Cek Toko Sebelah

BARU banget kelar menonton film ini, dan masih kagum dengan betapa subtle-nya cara Ernest Prakasa mengangkat salah satu drama paling mendasar, paling klise, sekaligus paling basi dalam kehidupan keluarga Tionghoa Indonesia menjadi tontonan yang pas dan proporsional, mudah dipahami secara inklusif.

Menyusul “Ngenest: The Movie” yang berangkat dari topik sejenis, gaya dan sudut pandang yang disuguhkan Ernest–sebagai sutradara, penulis cerita, sekaligus pemeran utama–dalam “Cek Toko Sebelah” betul-betul konsisten. Ia berhasil memadukan ide dan konsep dari dua perspektif berbeda saat memproduksi film ini: sebagai Tionghoa Indonesia dan non-Tionghoa Indonesia.

Kenapa sih harus banget ada kata “Indonesia” dalam pernyataan di atas? Soalnya, drama yang disajikan dalam “Cek Toko Sebelah” sangat Indonesia.

Tidak ada masyarakat Tionghoa mana pun di Asia Tenggara yang paham benar tentang tahun 1998, selain di Indonesia; termasuk kaitan khusus antara tahun 1998 dan toko, bukan sebagai alat untuk bermata pencarian, melainkan sebagai bagian dari identitas.

Detail-detail seperti itu memang terlampau sederhana, atau bahkan sah-sah saja jika sekadar disebut sebagai gimmick pelengkap cerita. Akan tetapi, justru menjadi simpul-simpul cerita yang membuat “Cek Toko Sebelah” relevan bagi siapa saja.

Berbeda dengan “Ngenest: The Movie” yang bercerita tentang seorang Tionghoa muda memandang ketionghoaannya (walaupun ujung ceritanya, ehm, agak non-mainstream dari perspektif Tionghoa Indonesia luar pulau Jawa), “Cek Toko Sebelah” lebih spesifik pada isu-isu internal keluarga, terlebih yang ada di luar Jakarta.

Gambaran singkatnya seperti ini. Ketika para orang tua Tionghoa mengelola toko dengan susah payah dan tekun sedemikian rupa, lalu menyekolahkan anak-anaknya ke luar daerah bahkan luar negeri dengan harta dan status ekonomi yang berhasil dibangun, kemudian beberapa di antaranya berharap agar anak-anak mereka bisa kembali ke kota asal dan meneruskan usaha. Ekspektasi versus realitas hidup.

Ragam drama yang diangkat Ernest dalam “Cek Toko Sebelah”, bisa dibilang adalah salah satu varian paling aman dari konflik di atas. Aman, lantaran happy ending. Konflik keluarga berakhir dengan kebahagiaan dan penerimaan, yang sebenarnya identik dengan film-film Hong Kong khusus suasana Tahun Baru Imlek. Hehehe… dan Ernest seolah kembali menyampaikan positive subliminal message tentang pernikahan lintas etnik kepada seluruh Tionghoa Indonesia. Hal netral yang masih agak janggal bagi Tionghoa Indonesia, dibanding di negara-negara Asia Tenggara lainnya. 😀

Untuk itu, saya rekomendasikan film ini sebagai tontonan keluarga Tionghoa Indonesia. Bukan untuk memengaruhi atau mengubah pendapat, tapi lebih untuk membuka paradigma sosiokultural yang berlangsung hingga sekarang.

Foto: gadis.co.id
Foto: gadis.co.id

Oke, kini melangkah ke komponen-komponen lainnya.

“Cek Toko Sebelah” merupakan film komedi dengan kadar yang pas. Penampilan para komedian tunggal tidak overwhelm, pun dengan kelakar-kelakar yang membumi dan tidak eksklusif. Begitu pun dengan cameocameo yang dilibatkan, yang mampu mengekskalasikan lelucon dengan sangat segar dan efektif. Salah satunya pada bagian “Emang jalan ini punya bapak loe?!”

Seperti biasanya, penampilan Adinia Wirasti bikin makin tambah nge-fans. Ayu, sosok yang diperankannya, boleh jadi adalah lakon paling bijaksana dalam film ini. Baik ketika berinteraksi dengan Yohan (Dion Wiyoko), maupun tokoh lainnya. Outshining!

Di sisi lain–thanks to Ernest’sChineseness” –ada humor-humor tertentu yang ngena banget pada para penonton Tionghoa. Seperti pada sosok Ko Afu/Afuk (Chew Kin Wah, yang kelihatan banget berusaha menyamarkan ciri khas Chinese Malaysian-nya). Termasuk juga judul “Cek Toko Sebelah” itu sendiri, yang pada dasarnya enggak punya hubungan langsung dengan fondasi plot.

Intinya, dengan menonton “Cek Toko Sebelah”, 31 Desember 2016 saya terasa menyenangkan.

Selamat tahun baru! 🙂

[]

Advertisements

君の名は。| Your Name

SEBAGAI bukan penggemar anime maupun Dorama Jepang, “君の名は。”/”Your Name” ternyata bisa meninggalkan kesan yang manis, sekaligus magis. Demikian setidaknya yang saya rasakan saat dan setelah menontonnya Sabtu siang kemarin.

Manis, lantaran plot dan alur yang ringan tapi ndak kacangan, relatif sederhana untuk diikuti tanpa perlu berpikir terlampau keras, interpretasi pada aspek-aspek fantasi yang tidak berlebihan, akrab dengan aktivitas keseharian, penuh romansa ala remaja, tak ubahnya membaca cerpen di majalah remaja sebelum tidur siang (aktivitas yang populer setidaknya sampai awal tahun 2000-an), dan nuansa kawaii khas komik-komik serial cantik. Dari adegan pembuka yang “begitu” :p sampai ke ending-nya.

Ada dua tokoh utama: Mitsuha dan Taki. Keduanya masih sama-sama pelajar SMA, tapi berbeda kota. Langsung bisa kebayang gambarannya, kan? Mirip FTV! Tapi percayalah, “Your Name” lebih daripada itu 😀

Magis, tidak hanya karena beberapa detail pelengkap kisah, melainkan artistic deliverance yang dapat dirasakan ketika menontonnya.

Jalan cerita “Your Name” sarat dengan konsep-konsep dan filosofi ajaran Shinto maupun animisme Jepang, tapi tidak berjejal. Tersaji rapi, dan terpilin indah dengan unsur dramanya. Dikisahkan, Mitsuha adalah salah satu fujo (巫女) atau gadis keturunan penjaga kuil.

Kesan magis tersebut kian kuat dengan lagu-lagu soundtrack, dan teks terjemahan liriknya yang ikut ditampilkan di layar bioskop.

Source: wall.alphacoders.com
Source: wall.alphacoders.com

Mitsuha dan Taki, dua remaja yang terpisah ruang dan waktu.

Apa yang saling menghubungkan mereka? Simpul takdir. “Musubi (結び),” kata nenek Mitsuha, saat menjelaskan makna tentang ritual menganyam simpul tali dalam tradisi spiritual Jepang.

Musubi memisahkan; mempertemukan; memisahkan kembali; serta mempertemukan kembali Mitshua dan Taki lewat bintang jatuh sebagai pertanda. Bukan pertemuan biasa, tetapi lewat pertukaran jiwa (body-swapping). Mitsuha dalam Taki, dan begitupun sebaliknya.

Body-swapping memang bukan merupakan tema baru, apalagi dalam doramaBut, this one with a huge twist. Selain itu Makoto Shinkai, sang sutradara mampu menampilkan tema tersebut dengan sangat cerdik, namun tetap menarik bagi segmen penontonnya. Lucu, menggemaskan, dan bikin trenyuh. Banyak adegannya yang bikin “nyesss…

Semuanya menjadi bagian-bagian penting dari perkembangan cerita, disampaikan dengan storytelling yang baik, dan ditunjang dengan “penggambaran” animasi yang luar biasa keren. Untuk itu, biarlah anime ini cukup dikenal sebagai anime, tidak perlu diadopsi jadi film sungguhan.

Daripada bikin drop.

“Your Name” pada dasarnya bisa dinikmati secara luas, baik oleh penggemar anime ataupun bukan. Akan tetapi, tentu ada excitement level dan fokus perhatian berbeda di antara keduanya, sehingga memunculkan beragam kemungkinan dan ekspektasi. Tidak menutup kemungkinan ada non-otaku yang “menyerah” untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Terutama sejak bagian awal menuju pertengahan cerita. Salah satu teman saya misalnya, (barusan di Path) mengaku keluar di tengah-tengah durasi lantaran berada di crowd yang salah ketika ia berusaha untuk tetap mengikuti jalannya kisah. Padahal, revelation moments yang muncul belakangan benar-benar terasa mengagumkan. 🙂

[]

Ini Kisah Tiga Dara

BARU menonton film ini Sabtu sore lalu, di bioskop yang sama tempat menyaksikan “Tiga Dara” hasil restorasi. Itu sebabnya, sebelum mulai, muncul kilasan beberapa adegan, dialog, maupun lagu dan tarian dari karya rilisan 1956 yang konon tidak disukai oleh Usmar Ismail, sutradaranya sendiri itu.

Enggak sengaja mbatin: “film ini bakal semenyenangkan ‘Tiga Dara’, enggak ya?” Meskipun kemudian sadar jika pembandingan tersebut agaknya kurang adil, dan enggak perlu. Langkah amannya, tentu saja dengan berhenti berekspektasi. Duduk anteng, kalem, dan bersiap melihat apa yang bakal lewat.

Bagian-bagian paling awal dari “Ini Kisah Tiga Dara” terasa tidak terlampau berkesan. Entah mengapa, koreografi lagu pertama dengan setting taksi di tengah kemacetan dan taman yang ramai dengan rupa-rupa warga selatan Jakarta itu terasa tanggung dan canggung. Masih lagu pertama dan adegan pembuka, barangkali. Jadi berasanya biasa-biasa saja. Ketika penontonnya (baca: saya) masih belum rileks untuk menikmati film musikal. Ditambah lagi belum ada proper introduction atas ketiga tokoh utamanya: Gendhis (Shanty), Ella (Tara Basro), dan Bebe (Tatyana Akman).

Sayangnya, atmosfir ini bertahan sampai beberapa puluh menit berikutnya, sampai setting-nya hampir pindah kota. Sampai gubahan baru lagu “Tiga Dara” mulai menceriakan suasana. Tidak menyentuh soal cerita sama sekali.

Saat lagu dan koreografi belum mampu mencuri perhatian dan kesenangan penonton atas film ini, lalu dimunculkanlah keindahan alam timur Indonesia sebagai element of surprise selanjutnya. Ekspresi kekaguman seperti “wow!” dan sebagainya terdengar jelas waktu layar menampilkan pergantian latar, dari Jakarta menjadi Maumere. Efek ini sukses menarik hati, khususnya bagi para Jakartans sendiri. Lantaran gambar lanskap alam yang ditampilkan sebenarnya merupakan pemandangan sehari-hari bagi orang-orang pesisir.

Secara pribadi, ketertarikan atas film ini mulai muncul setelah dipicu lagu dan koreografi “Pasar Geliting”. Sebuah langkah berani dan memikat hati memberdayakan local talents untuk ikut menari. Kendati hanya figuran, dan dengan gerakan yang kadang kurang seragam, berasa tulus dan lucu dalam makna sebenarnya.

Mulai rileks nontonnya.

Source: fimela.com

Nah, element of surprise selanjutnya benar-benar mengejutkan, bahkan boleh dibilang menjadi semacam “entrance moment” untuk tokoh Bebe, dan Erick (Richard Kyle). Dari bagian ini, wajar jika banyak penonton yang mulai terkesan dengan keberanian Nia Dinata, sang sutradara dalam mengokohkan karakter si bungsu dari tiga dara. Apalagi berhasil dibawakan dengan maksimal oleh Tatyana dan Richard.

Makin rileks nontonnya.

Hingga akhirnya, film ini mulai terasa menyenangkan sebagai sebuah tontonan bagi saya justru gara-gara satu hal sepele: sebuah celetukan dari Oma (Titiek Puspa).

Entah apakah karena selera humor saya yang receh, atau line tersebut memang sungguh brilian, yang pasti “janidul” dilontarkan Titiek Puspa dengan sangat pas, dan berhasil membuat saya tergelak. Dari poin ini, ihwal kekuatan dan karakteristik cerita bergeser jadi nomor ke sekian untuk diperhatikan. Sudah bisa dibawa rileks aja, kecuali kalau plotnya bapuk banget.

…dan ternyata benar. Jalan ceritanya cukup sederhana untuk dikritisi, juga dengan konflik dan problem yang enggak jauh-jauh dari kisah “Tiga Dara” versi aslinya. Intinya adalah seorang nenek ngebet cucunya segera menikah, menyerempet ke persoalan cinta segitiga.

Secara umum, beberapa hal menarik dari “Ini Kisah Tiga Dara” adalah penampilan para pemain, lagu dan koreografi, serta muatan sisipannya.

Mengenai para pemain, tak terbantahkan bahwa Shanty benar-benar tampil memukau sebagai si sulung, maupun sebagai artis yang “turun gunung” ke layar lebar setelah sekian lama. Chemistry yang ia ciptakan bersama tokoh-tokoh lain, seperti dengan dua dara yang lain, Oma, ayahnya (Ray Sahetapy), Yudha (Rio Dewanto), bahkan dengan para figuran terasa genuineEffortlessy enjoyable.

Selanjutnya, spotlight mengarah ke Tatyana. Wajah baru hasil audisi yang ternyata memang tepat untuk menggambarkan sosok Bebe, si bungsu lincah, spontan, badung, berani, outspoken, tapi lucu menggemaskan dengan rambut ikalnya yang khas.

Dalam “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai debut, tidak susah untuk membayangkan penampilan kedua dan ketiga Tatyana di judul-judul film berikutnya, walaupun image-nya telanjur melekat sebagai gadis cantik yang manja.

Bagaimana dengan Titiek Puspa, penampil paling senior dalam film ini? Bagi saya, terlihat banget beliau tidak berakting, atau memodifikasi apa pun dari tindakan dan sikapnya untuk tujuan berakting. Titiek Puspa just being Titiek Puspa, Hahaha…  Dengan celetukannya yang campur aduk antara bahasa Jawa dan bahasa Belanda, suara khasnya, dan gayanya. Seolah-olah Oma dari tiga dara memang adalah sang Titiek Puspa. Segengges apa pun beliau, Titiek Puspa tetaplah seorang Titiek Puspa… and she’s a living legend!

Berikutnya, saya lebih setuju untuk menyebut “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai film dengan bonus lagu dan tarian, ketimbang film musikal. Tidak sedikit lagu dan koreografinya yang keren dan berkenan di hati, hanya saja ada lebih banyak yang berlalu begitu saja. Ya… Paling-paling ini cuma persoalan selera.

Fokus terakhir adalah pesan yang disisipkan, dari awal sampai pengujung cerita. Bukan sekadar pesan moral, tentunya, melainkan lebih kepada seruan-seruan ala aktivis humanisme. Ada banyak sekali. Mulai soal pandangan konservatif atas gender dan perlakuannya, kritis atas itu dan mengenai pernikahan sebagai atribut sosial, sampai mengenai cara wanita memandang dirinya sendiri. Untuk topik yang terakhir, anehnya, penyampaiannya justru dilekatkan pada figur Bebe, si bungsu yang baru berusia 19 tahun. Bukan tanpa alasan mengapa salah satu karakter Bebe yang saya sebut di atas adalah “outspoken” (…dan sikap itu ditunjukkan tak hanya saat berperan sebagai Bebe. Seperti yang diceritakan seorang teman, kala Tatyana bete terhadap wartawan dalam sesi pemotretan hanya gara-gara urusan pakaian. Padahal saat itu, Tatyana terlihat luar biasa menawan!)

Pertanyaannya, apakah semua pesan tersebut berhasil tersampaikan dengan baik dan tidak bias, serta bisa diterima secara umum? 🙂

Terlepas dari semua hal di atas, ada satu lagi komponen yang cukup berkesan dalam “Ini Kisah Tiga Dara”: penampilan dan busana. Nyaris tidak ada satu momen pun dalam film ini, saat para tokohnya tampil membosankan. Paduan riasan (termasuk tata rambut) dan busana yang dikenakan selalu menyegarkan.

Semuanya berhasil menjadikan “Ini Kisah Tiga Dara” sebagai tontonan yang menyenangkan.

[]

Bicara soal pernikahan sebagai atribut sosial, barangkali kamu tertarik baca tulisan lama ini: Marriage vs. Social Insecurity.

Panjat Pinang: Permainan Agustusan dari Tiongkok Selatan

PEMAHAMAN dan kemafhuman atas budaya suku sendiri menjadi salah satu masalah pelik bagi para generasi muda Tionghoa Indonesia sampai saat ini. Jangankan mengerti atau tahu, mendengar namanya saja barangkali belum pernah.

Tantangannya beragam. Bukan sekadar berminat/tidak berminatnya para generasi muda Tionghoa untuk tahu, dan terus menjalankannya sebagai warisan budaya yang unik; tetapi juga karena minim atau tidak adanya informasi komprehensif mengenai budaya-budaya tersebut, termasuk keterbatasan jumlah narasumber.

Sebagai seorang Tionghoa Indonesia, saya beruntung pernah bertugas menangani rubrik “Budaya Tionghoa” (中華文化), menjadi penulis sekaligus redaktur tunggal selama beberapa tahun sejak 2008 ketika masih berstatus mahasiswa.

Sepanjang rentang waktu tersebut, ada banyak trivia mengejutkan seputar kebudayaan Tionghoa, perkembangannya, termasuk bentuk-bentuk modifikasi dan akulturasinya. Salah satunya seperti yang tengah marak pekan ini: panjat pinang.

Ya! Permainan panjat pinang yang identik dengan perayaan kemerdekaan RI ini dibawa dari Tiongkok selatan dan tenggara, daerah asal sebagian besar perantauan yang beriklim lebih hangat dan ditumbuhi pohon pinang.

Kegiatan yang menjadi cikal bakal panjat pinang ala Indonesia itu disebut Qianggu (搶孤), dan terus dilangsungkan oleh warga sub suku Hokkian maupun Teochiu di beberapa daerah hingga saat ini. Qianggu hanya diselenggarakan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek setelah ritual Pu Du (普度) atau Chaodu (超度), sebagai bagian dari Festival Arwah*.

Dengan format yang berbeda dibanding panjat pinang ala Indonesia, Qianggu menggunakan banyak batang pinang sekaligus untuk menyangga semacam pelataran tempat gunungan beragam sesajian. Sebelumnya, sesajian tersebut telah digunakan dalam upacara sedekah untuk arwah-arwah kelaparan yang dilupakan keluarganya, atau tidak memiliki sanak famili. Sesajian itu diambil, kemudian dilemparkan kepada orang-orang yang berada di bawah struktur tersebut.

Struktur pinang dalam Qianggu. Source: blog.xuite.net
Batang pinang yang harus dipanjat dalam Qianggu lebih panjang dibanding panjat pinang ala Indonesia. Source: chinanews.com

Batang-batang pinang tersebut harus dipanjat, dan tentu saja telah dilumuri minyak dari lemak sapi. Sesampainya di atas, peserta harus kembali memanjat batang pinang lanjutan untuk mengambil panji/bendera bertuliskan kata-kata doa. Seperti “He jia ping an” (合家平安) atau “seluruh keluarga selamat sentosa”; “Yi lu shun feng” (一路順風) atau “semoga semua perjalanan lancar”, dan sebagainya. Bendera-bendera itu diambil oleh para umat untuk disimpan di dalam rumah, dengan harapan agar doa dan harapan yang tertulis di helai bendera tersebut dapat terjadi di dalam rumah mereka.

Suasana ketika para umat Kelenteng Tian Yi Gong Samarinda mengambil bendera dari atas gunungan kertas emas/perak. Hampir semuanya orang-orang tua. (30 Agustus 2008)

Suasana saat makanan sesaji tersebut diambil dari gunungannya dan dibagikan kepada para penonton mengingatkan pada Sekaten. Itu sebabnya, warga Tionghoa Indonesia juga kerap menyebut ritual ini dengan Sembahyang Perebutan. Hanya saja, sudah tidak ada lagi aksi saling rebut saat ini.

Di Samarinda, misalnya. Gunungan-gunungan kertas emas dan kertas perak, serta sesajian berupa kue basah dan buah-buahan tidak ditempatkan di ketinggian. Makanan tersebut dibagikan kepada para umat, dan mereka pun bisa dengan leluasa mengumpulkan bendera yang semestinya diperoleh setelah memanjat batang pinang. Tidak salah memang, hal ini terjadi karena Qianggu dalam bentuk asalnya pasti akan sangat menarik perhatian. Bakal terlihat sangat mencolok.

Di kelenteng-kelenteng pulau Jawa, pemandangan yang berbeda terjadi saat momen Sembahyang Perebutan. Biasanya, para pengemis atau orang-orang miskin berkumpul di depan pintu kelenteng untuk mendapat pembagian makanan. Sementara di Samarinda yang hanya mempunyai satu kelenteng, kondisi seperti itu sangat jarang terjadi.

Qianggu sendiri berasal dari konsep kepercayaan tradisional Tionghoa dengan ciri khas Daoisme yang kental, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddhisme Mahayana. Akan tetapi pada akhirnya dianggap menjadi satu kesatuan, dan semuanya diselenggarakan secara berbarengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek selalu bertepatan dengan Agustus. Sehingga keramaian Qianggu pun diadopsi menjadi keseruan lomba panjat pinang saat Agustusan.

[]

* Barangkali akan diceritakan terpisah di tulisan lainnya, nanti. 🙂

Rudy Habibie

KUALITAS penampilan yang konsisten, atau pengulangan yang membosankan. Di antara dua hal tersebut, Reza Rahadian boleh dibilang makin meng-Habibie dalam “Rudy Habibie”.

Ya. Agaknya sulit untuk tidak memulai pembahasan tentang film garapan Hanung Bramantyo ini tanpa menyorot Reza. Sampai-sampai tidak akan berlebihan kiranya jika Reza sudah telanjur diidentikkan dengan Habibie; menjadi aktor pertama sekaligus semacam benchmark bagi penampil lainnya.

Memerankan Habibie muda yang baru datang ke Aachen, Jerman untuk menjadi mahasiswa teknik, para penonton (terlebih yang sudah menyaksikan “Habibie & Ainun”) bisa melihat bahkan merasakan makin luwesnya Reza memerankan sosok presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut. Dengan sentuhan dramatis khasnya, tentu saja.

Source: Kapanlagi

Sebagai Rudy–panggilan nama lakon sepanjang film, untuk memisahkan sosoknya dengan figur Bacharuddin Jusuf Habibie–punca kekuatan penampilan Reza kali ini adalah gaya bicara, intonasi, bahkan vokal. Disusul dengan mimik dan ekspresi wajah. Itu sebabnya, ada banyak adegan saat penampilan Reza bisa dinikmati secara a la carte, terpisah dari konflik cerita yang tengah berlangsung maupun komponen-komponen teknis lain. Tak ketinggalan, dialog-dialog dalam bahasa Jerman dan Belanda yang dilontarkan Rudy sepanjang film bisa jadi sumber ketakjuban tersendiri.

Selain Reza, sebagian besar pelakon dalam “Rudy Habibie” juga tampil efisien dan proporsional. Seperti yang ditunjukkan Donny Damara (ayah Rudy), Bastian Bintang Simbolon (Rudy kecil), Chelsea Islan (Illona) yang terasa agak kurang halus beradegan di awal-awal kemunculannya, Indah Permatasari (Ayu) yang cantik banget di situ, termasuk Ernest Prakasa (Keng Kie), Cornelio Sunny (Panca), dan Dian Nitami (ibu Rudy). Hanya saja, perubahan karakter yang diperankan Dian Nitami terlalu drastis dan menjadi agak disayangkan lantaran tidak ajek. Dari sosok ibu yang penuh kasih sayang dan hangat, menjadi sangat defensif serta dingin. Selebihnya, “Rudy Habibie” ternyata jadi semacam ajang comeback Paundrakarna setelah sekian lama absen dari dunia hiburan.

Terlepas dari penampilan para pemain, ada beberapa bagian cerita “Rudy Habibie” yang terkesan scattered. Dimunculkan secara simultan, namun tak semuanya tertuntaskan di akhir durasi. Sehingga menyisakan kesan kurang lengkap dan jadinya terasa enggak penting-penting amat bagi ruang persepsi para penonton. Terutama terkait geliat Rudy sebagai mahasiswa Indonesia yang aktif bersuara, gejolak politik di Indonesia, serta drama keluarga. Justru kalah berkesan dibanding adegan-adegan remeh dengan klimaks yang jelas. Seperti adegan di rumah keluarga Neuefiend, atau tantangan di kafe.

Soal bumbu drama romansa, lain lagi ceritanya. Porsinya hampir sama banyak dengan letupan-letupan cerita mengenai nasionalisme, kejeniusan kaum muda Indonesia, dan semangat dalam mewujudkan visi. Tokoh Rudy ternyata bisa tidak konsisten dan clueless juga. Akan tetapi, siapa yang butuh peduli dengan semua itu sih, ketika lebih gampang dibuai dengan romantisnya para lakon saat beradu chemistry. Lagipula, sebagai prequel dari “Habibie & Ainun” sekaligus sequel dari “Habibie & Ainun 3” (yang sedikit teaser-nya ditampilkan di mid-credits), tentu urusan cinta-cintaan lah yang ditonjolkan lebih utama.

[]

Sungai Mahakam Itu Keren, dan Bisa Lebih Keren Lagi!

BOLEH dibilang beruntung, terlahir sebagai warga Samarinda. Sebab, sejak awal sudah terbiasa dengan pemandangan Sungai Mahakam yang membentang begitu panjang, sekaligus memiliki kedalaman yang luar biasa dibanding sungai-sungai besar lainnya di seluruh Indonesia. Aliran sungai pun diapit dengan beragam latar belakang, mulai dari hutan dengan pohon yang rapat dan memberikan kesan sejuk, hingga berhadapan dengan lingkungan perkotaan yang modern dengan gedung-gedung tinggi. Meskipun sayangnya, konsekuensi dari kondisi ini adalah pencemaran yang tinggi dari sampah rumah tangga, serta beragam tindakan tak ramah lingkungan lainnya. Namun setidaknya, sejauh ini Sungai Mahakam masih bisa diandalkan sebagai sumber baku air bersih warga lewat pengolahan PDAM yang menggunakan seperangkat mesin serta bahan-bahan kimia penjernih.

Tidak hanya menawarkan pemandangan lanskap yang khas dan berkarakter, Sungai Mahakam juga seakan menjadi dunia tersendiri bagi ekosistem air tawar keruh berlumpur. Secuplik di antaranya, kerap kita nikmati dalam bentuk tekstur daging ikan patin yang berlemak dan juicy, ikan haruan yang menjadi lauk khas nasi kuning maupun lontong sayur, ikan nila dengan rasa daging yang gurih dan dapat digoreng kering, udang-udang air tawar dengan bentuk tubuh yang silindris sempurna tidak seperti udang laut yang agak pipih, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, air Sungai Mahakam sejatinya adalah habitat mamalia air tawar unik dunia: pesut. Khazanah secara harfiah.

Upaya konservasi demi kelestarian lingkungan di Sungai Mahakam, harus didukung kepedulian dan kecintaan warga terhadap fitur alam ini. Setidaknya sebelum pencemaran dan kerusakan alam semakin parah, dan membuat sumber air utama di Kota Samarinda dan beberapa kabupaten/kota lainnya ini benar-benar tidak layak disentuh manusia (lihat saja air Sungai Karang Mumus).

Demi menumbuhkan kepedulian dan kecintaan warga terhadap Sungai Mahakam, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Dimulai dengan penataan secara serius dan bebas korupsi, penyajian Sungai Mahakam dari sisi artistik lantaran sungai ini tidak kalah keren dibanding sungai-sungai besar di beberapa kota dunia, serta kesempatan untuk menikmati Sungai Mahakam dari sudut pandang berbeda.

Untuk itu, coba sejenak berimajinasi tentang Sungai Mahakam yang lebih keren, dengan beberapa ide yang barangkali jauh dari sempurna tapi tidak mustahil untuk dilaksanakan.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila kedua sisinya terang benderang

Penurapan bantaran sungai adalah sebuah keniscayaan dalam upaya penataan. Selain demi keindahan dan kerapian, turap sungai berfungsi untuk meningkatkan keamanan bagi warga maupun hewan yang berada di sekitarnya (baca: supaya tidak jatuh). Area-area yang diturap pun bisa menjadi ruang terbuka tambahan bagi warga, demi pemenuhan kebutuhan sosialnya. Seperti rekreasi, bersantai, berolahraga, termasuk memancing, dan sebagainya.

Sejauh ini, belum semua sisi bantaran Sungai Mahakam di Kota Samarinda yang sudah diturap. Di beberapa kecamatan, masih banyak pemukiman berdiri pada tepian sungai. Sisa-sisa dari pola kehidupan yang kurang modern, saat Samarinda masih menjadi sebuah kampung bernama Samarendah.

Relatif gelap, kan?

Kendati demikian, sudah ada beberapa kawasan utama yang telah diturap dan dihiasi dengan taman-taman umum. Sayangnya, belum semua terang benderang secara konsisten. Artinya, lampu taman terpasang, tapi kerap hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya pecah, rusak, dicuri, dirusak, atau tidak beroperasi karena urusan setrum entah apa masalahnya. Karena ini pula, banyak kawasan tepian Mahakam yang identik sebagai ruang gelap Kota Samarinda: wadah mesum, tempat para junkies dan gelandangan, area preman dan bandit, dan sebagainya.

Barangkali memang ada segelintir oknum yang lebih nyaman apabila tepian Mahakam remang-remang bahkan gelap. Tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikannya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila mudah diseberangi

Bagi kamu yang pernah berlibur ke Bangkok, Thailand dengan daftar tujuan yang umum, alias memang khusus buat turis, pasti tidak akan melewatkan agenda menyusuri Sungai Chao Phraya yang membelah kota tersebut. Di salah satu titik akan menikmati pemandangan stupa matahari terbenam atau Wat Arun, di salah satu titik lainnya akan dipersilakan membeli bongkahan roti untuk diberikan kepada ikan-ikan belakang salah satu kelenteng yang makan dengan lahapnya. Itu dari sisi wisata. Tapi jangan lupa, Sungai Chao Phraya pun masih diseberangi kaum urban Kota Bangkok sebagai akses transportasi menuju kantor, sekolah, mal, maupun tempat-tempat lainnya.

Bagaimana dengan Samarinda? Warga kota ini kadung beranggapan bahwa memiliki kendaraan pribadi itu lebih keren dan bergengsi ketimbang naik kendaraan umum. Kendaraan pribadi yang dimaksud pun adalah motor maupun mobil, yang saat menyeberangi sungai, mau tidak mau harus bertumpuk, mengantre, dan terjebak macet serta ditandai dengan perilaku nakal pengemudi yang ugal-ugalan di Jembatan Mahakam (Jembatan Mahulu tidak masuk hitungan karena siapa sih orang yang mau jauh-jauh lewat sana kalau bukan warga sekitar dan sopir truk peti kemas?). Sementara Jembatan Mahkota II katanya baru akan rampung akhir tahun nanti, which is dua bulan lagi, setelah berbelas-belas tahun dibangun kada tuntung-tuntung.

#Golden #Bright #Jembatan (#bridge) #Mahulu at #night. #Samarinda, East #Kalimantan, #Indonesia.

A post shared by dragono (@dragonohalim) on

Jembatan Mahulu saat baru banget diresmikan, dan masih terang benderang. Sekarang, jembatannya gelap, lampunya mati, dan sering dijadikan lokasi balap liar.

Lalu, siapa yang masih menggunakan tambangan atau kapal kelotok khas Samarinda? Paling-paling warga Samarinda Seberang dan kelurahan-kelurahan sekitar, yang rumahnya tidak jauh dari dermaga tambangan di Kelurahan Mesjid. Di sisi lain, memang akan kurang efektif apabila naik tambangan untuk kemudian bingung mesti naik ojek atau Angkot dari dermaga ke lokasi lain.

Okelah, apabila sebagai akses transportasi Sungai Mahakam masih belum bisa diberdayakan, jadikanlah sebagai fitur wisata tentu dengan harga yang tidak dilebay-lebaykan. Sebab selama ini, pemberdayaan Sungai Mahakam sebagai objek gaya hidup bernilai jual, baru dilakukan secara parsial. Misalnya, dalam kegiatan komunitas baru-baru ini, atau dijadikan latar pemotretan sesi pre-wedding. Salah satu mata acara kegiatan paguyuban, berupa jamuan makan siang tamu-tamu dari seluruh Indonesia di atas kapal yang sedang berlayar, dan masih banyak lagi. Bukan mustahil, banyak warga Samarinda lainnya yang ingin juga merasakan sensasi serupa.

IMG00566-20110217-1119
Sungai Chao Phraya yang membelah Bangkok, di depan Wat Arun.

Terus, apakah bingung harus diberdayakan seperti apa? Enggak punya ide? Otak buntu? Do brainstorming lah. Instansi terkait, seperti Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, atau Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim malah lebih bisa melibatkan diri secara dinamis dalam proses susun konsep bareng-bareng tanpa embel-embel harus studi banding lah, jalan-jalan lah, apa lah.

Berikut ini beberapa ide di antaranya.

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila makin banyak event beragam budaya

Sejauh ini, kegiatan yang identik dengan Sungai Mahakam baru ada satu, yakni Festival Mahakam yang umumnya digelar pada November. Dalam festival tersebut, ada beberapa mata acara khas yang ada sejak penyelenggaraan tahun pertama, ditambah dengan acara-acara yang disadur dan dijadikan bagian dari festival. Seperti Mahakam Jazz Fiesta garapan komunitas Jazz Kota Tepian. Although it keeps declining every year. Kalau begini, apakah acara meriah terkait Sungai Mahakam cuma berlangsung setahun sekali? Agak disayangkan. Padahal masih ada beragam kegiatan yang bisa dilangsungkan di Sungai Mahakam tersebar dalam satu tahun.

Apabila kendalanya adalah dana, sangat bisa diakali dengan penyelenggaraan acara per dua atau tiga tahun sekali. Skemanya, misal ada lima festival baru (A, B, C, D, E), dalam tahun ini digulirkan tiga festival (A, B, C), lalu tahun depan digulirkan tiga festival lain (A, D, E), dan dikombinasikan. Sebab, festival-festival yang berpotensi dijadikan ajang rutin, didominasi event tahunan. Seperti beberapa contoh. Memang perlu biaya, tapi apa mesti harus selalu di-markup dan dimahal-mahalkan?

>> Tahukah kamu bila setiap tanggal 5 bulan kelima dalam penanggalan Imlek, warga Tionghoa memiliki ritual membuang bacang atau makanan khas dari ketan secara simbolis ke sungai? Ritual ini biasanya juga dibarengi dengan persembahyangan secara sederhana, baik dilakukan di pinggir sungai maupun di tengah sungai. Festival ini berlangsung pada musim panas, sehingga biasanya juga dibarengi dengan minum teh bunga krisan sambil menyantap bacang tersebut. Selain itu, juga kerap dimeriahkan dengan festival perahu naga yang sebenarnya, maupun eksibisi perahu naga dengan titik berat pada permainan perkusi tambur.

Miniatur perahu naga dan bacang yang dilarung di perairan Sungai Mahakam dekat Pulau Buaya, beberapa tahun lalu.

>> Tahu Erau, kan? Selama ini, Sungai Mahakam di area Samarinda hanya dilintasi kapal pengangkut replika naga yang diantar ke kawasan Kutai Lama. Apabila memungkinkan, saat kapal naga lewat di Samarinda, disinggahkan sebentar untuk dapat dinikmati lebih lama warga kota ini. Tidak hanya itu, bisa juga kehadiran naga di kota ini “disambut” dengan pagelaran seni budaya berupa tari-tarian tradisional. Erau pun bisa jadi semacam event budaya dengan kepanitiaan gabungan. Para kontingen dari negara-negara sahabat pun ikut diberangkatkan dengan kapal sampai ke Samarinda untuk manggung sejenak.

Saat naga Erau atau Naga Bekenyawa tiba di dermaga Samarinda Seberang. Source: kutaikartanegara.com

Berani lebih gila lagi? Teknisnya mungkin agak ribet dengan keamanan dan regulasi. Tapi, pemerintah pasti punya kewenangan untuk mengerahkan atau meminjam ponton luas guna dijadikan panggung terapung. Para penampil juga penonton bisa berkumpul di sana, atau dibuat agak mendekat ke tepian.

Kami yakin, dari celetukan ide ini, pasti ada pro kontra. Selebihnya, pasti ada pula yang punya pemikiran lebih brilian dan realistis untuk bisa dilaksanakan.

>> Bicara soal panggung terapung, kenapa tidak dibuat pertunjukan musik, pesta kembang api, atau konser di atas kapal? Penonton pun berkumpul di tepian sungai. Atau mungkin bisa memberdayakan tambangan untuk menjadi “tempat duduk” terapung mengelilingi panggung. Acaranya jelas berlangsung malam, dan diupayakan aman sedemikian rupa dari cuaca, ketinggian permukaan air, dan batasan usia penonton.

Tidak perlu panggung yang heboh dan berlebihan, dengan terapung di atas sungai saja sudah wow! Source: wsdg.com

>> Antara September sampai November, umat Buddha di Samarinda (dan di seluruh dunia) merayakan hari Kathina. Salah satu tradisi yang khas dan unik dari perayaan ini adalah kegiatan melarungkan pelita lilin dengan tatakan berbentuk teratai ke air. Di Thailand, momen seperti ini berlangsung saat Festival Loi Krathong yang kebetulan juga jatuh setiap November.

Tradisi melarung pelita ke sungai saat Loi Krathong di Thailand, dan sebenarnya juga bisa dilangsungkan di Samarinda. Source: jansguesthouse.com

Pelarungan pelita ini berlangsung di Vihara Muladharma, Jalan PM Noor.

Kegiatan seperti ini juga dilangsungkan di Sri Lanka, maupun negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya termasuk Jepang, serta Korea, pelita ini dilarungkan ke sungai, danau, laut. Sementara orang-orang di Indonesia, selama ini terpaksa hanya melarungkan di kolam permanen maupun temporer yang khusus dibuat untuk tujuan itu. Bisa dibayangkan suasananya berlangsung indah dan relatif aman terawasi. Lilin pun bisa habis terbakar dalam waktu sekitar 20 sampai 30 menit.

Bagi warga Tionghoa di Tiongkok maupun Taiwan, juga ada tradisi seperti ini namun pada waktu berbeda dan bertujuan sebagai penghormatan kepada Dewi Guanyin.

Bayangkan saja apabila ada area khusus Sungai Mahakam tengah kota, tepatnya di depan kantor gubernur, yang dilokalisasi atau diamankan pada radius tertentu. Baik umat Buddha maupun warga umum bisa berpartisipasi melarungkan pelita ini. Pasti akan terlihat cantik dan syahdu. Di sisi lain, pemerintah pun bakal diapresiasi karena memberikan keleluasaan khusus dalam ibadah, serta kreatif bersinergi menghasilkan kegiatan budaya yang bisa jadi ikon kota ini.

Kalau disambungkan dengan tradisi umat Buddha Indonesia, bisa saja festival bernama Siripada Puja ini akan mampu menyaingi popularitas menerbangkan lentera di Candi Borobudur saat peringatan Waisak. Ya kalo? Siapa saja, umat maupun wisatawan, bisa berpartisipasi dalam ajang ini dan memenuhi media sosial dengan foto dan video yang menarik lebih banyak orang untuk datang tahun depan.

But the main concern will be safety issue. Harus benar-benar dipastikan aman.

>> Ide lainnya, bisa diberi nama Mahakam Short Cruise. Rute yang ditempuh pendek, dari Kota Samarinda menjelajah sampai ke muara sungai, atau ke lokasi-lokasi budaya seperti Kutai Lama, dan sebagainya. Bukan sekadar jalan-jalan, dalam satu sesi juga minimal disajikan makan siang dengan menu khas Samarinda, Kutai, Banjar, atau sesuai kreativitas masing-masing. Fokusnya bisa disesuaikan dengan objek-objek yang ingin dilihat. Bagi penggemar desain arsitektural, pasti girang banget melintas di bawah atau bisa memerhatikan detail mega structures infrastruktur. Mulai dari Jembatan Mahakam yang usianya hampir 30 tahun, Jembatan Mahulu dengan desain arch, atau Jembatan Mahkota II dengan desain cable-stayed. Juga bisa melihat Islamic Centre dari depan dan megah, kantor gubernur, bahkan bila memungkinkan juga diatur kerja sama dengan perusahaan Migas di muara agar peserta bisa melihat rig atau titik bor, dan sebagainya. Sedangkan bagi para ahli ilmu sosial, pasti akan senang melihat ragam hidup warga bantaran. Lalu bagi para pecinta alam, bisa menyaksikan hutan bakau di beberapa wilayah, hewan-hewan liar yang bisa bermunculan di sisi sungai. Banyaklah pokoknya.

Bisa juga menyontek ide festival lampion di sungai tengah Kota Seoul ini. Saat Sungai Mahakam dipenuhi kapal-kapal berlampu hias. Pawai pembangunan di atas sungai. Source: rjkoehler.com

  • Sungai Mahakam bakal jadi tambah keren apabila ditangani sepenuh hati

Artikel ini sudah cukup panjang, jadi lebih baik diakhiri di bagian ini. Kendati poin ini terdengar klise, tapi pada kenyataannya belum pernah dilakukan sampai kini.

Tunjukkan bahwa kamu benar-benar mencintai Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kaltim, dan Indonesia ini dengan berani mengerahkan ide dan kreativitas, bukan hanya karena memang sedang bertugas di bidang itu. Kalau memang ide sudah buntu, gandeng sebanyak-banyaknya orang berkompeten untuk mewujudkan ini. Tapi setelah mereka terkumpul, jangan langsung diperalat dan dimanfaatkan demi menguntungkan diri sendiri.

Sekali lagi, kami yakin ada banya ahli tata ruang, arsitek, ahli botani, pemikir kreatif, pebisnis santun yang akan sangat bersedia membantu revitalisasi Sungai Mahakam. Jangan pernah malu untuk meminta ilmu. Di Bandung, ada arsitek yang jadi wali kota dan menyulap Kota Kembang itu jadi lebih indah dan nyaman. Di seluruh dunia juga ada agensi tata eksterior yang berani terlibat dalam pitching ide. Jadi, mulailah bergerak.

Kuncinya, asal memang punya niat dan tekad serius untuk melakukannya. Bukan cuma untuk cari muka, dan cari objekan. Selama ini, kita sebagai manusia-manusia Samarinda sudah dihidupi air Sungai Mahakam, dan ini saatnya bagi kita untuk “membalas budi”. Mengonservasi kehidupan di dalamnya, dan membuatnya lebih cantik dan patut dipuji.

Sebab sejatinya, Sungai Mahakam sudah keren, tapi dibuat kotor dan buruk oleh manusia-manusia yang mengambil air dan mengeruk isinya, serta mencemarinya. Berhentilah bersikap kurang ajar dan tak tahu malu.

[]

Artikel ini pertama kali ditulis untuk Undas.Co, September 2015.

Cinta Kota Sendiri dengan Dijelajahi

SEBUTKAN setidaknya sepuluh tempat unik yang ada di kota Samarinda!

Sebagai seorang warga Samarinda, jawaban untuk soal di atas tentu sangat mudah. Karena pada kenyataannya, tempat-tempat unik tersebar di seluruh penjuru kota dan relatif enggak susah-susah amat untuk dijangkau. Mulai monumen patung Dayak “Selamat Datang” di Simpang Tiga, sampai Lamin di Desa Budaya Pampang. Dari tugu tangan berdoa di Palaran, hingga kelenteng pribadi Nan Shi Zhu (南石竹) di Sungai Lais. Belum lagi tempat-tempat yang ada di tengah kota, dan seringkali kita lewati saat berkendara.

Pertanyaan berikutnya, seberapa menarik tempat-tempat tersebut untuk bisa memunculkanexcitement, menumbuhkan rasa bangga, dan memberi kesan menyenangkan ketika dikunjungi, termasuk oleh orang-orang Samarinda sendiri? Ataukah tempat-tempat tersebut memang membosankan, dan tidak ada apa-apanya?

Jika memang begitu adanya, maka wajar bila saya–yang orang Samarinda ini–merasa cukup iri dengan Jakarta Walking Tour, aktivitas wisata murah meriah yang terinisiasi sejak setahun terakhir. Iri, lantaran nuansa seru yang begini sebenarnya juga bisa dihadirkan di Samarinda, bahkan di seluruh kota Indonesia. Tergantung apa konsepnya, seperti apa pengemasannya, dan bagaimana eksekusinya. Seperti yang akan diselenggarakan 25 Juni mendatang, sesi-sesi dilakukan secara bersamaan dalam rangka peringatan hari jadi kota Jakarta.

Journey
Source: @JKTgoodguide

Apakah ada peminatnya? Sekadar informasi, saat menulis artikel ini, kuota yang tersisa hanya untuk rute City Center 2, Cikini, Jatinegara, dan Pasar Baru. Selebihnya, sudah penuh! Padahal saya pengin ikut yang China Town.

Kalau kamu merasa sebagai orang Samarinda, pasti sudah bisa membayangkan rute-rute tur serupa di Kota Tepian. Bukan mustahil, penjelajahan seperti ini pasti seru dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan sederhana seperti ini berpotensi bisa membantu tugas Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kominfo (Disparekrafkominfo) Samarinda, bahkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim dalam mempromosikan Kaltim.

Contoh rute, misalnya…

  • “Samarinda Tempo Doeloe”
    • Start dan finis: Balai Kota Samarinda. Di sana, bisa dijelaskan tentang sejarah pemindahan Balai Kota dari Jalan Milono ke sana. Peserta juga diajak untuk melihat sisa-sisa makam Tionghoa yang masih ada di salah satu bukit. Selain itu, peserta bisa melihat ramainya jalan Balai Kota yang dijadikan jogging track sembari jajan aneka makanan.

      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
      Sisa-sisa bongpai (墳碑) di bukit samping Balai Kota. Dipotret pada 2010.
    • Lokasi 2: Taman Samarendah. Dari Balai Kota, peserta berjalan kaki lewat jalur tembus Jalan Kenanga ke Jalan Bhayangkara. Di sana, dikisahkan tentang gedung SMAN 1, SMPN 1, dan Lapangan Pemuda sebagai salah satu icon pusat kota Samarinda. Peserta juga diajak untuk mengenal fitur-fitur yang ada di Taman Samarendah tersebut.

      Taman Samarendah yang dulunya merupakan lahan SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda. Source: kaltim.prokal.co
    • Lokasi 3: Katedral Santa Maria lewat Jalan Milono. Sebagai gereja Katolik besar pertama di Samarinda, masih banyak warga kota ini yang tidak tahu kalau nama lengkap dari gereja tersebut adalah Katedral Santa Maria Penolong Senantiasa. Peserta juga diajak untuk menelusuri kompleks katedral, mengetahui bagian-bagian bangunan, serta mendapatkan penjelasan tentang ornamen yang tersebar di gereja tersebut. Peserta bahkan berkesempatan untuk mendengar langsung bunyi lonceng setiap pukul 4 sore.
    • Lokasi 4: Kawasan Pasar Pagi. Sebagai pusat keramaian mula-mula kota Samarinda, peserta diajak untuk mengenal daerah ini lebih jauh. Sedikit banyaknya ada beberapa bangunan lama yang masih bertahan. Misalnya: salah satu langgar di sebelah pusat oleh-oleh Fitriah, ada juga restoran Kepiting Kenari yang legendaris, termasuk areal Pasar Pagi itu sendiri.
    • Lokasi 5: Masjid Raya Darussalam. Boleh dibilang masjid ini adalah yang tertua kedua di Samarinda. Bangunannya memiliki ciri khas unik, penuh ornamen, dan indah. Termasuk dengan kolam air mancur yang ada di salah satu sisinya. Peserta akan mendapatkan penjelasan sejarah tentang pendirian masjid ini, termasuk penggeserannya dari pinggir Sungai Mahakam ke lokasi yang sekarang.
    • Lokasi 6: Kawasan Citra Niaga. Kota Samarinda pernah identik dengan kawasan ini. Pusat oleh-oleh dan kerajinan khas yang dianugerahi penghargaan Aga Khan Award lebih dari seperempat abad lalu. Peserta diajak untuk menjelajahi berbagai penjuru, melihat piala Aga Khan Award, juga memerhatikan prasasti batu yang ada di lapangan tengah. Sekaligus memerhatikan areal ekonomi di sekelilingnya, dan Jalan Niaga Selatan yang dulu pernah dijejeri PKL.
    • Lokasi 7: Mal Mesra Indah. Pusat perbelanjaan ini adalah mal modern pertama di Samarinda, dan tetap beroperasi hingga kini. Peserta yang pernah mengisi masa kecil dan remaja di mal ini pun diajak bernostalgia, dengan menelusuri setiap lantainya atau mencicipi makanan yang ada. Saat keluar dari mal ini pun jangan lewat jalan raya, melainkan mengambil jalur belakang yang tembus ke Jalan Mutiara. Di sana ada warung gorengan yang terkenal, dan warung gado-gado lama.
    • Peserta diajak kembali ke Balai Kota lewat Jalan Abul Hasan-Jalan Dahlia.

Selain contoh rute di atas, saya yakin masih ada banyak tema yang bisa diangkat! Belum ke keleteng tertua di Samarinda, Tian Yi Gong (天儀宮) yang berusia lebih dari 115 tahun, atau warung kopi (di Jakarta kerap disebut Kopi Tiam) legendaris yang sudah dikelola generasi kedua dan ketiga, serta lain sebagainya.

Kegiatan penjelajahan seperti ini pada dasarnya bukan hal yang baru-baru banget di Samarinda. Sejak beberapa tahun lalu, sudah ada sejumlah organisasi maupun komunitas di Samarinda yang mengadakan acara sejenis, namun terbatas untuk kalangan tertentu saja, maupun tidak terorganisasi secara lebih luas.

Pemuda Theravada Indonesia (Patria) salah satunya. Dalam kegiatan outbuond bertajuk Rekreasi Interaktif (Rekin). Pada Rekin VI (2008), Rekin VII (2009), dan Rekin 8 (2012), panitia menyelipkan sesi “The Amazing Race”. Semacam permainan berantai dengan beragam lokasi, mulai Islamic Center sampai Kelenteng Tian Yi Gong dan sebagainya. Minimal di areal kompleks Unmul yang superluas itu.

Panitia peringatan hari jadi kota Samarinda dan Pemkot Samarinda setahu-dua tahun lalu juga pernah mengadakan acara penjelajahan serupa. Tetapi dikhususkan untuk para rider, atau pengendara motor. Begitu pula yang dilakukan sejumlah blogger Samarinda tahun lalu, dalam kegiatan bertajuk “Explore Samarinda: Wisata Sungai Mahakam”. Lagi-lagi, segmen penyelenggaraannya bersifat terbatas.

Permasalahan selanjutnya, barangkali enggak banyak orang Samarinda yang semacam kurang kerjaan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Jalan kaki pula. Ditambah lagi, mereka harus benar-benar punya wawasan tentang lokasi yang dikunjungi. Tapi jangan lupa, ini adalah kegiatan rekreasi. Bisa dilakukan saat akhir pekan atau hari libur. Lagipula, sudah ada beberapa komunitas yang bisa dilibatkan secara aktif dalam memulai gerakan “Cinta Kota Samarinda” ini. Sebut saja Komunitas Samarinda Bahari (KSB), maupun pengelola Galeri Samarinda Bahari. Setidaknya, komunitas-komunitas tersebut punya penutur, pencerita, maupun orang-orang yang bersemangat untuk berbincang dengan para tetua, para saksi mata.

“Cinta Kota Samarinda”. Ya! Kegiatan rekreasi ini seyogianya bisa menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap kota tercinta ini. Akan tetapi kalau hanya dilakukan untuk gaya-gayaan; ajang pembuktian kekerenan; atau memenuhi sosial media semata, hasilnya tidak maksimal. Penyelenggaraannya bisa jadi berantakan. Tempat-tempat tujuan hanya didatangi untuk foto danselfie tanpa penjelasan tentang sejarah, aftertaste-nya berasa hampa dan garing. Enggak berkesan-berkesan amat, kecuali panas gerah dan capek jalan kaki. Panitianya enggak bakal mau bikin lagi,until proved otherwise.

Jadi, kapan mau mulai jelajahi kota sendiri?

[]

Tulisan ini juga dimuat di: Undas.Co

Jembatan Mahakam: Jembatan Besar Pertama Samarinda

KATANYA (dan memang logisnya), salah satu ciri kota modern adalah memiliki sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Lalu, salah satu aspek dari poin “infrastruktur yang memadai” adalah ketersediaan jembatan. Terlebih pada kota-kota yang memiliki sungai atau kali berbagai ukuran, maupun jumlah dan kepadatan penduduknya.

Sebagai ibu kota provinsi yang dibelah Sungai Mahakam dengan kelebaran lebih dari setengah kilometer (belum termasuk anak-anak sungai kecil), sudah sewajarnya Samarinda memiliki banyak jembatan besar. Kalaupun mau pujungan dan sedikit sotoy, bandingkan saja dengan New York City (NYC) yang memiliki 32 jembatan khusus untuk jenis bentangan di atas sungai dengan konstruksi tertua dibuat pada 1883.

Bagaimana dengan Samarinda? Hingga saat ini, warga Kota Tepian masih bergantung pada Jembatan Mahakam. Jembatan pertama pembelah Sungai Mahakam di kota ini. Sebab meskipun Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) sudah berdiri, dan menghubungkan Kelurahan Sengkotek serta Kelurahan Loa Buah, banyak yang enggan melintasinya. Selain lokasinya yang dianggap jauh dari “kota”, kondisi jembatan gelap gulita dengan lampu-lampu yang hanya terang benderang selama beberapa pekan setelah peresmian. Apalagi jalur Loa Buah-Loa Bakung dan sekitarnya berdebu, gelap, dan rusak parah. Akhirnya Jembatan Mahulu lebih difokuskan untuk warga setempat dan truk-truk besar, sedangkan Jembatan Mahakam tetap dijubeli kendaraan setiap pagi dan sore. Lebih-lebih di akhir pekan dan musim liburan. Bisa jadi, setelah Jembatan Mahakam berdiri, pemikiran-pemikiran untuk menambah jembatan di kota ini dipatahkan dengan argumentasi “ah, masih belum perlu,” atau “ah mahal, Jembatan Mahakam juga lancar-lancar aja.” Namun lama-kelamaan, jumlah penduduk bertambah, disusul peningkatan jumlah kendaraan. Tahu-tahu, Jembatan Mahakam sudah macet. Pengalaman yang baru ini belum siap dihadapi warga, sehingga banyak yang kesal, yang emosional, ditambah dengan belum terbiasa tertib berlalu lintas. Telat.

Mahakam Bridge
Watermark-nya gengges!

Oke, kembali ke Jembatan Mahakam sepanjang 400 meter ini.

Per tanggal 3 Agustus nanti, konstruksi Jembatan Mahakam sudah berusia 30 tahun! Kalau dianalogikan dengan fase kehidupan orang-orang Samarinda pada umumnya, usia Jembatan Mahakam sudah setara dengan cowok atau cewek yang sudah menikah, dan minimal telah memiliki satu orang anak menjelang usia masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Singkat kata, Jembatan Mahakam itu sudah lumayan tuha. Tapi makin lama, jumlah kendaraan yang memenuhinya setiap hari kian banyak. Belum lagi sudah beberapa kali tiang penyangganya tersenggol sampai tertabrak ponton batu bara yang luar biasa besarnya.

Source: Undas.Co

Mengutip informasi dasar mengenai Jembatan Mahakam, proses pembangunannya dimulakan pada 1982. Dan setelah rampung dibangun pada 1986, jembatan ini baru diresmikan setahun setelahnya. Sebelum rampung, jelas satu-satunya cara untuk menyeberang ke “Samarinda Kota” adalah menggunakan kapal. Begitupun bila pergi ke/datang dari Balikpapan maupun Tenggarong. Untuk keterangan tambahan, bisa juga dibaca di plakat yang tertanam di dinding sisi kiri dekat ambang jembatan, bila melintas dari Samarinda Seberang. Sayangnya, plakat itu tertanam lumayan tinggi, dan saat ini sudah tertutup lumut. Samar-samar, hanya lambang Departemen Pekerjaan Umum (kini disebut Kementerian PU) yang bisa terlihat.

Sebagai jembatan pertama di Kota Samarinda, Jembatan Mahakam menggunakan desain konstruksi Truss (atau Lattice Truss), yang untuk masa kini terkesan jadul.

Salah satu jembatan dengan konstruksi model Lattice Truss. Source: Wikipedia

Secara sederhana, model Truss menampilkan rangkaian penyangga beban berbentuk segitiga. Terdiri dari komponen-komponen yang disatukan. Di Jembatan Mahakam, rangkaian Truss tersusun memanjang, membentuk semacam kotak dan terbagi beberapa segmen lantaran beda ketinggian. Penyatu Truss di Jembatan Mahakam bisa kamu lihat pada lempengan baja dengan baut dan mur berukuran jempol orang dewasa. Agak memompa adrenalin pada bagian pedestrian atau pejalan kaki. Karena berada di sisi luar jembatan. Seru.

Selain pada Jembatan Mahakam, desain Truss juga digunakan untuk beberapa jembatan kecil di dalam kota, seperti Jembatan II atau Jembatan Sungai Dama, juga Jembatan Baru (JB) di ujung Jalan Agus Salim menuju Jalan Gatot Subroto.

Mengapa model Truss yang dipilih? Unda gin kada paham. Tapi bisa jadi karena efisiensi biaya. Selebihnya, model Truss termasuk yang tertua dari konstruksi jembatan modern. Barulah pada desain Jembatan Mahulu, dan (soon-to-be built) Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II, sudah mulai bermain dengan tampilan yang lebih modern.

Untuk melengkapi nostalgia, berikut ini adalah video dokumentasi peresmian Jembatan Mahakam. Bisa dirasakan suasananya, ketika para pendahulu kita sebagai warga kota ini, himung dan gembira dengan berdirinya Jembatan Mahakam.

 

[]

Kenangan dari Samarinda Era 90-an

SETIAP generasi memiliki “harta karun” kenangannya masing-masing. Tak tergantikan, meskipun telah lekang ditinggal zaman. Begitupun yang dirasakan Generasi Y Samarinda, mereka yang menikmati kehidupan era 90-an dengan segala perniknya. Wajar bila kini banyak di antara pernik-pernik tersebut yang dirindukan.

…dan bagi saya, berikut adalah beberapa di antaranya.

Main Ding-Dong di Supermarket Anna

Ada masanya, ketika Ding-Dong digunakan untuk menyebut perangkat permainan arcade yang benar-benar video game. Dioperasikan dengan duit Rp 100, dan hanya bisa menggunakan benggolan wayang. Beberapa judul permainan yang populer adalah “Street Fighter”, “Contra”, “1942”, dan permainan pesawat tempur dengan efek tembakan yang bikin terperangah saat itu (sampai sekarang juga sih).

Tidak hanya jejeran mesin Ding-Dong dengan musik latar–yang baru kita ketahui beberapa tahun kemudian sebagai–chiptune, lantai atas Supermarket Anna juga dilengkapi dengan areal Boom Boom Car (aslinya bernama Bumper Car). Permainan saling menabrakkan mobil yang seru banget, kala itu. Disusul kemudian arena permainan yang sama di lantai atas Mal Mesra Indah yang masih berdiri hingga kini.

Lokasi bekas Supermarket Anna, Jalan Imam Bonjol.

Di tahun 90-an, satu-satunya supermarket dengan arena Ding-Dong di lantai 2 hanyalah Anna, di Jalan Imam Bonjol. Popularitasnya sebagai salah satu “tempat hiburan” di Samarinda mesti pupus setelah kebakaran sekitar dua dekade lalu. Kini, masih ada sisa lantai dan fondasi bangunannya, namun terpagar seng dan belum jelas akan digunakan kembali sebagai apa.

Selain menyenangkan, budaya palak-memalak juga tumbuh di areal Ding-Dong Supermarket Anna. Remaja yang merasa jagau dan lebih besar, mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil. Entah bagaimana nasib mereka sekarang.

Nonton Bioskop Mahakama dan Parahyangan

Film pertama yang penulis tonton di bioskop adalah “Jurassic Park”, itu pun di Bioskop Mahakama, Jalan Yos Sudarso. Lengkap dengan kudapan kacang madu dan teh kotakan.

Lebih dahulu berhenti beroperasi, kadang kala cinematic experience masih bisa dirasakan di Bioskop Parahyangan, Jalan Bhayangkara yang lahannya kini telah jadi lokasi mal. Dua bioskop yang dikelola pengusaha lokal ini, benar-benar menjadi gedung pertunjukan. Karena setelahnya, kita harus masuk mal terlebih dahulu.

Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)
Bangunan eks Studio Mahakama. (Oktober 2010)

Selain Mahakama dan Parahyangan, Samarinda sebenarnya juga memiliki beberapa bioskop lain. Beberapa di antaranya seperti Bioskop Garuda, Wisma Citra, Bioskop Kaltim di kompleks Pinang Babaris.

Tulisan lain mengenai bioskop-bioskop di Samarinda bisa dibaca di “Bioskop di Samarinda“.

Es Krim “Tiga Dara”

Untuk yang satu ini, mungkin tak banyak orang Samarinda yang tahu atau pernah menikmatinya.

Di deretan rumah tak jauh dari pintu masuk Pasar Subuh Jalan Yos Sudarso, ada warung kopi dengan plang bertuliskan “Tiga Dara” di depannya. Warung kopi ini dikelola sepasang Engkong-Amah (kakek-nenek) Tionghoa dengan keramahan khas, terlebih kepada anak-anak yang diajak orang tuanya serta. Sebab sajian favorit anak-anak Samarinda hingga akhir 90-an di warung kopi ini adalah homemade ice cream alias es krim buatan sendiri.

Disajikan dengan mangkuk saji khusus es krim berbahan stainless steel yang hingga kini tidak pernah lagi terlihat di kota ini, ada rasa cokelat dan vanila. Kesukaan penulis adalah rasa cokelat, yang bertekstur lembut, tidak terlalu manis, dan kadang kala masih menyisakan serpih es renyah. Dijamin, meskipun sederhana dan cuma berupa scoop-an tunggal tanpa topping macam-macam dan sebagainya, rasa es krim “Tiga Dara” tidak ada duanya. Klasik!

Sayangnya, warung kopi ini berhenti beroperasi setelah sang Engkong meninggal. Mesin pembuat es krim pun kabarnya sudah diboyong ke Surabaya oleh menantunya. Beberapa masa setelahnya, sang nenek juga berpulang.

Selain es krim, sajian yang cukup terkenang dari warung kopi ini adalah kroket kentang lembut dan selalu hangat.

Semuanya Jadi Permainan

Di era 90-an, jangan tanya soal gadget. Video game yang paling keren pun adalah Nintendo maupun Sega, dan tentu saja mahal. Paling advance adalah Play Station 1 yang gambarnya masih pixelated. Tapi bukan berarti anak-anak Samarinda pada masa itu kekurangan kegembiraan. Bahkan sangat gembira, sampai-sampai suah dihamuki mamak di rumah, main lupa waktu dan kotor sampai bebau hari.

Ada Asin Naga, permainan modal badan doang. Selain itu ada juga permainan melompati penghalang dengan ketinggian tertentu. Setiap “naik level”, ketinggiannya pun bertambah. Uniknya, penghalang menggunakan jengkal tangan yang disusun vertikal. Informasi ini baru ditambahkan. Katanya, permainan itu bernama Kil-kilan. Dari tanggapan pembaca, perlu juga menambahkan permainan Benteng dan Kiniboy. Sayangnya, penulis sama sekali tidak ingat dengan permainan terakhir itu. Kalau Benteng, dengan format kurang lebih Asin Naga dengan peraturan berbeda.

Kalau cuma punya karet gelang, jadilah main lompat. Kalau punya biji karet, jadilah Main Pedak pakai undas atau jagoannya. Kalau punya dua batang kayu, main Batu Lele. Bisa Main Rujak, tapi bukan buah. Gebok pakai buntelan plastik. Ada Tembakan Bambu menggunakan kertas yang dibasahi pakai ludah (HAHAHAHA). Bahkan sampai nangkepin Iwak Paret pakai tudung saji (HAHAHAHAHA LAGI). Macam-macam deh, dan semuanya happy!

Oh, satu lagi. Di sekitar sekolah biasanya ada mamang-mamang penyewaan Game Watch atau Super Nintendo yang diikat dengan tali. Setelah waktunya habis, talinya pun ditarik-tarik sebagai pengingat.

Jalanan yang Sepi

Nah, kalau ini sih memang mutlak berubah. Jelas aja, di tahun 90-an, mobil paling hits adalah “rusa” kotak dan Kijang Kapsul. Motor pun tidak semerajalela saat ini. Paling keren ya si “raja”.

Baru banyak yang sadar dalam sepuluh tahun terakhir, bahwa sepinya jalanan Kota Samarinda pada masa itu adalah pelengkap ketenteraman. Makanya, anak-anak banyak yang harus pulang sebelum magrib, karena relatif sepi.

Selain itu, karena masih anak-anak di tahun 90-an, kota ini masih banyak area misteriusnya. Belum terjelajahi, dan seperti kawasan yang masih gelap dalam permainan RPG.

Anda, anak-anak Samarinda lainnya, pasti punya daftar tambahan. Ada beberapa yang masih bisa dinikmati sampai sekarang, misalnya Es Kacang Merah Depot Anggrek, Es Kelapa Pak Kumis, dan lainnya. Mari dibagi. Saling bernostalgia. Biarkan para Millennials tetap asyik dengan dunianya di masa kini.

[]

Tulisan ini terbit pertama kali di Undas.Co.

Apa Nama Tionghoa untuk Anakku?

NAMA Tionghoa merupakan salah satu identitas etnik dan budaya yang tak tergantikan, terlebih jika sedang berada di negeri orang.

Setelah ada perintah dan tekanan Orde Baru (Orba) untuk mengganti/memiliki nama dalam bahasa Indonesia, aktivitas kebudayaan ini tetap dipertahankan meskipun terkesan diam-diam. Para pendatang dari Tiongkok dan orang-orang yang terlahir dengan nama Tionghoa, harus mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang menerakan nama baru. Sedangkan generasi yang lahir sesudahnya mendapat dua nama. Satu nama resmi yang tercantum di semua dokumen administrasi kependudukan dan digunakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, serta nama berbahasa Tionghoa yang hanya valid dalam lingkungan keluarga dan urusan-urusan budaya.

Selain larangan penggunaan nama berbahasa Tionghoa, pemerintah kala itu juga melakukan pemberedelan budaya. Akses dan transfer wawasan sangat terbatas, sehingga pemberian nama Tionghoa dilakukan sekadarnya. Memunculkan tidak sedikit warga Tionghoa yang kurang akrab dengan nama Tionghoanya sendiri; tidak mampu menulis, melafalkan, serta menjelaskan arti namanya. Termasuk para orang tua yang memutuskan untuk tidak memberi nama Tionghoa kepada anak-anaknya, entah lantaran tidak mengerti atau tak ingin putra putri mereka mengalami kesusahan akibat ketionghoaannya. Karena itu, jangan heran bila banyak ditemui warga Tionghoa di beberapa kota pulau Jawa dengan satu nama saja.

Mengapa ihwal pemberian nama Tionghoa ini terkesan begitu penting dan agak dramatis? Tentu saja karena sentimen etnologis komunal. Ada ikatan imajiner yang menghubungkan kita di masa kini, dengan akar masa lalu: suku nenek moyang, dan daerah asal.

Di sisi lain, memang tak bisa dibantah bahwa proses pemberian nama Tionghoa kian dianggap kuno, obsolete, dan merepotkan. Pasalnya, praktik ini tidak sesederhana memilih kata-kata dalam bahasa Tionghoa untuk disusun menjadi sebuah nama dengan bunyi dan makna yang indah. Ada sejumlah ketentuan budaya (bukan klenik) yang harus diperhatikan, walaupun akhirnya terasa makin ditinggalkan.

Nama Tionghoa terdiri dari tiga bagian:

1. Marga

Nama keluarga yang terus diturunkan secara patrilineal. Tidak akan pernah berubah, dan selalu menjadi aksara pertama. Marga juga diselipkan warga Tionghoa dalam nama Indonesianya, menjadi sesuatu yang khas. Beberapa di antaranya: Halim (Lim/Lin: 林), Lauwono (Lauw/Liu: 劉), Gotama (Go/Wu: 吳), Limantara (Lim/Lin: 林), Oentu (Oen/Bun/Wen: 文), Tjandra (Zhan: 詹), Hartanto (Tan/Chen: 陳), Goeyana (Goey/Wei: 魏), Tandi (Tan/Chen: 陳), Susanto (Su: 蘇), Wongso (黃), dan lainnya.

2. Nama Generasi

Nama yang digunakan sebagai penanda tingkat generasi (kakek, ayah, anak, cucu, cicit, dan seterusnya). Untuk saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama (misal: saya dan saudara laki-laki), dan segaris patrilineal (misal: saya dan anak laki-laki abang ayah saya), aksara yang digunakan sama. Ditempatkan menjadi aksara kedua atau ketiga sesuai tradisi keluarga maupun kesesuaian bunyi maupun arti.

Contoh:

Saya: 李
Adik laki-laki saya: 李

Apabila saya memiliki abang atau adik laki-laki lain, nama generasinya akan tetap sama: .

3. Nama Pribadi

Nama individual yang benar-benar personal dan berbeda, sehingga selalu digunakan sebagai panggilan internal (misal: Ahok, Aling, Aseng, Along, Ling-ling, Zhen-zhen, San-san, dan sebagainya). Ditempatkan sebagai aksara terakhir, atau menyesuaikan dengan posisi nama generasi.

Secara umum, masing-masing terdiri atas satu kata. Kecuali untuk marga-marga langka dengan dua aksara atau lebih, seperti Ouyang (歐陽), Situ (司徒), Sikong (司空), Guliang (榖梁), dan beberapa yang lain.

Dari ketiga bagian tersebut, nama generasi boleh dibilang merupakan komponen yang paling merepotkan. Lantaran kelompok marga/keluarga di setiap sub suku/kampung di Tiongkok memiliki urutan nama generasinya masing-masing, tersusun menjadi sepasang syair dengan total 24 sampai 40 aksara, which means… bisa untuk 24 sampai 40 keturunan!

Syair tersebut lazimnya dipajang di altar leluhur, atau dicatat khusus dalam semacam kitab keluarga (strata tinggi) untuk kembali ditilik sewaktu-waktu. Namun tradisi ini menjadi semacam kebutuhan tersier ketika di perantauan, dan terlupakan. Terlebih bagi para IBC-Indonesian born Chinese, macam saya.

IMG_9825
Syair urutan nama generasi milik keluarga pakde luar (suami adik perempuan papa). Dibaca dari kanan atas sampai kiri bawah dan saat ini baru menginjak aksara kedua! Lokasi: Samarinda.

Sebagai orang Tionghoa generasi ketiga di Indonesia, satu-satunya cara bagi saya untuk mengetahui urutan lengkap nama generasi adalah dengan datang ke kampung halaman mendiang kakek di Tiongkok tenggara. Sebab kakek meninggal saat saya masih kecil, 2001 lalu. Pun tanpa sempat menjelaskan dan meneruskan perihal urutan tersebut kepada anak-anaknya; papa dan sembilan saudaranya, yang bahkan kurang paham benar di mana kampung halaman dimaksud.

IMG_0397
Salah satu catatan urutan nama generasi untuk marga Kwok/Guo dari sebuah wilayah di Provinsi Fujian. Source: A Singaporean in Facebook.

Sejak saat itu, saya penasaran: apa nama generasi untuk anak saya nanti? :p Kendati tidak ada jaminan jika nama tengah papa dan saya masih mengikuti urutan yang semestinya.

Nama generasi kakek: 國
Nama generasi papa: 成
Nama generasi saya: 正
Nama generasi anak: ?

Rasa penasaran itu baru terjawab awal Maret lalu, justru dalam suasana dukacita ketika Apak (pakde) meninggal dunia. Ketika itu, papa dan delapan saudaranya berkumpul. Termasuk yang paling tua, dan sudah memiliki cucu dalam laki-laki.

Katanya, nama generasi untuk putra saya nanti adalah: 熙

YAY! FINALLY!

Padahal, mereka sendiri tidak menggunakan aksara tersebut untuk cucu dalam laki-laki mereka. Memilih nama lain.

Kayaknya memang wajar bila makin lama makin banyak yang enggak peduli soal ini. Ribet! Tapi seru. 🙂

[]

“Musiques du Royaume Perdu”: Serunya Sebuah Kolaborasi

SANGAT susah untuk tidak tersenyum lebar saat mendengar “Sekar Manis” dilantunkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam pergelaran Kamis (5/5) malam pekan lalu. Apalagi setelah Hugues Primard dan Véronique Bourin, tenor-sopran dari kelompok musik tradisional Perancis: Doulce Mémoire ikut menyanyikan syair berbahasa Sunda sebagai latar pengiring Hendrawati Ashworth, sang sinden.

Ku lucu malati
Nu aya di taman taman sari
Hiur seungit nu geulis
Nu geulis putri mantili

Bayangkan saja, lirik tembang bernuansa Cianjuran di atas dinyanyikan indah lewat lidah français dalam acara “Musik dari Negeri yang Tlah Hilang (Musiques du Royaume Perdu); dari Keraton Sunda Sampai ke Kediaman Raja-Raja Perancis”, yang diselenggarakan Institut Français d’Indonésie (IFI) sebagai bagian dari rangkaian Printemps Français 2016.

IMG_0275
Saat membawakan judul-judul kolaboratif, anggota kelompok Doulce Mémoire ikut duduk dan bergabung dengan Maestro Musik Sunda.

Begitupula sebaliknya, saat “Je Vivray Liement” yang berirama riang dibawakan menjelang pengujung penampilan. Primard dan Bourin begitu ekspresif serta bersemangat. Menyebarkan atmosfer menyenangkan dari panggung ke seluruh auditorium, yang bisa dicerap secara gamblang bahkan oleh penonton awam sekalipun.

Dibandingkan 14 judul lainnya, kedua lagu itu seakan menjadi highlight utama dari pertunjukan yang berdurasi 60 menit tersebut. Pasalnya, kolaborasi tak hanya terjadi antarvokalis, namun juga antarkelompok. Selain antara sinden dan tenor-sopran, harmonisasi juga terjadi antara Miguel Henry (lutist: pemetik lute, gambus Eropa yang ujungnya patah mirip gitar Raja Dangdut) dan Dede Suparman (kecapi Sunda), serta antara Denis Raisin Dadre (flutist sekaligus pengarah) dan Yoyon Darsono (suling Sunda) dari kelompok Maestro Musik Sunda. Menyisakan Bruno Caillat pada perkusi dengan tambur dan tamborin bergemerincing.

Perpaduan terjadi di semua lini musik, menghasilkan karya yang ajek dan selaras tanpa peduli perbedaan budaya, ruang dan waktu, serta bahasa. Terlebih keduanya sama-sama diangkat dari seni masa lampau dua bangsa, yang katanya, ibarat mempertemukan era Kerajaan Pajajaran dan Renaisans dari rentang abad ke-14 hingga ke-16.

Sebagai seseorang yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seperti ini, apalagi tidak paham bahasa Perancis dan Sunda, Musiques du Royaume Perdu cukup berkesan. Meski tetap saja, ada kurva emosi yang fluktuatif di sepanjang acara: pembukaan yang menyenangkan, agak mengarah ke membosankan di pertengahan, seru di pertengahan menjelang akhir, dan ditutup dengan rasa hangat. Dalam hal ini, pengalaman dan kesan setiap orang tentu berbeda.

Bagaimana kebosanan terbangun? Utamanya pada lagu-lagu berbahasa Perancis dan Sunda yang disajikan secara “à la carte”, serta terdengar agak mirip satu sama lain dengan komposisi standar: vokal+alat musik tiup+alat musik petik+perkusi (khusus untuk Doulce Mémoire). Selain itu, suara sinden terdengar agak lemah (bila dibanding sopran). Sehingga terkesan agak tenggelam saat membawakan lagu-lagu non-kolaborasi.

Dari 16 judul dalam playlist, separuhnya merupakan lagu-lagu non-kolaborasi. Beberapa di antaranya seperti “Colinetto”, “Pour Délaisser Tristesse”, “Padjajaran–Sinangging Degung” sebagai pembuka. Ada pula yang dibawakan secara back-to-back, seperti “Extalbo Te Domine” dan “Beauté Parée de Valour”. Selain itu, setidaknya ada lima judul yang dibawakan secara bersama-sama. Dua di antaranya telah disebutkan di atas, serta satu tembang bonus (semacam encore lah): “Es Lilin”.

Yang pasti, terlepas dari rentang segmentasi pendengar yang lumayan terbatas dan beraneka tantangan lain, pergelaran “Musiques du Royaume Perdu” berhasil mencapai tujuannya sebagai sebuah aksi kolaborasi seni. Ketika ragam dua budaya yang berbeda, diolah menjadi kesatuan yang indah.

IMG_0279
The last bow!

…dan akhirnya, bikin kembali terbayang tentang betapa kerennya kalau kolaborasi serupa juga terjadi pada musik Dayak. Atau setidaknya dengan petikan Sampek (alat petik tradisional Dayak) bersama genre lain yang tengah jadi primadona kekinian. EDM, misalnya.

Tak mustahil bisa menyusul keberhasilan YK Band, yang sudah sukses memilin musik tradisional Dayak dengan jazz kontemporer. Juga diiringi apresiasi bagi para kaum muda Samarinda yang selalu antusias bereksperimen dalam kolaborasi.

[]

Penampilan YK Band di Mahakam Jazz Fiesta (MJF) 2013

Salah satu penampilan kolaboratif November 2015 di Samarinda, ketika Sampek Dayak dan Synthesizer dimainkan bersama.

Rocket Rain

“INI vagina…
Itu vagina…
Banyak vagina…
Di mana-mana…”
~ senandungan Culapo, Jansen, dan Rain.

Hahaha! Pada intinya, saya ndak benar-benar ngerti ini film apa. Saya hanya tertawa-tawa, cukup menikmati cernaan-cernaan persepsi yang terasa kocak, sembari sesekali nyeletuk spontan: “wuopooo iki?” sepanjang menonton “Rocket Rain” yang ditayangkan dalam weekly screening Festival Film Samarinda (FFSMR) 2016 ini Rabu sore tadi (23/3).

Dan barangkali memang sebaiknya begitu, menonton dengan pikiran yang tidak sepenuhnya mengerti. Dibiarkan saja pencerapan ini mengikuti serangkaian percakapan lumayan panjang, yang mengalir alamiah pada satu dua sub topik utama. Adegan-adegan tak terduga, yang cukup abstrak untuk langsung dipahami tanpa sontekan apa-apa. Interaksi yang ganjil sesama lakon, maupun antara lakon dan objek.

Lewat pembiaran itu, tak perlu bersusah payah mengendus lalu memunguti kepingan-kepingan simbolisasi yang berserakan, menganalisis semua sampai sesak napas, kemudian mencoba menyusunnya menjadi kumpulan pesan yang utuh. Entah itu pesan moral, pesan reflektif terkait sosial budaya, atau pesan nasi goreng ati ampela ceplok setengah matang sama es teh manisnya dua.

Tapi, berbeda loh kalau ditanya “Rocket Rain” ini film TENTANG apa. Terlalu gamblang untuk tidak diacuhkan.

Film ini mengusik kita untuk ngobrol-ngobrol soal seksualitas feminin sebagai tema utama, yang dihadirkan sang sutradara lewat beraneka pengandaiannya sejak awal cerita. Selain itu, juga disuguhkan pembicaraan tentang pernikahan secara kontekstual. Baik sebagai sebuah institusi, sebuah batasan diri, maupun sebuah ketentuan sosial. Bahasan-bahasan yang terus menyambungkan kedua tokoh utamanya: Culapo (Anggun Priambodo) dan Jansen (Tumpal Tampubolon).

Dalam hal ini, seksualitas dan pernikahan jelas merupakan dua entitas berbeda, bahkan kadang-kadang terpisah lumayan jauh. Seksualitas sejatinya tak memerlukan pernikahan, namun pernikahan jelas membutuhkan seksualitas sebagai salah satu bahan bakar utamanya. Oleh sebab itu, terkait film ini, akan jauh lebih menarik membicarakan tentang seksualitas feminin ketimbang soal pernikahan, yang bisa dibaca di artikel ini.

Culapo dan Jansen dipertemukan oleh isu-isu tentang pernikahan yang sebenarnya berkutat di situ-situ saja: ketidaknyamanan. Culapo sudah duda dengan anak, dan Jansen–walaupun tidak jelas sudah atau belum–juga tengah dipusingkan dengan perceraian.

Mereka bertemu di Bali, latar lokasi yang anehnya hanya terwakili dengan kode pelat nomor polisi “DK”, botol dan kaleng-kaleng bir Bintang, serta tulisan keterangan tempat di beberapa spanduk pinggir jalan yang terekam dalam adegan. Selebihnya, tidak ada lagi. Di sana, Culapo tengah mengumpulkan banyak video lewat kamera plus kaki tiganya. Di hutan, pantai, tengah danau, padang tertentu, dan tempat-tempat lainnya. Sepanjang malam, atau kapan pun mereka bisa, Culapo dan Jansen selalu saja curhat-curhat-an soal pernikahan. Selalu. Kendati diselingi diskusi dan pengandaian, tapi tetap saja topiknya sama.

Sampai suatu ketika, Culapo dan Jansen bertemu dengan Rain (Rain Chudori) saat tengah berenang di telaga air terjun.

Nuansa absurd dalam film ini pun teramplifikasi setelah dia muncul. Figur Rain yang gembil-gembil gimana gitu, dengan vokal nyaris seperti tokoh anime Jepang, dan wajah yang mirip seorang kenalan berkelakuan kampret dari Samarinda Seberang. Ndak jelas, apakah Rain adalah lakon yang eksplisit, atau lagi-lagi hanyalah sebuah simbolisasi yang dipersonifikasikan. Karena sopir Culapo, Pak Kancil (Narwati Arwangga) sempat mengiranya setan hutan.

Ya! Rain memang figur paling absurd dibanding yang lain. Dia berbicara di telepon melalui jempol dan kelingking kanannya. Ia mengganti kata “bunga” atau “kembang” dengan “vagina” dalam bahasa Inggris; “va-jay-na”, bukan “va-gi-na”. Ia terbang ke angkasa dengan roket tugu jagung Desa Candikuning, Baturiti, Bali.

Source: deathrockstar.info

Seiring kemunculan Rain yang serba-implusif, Culapo dan Jansen juga ikut digambarkan jadi aneh-anehan. Namun tetap linier dengan topik seksualitas feminin. Beberapa di antaranya, rambut panjang dan perawatan komunal macam perempuan di desa, permainan hompimpa yang–kayaknya–bertujuan utama pada cangkang telur dan pucuk tanaman Lidah Buaya, mengeruk pepaya tanpa jelas mau diapakan setelahnya, juga senam aneh yang banyak gerakannya terfokus pada area selangkangan dan sekitar. Mbuh lah!

Mendekati akhir film, suasana absurd terus menguat. Menular pada Pak Kancil yang “menang banyak” dalam proses pembuatan film ini.

Simbolisasi-simbolisasi seksualitas yang dilekatkan pada adegannya, sudah jelas dan benderang. Eksplisit. Gara-gara itu, dalam penayangan sore tadi, jelas saja seisi ruangan sontak melongo, terus ngakak. Boleh dibilang twist juga sih sebenarnya.

Hingga tiba pada adegan terakhir, yang dalam celetukan bahasa Banjarmasin cocoknya disebut: MENGERAMPUT!

[]