalau nama lengkap dari gereja tersebut adalah Katedral Santa Maria Penolong Senantiasa. Peserta juga diajak untuk menelusuri kompleks katedral, mengetahui bagian-bagian bangunan, serta mendapatkan penjelasan tentang ornamen yang tersebar di gereja tersebut. Peserta bahkan berkesempatan untuk mendengar langsung bunyi lonceng setiap pukul 4 sore.
    • Lokasi 4: Kawasan Pasar Pagi. Sebagai pusat keramaian mula-mula kota Samarinda, peserta diajak untuk mengenal daerah ini lebih jauh. Sedikit banyaknya ada beberapa bangunan lama yang masih bertahan. Misalnya: salah satu langgar di sebelah pusat oleh-oleh Fitriah, ada juga restoran Kepiting Kenari yang legendaris, termasuk areal Pasar Pagi itu sendiri.
    • Lokasi 5: Masjid Raya Darussalam. Boleh dibilang masjid ini adalah yang tertua kedua di Samarinda. Bangunannya memiliki ciri khas unik, penuh ornamen, dan indah. Termasuk dengan kolam air mancur yang ada di salah satu sisinya. Peserta akan mendapatkan penjelasan sejarah tentang pendirian masjid ini, termasuk penggeserannya dari pinggir Sungai Mahakam ke lokasi yang sekarang.
    • Lokasi 6: Kawasan Citra Niaga. Kota Samarinda pernah identik dengan kawasan ini. Pusat oleh-oleh dan kerajinan khas yang dianugerahi penghargaan Aga Khan Award lebih dari seperempat abad lalu. Peserta diajak untuk menjelajahi berbagai penjuru, melihat piala Aga Khan Award, juga memerhatikan prasasti batu yang ada di lapangan tengah. Sekaligus memerhatikan areal ekonomi di sekelilingnya, dan Jalan Niaga Selatan yang dulu pernah dijejeri PKL.
    • Lokasi 7: Mal Mesra Indah. Pusat perbelanjaan ini adalah mal modern pertama di Samarinda, dan tetap beroperasi hingga kini. Peserta yang pernah mengisi masa kecil dan remaja di mal ini pun diajak bernostalgia, dengan menelusuri setiap lantainya atau mencicipi makanan yang ada. Saat keluar dari mal ini pun jangan lewat jalan raya, melainkan mengambil jalur belakang yang tembus ke Jalan Mutiara. Di sana ada warung gorengan yang terkenal, dan warung gado-gado lama.
    • Peserta diajak kembali ke Balai Kota lewat Jalan Abul Hasan-Jalan Dahlia.

Selain contoh rute di atas, saya yakin masih ada banyak tema yang bisa diangkat! Belum ke keleteng tertua di Samarinda, Tian Yi Gong (天儀宮) yang berusia lebih dari 115 tahun, atau warung kopi (di Jakarta kerap disebut Kopi Tiam) legendaris yang sudah dikelola generasi kedua dan ketiga, serta lain sebagainya.

Kegiatan penjelajahan seperti ini pada dasarnya bukan hal yang baru-baru banget di Samarinda. Sejak beberapa tahun lalu, sudah ada sejumlah organisasi maupun komunitas di Samarinda yang mengadakan acara sejenis, namun terbatas untuk kalangan tertentu saja, maupun tidak terorganisasi secara lebih luas.

Pemuda Theravada Indonesia (Patria) salah satunya. Dalam kegiatan outbuond bertajuk Rekreasi Interaktif (Rekin). Pada Rekin VI (2008), Rekin VII (2009), dan Rekin 8 (2012), panitia menyelipkan sesi “The Amazing Race”. Semacam permainan berantai dengan beragam lokasi, mulai Islamic Center sampai Kelenteng Tian Yi Gong dan sebagainya. Minimal di areal kompleks Unmul yang superluas itu.

Panitia peringatan hari jadi kota Samarinda dan Pemkot Samarinda setahu-dua tahun lalu juga pernah mengadakan acara penjelajahan serupa. Tetapi dikhususkan untuk para rider, atau pengendara motor. Begitu pula yang dilakukan sejumlah blogger Samarinda tahun lalu, dalam kegiatan bertajuk “Explore Samarinda: Wisata Sungai Mahakam”. Lagi-lagi, segmen penyelenggaraannya bersifat terbatas.

Permasalahan selanjutnya, barangkali enggak banyak orang Samarinda yang semacam kurang kerjaan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Jalan kaki pula. Ditambah lagi, mereka harus benar-benar punya wawasan tentang lokasi yang dikunjungi. Tapi jangan lupa, ini adalah kegiatan rekreasi. Bisa dilakukan saat akhir pekan atau hari libur. Lagipula, sudah ada beberapa komunitas yang bisa dilibatkan secara aktif dalam memulai gerakan “Cinta Kota Samarinda” ini. Sebut saja Komunitas Samarinda Bahari (KSB), maupun pengelola Galeri Samarinda Bahari. Setidaknya, komunitas-komunitas tersebut punya penutur, pencerita, maupun orang-orang yang bersemangat untuk berbincang dengan para tetua, para saksi mata.

“Cinta Kota Samarinda”. Ya! Kegiatan rekreasi ini seyogianya bisa menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap kota tercinta ini. Akan tetapi kalau hanya dilakukan untuk gaya-gayaan; ajang pembuktian kekerenan; atau memenuhi sosial media semata, hasilnya tidak maksimal. Penyelenggaraannya bisa jadi berantakan. Tempat-tempat tujuan hanya didatangi untuk foto danselfie tanpa penjelasan tentang sejarah, aftertaste-nya berasa hampa dan garing. Enggak berkesan-berkesan amat, kecuali panas gerah dan capek jalan kaki. Panitianya enggak bakal mau bikin lagi,until proved otherwise.

Jadi, kapan mau mulai jelajahi kota sendiri?

[]

Tulisan ini juga dimuat di: Undas.Co

Jembatan Mahakam: Jembatan Besar Pertama Samarinda

KATANYA (dan memang logisnya), salah satu ciri kota modern adalah memiliki sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Lalu, salah satu aspek dari poin “infrastruktur yang memadai” adalah ketersediaan jembatan. Terlebih pada kota-kota yang memiliki sungai atau kali berbagai ukuran, maupun jumlah dan kepadatan penduduknya.

Sebagai ibu kota provinsi yang dibelah Sungai Mahakam dengan kelebaran lebih dari setengah kilometer (belum termasuk anak-anak sungai kecil), sudah sewajarnya Samarinda memiliki banyak jembatan besar. Kalaupun mau pujungan dan sedikit sotoy, bandingkan saja dengan New York City (NYC) yang memiliki 32 jembatan khusus untuk jenis bentangan di atas sungai dengan konstruksi tertua dibuat pada 1883.

Bagaimana dengan Samarinda? Hingga saat ini, warga Kota Tepian masih bergantung pada Jembatan Mahakam. Jembatan pertama pembelah Sungai Mahakam di kota ini. Sebab meskipun Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) sudah berdiri, dan menghubungkan Kelurahan Sengkotek serta Kelurahan Loa Buah, banyak yang enggan melintasinya. Selain lokasinya yang dianggap jauh dari “kota”, kondisi jembatan gelap gulita dengan lampu-lampu yang hanya terang benderang selama beberapa pekan setelah peresmian. Apalagi jalur Loa Buah-Loa Bakung dan sekitarnya berdebu, gelap, dan rusak parah. Akhirnya Jembatan Mahulu lebih difokuskan untuk warga setempat dan truk-truk besar, sedangkan Jembatan Mahakam tetap dijubeli kendaraan setiap pagi dan sore. Lebih-lebih di akhir pekan dan musim liburan. Bisa jadi, setelah Jembatan Mahakam berdiri, pemikiran-pemikiran untuk menambah jembatan di kota ini dipatahkan dengan argumentasi “ah, masih belum perlu,” atau “ah mahal, Jembatan Mahakam juga lancar-lancar aja.” Namun lama-kelamaan, jumlah penduduk bertambah, disusul peningkatan jumlah kendaraan. Tahu-tahu, Jembatan Mahakam sudah macet. Pengalaman yang baru ini belum siap dihadapi warga, sehingga banyak yang kesal, yang emosional, ditambah dengan belum terbiasa tertib berlalu lintas. Telat.

Mahakam Bridge
Watermark-nya gengges!

Oke, kembali ke Jembatan Mahakam sepanjang 400 meter ini.

Per tanggal 3 Agustus nanti, konstruksi Jembatan Mahakam sudah berusia 30 tahun! Kalau dianalogikan dengan fase kehidupan orang-orang Samarinda pada umumnya, usia Jembatan Mahakam sudah setara dengan cowok atau cewek yang sudah menikah, dan minimal telah memiliki satu orang anak menjelang usia masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Singkat kata, Jembatan Mahakam itu sudah lumayan tuha. Tapi makin lama, jumlah kendaraan yang memenuhinya setiap hari kian banyak. Belum lagi sudah beberapa kali tiang penyangganya tersenggol sampai tertabrak ponton batu bara yang luar biasa besarnya.

Source: Undas.Co

Mengutip informasi dasar mengenai Jembatan Mahakam, proses pembangunannya dimulakan pada 1982. Dan setelah rampung dibangun pada 1986, jembatan ini baru diresmikan setahun setelahnya. Sebelum rampung, jelas satu-satunya cara untuk menyeberang ke “Samarinda Kota” adalah menggunakan kapal. Begitupun bila pergi ke/datang dari Balikpapan maupun Tenggarong. Untuk keterangan tambahan, bisa juga dibaca di plakat yang tertanam di dinding sisi kiri dekat ambang jembatan, bila melintas dari Samarinda Seberang. Sayangnya, plakat itu tertanam lumayan tinggi, dan saat ini sudah tertutup lumut. Samar-samar, hanya lambang Departemen Pekerjaan Umum (kini disebut Kementerian PU) yang bisa terlihat.

Sebagai jembatan pertama di Kota Samarinda, Jembatan Mahakam menggunakan desain konstruksi Truss (atau Lattice Truss), yang untuk masa kini terkesan jadul.

Salah satu jembatan dengan konstruksi model Lattice Truss. Source: Wikipedia

Secara sederhana, model Truss menampilkan rangkaian penyangga beban berbentuk segitiga. Terdiri dari komponen-komponen yang disatukan. Di Jembatan Mahakam, rangkaian Truss tersusun memanjang, membentuk semacam kotak dan terbagi beberapa segmen lantaran beda ketinggian. Penyatu Truss di Jembatan Mahakam bisa kamu lihat pada lempengan baja dengan baut dan mur berukuran jempol orang dewasa. Agak memompa adrenalin pada bagian pedestrian atau pejalan kaki. Karena berada di sisi luar jembatan. Seru.

Selain pada Jembatan Mahakam, desain Truss juga digunakan untuk beberapa jembatan kecil di dalam kota, seperti Jembatan II atau Jembatan Sungai Dama, juga Jembatan Baru (JB) di ujung Jalan Agus Salim menuju Jalan Gatot Subroto.

Mengapa model Truss yang dipilih? Unda gin kada paham. Tapi bisa jadi karena efisiensi biaya. Selebihnya, model Truss termasuk yang tertua dari konstruksi jembatan modern. Barulah pada desain Jembatan Mahulu, dan (soon-to-be built) Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II, sudah mulai bermain dengan tampilan yang lebih modern.

Untuk melengkapi nostalgia, berikut ini adalah video dokumentasi peresmian Jembatan Mahakam. Bisa dirasakan suasananya, ketika para pendahulu kita sebagai warga kota ini, himung dan gembira dengan berdirinya Jembatan Mahakam.

 

[]

Kenangan dari Samarinda Era 90-an

SETIAP generasi memiliki “harta karun” kenangannya masing-masing. Tak tergantikan, meskipun telah lekang ditinggal zaman. Begitupun yang dirasakan Generasi Y Samarinda, mereka yang menikmati kehidupan era 90-an dengan segala perniknya. Wajar bila kini banyak di antara pernik-pernik tersebut yang dirindukan.

…dan bagi saya, berikut adalah beberapa di antaranya.

Main Ding-Dong di Supermarket Anna

Ada masanya, ketika Ding-Dong digunakan untuk menyebut perangkat permainan arcade yang benar-benar video game. Dioperasikan dengan duit Rp 100, dan hanya bisa menggunakan benggolan wayang. Beberapa judul permainan yang populer adalah “Street Fighter”, “Contra”, “1942”, dan permainan pesawat tempur dengan efek tembakan yang bikin terperangah saat itu (sampai sekarang juga sih).

Tidak hanya jejeran mesin Ding-Dong dengan musik latar–yang baru kita ketahui beberapa tahun kemudian sebagai–chiptune, lantai atas Supermarket Anna juga dilengkapi dengan areal Boom Boom Car (aslinya bernama Bumper Car). Permainan saling menabrakkan mobil yang seru banget, kala itu. Disusul kemudian arena permainan yang sama di lantai atas Mal Mesra Indah yang masih berdiri hingga kini.

Lokasi bekas Supermarket Anna, Jalan Imam Bonjol.

Di tahun 90-an, satu-satunya supermarket dengan arena Ding-Dong di lantai 2 hanyalah Anna, di Jalan Imam Bonjol. Popularitasnya sebagai salah satu “tempat hiburan” di Samarinda mesti pupus setelah kebakaran sekitar dua dekade lalu. Kini, masih ada sisa lantai dan fondasi bangunannya, namun terpagar seng dan belum jelas akan digunakan kembali sebagai apa.

Selain menyenangkan, budaya palak-memalak juga tumbuh di areal Ding-Dong Supermarket Anna. Remaja yang merasa jagau dan lebih besar, mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil. Entah bagaimana nasib mereka sekarang.

Nonton Bioskop Mahakama dan Parahyangan

Film pertama yang penulis tonton di bioskop adalah “Jurassic Park”, itu pun di Bioskop Mahakama, Jalan Yos Sudarso. Lengkap dengan kudapan kacang madu dan teh kotakan.

Lebih dahulu berhenti beroperasi, kadang kala cinematic experience masih bisa dirasakan di Bioskop Parahyangan, Jalan Bhayangkara yang lahannya kini telah jadi lokasi mal. Dua bioskop yang dikelola pengusaha lokal ini, benar-benar menjadi gedung pertunjukan. Karena setelahnya, kita harus masuk mal terlebih dahulu.

Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)
Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)

Selain Mahakama dan Parahyangan, Samarinda sebenarnya juga memiliki beberapa bioskop lain. Beberapa di antaranya seperti Bioskop Garuda, Wisma Citra, Bioskop Kaltim di kompleks Pinang Babaris.

Tulisan lain mengenai bioskop-bioskop di Samarinda bisa dibaca di “Bioskop di Samarinda“.

Es Krim “Tiga Dara”

Untuk yang satu ini, mungkin tak banyak orang Samarinda yang tahu atau pernah menikmatinya.

Di deretan rumah tak jauh dari pintu masuk Pasar Subuh Jalan Yos Sudarso, ada warung kopi dengan plang bertuliskan “Tiga Dara” di depannya. Warung kopi ini dikelola sepasang Engkong-Amah (kakek-nenek) Tionghoa dengan keramahan khas, terlebih kepada anak-anak yang diajak orang tuanya serta. Sebab sajian favorit anak-anak Samarinda hingga akhir 90-an di warung kopi ini adalah homemade ice cream alias es krim buatan sendiri.

Disajikan dengan mangkuk saji khusus es krim berbahan stainless steel yang hingga kini tidak pernah lagi terlihat di kota ini, ada rasa cokelat dan vanila. Kesukaan penulis adalah rasa cokelat, yang bertekstur lembut, tidak terlalu manis, dan kadang kala masih menyisakan serpih es renyah. Dijamin, meskipun sederhana dan cuma berupa scoop-an tunggal tanpa topping macam-macam dan sebagainya, rasa es krim “Tiga Dara” tidak ada duanya. Klasik!

Sayangnya, warung kopi ini berhenti beroperasi setelah sang Engkong meninggal. Mesin pembuat es krim pun kabarnya sudah diboyong ke Surabaya oleh menantunya. Beberapa masa setelahnya, sang nenek juga berpulang.

Selain es krim, sajian yang cukup terkenang dari warung kopi ini adalah kroket kentang lembut dan selalu hangat.

Semuanya Jadi Permainan

Di era 90-an, jangan tanya soal gadget. Video game yang paling keren pun adalah Nintendo maupun Sega, dan tentu saja mahal. Paling advance adalah Play Station 1 yang gambarnya masih pixelated. Tapi bukan berarti anak-anak Samarinda pada masa itu kekurangan kegembiraan. Bahkan sangat gembira, sampai-sampai suah dihamuki mamak di rumah, main lupa waktu dan kotor sampai bebau hari.

Ada Asin Naga, permainan modal badan doang. Selain itu ada juga permainan melompati penghalang dengan ketinggian tertentu. Setiap “naik level”, ketinggiannya pun bertambah. Uniknya, penghalang menggunakan jengkal tangan yang disusun vertikal. Informasi ini baru ditambahkan. Katanya, permainan itu bernama Kil-kilan. Dari tanggapan pembaca, perlu juga menambahkan permainan Benteng dan Kiniboy. Sayangnya, penulis sama sekali tidak ingat dengan permainan terakhir itu. Kalau Benteng, dengan format kurang lebih Asin Naga dengan peraturan berbeda.

Kalau cuma punya karet gelang, jadilah main lompat. Kalau punya biji karet, jadilah Main Pedak pakai undas atau jagoannya. Kalau punya dua batang kayu, main Batu Lele. Bisa Main Rujak, tapi bukan buah. Gebok pakai buntelan plastik. Ada Tembakan Bambu menggunakan kertas yang dibasahi pakai ludah (HAHAHAHA). Bahkan sampai nangkepin Iwak Paret pakai tudung saji (HAHAHAHAHA LAGI). Macam-macam deh, dan semuanya happy!

Oh, satu lagi. Di sekitar sekolah biasanya ada mamang-mamang penyewaan Game Watch atau Super Nintendo yang diikat dengan tali. Setelah waktunya habis, talinya pun ditarik-tarik sebagai pengingat.

Jalanan yang Sepi

Nah, kalau ini sih memang mutlak berubah. Jelas aja, di tahun 90-an, mobil paling hits adalah “rusa” kotak dan Kijang Kapsul. Motor pun tidak semerajalela saat ini. Paling keren ya si “raja”.

Baru banyak yang sadar dalam sepuluh tahun terakhir, bahwa sepinya jalanan Kota Samarinda pada masa itu adalah pelengkap ketenteraman. Makanya, anak-anak banyak yang harus pulang sebelum magrib, karena relatif sepi.

Selain itu, karena masih anak-anak di tahun 90-an, kota ini masih banyak area misteriusnya. Belum terjelajahi, dan seperti kawasan yang masih gelap dalam permainan RPG.

Anda, anak-anak Samarinda lainnya, pasti punya daftar tambahan. Ada beberapa yang masih bisa dinikmati sampai sekarang, misalnya Es Kacang Merah Depot Anggrek, Es Kelapa Pak Kumis, dan lainnya. Mari dibagi. Saling bernostalgia. Biarkan para Millennials tetap asyik dengan dunianya di masa kini.

[]

Tulisan ini terbit pertama kali di Undas.Co.

Apa Nama Tionghoa untuk Anakku?

NAMA Tionghoa merupakan salah satu identitas etnik dan budaya yang tak tergantikan, terlebih jika sedang berada di negeri orang.

Setelah ada perintah dan tekanan Orde Baru (Orba) untuk mengganti/memiliki nama dalam bahasa Indonesia, aktivitas kebudayaan ini tetap dipertahankan meskipun terkesan diam-diam. Para pendatang dari Tiongkok dan orang-orang yang terlahir dengan nama Tionghoa, harus mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang menerakan nama baru. Sedangkan generasi yang lahir sesudahnya mendapat dua nama. Satu nama resmi yang tercantum di semua dokumen administrasi kependudukan dan digunakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, serta nama berbahasa Tionghoa yang hanya valid dalam lingkungan keluarga dan urusan-urusan budaya.

Selain larangan penggunaan nama berbahasa Tionghoa, pemerintah kala itu juga melakukan pemberedelan budaya. Akses dan transfer wawasan sangat terbatas, sehingga pemberian nama Tionghoa dilakukan sekadarnya. Memunculkan tidak sedikit warga Tionghoa yang kurang akrab dengan nama Tionghoanya sendiri; tidak mampu menulis, melafalkan, serta menjelaskan arti namanya. Termasuk para orang tua yang memutuskan untuk tidak memberi nama Tionghoa kepada anak-anaknya, entah lantaran tidak mengerti atau tak ingin putra putri mereka mengalami kesusahan akibat ketionghoaannya. Karena itu, jangan heran bila banyak ditemui warga Tionghoa di beberapa kota pulau Jawa dengan satu nama saja.

Mengapa ihwal pemberian nama Tionghoa ini terkesan begitu penting dan agak dramatis? Tentu saja karena sentimen etnologis komunal. Ada ikatan imajiner yang menghubungkan kita di masa kini, dengan akar masa lalu: suku nenek moyang, dan daerah asal.

Di sisi lain, memang tak bisa dibantah bahwa proses pemberian nama Tionghoa kian dianggap kuno, obsolete, dan merepotkan. Pasalnya, praktik ini tidak sesederhana memilih kata-kata dalam bahasa Tionghoa untuk disusun menjadi sebuah nama dengan bunyi dan makna yang indah. Ada sejumlah ketentuan budaya (bukan klenik) yang harus diperhatikan, walaupun akhirnya terasa makin ditinggalkan.

Nama Tionghoa terdiri dari tiga bagian:

1. Marga

Nama keluarga yang terus diturunkan secara patrilineal. Tidak akan pernah berubah, dan selalu menjadi aksara pertama. Marga juga diselipkan warga Tionghoa dalam nama Indonesianya, menjadi sesuatu yang khas. Beberapa di antaranya: Halim (Lim/Lin: 林), Lauwono (Lauw/Liu: 劉), Gotama (Go/Wu: 吳), Limantara (Lim/Lin: 林), Oentu (Oen/Bun/Wen: 文), Tjandra (Zhan: 詹), Hartanto (Tan/Chen: 陳), Goeyana (Goey/Wei: 魏), Tandi (Tan/Chen: 陳), Susanto (Su: 蘇), Wongso (黃), dan lainnya.

2. Nama Generasi

Nama yang digunakan sebagai penanda tingkat generasi (kakek, ayah, anak, cucu, cicit, dan seterusnya). Untuk saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama (misal: saya dan saudara laki-laki), dan segaris patrilineal (misal: saya dan anak laki-laki abang ayah saya), aksara yang digunakan sama. Ditempatkan menjadi aksara kedua atau ketiga sesuai tradisi keluarga maupun kesesuaian bunyi maupun arti.

Contoh:

Saya: 李
Adik laki-laki saya: 李

Apabila saya memiliki abang atau adik laki-laki lain, nama generasinya akan tetap sama: .

3. Nama Pribadi

Nama individual yang benar-benar personal dan berbeda, sehingga selalu digunakan sebagai panggilan internal (misal: Ahok, Aling, Aseng, Along, Ling-ling, Zhen-zhen, San-san, dan sebagainya). Ditempatkan sebagai aksara terakhir, atau menyesuaikan dengan posisi nama generasi.

Secara umum, masing-masing terdiri atas satu kata. Kecuali untuk marga-marga langka dengan dua aksara atau lebih, seperti Ouyang (歐陽), Situ (司徒), Sikong (司空), Guliang (榖梁), dan beberapa yang lain.

Dari ketiga bagian tersebut, nama generasi boleh dibilang merupakan komponen yang paling merepotkan. Lantaran kelompok marga/keluarga di setiap sub suku/kampung di Tiongkok memiliki urutan nama generasinya masing-masing, tersusun menjadi sepasang syair dengan total 24 sampai 40 aksara, which means… bisa untuk 24 sampai 40 keturunan!

Syair tersebut lazimnya dipajang di altar leluhur, atau dicatat khusus dalam semacam kitab keluarga (strata tinggi) untuk kembali ditilik sewaktu-waktu. Namun tradisi ini menjadi semacam kebutuhan tersier ketika di perantauan, dan terlupakan. Terlebih bagi para IBC-Indonesian born Chinese, macam saya.

IMG_9825
Syair urutan nama generasi milik keluarga pakde luar (suami adik perempuan papa). Dibaca dari kanan atas sampai kiri bawah dan saat ini baru menginjak aksara kedua! Lokasi: Samarinda.

Sebagai orang Tionghoa generasi ketiga di Indonesia, satu-satunya cara bagi saya untuk mengetahui urutan lengkap nama generasi adalah dengan datang ke kampung halaman mendiang kakek di Tiongkok tenggara. Sebab kakek meninggal saat saya masih kecil, 2001 lalu. Pun tanpa sempat menjelaskan dan meneruskan perihal urutan tersebut kepada anak-anaknya; papa dan sembilan saudaranya, yang bahkan kurang paham benar di mana kampung halaman dimaksud.

IMG_0397
Salah satu catatan urutan nama generasi untuk marga Kwok/Guo dari sebuah wilayah di Provinsi Fujian. Source: A Singaporean in Facebook.

Sejak saat itu, saya penasaran: apa nama generasi untuk anak saya nanti? :p Kendati tidak ada jaminan jika nama tengah papa dan saya masih mengikuti urutan yang semestinya.

Nama generasi kakek: 國
Nama generasi papa: 成
Nama generasi saya: 正
Nama generasi anak: ?

Rasa penasaran itu baru terjawab awal Maret lalu, justru dalam suasana dukacita ketika Apak (pakde) meninggal dunia. Ketika itu, papa dan delapan saudaranya berkumpul. Termasuk yang paling tua, dan sudah memiliki cucu dalam laki-laki.

Katanya, nama generasi untuk putra saya nanti adalah: 熙

YAY! FINALLY!

Padahal, mereka sendiri tidak menggunakan aksara tersebut untuk cucu dalam laki-laki mereka. Memilih nama lain.

Kayaknya memang wajar bila makin lama makin banyak yang enggak peduli soal ini. Ribet! Tapi seru. 🙂

[]

“Musiques du Royaume Perdu”: Serunya Sebuah Kolaborasi

SANGAT susah untuk tidak tersenyum lebar saat mendengar “Sekar Manis” dilantunkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam pergelaran Kamis (5/5) malam pekan lalu. Apalagi setelah Hugues Primard dan Véronique Bourin, tenor-sopran dari kelompok musik tradisional Perancis: Doulce Mémoire ikut menyanyikan syair berbahasa Sunda sebagai latar pengiring Hendrawati Ashworth, sang sinden.

Ku lucu malati
Nu aya di taman taman sari
Hiur seungit nu geulis
Nu geulis putri mantili

Bayangkan saja, lirik tembang bernuansa Cianjuran di atas dinyanyikan indah lewat lidah français dalam acara “Musik dari Negeri yang Tlah Hilang (Musiques du Royaume Perdu); dari Keraton Sunda Sampai ke Kediaman Raja-Raja Perancis”, yang diselenggarakan Institut Français d’Indonésie (IFI) sebagai bagian dari rangkaian Printemps Français 2016.

IMG_0275
Saat membawakan judul-judul kolaboratif, anggota kelompok Doulce Mémoire ikut duduk dan bergabung dengan Maestro Musik Sunda.

Begitupula sebaliknya, saat “Je Vivray Liement” yang berirama riang dibawakan menjelang pengujung penampilan. Primard dan Bourin begitu ekspresif serta bersemangat. Menyebarkan atmosfer menyenangkan dari panggung ke seluruh auditorium, yang bisa dicerap secara gamblang bahkan oleh penonton awam sekalipun.

Dibandingkan 14 judul lainnya, kedua lagu itu seakan menjadi highlight utama dari pertunjukan yang berdurasi 60 menit tersebut. Pasalnya, kolaborasi tak hanya terjadi antarvokalis, namun juga antarkelompok. Selain antara sinden dan tenor-sopran, harmonisasi juga terjadi antara Miguel Henry (lutist: pemetik lute, gambus Eropa yang ujungnya patah mirip gitar Raja Dangdut) dan Dede Suparman (kecapi Sunda), serta antara Denis Raisin Dadre (flutist sekaligus pengarah) dan Yoyon Darsono (suling Sunda) dari kelompok Maestro Musik Sunda. Menyisakan Bruno Caillat pada perkusi dengan tambur dan tamborin bergemerincing.

Perpaduan terjadi di semua lini musik, menghasilkan karya yang ajek dan selaras tanpa peduli perbedaan budaya, ruang dan waktu, serta bahasa. Terlebih keduanya sama-sama diangkat dari seni masa lampau dua bangsa, yang katanya, ibarat mempertemukan era Kerajaan Pajajaran dan Renaisans dari rentang abad ke-14 hingga ke-16.

Sebagai seseorang yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seperti ini, apalagi tidak paham bahasa Perancis dan Sunda, Musiques du Royaume Perdu cukup berkesan. Meski tetap saja, ada kurva emosi yang fluktuatif di sepanjang acara: pembukaan yang menyenangkan, agak mengarah ke membosankan di pertengahan, seru di pertengahan menjelang akhir, dan ditutup dengan rasa hangat. Dalam hal ini, pengalaman dan kesan setiap orang tentu berbeda.

Bagaimana kebosanan terbangun? Utamanya pada lagu-lagu berbahasa Perancis dan Sunda yang disajikan secara “à la carte”, serta terdengar agak mirip satu sama lain dengan komposisi standar: vokal+alat musik tiup+alat musik petik+perkusi (khusus untuk Doulce Mémoire). Selain itu, suara sinden terdengar agak lemah (bila dibanding sopran). Sehingga terkesan agak tenggelam saat membawakan lagu-lagu non-kolaborasi.

Dari 16 judul dalam playlist, separuhnya merupakan lagu-lagu non-kolaborasi. Beberapa di antaranya seperti “Colinetto”, “Pour Délaisser Tristesse”, “Padjajaran–Sinangging Degung” sebagai pembuka. Ada pula yang dibawakan secara back-to-back, seperti “Extalbo Te Domine” dan “Beauté Parée de Valour”. Selain itu, setidaknya ada lima judul yang dibawakan secara bersama-sama. Dua di antaranya telah disebutkan di atas, serta satu tembang bonus (semacam encore lah): “Es Lilin”.

Yang pasti, terlepas dari rentang segmentasi pendengar yang lumayan terbatas dan beraneka tantangan lain, pergelaran “Musiques du Royaume Perdu” berhasil mencapai tujuannya sebagai sebuah aksi kolaborasi seni. Ketika ragam dua budaya yang berbeda, diolah menjadi kesatuan yang indah.

IMG_0279
The last bow!

…dan akhirnya, bikin kembali terbayang tentang betapa kerennya kalau kolaborasi serupa juga terjadi pada musik Dayak. Atau setidaknya dengan petikan Sampek (alat petik tradisional Dayak) bersama genre lain yang tengah jadi primadona kekinian. EDM, misalnya.

Tak mustahil bisa menyusul keberhasilan YK Band, yang sudah sukses memilin musik tradisional Dayak dengan jazz kontemporer. Juga diiringi apresiasi bagi para kaum muda Samarinda yang selalu antusias bereksperimen dalam kolaborasi.

[]

Penampilan YK Band di Mahakam Jazz Fiesta (MJF) 2013

Salah satu penampilan kolaboratif November 2015 di Samarinda, ketika Sampek Dayak dan Synthesizer dimainkan bersama.

Rocket Rain

“INI vagina…
Itu vagina…
Banyak vagina…
Di mana-mana…”
~ senandungan Culapo, Jansen, dan Rain.

Hahaha! Pada intinya, saya ndak benar-benar ngerti ini film apa. Saya hanya tertawa-tawa, cukup menikmati cernaan-cernaan persepsi yang terasa kocak, sembari sesekali nyeletuk spontan: “wuopooo iki?” sepanjang menonton “Rocket Rain” yang ditayangkan dalam weekly screening Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016 ini Rabu sore tadi (23/3).

Dan barangkali memang sebaiknya begitu, menonton dengan pikiran yang tidak sepenuhnya mengerti. Dibiarkan saja pencerapan ini mengikuti serangkaian percakapan lumayan panjang, yang mengalir alamiah pada satu dua sub topik utama. Adegan-adegan tak terduga, yang cukup abstrak untuk langsung dipahami tanpa sontekan apa-apa. Interaksi yang ganjil sesama lakon, maupun antara lakon dan objek.

Lewat pembiaran itu, tak perlu bersusah payah mengendus lalu memunguti kepingan-kepingan simbolisasi yang berserakan, menganalisis semua sampai sesak napas, kemudian mencoba menyusunnya menjadi kumpulan pesan yang utuh. Entah itu pesan moral, pesan reflektif terkait sosial budaya, atau pesan nasi goreng ati ampela ceplok setengah matang sama es teh manisnya dua.

Tapi, berbeda loh kalau ditanya “Rocket Rain” ini film TENTANG apa. Terlalu gamblang untuk tidak diacuhkan.

Film ini mengusik kita untuk ngobrol-ngobrol soal seksualitas feminin sebagai tema utama, yang dihadirkan sang sutradara lewat beraneka pengandaiannya sejak awal cerita. Selain itu, juga disuguhkan pembicaraan tentang pernikahan secara kontekstual. Baik sebagai sebuah institusi, sebuah batasan diri, maupun sebuah ketentuan sosial. Bahasan-bahasan yang terus menyambungkan kedua tokoh utamanya: Culapo (Anggun Priambodo) dan Jansen (Tumpal Tampubolon).

Dalam hal ini, seksualitas dan pernikahan jelas merupakan dua entitas berbeda, bahkan kadang-kadang terpisah lumayan jauh. Seksualitas sejatinya tak memerlukan pernikahan, namun pernikahan jelas membutuhkan seksualitas sebagai salah satu bahan bakar utamanya. Oleh sebab itu, terkait film ini, akan jauh lebih menarik membicarakan tentang seksualitas feminin ketimbang soal pernikahan, yang bisa dibaca di artikel ini.

Culapo dan Jansen dipertemukan oleh isu-isu tentang pernikahan yang sebenarnya berkutat di situ-situ saja: ketidaknyamanan. Culapo sudah duda dengan anak, dan Jansen–walaupun tidak jelas sudah atau belum–juga tengah dipusingkan dengan perceraian.

Mereka bertemu di Bali, latar lokasi yang anehnya hanya terwakili dengan kode pelat nomor polisi “DK”, botol dan kaleng-kaleng bir Bintang, serta tulisan keterangan tempat di beberapa spanduk pinggir jalan yang terekam dalam adegan. Selebihnya, tidak ada lagi. Di sana, Culapo tengah mengumpulkan banyak video lewat kamera plus kaki tiganya. Di hutan, pantai, tengah danau, padang tertentu, dan tempat-tempat lainnya. Sepanjang malam, atau kapan pun mereka bisa, Culapo dan Jansen selalu saja curhat-curhat-an soal pernikahan. Selalu. Kendati diselingi diskusi dan pengandaian, tapi tetap saja topiknya sama.

Sampai suatu ketika, Culapo dan Jansen bertemu dengan Rain (Rain Chudori) saat tengah berenang di telaga air terjun.

Nuansa absurd dalam film ini pun teramplifikasi setelah dia muncul. Figur Rain yang gembil-gembil gimana gitu, dengan vokal nyaris seperti tokoh anime Jepang, dan wajah yang mirip seorang kenalan berkelakuan kampret dari Samarinda Seberang. Ndak jelas, apakah Rain adalah lakon yang eksplisit, atau lagi-lagi hanyalah sebuah simbolisasi yang dipersonifikasikan. Karena sopir Culapo, Pak Kancil (Narwati Arwangga) sempat mengiranya setan hutan.

Ya! Rain memang figur paling absurd dibanding yang lain. Dia berbicara di telepon melalui jempol dan kelingking kanannya. Ia mengganti kata “bunga” atau “kembang” dengan “vagina” dalam bahasa Inggris; “va-jay-na”, bukan “va-gi-na”. Ia terbang ke angkasa dengan roket tugu jagung Desa Candikuning, Baturiti, Bali.

Source: deathrockstar.info

Seiring kemunculan Rain yang serba-implusif, Culapo dan Jansen juga ikut digambarkan jadi aneh-anehan. Namun tetap linier dengan topik seksualitas feminin. Beberapa di antaranya, rambut panjang dan perawatan komunal macam perempuan di desa, permainan hompimpa yang–kayaknya–bertujuan utama pada cangkang telur dan pucuk tanaman Lidah Buaya, mengeruk pepaya tanpa jelas mau diapakan setelahnya, juga senam aneh yang banyak gerakannya terfokus pada area selangkangan dan sekitar. Mbuh lah!

Mendekati akhir film, suasana absurd terus menguat. Menular pada Pak Kancil yang “menang banyak” dalam proses pembuatan film ini.

Simbolisasi-simbolisasi seksualitas yang dilekatkan pada adegannya, sudah jelas dan benderang. Eksplisit. Gara-gara itu, dalam penayangan sore tadi, jelas saja seisi ruangan sontak melongo, terus ngakak. Boleh dibilang twist juga sih sebenarnya.

Hingga tiba pada adegan terakhir, yang dalam celetukan bahasa Banjarmasin cocoknya disebut: MENGERAMPUT!

[]

Tren “Hipster Market” di Samarinda

ACARA–yang kerap disebut–hipster market di Samarinda baru pertama kali ada pada awal 2015 lalu. Entah apakah istilah tersebut tepat atau tidak, namun pastinya semangat yang diusung sama. Yakni upaya kaum muda meningkatkan eksistensi, melalui geliat industri kreatif berupa karya kriya di berbagai sektor.

Dimulai oleh Fascinating Summerinda, dan berlanjut dengan sejumlah event lain selama sepanjang tahun. Kondisi ini terus mengalami perubahan tren sampai sekarang, menghadirkan pop-up markets tematik maupun dalam rangka memeriahkan peringatan tertentu.

Iseng berandai-andai, saya sempat menulis tentang ini untuk Undas.co Mei tahun lalu, saat event beginian masih gres-gresnya.


Terhitung sejak awal tahun hingga artikel ini tersaji di hadapan kamu semua, setidaknya sudah ada tiga event hipster market terselenggara di Samarinda. Diawali dengan Fascinating Summerinda (Februari), Samarinda Street Fest (Maret), dan Imaginarium (Mei).

Ketiganya memang tampil dengan penyelenggara, nama dan sub konsep, serta tujuan utama yang berbeda. Namun pada dasarnya berangkat dari ide yang sama: bazar yang hipster. Ciri-cirinya adalah barang-barang dagangan yang tidak/belum dijual di toko-toko konvensional (hipster commodities) sekaligus memperkenalkan produk kreatif lokal, menciptakan suasana yang unik (hipster ambience) dan cocok mendapat predikat happening, yang diharapkan mampu menarik perhatian serta menghimpun berbagai kalangan tersegmentasi (hipster peoples and communities) baik penjual maupun pembeli. Selain itu, juga terdapat kesamaan metode promosi pra dan saat acara berlangsung, serta kesamaan beberapa hal teknis lain. Selebihnya, event-event tersebut sama-sama merupakan pertaruhan, uji pembuktian kreativitas dan reputasi panitia.

Semarak? Tentu saja.

Mengesankan? Tergantung pada pengalaman masing-masing pengunjung.

Berhasil? Kembali pada hasil evaluasi masing-masing penyelenggara.

Silakan koreksi pernyataan ini. Hanya satu dari tiga event di atas yang dianggap benar-benar berhasil, dalam artian menghebohkan dan mengundang rasa penasaran serta partisipasi banyak pihak, menghadirkan acara yang benar-benar baru di kota ini, terus diperbincangan dalam waktu cukup lama setelah usai, relatif bersahabat dengan isi dompet pengunjung, dan konon katanya tidak merugi. Bahkan akhirnya mendorong banyak kelompok anak muda lain untuk membuat gelaran serupa, yang risikonya bakal membuat event-event semacam ini kehilangan geregetnya karena terlampau sering diadakan.

Fascinating Summerinda merupakan event pertama, pionir sektor ini di Samarinda. Penyelenggaranya bukan kumpulan banyak orang, namun menjadi satu di bawah label Market Venue Indonesia (Mave ID) dengan empat cewek asli Samarinda yang berkuliah di Australia. Kuat terasa, pelaksanaan Fascinating Summerinda berada di batas antara berani dan nekat. Berani karena memerlukan modal cukup besar dan benar-benar memperkenalkan hal baru, nekat karena tidak dibarengi dengan kekuatan jaringan untuk menggandeng vendor serta pihak-pihak terlibat lainnya, dan tidak mengantisipasi pergeseran konsep dengan eksekusi di lapangan. Keberhasilan penyelenggaraan Fascinating Summerinda ada di area stan makanan, dengan rombongan konsumen yang memborong habis aneka kudapan.

Source: Twitter @FelixJsn

Dari sisi pembiayaan awal, kabarnya panitia Samarinda Street Fest benar-benar mengerahkan semua daya yang ada, sehingga modal yang digelontorkan tidak terlampau besar. Panitia sangat terbantu dengan keterlibatan banyak pihak untuk memeriahkan acara ini. Sayangnya, saking tidak fleksibelnya dana yang tersedia, akhirnya merembet pada hal-hal teknis. Seperti kualitas tata suara yang kurang maksimal, yang membuat penampilan sukarela para pengisi acara kurang bisa terapresiasi. Meskipun begitu, kuatnya jaringan dan referensi kreatif tim panitia membuat acara ini menyedot perhatian kaum muda Samarinda. Mulai stan jasa pembersihan sepatu hingga kafe melibatkan diri. Rundown yang atraktif pun membuat pengunjung betah nongkrong. Kombinasi semua itu meludeskan kuota pengunjung harian, yang membuat banyak orang makin penasaran untuk datang. Sukses menjadi buah bibir, harusnya juga dibarengi dengan kesuksesan di hasil akhir.

Source: Twitter @TepianTV

Acara terakhir adalah Imaginarium. Sayang, passion dalam penyelenggaraannya kalah kuat dibandingkan kesan untuk menunaikan tanggung jawab. Maklum, Imaginarium diadakan sebagai tugas akhir mata kuliah. Panitia memang telah berupaya sekuat tenaga agar kegiatan ini berjalan dengan baik, namun saat datang dan mencoba terjun merasakan suasananya, ada antusiasme yang hilang. Di titik akhir, setidaknya Imaginarium membuahkan nilai yang terbaik dan mata kuliah yang tuntas.

Imaginarium. Source: Undas.co

Dipastikan bakal ada banyak event serupa lainnya di masa mendatang, apalagi trennya masih cukup santer dan sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itu, akan jauh lebih baik bila para penyelenggara berikutnya mampu berkaca dari pelaksanaan yang sudah-sudah, agar dapat menghindari kesalahan serta meningkatkan pencapaian.

Setidaknya, ada beberapa hal yang tercetus saat membahas soal ini. Berikut beberapa di antaranya.

  1. Beyond Creative

Kreativitas tak mengenal batas, bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan sekalipun baik dalam perencanaan, promosi menjelang pelaksanaan, sampai pada saat acara berlangsung. Syukur-syukur bila tim panitia punya ide orisinal untuk dilakukan, yang bisa membuat acaranya berbeda dari event-event lainnya. Namun jika belum, tidak diharamkan belajar atau mendulang inspirasi dari gelaran serupa di daerah lain. Ada Market Museum, Brightspot Market, Jakarta Fashion and Food Festival, Eat Art Loud, dan lainnya di Jakarta. Ada pula Basha Market juga IdeArt ITS di Surabaya. Belum lagi bazar-bazar hipster lain di Yogyakarta, Denpasar, Bandung, dan kota lainnya. Bagi anak-anak muda gaul yang rajin bertandang ke Jakarta, mungkin acara-acara di Samarinda terasa biasa. Akan tetapi bagi anak-anak muda Samarinda, bisa jadi terasa luar biasa.

Contoh: apa yang terlintas dalam pikiran kamu begitu mendengar tajuk “CreatiFest Goes to School”, “Shanghai Night Bazaar”, atau “Pasar Malam Terapung”?

  1. “Die Hard” Team

Hanya berakhir menjadi teori, apabila gagasan-gagasan kreatif tidak didukung sekumpulan orang yang memiliki semangat dan kegilaan yang sama. Tanpa bubuhannya, silakan catat semua ide kreatif dan simpan baik-baik. Kecuali kalau kamu berani nekat mengorbankan waktu, tenaga, uang untuk sesuatu yang dibuat sendirian, silakan. Dalam hal ini, harap dibedakan antara tim dan pekerja. Tim memiliki kesamaan visi dan misi, berani bersikap menangani masalah. Sedangkan pekerja, hanya terikat kontrak dan jasa dengan imbalan upah. Sebagai ilustrasi, Mave ID terdiri dari empat cewek asli Samarinda. Panitia Samarinda Street Fest adalah orang-orang yang dikumpulkan berdasarkan komitmen untuk “bermain” bersama-sama. Bahkan founder Basha Market di Surabaya yang penyelenggaraannya terbilang sukses banget, hanya terdiri dari dua cewek seperti yang sempat dibaca di harian Jawa Pos entah edisi kapan. Lupa.

Lain cerita, apabila kamu hanya sendirian namun sukses menyelenggarakan sesuatu, itu berarti kamu adalah manajer yang andal.

  1. Cutting Edge Promotion

Sejauh ini, promosi hipster event di Indonesia terpusat pada media sosial, terutama Instagram yang berbasis foto maupun gambar. Efisiensinya pun belum ada lawan, karena nyaris gratis. Pamornya masih bertahan, sebagai simbol tingkat gaul seseorang. Efektivitasnya tak terbantahkan, setidaknya sampai masyarakat mulai bosan mendapatkan promosi yang membanjiri layar gawainya. Ingat, tidak semua tim memiliki graphic designer yang jago, dengan selera yang elegan. Tidak semua desain poster dan logo kegiatan mampu menarik simpati. Jika sudah begini, jangan ragu untuk melangkah pada media berikutnya. Bisa gunakan YouTube untuk mengeksplorasi media promosi berupa video atraksi. Atau bisa juga melakukan happening art, yang meskipun sampai sejauh ini masih kerap membuat orang kebingungan, namun setidaknya tetap dapat menarik perhatian. Yang jadi perhatian utama adalah konsep, ide, dan biaya.

  1. Consistency

Nama, desain, dan konsep yang keren mampu membangkitkan imajinasi dan ketertarikan calon pengunjung. Namun bila dalam pelaksanaannya  meleset, bakal berat di gaya doang. Rencananya ingin menyelenggarakan event yang mengangkat produk lokal, namun jatuhnya malah seperti pameran biasa yang diadakan dalam rangka peringatan hari jadi instansi pemerintahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti:

  • Tinggalkan penggunaan sekat-sekat kecil berdinding putih yang kerap digunakan dalam pameran pemerintahan. Bebaskan para vendor untuk berkreasi.
  • Seleksi calon penyewa stan dengan benar. Menurut kamu, apakah jasa mengasah batu akik masuk dalam kategori bisnis hipster?
  • Ramu tajuk kegiatan menjadi konsep utama. Penyelenggaraan pun sebaiknya mengacu pada konsep utama tersebut. Izinkan saya mengangkat Imaginarium sebagai contoh. Disebutkan bahwa Imaginarium merupakan gabungan dari kata “imagine” (entah kenapa menggunakan kata kerja ketimbang kata benda, “imagination”) dan “aquarium”. Namun mengapa panitia tidak sekalian menghadirkan kesan akuarium imajiner di lokasi acara? Menggunakan plastik bening sebagai sekat antara stan; menyusunnya jadi labirin tembus pandang, memanfaatkan barang-barang bekas sebagai ornamen; mengeliminasi stan-stan yang kosong serta mengubahnya menjadi pojok selfie; memanfaatkan panggung bukan sebagai panggung; dan sebagainya.
  • Apakah ide-ide di atas terasa membingungkan, dan mustahil untuk dilaksanakan? Itulah tujuannya mengapa panitia terdiri dari banyak orang; agar bisa saling mengerahkan pikiran dan berupaya sekreatif mungkin memanfaatkan keadaan.
  • Seleksi mata acara dan pengisinya. Jangan tanggung bila ingin hipster. Pernah berpikir mengkolaborasi penampilan komunitas akustik dengan barang bekas dan kelompok pemain biola? Atau menampilkan musisi Tingkilan maupun petikan Sampeq dengan DJ? Mungkin kebayangnya aneh, tapi itu kan baru dalam bayangan.
  1. Precision & Anticipation

Baik memperhitungkan biaya, waktu, dan dampak. Soal biaya, jangan terlalu ketat namun jangan sampai kelewat kendur. Perhitungkan juga harga produk yang dipasarkan para vendor, dengan daya beli pengunjung. Patokannya, apakah pengunjung event bersedia mengeluarkan lebih dari Rp 1 juta untuk arloji berbahan kayu? Di pulau Jawa, produk itu sedang booming dan menjadi salah satu simbol hipsterism. Apakah begitu pula di Samarinda? Sedangkan urusan waktu, akan lebih baik bila diberi durasi antaracara. Apabila setiap bulan berlangsung event dan tanpa gebrakan apa-apa, bakal membosankan dan menghilangkan minat. Memunculkan celetukan: “halah, paling isinya gitu-gitu aja.

Terakhir adalah soal dampak, yakni seberapa besar acara yang diselenggarakan mampu mendorong anak muda lain untuk lebih kreatif, lebih berani berekspresi, dan lebih keren dari pendahulunya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari efek yang ditinggalkan. Menginspirasi, bila boleh dikatakan demikian.

  1. Innovative

Selain jualan dan menampilkan hiburan, tidak ada salahnya menghadirkan side event yang bisa memperluas wawasan, memberi “oleh-oleh” kemampuan bagi para pengunjung. Boleh hadirkan kelas-kelas keterampilan kekinian maupun klasik. Misalnya kelas tentang teknik memotret dengan ponsel untuk kepentingan posting di Instagram, minimal agar makanan yang difoto terlihat lebih indah. Ada pula kelas tentang lettering yang sedang ngetren saat ini. Di ranah klasik, ada kelas Origami, membuat pesawat kertas, bahkan sampai kelas kerajinan manik maupun merajut.

  1. Bravery & Trust

Penting untuk berani mencoba, dan tidak gampang dijatuhkan dengan komentar negatif orang lain. Jangan salah, tetap ada yang menyebut acara hipster di Samarinda enggak jauh beda dibanding pasar malam yang menjual banyak barang. Setidaknya, walaupun kita dianggap latah dan hanya bisa ikut-ikutan, lebih baik ketimbang diam dan cuma bisa ngata-ngatain orang tanpa berupaya menghasilkan kemajuan apa-apa.


Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini? Nanti, masih ngumpulin mood buat nulis. 🙂

[]

 

Babi Buta yang Ingin Terbang

MEMANG tidak banyak bioskop di Samarinda.

Sejauh ini, baru ada satu areal 21 dengan empat ruangan, dua areal XXI dengan total sepuluh ruangan, dan satu Premiere.

Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, namun setidaknya masih lebih baik ketimbang kondisi di beberapa kota lain, yang bahkan tidak punya bioskop sama sekali.

Semua layar bioskop tersebut tentu didedikasikan untuk judul-judul film komersial, yang bisa diterima pasar dengan mudah dan berpotensi digandrungi sebagai bagian dari mekanisme bisnis reguler. Dengan demikian, jejeran film-film level festival pun nyaris tidak mendapat ruang di kota ini, kecuali setelah meledak karena meraih penghargaan tertentu maupun beberapa kondisi potensial lainnya. Itu pun kadang dengan perlakuan sekadarnya. Sebagai contoh, “Siti” yang merupakan film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015 tidak singgah tayang di Samarinda. “Copy of My Mind” sempat diputar dan bertahan selama beberapa hari, tetapi hanya kebagian ruangan studio paling kecil. Apalagi film lain, semisal “Selamat Pagi, Malam” yang tidak pernah ditayangkan di sini, padahal–setelah ditonton sendiri awal Februari lalu–karya garapan Lucky Kuswandi ini benar-benar memberikan kesan tersendiri.

Oleh sebab itu, apresiasi tinggi patut diberikan kepada panitia Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016 dengan serangkaian agenda. Salah satunya ialah pemutaran mingguan karya kelas indie; film-film yang–baru enam judul sejauh ini–ibarat gudangnya simbolisasi. Perlu mengerahkan perhatian, pemikiran, penafsiran tambahan saat menontonnya. Ada yang sangat memikat dan menghangatkan hati, ada yang membosankan dan menyisakan ketidakjelasan, ada pula yang saking artsy dan absurdnya sampai mampu melekat dalam pikiran dalam rentang waktu cukup lama.

Secara pribadi, kesempatan ini merupakan pengalaman pertama menonton film-film dari ranah yang asing sebelumnya. Karena itu, sebagai seorang pengulas amatiran, ada tantangan tersendiri. Termasuk soal begitu susahnya untuk tidak terkesan sok pintar, sok dalam dan pretentious (Hahaha!) dalam berpendapat serta membagi pengalaman menonton kepada orang lain. Well, I mean, please regard this as a disclaimer. 🙂

Seperti yang berikut ini, catatan kesan setelah menyaksikan “Babi Buta yang Ingin Terbang” dalam weekly screening, Rabu (2/3) lewat. Boleh dibilang, ini kali pertama “Babi Buta yang Ingin Terbang” ditayangkan di Samarinda, delapan tahun sejak rilisnya.

Cahyono kecil (Darren Baharrizki), mirip sinyo Surabaya. Bercita-cita ingin jadi apa saja, asal bukan orang Cina. Entah siapanya yang orang Manado.

Linda kecil (Clairine Baharrizki), si nonik. Berhenti memanggil kakeknya dengan sebutan Kong-kong, melainkan opa.

Verawati (Elizabeth Maria), mantan atlet bulutangkis, mamanya Linda. Asyik membungkus pangsit mentah sambil mengenakan kostum bertanding.

Source: insideindonesia.org

Halim (Pong Hardjatmo), dokter gigi yang selalu memakai kacamata ala Stevie Wonder, suami Vera. Mendadak mau masuk Islam, kemudian menikah lagi.

Linda besar (Ladya Cheryl), hobi mainan mercon.

Cahyono besar (Carlo Genta), selalu pakai seragam tim sofbol Jepang.

Helmi (Wicaksono), punya rumah besar lengkap dengan kolam renang, dan Yahya (Joko Anwar), egosexually insecure.

Kong-kong (Suwigno Pratikno, kalau ndak salah), hobi main biliar Carom. Dikremasi.

Pedagang Cakwe di Jembatan Merah Surabaya. Tetap ada di sana setelah reformasi.

Babi kecil, terikat pada sebatang kayu, di padang savana Bromo. Berhasil lepas dan pergi.

Demikianlah “Babi Buta yang Ingin Terbang”. Pilinan peristiwa-peristiwa yang berkutat pada kecinaan sebuah keluarga Tionghoa. Ada yang ditunjukkan secara gamblang, namun banyak juga yang disampaikan secara tersirat, termasuk dalam satu adegan yang dirasa cukup mengganggu dan bikin film ini jelas saja tidak bisa edar/tayang secara umum. Akan tetapi, adegan itu juga yang justru menjadi salah satu puncak simbolisasi kegelisahan sebagai pesan utama, ketika marginalisasi memberi efek psikis yang sama dengan pelucutan harga diri.

Sebagai penonton, tak perlu berdarah Tionghoa atau pernah mengalami sendiri “sakitnya” tekanan sosial sebelum era reformasi, untuk bisa nyambung dengan kegetiran dalam film ini.

“Babi Buta yang Ingin Terbang” sendiri adalah judul kedua pilihan panitia FFSMR 2016 yang mengangkat pergulatan sosial orang Tionghoa Indonesia pra 1998 sebagai napas utama. Sebelumnya, ada “The Fox Exploits The Tiger’s Might” karya Lucky Kuswandi. Keduanya sama-sama menyuguhkan rentetan simbolisasi bertema senada, dengan salah satu di antaranya yang sungguh-sungguh banal lantaran menggunakan seksualitas sebagai saputnya.

Sepekan sebelum film ini tayang, weekly screening FFSMR 2016 menghadirkan karya Edwin yang lain: “Someone’s Wife in The Boat of Someone’s Husband” (yang terasa seperti dokumentasi liburan, penuh gambar-gambar cantik, dan sejumlah simbolisasi juga). Setelah menyaksikan keduanya, penonton seakan mulai bisa meraba ciri khas penggarapan Edwin.

Seperti apa? Ya yang begitu itu. Belum bisa mengelaborasi sekomprehensif dan semendalam Cinema Poetica. 😀

[]

The Fox Exploits The Tiger’s Might | Kisah Cinta yang Asu | Sendiri Diana Sendiri

KETIGA film ini bertumpu pada seksualitas manusia, dan ditayangkan secara back-to-back. Enggak pakai eufemisme yang basi, tapi dengan simbolisme yang gamblang, sering bikin geli-geli sendiri, dan risi. 😀

Durasinya tidak panjang, rata-rata tidak sampai setengah jam. Tapi ketika ditonton dan setelahnya, ada banyak hal yang menempel di kepala untuk diperbincangkan.

“The Fox Exploits The Tiger’s Might” (狐假虎威)

Judul ini adalah film kedua garapan Lucky Kuswandi yang dipilih untuk ditayangkan dalam FFSMR 2016, setelah sebelumnya ada “Selamat Pagi, Malam” pada Rabu pekan kedua (10/2).

Source: YouTube

Tanpa opening credits, film ini dibuka dengan adegan jual beli tembakau siap linting, kertas kelobot sebagai pembungkusnya, dan dua botol minuman alkohol berkadar rendah di sebuah warung kelontong kecil milik seorang tacik (Stefanny Marcelina Sugiharto) berambut keriting berkacamata. Dari situ, penonton kemudian “diperkenalkan” dengan tokoh utama cerita lewat cara yang agak tidak biasa.

Sapuan pelan kamera bergerak horizontal, lalu berhenti untuk menyorot seorang remaja cowok yang sepertinya tengah duduk di semacam undakan dalam sebuah gudang. Hanya tampak kepala sampai dada, dan tak perlu seberapa lama bagi para penonton untuk menyadari bahwa ia tengah bermasturbasi. Ia dipanggil Aseng (Atreyu Moniaga).

Sejak awal sekali, para penonton sudah harus berhadapan dengan penggambaran-penggambaran seksualitas yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan (apalagi ini di Samarinda). Tidak hanya dari Aseng, juga dari Aling (Christine Harsojo) yang tampil menor dan selalu mengunyah permen karet (padahal aslinya ya cantik), ajudan (Surya Saputra), serta David (Kemas Fauzan). Namun tak sekadar dimunculkan untuk mengusik ruang pikir dan perspektif penonton, sang sutradara memilin semuanya dengan penggambaran kehidupan di masa Orde Baru (Orba), ketika kekuasaan menjadi semacam magnet pengumpul upeti, sogokan, hadiah-hadiah pelicin, dan sejenisnya. Kekuasaan adalah pengatur segalanya, harus ada yang dibuat tunduk dan patuh, termasuk dalam ihwal seksualitas.

Dalam alur saji “The Fox Exploits The Tiger’s Might”, simbol-simbol bertaburan mewakili concern yang ditampilkan. Pistol yang mewakili kekuasaan dan begitu diidam-idamkan, seragam SMP yang mewakili pubertas dan minimnya pendidikan seksual bahkan dalam lingkungan sekolah sekalipun, para pria tegap berpotongan rambut cepak dengan celana loreng-loreng militer yang tengah berlatih fisik maupun lembaran foto Eva Arnaz menyiratkan erotisisme, dan sebagainya. Lagi-lagi, tersirat penegasan bahwa seksualitas manusia itu beragam, unik, sangat personal, dan semestinya tidak disamaratakan dengan asumsi yang kaku nan buta.

Puncak konflik dari film berdurasi 20-an menit ini hadir dengan adegan yang mengejutkan. Ketika terjadi pembalikan posisi antar-individu, meskipun kemudian ditutup dengan adegan-adegan yang menunjukkan bahwa semua itu belum berakhir, pergulatan tetap terus terjadi. Entah giliran siapa yang jadi rubah dan harimaunya.

Secara pribadi, dari ketiganya, “The Fox Exploits The Tiger’s Might” adalah yang paling berkesan. Bikin teringat masa lalu, waktu masih kecil dan enggak paham kenapa ada orang berseragam datang ke rumah malam-malam setelah toko tutup, lalu ngebir bareng papa entah sampai jam berapa. Waktu masih ganjil-ganjilnya dengan self-handjob 😛 karena enggak sengaja baru tahu. Serta tentu saja sedikit tentang kecinaan saya,

“Kisah Cinta yang Asu”

Beberapa penonton yang sempat menyaksikan “Siti”, 23 Januari lalu, mengaku bisa merasakan atmosfer serupa dengan yang tersampaikan dalam film garapan Yosep Anggi Noen ini. Utamanya lewat detail-detail remeh, seperti tebaran dialog berbahasa Jawa, dan Pantai Parangkusumo di selatan Yogyakarta sebagai latar.

Terlepas dari itu, tidak sedikit penonton yang merasa terjebak dengan kerancuan peralihan kisah hidup Erik King (Yosep Anggi Noen) kala bersama Martha (Mila Rosinta), maupun Ning (Astri Kusumawardhani). Yang pasti, penonton paham bahwa keduanya adalah kekasih Erik sang anak motor berknalpot berisik tanpa penghidupan yang jelas, dalam hubungan yang berlangsung terpisah. Erik menjalani keduanya secara aji mumpung; tidak hanya memiliki pacar-pacar dengan wajah dan tubuh molek, kehidupan seksual yang aktif, memanfaatkan uang mereka, bahkan bersikap represif lantaran merasa lebih kuat secara kodrati.

Sikap aji mumpung makin memperberat posisi Erik sebagai lakon antagonis, lantaran Martha adalah pramusyahwat cosplay dengan “ruang kerja” di kamar-kamar hotel lumayan bonafide. Sedangkan Ning adalah gadis pencatat skor biliar, yang terkadang juga bisa melayani permintaan ngamar oleh konsumen kelas ecek-ecek dalam bilik semipermanen kendati tanpa aktivitas penetrasi sekalipun. Erik berkontribusi mengantar Martha ke hotel, maupun menjemput Ning pulang. Selebihnya, ia lebih peduli dengan motor RX King-nya. Setidaknya cuma itu yang digambarkan dalam film ini.

Source: YouTube

Cinta segitiga Erik-Martha-Ning ini kabur. Penonton tidak bisa memastikan hubungan mana yang lebih kuat. Pertemuan Erik dan Ning berlangsung cukup manis, tapi romantisme harian antara Erik dan Martha jauh lebih menonjol. Sampai akhirnya, drama antara Erik-Martha-Ning saling memuncak. Erik ingin mengukuhkan identitas dan posisinya sebagai figur dominan. Ning berhasil mematahkan maskulinitas Erik yang dilambangkan dengan motor kesayangannya, sebuah pembalasan. Sedangkan Martha tampil dalam emosi marah untuk pertama kalinya, serta mengumpat: “asu!” Setelah harga dirinya dilecehkan kekasih. Kisah cinta ini memang benar-benar asu, bagi mereka bertiga. Bedanya, Martha dan Ning bisa tetap hidup tanpa Erik. Tidak tahu sebaliknya. Kemenangan para wanita.

“Sendiri Diana Sendiri”

Di antara tiga judul, “Sendiri Diana Sendiri” adalah cerita yang paling mudah dicerna. Tema dan plotnya disajikan secara sederhana, linear, jelas, mudah dicerap. Yakni tentang seorang istri/ibu/wanita yang berhadapan dengan keinginan suaminya untuk berpoligami. Bukan mustahil, tidak sedikit penonton yang bisa mengidolakan tokoh utama dalam film garapan Kamila Andini ini.

Source: mubi.com

Diana (Raihaanun), istri dari Ari (Tanta Ginting). Seorang ibu rumah tangga dalam keluarga kelas menengah Jakarta yang tidak bekerja. Sehari-harinya dihabiskan untuk mengurus rumah dan sang buah hati, juga tak lepas dari BlackBerry berbungkus karet warna ungu terang.

Kehidupannya berjalan lancar dan biasa saja, sampai suatu malam Ari pulang dengan membawa presentasi Powerpoint tentang skema pembagian waktu antara dua rumah. Ya! Dengan cara yang absurd dan waddefak! banget, Ari mau menikah lagi, serta tidak ada satu adegan pun yang menunjukkan Ari meminta izin Diana. Luar biasanya, alih-alih panik dan histeris atau malah menyambut dengan gembira dan berseri-seri, Diana tetap bersikap tenang juga bijak. Ia mengkonfirmasi suaminya, berkomunikasi secara terbuka dengan kedua pasang orang tua, bahkan berani menemui calon madunya yang ternyata adalah teman semajelis pengajian dengan Ari.

Sejatinya, film ini menyampaikan pesan lama kepada semua wanita bahwa mereka punya hak sosial yang setara dengan para pria. Termasuk dalam sangkar pernikahan. Dengan ini, apabila pernikahan adalah buah pemikiran dan pertimbangan yang matang, maka begitu juga dengan perceraian yang dilakukan secara dewasa. Bukan yang asal emosional belaka, atau menggunakannya sebagai ancaman saja.

Tak bisa dimungkiri, doktrin purbakala yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk lemah dan pasti tidak bisa mandiri tetap mengakar kuat di masyarakat kita. Ditanamkan sejak kecil. Doktrin ini juga sering diamini oleh para pria, yang secara fisik maupun emosional menikmati superioritas gender. Sebagai bukti, sampai saat ini kita masih dapat dengan mudah menemukan wanita yang sebenarnya tertekan, dan sudah pantas menyuarakan keberatan pada suami. Akan tetapi, dengan berbagai alasan-alasan klasik; khawatir dengan tumbuh kembang si anak, tidak punya keterampilan untuk berpenghasilan sendiri, takut malu dengan omongan orang, takut kesepian serta rindu belaian, masih sayang, sampai alasan absurd seperti takdir untuk bersuami pria berkepribadian kacrut, para wanita tersebut enggan berpisah dan mengikhlaskan diri untuk terus makan hati.

Polemik-polemik sosial seperti itu juga dialami Diana. Dia yang seharusnya mendapat dukungan dari orang tua serta mertua, malah diminta untuk bersabar dan meningkatkan perhatian kepada sang suami. Seolah-olah sikap Dianalah yang membuat Ari ingin menikah lagi. Pada bagian ini, sang sutradara berhasil membuat penonton geregetan, karena sama sekali dibuat tidak tahu apa alasan Ari ingin berpoligami.

“Sendiri Diana Sendiri” ditutup dengan dialog yang menghangatkan hati antara Diana dan Rifki (Panji Rafenda Putra), putranya.

 

Kan selama ini, kita memang cuma berdua…


Jelas enggak bakal bisa nonton film-film ini, kalau bukan dalam event khusus seperti Festival Film Samarinda 2016.

[]

A Copy of My Mind

LANGSUNG saja. This movie left me with mixed feelings. After some warm scenes, got quite aroused (in an aesthetical manner, anyway), and remained heartbroken at last. Film ini patut dipujikan.

Barangkali sebuah kebetulan yang pas. Sehari sebelum “A Copy of My Mind” tayang secara komersial, akhirnya berkesempatan menonton “Selamat Pagi, Malam” (2014) untuk pertama kali dalam weekly screening Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016. Film karya Lucky Kuswandi itu tidak kebagian layar di Samarinda saat dirilis dua tahun lalu. Ternyata, kesan dan suasana yang disuguhkan keduanya sangat tuned in. Terutama tentang penggambaran Jakarta yang sangat realistis dan apa adanya sebagai latar belakang, sama-sama menyenangkan dan seketika jadi daya tarik yang kuat. Ekspektasi positif ketika menonton “A Copy of My Mind” pun tumbuh sejak belasan menit awal film diputar.

Begitupun setelah penonton “diperkenalkan” dengan Sari (Tara Basro), lakon yang dibuat begitu biasa dan bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sari yang berkulit cokelat, seorang pekerja di salon kelas menengah Jakarta. Hobi menonton DVD bajakan sambil makan mi. Ia terlihat mampu menikmati setiap momen dalam perjalanan pulangnya ke kompleks indekos berpenghuni seratusan orang.

Semua dari Sari begitu mudah diakrabi. Dari gaya kesehariannya, sampai lekuk berpeluh kala bangun tidur dalam ruangan tanpa pendingin udara. Termasuk satu hal yang bikin agak geli: cara jalannya. Benar-benar dibikin kayak cewek yang socially clueless, atau barangkali Joko Anwar punya penjelasan tersendiri tentang ini.

Meskipun begitu, tetap saja ada banyak bagian dalam “A Copy of My Mind” yang menampilkan pesona seorang Tara Basro. Terlebih saat bersama Alek (Chicco Jerikho). I’d call it the Majestic Unison.

Karena ini, sampai beberapa kali nyeletuk kalau Tara dan Chicco benar-benar cocok jadi pasangan benaran. 😛

Source: Twitter

Bagi saya, sang sutradara berhasil menyuguhkan adegan terseksi yang estetis, bukan saru, dalam riwayat menonton film Indonesia sejauh ini.

Agak berbeda dengan lakon Sari, sosok Alek terkesan Chicco banget seperti yang selama ini ditemui dalam beberapa filmnya. Entah karena pembawaan dan karakter lakon, atau gara-gara rambut gondrongnya, tokoh Alek mengingatkan dengan Ben dalam “Filosofi Kopi” (juga interior lantai dasar rumah kontrakannya) namun lebih minim kata-kata, rough, muncul dengan aura alpha male yang kuat, apalagi ditambah tampilan toned body.

Persinggungan antara kehidupan Sari dan Alek boleh dibilang merupakan nyawa film ini, lengkap dengan drama cerita yang baru memuncak pada tiga per empat bagian akhir. Selebihnya, sebaran detail remeh dalam keseharian warga Jakarta yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kisah Sari-Alek juga mendominasi, pun lengkap dengan keapa-adannya. Percakapan dengan kalimat-kalimat yang lazim kita dengar di tempat umum, efek suara dari beragam aktivitas termasuk musik jalanan, gambar-gambar yang sepertinya diambil tanpa peredam guncangan, pandangan mata para figuran yang kerap menatap ke kamera secara sengaja maupun tidak, dan sebagainya. Realistis.

Bagi sebagian orang, detail-detail tersebut menjadi kelebihan atau keistimewaan “A Copy of My Mind” sebagai sebuah film fiksi yang bukan artsy movie. Tetapi bagi sebagian lainnya, penggambaran Jakarta yang apa adanya di film ini kerap terkesan agak prolonged pada beberapa bagian. Berasa kurang perlu dan agak diulur panjangnya. Tidak sampai mengganggu sih, cuma bisa teracuhkan. Mubazir durasi dan berisiko memunculkan kebosanan. Terlepas dari itu, tak bisa dibantah bila “A Copy of My Mind” menggambarkan kejujuran yang sederhana dan disampaikan dengan tenang, yang relatable dengan kehidupan sebagian besar orang Indonesia, walaupun berada di luar Jakarta.

Omong-omong, agak iri dengan teman-teman di Jakarta yang sempat menonton original cut dari “A Copy of My Mind”. Soalnya dengan versi sensor, sedikit banyaknya terasa ada yang dirampas dari kenyamanan audiovisual. Tapi ya sudahlah, masih syukur tayang di Samarinda. 😀

[]

Ragam Kuliner Berdaging Babi di Samarinda

SEBAGAI ibu kota provinsi, Samarinda ibarat melting pot. Sebuah tempat di mana beragam latar belakang suku, budaya, dan agama saling bertemu untuk dilakoni masing-masing warganya sebagai bagian dari identitas khas. Begitupun juga dalam hal khazanah kuliner. Di kota ini, bisa dijumpai beragam masakan dari banyak daerah, dalam maupun luar negeri, ya walaupun enggak banyak-banyak banget. Termasuk sajian-sajian kategori non-halal (bagi muslim) olahan bermacam suku.

Lewat tulisan ini, akan dibagi sebagian kecil ragam masakan non-halal yang tersedia dan paling populer di Samarinda. Adapun kriteria popularitas di sini adalah, digemari banyak orang, merupakan sajian umum yang dijual bebas, dan beberapa di antaranya merupakan menu legendaris.

Nasi Campur Babi/Nasi Babi

Cukup terwakili dari namanya. Menu ini terdiri dari seporsi nasi putih, dilengkapi dengan beberapa lauk dalam jumlah yang relatif tidak berlebihan, dan disajikan di piring yang sama. Beberapa jenis lauk Nasi Campur Babi yang lazim disajikan di Samarinda, antara lain

  • potongan lap chiong/la chang/臘腸 atau daging giling tradisional Tionghoa mirip sosis;
  • potongan chasiu/cha shao/叉烧 atau babi panggang dengan saus khusus dan madu; satu atau dua potong babi kecap (serupa semur);
  • potongan shao zhu/燒豬 atau babi panggang yang terdiri dari daging hingga lapisan kulit yang bersih dan biasanya jadi garing; sepotong telur pindang;
  • potongan ayam kampung rebus (opsional),
  • dan potongan mentimun (opsional).

Sepiring nasi campur ini juga bisa didampingi semangkuk kuah kaldu. Sedangkan pada level lebih advance, ada pula yang menyajikan jeroan. Tapi tidak populer di Samarinda.

IMG_8124
Nasi Campur Depot Singkawang.

Pada dasarnya, menu ini termasuk sajian sederhana. Lauk-lauknya sudah dimasak terpisah terlebih dahulu, untuk kemudian baru dipotong-potong kala disajikan. Meskipun begitu, sejauh ini hanya ada tiga rumah makan yang menyediakan menu ini. Masing-masing pun memiliki gaya khas. Yaitu gaya Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar) yang tanpa kuah kaldu dan ayam rebus, gaya Kanton/Guang Dong dengan kuah kaldu dan ayam rebus, serta gaya Tionghoa Balikpapan yang saking sederhananya sampai-sampai mirip sajian bekal sekolah yang bisa dimasak dalam waktu cepat.

IMG_8121
Nasi Campur Depot Lotus, takeaway.
IMG_7776
Mirip nasi goreng, namun menu ini dinamakan Nasi Campur Babi di Depot Lucky, yang pemiliknya disebut-sebut bukan asli Samarinda.

Sate Babi

Patut diakui, di Samarinda, ada beberapa orang yang sangat mahir membuat sate babi. Sayangnya, mereka adalah para ibu rumah tangga. Sehingga sate yang mereka masak, tentu hanya untuk dikonsumsi secara terbatas. Selebihnya, hanya ada empat depot yang menyajikan menu ini, namun cuma dua yang masuk rekomendasi. Salah satunya, dan yang termasuk paling legendaris di kota ini, berada di persimpangan Jalan Pulau Sebatik. Oh ya, sejauh ini menurut saya, chasiu di sana juga paling juara!

IMG_8123
Sate babi Depot Simpang.

Di depot yang kini ditangani generasi kedua itu, potongan daging satenya khas. Berbentuk kotak. Disajikan dengan bumbu kacang layaknya sate pada umumnya, ditambah sepotong jeruk nipis dan sambal. Gaya penyajian ini relatif berbeda dengan sate-sate babi yang ada di pulau Jawa maupun Bali. Di Pulau Dewata misalnya, lebih dikenal dalam bentuk sate lilit. Sedangkan di Surabaya maupun Jakarta, sate babi disajikan tanpa cairan bumbu. Hanya disantap dengan kecap manis, rawit, dan potongan bawang saja, atau ada pula dengan pasta bumbu yang sudah melekat pada dagingnya.

Nah, rekomendasi berikutnya justru merupakan restoran yang terbilang baru, di Jalan Pelabuhan. Tekstur dagingnya lebih juicy, juga dihadirkan dengan bumbu siram. Tapi saya lebih suka menyantapnya tanpa bumbu.

Chinese Food with Pork

Dari poin ini, gambarannya mulai melebar. Bukan lagi menu-menu tertentu, melainkan ragam menu.

Segala sajian masakan Tionghoa dengan daging babi sebagai salah satu bahannya, tentu memiliki pendoyannya masing-masing. Mulai dari chao fan/炒飯 atau nasi goreng Tionghoa, chao mian/炒麵 atau mi goreng Tionghoa baik yang dimasak biasa maupun mi goreng siram, za cai/雜菜 alias cap cai, babi goreng, sampai sayur asin dengan tulangan babi/bakut/rou gu/肉骨 bersama sawi asin dan tahu Cina.

IMG_8122
Nasi goreng dengan potongan chasiu.

Kendati demikian, justru belum ada yang menjual Bak Kut Teh/Rou Gu Cha/肉骨茶, Mi Babi atau Mi Pangsit Babi, yang bisa sama atau tidak dengan Mie UP yang terkenal di Surabaya.

Lapo Batak

Pada dasarnya, lapo menyajikan ragam masakan Batak. Termasuk babi panggang, SaksangArsik Ikan Mas, daun singkong tumbuk, dan lainnya.

Ada beberapa lapo yang buka di Samarinda. Hanya saja, cenderung tidak banyak diketahui masyarakat lantaran minimnya penanda layaknya rumah makan-rumah makan pada umumnya. Dari beberapa lapo tersebut, salah satu yang cukup terkenal berada di Jalan Wahid Hasyim, di depan salah satu perguruan tinggi swasta. Juga ada di tanjakan Jalan MT Haryono.

Rumah Makan Masakan Dayak

Hingga saat ini, mungkin hanya ada satu rumah makan yang menyajikan ragam masakan Dayak mainstream di Samarinda. Dengan babi panggang biasa sebagai salah satu menunya. Yaitu di Jalan Sungai Barito. Babi panggang di rumah makan yang mengambil teras sebuah rumah ini, bisa dinikmati dengan tumis daun pepaya. Entah apakah rumah makan ini masih beroperasi atau tidak.

Restoran Manado

Sama seperti rumah makan masakan Dayak, di Samarinda hanya ada satu restoran Manado yang berada tak jauh dari RS Dirgahayu, Jalan Gunung Merbabu, tapi kabarnya sudah tutup.

Nama menu yang disajikan tentu sudah tidak asing lagi, cukup dengan embel-embel Rica-rica sebagai jenis masakannya. Itu sebabnya, salah satu tempat makan non-halal yang relatif baru buka di Jalan Ahmad Yani, boleh dibilang hibrid antara sajian Tionghoa dan Manado.

Di tepi Jalan Ahmad Yani.

Inilah keenam ragam masakan non-halal yang cukup populer di Samarinda. Konsumennya jelas terbatas, alias tidak untuk semua orang. Dengan demikian juga, boleh dibilang keragaman kuliner di Samarinda relatif kaya. Meskipun menunya tidak terlampau banyak, setidaknya masih lebih beruntung ketimbang penduduk beberapa kota di provinsi ini, yang harus bepergian ke luar kota dulu apabila ingin menyantap babi panggang. Termasuk untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana dengan kota-kota lain di Kaltim? Ehm… Sejauh ini cuma tahu sedikit soal kuliner berdaging babi di Balikpapan, dan dengar tentang nikmatnya babi panggang Tarakan.

Sedikit tentang yang di Balikpapan, sebelumnya hanya tahu dengan rumah makan Tirai Bambu di Balikpapan Baru. Sate babinya lumayan terkenal untuk lingkup Balikpapan, meskipun belum bisa menggantikan enaknya sate babi di Samarinda, bagi saya. Setelah satu dua drama, akhirnya Tirai Bambu berpindah lokasi, namun tetap di Balikpapan Baru. Sampai pada beberapa pekan lalu, ada Rumah Makan Macau, yang juga berada di areal Balikpapan Baru. Hidangan satenya ENAK! Dengan tekstur daging yang pas, dan menyenangkan di mulut.

IMG_9385
Sajian RM Macau.

Katanya sih ada restoran daging babi lainnya di Balikpapan Baru, Pos 10 sebutannya, tapi belum pernah ketemu.

Selain sate babi, langganan lain di Balikpapan adalah Depot Lusiana di daerah “lama”: Kebun Sayur. Bisa jadi, ada hubungan kerabat dengan pemilik salah satu restoran legendaris di Samarinda. Soalnya pernah melihat sosok ncek-ncek juru masak restoran Samarinda itu di Lusiana.

and anyway, akan sangat senang, bila dapat rekomendasi tempat kuliner daging babi lainnya di Balikpapan. Juga enggak kalah senang bila ragam sajian daging babi di Samarinda bisa bertambah. Ala barat, seperti Pork Knuckle, atau Cubanos, sebangsa sosis Jerman, Samgyeopsal, dan sebagainya.

[]

Pertama kali ditulis untuk Undas.Co.